Top PDF Keberadaan Fungsi Bangunan Sekitar Dalam Membentuk Pemanfaatan Ruang Koridor Jalan Di Pusat Kota Pasuruan

Keberadaan Fungsi Bangunan Sekitar Dalam Membentuk Pemanfaatan Ruang Koridor Jalan Di Pusat Kota Pasuruan

Keberadaan Fungsi Bangunan Sekitar Dalam Membentuk Pemanfaatan Ruang Koridor Jalan Di Pusat Kota Pasuruan

Kota Pasuruan memiliki suatu daya tarik yang sangat menonjol, didukung dengan adanya kegiatan keagamaan khususnya agama Islam yang telah menjadi budaya masyarakat Kota Pasuruan. Kegiatan keagamaan ini berpusat pada Masjid Jami’ Al Anwar yang berada di Jalan Wachid Hasyim Kota Pasuruan, tepat di belakang Masjid Jami’ terdapat Makam KH. Abdul Hamid, keduanya termasuk dalam Wisata Religi Kota Pasuruan, sehingga menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh masyarakat setempat maupun luar kota. Jalan Wachid Hasyim ini berada di pusat kota yang juga merupakan Kawasan Perdagangan, sehingga menimbulkan penumpukan aktivitas pemanfaatan di ruang koridor jalan tersebut. Beragamnya aktivitas muncul karena dipengaruhi dengan fungsi bangunan yang ada di sekitar hal ini dibutuhkan pula pemenuhan terhadap elemen-elemen perancangan kota yang dapat menunjang aktivitas pemanfaatan tersebut. Pengamatan lapangan yang dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan ruang koridor jalan melalui pendekatan environmental behavior dengan menggunakan behavioral mapping yaitu place centered mapping. Kondisi eksisting akan diidentifikasi yang selanjutnya akan dianalisis pemanfaatan ruang koridor jalannya. Pendekatan behavioral mapping yang diaplikasikan dalam pemanfaatan ruang koridor jalan, disesuaikan dengan teori-teori dari Hamid Shirvani tentang elemen-elemen perancangan kota khususnya sirkulasi (jalur pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan), fasilitas parkir, dan pedagang kaki lima.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Perubahan Pemanfaatan Ruang Koridor Durian Raya – Mulawarman Raya

Perubahan Pemanfaatan Ruang Koridor Durian Raya – Mulawarman Raya

Abstrak: Kota Semarang selalu mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka semakin bertambah pula aktivitas yang ada didalamnya sehingga mendorong adanya kebutuhan ruang yang juga semakin bertambah hingga ke kawasan pinggiran kota. Salah satu bentuk ruang yang berfungsi sebagai tempat aktivitas atau interaksi sosial masyarakat adalah Koridor Jalan Durian – Mulawarman Raya yang berada di Kecamatan Banyumanik. Adanya pengaruh beberapa pusat pertumbuhan menjadi faktor pendorong aktivitas di sekitar Koridor Durian – Mulawarman Raya semakin berkembang yang kemudian menyebabkan adanya perubahan pemanfaatan ruang. Melihat fenomena ini, maka memunculkan suatu pertanyaan penelitian yang dapat diangkat pada penelitian ini adalah : “Bagaimana perubahan pemanfaatan ruang di koridor Durian – Mulawarman raya yang dekat dengan pusat pertumbuhan?”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan pemanfataan ruang di koridor Durian – Mulawarman raya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir karena pada kurun waktu tersebut terjadi proses perubahan pemanfaatan ruang yang terjadi yang disebabkan oleh pusat-pusat pertumbuhan disekitar koridor ini. Penelitian yang akan dilakukan ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spasial dan deskriptif Kuantitatif. Hasil analisis perubahan pemanfaatan ruang koridor Durian – Mulawarman raya dapat disimpulkan bahwa , perubahan pemanfaatan ruang yang terjadi sangat tergantung dari perkembangan pusat pertumbuhan di sekitarnya. Pemanfaatan ruang di koridor ini semakin banyak dimanfaatkan untuk aktifitas komersial seperti perdagangan dan jasa. Perubahan pemanfaatan ruang di koridor ini banyak terjadi akibat perubahan penggunaan lahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun dan juga fungsi bangunan yang pada awalnya merupakan hunian menjadi campuran.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

FENOMENA PERUBAHAN PEMANFAATAN RUANG DAN PERTUMBUHAN AKTIVITAS PERKOTAAN (Kasus Koridor Ruas Jalan Hertasning - Samata di Makassar - Gowa)

FENOMENA PERUBAHAN PEMANFAATAN RUANG DAN PERTUMBUHAN AKTIVITAS PERKOTAAN (Kasus Koridor Ruas Jalan Hertasning - Samata di Makassar - Gowa)

Dinamika pertumbuhan aktivitas perkotaan pada koridor Hertasning, selain mendorong perkembangan fungsi-fungsi aktivitas baru, berdasarkan konsep teori yang dikembangkan oleh Hadinoto (1979) dalam Yunus (2008) yang mengadaptasikan 5 (lima) unsur pokok pembentuk struktur ruang kota, yaitu wisma: tempat tinggal (perumahan); karya: tempat bekerja (kegiatan usaha); marga, (jaringan pergerakan); suka (tempat rekreasi/hiburan); penyempurna: (prasarana dan sarana). Akselerasi pembangunan pada koridor Hertasning-Samata yang cenderung revolusioner mengondisikan perubahan bentuk kawasan pinggiran dari dominasi fungsi-fungsi pertanian produktif kemudian berkembang ke erah kompleksitas perkotaan, dan mendorong perubahan orientasi kegiatan penduduk menuju ke industrial perkotaan. Berdasarkan fakta dilapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan unsur aktivitas perkotaan yang terjadi pada koridor Hertasning secara spesifik terjadi pada pusat, titik pusatnya ditandai dengan keberadaan kawasan permukiman elit khususnya yang dibangun oleh pengembang cenderung membentuk cluster-cluster permukiman yang sangat variasi dan menunjukkan perbedaan baik dari segi bentuk, model arsitektur yang dikembangkan, dan pusat pertokoan yang dominan berkembang sepanjang koridor jalan utama, kemudian diikuti dengan keberadaan aktivitas pendidikan yang menyatu secara kompak memberikan efek secara langsung terhadap fungsi-fungsi ruang yang memiliki keterkaitan, kemudian proses ini juga berkonstribusi terhadap tingginya pergerakan arus lalu lintas dari kondisi sebelumnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH KEBERADAAN PKL TERHADAP KUALITAS VISUAL BANGUNAN DISEPANJANG KORIDOR JALAN LADA KOTA TUA JAKARTA | Mutiarawati | Vitruvian 1543 3503 1 PB

PENGARUH KEBERADAAN PKL TERHADAP KUALITAS VISUAL BANGUNAN DISEPANJANG KORIDOR JALAN LADA KOTA TUA JAKARTA | Mutiarawati | Vitruvian 1543 3503 1 PB

Shirvani dalam Kartika (2008) menyatakan bahwa activity support termasuk didalamnya semua fungsi dan kegiatan yang memperkuat ruang-ruang publik kota, antara aktivitas dan ruang fisik selalu saling melengkapi. Dimana pernyataan ini diperkuat oleh Danisworo dalam Carolina (2007) yang menyatakan bahwa fungsi utama activity support adalah menghubungkan dua atau lebih pusatpusat kegiatan umum dan menggerakkan fungsi kegiatan utama kota menjadi lebih hidup, menerus dan ramai. Yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan kota yang sempurna/ lebih baik yang dengan mudah mengakomodasikan kebutuhan atau barang keperluan sehari – hari kepada masyarakat kota, yang memberikan peluang bagi tumbuh kembang budaya urban melalui lingkungan binaan yang baik dan bersifat mendidik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN SEKITAR JALAN LINGKAR KOTA MANADO

ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN SEKITAR JALAN LINGKAR KOTA MANADO

1. Struktur pelayanan di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado terdapat struktur pelayanan primer yang terdapat di Kelurahan Bumi Nyiur, Tingkulu dan Taas, tepatnya di koridor Jalan Pomoro yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan skala pelayanan kawasan sekitar jalan lingkar. Sub pusat pelayanan atau struktur pusat pelayanan sekundernya terdapat dua yaitu berada di Kelurahan Winangun Satu, dan Desa Maumbi yang berfungsi untuk membantu struktur pelayanan primer di atasnya untuk memenuhi kebutuhan kelurahan/desa. Struktur pelayanan tersiernya berada di Kelurahan Malendeng, berfungsi untuk membantu struktur pelayanan primer memenuhi kebutuhan kelurahan/desa. Bentuk struktur kota di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado mendekati konsep konsentris dan pola perkembangan kotanya berbentuk pita Model struktur ruang di kawasan sekitar jalan lingkar apabila dilihat dari pusat-pusat pelayanannya yaitu mono centered atau terdiri dari satu pusat dan beberapa sub pusat yang tidak saling terhubung antara sub pusat yang satu dengan sub pusat yang lain. Sedangkan pola ruangnya terdiri atas fungsi lindung 302,28 Ha (13,43%) dan fungsi budidaya 1948,60 Ha (86,57%),
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Koridor Kampung Kota Sebagai Ruang Komunikasi Informal

Koridor Kampung Kota Sebagai Ruang Komunikasi Informal

Urbanisasi pada kota-kota besar seperti Jakarta mendorong timbulnya permasalahan pemukiman kota, yaitu munculnya pemukiman padat penduduk di kampung kota. Keterbatasan lahan dalam lingkungan kampung kota merubah sifat ruang luar menjadi lebih publik dan terbuka. Kebutuhan akan interaksi sosial dan aktivitas mempengaruhi perubahan fungsi ruang menjadi fungsi lain sesuai kebutuhan (Najib, 2005). Kondisi pemukiman Kampung Menteng yang sangat padat, mengakibatkan koridor gang di lingkungan pemukiman menjadi ruang luar milik publik yang masih tersisa. Disinilah ruang aktivitas sosial terbentuk. Warga dapat berinteraksi satu sama lain meski dengan berbagai keterbatasan ruang fisik jalan. Studi ini bertujuan untuk mengungkap ruang komunikasi informal sebagai aktivitas yang paling dominan pada koridor kampung kota. Studi ini merupakan studi lapangan dengan metode deskriptif eksploratif. Hasil yang didapat pada kajian ini menunjukkan bahwa aktivitas yang mendominasi pada salah satu gang di pemukiman Kampung Menteng ini adalah aktivitas komunikasi informal yang dapat terjadi sepanjang hari di sepanjang koridor gang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Karakteristik Fasade Bangunan Untuk Pelestarian Koridor Jalan Panggung Surabaya

Karakteristik Fasade Bangunan Untuk Pelestarian Koridor Jalan Panggung Surabaya

Sejarah panjang kota Surabaya yang dimulai sejak zaman Kerajaan Hindu – Mataram sampai kolonial Belanda (Handinoto, 1996) membentuk budaya yang beragam bagi kota Surabaya. Di koridor Jalan Panggung yang termasuk dalam kawasan Pecinan Surabaya, masih terdapat beberapa bangunan dengan karakteristik khas yang menjadi saksi sejarah perjalanan kota Surabaya dan perlu dilestarikan. Namun, disayangkan saat ini banyak perubahan yang terjadi pada fasade bangunan, sehingga berdampak besar pada perubahan karakter koridor Jalan Panggung Surabaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fasade untuk pelestarian koridor Jalan Panggung Surabaya. Unsur fasade tersebut meliputi atap, jendela, pintu dan ornamen. Hasil penelitian ini menemukan adanya dua jenis atap, yaitu atap perisai dan atap pelana, bermaterial genteng tanah liat. Banyak bangunan yang menggunakan jendela jenis ganda dengan perletakan di sisi kanan dan kiri pintu. Pada lantai bawah, menggunakan pintu lipat kayu dan pintu jenis ganda. Pada ornamen, beberapa bangunan menggunakan listplank pada ornamen atap, ornamen konsol, jenis kolom serta balustrade bermotif kolonial dan pecinan, lubang ventilasi maupun motif bouvenlict yang beragam masih dapat ditemukan pada koridor ini. Karakteristik ini akan menjadi acuan dalam pelestarian pembangunan koridor di masa datang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kajian Fungsi Ruang Luar pada Pusat Dakwah Islam di Kota Bandung

Kajian Fungsi Ruang Luar pada Pusat Dakwah Islam di Kota Bandung

Maka pengertian ruang terbuka publik sebagai civic center dalam fungsi islami tidak hanya sebatas ruang luar yang terjadi dengan membatasi alam dan komponen-komponennya (bangunan) menggunakan elemen keras seperti pedestrian, jalan, plaza, pagar, dan sebagainya. Maupun elemen lunak seperti tanaman dan air sebagai unsur pelembut dalam lansekap dan merupakan wadah aktivitas masyarakat, tetapi juga merupakan sebuah ruang yang dapat memenuhi kebutuhan batiniah (psikologis atau non-fisik), dan ini memerlukan ungkapan terhadap bentuk, rupa dan suasana. Hal ini dikarenakan dalam pandangan islam, Arsitektur diciptaan untuk kenyamanan penggunanya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kualitas Jalan Sebagai Ruang Terbuka Publik Pada Koridor Heritage Jalan Rajawali Surabaya

Kualitas Jalan Sebagai Ruang Terbuka Publik Pada Koridor Heritage Jalan Rajawali Surabaya

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Jalan Rajawali sebagai ruang terbuka publik belum dioptimalkan. Hal tersebut terlihat dari koridor tidak aktif sepanjang hari dan didominasinya oleh aktivitas lalu lintas kendaraan, koridor hanya aktif dari pagi hingga sore saja. Kendaraan umum yang tak tertib dan kurangnya parkir off-street membuat jalur pedestrian turut dikuasai sebagai tempat parkir hingga parkir on-street didepan tanda larangan parkir. Serta banyak bangunan yang terbengkalai dan spot-spot PKL semi permanen berjualan secara tidak teratur, mengurangi kenyamanan dan keamanan bagi setiap pengguna jalan. Oleh karena itu perlu dilakukannya penelitian ini guna mengetahui kualitas ruang terbuka publik jalan seperti apa yang dimiliki Koridor Heritage Jalan Rajawali baik dilihat dari aspek fisik maupaun aspek aktivitasnya, sebagai langkah awal sebelum menentukan strategi pengembangan yang tepat. Maka dari itu pertanyaan penelitan yang muncul adalah Bagaimana kualitas ruang terbuka publik yang dimiliki koridor heritage Jalan Rajawali Surabaya?
Baca lebih lanjut

307 Baca lebih lajut

Nilai dan manfaat ekonomi keberadaan Taman Kota Menteng, Jakarta Pusat sebagai salah satu bentuk pemanfaatan ruang terbuka hijau

Nilai dan manfaat ekonomi keberadaan Taman Kota Menteng, Jakarta Pusat sebagai salah satu bentuk pemanfaatan ruang terbuka hijau

Hasil kesepakatan bersama antara pihak pengelola dan dinas pemerintah terkait bahwa seluruh kegiatan klub sepak bola Persija dialihkan ke “Stadion V.I.J Roxy” dan asrama dipindah ke Graha Wiata Ragunan. Alihfungsi Stadion Persija menjadi taman kota dikuatkan dengan dasar hukum UU No.8 Tahun 2005 tentang tata kota, Surat Perintah Gubernur DKI No.50 Tahun 2006, dan Surat persetujuan 55 warga Menteng kepada Gubernur. Rencana pembangunan Taman Menteng dimulai pada 2004, perancangan tersebut seperti studi kelayakan dan kajian lingkungan sekitar pada tahun 2005. Pembangunan Taman Menteng dimulai tahun 2006 dan diresmikan pada tanggal 28 April 2007. Maksud dan tujuan pembangunan Taman Menteng adalah menata kawasan menteng dan sekitarnya sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan fisik kota yang berfungsi sebagai ruang terbuka publik serbaguna dan menyediakan taman aktif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan aman dan nyaman dari pagi hingga malam hari. Perencanaan lanskap kawasan lapangan bola Persija Menteng diawali dengan pencarian ide dan gagasan melalui sayembara. Hasil dari kegiatan tersebut adalah sebuah gagasan awal berjudul “DUAL MEMORY” yang menampilkan ide sebuah
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Hukum Agraria Atas Keberadaan Bangunan Pada Ruang Atas Tanah

Hukum Agraria Atas Keberadaan Bangunan Pada Ruang Atas Tanah

Metode pendekatan yang digunakan dalam peneli- tian ini adalah penelitian yuridis normatif yaitu de- ngan melakukan studi kepustakaan. Nama lain dari penelitian yuridis normatif adalah penelitian hu- kum doktrinal atau disebut juga sebagai penelitian perpustakaan. Disebut penelitian hukum doktrin- al karena penelitian ini dilakukan atau ditujukan pada peraturan-peraturan yang tertulis tentang hu- kum agraria dan yang terkait serta tentang bangun guna serah atau bahan-bahan hukum yang lainnya yang berhubungan tentunya. Sedangkan penyebut- an sebagai penelitian perpustakaan disebut studi dokumen oleh karena penelitian ini lebih banyak dilakukan pada bahan hukum yang bersifat sekun- der yang ada di perpustakaan. Penelitian yuridis normatif (Hadi, 2000) merupakan sebuah upaya untuk mencari dan menemukan asas-asas hukum, aturan-aturan hukum positif yang dapat diterapkan untuk menjawab atau menyelesaikan permasalahan atau isu hukum tertentu. Spesifikasi penelitian yang digunakan bersifat deskriptif analitis yaitu untuk memperoleh suatu gambaran yang menyeluruh dan sistematis tentang bangunan yang didirikan pada ruang atas tanah di wilayah perkotaan dan tentang pembangunan yang dilakukan dengan sistem ba- ngun guna serah yang ditinjau dari perspektif Un- dang-Undang Pokok Agraria dan tentang hukum perjanjian yang dikaitkan dengan berbagai teori dan pendapat hukum dengan metode penafsiran (Soe- kanto,1986;Sunggono, 2003).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Kajian Fungsi Ruang Luar pada Pusat Dakwah Islam di Kota Bandung

Kajian Fungsi Ruang Luar pada Pusat Dakwah Islam di Kota Bandung

Gulzar Haider mengutarakan bahwa prinsip-prinsip rancangan yang menyatukan cita-cita lingkungan Islami dapat dilihat melalui tiga nilai formatif. Pertama, sensibilitas lingkungan yang berarti bahwa konsep Arsitektur Islam adalah harus menghargai alam, mempunyai sifat tidak merusak alam, sesuai dengan apa yang dibutuhkan, tidak mengada-ada atau dalam hal ini menghindarkan simbolisasi yang menjurus kepada sesuatu yang tidak rasional dan menjurus kepada pembodohan berpikir, terlebih-lebih akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat, dan tidak boleh mubazir . Kedua, integritas morfologi yang berarti bahwa ruang luar islami harus memiliki kepekaan terhadap skala, ukuran, dan kualitas ruang. Dan ketiga adalah kejelasan simbolis, bahwa menuntut penghargaan terhadap fungsi, kegiatan, lingkungan serta tradisi masyarakat, sehingga dapat mendorong terbentuknya ciri dan identitas ruang.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kajian Perkembangan Penggunaan Lahan dan Fungsi Bangunan Sekitar Pusat Perbelanjaan (Mal) di Kota Bekasi

Kajian Perkembangan Penggunaan Lahan dan Fungsi Bangunan Sekitar Pusat Perbelanjaan (Mal) di Kota Bekasi

PEMILIK RUMAH MEMPERLUAS RUMAH Berdasarkan peta penggunaan lahan tahun 2005, penggunaan lahan lebih didominasi oleh permukiman dan yang paling sedikit adalah tegalan. Di Kelurahan Kayuringin Jaya terdapat satu mal yaitu Bekasi Cyber Park. Perkembangan mal yang terdapat pada wilayah penelitian memicu terjadinya perubahan jenis penggunaan lahan. Hingga tahun 2014 perubahan yang terjadi di kelurahan ini selain dibangunnya permukiman, di sepanjang jalan utama yaitu pada Jalan Jend. Ahmad Yani, Jalan KH. Noer Alie, dan Jalan Sudirman terjadi perubahan yang cukup meningkat dan berkembang menjadi kawasan perdagangan, perkantoran, hotel, ruko-ruko, dan ada satu rumah sakit.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perubahan Fungsi Lahan Koridor Jalan Selokan Mataram Kabupaten Sleman

Perubahan Fungsi Lahan Koridor Jalan Selokan Mataram Kabupaten Sleman

kelurahan yaitu Kelurahan Condong Catur dan Catur Tunggal berupa sawah dan ladang tebu. Kemudian dibangun jalan inspeksi yang berfungsi untuk keperluan operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi. Jalan ini memanjang di Selokan Mataram dari Sleman Barat hingga timur. Jalan kecil dengan lebar 3 meter yang awalnya tidak beraspal dan rusak. Dalam Permen PU No. 63 Tahun 1993 tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah manfaat sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan bekas sungai ketentuan sempadan sungai bertanggul yang dilengkapi dengan jalan inspeksi adalah 3 meter dari kaki tanggul. Namun pada eksisting hanya berjarak 1 meter, bahkan terdapat bangunan rumah yang langsung berbatasan dengan tanggul Selokan Mataram. Sedangkan pada bagian kiri jalan atau sebelah selatan dari Selokan Mataram terdapat jalan inspeksi dengan lebar 5 meter, yang rencananya akan dilebarkan menjadi 6–7 meter. Sesuai dengan rencana yang terdapat pada RDTRK Sleman, saluran
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Uji Laik Fungsi Jalan Dalam Mewujudkan Jalan Yang Berkeselamatan (Studi Kasus Jalan Utama di Pusat Kota Ternate)

Uji Laik Fungsi Jalan Dalam Mewujudkan Jalan Yang Berkeselamatan (Studi Kasus Jalan Utama di Pusat Kota Ternate)

Rasa aman dan nyaman bagi pengguna jalan dijamin oleh pemerintah dengan Undang- undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 2009, yang menyatakan bahwa pemerintah sebagai penyelenggara jalan berkewajiban memberi rasa aman dan selamat bagi pengguna jasa. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan evaluasi uji laik fungsi jalan menurut persyaratan teknis yang ada di kota Ternate kemudian mengkategorikan kelaiakan dari fungsi jalan tersebut. Adapun metodologi penelitian ini dilakukan dengan mekanisme uji laik fungsi teknis jalan berdasarkan Permen PU No. 11/PRT/M/2010 tentang tata cara dan persyaratan laik fungsi jalan.Dengan lokasi penelitian untuk uji laik fungsi teknis adalah beberapa ruas jalan yang ada di pusat kota Ternate. Berdasarkan hasil penelitian untuk uji teknis laik fungsi jalan utama yang ada di pusat kota Tenate, diperoleh kategori Laik Fungsi Bersyarat (LS) dengan rekomendasi teknis. Adapununtuk jalan Hasan Esa, Arnold Mononutu, Merdeka, Sultan Hairun dan Pemuda masuk dalam kategori Laik Fungsi Bersyarat (LS). Meskipun masuk dalam kategori Laik Fungsi Bersyarat (LS), akan tetapi ruas jalan tersebut masih dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan untuk pengguna jalan yang ada di kota Ternate.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Koridor Ruang Kota Layak Huni: Budaya Merampas Ruang Publik?

Koridor Ruang Kota Layak Huni: Budaya Merampas Ruang Publik?

Badan jalan digunakan oleh masyarakat sebagai area dagang dan area parkir. Dengan kondisi ini, jalur koridor Dr. Mansur ibarat “pembuluh darah yang dipenuhi plak”. Keberadaan ‘plak’ ini mem- persempit area sirkulasi. Beberapa perilaku kon- sumen pedagang kaki lima adalah berbelanja secara ‘ drive in’ , berhenti pada jalur yang mes- tinya adalah jalur pergerakan, sehingga menye- babkan antrian kendaraan. Sebagaimana fung- sinya sebagai jalur sirkulasi beragam kendaraan melewati Dr. Mansur. Namun, perilaku yang terjadi adalah: pengemudi melawan arah, ang- kutan umum menaik-turunkan penumpang tan- pa menepi terlebih dahulu. Hal ini menghambat kelancaran sirkulasi dan menyebabkan antrian kendaraan yang panjang.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Tipologi Fasade Bangunan Komersial DI Kawasan Koridor Jalan Soekarno-Hatta Malang

Tipologi Fasade Bangunan Komersial DI Kawasan Koridor Jalan Soekarno-Hatta Malang

Bangunan komersial pada Jalan Soekarno-Hatta semakin berkembang beriringan dengan meningkatnya aktivitas pendidikan. Perkembangan tersebut memicu keberagaman desain fasade pada bangunan komersial. Desain fasade berpengaruh terhadap kualitas visual kawasan. Penelitian bertujuan untuk memahami tipologi fasade serta karakter fasade pada kawasan tersebut. Bangunan komersial mendominasi seluruh fungsi pada kawasan sebesar 63% atau sebanyak 144 bangunan. Analisa dilakukan berdasarkan tipologi fasade, tipologi bentuk, serta tipologi profil fasade. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi. Analisis dilakukan dengan variabel penelitian berupa elemen pembentuk fasade meliputi atap, lisplang, pintu, jendela, pembayang, ventilasi dan elemen penanda. Pada penelitian ditemukan sejumlah 22 tipe fasade berdasarkan elemen pembentuk fasade. Tipe tersebut meliputi 5 tipe atap, 2 tipe lisplang, 3 tipe pembayang, 3 tipe pintu, 3 tipe jendela, 2 tipe lubang ventilasi, serta 4 tipe elemen penanda. Selain itu ditemukan sejumlah 12 tipe profil fasade yang terbentuk dari elemen atap, ketinggian bangunan serta elemen pembayang. Berdasarkan peraturan setempat maka garis sempadan bangunan serta ketinggian lantai bangunan telah sesuai. Walaupun masih terdapat beberapa fasade yang memiliki ketinggian lantai bangunan melebihin peraturan. Secara keseluruhan karakter fasade pada lokasi didominasi oleh atap datar, tanpa lisplang dan ventilasi, pembayang vertikal, pintu lipat, jendela pasif dan penanda menyatu dengan fasade.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pusat Wisata Kuliner Di Kota Batu Dengan Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik

Pusat Wisata Kuliner Di Kota Batu Dengan Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik

Batu   city   growing   rapidly   since   become   a   tourism   city.   The   transformation   welcomed   enthusiastically   by   people   and   surrounding   Batu   City.   As   the   development   of   tourism   industry  gives  the  changes  in  the  socio-­‐economic  life  of  the  people  of  Batu  City.  One  of   areas   that   feel   changes   are   alun-­‐alun   and   the   presence   of   Batu   Tourism   Centre.   However,   the   presence   of   BTC   considered   less   successful,   it   marked   with   the   return   pedagang   kaki   lima   return   into   corridor   area   of   the   square.   It   makes   the   area   around   alun-­‐alun  slum.  So  that  emerging  issues  and  ideas  for  designing  culinary  center  located   in  the  square  around  Batu  City.  Site  design  is  in  Jalan  Sudiro.  The  design  of  the  culinary   tourist   center   by   utilizing   public   open   space   on   the   site.   Laying   open   space   is   determined  from  the  entrance  and  then  into  a  knot.  Next  determine  the  path  visitors  as   well   as   the   placement   of   the   mass   circulation   according   to   the   type   of   facilities   and   merchandise   criteria.   Designing   culinary   center   also   serves   as   a   liaison   two   main   vertices  of  the  square  Kota  Batu  and  BTC.  The  existence  of  culinary  tourism  center  as  a   place   for   the   street  vendors  are  expected  to  accommodate   as   well   as   improve   the   life,   and  no  longer  sell  in  any  place  around  the  area  of  the  square.  So  that  the  central  area  of   the  Batu  City  more  organized,  as  well  as  tourism  city.  
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects