Top PDF KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DALAM PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DALAM PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DALAM PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

This thesis research aims to determine how the position of political parties in the dynamics of democracy in Indonesia. This type of research is to use a normative approach to law ( statute approach), and historical approaches (historical approach). The data was collected by way of literary study. The results showed that the position of political parties is very dependent on the political configuration that is being applied. Configuration of the character of democratic politics, with characterized by nomination and election of members of representative political institutions are fair, and provide greater opportunities for the agency to discuss issues, to criticize, and crystallize public opinion, as well as the recognition and acceptance of difference as a fact provide a large space for political parties to carry out its duties and functions. Conversely, authoritarian political configuration character, namely that impose unity, and want to eliminate the difference through a homogeneous and uniform society, it will hinder the movement of political parties so that the position of political parties to be weak. This paper uses the basic assumption that the political configuration is as influential variable (independent variable) and the political parties as dependent variable.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN ORDE BARU

sar ; ( 1 ) kelompok partai komunis, yang menindae opo- sisi dan melakukan penetrasi terhadap masyarakat untuk mcrubah masyarakat itu; ( 2 ) partai konservatif atau fasis, yang menindas gerakan-gerakan- liberal dan radi- kal, tetapi mengijinkan kepentingan-kepentingan dunia usaha, gereja, dan pemilik tanah yang konservatif un­ tuk ikut berpengaruh; dan ( 3 ) kelompok partai "bangea baru", yang sedang berusaha untuk menciptakan suatu bangsa atau untuk mencegah agar bangsanya tidak ter- pecah belah* PICUS merupakan contoh dari kelompok per- taina, sedang UNAT merupakan contoli dari kelompok keti- ga. Sedangi partai NAZI Jerman dab Fasis Italia sebelum perang, dunia II, dan partai Falangist Spanyol dan Uni Nasional di Portugal merupakan contoh dari kelompok kedua.1*
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

PARTAI POLITIK TANDINGAN SEBAGAI ANCAMAN

PARTAI POLITIK TANDINGAN SEBAGAI ANCAMAN

Seiring berjalannya waktu, demokrasi di Indonesia semakin berkembang pesat meskipun sering juga jatuh bangun dalam dinamika politik Indonesia. Dalam mengkaji perkembangan demokrasi Indonesia, ada fenomena menarik yang mewarnai pesta demokrasi Indonesia yang berlangsung pada 2014 yang lalu. Fenomena tersebut melanda lembaga-lembaga demokrasi di Indonesia. Dimana terjadi pergulatan konflik yang kuat hingga berujung perpecahan di internal lembaga demokrasi seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Partai Politik. Lembaga DPR yang terbagi menjadi dua basis kekuatan pasca pemilu 2014 terus menerus terlibat dalam kompetisi dan perdebatan politik. Setidaknya ada dua koalisi partai politik yang terbentuk pasca pemilu 2014 di Indonesia. Kedua koalisi tersebut adalah Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). KIH dimotori oleh PDIP sebagai partai pemenang pemilu legislatif 2014 dan didukung oleh partai politik seperti PKB, Partai Hanura dan Partai Nasdem. Kemudian KMP digerakkan oleh beberapa partai politik besar seperti Partai Golkar, Partai Gerindra, PKS, PAN dan PPP.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK LOKAL DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DITINJAU DARI ASAS DEMOKRASI

KEDUDUKAN PARTAI POLITIK LOKAL DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DITINJAU DARI ASAS DEMOKRASI

Aceh Merdeka hanya merupakan kelompok separatis kecil yang didirikan oleh 70 orang cendikiawan yang tersebar hanya di kampung Hasan Tiro, Pidie. Gerakan ini dipadamkan dengan operasi intelejen militer yang memaksa Hasan Tiro untuk mengasingkan diri ke Swedia sejak tahun 1979. Tahap kedua berlangsung antara tahun 1989-1998, Gereakan Aceh Merdekamenjadi simbol perlawanan kepada pemerintah pusat. Sejak tahun 1989 Gerakan Aceh Merdeka mulai melakukan serangan secara sporadis terhadap pos TNI dan POLRI di Aceh. Gerakan Aceh Merdeka menjadi lebih kuat sejak kembalinya sekitar 800 anggotanya yang diduga berlatih kemiliteran di Libiya pada kisaran waktu pertengahan dan akhir 1980-an, serta anggota lain sejumlah 115 yang dilatih greliawan muslim di Mindanao Filipina, beberapa angota Gerakan Aceh Merdeka lainnya dikabarkan berlatih kemiliteran di Afganistan. Selain itu dalam jumlah yang tidak diketahui dengan pasti dari anggota TNI dan POLRI yang melakukan disersi juga dilaporkan bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka. Selama bertahun-tahun pendukung Gerakan Aceh Merdeka bertambah seiring dengan diberlakuakannya Daerah Operasi Militer di Aceh yang memakan banyak korban sipil masyarakat Aceh. Tahap ketiga berlangsung antara tahun 1999- 2005, Gerakan Aceh Merdeka menjadi sangat populer di Aceh karena penggelaran kembali operasi militer, kegagalan Kesepakatan Jeda Kemanusiaan dan Penghentian Permusuhan (CoHA) antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Republik Indonesia, kegagalan pemerintah dalam menerapkan status otonomi khusus di Aceh, dan kegagalan perubahan Gerakan Aceh Merdeka dari gerakan militer menjadi gerakan politik.
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Menggugat Relasi Partai Politik dan Demokrasi di Indonesia PascaOrde Baru

Menggugat Relasi Partai Politik dan Demokrasi di Indonesia PascaOrde Baru

Tesis ketujuh, demokrasi libertarian atau Demokrasi Sosial. Setelah demokrasi liberal yang berdasar pada hak azasi kemanusiaan dan kepatuhan hukum berjalan di suatu negara, rakyatnya masih bisa memilih salah satu dari dua model demokrasi, yaitu demokrasi libertarian atau demokrasi sosial. Demokrasi libertarian berarti pengakuan hak-hak azasi sipil dan politik saja. Penganut demokrasi liberal ini percaya bahwa kebebasan diakomodasi paling baik oleh sistem ekonomi pasar bebas tanpa pembatasan harta milik pribadi. Integrasi sosial dicapai dengan berlandaskan kepercayaan pada sistem kontrak bebas. Sebaliknya, demokrasi sosial berarti pengakuan atas kelima kategori hak azasi manusia yaitu hak sipil, politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Sistem kenegaraan yang dianut demokrasi sosial adalah negara kesejahteraan. Sistem ini didasarkan pada hak-hak azasi tersebut (‘rights - based- welfare state’) dan di dalamnya terdapat ekonomi pasar yang terkoordinasi oleh negara beserta kelompok kepentingan dan masyarakat madani. Demokrasi kemasyarakatan menjadi pranata kelengkapannya. Bila dua perbedaan tipe demokrasi yang sangat mendasar ini tidak terwakilkan atau ditampakkan dalam suatu sistem kepartaian, maka sistem tersebut bisa dianggap cacat dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Apalagi dalam suatu sistem kepartaian yang ramai oleh klaim dari berbagai partai keagamaan, yang menganggap ikatan agama tertentu sebagai asas tunggal platform kebijakan. Jika diteliti lebih lanjut, akan terungkap bahwa ikatan keagamaan tersebut sebenarnya juga terbuka terhadap berbagai pilihan kebijakan yang bisa didukung oleh warga negara lainnya yang memeluk agama berbeda.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

TINJAUAN PERAN PARTAI POLITIK DALAM DEMOKRASI DI INDONESIA edit 31.01.2017

TINJAUAN PERAN PARTAI POLITIK DALAM DEMOKRASI DI INDONESIA edit 31.01.2017

Diskusi tentang perlunya kenaikan dana bantuan untuk partai politik sudah bergulir selama beberapa tahun terakhir ini, terutama di antara elit-elit partai yang menjabat di eksekutif maupun legislatif. Argumentasi utama yang dimajukan adalah terkait dengan tingkat ketergantungan yang tinggi partai politk terhadap pihak-pihak swasta yang mendonasikan uang mereka terutama saat Pemilu, hal ini menyebabkan partai tidak lagi melayani kepentingan masyarakat, melainkan kepentingan para ‘donatur’ ini. Lebih lanjut, dominasi orang-orang yang memiliki uang banyak baik sebagai pengurus maupun kandidat dari partai juga berimplikasi pada motivasi mendapatkan uang sebagai pengembalian investasi mereka yang besar dalam masa kampanye Pemilu. Korupsi dengan demikian semakin tidak terhindarkan. Ditambah dengan tidak transparan dan lemahnya sanksi serta pengawasan terhadap keuangan partai, hal ini memunculkan desakan agar Negara berperan lebih aktif menyehatkan partai politik dengan menambah jumlah bantuan keuangannya. Adapun bantuan Rp 108 per suara pemilih berdasarkan informasi yang kami dapat dari para narasumber dianggap sangat kecil, bahkan untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari partai hampir tidak mencukupi, sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, sehingga muncul cara-cara lain partai politik mendapatkan dana secara illegal.
Baca lebih lanjut

159 Baca lebih lajut

EKSISTENSI PARTAI POLITIK DAN PEMILU LANGSUNG DALAM KONTEKS DEMOKRASI DI INDONESIA

EKSISTENSI PARTAI POLITIK DAN PEMILU LANGSUNG DALAM KONTEKS DEMOKRASI DI INDONESIA

Problematik lain, partai politik di Indonesia dewasa ini belum terlembaga sebagai organisasi moderen. Yang dimaksud dengan pelembagaan partai politik adalah proses pemantapan sikap dan perilaku partai politik yang terpola atau sistemik sehingga terbentuk suatu budaya politik yang mendukung prinsip-prinsip dasar sistem demokrasi. Dalam konteks pembangunan politik, yang terpenting bukanlah jumlah partai yang ada, melainkan sejauh mana kekokohan dan adaptabilitas sistem kepartaian yang berlangsung.Sistem kepartaian disebut kokoh dan adaptabel, apabila partai politik mampu menyerap dan menyatukan semua kekuatan sosial baru yang muncul sebagai akibat modernisasi. Dari sudut pandang ini, jumlah partai hanya akan menjadi penting bila ia mempengaruhi kapasitas sistem untuk membentuk saluran-saluran kelembagaan yang diperlukan guna menampung partisipasi politik.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Kajian Historis Keterlibatan Militer Dalam Politik Indonesia

Kajian Historis Keterlibatan Militer Dalam Politik Indonesia

Krisis politik terbesar pertama yang melibatkan militer kedalamnya adalah : Peristiwa “17 Oktober 1952”. Dengan dukungan pemerintah secara berturut-turut antara tahun 1950- 1952, kepemimpinan militer teknokratik telah berupaya membina suatu kekuatan yang lebih kecil, lebih berdisiplin, dan lebih professional. Rencana mereka mengadakan rasionalisasi dan demobilisasi ditentang oleh rakyat banyak perwira bekas PETA yang kurang terlatih, yang merasa kedudukannya mereka akan diturunkan sebanding dengan perwira-perwira yang telah “diwesternisasi” dari Jakarta dan Bandung 70 . Ketika para politisi oposisi mendukung para perwira bekas PETA, sebagai bagian dari serangan mereka terhadap pemerintah, maka perwira peta tentu saja menerima dukungan tersebut dalam usaha melawan kepemimpinan tentara. Tetapi apa yang oleh pihak oposisi diparlemen dianggap sebagai penggunaan yang sah dari penguasa sipil terhadap angkatan bersenjata, siterima oleh pihak tentara sebagai campur tangan dalam soal-soal imtern angkatan darat yang tidak dapat diterima dan dibiarkan. Tidak terpengaruh dengan sistem Demokrasi Parlementer, suatu kelopmpok perwira di Jakarta mengorganisasi suatu demonstrasi massa didepan istana presiden tanggal 17 Oktober 1952, semntara delegasi perwira-perwira senior menempati presiden Soekarno dan mendesaknya untuk membubarkan parlemen. Peristiwa 17 Oktober ini sesungguhnya bukanlah udaha kudeta dari pemimpin-pemimpin TNI Angkatan Darat untuk menggulingkan pemerintah. Namun lebih tepat dikatakan sebagai cerminan kekecewaan mereka sebagai teknokrat-teknokrat militer terhadap usaha-usaha kelompok sipil yang menghalangi mereka melakukan apa yang mereka anggap sebagai kebijakan penting. Tetapi, sebenarnya mereka menyadari bahwa pembubaran parlemen akan menempatkan mereka kedalam posisi yang amat kuat untuk melakukan tindakan-tindakan politik lebih lanjut 71 .
Baca lebih lanjut

111 Baca lebih lajut

Pola Rekrutmen Partai Politik (Studi Tentang Penetapan Calon Kepala Daerah oleh DPC Partai Aceh Pada Pilkada 2017 di Aceh Tengah)

Pola Rekrutmen Partai Politik (Studi Tentang Penetapan Calon Kepala Daerah oleh DPC Partai Aceh Pada Pilkada 2017 di Aceh Tengah)

Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi Menakar Kinerja Partai Politik Era Transisi di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.. Mas’oed, Mochtar dan Collin Mac Andrews.[r]

3 Baca lebih lajut

STRATEGI MARKETING POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN KABUPATEN SRAGEN UNTUK  Strategi Marketing Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Sragen Untuk Meningkatkan Citra Partai Tahun 2012.

STRATEGI MARKETING POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN KABUPATEN SRAGEN UNTUK Strategi Marketing Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Sragen Untuk Meningkatkan Citra Partai Tahun 2012.

PDI Perjuangan mempunyai petugas partai yang namanya anak ranting, itu merupakan pengurus ditingkat kebayanan. Seoptimal mungkin PDI Perjuangan menugaskan mereka untuk melakukan identifikasi setiap persoalan yang ada ditingkat kebayanan tersebut, tidak berhenti disitu saja, namun juga dilakukan pengidentifikasian dalam setiap RT. Proses pengidentifikasian kasus tersebut kemudian dianalisa kembali untuk kemudian disimpulkan ke dewan cabang. Setelah melewati tahapan tersebut PDI Perjuangan akan membuat suatu pemecahan masalah yang diperlukan dan yang tepat guna.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

STRATEGI MARKETING POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN KABUPATEN SRAGEN UNTUK  Strategi Marketing Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Sragen Untuk Meningkatkan Citra Partai Tahun 2012.

STRATEGI MARKETING POLITIK PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN KABUPATEN SRAGEN UNTUK Strategi Marketing Politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Sragen Untuk Meningkatkan Citra Partai Tahun 2012.

Dari hasil penelitian dan analisis dapat disimpulkan bahwa PDI Perjuangan Kabupaten Sragen menjalankan marketing politik untuk membangun citra positif partai melalui strategi yang terbagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Untuk program internalnya, dengan membentuk kepengurusan ditingkat cabang sampai kebayanan, kemudian memberikan pembekalan-pembekalan kepada pengurus partai agar mengerti apa fungsinya menjadi pengurus partai, karena mereka akan turun langsung kelapangan untuk mengetahui aspirasi rakyat. Sedangkan untuk eksternalnya berupa kampanye politik yang intensif dilakukan, seperti penanaman sejuta pohon, dropping air bersih, bulan Bung Karno yang mencoba menyentuh segmentasi pemuda dengan mengadakan berbagai acara yang digemari pemuda seperti lomba foto, free style , parade band, bazar. Untuk menyampaikan pesan – pesan yang terkandung dalam kampanye politik tersebut dilakukan penyampaian informasi melalui radio lokal, press release di surat kabar, serta pemasangan baliho disepanjang jalan utama di Sragen. PDI Perjuangan Kabupaten Sragen berhasil membangun citra positif partai, terutamanya dalam membangun brand image sebagai partai yang peduli terhadap “wong cilik” dan para pemuda. Keberhasilan tersebut ditunjang oleh kemampuan membangun hubungan baik dengan media massa dan masyarakat sehingga mampu tercipta kampanye politik yang unik dan konsisten.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PARTAI POLITIK ANTARA PILAR DEMOKRASI DA

PARTAI POLITIK ANTARA PILAR DEMOKRASI DA

Apalagi melihat fungsi partai politik dalam kontek ke-Indonesia-an yang bisa dibilang jauh dari panggang dalam fungsinya sebagai bagian penting pilar demokrasi. Hal ini terlihat jelas dengan data yang dirilis Kemendagri pada September 2014 bahwa dalam rentang 2005- 2014, setidaknya ada 3.169 anggota DPRD yang tersangkut korupsi, 318 diantaranya Kepala Daerah. Lantas, sudah benarkah wacana tentang dana satu triliyun untuk Parpol yang digulirkan pertama kali oleh Mendagri Tjahjo Kumolo dibawah rezim Presiden Jokowi ?

8 Baca lebih lajut

Analisis Komparatif Rekruitmen Perempuan dalam Partai Politik Studi Kasus PDIP dan PKS Kota Surakarta

Analisis Komparatif Rekruitmen Perempuan dalam Partai Politik Studi Kasus PDIP dan PKS Kota Surakarta

Penelitian ini membandingkan antara PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). PDIP adalah partai nasionalis yang senantiasa dilekatkan kepada sosok Soekarno. Adapun PKS adalah partai Islam modern yang banyak diminati oleh kaum muda. Keberadaan partai nasionalis sering kali dipertentangkan dengan partai-partai Islam. Bila partai-partai Islam berkecenderungan meletakkan dasar agama dalam argumen berpolitik dan bernegara, sebaliknya partai nasionalis justru dalam batas-batas tertentu sering dianggap berusaha memisahkan urusan agama dan Negara. Di antara dua kekuatan, yakni agama dan negara ini sering kali berseberangan akan sikap politik (Pamungkas, 2001:119).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - REVITALISASI PARTAI POLITIK DALAM PENEGAKAN NEGARA DEMOKRASI DI INDONESIA

A. Pendahuluan - REVITALISASI PARTAI POLITIK DALAM PENEGAKAN NEGARA DEMOKRASI DI INDONESIA

Ketiga, Partai politik perlu melakukan pembuatan model-model pemberdayaan alternatif terhadap masyarakat yang mampu menggerakkan peningkatan kualitas sumber daya masyarakat. Program-program pemberdayaan masyarakat ini harus benar- benar berorientasi kepada rakyat, yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam yang ada. Selain partai politik, LSM dan ormas sosial keagamaan juga perlu semakin aktif dalam proses pemberdayaan ini. Elemen-elemen ini dapat membangun linkage dan network untuk menentukan strategi yang tepat bagi pemberdayaan masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi sebuah kelompok yang mandiri dan kuat. Sehingga jika hal ini dapat tercapai, maka masyarakat tidak akan mudah terombang ambing dalam menentukan pilihan politik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KOALISI PARTAI ISLAM DALAM PERKEMBANGAN POLITIK DI INDONESIA TAHUN 1999 – 2004

KOALISI PARTAI ISLAM DALAM PERKEMBANGAN POLITIK DI INDONESIA TAHUN 1999 – 2004

Sikap PKB kubu Matori Abdul Djalil yang kompak dengan PDI Perjuangan dalam pemungutan suara cukup mengagetkan kubu Poros Tengah, karena dalam penyiapan Tata Tertib MPR yang dilakukan oleh Tim Tujuh (Tim Kerja Partai-partai) PKB terlibat aktif dan ikut menyetujui rancangan itu. Tetapi dalam pemungutan suara PKB mengingkari kesepakatan itu. Pemungutan suara dalam pengelompokan fraksi merupakan kekalahan pertama PDI Perjuangan yang tidak diduga sebelumnya. PDI Perjuangan tidak peduli dengan jumlah kursinya yang tidak memadai untuk otomatis meraih kemenangan dalam berbagai pertarungan suara di MPR. PDI Perjuangan lebih memilih melakukan ancaman daripada melakukan pendekatan dalam upaya menambah kekuatan suaranya sehingga dari Partai Golkar atau Poros Tengah harus ada yang memberikan tambahan suara bagi Megawati. Aksi ancaman yang dilakukan PDI Perjuangan diperkuat oleh aksi cap jempol darah dan ultimatum para pendukung PDI Perjuangan di Jakarta dan di berbagai daerah lainnya bahwa jika Megawati tidak terpilih menjadi Presiden maka revolusi akan diletuskan (Untung Wahono, 2003: 138-141). Oleh karena itu, ada pihak yang secara mutlak megatakan bahwa Megawati Soekarnoputri harus menjadi Presiden. Hal ini merupakan sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar, jika perlu banjir darah seperti yang disumpahdarahkan oleh beberapa pengikut fanatinya di Semarang dan Surabaya. Sebaliknya, para pengikut B.J. Habibie ada satu sikap yang tidak mengenal kompromi yaitu apabila bukan Habbibie yang menjadi Presiden, maka pendukung Habibie akan mengambil sikap apa pun (Abd. Rohim Ghazali, 1999: 31).
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

DEMOKRASI DAN PARTAI POLITIK Oleh ZAINAL

DEMOKRASI DAN PARTAI POLITIK Oleh ZAINAL

Disamping kedua sistem tersebut di atas, masih dijumpai adanya sistem lain, yaitu sistem Proporsional dengan daftar calon terbuka. Sistem semacam ini dikembangkan oleh Indonesia dalam melaksanakan Pemilu tahun 2004. Mekanisme dari sistem ini hampir sama dengan sistem proporsional. Akan tetapi dalam penentuan wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR, Partai politik hanya mengajukan calon-calon dalam daftar yang disusun berdasarkan abjad. Bukan nomor urut. Kemudian dalam pelaksanaan pemungutan suara, rakyat pemilih disamping "mencoblos" Partai Politik yang dikehendaki, mereka juga memilih nama-nama calon wakil yang diajukan oleh Partai politik yang bersangkutan. Cara semacam ini dimunculkan sebagai respon atas keprihatinan rakyat terhadap kualitas wakil-wakil rakyat yang lebih condong mementingkan kepentingan Partai Politik. Sehingga dengan mempergunakan cara semacam ini, diharapkan wakil rakyat benar-benar mampu membawa aspirasi rakyat pemilih. Hal ini mengingat walaupun dia dicalonkan oleh Partai politik, namun secara definitif dapat atau tidaknya dia duduk di DPR semata-mata sangat tergantung pada hasil pilihan rakyat yang diambil dari daftar calon tersebut.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

PARTAI POLITIK TANDINGAN SEBAGAI REFLEKS (1)

PARTAI POLITIK TANDINGAN SEBAGAI REFLEKS (1)

Partai politik merupakan ruh dari sistem demokrasi, karena keberadaan partai politik dan sistem kepartaian yang di bangun merupakan barometer demokrasi atau tidaknya sebuah sistem politik dalam sebuah negara (Koirudin, 2004). Oleh karena itu jika bangunan demokrasi dalam internal partai politik sudah rusak, akan menjadi pertanyaan bagaimana partai politik mampu mendorong proses demokratisasi di Indonesia.

4 Baca lebih lajut

Sistem Multi Partai dalam Pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif di Indonesia Pasca Reformasi

Sistem Multi Partai dalam Pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif di Indonesia Pasca Reformasi

Latar belakang yang menimbulkan diberlakukannya sistem Parliementary Threshold adalah berkembang biaknya banyak sekali partai politik. Ali Masykur Musa berpendapat bahwa pembiakan jumlah partai politik tersebut menandai dua fenomena yaitu pertama, menunjukkan suburnya iklim demokrasi sebagai konsekuensi kebebasan berpolitik, dimana berorganisasi dan berpolitik merupakan hak setiap warga negara, termasuk mendirikan parpol dan kedua menunjukkan belum stabilnya penataan sistem kepartaian. 121 Tidak stabilnya sistem kepartaian menimbulkan munculnya semacam koalisi-koalisi antar partai politik yang berdiri diatas kepentingan yang sesaat sehingga koalisi yang dihasilkan tersebut rapuh dan menyebabkan kebijakan pemerintah sering diinterpelasi oleh DPR. Untuk itulah maka dibentuklah suatu mekanisme Parliementary Threshold ini sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 202 Ayat 1 UU Pemilu Legislatif yang menyebutkan bahwa : “Partai politik peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan sekurang-kurangnya 2,5 % (dua koma lima per seratus) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR.” Yang bermaksud bahwa hanya partai politik dengan suara 2,5 % secara nasional lah yang kemudian boleh mendudukkan kadernya di DPR, apabila ada partai politik di suatu daerah pemilihan mampu memperoleh suara yang                                                             
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

PERAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK (Analisis Komparatif Strategi Komunikasi Politik Partai  Peran Perempuan Dalam Partai Politik (Analisis Komparatif Strategi Komunikasi Politik Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Dan Partai Keadilan Sejahtera (

PERAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK (Analisis Komparatif Strategi Komunikasi Politik Partai Peran Perempuan Dalam Partai Politik (Analisis Komparatif Strategi Komunikasi Politik Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Dan Partai Keadilan Sejahtera (

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana strategi komunikasi politik partai politik dalam rekrutmen perempuan. Untuk mengetahui peran perempuan dalam partai politik dengan membandingkan (komparatif) kedua partai yaitu, PDI Perjuangan dan PKS Kota Surakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan purposive sampling dan snowball sampling untuk menentukan subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, arsip, dan observasi langsung. Setelah dilakukan analisis diperoleh kesimpulan: 1) strategi komunikasi politik. Komunikasi internal dalam PDI Perjuangan dan PKS Kota Surakarta dengan melakukan rapat inti pengurus sebagai bentuk komunikasi ke atas. Penyebaran informasi kebijakan-kebijakan partai hingga ke tingkat paling rendah dalam tatanan struktur kepartaian melalui koordinator di tiap-tiap wilayah sebagai bentuk komunikasi ke bawah. 2)Strategi Komunikasi politik eksternal partai politik dengan masyarakat menggunakan program-program yang dikeluarkan oleh partai. PDI Perjuangan melalui program Pemeliharan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) dan Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo (BPMKS). Sedangkan PKS membentuk enam program unggulan partai, yaitu Pos Wanita Keadilan (PWK), Sejahtera Study Club (bimbingan belajar gratis), Cluster Business (kelompok bisnis), Pembinaan Remaja Masjid, Senam Nusantara dan komunitas hobi. 3) Dalam proses rekrutmen calon legeslatif PDI Perjuangan melakukan penelitian yang berupa penilaian, survei dan riset kelayakan bagi tiap-tiap calon yang diajukan oleh masyarakat. Calon legeslatif terpilih melalui pertimbangan dari pengabdian anggota kepada partai. Sedangkan PKS menggunakan pemilihan umum internal kader disetiap daerah pemilihan untuk menentukan calon legelatif. Hal ini diyakini bahwa setiap kader pada daerah pemilihan telah mengetahui dengan baik kinerja kader lainnya yang berada dalam satu wilayah.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...