Top PDF Kepriyayian Tokoh dalam Novel Warna Lokal Jawa

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

Bentuk kepercayaan teologis bagi masyarakat Jawa di antaranya adanya Agami Jawi yang mengenal banyak sekali orang keramat antara lain guru-guru agama, tokoh-tokoh historis maupun setengah historis, yang dikenal orang melalui kesusasteraan babad, tokoh-tokoh pahlawan dari cerita mitologi yang dikenal melalui pertunjukkan wayang dan lain-lain, tetapi juga tokoh-tokoh yang menjadi terkenal karena suatu kejadian tertentu atau justru karena jalan hidupnya yang tercela. Tokoh keramat yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka meyakini bahwa ada roh halus yang berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya semula, atau arwah leluhur (Roqib, 2007:53-54).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

MULTIKULTURALISME DALAM FILM OPERA JAWA SUTRADARA GARIN NUGROHO

MULTIKULTURALISME DALAM FILM OPERA JAWA SUTRADARA GARIN NUGROHO

Film Opera Jawa setidaknya berbeda dengan film-film garapan Garin Nugroho yang lain karena menyajikan beragam seni, dari koreografi tari, tembang, akting, dan instalasi seni. Film Opera Jawa berangkat dari cerita Ramayana. Cerita Ramayana oleh Garin Nugroho diolah kembali didekatkan dengan konteks zaman sekarang. Setio (Miroto) ditampilkan sebagai laki-laki desa yang mencoba tetap setia dan bertanggung jawab terhadap ekonomi keluarga. Siti (Artika Sari Devi) adalah wanita desa yang rapuh di saat ekonomi keluarga tidak menentu, sedangkan Ludiro (Eko Supriyanto) adalah laki-laki dengan segala kemewahan dan kekuasaan. Kisah dalam film Opera Jawa berjalan pararel dengan tokoh Rama, Sita, dan Rahwana dalam dunia pewayangan Ramayana. Tokoh Setio dianalogikan sebagai Rama, Siti dianalogikan sebagai Sita, dan tokoh Ludiro dianalogikan sebagai Rahwana. Terdapat juga tokoh lain Anom (Jecko Siompo) yang dianalogikan berperan sebagai Hanoman, Sura (I Nyoman Sura) yang dianalogikan berperan sebagai Lesmana, dan tokoh Sukesi yang dimainkan oleh Retno Maruti. Pemain yang terlibat dalam film Opera Jawa adalah para penari yang telah diakui kemampuannya, baik dalam taraf nasional maupun internasional. Latar belakang budaya masing-masing aktor itu telah memberikan warna lokal pada penggunaan gerak-gerak simbolik, kata, dan nada yang digunakan. Dari berbagai warna lokal budaya yang dihadirkan itulah, film Opera Jawa menunjukkan semangat multikulturalisme.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Warna Lokal Batak Angkola Dalam Novel Azab Dan Sengsara Karya Merari Siregar

Warna Lokal Batak Angkola Dalam Novel Azab Dan Sengsara Karya Merari Siregar

Masyarakat BA percaya terhadap dukun dan arwah manusia yang telah meninggal. Dalam ADS digambarkan Baginda Diatas sedang meminta nasehat kepada datu (dukun) tentang kemungkinan apa yang terjadi kalau Aminuddin mengawini Mariamin. Dalam menentukan waktu ketika menjemput calon menantu Baginda Diatas, ia terlebih dahulu bertanya kepada dukun. Kepercayaan terhadap arwah manusia yang telah meninggal, digambarkan pada tokoh Mariamin dan Ibunya (Nuria) ketika berziarah ke kuburan Sutan Baringin. Demikian juga ketika Sutan Baringin dengan Adiknya sedang terjadi suatu pertengkaran, mereka menyebut-nyebut arwah mendiang nenek mereka yang sewaktu-waktu dapat mengganggu, apabila diantaranya tidak terjadi kedamaian.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Cover Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Cover Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan struktur yang membangun novel dan aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi. Untuk mengetahui aspek kepribadian tokoh Alif Fikri digunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara (2009) dan Ranah Tiga Warna (2011) Karya A. Fuadi. Data yang dipakai menggunakan data primer dan data sekunder dengan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat yang digunakan adalah teknik membaca heuristic dan hermeneustik. Secara struktur dapat disimpulkan bahwa tema dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi adalah “kesabaran dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu akan berbuah kesuksesan”. Alur dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan alur campuran. Tokoh dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna yaitu terdiri tokoh utama (Alif Fikri) dan tokoh tambahan (Amak, Ayah, Randai, Atang, Raja, Said, Baso, Dulmajid, Raisya, dan Bang Togar). Latar tempat dalam Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan daerah tempat (Maninjau, Bukittinggi Sumatera Barat, Ponorogo Jawa Timur, Bandung, Washington Amerika Serikat, Canada, dan London Inggris). Latar waktu yang diperkirakan mulai tahun, 1988 sampai 2003, dan latar social (kehidupan keluarga sederhana yang Islami dengan berpadu budaya Sumatera Barat, Jawa Timur serta suasan lingkungan pendidikan). Secara psikologis tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi, dianalisis menggunkana teori kepribadian Sigmund Freud; (1) Tokoh Alif Fikri dilihat dari segi insting mempunyai insting hidup dan insting mati, (2) Dari segi distribusi dan pemakian energy, tokoh Alif Fikri mempunyai energy Superego lebih besar daripada energy yang diberikan id dan ego, (3) Tokoh Alif Fikri mengalami pengaruh alam bawah sadar yang besar karena adanya tekanan, (4) Tokoh Alif Fikri mempunyai kecemasan dalam kehidupan yang dijalaninya, (5) Tokoh Alif Fikri mempunyai teori mimpi dalam kehidupannya yang digunakan sebagai motivasi dalam hidupnya. Alif Fikri adalah tokoh yang memiliki kepribadian; (1) Taat kepada Allah SWT, dan kedua orang tua, (2) Mandiri, (3) Tidak memiliki pendirian yang kuat, (4) Pantang menyerah.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

 CV Hartono

CV Hartono

Warna Lokal Jawa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari 2009 File Bidang Penelitian : Mimikri+Pribumi,+Seminar+Internasional+PIBSI+2010 Karakteristik+Postmo+dalam+Kumpul[r]

5 Baca lebih lajut

Warna Lokal dalam Novel Isinga Karya Dorothea Rosa Herliany dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA

Warna Lokal dalam Novel Isinga Karya Dorothea Rosa Herliany dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA

Dilihat dari aspek psikologisnya tokoh Meage pandai bermain tifa, sejak kecil Meage senang bermain tifa. Kepandaiannya bermain tifa itu diturunkan oleh bapaknya yang sudah meninggal. Meage juga pandai berburu. Meage berburu menggunakan panah dan busurnya serta ditemani anjingnya Jack. Meage menyukai sosok Irewa, Sungai Warsor telah menjadi saksi pertemuan Meage dan Irewa. Pertemuan tersebut juga merupakan pertama kalinya Meage berada dekat dengan perempuan bahkan mendekap Irewa di dada Meage. Wajah Irewa yang sangat cantik bagaikan air Sungai Warsor membuat dada Meage berdegup. Ada perasaan yang berbeda dan istimewa yang dirasakan Meage terhadap Irewa. Meage memiliki jiwa penolong, hal ini diajarkan oleh Dokter Leon kepadanya. Sebagai anak asuh Dokter Leon, Meage belajar banyak hal, manusia dengan manusia lain tidak boleh saling membunuh. Meage memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki Aitubu lain. Saat telah terjadi peperangan antara Aitubu dan Hobone karena beberapa hal dan pemuda-pemuda Aitubu berhasil membunuh prajurit perang dari Hobone, mereka lantas memakan daging korbannya juga. Namun, Meage tidak dapat melakukannya. Hatinya bergejolak, ia tak bisa memperlakukan manusia seperti itu. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Baca lebih lanjut

200 Baca lebih lajut

Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan struktur yang membangun novel dan aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi. Untuk mengetahui aspek kepribadian tokoh Alif Fikri digunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara (2009) dan Ranah Tiga Warna (2011) Karya A. Fuadi. Data yang dipakai menggunakan data primer dan data sekunder dengan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat yang digunakan adalah teknik membaca heuristic dan hermeneustik. Secara struktur dapat disimpulkan bahwa tema dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi adalah “kesabaran dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu akan berbuah kesuksesan”. Alur dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan alur campuran. Tokoh dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna yaitu terdiri tokoh utama (Alif Fikri) dan tokoh tambahan (Amak, Ayah, Randai, Atang, Raja, Said, Baso, Dulmajid, Raisya, dan Bang Togar). Latar tempat dalam Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan daerah tempat (Maninjau, Bukittinggi Sumatera Barat, Ponorogo Jawa Timur, Bandung, Washington Amerika Serikat, Canada, dan London Inggris). Latar waktu yang diperkirakan mulai tahun, 1988 sampai 2003, dan latar social (kehidupan keluarga sederhana yang Islami dengan berpadu budaya Sumatera Barat, Jawa Timur serta suasan lingkungan pendidikan). Secara psikologis tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi, dianalisis menggunkana teori kepribadian Sigmund Freud; (1) Tokoh Alif Fikri dilihat dari segi insting mempunyai insting hidup dan insting mati, (2) Dari segi distribusi dan pemakian energy, tokoh Alif Fikri mempunyai energy Superego lebih besar daripada energy yang diberikan id dan ego, (3) Tokoh Alif Fikri mengalami pengaruh alam bawah sadar yang besar karena adanya tekanan, (4) Tokoh Alif Fikri mempunyai kecemasan dalam kehidupan yang dijalaninya, (5) Tokoh Alif Fikri mempunyai teori mimpi dalam kehidupannya yang digunakan sebagai motivasi dalam hidupnya. Alif Fikri adalah tokoh yang memiliki kepribadian; (1) Taat kepada Allah SWT, dan kedua orang tua, (2) Mandiri, (3) Tidak memiliki pendirian yang kuat, (4) Pantang menyerah.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Dimensi Religiusitas Pada Novel Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono: Kajian Semiotik Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

PENDAHULUAN Dimensi Religiusitas Pada Novel Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin Karya Sunardian Wirodono: Kajian Semiotik Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

Novel Centhini merupakan sastra warna lokal Jawa dengan dilatarbelakangi sejarah Kerajaan Mataram dan masuknya agama Islam di Jawa. Penelitian yang berkaitan dengan novel warna kelokalan budaya daerah, terutama novel Jawa dapat dilakukan dengan analisis wacana, khususnya yang berkaitan dengan komposisi fakta – fakta sosiokultural, mengandaikan keterlibatan total kondisi – kondisi sosiohistoris di sekitarnya. Artinya, wacana, termasuk unit-unit yang lebih kecil, seperti kata dan kalimat, dipahami sebagai unsur naratif, yang secara genetis dapat ditelusuri melalui interaksi sosial, yaitu sebagai manifestasi kultural ( Ratna, 2011: 9). Dengan sekian banyak upacara dan ritual masyarakat Jawa yang sekarang ini sudah berkurang, maka akan merubah tata kehidupan masyarakat yang sekarang. Novel Centhini dipilih sebagai objek penelitian dengan alasan bahwa novel tersebut merupakan novel lokal Jawa yang tidak hanya mengenai sastra atau seni, tetapi mengisahkan seluruh dimensi kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Jawa termasuk mitos – mitos yang sampai saat ini masih dipercayai oleh masyarakat Jawa.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

warna lokal jawa dalam novel indonesia periode 1980 1995

warna lokal jawa dalam novel indonesia periode 1980 1995

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud dan fungsi warna lokal Jawa dalam novel Indonesia periode 1980-1995. Secara purposif, diperoleh sumber data penelitian, yakni: novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, Jantera Bianglala (Ahmad Tohari); Para Priyayi (Umar Kayam); Burung-Burung Manyar dan Durga Umayi (YB. Mangunwjaya); Canting (Arswendo Atmowiloto); Pasar (Kutowjoyo); dan Tirai Menurun (NH. Dini). Pengumpulan data dengan teknik baca dan catat. Analisis data dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, warna lokal Jawa, berupa: latar tempat (Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Magelang, Madiun, Temanggung, dan Muntilan); latar waktu (hari dan pasaran, Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, sepasar, selapan, sewindu), kesenian (wayang, ketoprak, tayub, tembang); kepercayaan (Islam abangan, kepercayaan pada roh leluhur, mantra dan benda-benda pusaka); status sosial priyayi dan wong cilik; penggunaan bahasa (bahasa Jawa, penamaan, pasemon); dan penamaan tumbuhan dan hewan. Kedua, warna lokal Jawa berfungsi sebagai: (a) masalah pokok yang diceritakan, (b) hipogram alur dan tokoh cerita, dan (c) penguat pelukisan latar cerita.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Abstract Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Abstract Novel Negeri Lima Menara Dan Ranah Tiga Warna Karya A. Fuadi: Kajian Psikologi Sastra

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan struktur yang membangun novel dan aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi. Untuk mengetahui aspek kepribadian tokoh Alif Fikri digunakan metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah aspek kepribadian tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara (2009) dan Ranah Tiga Warna (2011) Karya A. Fuadi. Data yang dipakai menggunakan data primer dan data sekunder dengan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat yang digunakan adalah teknik membaca heuristic dan hermeneustik. Secara struktur dapat disimpulkan bahwa tema dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi adalah “kesabaran dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu akan berbuah kesuksesan”. Alur dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan alur campuran. Tokoh dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna yaitu terdiri tokoh utama (Alif Fikri) dan tokoh tambahan (Amak, Ayah, Randai, Atang, Raja, Said, Baso, Dulmajid, Raisya, dan Bang Togar). Latar tempat dalam Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna menggunakan daerah tempat (Maninjau, Bukittinggi Sumatera Barat, Ponorogo Jawa Timur, Bandung, Washington Amerika Serikat, Canada, dan London Inggris). Latar waktu yang diperkirakan mulai tahun, 1988 sampai 2003, dan latar social (kehidupan keluarga sederhana yang Islami dengan berpadu budaya Sumatera Barat, Jawa Timur serta suasan lingkungan pendidikan). Secara psikologis tokoh Alif Fikri dalam novel Negeri Lima Menara dan Ranah Tiga Warna Karya A.Fuadi, dianalisis menggunkana teori kepribadian Sigmund Freud; (1) Tokoh Alif Fikri dilihat dari segi insting mempunyai insting hidup dan insting mati, (2) Dari segi distribusi dan pemakian energy, tokoh Alif Fikri mempunyai energy Superego lebih besar daripada energy yang diberikan id dan ego, (3) Tokoh Alif Fikri mengalami pengaruh alam bawah sadar yang besar karena adanya tekanan, (4) Tokoh Alif Fikri mempunyai kecemasan dalam kehidupan yang dijalaninya, (5) Tokoh Alif Fikri mempunyai teori mimpi dalam kehidupannya yang digunakan sebagai motivasi dalam hidupnya. Alif Fikri adalah tokoh yang memiliki kepribadian; (1) Taat kepada Allah SWT, dan kedua orang tua, (2) Mandiri, (3) Tidak memiliki pendirian yang kuat, (4) Pantang menyerah.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

(ABSTRAK) PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah penokohan yang dipaparkan dalam novel Maskumambang karya Naniek Pamuji dapat diketahui mengenai teknik ekspositori dan teknik cakapan. Melalui tokoh Sri Sumarti ia memiliki karakter cantik, cekatan, pandai, rendah hati, tidak sombong, peduli pada orang lain, patuh pada orang tua, dan pemaaf, melalui tokoh Musrini ia memiliki karakter tidak pantang menyerah dan mandiri, mempunyai semangat belajar tinggi, dan pendendam, melalui tokoh Esu Rahayu ia memiliki karakter baik hati dan jujur, sedangkan karakter Musriati adalah bijaksana. Cara pandang pengarang tentang perempuan juga dapat diketahui mengenai perspektif feminis. pengarang menyisipkan perspektif femins marxis dan sosialis dan feminis psikoanalisis dan gender melalui tokoh Sri Sumarti, feminis liberal melalui tokoh Musrini dan melalui tokoh Esti Rahayu dan Musriati pengarang tidak menyisipkan pandangan feminisme.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

(ABSTRAK) PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

(ABSTRAK) PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL MASKUMAMBANG KARYA NANIEK PAMUJI.

Maskumambang adalah novel berbahasa Jawa karya Naniek Pamuji yang mengangkat persoalan feminisme. Latar belakang yang dimiliki oleh tokoh-tokoh perempuan dalam novel Maskumambang menjadi pemicu lahirnya pemikiran- pemikiran feminisme dari Naniek Pamuji. Melalui sikap dan cara pikirnya, pembaca diajak pengarang untuk melihat bagaimana seharusnya dalam menyelesaikan persoalan hidup.

2 Baca lebih lajut

Dunia Kepriyayian Dalam Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam Dan Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer.

Dunia Kepriyayian Dalam Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam Dan Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer.

iii Abstrak Penelitian ini membahas dua novel yang memiliki persamaan latar budaya Jawa, Para Priyayi karya Umar Kayam dan Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta.[r]

2 Baca lebih lajut

KEPEMIMPINAN JAWA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KEN AROK  KEPEMIMPINAN JAWA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KEN AROK KEN DEDES: SEBUAH ROMAN EPIK CINTA PENUH DARAH KARYA WAWAN SUSETYA DAN TOKOH UTAMA DALAM LEGENDA “GUNUNG KEMUKUS DI SRAGEN”: KAJIAN SASTRA BANDINGAN DAN

KEPEMIMPINAN JAWA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KEN AROK KEPEMIMPINAN JAWA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KEN AROK KEN DEDES: SEBUAH ROMAN EPIK CINTA PENUH DARAH KARYA WAWAN SUSETYA DAN TOKOH UTAMA DALAM LEGENDA “GUNUNG KEMUKUS DI SRAGEN”: KAJIAN SASTRA BANDINGAN DAN

Stojmenska (2013) melakukan penelitian yang berjudul “ Comparative Literature, (Comparative) Cultural Studies, Aesthetic Education, and the Humanities ” . Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui keterkaitan ketiga bidang tersebut, (2) berbagai keprihatinan yang berkaitan dengan kreativitas, (3) cara ketiga bidang tersebut bertahan dan bekerja sama dalam dunia kontemporer. Hasil penelitian ini membahas sastra komparatif dalam konteks kajian budaya dan pendidikan estetika. Titik awal yang menjadi pusat perhatian adalah kompleksitas sastra komparatif sebagai disiplin akademis didorong oleh rasa ingin tahu intelektual. Berbagai macam hambatan yang terdapat dalam pemahaman. Investigasi sastra dan seni yang berfokus pada nilai-nilai estetika membawa kita menuju estetika umum, analisis yang menempatkan seni dan sastra dalam konteks dengan kurang memperhatikan kriteria estetika membawa kita menuju studi budaya. Relevansinya dengan penelitian ini terletak pada kajian sastra bandingan dan kajian mengenai kebudayaan. Perbedaannya terletak pada penggunaan data yang berupa novel dan legenda serta implementasi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kepribadian Tokoh Utama Alif Fikri Dalam Novel Ranah 3 Warna Karya A. Fuadi: Pendekatan Psikologi Sastra

Kepribadian Tokoh Utama Alif Fikri Dalam Novel Ranah 3 Warna Karya A. Fuadi: Pendekatan Psikologi Sastra

Penelitian ini bermanfaat untuk menyumbangkan pandangan ilmu sastra khususnya teori psikologi sastra tentang kepribadian tokoh utama dalam novel Ranah 3 Warna. Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

6 Baca lebih lajut

STRUKTUR WACANA DALAM NOVEL RINDU KARYA TERE LIYE | Nuraeni | DIKSATRASIA 580 2266 1 PB

STRUKTUR WACANA DALAM NOVEL RINDU KARYA TERE LIYE | Nuraeni | DIKSATRASIA 580 2266 1 PB

Alasan penulis memilih novel Rindu karya Tere Liye sebagai objek kajiannya karena novel tersebut memiliki keistimewaan tersendiri bagi pembacanya. Dalam satu novel disuguhkan lima kisah sekaligus, novel Rindu adalah persembahan Tere Liye di thun 2014 hingga sekarang sudah mencapai 39 kali cetakan, cetakan pertama pada bulan Oktober 2014 dan cetakan ke 39 adalah pada bulan September 2016. Novel Rindu merupakan buku ke-20 karya pengarang produktif tersebut. Semua karyanya memiliki ciri khas dan cita rasa yang berbeda. Namun dari sekian banyak karyanaya, novel Rindu adalah karya yang tak pernah terbayangkan. Pengarang menyuguhkan tema yang tidak biasa, novel ini tentang perjalanan panjang jemaah haji Indonesia tahun 1938. Tentang kapal uap belitar Hollad. Sejarah nusantara, dan tentang pertanyaan-pertanyaan seputar masalalu, kebencian, takdir, cinta, dan kemunafikan. Selain disuguhkan lima kisah dalam satu novel sekaligus novel ini juga sangat berbeda karena dibuka dengan mukodimah yang unik.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: (Kajian Feminisme dan Nilai Pendidikan Karakter).

NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: (Kajian Feminisme dan Nilai Pendidikan Karakter).

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka dan tidak terkait dengan tempat penelitian. Sumber data penelitian berupa sumber data primer, yaitu novel Bumi Manusia. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah pendataan, pencatatan, dan analisis dokumen. Uji validitas data melalui trianggulasi data, triangulasi metode, dan triangulasi teori. Teknik analisis menggunakan model analisis interaktif dan berupa kegiatan yang bergerak terus pada ketiga alur (reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi) kegiatan proses penelitian.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

RELIGISIUTAS MASYARAKAT JAWA DALAM KARYA

RELIGISIUTAS MASYARAKAT JAWA DALAM KARYA

Masyarakat Jawa tidak semua beribadat menurut agama Islam, ada pula yang disebut Islam kejawen. Islam kejawen walaupun tidak menjalankan salat, puasa, naik haji dan ibadah lainnya tetapi mereka percaya kepada ajaran keimanan agama Islam. Tuhan, mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Kecuali itu masih ada juga di desa-desa Jawa orang-orang pemeluk agama Nasrani atau agama besar.

17 Baca lebih lajut

Kepribadian Tokoh Utama Alif Fikri Dalam Novel Ranah 3 Warna Karya A. Fuadi: Pendekatan Psikologi Sastra

Kepribadian Tokoh Utama Alif Fikri Dalam Novel Ranah 3 Warna Karya A. Fuadi: Pendekatan Psikologi Sastra

Sastra dibangun atas dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik ialah unsur yang membangun karya satra yang berasal dari dalam karya satra itu sendiri, yaitu tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang membangun karya satra yang berasal dari luar karya sastra itu sendiri, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, pemikiran, fitrah, hukum dan kesehatan. Pada kesempatan ini penelitian ini dibatasai hanya pada unsur intrinsik saja yaitu tentang kepribadian tokoh utama Alif Fikri dalam novel Ranah 3 Warna karya A. Fuadi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...