Top PDF Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bugis dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bugis dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bugis dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok

penambahan, atau dengan memaknai singkata-singkatan umum dengan makna atau kepanjangan baru versi mereka. Dengan demikian bahasa remaja merupakan bahasa yang dinamis. Ia berkembang kapanpun sesuai dengan perkembangan lingkungan dan kebutuhan kelompok mereka. Di lain pihak bahasa orang tua terbukti lebih terbuka, apresiatif, akomodatif, protektif (penuh nasehat), dan konservatif. Terbuka dalam arti tidak mengesklusifkan diri dengan menciptakan bahasa-bahasa khusus supaya berbeda dengan kelompok bahasa orang tua yang lain. Akomodatif dan apresiatif bermakna tidak banyak melakukan pemberontakan secara linguistik dengan melawan bentuk-bentuk baru dan menciptakan bentuk- bentuk tandingan. Bahasa mereka, seperti umumnya sifat mereka, lebih banyak nerimo (menerima) dan lebih arif atau bijaksana dibandingkan dengan bahasa remaja, dan konservatif dalam makna yang statis, yaitu tidak melakukan pembaruan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan lingkungan mereka. Dari pernyataan di atas maka jelaslah mengapa bahasa yang digunakan oleh segmen sosial muda baik pada komunitas tutur Bugis Haji maupun komunitas tutur Bugis Pelangan memiliki kretaria dominan terpengaruh oleh bahasa Sasak sebagai bahasa suku asli di Pulau Lombok.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bajo dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Bajo dengan Komunitas Tutur Bahasa Sasak di Pulau Lombok

Mackey (dalam Rahardi, 2001) menyatakan bahwa kontak bahasa adalah peristiwa saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, baik yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung dapat dilihat jelas misalnya pada munculnya beberapa pinjaman leksikon dari salah satu bahasa ke bahasa yang lain. Masyarakat penutur bahasa Bajo dalam berinteraksi dengan etnis lokal harus melakukan penyesuaian, di antaranya dengan mempelajari, memahami, dan bila perlu menggunakan bahasa Sasak yang merupakan bahasa mayoritas di wilayah tempat mereka tinggal. Dalam jangka panjang proses ini akan mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan bahasa Bajo dari generasi ke generasi sedikit banyak dipengaruhi oleh bahasa Sasak. Keadaan ini bermuara pada terjadinya adaptasi linguistik, seperti yang dikatakan Mahsun (2006:1). Oleh Mahsun adaptasi lingusitik dimaknai sebagai proses saling mempengaruhi dua atau lebih bahasa yang berbeda dengan melakukan penyesuaian satu sama lain.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Sasak dan Komunitas Tutur Bahasa Mbojo di Kabupaten Dompu dan Bima

Kontak Bahasa antara Komunitas Tutur Bahasa Sasak dan Komunitas Tutur Bahasa Mbojo di Kabupaten Dompu dan Bima

Bahasa Sasak merupakan salah satu bahasa daerah yang digunakan dan dilestarikan oleh masyarakat pemakainya yaitu suku Sasak, suku asli masyarakat yang bertempat tinggal di pulau Lombok dan pulau-pulau kecil yang berada di sekitarnya. Di samping itu, masyarakat penutur Bahasa Sasak juga terdapat di daerah-daerah kantong transmigrasi, seperti di pulau Sumbawa, pulau Sulawesi, pulau Kalimantan dan daerah-daerah lainnya. Jumlah penutur Bahasa Sasak di provinsi Nusa Tenggara Barat bila dikaitkan dengan pandangan Ferguson (dalam Abbas, 1983 : 1), maka Bahasa Sasak termasuk bahasa mayor (major language) karena berpenutur lebih dari 1 juta orang.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Maksud dari contoh tersebut, yang diucapkan penutur bukan semata-mata dimaksudkan untuk memberitahu si mitra tutur bahwa pada saat dituturkannya tuturan itu, waktu yang menunjukkan hampir pukul tujuh, namun lebih dari itu bahwa penutur menginginkan mitra tutur melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan waktu yang menunjukkan hampir pukul tujuh. Kalimat di atas bila dituturkan oleh seseorang suami kepada istrinya di pagi hari, selain memberi informasi tentang waktu, juga berisi tindakan yaitu mengingatkan si istri bahwa si suami harus segera berangkat kekantor, jadi minta disediakan sarapan.
Baca lebih lanjut

82 Baca lebih lajut

Pesan-pesan Dakwah dalam Bahasa Tutur

Pesan-pesan Dakwah dalam Bahasa Tutur

Pendapat Yacobson di atas tidak jauh dari pendapat Leech, diebol dan Kenneavy, namun mereka lebih memperjelas kedudukan komponen-komponen yang terlibat dalam perintiwa tutur, yaitu dengan adanya fungsi-fungsi tutur, misalnya tuturan berfungsi sebagai expressman (pengungkap, pencurah, pemernyata) yaitu orang yang mengekpresikan gagasan, ide, kehendak kepada pihak pendengar (listener), maka jika dikaitkan dengan da’i dan mad’u dalam suatu kegiatan dakwah dengan proses interaksi antara memberi dan menerima akan tejadi sebuah transaksi, tranmisi dan transformasi khusunya tentang ajaran Islam.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PERANAN ETIKA TUTUR BAHASA INDONESIA DAL

PERANAN ETIKA TUTUR BAHASA INDONESIA DAL

Selanjutnya, fungsi bahasa tubuh antara lain: (1) repetisi, yaitu mengulang- ulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal, seperti tanda setuju secara verbal dengan cara sambil mengangguk berkali-kali; (2) kontradiksi, yaitu penolakan atau memberi arti lain terhadap pesan verbal, seperti memuji dengan mencibirkan bibir; (3) aksentuasi, yaitu memberi penegasan terhadap pesan verbal, seperti menyatakan penyesalan sambil memukul sesuatu, (4) komplementer, yaitu dimaksudkan untuk melengkapi makna pesan verbal, (5) subtitusi, yaitu menggantikan pesan verbal, seperti menyatakan pujian dengan cara mengacungkan jempol tanpa menggunakan kata-kata.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERANAN ETIKA TUTUR BAHASA INDONESIA DAL

PERANAN ETIKA TUTUR BAHASA INDONESIA DAL

Selanjutnya, fungsi bahasa tubuh antara lain: (1) repetisi, yaitu mengulang- ulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal, seperti tanda setuju secara verbal dengan cara sambil mengangguk berkali-kali; (2) kontradiksi, yaitu penolakan atau memberi arti lain terhadap pesan verbal, seperti memuji dengan mencibirkan bibir; (3) aksentuasi, yaitu memberi penegasan terhadap pesan verbal, seperti menyatakan penyesalan sambil memukul sesuatu, (4) komplementer, yaitu dimaksudkan untuk melengkapi makna pesan verbal, (5) subtitusi, yaitu menggantikan pesan verbal, seperti menyatakan pujian dengan cara mengacungkan jempol tanpa menggunakan kata-kata.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Verba Tindak Tutur Dalam Bahasa Gayo

Verba Tindak Tutur Dalam Bahasa Gayo

Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif mengacu pada ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa secara alami atau apa adanya (sinkronis). Dalam hal ini adalah bahasa Gayo Lut yang akan dikaji adalah verba tindak tutur (speech act verbs). Djajasudarma (1993 : 16) menyatakan secara deskriptif peneliti dapat memberikan ciri-ciri, sifat-sifat serta gambaran data melalui pemilahan data yang dilakukan pada tahap pemilihan data setelah data terkumpul. (Naida 1962:2) menegaskan analisis deskriptif harus berdasarkan kepada apa yang dikatakan oleh penutur bahasa itu, bentuk, adalah yang utama dan penggunanya adalah hal yang kedua.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pesan-pesan Dakwah Dalam Bahasa Tutur

Pesan-pesan Dakwah Dalam Bahasa Tutur

Richard, and Harris L., Theodore, A Dictionary of Reading, and Related Term,( USA: International Reading Association Inc., 1979), h... Jurnal Ilmu Dakwah Vol..[r]

14 Baca lebih lajut

TINDAK TUTUR  TAK LANGSUNG DALAM BAHASA JAWA

TINDAK TUTUR TAK LANGSUNG DALAM BAHASA JAWA

Wijana (1996) menjelaskan bahwa istilah konteks menunjuk kepada semua latar belakang pengetahuan (back graund knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur (1996: 11). Konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang relevan dengan tuturan bersangkutan. Kontek fisik lazim disebut koteks, sedangkan kontek seting sosial disebut kontek. Setiyanto (2001: 109) menjelaskan bahwa aspek konteks memperlihatkan korelasi terhadap tiga variabel, yaitu variabel relasi sosial antarpeserta tutur, waktu pertuturan, dan tempat pertuturan. Di dalam tulisan ini akan dibahasa pula situasi pertuturan, dengan pertimbangan bahwa situasi formal dan inforamal akan terjadi pemumculan tidak tutur langsung atau tidak tutur tak langsung. 3.2.1 Relasi sosial antarpeserta tutur
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Skripsi ini berjudul “Tindak Tutur dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai” adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah jenis tindak tutur apakah yang digunakan dalam bahasa Melayu Tanjung Balai, apakah fungsi tindak tutur dalam bahasa Melayu Tanjung Balai, dan skala kesantunan apa sajakah yang terdapat pada tindak tutur dalam bahasa Melayu Tanjung Balai.

11 Baca lebih lajut

ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM BAHASA JEPANG

ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM BAHASA JEPANG

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan dalam masyarakat agar dapat saling bertukar informasi. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat menimbulkan saling mengerti antara penutur dan mitra tutur. Komunikasi berbahasa diwujudkan melalui tuturan-tuturan. Penulis memilih tindak tutur ilokusi karena tindak tutur ilokusi sukar untuk diidentifikasi karena harus mengerti siapa penutur dan mitra tuturnya, bagaimana situasinya, dan bagaimana konteksnya. Contohnya pada film, dialog yang terdapat pada film dapat mewakili penggunaan tindak tutur ilokusi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang tuturan-tuturan yang ada dalam film menggunakan kajian pragmatik. Tujuan diadakan penelitian adalah untuk mengetahui apa saja tindak tutur tidak langsung ilokusi dan untuk mengetahui tujuan penggunaan tindak tutur ilokusi dalam film.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

TINGKAT TUTUR DALAM BAHASA JAWA  Tingkat Tutur Dalam Bahasa Jawa Di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali.

TINGKAT TUTUR DALAM BAHASA JAWA Tingkat Tutur Dalam Bahasa Jawa Di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali.

Alhamdulillah segala puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan karunia, rahmat, dan hidayah- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan ju dul “ Tingkat Tutur dalam Bahasa Jawa di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Searle (1975) berpendapat bahwa unsur yang paling kecil dalam komunikasi adalah tindak tutur seperti menyatakan, membuat pertanyaan, memberi perintah, menguraikan, menjelaskan, minta maaf, berterima kasih, mengucapkan selamat, dan sebagainya. Tuturan I’am sorry for coming late bukanlah sekedar tuturan yang menginformasikan penyesalan bahwa seseorang menyesal karena sudah datang terlambat, melainkan tindakan minta maaf itu sendiri.

13 Baca lebih lajut

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Pada Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Melayu di Desa Pantai Cermin Kanan Kecamatan Pantai Cermin.. Skripsi Sarjana : Fakultas Ilmu Budaya USU.[r]

2 Baca lebih lajut

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Tindak Tutur Dalam Bahasa Melayu Tanjung Balai

Naik bulan = sedang hamil 100.Puako = gila/penyakit syaraf kambuhan 101.Taciko = sakit perut karena makan berlebihan biasanya seafood 102.Tacandak = tertangkap tangan/ketahuan 103.Tac[r]

3 Baca lebih lajut

TINGKAT TUTUR DALAM BAHASA JAWA  Tingkat Tutur Dalam Bahasa Jawa Di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali.

TINGKAT TUTUR DALAM BAHASA JAWA Tingkat Tutur Dalam Bahasa Jawa Di Lingkungan Masyarakat Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali.

Tingkat tutur dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah undha-usuk atau juga disebut unggah-ungguhing basa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud tingkat tutur dan penyebab ketidaksantunan yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Guwokajen Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Dengan menggunakan metode padan pragmatik bisa mengetahui maksud yang dikehendaki oleh penutur. Tuturan yang dihasilkan kemudian digolongkan ke dalam tingkat tutur krama, madya, dan ngoko. Selain itu digolongkan juga ke dalam penyebab ketidaksantunan. Hasil penelitiannya adalah penggunaan tingkat tutur krama karena adanya faktor saling menghormati, status pekerjaan, pendidikan, umur, dan ekonomi. Penggunaan tingkat tutur madya karena adanya faktor sifat keakraban yang sedang. Penggunaan tingkat tutur ngoko karena adanya faktor sudah akrab, status pekerjaan, umur, dan ekonomi. Terdapat 5 penyebab ketidaksantunan yaitu (a) mengkritik secara langsung dengan menggunakan kata- kata kasar, (b) dorongan emosi penutur, (c) sengaja menuduh lawan tutur, (d) protektif terhadap pendapat sendiri, dan (e) sengaja memojokkan lawan tutur.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Strategi Penuturan Tindak Tutur Direktif Berimplikatur Dalam Bahasa Jepang Dan Bahasa Indonesia.

Strategi Penuturan Tindak Tutur Direktif Berimplikatur Dalam Bahasa Jepang Dan Bahasa Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data berupa wacana dialog dari video drama yang dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik sadap catat terhadap tuturan wacana dialog dari video drama. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah konteks yang memengaruhi penggunaan tindak tutur direktif berimplikatur dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia adalah partisipan dan tujuan. Implikatur yang terdapat dalam data wacana dialog bahasa Jepang dan bahasa Indonesia ialah anjuran, permintaan, bujukan, perintah, larangan, desakan, ajakan, dan harapan. Perbedaan strategi penuturan tindak tutur direktif berimplikatur adalah, dalam bahasa Jepang tindak tutur direktif berimplikatur dituturkan melalui tuturan dengan konten yang menyatakan fakta, sedangkan dalam bahasa Indonesia tindak tutur direktif berimplikatur dituturkan melalui tuturan dengan konten yang menyatakan opini. Persamaan strategi penuturan tindak tutur direktif dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia adalah, tindak tutur direktif berimplikatur sama-sama dituturkan melalui peringkat kesantunan yang tinggi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...