Top PDF Komponenn Makna Verba Berendonim Mund dalam Buku Studio d A1

Komponenn Makna Verba Berendonim Mund dalam Buku Studio d A1

Komponenn Makna Verba Berendonim Mund dalam Buku Studio d A1

Mulut memiliki peranan penting terhadap siklus kehidupan manusia, yang mana sebagai alat berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, bahasa yang disampaikan manusia merupakan media untuk menyampaikan makna. Akan tetapi, terkadang dalam penyampaiannya dengan bentuk gaya bahasa yang bermacam-macam sehingga makna yang dimaksudkan masih samar-samar dan sukar dimengerti (Huford, Heasley, dan Smith, 2007:1 dalam Abdul Chaer 2007). Agar Bahasa yang digunakan mudah dipahami, maka perlu adanya pemahaman akan komponen yang membentuk makna tersebut. Pemahaman akan komponen makna sangatlah penting guna mengetahui lebih dalam terkait kemiripan, kesamaan, dan ketidaksamaan pada bahasa yang kita gunakan. Sehingga pemahaman akan mudah didapatkan dan tidak akan merusak jalinan komunikasi. Oleh karena itu, perlu adanya analisis mengenai komponen makna. Berdasarkan proses analisis menggunakan 6 langkah dari teknik analisis Mansoer Pateda terhadap verba endonim Mund ‘mulut’ pada buku studio D A1, ditemukan 20 verba endonim Mund ‘mulut’ dengan 10 diantaranya memiliki medan makna yang sama. Meskipun verba-verba tersebut memiliki kemiripan makna, tetapi tetap saja terdapat komponen pembeda diantara verba-verba tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KOMPONEN MAKNA DALAM VERBA BERENDONIM AUGEN PADA BUKU Studio D A1

KOMPONEN MAKNA DALAM VERBA BERENDONIM AUGEN PADA BUKU Studio D A1

Istilah “makna” dapat diibaratkan seperti sweater yang elastis (Jean A i t c h i s o n , 1 9 9 7 ) . M a k n a memiliki definisi yang luas dan setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda tentang apa itu makna. Karena ketika seseorang berbicara tentang apa itu “sebuah makna” atau “makna” atau “makna ini”, secara otomatis kita ingin meluruskan definisi makna dan menggabungkan menjadi satu. Penelitian ini dilakukan dengan objek dan teori yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Karena m a t a a d a l a h p a n c a i n d e r a p e n g l i h a t a n y a n g p a l i n g digunakan tidak hanya oleh manusia saja tetapi juga hewan. Komponen makna tidak hanya terpaku untuk mempelajari makna kata-kata, tetapi dapat juga makna pada tanda, simbol, struktur bahasa. Untuk mengetahui keterkaitan antar makna, maka digunakan analisis komponen makna, namun analisis komponen makna mempunyai kelemahan seperti tidak semua kata dapat menggunakan analisis komponen makna, karena berubah-ubah dan mempunyai berbagai macam jenis. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana k o m p o n e n m a k n a v e r b a berendonim Augen pada buku Studio d A1. Tujuan dari penelitian komponen makna verba berendonim Augen pada b u k u S t u d i o D a d a l a h mendeskripsikan komponen makna dalam verba berendonim
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Komponen Makna Verba Berendonim Hand dalam Buku Studio d A1

Komponen Makna Verba Berendonim Hand dalam Buku Studio d A1

Komponen makna adalah setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna atau makna leksikal tersebut (Chaer, 2009:114). Permasalahan komponen makna banyak sekali ditemukan dalam buku Studio d, yang notabennya digunakan sebagai buku latihan atau bahan ajar dalam lingkup jurusan Bahasa dan Sastra Jerman ataupun sebagai buku ajar Nasional. Dimana bagi pembelajar bahasa Jerman yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertamanya atau bahasa Ibu akan mengalami kesulitan dalam memahami komponen makna sedangkan komponen makna sendiri sangat penting untuk dipahami, dimana komponen makna selalu berkaitan dengan setiap kata yang ada. Apabila kita memahami komponen makna pada kata- kata dasar akan sangat membantu untuk pemahaman kata lain yang memiliki hubungan dengan kata tersebut, dengan kata lain bahwa setiap verba tidak hanya dapat dikaitkan dengan satu kata dan sebaliknya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

ANALISIS MAKNA PREFIKS VOR- DALAM VERBA BAHASA JERMAN.

ANALISIS MAKNA PREFIKS VOR- DALAM VERBA BAHASA JERMAN.

1. Verba berprefiks vor- yang ditemukan dalam sumber data adalah sebagai berikut: vorstellen (22x), vorfinden (1x), vorhaben (1x), vorhalten (3x), vorkommen (11x), vorgeben (6x), vorsprechen (1x), vorlesen (2x), vorspielen (1x), vorschlagen (12x), vorfallen (1x), vorweisen (4x), vorstoßen (1x), vorschieben (1x), vormachen (2x), vorarbeiten (1x), vorenthalten (1x), vorschreiben (4x), vorgehen (9x), vorbereiten (7x), vortragen (3x), vorsehen (7x), vorliegen (9x), vornehmen (5x), vorwerfen (17x), vorbeugen (2x), vorbehalten (2x), vortreten (1x), vorrechnen (2x), vorlegen (6x), vorziehen (1x), vorfahren (2x), vorrücken (1x), vorführen (1x), vordringen (1x), vorsorgen (1x) dan vorherrschen (2x).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Makna Verba Ukeru dalam Kalimat Bahasa Jepang

Analisis Makna Verba Ukeru dalam Kalimat Bahasa Jepang

 Kalimat (15) merupakan contoh penggunaan makna perluasan verba ukeru yang pertama, yaitu mendengar. Makna perluasan ini terbentuk karena adanya pengaruh dari majas metafora dengan kalimat (14) yang merupakan contoh penggunaan makna dasar verba ukeru. Kedua contoh kalimat tersebut memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai objek yang disampaikan berupa suara. Pada kalimat (14), subjek menerima telepon dan tidak bertatap muka dengan lawan bicara tetapi hanya menggunakan suara untuk menyampaikan pesan. Begitu pula pada kalimat (15), gosip biasanya tersebar dari mulut ke mulut. Walaupun, orang yang menyebar gosip mungkin bertatap muka dengan lawan bicaranya, tetapi tetap saja keduanya berkomunikasi dengan suara.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna-makna apa saja yang tekandung dalam verba deru dan bagaimana makna verba deru berdasarkan konstektualnya. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai makna verba deru, perlu dilakukan penelitian yang menggunakan teknik deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah contoh kalimat, wacana, percakapan dan contoh lainnya yang berhubungan dengan makna verba deru yang diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, dan lain-lain yang sesuai dengan masing-masing makna verba deru. Ada banyak buku yang menjabarkan polisemi verba deru. Namun penulis hanya akan menuliskan teori makna verba deru yang diambil dari Nihongo kihon doushi youhou jiten tahun 1989 oleh Koizumi dkk dan buku Nihongo O Manabu Hito No Jiten Tahun 2000 oleh Sakata Yukiko. Kemudian data tersebut dikumpulkan, kemudian dianalisis dan dilaporkan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkah, rahmat dan pertolongannya yang telah menyertai penulis selama menyelesaikan skripsi in i dengan judul “ Analisis Polisemi Verba DERU Dalam Kalimat Bahasa Jepang ”. Shalawat dan salam semoga tercurah kepad a khataman nabiyyun wasyaiyidun anam Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat.

8 Baca lebih lajut

ANALISIS MAKNA VERBA TSUKURU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG

ANALISIS MAKNA VERBA TSUKURU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG

Polisemi dalam bahasa Jepang dikenal dengan tagigo. Tagigo atau polisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu tetapi antar makna itu masih memiliki hubungan. Seperti halnya di Indonesia, di Jepang juga banyak terdapat kata yang berpolisemi. Verba yang berpolisemi contohnya verba tsukuru (作るン 造る). Masalah yang sering terjadi adalah pembelajar ada yang hanya mengetahui verba tsukuru (作るン造る) artinya adalah membuat yang maknanya cenderung menghasilkan sesuatu baru yang berbeda, tidak banyak yang tahu bahwa verba tsukuru (作るン造る) memiliki makna yang lain. Verba tsukuru (作るン造る)
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

ANALISIS MAKNA DAN PEMBENTUKAN FUKUGOUDOUSHI YANG TERBENTUK DARI VERBA ~AGARU

ANALISIS MAKNA DAN PEMBENTUKAN FUKUGOUDOUSHI YANG TERBENTUK DARI VERBA ~AGARU

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-NYA sehingga dapat terselesaikan penulisan skripsi dengan judul “Analisis Makna dan Pembentukan Fukugoudoushi yang Diikuti Oleh Verba ~Agaru ”. Penulisan skripsi ini merupakan salah s atu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Jepang, Jurusan Bahasa dan Sastra Asing, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang tahun 2013/2014. Penulis mendapatkan banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
Baca lebih lanjut

96 Baca lebih lajut

ANALISIS MAKNA DAN PEMBENTUKAN FUKUGOUDOUSHI YANG TERBENTUK DARI VERBA TSUKU

ANALISIS MAKNA DAN PEMBENTUKAN FUKUGOUDOUSHI YANG TERBENTUK DARI VERBA TSUKU

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “ Analisis Makna dan Pembentukan Fukugoudoushi yang Terbentuk dari Verba Tsuku ” yang saya tulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana ini benar-benar merupakan karya sendiri. Skripsi ini saya hasilkan setelah melakukan penelitian, pembimbingan, diskusi, dan pemaparan atau ujian. Semua kutipan, baik yang langsung maupun tidak langsung, maupun sumber lainnya telah disertai identitas sumbernya dengan cara yang sebagaimana lazimnya dalam penulisan karya ilmiah.

103 Baca lebih lajut

Medan Makna Verba Memukul dalam Bahasa Melayu Sambas

Medan Makna Verba Memukul dalam Bahasa Melayu Sambas

Berdasarkan analisis data, verba memukul dalam medan makna BMS dibagi menjadi tiga bagian, yaitu memukul menggunakan alat, tanpa alat, dan bisa menggunakan alat dan tanpa alat. Verba memukul dalam BMS yang menggunakan alat yaitu ambat, ampaskan, bepapas, kabbas, nampak, ngampok, ngantak, ngatcap, nukkok, nukkol, numbok, pangkong, rimpat, dan tutjah. sedangkan memukul tanpa alat yaitu begandang, belampang, benteh, betappok, ca, gaddor, gerammus, ippok, jantek, ngattek, ngattok, nyiggong, sepak, taggum, tampar, tappek, teratjang, tikkak, tonyoh, tulakkan, tumbok, dan tunjal. Memukul bisa menggunakan alat dan tanpa alat yaitu pappah, tappak, dan simis.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Ada yang berpendapat bahwa polisemi adalah dalam satu bunyi (kata) terdapat makna lebih dari satu. Tetapi batasan seperti ini masih belum cukup, sebab dalam bahasa Jepang, kata yang merupakan satuan bunyi dan memiliki makna lebih dari satu banyak sekali, serta didalamnya ada yang termasuk polisemi (tagigo) dan ada juga yang termasuk homonim (dou-on-igigo). Oleh karena itu, kedua hal tersebut perlu dibuat batasan yang jelas. Kunihiro (1996:97) memberikan batasan tentang kedua istilah tersebut, bahwa : Polisemi (tagigo) adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu, dan setiap makna tersebut ada pertautannya, sedangkan yang dimaksudkan dengan homonim (dou-on-igigo), yaitu beberapa kata yang bunyinya sama, tetapi maknanya berbeda dan diantara makna tersebut sama sekali tidak ada pertautannya.( Dedi Sutedi 2003:135).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Satu persoalan lagi yang berkenaan dengan polisemi ini adalah bagaimana perbedaannya dengan bentuk-bentuk yang disebut dengan homonim. Perbedaannya yang jelas adalah bahwa homonim bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata atau lebih yang kebetulan bentuknya sama. Tentu saja karena homonim bukan sebuah kata, maka maknanya pun berbeda. Oleh karena itu, didalam kamus, bentuk-bentuk yang berhomonim, didaftarkan dalam entri yang berbeda-beda. Sebaliknya, bentuk-bentuk polisemi adalah sebuah kata memiliki makna lebih dari satu. Lalu, karena polisemi ini hanyalah satu kata, didalam kamus didaftarkan dalam satu entri.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

MEDAN MAKNA VERBA MEMBERSIHKAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS

MEDAN MAKNA VERBA MEMBERSIHKAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS

Abstrak: Penelitian ini difokuskan pada bidang semantik khususnya mengenai medan makna verba membersihkan dalam BMDS. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan medan makna verba membersihkan dalam BMDS. Metode yang digunakan adalah metode langsung dengan bentuk penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah verba membersihkan dalam BMDS. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa teknik pancing, teknik cakap semuka, teknik rekam, dan teknik catat. Alat pengumpul data yang digunakan berupa daftar pertanyaan, daftar gambar, alat perekam, dan alat tulis. Teknik analisis data yang digunakan yaitu mengklasifikasikan, menganalisis, mendeskripsikan, dan menyimpulkan. Berdasarkan analisis data, terdapat 55 leksem verba membersihkan dalam BMDK. Jenis makna verba membersihkan dalam BMDS diperoleh 55 makna leksikal, 49 makna gramatikal, 54 makna konseptual, 1 makna asosiatif, dan 6 bidang makna kolokatif. Fungsi semantis dari leksem-leksem pada medan makna verba membersihkan dalam BMDS adalah untuk membersihkan tubuh, tanaman, perkakas rumah tangga, dan sebagai pembentengan diri.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ANALISIS BENTUK DAN MAKNA BACAAN DALAM BUKU SISWA BAHASA INDONESIA  Analisis Bentuk Dan Makna Afiks Verba Pada Teks Bacaan Dalam Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Kurikulum 2013.

ANALISIS BENTUK DAN MAKNA BACAAN DALAM BUKU SISWA BAHASA INDONESIA Analisis Bentuk Dan Makna Afiks Verba Pada Teks Bacaan Dalam Buku Siswa Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII Kurikulum 2013.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu negara Indonesia. Proses berbahasa tidak terlepas dari morfologi, proses morfologi yang baik dapat menciptakan bahasa yang baik pula. Afiksasi menjadi salah satu proses morfologi. Sebagian besar teks bacaan yang terdapat dalam buku siswa bahasa Indonesia SMP/MTs kelas VII adalah berafiks. Jika seseorang dapat memahami bentuk dari kata dasar afiks, maka ia akan memahami makna kata dasar yang telah diturunkan sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami teks bacaan.

13 Baca lebih lajut

Analisis Makna Verba Omoidasu dan Oboeru dalam Kalimat Bahasa Jepang

Analisis Makna Verba Omoidasu dan Oboeru dalam Kalimat Bahasa Jepang

Kalimat pada cuplikan 4 di atas diambil dari wacana di surat kabar online “Tokyo Shinbun” yang berjudul “楽しく自信 を 持って 戦ってほしい、 広島東洋 カープ・ 前田健太 投手 (Tanoshiku jishin o motte tatakatte hoshii, Hiroshima touyou ka-pu・Maeda Kenta toushuu )” yang berarti ‘Ingin Bertanding dengan Gembira dan Percaya Diri, Turnamen Hiroshima Timur ・ Pitcher Maeda Kenta’ . Makna verba omoidasu pada cuplikan kalimat tersebut adalah ingat dalam arti tiba-tiba mengingat hal yang sudah terlupakan dan pemakaiannya sudah tepat. Pada wacana tersebut terdapat kalimat “Berlatih setiap hari dengan tujuan yaitu pertandingan nasional, saya ingat pada masa saya di sekolah dasar dulu.” yang menjelaskan bahwa Maeda Kenta yang seorang Pitcher ingat kembali akan masa sewaktu dia di sekolah dasar melihat para pelajar yang berusaha, berlatih untuk memenangkan pertandingan ini agar lolos hingga pertandingan baseball nasional untuk pelajar. Pertandingan Orientasi Hiroshima Cup ini sendiri memang diperuntukkan untuk para pelajar sekolah dasar di seluruh Hiroshima yang mana nantinya mereka yang lolos akan mengikuti pertandingan nasional melawan pelajar lain dari seluruh Jepang. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Hirose Masayoshi yang menyebutkan bahwa omoidasu adalah mengingat kembali pengalaman lalu yang sudah terlupakan. Teori tadi sama dengan teori dari ruigigo Tsukaiwake Jiten yang mengatakan bahwa omoidasu adalah mendapatkan kembali ingatan yang dipikirkan dan yang tidak bisa dikeluarkan / diingat kembali dan menghidupkan kembali ingatan dalam keadaan sadar.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

MEDAN MAKNA VERBA “MENYENTUH” DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS

MEDAN MAKNA VERBA “MENYENTUH” DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SAMBAS

Jumlah leksem verba menyentuh dalam BMDS ialah 47 leksem. Berdasarkan penggunaan alat terdiri atas 10 leksem verba menyentuh menggunakan alat terdiri atas leksem ’gosok’ ontos,  ‘hapus’  , ‘kompres’ san ฀ ap, ‘lap’ cal ฀ ap, ‘potong’ poto ฀ , ‘sapu’ sapu, ‘sikat’ sik ฀ at, ‘ sodok ’ sodok, ’tekan’  ,  dan ‘tusuk’ cuc ฀฀ k; 28 leksem verba menyentuh tidak menggunakan alat terdiri atas leksem ’cek’ ฀   ’colek’ ฀ , ‘cubit’  ub ฀ ik, ‘cubit’  ut ฀ is, ‘dorong’ doro ฀ , ‘gebrak’ ฀ ad ฀฀ r, ‘genggam’ ฀ a ฀ gam, ‘injak’  tinjak, ‘jamah’ japai, ‘jumput’ jap ฀ ut, ‘kais’  ar ฀ h, ‘kepal’  ap ฀ al, ‘ketuk’  at ฀฀ k, lompat’ anjun, ’pegang’ pag ฀ a ฀ ‘pencet’  pac ฀ ut, ’pencet’ ฀ ‘perai’ ir ฀ ik, ’pijat’  ‘raba’ tatap, ’remas’ ฀ ‘senggol’  tamp ฀ h, sikut’ sig ฀฀ ’tendang’ tanda ฀ ‘tepuk’ tap ฀ ak, ‘tepuk’  p ฀฀ k, ‘urut’ ur ฀ ut, dan ‘usap’ us ฀ ap; 9 leksem verba menyentuh menggunakan atau tidak menggunakan alat terdiri atas leksem ‘desak’  a ฀ ak, ‘garuk’ gar ฀฀ , ‘gosok’ ฀ osok, ‘korek’  or ฀ k, ‘perah’ par ฀ ah, ‘pukul’ tuk ฀฀ , ‘pungut’ put ฀ ik, ‘sentuh’ sant ฀ h, dan ‘sisir’ sis ฀฀ r.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis makna verba deru dalam kalimat Bahasa jepang

Analisis Makna Verba Tatsu Sebagai Polisemi Dalam Bahasa Jepa ng, skripsi pada UPI Bandung Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang Chaer, Abdul.. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia Edisi Re[r]

2 Baca lebih lajut

Modalitas Epistemik Dalam Buku Ajar Netzwerk A1

Modalitas Epistemik Dalam Buku Ajar Netzwerk A1

percakapan bagaimana keabsahan (Geltung) dari proposisi dipahami. Dengan memperkenalkan elemen modal menjadi sebuah ujaran, "penutur tidak langsung mengklaim kebenaran dari proposisi pemahamannya tentang dunia, tapi ia menghubungkan proposisi ini ke latar belakang percakapan tertentu. Latar belakang percakapan ini adalah bagian dari teks - atau pengetahuan percakapan: mereka diperkenalkan melalui teks atau percakapan oleh penulis atau penutur, yang mana dilihat oleh penerima atau partisipan melalui interaksi dan secara dinamis mengalami perubahan dalam proses interaksi” (Zifonun, Hoffmann, Strecker dalam Maden-Weinberger, 2009:31). Zifonun dkk. (dalam Ridwan, 2014:55) berpendapat modalitas epistemik merujuk pada pengetahuan atau lebih tepatnya pengetahuan stereotip penutur yang konteksnya dapat bersangkutan dengan garis besar fakta. Sedangkan Fritz (dalam Scherr, 2019:114) menjelaskan epistemische modalität wird unter dem Blickwinkel der Notwendigkeit bzw. Möglichkeit der Wahrheit von Aussagen betrachtet. Modalitas epistemik dipandang dari sudut pandang keharusan (Notwendigkeit) atau kemungkinan (Möglichkeit) kebenaran dari pernyataan. Konsep modalitas tidak hanya diterapkan melalui verba modal saja, melainkan juga ungkapan modal lainnya terutama adverbial modal (Zifonun dkk., Maden-Weinberger, 2009:32).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...