Top PDF Konsep Kepemimpinan Menurut Al-Ghazālī

Konsep Kepemimpinan Menurut Al-Ghazālī

Konsep Kepemimpinan Menurut Al-Ghazālī

tanggap terhadap berbagai persoalan yang ada, tidak menyebarkan fitnah, bertindak apabila keamanan publik dan negara terancam, bila perlu diambil tindakan kekerasan atau militer (military action). Al-Kifāyah adalah suatu kelayakan (feasibility) dan kemampuan (capability) dari seorang pemimpin, misalnya Ia mempunyai konsep dan pemikiran yang berkaitan dengan kedudukannya, bersedia melakukan musyawarah dengan pihak-pihak yang terkait demi kemakmuran bangsa dan negara. Al-Wara‘adalah sifat yang tidak rakus terhadap harta dunia sehingga Ia mempunyai kekuatan moral dan mental untuk menciptakan suatu pemerintahan yang bersih (clean governance) dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Syarat yang terakhir, seorang pemimpin haruslah orang yang berilmu. 14 Dengan ilmunya, disamping Ia dapat melakukan tugas utamanya dengan baik dan benar, juga ia dapat mengetahui hak dan kewajibanya, serta hak dan kewajiban warganya.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Konsep kepemimpinan menurut saʻîd hawwa dalam kitab al-asâs fî al-tafsîr dan al-islâm

Konsep kepemimpinan menurut saʻîd hawwa dalam kitab al-asâs fî al-tafsîr dan al-islâm

Pengangkatan seorang pemimpin harus dilakukan dengan mekanisme kontrak. Pihak pertama adalah orang yang dicalonkan untuk menjadi pemimpin dan pihak kedua adalah para tokoh yang mewakili umat Islam. Sebuah kontrak (aqad) tidak akan sempurna kecuali dengan al-ijâb, penyerahan tanggung jawab, dan al-qabûl, yaitu penerimaan tanggung jawab. Al-Ijâb dilakukan oleh ahl al- halli wa al-‘aqdi atau ahl al-syura. Al-Ijâb pada hakikatnya adalah proses pemilihan pemimpin itu sendiri. Adapun al-qabûl datang dari pihak orang yang terpilih menjadi pemimpin. Mekanisme inilah yang dipraktikkan oleh para sahabat setelah meninggalnya Rasulullah Saw.. Khulafa al-Rasyidîn dipilih dan diangkat dengan mekanisme seperti ini. 83 Namun, jika dilihat dari realita yang ada, sebagian besar negara di dunia menggunakan sistem pemilu dengan multi-partai, atau hanya beberapa partai, yang boleh dikatakan tetap bisa menghasilkan seorang pemimpin yang berkualitas.
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

Etika Islam dalam Perspektif Imam Al-Ghazālī

Etika Islam dalam Perspektif Imam Al-Ghazālī

Etika merupakan salah satu bagian yang tidak bisa diberi jarak dari disiplin ilmu filsafat. Hal ini terjadi karena filsafat Yunani juga ikut serta menyumbang terlahirnya filsafat Islam. Selain itu, etika juga merupakan bagian yang sangat vital dan substansial dalam disiplin ilmu tersebut. Al-Ghazālī sendiri adalah salah satu ulama’, filosof, sekaligus seorang sufi yang sangat cerdas dan produktif. Dalam hal ini, konsep etika Islam menurut al- Ghazālī terhadap pendapat para filosof yang membawa pada kekafiran ada tiga masalah, pertama, keqadiman alam. Kedua, Tuhan tidak mengetahui hal-hal yang partikular (juziyat), melainkan hanya mengetahui hal-hal yang universal (kulliyat). Ketiga, kebangkitan jasmani. Namun, konsep etika yang dibantah oleh al-Ghazālī tersebut mendapat sanggahan balik dari salah satu tokoh Islam yang tidak kalah besar, yakni Ibn Rusyd. Kata Kunci: Etika, Islam, al-Ghazālī
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KEPEMIMPINAN EMPATI MENURUT AL QUR'AN.

KEPEMIMPINAN EMPATI MENURUT AL QUR'AN.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui kajian literatur-literatur yang terkait dengan topik kepemimpinan empati (Library Reseacrh). Data yang dihimpun melalui kajian literatur tersebut kemudian dianalisis berdasarkan prosedur dalam metode maudhu’i dengan merujuk pada karya-karya tafsir al-Qur’an yang terkait dengan topik kepemimpinan empati. Terdapat tiga poin konsep kepemimpinan empati menurut al-Qur’an. Pertama,penghormatan pada harga diri orang lain. Konsep ini terdapat dalam surat an-Nisa’: 86, al-Furqan: 63, Thaha: 44, an-Nisa’: 9, al-Isra’ 23, al- Maidah:54, al Hujurat: 11, dan Ali Imran: 134. Kedua, kiat mendengar dan merespon yang baik. Konsep ini terdapat dalam surat Shad: 24, al-Baqarah: 30, dan an-Nisa’: 63. Ketiga, peka terhadap masalah dan bersinergi dalam menyelesaikannya. Konsep ini terdapat dalam surat Ali Imran: 159, al-Anbiya’: 73, dan asy-Syura: 23. Jumlah ayat yang relevan dengan kepemimpinan empati berjumlah 19 ayat. Ayat yang paling tepat sebagai ayat kepemimpinan empati adalah Q.S at-taubah ayat 128. Menurut ahli tafsir, ayat ini menjelaskan, bahwa sebenarnya hati Nabi Muhammad SAW teriris-iris melihat kesulitan dan penderitaan yang dialami kaum Muslimin. Terasa berat olehnya penderitaan mereka, baik lahir maupun batin. Nabi sangat menginginkan keselamatan, kebaikan bahkan segala sesuatu yang membahagiakan bagi mereka semua, baik mukmin maupun kafir. Ayat ini menjelaskan empat sifat pemimpin empati, yaitu ‘azi> z, h{ ari> s{ , ra’u> f, dan rah{ i> m.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

Pemikiran Pendidikan Akhlak al-Ghazālī dan Ibn Miskawayh

Pemikiran Pendidikan Akhlak al-Ghazālī dan Ibn Miskawayh

Dalam kitab Ayyuhal-Walad al-Ghazālī memanfātkan metode pendidikan akhlak anak dalam bentuk nasehat-nasehat yang bersifat normatif. Untuk itulah upaya mengkaji lebih dalam tentang konsep pendidikan akhlak anak menurut al-Ghazālī dalam kitab tersebut menjadi penting. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, pemanfātan terhadap pemikiran pendidikan akhlak al-Ghazālī dalam kitab tersebut sebagai bahan ajar dalam kurikulum pendidikan pesantren di Indonesia hingga kini masih banyak digunakan. Hal ini dapat dimukingkan karena pemikirannya yang berbasis tasawuf dan pendidikan telah banyak memberikan kontribusi, terutama pada perilaku anak-anak muslim dalam menempuh pendidikan; kedua, kitab tersebut dapat berpotensi menjadi panduan praktis mendidik akhlak anak dengan strategi mentransformasikannya dalam bahasa-bahasa yang dapat dimengerti masyarakat Indonesia. Berbagai kasus negatif yang dialami anak-anak dewasa ini di Indonesia diharapkan dapat diminimalisasi dengan mempraktekan kandungan-kandungan karya al-Ghazālī ini. Meskipun kitab ini ditulis pada Abad ke-12 M, kandungannya memiliki relevansi dengan zaman kekinian; ketiga, metode pendidikan akhklak anak yang ditawarkan al-Ghazālī dalam kitab ini memberikan alternatif yang potensial bagi penanaman nilai akhlak kepada anak. Metode nasehat dalam kitab ini memiliki bobot psikologis berupa kedekatan antara orang tua dan anak serta bobot teologis berupa pembelajaran bagi anak untuk berakhlak kepada Allah, makhluk dan lingkungan-Nya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Konsep Kepemimpinan Menurut Syi’ah Isna ‘Asyariyyah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Konsep Kepemimpinan Menurut Syi’ah Isna ‘Asyariyyah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Sunnah yang dimaksud adalah Ahl al-Sunnah sebagai lawan dari Syi’ah. Seperti yang penulis paparkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa berdasarkan fakta sejarah, problem utama umat Islam adalah polemik kepemimpinan pasca wafatnya Nabi. Sunni diduga muncul akibat polemik kepemimpinan ini. Salah satu pendukung pendapat ini adalah Ibnu Khaldun. Adalah peristiwa Saqifah yang menandai awal kemunculannya. Walaupun kemunculan tersebut tidak secara formal menamakan diri mereka sebagai sebuah faksi politik bernama Sunni. Tetapi embrio-embrionya sudah dapat ditemukan pada peristiwa Saqifah. Ketika kaum Muslimin berkumpul di Saqifah dan bersepakat perihal pemimpin pengganti Nabi Muhammad, maka embrio itu telah muncul seketika itu juga. Suara mereka menjadi bulat dan dominan. Pada masa- masa setelahnya, teladan yang diberikan para sahabat pada masa lalu (musyawah dalam penunjukan khalifah) selalu menjadi preseden bagi generasi selanjutnya yang kemudian menamakan diri mereka Ahl al- Sunnah Wa al-Jama’ah. Walaupun tidak semua khalifah ditunjuk melalui jalur Syura (seperti kekhalifah Umar bin khattab), akan tetapi, syura kemudian menjadi sangat penting dan utama di dalam ajaran Sunni. Karena syura adalah suatu hal yang utama dan sangat prinsipil, maka dalam corak penunjukkan pemimpin mereka sangat berbeda dengan kalangan Syi’ah yang percaya adanya ‘wasiat’ dalam penunjukan para imam-imam mereka.
Baca lebih lanjut

181 Baca lebih lajut

Konsep Kepemimpinan Menurut Syi’ah Isna ‘Asyariyyah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

Konsep Kepemimpinan Menurut Syi’ah Isna ‘Asyariyyah dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

The Venture of Islam Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia Masa Klasik Islam.. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah.[r]

6 Baca lebih lajut

Konsep kepemimpinan dalam negara utama Al-Farabi

Konsep kepemimpinan dalam negara utama Al-Farabi

Kedua, Madīnah al - Jāhilah (Negara Jahiliyah) ialah negara yang tidak memunyai ideologi yang tinggi, artinya tidak memunyai tujuan yang ideal sama sekali atau menganut ideologi yang salah, yang bertentangan dengan kebahagiaan. Kota ini dihuni oleh warga yang tidak mengetahui tentang arti kebahagiaan (yang seharusnya menjadi tujuan utama manusia) dan hal ini memang tidak pernah terlintas di dalam benak mereka. Bahkan, jika diarahkan secara benar untuk sampai kepada hal tersebut (kebahagiaan), mereka tetap tidak dapat memahaminya, bahkan tidak memercainya. Hal-hal baik yang mereka kenali hanyalah hal-hal yang secara superfisial, tetapi mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang paling baik dan itu pulalah yang mereka jadikan tujuan hidup. Di antara hal-hal baik dan esensial yang menjadi perhatian dan tujuan mereka hanayalah seperti kesehatan badan, kemakmuran, kenikmatan kesenangan jasmani (badani), kebebasan melampiaskan hawa-nafsu, dan merasa dihormati. Menurut para warga kota kebodohan, hal-hal ini merupakan unsur-unsur yang menjadi kelengkapan dari kebahagiaan. Kebahagiaan terbesar dan paling sempurna bagi mereka adalah apabila orang dapat memeroleh semuanya itu secara total. Sebaliknya, menurut mereka, keadaan-keadaan seperti badan yang tidak sehat, kemiskinan, tidak adanya hiburan, ketiadaan kebebasan melampiaskan hawa- nafsu, dan tidak memeroleh penghormatan merupakan sebuah penderitaan. 14 Untuk itu mereka berusaha menghindari hal-hal tersebut.
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Konsep kepemimpinan perempuan dalam berpolitik menurut Siti Musdah Mulia.

Konsep kepemimpinan perempuan dalam berpolitik menurut Siti Musdah Mulia.

Dalam peperangan Uhud misalnya, Umrah bin Al-Qamah Al-Harissiyah adalah pembawa dan pengibar panji peperangan dan Hindun bin Abi Sufyan memberi semangat kepahlawanan kepada para pasukan perang. Perempuan Arab pada masa Jahilyah pada umunya memilih sendiri calon suami mereka sebelum perkawinan. Orang tua tidak akan mengawinkan putrinya sebelum dimusyawarahkan dengan yang bersangkutan. Perempuan digambarkan terhormat dan jauh dari hal-hal yang tidak baik, dan ini diperoleh sebagai akibat dari kecintaan mereka terhadap kebebasan dan percaya diri. Walaupun, dari sisi lain, terungkap mengenai kebiasaan buruk terhadap yang terdapat pada sebagaian masyarakat Arab jahiliyah, seperti membunuh anak perempuan mereka dengan menguburkannya hidup-hidup. Namun, keadaan itu tidak berlaku umum pada kabilah-kabilah Arab dan hanya terjadi pada kabilah tertentu, seperti kabilah Bani Tamim Ibn Murr dan bani Asad. Keadaan tersebut hanya berlangsung dalam waktu yang tidak lama, karena bertentangan dengan hukum akal dan perasaan kedua orang tua. Keadaan inilah yang membuat yang membuat mereka tampil
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Konsep kepemimpinan perempuan dalam berpolitik menurut Siti Musdah Mulia

Konsep kepemimpinan perempuan dalam berpolitik menurut Siti Musdah Mulia

Dengan terpikirkannya judul “Konsep Kepemimpin Perempuan Dalam Berpolitik Menurut Siti Musdah Mulia” maka, penulis memiliki kecenderungan untuk meneliti mengenai konsep kepemimpinan perempuan dalam berpolitik menurut wacana Siti Musdah Mulia, karena menurut penulis harus dilakukan penyadaran kepada masyarakat yang sangat kental dengan budaya patriarkhinya, terutama membela kebebasan perempuan yaitu yang dilakukan oleh Musdah Mulia, yang bisa disebut sebagai feminis modern Indonesia. menurut Musdah Mulia perempuan adalah makhluk yang tidak boleh dipinggirkan eksistensinya dalam dibilang kepemimpinan dalam skala besar misalkan menjadi pemimpin. Karena konsep teologi juga membenarkan bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin, seperti landasan-landasan al-Qur’an surat An-nisa’ ayat 1, At-Taubah 71, Al-Hujurat ayat 13, Al- Isra’ 70, dan Ali-Imran 195. Tidak hanya itu, konsep sejarah juga membenarkan bahwa di zaman Rasulullah Ummu Hani diperbolehkan untuk menjadi pelindung pada saat baiat Aqabah. Konsep kepemimpinan perempuan menurut Musdah mulia mengatakan bahwa perempuan bisa melakukan tugas-tugasnya mulai dari tanggung jawab yang dimilki, jika seorang perempuan melenggang di bidang politik memimpin sebuah wilayah ataupun menjadi pemimpin di suatu daerah maka seorang perempuan akan melaksanakan tugasnya dengan baik sebagaimana seorang ibu yang mencukupi permintaan atau kebutuhan anaknya, seorang ibu yang selalu mengalah dan
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Konsep Struktur Khilafah Menurut Taqiyuddin Al-Nabhani

Konsep Struktur Khilafah Menurut Taqiyuddin Al-Nabhani

Jihad adalah metode operasional (thariqah) yang tetapkan oleh Islam untuk mengemban dakwah Islam ke luar negeri. Mengemban dakwah merupakan kegiatan pokok negara Islam, setelah negera itu berhasil menerapkan hukum-hukum Islam ke dalam negeri. Oleh karena itu, hukum-hukum jihad mencakup hukum-hukum perang dan damai, gencatan senjata dan perdamaian. Juga meliputi hukum-hukum hubungan luar negeri dengan negara-negara serta kekuatan-kekuatan lain. Hukum-hukum jihad ini mencakup hukum-hukum tentang tentara, persiapan dan pelatihannya, kepemimpinan dan panji-panjinya serta bendera-benderanya. Juga mencakup hukum-hukum tentang persenjataan tentara, peningkatan kuantitas dan kualitas persenjataan melalui industri peperangan. Dengan semuanya itu memungkinkan adanya kesiapan --negara dalam melaksanakan jihad-- dengan persiapan yang prima. Sehingga bisa menjadikan musuh yang nampak maupun yang tidak --termasuk musuh dalam selimut-- menjadi ketakutan (gentar). Termasuk mencakup hukum-hukum tentang pengakuan terhadap sistem di dalam negeri, hukum tentang mencegah masing-masing rakyat yang memisahkan diri dari negara, mencegah pembegal jalanan atau pengacau keamanan di dalam negeri, serta mencegah terhadap meningkatnya kejahatan (tindak kriminal) yang mengganggu rakyat. 73
Baca lebih lanjut

203 Baca lebih lajut

KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN MENURUT IMĀM Al-GHAZĀLĪ

KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN MENURUT IMĀM Al-GHAZĀLĪ

Islam menganjurkan pemeluknya untuk meneliti, memahami alam semesta, dan kondisi alam. Mencari ilmu diwajibkan atas setiap Muslim. Tidak dapat dipungkiri bahwa hasil dari aktivitas pencarian ilmu yang menyeluruh ini akhirnya membentuk hubungan dari konsep-konsep yang pada akhirnya menghasilkan skema konseptual keilmuan ( the scientific conceptual scheme). Skema ini muncul sebagai hasil islamic worldview. Apabila

18 Baca lebih lajut

KONSEP KEPEMIMPINAN MENURUT TAFSIR FÎ ZHILÂL AL QUR’ÂN DAN AL MISHBÂH

KONSEP KEPEMIMPINAN MENURUT TAFSIR FÎ ZHILÂL AL QUR’ÂN DAN AL MISHBÂH

Dalam al- Qur‟an disebutkan dalam surah Ali Imrân: 26 bahwa Allah swt lah Sang Pemilik Kekuasan di atas segala kekuasaan, dan Dia pula yang berkuasa atas pemberian dan pencabutan kuasa tersebut bagi yang dikehendakinya. Dari prinsip tersebut menurut Sayyid Quthb mengungkapkan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak. Hanya Allah yang bisa bertindak seluas-luasnya dan tanpa batas karena Dia-lah pemilik dan sumber kekuasaan. Dan sebaliknya, tidak boleh ada kekuasaan yang dijalankan secara sewenang-wenang oleh manusia karena kekuasaan itu mutlak milik Allah. Seseorang tidak boleh bertindak sekehendak hawa nafsunya karena sedang memegang kekuasaan. Seseorang yang sedang berkuasa haruslah ingat bahwa kekuasaan itu hanyalah pinjaman yang didalamnya terdapat syarat-syarat dan aturan tertentu dalam sesuai dengan ketentuan Pemilik kekuasaan yang mutlak dan dia harus menaati dan memenuhi ajaran-ajaran-Nya. 45
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Konsep kepemimpinan dalam negara menurut Hasan AL-Banna

Konsep kepemimpinan dalam negara menurut Hasan AL-Banna

Di Damanhur Al Banna semakin aktif mengikuti tarekat sufi. Sejak saat itu, pemikiran Al Banna banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran sufisme terutama ajaran figur puncak sufisme, yaitu Abu Hamid Al Ghazali (1058-1111 M). Pandangan Al Ghazali terhadap pendidikan yang ia baca dari kitab Ihya’ Ulum al din membuat Al Banna berpandangan bahwa ia melanjutkan pendidikan formal adalah hal yang sia-sia. Pada tahun terakhir pendidikannya di Madrasah Muallimin, Al Banna mengalami pertentangan batin dalam dirinya antara kecintaan menuntut ilmu dan keyakinan akan faedah menuntut ilmu bagi individu maupun masyarakat, serta pandangan Al Ghazali yang menganjurkan cinta kepada sains dan ilmu pengetahuan (demi sains dan ilmu pengetahuan itu sendiri), dan pandangan yang mengatakan bahwa menuntut ilmu terbatas pada hal-hal yang di perlukan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban agama dan meraih kehidupan yang lebih baik. Salah satu guru Al Banna berhasil menyingkirkan keraguan-
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Ilmu dan Eksistensi Kebahagiaan Menurut al-Ghazālī

Ilmu dan Eksistensi Kebahagiaan Menurut al-Ghazālī

Namun apa sebenarnya yang dinamakan dengan kebahagiaan? Setiap hari manusia dihadapkan pada berbagai kesibukan. Seribu satu macam profesi digeluti oleh manusia, mulai dari yang hanya mengandalkan tenaga otot hingga yang mengandalkan kekuatan pikiran. Namun satu yang pasti sama adalah keinginan mereka untuk mencapai kebahagiaan. Bahkan jika seorang tukang bakso, atau bahkan seorang pencuri, ditanya apakah ia menginginkan kebahagiaan, maka jawabannya pasti ”ya!”.Permasalahannya adalah bagaimana kita harus menafsirkan kata bahagia ini dengan tepat, sehingga dengan konsep yang tepat tersebut kita dapat memilih jalan terbaik untuk mencapainya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Manusia Menurut Konsep Al-Qur`an dan Sains

Manusia Menurut Konsep Al-Qur`an dan Sains

Jika embrio sudah dapat dilihat dengan mata biasa (tidak memakai tehnologi), embrio tersebut terlihat seperti segumpal daging, namun di dalam daging tersebut bentuk manusia belum tampak jelas. Bentuk manusia terjadi secara bertahap dan menimbulkan tulang belulang serta perlengkapan lainnya seperti otot, sistem syaraf sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh di lain-lain. Tahapan-tahapan seperti tersebut di atas dalam bahasa Arab disebut dengan “athwar”, seperti firman Allah SWT dalam al-Quran surat Nuh ayat 14 yang artinya “Padal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”. Sayyid Quthb memahami kata “athwar” adalah proses kejadian manusia melalui beberapa fase pertumbuhan yakni mulai dari betemunya sperma dan ovum kemudian menjadi janin dalam perut ibu hingga lahir seorang manusia yang sempurna fisiknya. Bucaile mengemukakan bahwa kata “athwar”, dalam ayat tersebut merupakan proses kejadian melalui tahapan-tahapan yakni: 1) setetes cairan yang menyebabkan terjadinya pembuahan (fecondation). 2) Watak dan zat cair yang membuahi. 3) Menetapnya telor yang sudah dibuahi. 4) Perkembangan embrio.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KONSEP MUDARABAH MENURUT SYEIKH DAUD AL-FATANI

KONSEP MUDARABAH MENURUT SYEIKH DAUD AL-FATANI

Abstract: This paper explores the view of Syeikh Daud Al-Fatani (1131- 1265H/1718-1847M) with respect to the mudarabah concept as discussed in his book Furu’ al - Masa’il (1254 -1257H/1838-1841M) and specifically referred to in a title Kitab al-Qirad. This paper talks about the definition and understanding of mudarabah concept, in addition to talk about the conditions of six principles of mudarabah comprising financier, entrepreneur or worker, property or capital, effort or work, sighah ijab and qabul and profit sharing. Furthermore, a topic pertaining to the cancellation of mudarabah contract and claims back of mudarabah capital asset are also discussed. This paper is a library research using content analysis method for analysing data. At the same time, a comparative analysis with the authentic view of Shafi’i shcolars is also applied. The finding of this research shows that the view of Syeikh Daud Al-Fatani pertaining to the mudarabah concept is within the scope of al- shafi’i fiqh discussion. Furthermore, the mudarabah concept which is mentioned in Furu’ al - Masa’ il book is also still relevant and applicable in Islamic banking and finance from the past, present and future.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

TELAAH SIGNIFIKANSI KONSEP MANUSIA MENURUT AL-GHAZÂLÎ

TELAAH SIGNIFIKANSI KONSEP MANUSIA MENURUT AL-GHAZÂLÎ

Dari uraian tentang epistemologi al-Ghazâlî di atas, tampak jelas bahwa pengamatan dan akal tidak dapat diandalkan sebagai dasar kebenaran pengetahuan secara mutlak. Ada daya lain di dalam diri manusia untuk menangkap pengetahuan tertentu yang lebih tinggi dengan sifat dan ukuran-ukurannya sendiri, yaitu intuisi (al-dzauq). Al-Ghazâlî tidak mengabaikan pengamatan dan akal, tetapi meletakkannya sesuai dengan watak masing- masing secara proporsional. Apabila dilihat dalam konteks modernisme dan pasca modernisme, signifikansi epistemologi al-Ghazâlî adalah pada penempatan ketiga daya itu secara proporsional sesuai dengan wataknya masing-masing, dan hubungan antara satu dan lainnya yang bersifat komplemeter. Ini membawa konsekuensi keharusan adanya landasan teologis dan moral bagi ilmu pengetahuan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KONSEP MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI MENURUT AL-QUR'AN.

KONSEP MENJAGA KESEHATAN REPRODUKSI MENURUT AL-QUR'AN.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa para mufassir mempunyai pemahaman yang berkaitan dengan ilmu kesehatan, seperti dalam surat al-Baqarah: 222 yang membahas tentang larangan benggauli istri ketika haid, apabila seorang suami melakukan hubungan seksual ketika istrinya sedang haid, akan mengakibatkan Sakit pada alat-alat peranakan perempuan, masuknya elemen haid kedalam anggota fital laki-laki akan menyebabkan kencing nanah. Allah melarang untuk homoseksual yaitu berhubungan dengan sesama jenis laki-laki dengan laki-laki, seperti dalam surat asy- Syu’ara’: 165 -166. Akibat dari perbuatan tersebut adalah penyakit AIDS. Problem disaat masa kehamilan dan proses melahirkan, seperti yang terdapat dalam surat al- Ahqof: 15, bahwa sang ibu mengandungnya dengan susah payah, sambil mengalami aneka kesulitan bermula dari mengidam, dengan aneka gangguan fisik dan psikis, dan melahirkannya dengan susah payah setelah berlalu masa kehamilan. Dalam surat al- An’am: 151. Dalam penafsiran dijelaskan bahwa ayat ini berhubungan dengan adanya gagasan baru dari dunia modern, yaitu tentang “Keluarga Berencana.” Program KB tersebut pastilah menggunakan alat atau obat, yang disebut kontrasepsi, sedangkan alat atau obat-obat tersebut dapat merusak pada kesehatan fisik maupun psikis. Dalam surat al- Isra’: 32. Menjelaskan berzina adalah perbuatan yang buruk dan nyata yang menimbulkan keruskan, diataranya adalah Timbulnya penyakit-penyakit yang amat berbahaya seperti sifilis dan gonore. Percampuran dan kekacauan nasab.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

KONSEP MATA UANG DINAR DIRHAM MENURUT AL

KONSEP MATA UANG DINAR DIRHAM MENURUT AL

Uraian-uraian Al-Gahzali berikutnya, tentang konsep-konsep ekonomi Islam, sungguh menakjubkan. Tapi sayang, banyak di antara umat Islam yang mengutip dan menelaah aspek tasawufnya, tanpa mengkaji secara utuh isi kitab itu, sehingga wacana ekonomi Islam terabaikan. Pemikiran Al-Ghazali yang juga cukup menakjubkan tentang fungsi uang adalah teorinya yang menyatakan bahwa uang diibaratkan cermin yang tidak mempunyai warna, tetapi dapat merefleksikan semua warna. Maksudnya, uang tidak memiliki harga (intrinsik) tetapi dapat dapat merefleksikan semua harga. Atau dalam istilah ekonomi klasik dikatakan, uang tidak memberi kegunaan langsung (direct utility function). Hanya bila uang itu digunakan untuk membeli barang, barulah barang itu memiliki kegunaan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects