Top PDF Makna Anak Laki-laki Di Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Di Kota Sidikalang Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara)

Makna Anak Laki-laki Di Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Di Kota Sidikalang Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara)

Makna Anak Laki-laki Di Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Di Kota Sidikalang Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta menganalisa Makna anak laki-laki dikota Sidikalang kabupaten Dairi. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif yang dianalisa secara desktriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Struktural Fungsional oleh Parson. Didalam penelitian ini Jumlah responden ada sebanyak 7 orang.Teknik pengambilan sampel yaitu Purposive Sampling. Hasil dari lapangan mengatakan bahwa anak adalah Anugerah Tuhan yang sangat dinantikan, terkhusus dalam masyarakat Batak Toba anak laki-laki sangat diutamakan karena anak laki-laki adalah pembawa marga dan penerus keturunan pada keluarga masyarakat Batak Toba. Anak adalah kebanggaan didalam masyarakat Batak Toba. Anak pada masyarakat Toba juga sebagai penambah sahala (wibawa) bagi orangtua,sehingga pada masyarakat Batak Toba tidak memiliki anak terutama anak laki-laki akan merasakan seperti ada yang kurang karena apabila tidak memiliki anak laki-laki maka garis keturunan pada keluarga tersebut akan punah.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Makna anak perempuan bagi ayah pada keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki di Suku Batak Toba.

Makna anak perempuan bagi ayah pada keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki di Suku Batak Toba.

Pada zaman moderen cara pandang suku Batak Toba telah berubah mengikuti perkembangan zaman. Suku Batak Toba mulai memahami kesetaraan gender. Orang Batak Toba memberikan Kesempatan pada istri dan anak perempuan mengikuti pendidikan dan membangun ruang di luar rumah untuk menunjukkan eksistensinya. Punaguan Ina merupakan satu ruang untuk perempuan Batak Toba mealakukan kegiatan dan interaksi dengan sesama perempuan (Pedersen, 1975). Pedersen mengatakan bahwa orang Batak Toba mulai menerima kehadiran anak perempuan dalam keluarga. Fokus kehidupan orang Batak Toba terbelah pada dunia pendidikan dan karir guna memenuhi kebutuhan hidup. Perkembangan zaman dan masuknya unsur-unsur kebudayaan baru serta hasil interaksi dengan berbagai suku bangsa lain mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak Toba. Hal itu didukung oleh orang Batak Toba yang mau membuka diri, mau menerima dan menyaring unsur-unsur baru sehingga menimbulkan terjadinya perubahan. Tujuan dari perubahan ini adalah agar orang Batak Toba dapat mengikuti perkembangan zaman.
Baca lebih lanjut

192 Baca lebih lajut

Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan Medan Baru)

Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan Medan Baru)

Perubahan dalam Hukum Waris Adat Batak ditandai dengan keluarnya Yurisprudensi MA-RI Nomor 179/K/SIP/1961 yaitu tentang persamaan hak mewaris antara anak laki-laki dan anak perempuan. Hal ini bertolak belakang dengan sistem pewarisan pada masyarakat suku Batak Toba, dimana anak laki-laki merupakan ahli waris, sedangkan anak perempuan bukan ahli waris. Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian efektivitas penerapan Yurisprudensi MA-RI Nomor 179/K/SIP/1961 penting untuk dilakukan.

14 Baca lebih lajut

Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan Medan Baru)

Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan Medan Baru)

dan kesetaraan gender, sistim hukum adat Batak yang menganggap ahli waris hanya anak laki laki telah mengalami pergeseran baik dalam masyarakat Batak itu sendiri maupun dalam praktek peradilan sejak Perang Dunia ke II yang telah mengakui kesamaan hak antara laki laki dan perempuan untuk mewarisi harta orangtuanya, lihat antara lain yurisprudensi dalam Putusan Mahkamah Agung No.179 K/SIP/1961 tanggal 23 Oktober 1961 dalam perkara Langtewas dkk lawan Benih Ginting, yang menentukan kaidah hukum sbb: “Mahkamah Agung atas rasa peri kemanusiaan dan keadilan umum serta atas hakekat persamaan hak antara wanita dan pria, menganggap sebagai hukum yang hidup diseluruh Indonesia, jadi juga di Tanah Karo, bahwa seorang anak perempuan harus dianggap sebagai ahli waris dan berhak menerima bagian dari harta warisan orangtuanya”,demikian pula Putusan Mahkamah Agung No.415 K/SIP/1970 tanggal 16 Juni 1971 dalam perkara Usman dkk lawan Marah Iman Nasution dkk, yang menentukan kaidah hukum :” Hukum Adat di daerah Tapanuli kini telah berkembang kearah pemberian hak yang sama kepada anak perempuan dan laki laki
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

NILAI DAN PERANAN ANAK LAKI-LAKI DALAM KELUARGA BATAK TOBA PERANTAU (Studi pada Punguan Pomparan Raja Silahisabungan dan Punguan Pomparan Raja Toga Manurung di Kota Bandar Lampung )

NILAI DAN PERANAN ANAK LAKI-LAKI DALAM KELUARGA BATAK TOBA PERANTAU (Studi pada Punguan Pomparan Raja Silahisabungan dan Punguan Pomparan Raja Toga Manurung di Kota Bandar Lampung )

Berdasarkan hasil penelitian diketahui, keberadaan anak laki-laki bagi orang Batak Toba perantau masih sangat berarti. Namun terjadi sedikit pergeseran dalam memberikan perlakuan terhadap anak-anak, yang dahulu setiap pemenuhan kebutuhan lebih dikhususkan kepada anak laki-laki, namun sekarang pemikiran orang Batak telah berubah dan tidak lagi membeda-bedakan perlakuan kepada anak laki-laki maupun perempuan dalam setiap pemenuhan kebutuhannya, seperti membagikan rata kepada semua anak-anak yang ada dalam keluarganya. Peranan anak laki-laki dalam penelitian ini masih sangat penting, anak laki-laki masih menjadi pemimpin dalam setiap upacara adat Batak Toba. Tanpa kehadiran anak laki-laki acara adat tidak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Makna Nama Orang Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Balige

Makna Nama Orang Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Balige

c. Makna nama orang pada Masyarakat Batak Toba di Kecamatan Balige terdiri dari makna pengharapan yang dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu 1. Pengharapan futuratif yang artinya mengandung makna pengharapan agar kehidupan pemulik nama seperti makna namanya misalnya “Anggiat” (semoga) bermakna semoga apa yang diinginkan akan tercapai, “Bistok” (pintar) bermakna semoga menjadi orang yang pintar 2. Pengharapan Situasional yang artinya mengandung pemberitahuan situasi sekarang kehidupan keluarga pemilik nama dengan pengharapan agar kehidupannya menjadi lebih baik misalnya “Marudut” (Bersambung) bermakna seorang anak pertama dan orangtuanya berharap semoga adiknya cepat menyusul, “Hotma” (tetaplah) bermakna anak-anak sebelumnya selalu meninggal dan semoga anak ini tetap hidup. Selain itu, terdapat juga makna kenangan yang artinya ada keinginan untuk mengenang suatu peristiwa, kejadian kepada orangtua sebelum ataupun setelah melahirkan misalnya “sotarduga” (tidak terduga) yang berarti kelahiran anak tersebut tidak terduga (prematur), “Rondang” yang berarti anak tersebut lahir pada waktu bulan purnama.
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

NILAI DAN PERANAN ANAK LAKI-LAKI DALAM KELUARGA BATAK TOBA PERANTAU (Studi pada Punguan Pomparan Raja Silahisabungan dan Punguan Pomparan Raja Toga Manurung di Kota Bandar Lampung )

NILAI DAN PERANAN ANAK LAKI-LAKI DALAM KELUARGA BATAK TOBA PERANTAU (Studi pada Punguan Pomparan Raja Silahisabungan dan Punguan Pomparan Raja Toga Manurung di Kota Bandar Lampung )

Namun dewasa ini budaya Batak yang berlaku di daerah perantauan banyak mengalami perubahan dan sangat berbeda dengan budaya Batak yang berada di daerah asal. Ada berbagai macam perubahan yang terjadi dalam budaya Batak yang berada di perantauan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar (ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, politik, ekonomi, mobilitas, dan budaya) maupun karena innovasi yang berkembang di kalangan orang Batak sendiri. Salah satu contohnya pada masyarakat Batak Toba yang ada di Sumatera Utara, khususnya yang beragama Kristen akan selalu beribadah ke Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) setempat, namun pada saat ini banyak terjadi perubahan yang ada dalam masyarakat Batak Toba perantau, ditandai dengan berubahnya pola pikir masyarakat tersebut dengan pergi beribadah ke Gereja lain selain HKBP.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG - Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

(komunikasi personal, 25 April 2014) Tinggal dengan keluarga anak juga tidak jarang membuat janda lansia mengkhawatirkan keadaan keluarga anak. Seorang janda lansia akan merasa terbeban ketika keluarga anak memiliki masalah baik di bidang keuangan, pernikahan, kesehatan, dan masalah lainnya. Melihat keadaan ini kerap terlihat janda lansia ikut membantu setiap kekurangan keluarga anak (Degenova, 2008). Janda lansia akan merasa senang apabila dirinya dapat membantu keluarga anak sebaik bantuan yang diterimanya dari keluarga anak (Marks, 1995; Degenova, 2008). Hal ini diungkapkan oleh seorang janda lansia sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Makna Ragam Hias Ulos Batak Toba Bagi Mayarakat Batak Toba

Makna Ragam Hias Ulos Batak Toba Bagi Mayarakat Batak Toba

Dengan demikian jelas bahwa tugas dan fungsi ragam hias adalah sebagai penghias suatu objek, dan apabila ragam hias tersebut diterapkan pada benda lain akan memiliki nilai tambah pada benda tersebut bisa menambah indah, antik, angker, cantik dan atau predikat lain lagi. Tentunya dengan cakupan yang sesuai dengan bagaimana dan dimana ragam hias tersebut digunakan. Oleh karena itu ragam hias merupakan menambah nilai dari suatu benda yang di tempatinya, sehingga pada kertas karya ini penulis tertarik mengangkat topik mengenai ragam hias dengan judul:” MAKNA RAGAM HIAS ULOS BATAK TOBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA.”
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

MAKNA TORTOR SIBUNGA JAMBU DALAM GONDANG NAPOSO PADA MASYARAKAT BATAK TOBA.

MAKNA TORTOR SIBUNGA JAMBU DALAM GONDANG NAPOSO PADA MASYARAKAT BATAK TOBA.

Hasil penelitian berdasarkan data-data yang telah terkumpul dapat diketahui bahwa Tortor Sibunga Jambu memiliki makna sebagai simbol yang menandakan kedewasaan diri pada seorang anak perempuan dalam sebuah keluarga dan menjadi tanda bagi para orang tua bahwa putri-putri mereka telah layak untuk mendapatkan pendamping hidup. Lewat penelitian ini juga dapat diketahui bahwa sejarah terciptanya Tortor Sibunga Jambu adalah pada saat acara Gondang Naposo dilaksanakan. Pada acara inilah Tortor Sibunga Jambu diciptakan. Dalam acara Gondang Naposo, kita dapat menemukan Tortor Sibunga Jambu sebagai bagian yang terdapat dalam jenis Gondang Pitta-pitta atau disebut juga Gondang Permintaan. Awalnya Tortor Sibunga Jambu ini hanya di tarikan oleh kaum perempuan saja, namun seiring dengan perkembangan zaman, kini Tortor ini sudah dapat ditarikan secara muda-mudi atau berpasangan dengan tetap bertujuan sebagai media perkenalan antara muda-mudi agar bisa saling mengenal satu sama lainnya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Tortor Dalam Pesta Horja Pada Kehidupan Masyarakat Batak Toba: Suatu Kajian Struktur Dan Makna

Tortor Dalam Pesta Horja Pada Kehidupan Masyarakat Batak Toba: Suatu Kajian Struktur Dan Makna

belum tentu dapat mengumpulkan biaya untuk pesta ini. Maka pada suatu saat diadakanlah rapat keluarga yang dipromotori keluarga yang berada di kampung dan mengundang beberapa perwakilan anggota keluarga yang berada di perantauan. Diputuskanlah pesta horja ini harus terlaksana. Anggota keluarga yang lebih mapan diminta untuk lebih banyak menyumbang demi terselenggaranya pesta tersebut. Dalam pesta horja ini yang berperan sebagai pekerja (pelaksana) kegiatan yang disebut sebagai Parhobas adalah Paidua Suhut (anggota keluarga) yang masih satu keturuan dari Ompung paling atas garis keturunannya. Jadi yang berperan di sini adalah keturunan dari yang enam (6) Ompung yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka saling membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Dari hasil informasi yang saya terima dari masyarakat setempat, pada dasarnya upacara ini didukung oleh keturunannya yang sudah berpenghasilan di perantauan.
Baca lebih lanjut

277 Baca lebih lajut

123dok makna ragam hias ulos batak toba bagi mayarakat batak toba

123dok makna ragam hias ulos batak toba bagi mayarakat batak toba

Dengan demikian jelas bahwa tugas dan fungsi ragam hias adalah sebagai penghias suatu objek, dan apabila ragam hias tersebut diterapkan pada benda lain akan memiliki nilai tambah pada benda tersebut bisa menambah indah, antik, angker, cantik dan atau predikat lain lagi. Tentunya dengan cakupan yang sesuai dengan bagaimana dan dimana ragam hias tersebut digunakan. Oleh karena itu ragam hias merupakan menambah nilai dari suatu benda yang di tempatinya, sehingga pada kertas karya ini penulis tertarik mengangkat topik mengenai ragam hias dengan judul:” MAKNA RAGAM HIAS ULOS BATAK TOBA BAGI MASYARAKAT BATAK TOBA.”
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Efektivitas Penerapan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 179/K/SIP/1961 Di Dalam Persamaan Hak Mewaris Anak Laki-Laki Dan Anak Perempuan Pada Masyarakat Suku Batak Toba Perkotaan (Studi Di Kecamatan

dari Mahkamah Agung. Melalui putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.179/K/Sip/1961 25 , tanggal 23 Oktober 1961 telah terjadi upaya ke arah persamaan hak pewarisan antara anak laki-laki dengan anak perempuan (suatu putusan atas kasus di Tanah Karo), meskipun putusan Mahkamah Agung ini banyak mendapat tantangan, namun tidak sedikit pula pihak-pihak yang justru menyetujui hal tersebut kemudian diikuti beberapa putusan-putusan Mahkamah Agung yang subtansinya mengakui dan memberikan kedudukan hak mewaris bagi anak perempuan pada masyarakat Patrilineal Batak, seperti :
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Perbedaan kemandirian antara remaja akhir laki-laki suku Batak dan suku Jawa - USD Repository

Perbedaan kemandirian antara remaja akhir laki-laki suku Batak dan suku Jawa - USD Repository

Mobilitas masyarakat Batak tidak terlepas dari sistem nilai dalihan na tolu (Simare-mare, 1976). Dalihan na tolu (tungku nan tiga) merupakan gambaran dari tiga unsur utama, yaitu dongan sabutuha (saudara semarga), boru (pihak semarga suami dari saudara perempuan), dan hula-hula (pihak marga isteri). Pada masyarakat Toba, dalihan na tolu dapat didefinisikan sebagai struktur kemasyarakatan atas dasar hubungan kekerabatan yang menjadi landasan dari semua kegiatan, khususnya kegiatan yang bertalian dengan adat (Bangun, 1982). Oleh karena itu, setiap orang Batak harus tahu kedudukannya terhadap orang lain di dalam pergaulan adat dan menentukan sikap sesuai dengan kedudukannya (Siahaan, 1964).
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Suatu hasil penelitian menunjukan bahwa hubungan cucu dan nenek atau kakek akan sangat dipengaruhi oleh usia cucu (Hurlock, 2000). Cucu yang berusia remaja pada dasarnya lebih mampu memahami perkataan nenek atau kakeknya mengenai keadaan yang terjadi dibandingkan anak-anak (Degenova, 2008). Ketika cucu masih berusia kanak-kanak, nenek atau kakek biasanya berperan sebagai babysitter cucu atau teman bermain cucu terutama jika tinggal serumah. Apabila cucu sudah memasuki usia tengah baya, cucu turut bertanggung jawab terhadap kakek atau nenek mereka. Pada umumnya, lansia menganggap cucu merupakan gambaran kepribadian dan nilai-nilai dimilikinya selama ini (Craig, 1996).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Hubungan antara orang tua lansia dengan anak pada umumnya semakin hari kurang memuaskan. Keadaan ini tidak terlepas dari pengaruh kemampuan lansia dalam menyesuaikan diri terhadap anak serta memahami kebutuhan dan keadaan mereka di usia saat ini (Hurlock, 2000). Di samping itu, hubungan orang tua lansia dan anak di masa lalu juga dapat menentukan hubungan yang dijalin saat ini (Hurlock, 2000). Hubungan baik yang terjalin di masa lalu akan dapat melahirkan hubungan baik di masa mendatang, dan sebaliknya (Wilson, Shuey, dan Elder, 2003; Santrock, 2009). Terkhusus bagi wanita, pada umumnya hubungan ibu dan anak menjadi lebih baik dibandingkan dengan hubungan ayah dan anak. Wanita dianggap lebih luwes menyesuaikan diri dengan anak daripada pria. Selain itu, hubungan ibu dan anak dianggap sebagai suatu hubungan yang berkelanjutan sejak anak lahir (Hurlock, 2000).
Baca lebih lanjut

146 Baca lebih lajut

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Psychological Well-Being yang Positif pada Janda Lansia Suku Batak Toba yang Tinggal dengan Anak (Anak Laki-laki)

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi berkat, kekuatan, dan kasih-Nya yang melimpah dalam penyelesaian skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah psychological well-being yang positif pada janda lansia suku Batak Toba yang tinggal dengan anak (anak laki-laki). Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi USU Medan.

9 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Rumah Waris Parsantian pada Masyarakat Adat Batak Toba yang Dikuasai oleh Anak Bungsu Laki-Laki dari Istri Kedua Ditinjau dari Hukum Adat Batak.

Perlindungan Hukum Terhadap Rumah Waris Parsantian pada Masyarakat Adat Batak Toba yang Dikuasai oleh Anak Bungsu Laki-Laki dari Istri Kedua Ditinjau dari Hukum Adat Batak.

Penelitian ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau sekunder belaka dengan menjalankan dua tahap penelitian, yaitu penelitian kepustakaan dan didampingi dengan penelitian lapangan berupa wawancara. Data primer di dapatkan melalui pengumpulan bahan dari beberapa narasumber, yaitu para tokoh-tokoh Adat Batak dan masyarakat Adat Batak. Data-data ini kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif analitis yaitu mencari informasi aktual yang mendetail deskripsi gejala yang ada untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects