Top PDF Konsep Diri Pada Adaptive Women yang Memiliki Anak Usia Dini

Konsep Diri Pada Adaptive Women yang Memiliki Anak Usia Dini

Konsep Diri Pada Adaptive Women yang Memiliki Anak Usia Dini

Adaptive Women adalah wanita yang ingin menggabungkan pekerjaan dan keluarga kerja tanpa memberikan prioritas tetap, dan mereka ingin menikmati yang terbaik dari kedua dunia mereka tersebut. Memilih menjadi Adaptive Women apalagi untuk wanita memiliki anak yang masih kecil merupakan tantangan yang berat. Karena dalam budaya masyarakat Indonesia masih berpandangan bahwa laki- lakilah yang harus mencari nafkah dan perempuan berada dirumah mengurus rumah tangga dan anak sehingga penting bagi wanita memiliki konsep diri yang positif agar dapat menjalani peran sebagai pekerja dan ibu rumah tangga dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri pada Adaptive Women yang memiliki anak usia dini. Penelitian akan fenomena ini terjadi karena makin banyaknya wanita menikah yang bekerja di luar rumah. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi. Subjek dalam penelitian ini adalah Adaptive Women yang memiliki anak usia dini sebanyak 6 orang. Subjek adalah wanita dewasa awal berusia 20-40 tahun. Data penelitian diperoleh dengan melalui wawancara, observasi dan data dokumentasi. Seluruh data kemudian dianalisis dengan menggunakan Analisis Fenomenologis Interpretif (AFI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua partisipan penelitian memiliki konsep diri yang positif. Semua partisipan percaya diri pada kemampuan mereka menjalani dua peran dalam rumah tangga maupun tempat kerja, meskipun dalam melaksanakannya banyak hambatan yang mereka alami. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri Adaptive Women yaitu faktor internal yang terdiri dari pendidikan, pandangan mengenai wanita dan harapan serta faktor eksternal yang terdiri dari ekonomi, modelling, tanggapan suami, respon anak, tanggapan keluarga, pandangan lingkungan masyarakat, tanggapan teman kerja dan sikap atasan. Faktor ekonomi adalah faktor yang paling mempengaruhi wanita menjadi Adaptive Women.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS PEMBERIAN INFORMASI TENTANG TOILET TRAINING TERHADAP PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI ANAK USIA TODDLER

EFEKTIFITAS PEMBERIAN INFORMASI TENTANG TOILET TRAINING TERHADAP PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI ANAK USIA TODDLER

Latar Belakang : Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional tahun 2012, diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB (Buang Air Besar) dan BAK (Buang Air Kecil) pada usia prasekolah mencapai 75 juta anak. Fenomena yang terjadi di masyarakat akibat dari konsep toilet training yang tidak diajarkan secara benar. Hal ini menyebabkan anak tidak dapat secara mandiri mengontrol buang air besar dan buang air kecil.

16 Baca lebih lajut

MEDIA DAN KAITANNYA DENGAN PEMAHAMAN KONSEP UKURAN PADA ANAK USIA DINI

MEDIA DAN KAITANNYA DENGAN PEMAHAMAN KONSEP UKURAN PADA ANAK USIA DINI

Pada kegiatan pembelajaran anak usia dini, penggunaan media pembelajaran menjadi sesuatu hal yang penting terhadap pencapaian tujuan dari pembelajaran untuk memberikan pemahaman tentang konsep ukuran yang dapat diterima dengan mudah dan ringan oleh anak. Oleh sebab itu, sebagai pendidik guru harus kreatif dalam memberikan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan memanfaatkan media yang ada di sekitar sehingga anak menjadi senang, bersemangat, mudah menerima stimulus yang diberikan guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan semua aspek perkembangan dapat berkembang secara optimal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian relevan yang dilakukan oleh Septikasari (2015) yang menyimpulkan bahwa pemahaman konsep ukuran anak mengalami peningkatan setelah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan neraca sederhana. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran memiliki hubungan yang positif dengan pemahaman konsep ukuran pada anak usia dini. Penggunaan media dari lingkungan sekitar yang dapat menstimulus anak untuk belajar dan memberikan pengalaman secara langsung kepada anak.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Inklusif Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Konsep Pendidikan Inklusif Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Pengembangan Kompetensi guru sangatlah mutlak sebagai syarat terselenggaranya pendidikan inklusif. Menurut Suparno (2001), secara substansial terdapat dua komponen utama dalam pengembangan kompetensi guru pendidikan inklusif. Pertama, memiliki kompetensi inti guru yang telah distandarkan dan dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/T K/RA, mencakup kompetensi (a) pedagogik, (b) kepribadian, (c) sosial, dan (d) profesional, (Permendiknas No. 16 Tahun 2007). Kedua, kompetensi kekhususan dalam pendidikan inklusif untuk TK, yaitu memiliki pemahaman dan kemampuan dalam hal; (a) karakteristik dan kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus; (b) assesment pem- belajaran anak berkebutuhan khusus; (c) menciptakan lingkungan pembelajaran yang ramah; (d) program pembelajaran indi-vidual; dan (e) evaluasi pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Islam terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (Paud)

Konsep Pendidikan Islam terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (Paud)

Berdasarkan ayat tersebut di atas, dipahami bahwa anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya dan tidak mengetahui (tidak memiliki pengetahuan) apapun. Akan tetapi Allah membekali anak yang baru lahir tersebut dengan pendengaran, penglihatan dan hati nurani (yakni akal yang menurut pendapat yang sahih pusatnya berada di hati). Menurut pendapat yang lain adalah otak. Dengan itu manusia dapat membedakan di antara segala sesuatu, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Kemampuan dan indera ini diperoleh seseorang secara bertahap, yakni sedikit demi sedikit. Semakin besar seseorang maka bertambah pula kemampuan pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga sampailah ia pada usia matang dan dewasanya. (Terjemahanan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Katsir Juz 12) Dengan bekal pendengaran, penglihatan dan hati nurani (akal) itu, anak pada perkembangan selanjutnya akan memperoleh pengaruh sekaligus berbagai didikan dari lingkungan sekitarnya.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Konsep Gerak Dasar untuk Anak Usia Dini

Konsep Gerak Dasar untuk Anak Usia Dini

prasekolah baik swasta maupun negeri, TK, dan SD (NAEYC, 1992). Sedangkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, 2003). Sementara itu, UNESCO dengan persetujuan negara-negara anggotanya membagi jenjang pendidikan menjadi 7 jenjang yang disebut International Standard Classification of Education
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara Pada Anak Usia Dini

Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara Pada Anak Usia Dini

dewasa, yaitu orang tua dan guru. Sesuai dengan pengertian pendidikan anak usia dini yang tercantum dalam UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Butir 14 yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pernyataan tersebut menguatkan pemahaman bahwa anak usia dini sangat membutuhkan seorang ³SHPELQD´ XQWXN WXPEXK GDQ berkembang.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Peran Keluarga dalam Konsep Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

Peran Keluarga dalam Konsep Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini

Perkembangan dan pertumbuhan anak dimulai dalam sejak kandungan, dan anak dikatakan hidup dimulai saat sel telur dibuahi oleh sel sperma. Dari satu sel yang dibuahi, kemudian membelah secara berulang kali yang menghasilkan ribuan, jutaan, bahkan milyaran sel. Dengan demukian, bentuk sel dan fungsi yang sama berkembang menjadi sel yang bersifat khusus seperti sel syaraf, sel otot, sel darah, sel tulang. Setiap sel tersebut akan membentuk jaringan, misalnya jaringan syaraf, jaringan otot, jaringan darah, jaringan epitel, dan juga jaringn tulang. Kemudian setiap sel yang membentuk jaringan aken membentuk organ baru, mislanya otak, jantung, mata, telinga, dan kaki. Organ tubuh memiliki proses perkembangan yang sangat pesat dimulai saat prenatal dalam perkembangan otak. Setiap sel syaraf otak mulai terbentuk saat usia kehamilan mulai tiga bulan pertama. Dengan demikian, bayi yang berusia kurang lebih 2-3 bulan yang mana ukuran kepala jauh lebih besar dari organ lainnya (Permono 2013, 36). Perkembangan awal anak dimulai sejak dalam kandungan sehingga anak lahir ke dunia pun masih memiliki perkembangan dan pertumbuhan baik dari segi fisik maupun psikologis.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

MULTILATERAL KONSEP DAN APLIKASI OLAHRAGA ANAK USIA DINI,.

MULTILATERAL KONSEP DAN APLIKASI OLAHRAGA ANAK USIA DINI,.

Usia dini yang lazim diartikan pada kisaran 0-8 tahun memang merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan pengembangan intelegensi seorang anak. Tujuan utama pendidikan usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal yang meliputi aspek fisik, psikis, dan sosial secara menyeluruh. Secara operasional, praktik pendidikan usia dini sebaiknya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan anak. Konsep dasar dari program latihan bagi anak usia dini adalah multilateral dan permainan. Oleh karena itu berbagai kegiatan olahraga harus diajarkan agar anak memiliki kemampuan fisik secara menyeluruh. Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak usia muda adalah terutama keterampilan (teknik) gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik dasar yang baik.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Pendidikan Islam

Setiap manusia yang dilahirkan telah membawa fitrahnya untuk mencari suri tauladan agar menjadi pedoman mereka, yang menerangi jalan kebenaran dan menjadi contoh hidup yang menjelaskan kepada mereka bagaimana seharusnya melaksanakan V\DUL¶DW $OODK .DUHQDQ\D XQWXN PHUHDOLVDVLNDQ NHSDGD PDQXVLD V\DUL¶DW \DQJ diturunkan Allah kepada mereka. Pada anak usia tingkat usia yang dalam perkembangannya memiliki keterkaitan besar terhadap keteladanan dari pihak luar dirinya yang tentunya adalah orang-orang yang ada di sekitarnya. Semisal, dalam kehidupan keluarga, anak membutuhkan suri tauladan dari anggota keluarga terutama dari kedua orangtunya. Keteladan yang baik akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada jiwa anak, sebab anak banyak meniru kedua orangtuanya. Anak-anak akan selalu mengamati dan mengawasi prilaku orang tuanya. Begitupun hal ini dapat dijadikan sebagai metode dalam pendidikan anak usia dini yang tentunya menjadi teladan adalah para pendidik. Pada tahap ini anak berada pada masa imitasi/meniru, anak cenderung meniru perilaku orang-orang yang ada di sektiranya. Sangat mudah bagi pendidik untuk mengajari anak dengan berbagai materi pendidikan, tetapi teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya jika ia melihat orang yang memberikan pengajaran tidaklah mengamalkannya. Di sekolah anak-anak memerlukan suri teladan yang dilihatnya secara langsung dari setiap guru yang mendidiknya, sehingga dia merasa pasti apa yang sedang dipelajarinya. Pada prilaku dan tindakan dari para guru-gurunya, hendaknya anak melihat langsung bahwa tingkah laku utama yang diharapkan oleh
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENUTUP  KONSEP HUKUM TENTANG PERKAWINAN ANAK PADA USIA DINI.

PENUTUP KONSEP HUKUM TENTANG PERKAWINAN ANAK PADA USIA DINI.

dalam istilah hukum, namun hanya dikenal dalam masyarakat dan juga dalam teori psikologi. Di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang diatur sebagai pendidikan usia dini adalah suatu pembinaan anak sejak lahir hingga berusia 6 (enam) tahun yang diberikan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam mendapatkan pendidikan selanjutnya. Konsep hukum tentang perkawinan anak pada usia dini itu sendiri dapat disimpulkan sebagai suatu perkawinan yang dilakukan saat kedua atau salah satu calon pasangan yang umurnya masih di antara 6-15 (enam sampai dengan lima belas) tahun. Usia dini termasuk dalam usia anak namun usia anak belum tentu masuk dalam kategori usia dini.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Media dan Kaitannya dengan Pemahaman Konsep Ukuran pada Anak Usia Dini

Media dan Kaitannya dengan Pemahaman Konsep Ukuran pada Anak Usia Dini

Pada kegiatan pembelajaran anak usia dini, penggunaan media pembelajaran menjadi sesuatu hal yang penting terhadap pencapaian tujuan dari pembelajaran untuk memberikan pemahaman tentang konsep ukuran yang dapat diterima dengan mudah dan ringan oleh anak. Oleh sebab itu, sebagai pendidik guru harus kreatif dalam memberikan kegiatan pembelajaran yang bervariasi dengan memanfaatkan media yang ada di sekitar sehingga anak menjadi senang, bersemangat, mudah menerima stimulus yang diberikan guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan semua aspek perkembangan dapat berkembang secara optimal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian relevan yang dilakukan oleh Septikasari (2015) yang menyimpulkan bahwa pemahaman konsep ukuran anak mengalami peningkatan setelah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan neraca sederhana. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan media pembelajaran memiliki hubungan yang positif dengan pemahaman konsep ukuran pada anak usia dini. Penggunaan media dari lingkungan sekitar yang dapat menstimulus anak untuk belajar dan memberikan pengalaman secara langsung kepada anak.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

GAMBARAN KONSEP DIRI ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNAGRAHITA DARI USIA 7-18 TAHUN DI SLB NEGERI SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

GAMBARAN KONSEP DIRI ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNAGRAHITA DARI USIA 7-18 TAHUN DI SLB NEGERI SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Hasil studi pendahuluan di SLB Negeri Semarang, terdapat 186 anak tunagrahita dari usia 7 – 18 tahun. Jumlah tersebut bervariasi, dari SDLB sampai SMALB dan juga menurut tingkat keparahannya. Kepala Bagian Humas SLB Negeri Semarang (26) saat diwawancarai mengatakan bahwa anakanak di SLB sangat terbatas terhadap informasi dari dunia luar dan jarang bergaul dengan lingkungan sekitar. Beliau mengatakan bahwa jika sudah waktu jam pulang, maka anakanak biasanya langsung pulang, sehingga banyaknya waktu yang dihabiskan didalam rumah. Beliau juga menambahkan, bahkan ada beberapa orang tua saat mendaftarkan anaknya sekolah meminta untuk dirahasiakan identitasnya karena malu. Beliau mengatakan bahwa terdapat beberapa anak yang orang tuanya sengaja tidak mau menjemput kesekolah dikarenakan malu dan ada sebagian orang tua mereka yang sibuk bekerja, sehingga anakanak tersebut dijemput oleh supir ataupun pembantu rumah tangga. Apabila orang tua yang menjemput anaknya, kebanyakan itu para ibu – ibu. Sedikit atau bahkan jarang Ayah mereka untuk menjemput anaknya, karena bekerja atau merasa malu.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai pendidikan yang. diselenggarakan sebelum pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran anak

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai pendidikan yang. diselenggarakan sebelum pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran anak

Melalui pengenalan sains tersebut, anak diarahkan untuk mengkonstruksi pengetahuannya tentang adanya peristiwa-peristiwa alam (proses sains) dan memiliki dorongan untuk melakukan penyelidikan, serta memiliki sikap positif terhadap sains. Untuk menarik minat anak dalam mempelajari sains, maka setiap anak diperkenalkan dengan cara para ilmuwan bekerja untuk mendapatkan fakta, konsep dan teorinya. Untuk itu, sains perlu diperkenalkan anak sejak dini sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak.

12 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hadjar Dewantara

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Ki Hadjar Dewantara

Seperti yang digambarkan oleh Piaget bahwa Jacqueline berpura-pura menjadikan sepasang pakaiannya sebagai bantalnya. dia meletakkan kepala di pakaian itu, tertawa-tawa dan kemudian berpura-pura tidur. Permainannya bersifat simbolik karena dia menggunakan objek, sepasang pakaian untuk mempresentasikan objek yang tidak hadir, bantal. Akhir dari pemikiran Piaget bahwa pikiran anak-anak selama periode pra-operasional sangat berbeda dari pikiran anak yang lebih besar atau orang dewasa. Artinya pikiran pra-operasional dicirikan oleh egosentrisme, heteronomi moral, kurangnya kemampuan mengklasifikasi, dan kurangnya kemampuan pengonversian. Selain itu, poin penting dari pemikiran Piaget mengenai perkembangan kognitif adalah bahwa perkembangan dihasilkan dari kombinasi antara berbagai kekuatan pematangan dan pengaruh lingkungan. Hasil akhir dari interaksi antara maturasi dan lingkungan adalah terwujudnya perubahan kualitatif. Contohnnya anak kecil tidak memiliki kemampuan untuk melakukan konservasi atau membalik urutan operasi, sementara anak yang lebih tua usianya mampu melaksanakan tindakan-tindakan mental tersebut (Patilimia, 2015, pp. 11-15).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penerapan Konsep Edutainment Dalam Pembelajaran Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Penerapan Konsep Edutainment Dalam Pembelajaran Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Dalam setiap pembelajaran memiliki tujuan yang ingin dicapai, untuk mencapai tujuan pembelajaran guru atau pendidik menerapkan berbagai metode ataupun model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik, kemampuan, keinginan, dan minat anak serta memanfaatkan potensi lingkungan disekitar anak belajar, kemudian menetapkan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Model atau metode pembelajaran di paud diantaranya model pembelajaran kelompok, BCCT, area, sudut, centra dan edutainment. Masing-masing model atau mtode pembelajaran tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Penerapan beberapa model atau metode pembelajaran tersebut dapat berjalan dengan baik untuk pencapaian tujuan pembelajaran, apabila ada dukungan penguatan kemampuan guru dalam berinovasi untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Terkait dengan pemikiran tersebut mengharuskan guru menyediakan dan menciptakan likungan belajar kondusif, aman, nyaman dan menyenangkan yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman fisik, social dan mampu merefleksikannya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Gambaran Konsep Diri dan Kecemasan Keluarga yang Memiliki Anak Retardasi Mental di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) kota Medan

Gambaran Konsep Diri dan Kecemasan Keluarga yang Memiliki Anak Retardasi Mental di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) kota Medan

Menurut Norhidayah, Wasilah dan Husein (2013) usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan pada keluarga yang memiliki anak retardasi mental. Adanya tingkat usia yang berbeda dan tahapan hidup maka dapat mempengaruhi persepsi pemahaman dan penerimaan anak retardasi mental. Usia yang semakin bertambah dapat menerima adanya anak retardasi mental karena semakin bertambah usia seseorang tingkat spiritualnya semakin tinggi dan lebih banyak memiliki pengalaman dalam menghadapi anak retardasi mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 responden (54,1%) berada pada rentang usia 36-51 tahun, 23 responden (37,7) berada pada rentang usia 20-35 dan 5 responden (8,2%) berada pada rentang 52-60 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitiam Teugeh (2012) bahwa semakin tua umur seseorang, maka pengalaman dalam mengajari dan mendidik anak mereka semakin banyak, pengalaman diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain, sehingga orang tua mampu mendidik anak mereka yang mengalami retardasi mental dengan baik.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Gambaran Konsep Diri dan Kecemasan Keluarga yang Memiliki Anak Retardasi Mental di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) kota Medan

Gambaran Konsep Diri dan Kecemasan Keluarga yang Memiliki Anak Retardasi Mental di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) kota Medan

Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penyandang cacat di Indonesia adalah sebesar 2.126.785 jiwa. Retardasi mental sendiri berjumlah 345.815 jiwa atau berkisar 0,016%. Provinsi Sumatera Utara sendiri terdapat jumlah penyandang cacat pada tahun 2010 adalah 118.603 jiwa dan retardasi mental berjumlah 19.284 jiwa (Novitasari, 2010). Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah anak retardasi mental sebesar 22,07% dari 439 ribu anak cacat yang tersebar di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia (Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan, 2011). Jumlah populasi anak retardasi mental menempati paling besar yaitu 66.610 anak di banding jumlah anak dengan kecacatan lainnya. Penelitian terbaru Riskesdas, di Indonesia retardasi mental pada usia 24-59 bulan di Indonesia merupakan persentase tertinggi ketiga yaitu 0,14% menurut angka kecacatannya dan hasil ini masih tercatat dari tahun 2010-2013 (Riskesdas, 2013).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KONSEP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM P (1)

KONSEP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM P (1)

Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar). Pendidikan yang benar adalah yang memberikan kesempatan kepada keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia luar dan perkembangan dari dalam diri anak didik. Dengan demikian barulah fitrah itu diberi hak untukmembentuk pribadi anak dan dalam waktu bersamaan faktor dari luar akan mendidik dan mengarahkan kemampuan dasar anak. Oleh karena itu pendidikan secara operasional mengandung dua aspek, yaitu aspek menjaga atau memperbaiki dan aspek menumbuhkan atau membina. Dalam konsep dasar pendidikan anak usia dini menekankan untuk mengoptimalkan perkembangan anak dan memenuhi karakteristik anak yang merupakan individu yang unik, yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, maka perlu dilakukan usaha yaitu dengan memberikan rangsangan- rangsangan, dorongan-dorongan dan dukungan kepada anak. Sehubungan dengan itu maka konsep pendidikan anak usia dini dapat mencakup bidang pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar yang keseluruhannya berguna untuk mewujudkan manusia yang sempurna yang mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan mempunyai bekal untuk memasuki pendidikan selanjutnya hal ini juga sesuai dengan pandangan dalam pendidikan islam.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Konsep Bermain Pada Anak Usia Dini

Konsep Bermain Pada Anak Usia Dini

Dari uraian diatas dapat kita jelaskan bahwa tahapan-tahapan perkembangan bermain pada anak tentunya dapat di klasifikasikan berdasarkan usia dan jenis main Dengan demikian tahapan perkembangan bermain anak perlu di ketahui hal ini akan memberikan manfaat dan pengetahuan untuk membantu kita merespon kebutuhan yang diperlukan oleh anak usia dini khussnya dalam mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan tentunya akan menghasilakan pembelajar yang efektif. Dari tahapan main diatas dapat pula kita pahami bahwa dalam tahapan bermaian anak diawalai dari keteratarikan anak terhadap kegiatan bermaian, kemudian melakukan pengamatan terhadap kegiatan bermaian, minat terhadapap kegiatan bermain melalui peniruan namun masih melakukannya secara individual kemudian masuk pada tahap dimana anak mulai berinteraksi secara social dalam kegiatan bermain yang memiliki aturan dan bermaian yang melibatkan interaksi social dan organisasi yang lebih kompleks.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...