Top PDF KORELASI PENDIDIKAN QURBAN TERHADAP TINGKAT RELIGIUSITAS SISWA (Studi Kasus SMP Agus Salim Semarang)

KORELASI PENDIDIKAN QURBAN TERHADAP TINGKAT RELIGIUSITAS SISWA (Studi Kasus SMP Agus Salim Semarang)

KORELASI PENDIDIKAN QURBAN TERHADAP TINGKAT RELIGIUSITAS SISWA (Studi Kasus SMP Agus Salim Semarang)

SMP Agus Salim merupakan sekolah menengah pertama yang ada di bawah naungan Yayasan Agus Salim.Berdiri sejak tahun 1987, salah satu concern dari SMP Agus Salim adalah memberikan pendidikan yang Islami.Sesuai dengan visi yang dimilikinya yaitu menjadikan anak didiknya sebagai generasi yang berkarakter, berilmu dan berwawasan luas.Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, SMP Agus Salim berkomitmen untuk selalu menyelenggarakan pendidikan berbasis Islami, beberapa contoh pengeja-wantahan visi ini adalah dengan diselenggarakannya kegiatan-kegiatan Islami seperti (1).Sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakana, siswa diminta untuk berdoa bersama, membaca Syahadat, Asmaul Husna dan Shalawat Nariyah, (2).Siswa diwajibkan untuk ikut sholat Dhuha dan Dzuhur bersama-sama, serta bagi siswa laki-laki wajib untuk mengikuti sholat Jum’at bersama, (3). Setiap hari Jumat, secara sukarela siswa diminta untuk memberikan infaq, dimana dana yang diperoleh akan digunakan untuk berlatih qurban bersama-sama, (4). Pada hari setelah kelulusan, siswa kelas 9 diajak bersama-sama untuk mengunjungi yayasan social, seperti panti asuhan atau panti jompo, (5).Pelajaran Agama Islam dilaksanakan seminggu dua kali, dua jam pelajaran per pertemuannya. Pada saat pelajaran Agama Islam, siswa diajarkan untuk mengaji Iqra’ dan hafalan surat-surat pendek, juz 30, surat 86-114.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pengambilan Keputusan Etis Berdasarkan Gender, Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja dan Religiusitas

Pengambilan Keputusan Etis Berdasarkan Gender, Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja dan Religiusitas

Tingkat edukasi dan pengalaman kerja diyakini memberikan perbedaan signifikan terhadap standar etika responden, tetapi temuan dari berbagai studi empiris memperlihatkan hasil yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Saat et al.(2003) terhadap mahasiswa jurusan akuntansi di Malaysia menunjukkan bahwa setelah siswa mendapatkan pendidikan etika, kemampuannya dalam membuat ethical judgment meningkat secara signifikan. Namun, penelitian yang dilakukan Peppas & Diskin (2001) memberikan hasil yang berbeda dan memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan pengambilan keputusan etis antara siswa yang telah mendapatkan pendidikan etika dan yang tidak. Pada studi lainnya, ditemukan bahwa pendidikan bisnis justru melemahkan keetisan siswa (Etzioni, 2002).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KORELASI ANTARA FREKUENSI MEROKOK DALAM SEHARI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA SISWA SMA  Korelasi Antara Frekuensi Merokok Dalam Sehari Dengan Tingkat Kecemasan Pada Siswa Sma Murni Surakarta.

KORELASI ANTARA FREKUENSI MEROKOK DALAM SEHARI DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA SISWA SMA Korelasi Antara Frekuensi Merokok Dalam Sehari Dengan Tingkat Kecemasan Pada Siswa Sma Murni Surakarta.

12. Semua teman FK UMS angkatan 2007 yang senasib dan seperjuangan menempuh pendidikan kedokteran dan pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

11 Baca lebih lajut

Studi Korelasi Mengenai Gaya Pengasuhan Otoritatif dengan Religiusitas Siswa Madrasah Aliyah X Bandung.

Studi Korelasi Mengenai Gaya Pengasuhan Otoritatif dengan Religiusitas Siswa Madrasah Aliyah X Bandung.

1. Terdapat hubungan antara gaya pengasuhan otoritatif dan religiusitas siswa Madrasah Aliyah X di Kabupaten Bandung. Korelasi antara dimensi parental demandingness dan religiusitas termasuk kategori sedang, dan korelasi antara dimensi parental responsiveness dan religiusitas termasuk kategori rendah. Aturan-aturan yang dibuat oleh orangtua dalam dimensi parental demandingness sedikit berpengaruh terhadap religiusitas siswa. Orangtua mempunyai maksud tertentu menetapkan aturan tersebut, salah satunya agar dapat mengontrol perilaku beribadah anak dengan memerintahkan untuk shalat tepat waktu, atau mengharapkan perilaku yang sesuai dengan ajaran islam seperti mengucapkan salam pada saat pulang kerumah dan membaca doa sebelum atau sesudah mengerjakan sesuatu. Aturan yang ditetapkan orangtua untuk meningkatkan religiusitas anak sesuai dengan behavioral model of religion. Model ini menekankan pentingnya menganalisa sejarah pembelajaran yang dimiliki seseorang untuk menentukan kerangka pemikiran individu mengenai perilaku apa yang mendapatkan reward, perilaku yang mendapakan hukuman, dan perilaku apa yang perlu ditiru (Miller dan Jakson, 1995; dalam Paloutzian, 2002). Orangtua yang mengharuskan anak shalat untuk tepat waktu membuat anak belajar bahwa shalat adalah kewajiban yang harus diutamakan dibandingkan kegiatan lain, sehingga anak akan menginternalisasi dalam dirinya dan kemudian perilaku tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Begitu juga saat orangtua mengajarkan anak untuk mengucapkan salam pada saat keluar dan masuk rumah, anak akan mengimitasi perilaku orangtuanya dan melakukan hal yang sama. Sesuai dengan hal tersebut, Glock dan Stark mengatakan bahwa pada dasarnya keberagamaan lebih menunjuk pada proses internalisasi yang kemudian menyatu dalam diri individu dan membentuk pola perilaku sehari-hari (Robertson, 1992). Namun karena korelasi yang sedang, religiusitas siswa dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti pendidikan agama di sekolah, kesadaran diri sendiri, atau pengaruh dari teman sebaya yang religius.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT TOLERANSI BERAGAMA SISWA MUSLIM KELAS VII DI SMPN 2 KANDANGAN

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT TOLERANSI BERAGAMA SISWA MUSLIM KELAS VII DI SMPN 2 KANDANGAN

M. SURAHMAT, Dosen pembimbing IMRON MUZAKKI, M. Psi dan NOER HIDAYAH, M. Si: Hubungan Antara Religiusitas Dengan Tingkat Toleransi Beragama Siswa Muslim Kelas VII di SMPN 2 KANDANGAN Tahun Ajaran 2016-2017. Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negri Kediri, 2017.

14 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT RELIGIUSITAS DAN KONTROL DIRI ANTARA SISWA SMA MUHAMMADIYAH DENGAN SISWA SMA NEGERI

PERBEDAAN TINGKAT RELIGIUSITAS DAN KONTROL DIRI ANTARA SISWA SMA MUHAMMADIYAH DENGAN SISWA SMA NEGERI

Berbagai sikap dan tindakan yang tidak terkontrol sering dikaitkan dengan remaja, terutama pada anak sekolah. Masa-masa remaja sering ditandai dengan emosi yang mudah meletup - letup atau cenderung untuk tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, akan tetapi tidak semua remaja mudah tersulut emosinya atau tidak mampu untuk mengontrol dirinya, pada remaja tertentu juga memiliki kematangan yang dalam artinya remaja tersebut mampu mengontrol setiap tindakan yang dilakukannya sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki serta kaitannya dengan spritualitas. Pendidikan agama dan pendidikan moralitas sangat penting dalam dunia remaja, karena nilai-nilai dalam ajaran agama sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat dalam mengungkapkan nilai-nilai moral individu dalam bersikap, berperilaku serta berusaha dalam menghadapi masalah termasuk dalam hal pergaulan.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

korelasi tingkat pendidikan orang tua da (3)

korelasi tingkat pendidikan orang tua da (3)

apabila orang tua memberikan pola asuh yang tepat dan sesuai dengan keadaan anak dan umur anak maka hal tersebut akan menciptakan sikap anak yang sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tua salah satunya yaitu sikap mandiri anak. Hal ini sesuai dengan deskripsi teori dari Novan Ardy bahwa pembentukam karakter kemandirian tidak lepas dari peran orang tua dan pengasuhan yang baik yang diberikan orang tua terhadap anaknya. Serta sesuai dengan deskripsi teori dari Prasetyo dan Sutoyo bahwa pengasuhan yang diberikan orang tua juga turut membentuk kemandirian seseorang, toleransi yang berlebihan dan pemeliharaan yang berlebihan dan orang tua yang terlalu keras kepada anak menghambat pencapaian kemandiriannya. Penelitian yang dilakukan oleh Heni Purwaningsih ini bertujuan untuk mengetahui ada apa tidaknya hubungan antara perhatian orang tua dan konsep diri dengan kemandirian belajar pada siswa SMU Karangmojo Gunung Kidul. Penelitian menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara perhatian orang tua dan konsep diri dengan kemandirian belajar pada siswa di SMA Karangmojo Gunungkidul tahun ajaran 1995/1996.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS SISWA DI SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA  Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Religiusitas Siswa Di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS SISWA DI SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Religiusitas Siswa Di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Rohis di SMA Negeri 3 Yogyakarta lebih dikenal dengan istilah Seksi Kerohanian Islam (SKI). SKI merupakan wadah bagi siswa untuk berorganisasi, melatih mental dan kemandirian siswa serta ajang untuk mengembangkan diri terutama dalam bidang keagamaan. Keberadaan SKI di SMA Negeri 3 Yogyakarta sangat vital bagi terciptanya iklim yang religius di sekolah. Bahkan sebagian besar kegiatan keagamaan yang ada dikoordinasi langsung oleh para siswa yang tergabung dalam SKI, guru memainkan peran sebagai fasilitator dan pembimbing.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

RELIGIUSITAS SISWA PROGRAM AKSELERASI

RELIGIUSITAS SISWA PROGRAM AKSELERASI

Kecerdasan yang tinggi mungkin merupakan kelebihan yang dimiliki siswa akselerasi. Namun di sisi lain hal tersebut dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik dari luar diri mereka maupun dari dalam diri mereka sendiri. Hal ini dikarenakan kesibukan anak akselerasi dalam akademik berbeda dengan anak biasa dan minat mereka pun lebih pada hal-hal yang bersifat formal daripada meluangkan waktu untuk bermain bersama teman-temannya, padahal manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan komunikasi dengan orang lain sebagaimana dia harus dapat melakukan interaksi dengan orang lain.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI  Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Stres Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Stres Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

Abstrak : Perubahan-perubahan fisik, mental dan sosial dapat menjadi sumber stres bagi para lansia. Dari berbagai penelitian, kekebalan dan daya tahan seseorang terhadap stres sangat berhubungan dengan tingkat keimanan dan religiusitas. Pada usia lanjut, biasanya minat seseorang terhadap kehidupan keagamaan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia orang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat religiusitas dengan tingkat stres pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Untuk menguji hubungan antara dua variabel tersebut digunakan uji korelasi Pearson. Penelitian ini melibatkan 40 responden yang menjadi penghuni Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta dengan karakteristik berusia lebih dari 60 tahun, bersedia menjadi responden dan beragama Islam. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Total Sampling. Dari penelitian ini diperoleh hasil yakni nilai r = - 0.797 dan nilai p < 0.001 yang artinya sangat bermakna secara statistic serta memiliki hubungan negatif yang bermakna semakin tinggi tingkat religiusitas maka semakin rendah tingkat stres, begitu juga sebaliknya.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

SIMBOLISASI PENDIDIKAN RELIGIUSITAS DALA. pdf

SIMBOLISASI PENDIDIKAN RELIGIUSITAS DALA. pdf

Dalam uraian sebagaimana di atas nampak bahwa di dalam berkesenian, baik dalam Islam maupun Katolik, terlihat sebuah bentuk penghayatan agama yang tidak formalistik namun lebih mementingkan substansi beragama itu sendiri, yaitu kedekatan dengan Tuhan serta kedamaian dengan sesama. Terwujudnya ragam beragama seperti ini adalah berkat nilai-nilai agama dan unsur- unsur tradisi masyarakat lokal lebur menjadi sebuah entitas budaya yang indah. Namun, model beragama secara kultural yang berbasis kesenian lokal khususnya dalam masyarakat Jawa yang menjadi obyek penelitian ini, cenderung dilupakan dan dianggap bukan sesuatu yang penting untuk didiskusikan. Padahal, secara nyata dapat dilihat bahwa melalui seni dan budaya, agama memancarkan sinar-sinar kedamaian dalam kehidupan manusia sehari-hari, tanpa tersekat oleh faham dan golongan. Maka secara langsung maupun tidak langsung, seni yang melekat pada ritual agama bisa menjadi alternatif pendidikan keagamaan dalam rangka menghaluskan jiwa dan budi pekerti.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

KORELASI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN POLA ASUH TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK DALAM KELUARGA.

KORELASI TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DAN POLA ASUH TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK DALAM KELUARGA.

Anak merupakan buah cinta dari orang tua yang dengan adanya anak maka orang tua mempunyai keinginan dan harapan yang besar kepada anak atau buah hati untuk bisa melanjutkan dan meneruskan cita-cita dari para orang tua, sehingga anak adalah investasi masa depan bagi orang tua, anak sebagai pelanjut keturunan yang disebabkan oleh naluri (insting) makhluk manusia untuk melanjutkan keberadaan dan anak akan meneruskan atau menggantikan cita-cita dan ide-ide dari orang tua. Anak adalah orang terdekat dengan orang tua sehingga dapat mewarisi pandangan-pandangan dan ide-ide atau cita-cita orang tua. Sehingga orang tua akan melakukan suatu usaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak dengan fasilitas yang menunjang tumbuh kembangnya anak baik secara materi atau fisik. Salah satu fasilitas tersebut adalah pendidikan, mereka akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya, bagi orang tua pendidikan adalah yang utama sehingga mereka memilihkan sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan yang favorit yang paling bagus untuk anaknya.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA MAHASISWI TINGKAT AWAL DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) BANDUNG.

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA MAHASISWI TINGKAT AWAL DI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) BANDUNG.

Subjek Penelitian ini merupakan mahasiswi tingkat awal dengan rentang umur 18-21 tahun di Universitas Pendidikan Indonesia. Mahasiswi yang berada pada rentang umur tersebut tergolong ke dalam masa remaja, khususnya remaja akhir (Desmita, 2007) . Remaja ada diantara anak dan dewasa. Meskipun masa remaja mulai menuju ke kematangan dan kemasakan, tetapi mereka belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, 2001). Pernyataan tersebutlah yang membuat peneliti memutuskan untuk menjadikan mahasiswi dengan rentang umur tersebut menjadi subjek penelitian. 3. Populasi dan Sampel Penelitian
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Qurban dan Tahalul

Qurban dan Tahalul

1. Dalam petunjuk Manasik Haji, berqurban (penyembelihan hewan qurban) tidak termasuk rukun dan wajib haji. Oleh karena itu apakah mutlak harus berqurban (menyembelih hewan qurban) di Makkah/ di Mina, seusai wuquf di Arafah atau membayar uang qurban di Bank penerima qurban? Bagaimana pula hukumnya (sanksinya) jama’ah haji yang tidak berqurban di Makkah, tetapi ia berqurban di kampungnya, dengan alasan bahwa secara transparansi berqurban di Makkah kurang bermanfaat, sedangkan qurban yang dilaksanakan di kampung halaman lebih bermanfaat, dinikmati oleh orang yang berhak menerimanya? Namun demikian, manakah yang lebih afdal berqurban di Makkah atau di kampung halaman?
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS SISWA DI SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA  Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Religiusitas Siswa Di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS SISWA DI SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Religiusitas Siswa Di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Sekolah dinilai kadangkala gagal dalam membina religiusitas siswa di sekolah, akibatnya banyak siswa mencontek, tawuran, kenakalan remaja. Semua itu terjadi karena ketidakberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah. PAI sering dijadikan kambing hitam dan dituding sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam permasalahan ini. Salah satu upaya yang dilakukan guru PAI di SMA Negeri 3 Yogyakarta adalah dengan cara meningkatkan religiusitas siswa.

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI  Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Stres Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN TINGKAT STRES PADA LANSIA DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Stres Pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Untuk menguji hubungan antara dua variabel tersebut digunakan uji korelasi Pearson. Penelitian ini melibatkan 40 responden yang menjadi penghuni Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta dengan karakteristik berusia lebih dari 60 tahun, bersedia menjadi responden dan beragama Islam. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Total Sampling.

13 Baca lebih lajut

Analisis korelasi antara tingkat konsentrasi

Analisis korelasi antara tingkat konsentrasi

Hipotesis, bahwa tingkat konsentrasi pada struktur pasar industri kerajinan kain tapis di Kota Bandarlampung adalah rendah ( dibawah 50% ). Kinerja usaha dalam industri kerajinan ini telah baik ( dengan indikator target profitabilitas di atas 60% ), dan korelasi antara konsentrasi dengan profitabilitas rata-rata n perusahaan terbesar pada industri ini adalah sangat erat dan positif tinggi.

2 Baca lebih lajut

Contoh Makalah Qurban

Contoh Makalah Qurban

Meskipun hukum qurban adalah sunnah, namun suatu ketika bisa saja berubah menjadi wajib, yaitu jika dinadzarkan. Maka konsekwensinya jika sudah menjadi qurban wajib dia dan keluarga yang dia tanggung nafkahnya tidak boleh mengambil atau memakan sedikitpun dari daging qurban tersebut.

17 Baca lebih lajut

Makalah Qurban dan Aqiqah

Makalah Qurban dan Aqiqah

Akan tetapi dari madzab Syafi’I dan Hanbali berpendapat bahwa penyembelihan hewan aqiqah boleh dan dianggap syah dilaksanakan sebelum dan sesudah hari ketujuh yang tidak sampai melebi[r]

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...