Top PDF Kedudukan Ahli Waris pada Perkawinan Poligami

Kedudukan Ahli Waris pada Perkawinan Poligami

Kedudukan Ahli Waris pada Perkawinan Poligami

Perkawinan poligami adalah suatu ikatan perkawinan yang salah satu pihak dimana laki-laki memiliki/mengawini beberapa lawan jenis diwaktu yang bersamaan. Dan kedudukan anak dalam perkawinan ini sah hubungan hukumnya sepanjang perkawinan ini tercatat dan dilakukan sesuai dengan syarat-syarat sah dari perkawinan. Dalam pembagian harta waris dari anak yang dilahirkan dari perkawinan poligami ditentukan asal mula harta apakah harta yang ditinggalkan orang tua merupakan harta bawaan atau harta bermasa dari hasil perkawinan.Dalam pasal 94 ayat (1) Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dimana pelaksanaan harta waris dalam perkawinan dapat dilakukan atas kesepakatan antar semua pihak ahli waris. Hal ini akan memberi banyak keuntungan bagi semua ahli waris. Apabila tidak tercapai kesepakatan maka pembagian harta waris dalam perkawinan poligami dapat dilakukan dengan pengajuan gugatan kewarisan di Pengadilan. Adapun hambatan dalam pembagian waris dalam perkawinan poligami tersebut disebabkan karena tidak tercatatnya perkawinan dalam perkawinan poligami, dan perkawinan poligami tidak pernah melakukan perjanjian perkawinan dan bermusyawarah untuk pembagian waris sering terjadi hambatan dikarenakan atau diakibatkan sering terjadi ketidak adilan dalam perkawinan poligami.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kedudukan Hukum Anak Sebagai Ahli Waris Yang Dilahirkan Oleh Wanita Hamil Dalam Perkawinan Dengan Laki-Laki Yang Bukan Penyebab Kehamilannya Menurut Hukum Islam.

Kedudukan Hukum Anak Sebagai Ahli Waris Yang Dilahirkan Oleh Wanita Hamil Dalam Perkawinan Dengan Laki-Laki Yang Bukan Penyebab Kehamilannya Menurut Hukum Islam.

Di Indonesia orang yang akan melakukan perkawinan harus mengacu pada ketentuan hukum agama masing-masing menurut apa yang dianutnya. Hukum perkawinan Islam pada dasarnya tidak hanya mengatur tata cara pelaksanaan perkawinan saja melainkan juga mengatur segala persoalan yang erat hubungannya dengan akibat yang ditimbulkan dari perkawinan tersebut. Dewasa ini banyak perkawinan dilakukan oleh wanita yang hamil diluar perkawinan dengan tujuan untuk menutupi aib dan untuk memberikan perlindungan hukum yang pasti kepada anak yang dilahirkannya. Sehingga wanita yang hamil tersebut menikah dengan laki-laki baik yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain yang bersedia menikahi wanita tersebut. Jika wanita hamil tersebut menikah dengan laki-laki yang bukan penyebab kehamilannya, maka pihak yang dirugikan adalah anak yang dilahirkan wanita tersebut karena status dan kedudukan anak tersebut dapat dipertanyakan, sehingga memungkinkan anak tersebut tidak mendapatkan hak selayaknya seorang anak, seperti hak waris, hak radla ’, hak hadlanah, hak walayah, dan hak nafkah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pendapat hukum mengenai kedudukan anak yang dilahirkan oleh wanita hamil yang menikah dengan laki-laki yang bukan penyebab kehamilannya, agar didapatkan gambaran yang lebih jelas apakah anak yang dilahirkan tersebut merupakan anak sah dan dapat menjadi ahli waris.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

edudukan ahli waris pada perkawinan pol 0b9f23a6

edudukan ahli waris pada perkawinan pol 0b9f23a6

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menjelaskan perkawinan poligami merupakan pengecualian dari asas perkawinan yang monogami. Perkawinan poligami merupakan pintu darurat yang hanya bisa ditempuh jika dipenuhi sejumlah syarat yang diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5 Undang-undang Perkawinan. Terkait syarat-syarat berpoligami dengan hal ini ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan pada Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan menjelaskan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Ini berarti bahwa perkawinan tidak hanya dilihat dari segi perjanjian lahiriah saja tapi juga merupakan suatu ikatan kebatinan antara seorang suami istri untuk membentuk keluarga yang dalam hal ini keturunan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN WALI DALAM MEWAKILI AHLI WARIS DIBAWAH UMUR DALAM TINDAKAN HUKUM MENJUAL WARISAN HAK AHLI WARIS.

KEDUDUKAN WALI DALAM MEWAKILI AHLI WARIS DIBAWAH UMUR DALAM TINDAKAN HUKUM MENJUAL WARISAN HAK AHLI WARIS.

Perkawinan memiliki tujuan yang salah satunya adalah memiliki keturunan dengan maksud agar apabila seseorang meninggal dunia maka harta yang ditinggalkannya akan beralih kepada para ahli warisnya. Masalah perceraian, atau orang tua meninggal dalam suatu perkawinan, menyebabkan terjadinya kepemilikan harta waris kepada anak-anak dalam perkawinan, termasuk di dalamnya anak-anak yang masih di bawah umur, sekalipun ia masih dibawah umur ia tetap berhak atas harta warisan tersebut. Kasus yang banyak dijumpai menyangkut perwalian dan waris, diantaranya adalah banyak terjadi bahwa harta warisan yang merupakan hak anak yang masih di bawah umur tersebut, kemudian diurus dan bahkan dimiliki atau lebih bahaya lagi adalah dijual oleh pihak wali. Padahal secara hukum, harta warisan tersebut adalah dimiliki sebagian atau seluruhnya oleh anak di bawah umur tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan status dan kedudukan wali dalam mewakili ahli waris yang masih dibawah umur dalam menjual warisan dan menentukan perlindungan hukum untuk ahli waris di bawah umur apabila wali melakukan tindakan hukum yang merugikan bagi ahli waris.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DI BALI.

KEDUDUKAN ANAK PEREMPUAN SEBAGAI AHLI WARIS MENURUT HUKUM WARIS MASYARAKAT PATRILINEAL DI BALI.

Masyarakat Bali pada umumnya dalam melaksanakan upacara pernikahan pihak purusa (laki-laki) memiliki peran andil yang sangat besar dibandingkan dengan pihak pradana (perempuan). Tetapi pada upacara perkawinan Gelahang Bareng/Negen tidak seperti pada umumnya. Perkawinan Gelahang Bareng/Negen adalah salah satu sistem perkawinan di Bali yang berbeda dari biasanya karena baik suami maupun istri bertindak sebagai purusa. perkawinan Gelahang Bareng/Negen merupakan pergeseran budaya dan pengecualian aturan dari sistem kekeluargaan di Bali yang bersifat patrilinial yang apabila dilaksanakan akan berpengaruh pada sistem kewarisan dan sistem kekeluargaan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis dan merumuskan, memahami dan memperoleh gambaran hak waris pelaku dan anak-anak serta kedudukan pasangan dan anak yang lahir dari Perkawinan Gelahang Bareng/Negen di Daerah Bali dalam perspektif hukum adat Bali.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Kedudukan dan Hak Perempuan Sebagai  Ahli Waris Dalam Hukum Kewarisan Indonesia

Kedudukan dan Hak Perempuan Sebagai Ahli Waris Dalam Hukum Kewarisan Indonesia

Dalam hukum kewarisan Islam, sebab seseorang menjadi ahli waris didasarkan pada adanya perkawinan, hubungan darah, dan memerdekakan hamba. 37 Pada saat sekarang ini masalah hamba sahaya sudah tidak dibahas lagi, kecuali dalam fiqh konvensional. Adanya perkawinan menimbulkan hak saling mewarisi antara suami dan isteri. Adanya hubungan darah menyebabkan hak mendapatkan harta warisan bagi orang tua dan anak-anak. Jika semuaahli waris ada, yang menjadi ahli waris hanyalah suami, isteri, ibu, bapak, dan anak-anak.Hal paling menonjol dalam hukum kewarisan Islam yang membedakan dengan sistem hukum kewarisan lain adalah bagian anak perempuan setengah dari bagian yang diterima anak laki-laki. Hal ini didasarkan atas surat al-Nisa ayat 11, 12, dan 176. Ayat 11 mengatur tentang pewarisan bagi anak dan orang tua. Ayat 12 berbicara mengenai dua hal, pewarisan bagi suami dan isteri dan bagi saudara seibu atau disebut pewarisan al- kalalah. Adapun ayat 176 berbicara tentang al-kalalah,dengan
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Anak Hasil Perkawinan Siri Sebagai Ahli Waris Ditinjau dari Hukum Perdata dan Hukum Islam

Anak Hasil Perkawinan Siri Sebagai Ahli Waris Ditinjau dari Hukum Perdata dan Hukum Islam

5.2. Pewarisan Anak Hasil Perkawinan Siri Ditinjau dari Hukum Perdata Dalam hukum waris barat, anak luar kawin dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu anak luar kawin yang diakui dan anak luar kawin yang disahkan. Anak yang disahkan memiliki kedudukan yang berbeda dengan anak yang hanya diakui. Anak yang diakui tetap memiliki kedudukan sebagai anak luar kawin, meskipun secara hukum ia memiliki hak yang hampir sama dengan anak sah. Seorang anak luar kawin dapat diakui sebelum terjadinya perkawinan yang sah antara salah satu orang tuanya dengan orang lain yang bukan orang tuanya, dan keberadaan anak tersebut tidak mengganggu perkawinan orang tuanya dan orang lain itu. Bagian warisan anak semacam ini adalah ⁄ bagiannya apabila ia anak sah, jika mewaris bersama golongan 1, yaitu anak sah, maupun istri sah orang tuanya. Lalu ⁄ bagian apabila ia mewaris bersama golongan II dan III yakni kakeknya, paman dan bibi, maupun buyut anak tersebut, serta ⁄ bagian apabila ia mewaris bersama golongan IV, yaitu orang dengan kerabat yang lebih jauh dari orang tuanya yang menjadi pewaris.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS PENGGANTI DALAM HUKUM WARIS ISLAM STUDI KASUS DI PENGADILAN AGAMA SURAKARTA).

KEDUDUKAN AHLI WARIS PENGGANTI DALAM HUKUM WARIS ISLAM STUDI KASUS DI PENGADILAN AGAMA SURAKARTA).

Sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, kompetensi absolut Peradilan Agama seluruh Indonesia menjadi sama, yaitu sebagaimana tercantum dalam pasal 49 Undang- Undang tersebut yang meliputi bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf dan shadaqah. Sebelum berlakunya undang-undang nomor 7 tahun 1989 tersebut, Pengadilan Agama di Jawa dan Madura serta sebagaian

10 Baca lebih lajut

Kedudukan Hak Waris Anak Tiri Dalam Perkawinan Sah Menurut Hukum Waris Islam

Kedudukan Hak Waris Anak Tiri Dalam Perkawinan Sah Menurut Hukum Waris Islam

Nuqshan (Penghalang yang berakibat berkurangnya bagian ahli waris). 2. Anak tiri dalam hukum waris Islam tidak secara langsung tergolong sebagai ahli waris karena tidak terdapat sebab mewarisi (asbabul miirats). Tetapi dengan menggunakan alternatif lain dalam hukum waris Islam, anak tiri tidak akan kehilangan haknya untuk mendapatkan perlindungan dari orang tuanya, sebagai anak bawaan dari ayah dan ibu kandung-nya. Dan dalam hukum waris Islam, anak tiri bisa mendapatkan harta warisan dari perkawinan ayah atau ibu kandung-nya yang baru (keluarganya yang baru) dengan cara Qiyas dan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kedudukan ahli waris dalam Sistem Peradilan di Indonesia (Studi Kasus Ali Waris Beda Agama di Pengadilan Negeri Makassar

Kedudukan ahli waris dalam Sistem Peradilan di Indonesia (Studi Kasus Ali Waris Beda Agama di Pengadilan Negeri Makassar

Selanjutnya, berdasarkan surat bukti yang diajukan oleh Tergugat yaitu bukti berupa kutipan akta perkawinan yang dikeluarkan oleh kantor catatan sipil Makassar menerangkan bahwa pada tanggal 20 desember 2005 telah tercatat perkawinan antara Tony Chandra dan Zuliyati. Yang dinikahkan didepan pemuka agama Budha Vihara Cetya maha Dharma Makassar tanggal 11 desember 2005. Karena perkawinan tersebut dilakukan menurut ketentuan yang diatur undang- undang, sekalipun tidak ada perceraian atau izin dari istri pertamanya namun perkawinan tersebut belum pernah dibatalkan sampai Tony Chandra meninggal dunia sehingga tergugat I sah sebagai istrinya, dan juga sebagai ahli waris dari almarhum Tony Chandra.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN KEPONAKAN SEBAGAI AHLI WARIS PENGGANTI DALAM SENGKETA WARIS MELAWAN ANAK ANGKAT PENERIMA WASIAT WAJIBAH Ika Febriasari

KEDUDUKAN KEPONAKAN SEBAGAI AHLI WARIS PENGGANTI DALAM SENGKETA WARIS MELAWAN ANAK ANGKAT PENERIMA WASIAT WAJIBAH Ika Febriasari

Hukum waris merupakan bidang hukum yang sensitif atau rawan. Keadaan inilah yang mengakibatkan sulitnya diadakan unifikasi di bidang Hukum Waris. Unifikasi yang menyeluruh dalam perkawinan khususnya yang berkaitan dengan Hukum Waris di Indonesia hampir tidak mungkin dicapai 7 Hal tersebut disebabkan kemajemukan suku, adat dan agama yang ada di Indonesia yang mengakibatkan masing- masing mempunyai hukum warisnya sendiri. Khusus bagi umat islam, menegakkan syariah adalah wajib hukumnya sehingga dalam hal hukum kewarisan umat islam berpedoman pada KHI.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

Kesimpulan dari penulisan skripsi ini adalah: Pertama, ahli waris yang beda agama dengan pewaris bukan merupakan halangan untuk mendapatkan hak mewaris. Syarat-syarat untuk menjadi seorang ahli waris yaitu karena pertalian darah atau nasab, perkawinan yang sah, beragama Islam dan warisan wala. Sedangkan halangan seseorang untuk menjadi ahli waris yakni: Pembunuhan; Murtad (Berpindah agama); Kafir; Berstatus hamba sahaya; Pewaris maupun ahli waris sama-sama telah meninggal dunia. Kedua, Islam diturunkan dimuka bumi sebagai agama yang rahmatan lil alami. Oleh karenanya Kompilasi Hukum Islam ahli waris yang beda agama dengan pewaris diberikan bagian 1/3 dari harta waris yang disebut wasiat wajibah. Pemberian warisan terhadap ahli waris yang beda agama dapat dilakukan cara wasiat wajibah. Hal ini didukung oleh Mahkamah Agung dalam putusannya RI REG. No. 51 K/AG/1999 yang memberikan peluang kepada ahli waris beda agama untuk mendapatkan warisan dari pewaris muslim. Ketiga, Terkait dengan pembagian warisan, sistem hukumnya masih bersifat
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

KEDUDUKAN AHLI WARIS YANG BEDA AGAMA DENGAN PEWARIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARIS MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

darah atau nasab, perkawinan yang sah, beragama Islam dan warisan wala. Sedangkan halangan seseorang untuk menjadi ahli waris yakni: Pembunuhan; Murtad (Berpindah agama); Kafir; Berstatus hamba sahaya; Pewaris maupun ahli waris sama-sama telah meninggal dunia. Kedua, Islam diturunkan dimuka bumi sebagai agama yang rahmatan lil alami. Oleh karenanya Kompilasi Hukum Islam ahli waris yang beda agama dengan pewaris diberikan bagian 1/3 dari harta waris yang disebut wasiat wajibah. Pemberian warisan terhadap ahli waris yang beda agama dapat dilakukan cara wasiat wajibah. Hal ini didukung oleh Mahkamah Agung dalam putusannya RI REG. No. 51 K/AG/1999 yang memberikan peluang kepada ahli waris beda agama untuk mendapatkan warisan dari pewaris muslim. Ketiga, Terkait dengan pembagian warisan, sistem hukumnya masih bersifat
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Terhadap Kedudukan Akta Wasiat Yang Tidak Diketahui Oleh Ahli Waris Dan Penerima Wasiat

Analisis Yuridis Terhadap Kedudukan Akta Wasiat Yang Tidak Diketahui Oleh Ahli Waris Dan Penerima Wasiat

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa “syarat untuk sahnya suatu perkawinan harus berdasarkan hukum agama dan harus dilakukan pendaftaran perkawinan di lembaga pencatatan perkawinan setempat”. Sahnya suatu perkawinan selanjutnya akan menimbulkan akibat hukum keperdataan serta hak dan kewajiban secara hukum bagi setiap individu dalam perkawinan, seperti: kewajiban untuk saling cinta-mencintai dan hormat-menghormati, kewajiban untuk setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain, kewajiban suami yang merupakan hak isteri untuk melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya, kewajiban isteri yang merupakan hak suami untuk mengatur urusan rumah-tangga sebaik-baiknya 4 serta hak dan terkait harta bersama dalam perkawinan. 5
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Kedudukan Keponakan Sebagai Ahli Waris Pengganti Dalam Sengketa Waris Melawan Anak Angkat Penerima Wasiat Wajibah

Kedudukan Keponakan Sebagai Ahli Waris Pengganti Dalam Sengketa Waris Melawan Anak Angkat Penerima Wasiat Wajibah

Unsur terakhir dari pewarisan adalah adanya ahli waris. Ahli waris adalah setiap orang yang berhak atas harta peninggalan pewaris dan berkewajiban menyelesaikan hutang-hutangnya. Hak dan kewajiban tersebut timbul setelah pewaris meninggal dunia. Hak waris ini didasarkan pada hubungan perkawinan, hubungan darah, dan surat wasiat, yang diatur dalam undang-undang. 11 Pasal 171 huruf c KHI menyatakan bahwa ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Dengan kata lain rukun mempusakai harta peninggalan meliputi harta peninggalan si mayit, pewaris dan ahli waris. Warisan adalah permasalahan yang sangat rumit dan riskan. Dimanapun dan kapanpun warisan menjadi persoalan yang sangat polemik. Tak seorang pun mampu berbuat dengan adil. Kecenderungan manusia yang tamak dengan harta membuat keadilan mustahil ada dalam diri setiap manusia. Apalagi jika pembagian harta warisan tidak dibagi dengan syariat islam, hal ini akan menjerumuskan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan soal pembagian tersebut kedalam kemungkinan. Tidak hanya saling bermusuhan, tetapi nyawapun bisa menjadi taruhannya demi mendapatkan bagian yang besar. Bahkan, hubungan persaudaraan pun lambat laun hilang seiring berjalannya rasa iri dengki. 19 Hukum kewarisan Islam hasil ijtihad sy afi’i oleh sebagian besar umat Islam telah dijadikan sebagai hukum normatif dan harus diterima sebagai hukum yang mengikat dan terpancar dari perintah Allah SWT dalam Al-Qu ’ ran dan hadist. Sehingga tidak layak bagi setiap muslim untuk merasa tidak adil dengan hukum kewarisan tersebut. 20
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

lain, yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan antara jantan dan betinanya secara anarki tanpa adanya satu aturan. Oleh karena itu, untuk menjaga kehormatan dan kemualiaan manusia, Allah wujudkan hukum yang sesuai dengan martabatnya. Sehingga hubungan antara laki- laki dan perempuan diatur secara terhormat dan berdasarkan saling meridhoi, dengan upacara ijab-qabul sebagai lambang dari adanya rasa saling meridhoi serta di hadiri oleh para saksi yang menyaksikan bahwa kedua pasangan tersebut telah saling terikat. Bentuk pernikahan ini telah memberikan jalan yang aman pada naluri (seks),memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum perempuan menjadi laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak dengan seenaknya. Pergaulan suami istri di letakkan dibawah naungan naluri keibuan dan kebapakan sehingga nantinya akan menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang baik dan buah yang bagus. Peraturan pernikahan seperti inilah yang diridhoi Allah SWT dan diabadikan Islam untuk selamanya, sedangkan yang lainnya di batalkan. 58 Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. 59
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Pembagian Menurut Warisan Islam, Jakarta, Gema Insani Press, 1996 ______, Hukum Waris Dalam Islam, Depok, Fathan Prima Media, 2013 Ashshofa, Burhan, Metodolo[r]

7 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN AHLI WARIS TERHADAP HARTA WARI

KEDUDUKAN AHLI WARIS TERHADAP HARTA WARI

Hukum kewarisan nasional yang dicita-citakan dan yang sedang direncanakan dewasa ini bersumber pada Hukum Islam, Hukum Adat, dan Hukum Perdata. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui cara penetapan, kedudukan dan akibat hukum dari orang yang diduga meninggal dunia atau si yang tidak hadir atau afwezigheid, serta perlindungan hukum untuk ahli warisnya menurut Hukum Perdata. Penetapan oleh Pengadilan Negeri tentang afwezigheid dalam perspektif Hukum Waris Perdata, yaitu mereka sebagai ahli waris yang berkepentingan, apabila 5 (lima) tahun telah lewat semenjak kepergian si yang tidak hadir dari tempat tinggalnya, dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri. Pengadilan Negeri akan memeriksa dan melakukan pemanggilan kepada si yang tidak hadir, dan apabila si yang tidak hadir tidak datang/hadir tanpa memberi kuasa kepada seorang wakil, maka Pengadilan Negeri akan melakukan pemanggilan secara umum dalam jangka waktu selama sedikitnya 3 (tiga) bulan (Pasal 467 BW). Jika si yang tidak hadir/wakilnya tetap tidak hadir, maka Pengadilan Negeri akan menetapkan bahwa si yang tidak hadir diduga telah meninggal dunia. Dengan penetapan itulah ahli waris dapat menguasai harta warisan dari si yang tidak hadir dan jika diperlukan saat itu yang ditinggalkan dapat melangsungkan perkawinan yang baru dengan orang lain (Pasal 495 BW).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Analisis Yuridis Tentang Pembuatan Surat Keterangan Ahli Waris Bagi Perkawinan Poligami Oleh Pejabat Yang Berwenang (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan Nomor 314 Pdt.G 2014 Pa.Mdn)

Hasil Penelitian ini menunjukkan, pembuatan SKAW belum ada satu pengaturan khusus karena pembuatan SKAW masih berdasarkan tiga penggolongan.Tanggung jawab pejabat yang berwenang membuat SKAW bila terjadi sengketa dibedakan menjadi tiga: pertama secara administrasi negara yaitu dengan cara merevisi atau membatalkan surat keterangan tersebut, kedua secara perdata yaitu apabila dapat dibuktikan terdapat unsur merugikan orang lain, ketiga secara pidana yaitu apabila terbukti ada unsur menyuruh menempatkan keterangan palsu kedalam sesuatu akta otentik. Sedangkan Pengadilan Agama berwenang memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan perkara orang yang beragama Islam apabila terjadi sengketa waris. Disarankan kepada pemerintah dalam pembuatan SKAW sebaiknya menetapkan kewenangan kepada satu instansi saja, selain itu ahli waris harus menjamin bahwa tidak ada ahli waris lain selain orang-orang yang namanya disebutkan dalam surat keterangan (pernyataan) waris, serta menjamin tidak pernah ada wasiat yang belum dijalankan.Sebaiknya Surat Keterangan Ahli Waris dibuat oleh Pengadilan Agama, berupa putusan hakim dan penetapan. Hal ini lebih memberikan kekuatan hukum sebagai alat bukti yang sempurna sebab di pengadilan ahli waris disumpah sebelum memberikan keterangan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 8046 documents...

Related subjects