Top PDF Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Appendix

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Appendix

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Appendix

Saya adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan skripsi di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebiasaan posisi tidur miring dengan kesehatan jantung lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai.

23 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan posisi tidur miring merupakan suatu cara sederhana untuk menjaga kesehatan tubuh. Rata-rata orang dewasa menghabiskan waktu tidurnya dengan memiliki kebiasaan posisi tidur miring ke kanan karena diyakini dapat menjaga kesehatan jantung. Seiring bertambahnya usia seseorang khususnya setelah usia 45 tahun angka kejadian penyakit jantung lebih meningkat. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kebiasaan posisi tidur miring dengan kesehatan jantung lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian purposive sampling method. Responden dalam penelitian ini yaitu lansia yang berada di UPT Peayanan Sosial Lanjut Usia Binjai dengan jumlah sampel 63 orang, yang dilakukan pada 29 Mei 2017 – 12 Juni 2017. Dari penelitian ini kebiasaan posisi tidur miring dalam kategori terbiasa yaitu 52 responden (82,5%), dan kesehatan jantung lansia dalam kategori sehat yaitu 56 responden (88,9%). Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan pengembangan penelitian seperti melakukan observasi untuk melihat kebiasaan posisi tidur, melakukan pemeriksaan jantung dengan suatu metode tertentu, dan melakukan penelitian bagi lansia yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Kebiasaan Posisi Tidur Miring dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai” sebagai tugas akhir untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.

10 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Chapter III VI

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Chapter III VI

sebelum pengumpulan data terhadap responden lain sebanyak 20 orang di tempat yang sama di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai, dan hasil data yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputerisasi. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program komputerisasi yaitu KR21. Hasil yang diperoleh untuk uji reliabilitas kebiasaan posisi tidur miring lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai yaitu 0,72. Dan hasil uji reliabilitas kesehatan jantung lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai yaitu 0,74. Polit and Beck (2003) menjelaskan bahwa suatu instrumen dikatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas >0,70. 4.7. Rencana Pengumpulan Data
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Menurut Soeharto tahun 2004 tanda-tanda penyakit jantung yaitu, dada terasa ada tekanan mendadak, terasa sangat sakit di bagian tengah dada selama beberapa menit, sakit pada bagian dada dapat menyebar sampai ke pundak, leher dan lengan, pusing, berkeringat dingin, mual dan muntah, nafas pendek atau sesak nafas, sering emosi yang segera hilang bila istirahat atau rileks, detak jantung cepat, lemah pada beberapa bagian tubuh seperti lengan, kaki atau setengah bagian tubuh, tidak dapat bicara, dan sulit berkomunikasi.

14 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Diambil pada 27 Oktober 2016, dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Riset Kesehatan Dasar.[r]

4 Baca lebih lajut

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Kebiasaan Posisi Tidur Miring Dengan Kesehatan Jantung Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Jantung adalah organ penting bagi tubuh manusia yang bertindak sebagai pompa sirkulasi darah dalam tubuh yang mengandung karbon dioksida untuk paru-paru sebagai pertukaran gas dimana darah yang mengandung oksigen disalurkan ke tubuh manusia melalui pembuluh darah (Alistigna, 2015).

6 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

warna kulit tidak rata, kulit tampak kering, kusam, dan rapuh. Perokok berat pada awalnya mengalami ptialism dan setelah beberapa jam kemudian berubah menjadi keadaan mulut kering. Kebiasaan merokok banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Sinar UV dari matahari dapat menyebabkan kerusakan serat kolagen pada kulit sehingga menyebabkan terjadinya pembentukan bercak-bercak pigmentasi dan menurunkan fungsi kekebalan kulit. Selain itu, nanopartikel akibat polusi dapat menyebabkan tekanan oksidatif dan merusak jaringan kulit serta kolagen sehingga kulit tidak bisa mempertahankan strukturnya. Kondisi psikologis yaitu stres juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penuaan pada kulit dimana tubuh menghasilkan matriks metalloproteinase yaitu enzim yang memecah kolagen dan elastin. 12-13
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Partisipasi Kakek/Nenek dalam penelitian ini bersifat sukarela, tidak akan terjadi perubahan mutu pelayanan dari dokter dan komunitas bila Kakek/Nenek tidak bersedia mengikuti penelitian ini. Sebagai tanda terima kasih atas partisipasi saya berikan buah-buahan dan air aqua kepada Kakek/Nenek. Pada penelitian ini, identitas Kakek/Nenek akan disamarkan. Hanya dokter gigi peneliti, anggota peneliti dan anggota komisi etik yang bisa melihat datanya. Kerahasiaan data Kakek/Nenek akan dijamin sepenuhnya. Bila data Kakek/Nenek dipublikasikan akan tetap dijaga.

9 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Associations between oral and ocular dryness, labial and whole salivary flows rates, systemic diseases and medications in a sample of older people.. Almeida PDV, Gregio AMT, Machado MAN[r]

5 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Gejala xerostomia umumnya berhubungan dengan bertambahnya usia. Lansia sering mengalami xerostomia karena terjadi atropi pada kelenjar saliva sehingga produksi saliva menurun dan komposisinya berubah. Seiring dengan meningkatnya usia, terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan lemak dan penyambung. Keadaan ini mengakibatkan jumlah aliran saliva berkurang. Biasanya pada lansia yang menggunakan gigi tiruan akan mengalami ketidaknyamanan. Pemakaiannya menjadi tidak nyaman dan juga dapat berpengaruh terhadap retensi gigi tiruan tersebut dikarenakan berkuranganya produksi saliva.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

T1 462010021 Daftar Pustaka

T1 462010021 Daftar Pustaka

Fitria. (2011). Interaksi sosial dan Kualitas hidup Lansia di Panti Wredha UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Binjai. (Skripsi). Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Sumatera Utara, Medan. Http://repository.usu.ac.id/downloads.tswj.com/325251.pdf Diakses 09 Febuari 2015 .

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN INTERAKSI SOSIAL LANSIA DENGAN KESEPIAN LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DAN BALITA WILAYAH BINJAI DAN MEDAN

HUBUNGAN INTERAKSI SOSIAL LANSIA DENGAN KESEPIAN LANSIA DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DAN BALITA WILAYAH BINJAI DAN MEDAN

This descriptive correlation study aims to determine the relationship of social interaction with a lonely elderly in the elderly. This study sample was 41 people older including this study in UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Balita Wilayah Binjai dan Medan. The data was collected on 20 February 2012 s / d 20 April 2012 and analyzed using Pearson correlation test. Results of analysis of data shows the majority of respondents had a good social interaction by 48.8% and 82.9% of 34 respondents did not feel lonely. The results of data analysis Pearson correlation test showed that there was a significant relationship between social interaction with the loneliness of the elderly with strength r = -0.652 and p = 0.00 (p<0.05) which means the greater social interaction, the greater the feeling of loneliness and has a very strong relationship. Ha therefore failed to be rejected. Ha in this research that there is a relationship between social interaction with the loneliness of the elderly in UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Perbedaan Self-Esteem Proses Penuaan Pada Lansia Pria dan Wanita Terhadap Citra Tubuh di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dan Anak Balita Binjai

Perbedaan Self-Esteem Proses Penuaan Pada Lansia Pria dan Wanita Terhadap Citra Tubuh di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dan Anak Balita Binjai

Lanjut usia adalah indivdu yang berusia 60 tahun atau lebih ada umumnya mengalami tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi biologis, psikologis, sosial dan ekonomi. Citra tubuh atau body image mecakup sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur, dan fungsinya. Perasaannya meliputi hal-hal yang terkait dengan seksualitas, femininitas dan maskulinitas, keremajaan, kesehatan, dan kekuatan. Self-esteem atau harga diri adalah penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan analisis, sejauh mana perilaku memenuhi ideal diri. Jika individu selalu sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami gagal cenderung harga diri menjadi rendah. Desain penelitian Deskriptif komparatif, dengan jumlah sampel 114 orang yang terdiri dari 57 orang lansia pria dan 57 orang lansia wanita. Hasil penelitian bahwa ada perbedaan self- esteem pada lansia pria dan wanita terhadap citra tubuh dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Berdasarkan uji diperoleh nilai p=0,003 dimana jika (p=0,05) menunjukkan adanya perbedaan. Saran kepada lansia agar dapat meningkatkan self-esteem terhadap citra tubuh khususnya lansia wanita.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Hubungan Asupan Natrium dengan Kejadian Hipertensi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai tahun 2014

Hubungan Asupan Natrium dengan Kejadian Hipertensi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai tahun 2014

The excessive sodium intake can increase the blood pressure. Intake sodium will be directly absorbed into blood vessels. This causes sodium level in the blood increases. Sodium has water holding trait, that cause the blood volume increase. Consuming of high sodium continuously causes hypertension. The purpose of this study is to know the relationship of sodium intake with hypertension in UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai years 2014.

2 Baca lebih lajut

Hubungan Interaksi Sosial Lansia Dengan Kesepian Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Balita di Wilayah Binjai dan Medan

Hubungan Interaksi Sosial Lansia Dengan Kesepian Pada Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Balita di Wilayah Binjai dan Medan

Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan, serta tidak bisa terlepas dari satu hubungan yang terjadi antar individu, sosial, dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain akan dimiliki oleh individu sampai akhir hayat. Namun, sebagian dari individu masih merasa kesepian ketika tidak memiliki lawan interaksi untuk berbagi masalah. Kesepian merupakan suatu perubahan yang secara tidak langsung dialami oleh setiap orang. Penelitian deskriptif korelasi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan interaksi sosial lansia dengan kesepian pada lansia. Sampel penelitian ini adalah 41 orang lansia yang ada di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Balita Wilayah Binjai dan Medan. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 20 Februari 2012 s/d 20 April 2012 dan dianalisa dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisa data menunjukkan responden mengalami interaksi sosial baik sebesar 48,8% dan sebanyak 34 responden 82,9% merasa tidak kesepian. Hasil analisa data uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara interaksi sosial dengan kesepian pada lansia dengan kekuatan r = -0,652 dan p = 0,00 (p<0,05) yang berarti semakin besar interaksi sosial maka semakin besar perasaan tidak kesepian serta memiliki hubungan yang kuat. Oleh karena itu Ha gagal ditolak. Ha pada penelitian ini adalah ada hubungan interaksi sosial lansia dengan kesepian lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia dan Anak Balita Wilayah Binjai dan Medan.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Chapter III VI

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Chapter III VI

Ketika seseorang memasuki usia lanjut akan terjadi penurunan- penurunan, seperti kesulitan dengan fungsi ingatan, penurunan dalam kecepatan memproses, berpikir, dan yang lain-lain. Penurunan daya ingat merupakan gejala penurunan kemampuan memori yang terjadi sehari-hari pada semua tingkatan usia. Namun, usia lanjut memiliki kecenderungan lupa yang lebih tinggi dari pada yang muda. Penurunan daya ingat ini terjadi karena informasi yang diterima tidak di proses dan disimpan dengan baik meskipun tidak semua informasi harus disimpan. Biasanya hanya informasi yang dianggap penting saja yang disimpan untuk suatu ketika diingat kembali. Usia tua akan mempengaruhi kemampuannya dalam memproses atau mengolah informasi (Suardiman, 2011).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Prevalensi Xerostomia Pada Lansia Di Upt Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2016

Xerostomia dapat menyebabkan penyakit mulut dan rasa ketidaknyamanan pada rongga mulut. 4,6 Lansia sering mengalami xerostomia karena seiring dengan bertambahnya usia, terjadi kemunduran pada fungsi kelenjar saliva yang mengakibatkan pengurangan laju aliran saliva. 7 Selain itu, adanya faktor kondisi medis dan penggunaan obat-obatan untuk jangka waktu yang panjang seperti obat trisiklik antidepresen, antipsikotik, obat anxiolitik, beta-bloker dan antihistamin dapat memberikan pengaruh mulut kering pada lansia. 8

1 Baca lebih lajut

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Usia lanjut merupakan suatu proses yang dialami oleh setiap makhluk hidup, dan ada beberapa penurunan yang terjadi saat seseorang memasuki usia lanjut seperti penurunan daya ingat. Desain penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi penurunan daya ingat lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai yang dilakukan pada tanggal 29 Mei sampai 12 Juni 2017. Responden pada penelitian ini adalah lansia yang berusia 60 tahun keatas di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai. Sampel sebanyak 63 orang, dengan teknik perposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah bentuk kuesioner dan data yang dikaji adalah data demografi dan penurunan daya ingat lansia. Berdasarkan hasil penelitian pada data demografi jenis kelamin terbanyak adalah perempuan yaitu 37 orang (58,7%), usia terbanyak adalah 60 tahun sampai 74 tahun yaitu 43 orang (68,3%) dan tingkat pendidikan terbanyak adalah tingkat pendidikan SD yaitu 40 orang (63,5%). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang berada di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai mengalami penurunan daya ingat yaitu ada sebanyak 68,3 % dengan kategori daya ingat lemah yaitu ada 32 orang (50,8%) dan daya ingat buruk sebanyak 11 orang (17,5%). Hasil penelitian menunjukkan penurunan daya ingat berdasarkan usia lansia yang paling banyak mengalami penurunan daya ingat adalah pada kelompok usia 60-74 tahun yaitu ada sebnayak 26 orang (41,3%), berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak mengalami penurunan daya ingat adalah wanita yaitu sebanyak 26 orang (41,2%), berdasarkan suku yang paling banyak adalah suku jawa yaitu sebanyak 25 orang (39,7%), berdasarkan agama yang paling banyak mengalami penurunan daya ingat adalah agama islam yaitu sebanyak 40 orang (63,5%) dan berdasarkan tingkat pendidikan yang paling banyak mengalami penurunan daya ingat lansia adalah tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 28 orang (44,4%).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Penurunan Daya Ingat Lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

Ingatan prosedural tidak menghilang atau berubah seiring bertambahnya usia. Misalnya seseorang yang sudah lama tidak menaiki sepeda, ia tidak perlu mempelajari keterampilan tersebut dari awal. Melakukan sedikit latihan saja dan dengan keterampilan maka rutinitas tersebut akan muncul kembali. Bahkan penderita penyakit Alzheimer dapat melakukan banyak tugas rutin sampai tahap akhir dari penyakit tersebut. Para ilmuan percaya ingatan prosedural dapat bertahan lama karena ingatan tersebut disimpan secara meluas di seluruh otak, dan karena ingatan tersebut tidak tergantung pada hipokampus, salah satu struktur ingatan di dalam otak yang secara khusus peka terhadap efek penuaan normal (Nelson, 2008).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...