Top PDF PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN LAHAN (Studi Kasus Kelompok Peduli Api di Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN LAHAN (Studi Kasus Kelompok Peduli Api di Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN LAHAN (Studi Kasus Kelompok Peduli Api di Kecamatan Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat)

Hasil penelitian menunjukkan : (1) sering terjadinya kebakaran lahan di Kecamatan Rasau Jaya disebabkan masih dilakukan penyiapan lahan dengan cara dibakar terutama untuk kegiatan pertanian tanaman pangan semusim, (2) kebakaran lahan yang terjadi di Kecamatan Rasau Jaya adalah kebakaran pada lahan- lahan pertanian yang dibiarkan kosong, (3) pencegahan kebakaran lahan telah diupayakan melalui pembakaran terkendali, penetapan aturan desa dan kesepakatan masyarakat yang terbukti efektif mencegah kebakaran lahan, (4) upaya penanggulangan kebakaran lahan telah dilaksanakan masyarakat secara spontan dan bergotong royong dengan memprioritaskan lahan yang memiliki potensi ekonomi, (5) pelibatan masyarakat yang dilakukan pemerintah melalui pembentukan Kelompok Peduli Api hingga saat ini belum efektif karena masih bersifat formalitas, (6) masih sering terjadinya kebakaran lahan bukan dikarenakan kurangnya peran serta masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan namun lebih karena adanya perbedaan sudut pandang antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat memandang bahwa kebakaran yang saat ini terjadi adalah kebakaran pada lahan pertanian yang dibiarkan kosong sehingga tidak perlu dipadamkan karena tidak adanya aset ekonomi yang perlu diselamatkan, selain itu lahan pertanian yang dibiarkan kosong juga merupakan sumber bersarangnya hama pertanian yang sangat merugikan masyarakat. Bagi pemerintah semua kebakaran perlu diupayakan untuk dipadamkan sehingga kebakaran di lahan pertanian yang dibiarkan kosong pun haruslah menjadi fokus penanganan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peran Satuan Komando Kewilayahan Dalam Rangka Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Kodim 0415/Batang Hari

Peran Satuan Komando Kewilayahan Dalam Rangka Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Kodim 0415/Batang Hari

menanggulangi bencana karhutla di wilayah Kabupaten Muaro Jambi? Ditinjau dari aspek personel, secara kuantitas dirasakan sudah cukup, karena Pelibatan personel dalam mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan tidak memerlukan personel yang banyak dan dengan Diklat yang cukup maka mereka akan dapat diberdayakan dengan efektif dan efisien. Sementara itu dilihat dari aspek kualitas, diharapkan personel kodim dalam rangka mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan dapat melaksanakan kegiatan tersebut dengan optimal untuk mencegah dan mitigasi resiko dampak bencana dengan memiliki pengetahuan tentang manajemen bencana yang dipersiapkan untuk mendukung tugas operasi. Kemampuan para Babinsa di lapangan dihadapkan pada tugas-tugas pencegahan dan mitigasi bencana ditinjau dari pengetahuan dan keterampilan diharapkan lebih profesional misalnya melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga mereka memahami
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Faktor eksternal terdiri dari peran penyuluh dan dukungan lingkungan sosial. Peran penyuluh yang diamati terdiri dari peran sebagai fasilitator, komunikator dan motivator. Penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat. Perubahan perilaku yang diharapkan adalah agar masyarakat tersebut tahu, mau dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga dapat memperbaiki diri dan lingkungannya. Esensi dari penyuluhan adalah perubahan perilaku, keterampilan dan sikap masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Sadono (2008) juga menyimpulkan bahwa nilai penting yang dianut dalam penyuluhan adalah pemberdayaan agar terbentuk kemandirian petani. Penelitian ini menitikberatkan pada pentingnya kesadaran dan perilaku masyarakat yang benar, untuk menghindari kerusakan lahan seperti akibat terjadinya kebakaran. Adanya kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai hal tersebut, diharapkan mampu berperilaku dan berpartisipasi dalam upaya pencegahan kebakaran lahan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat

Faktor eksternal terdiri dari peran penyuluh dan dukungan lingkungan sosial. Peran penyuluh yang diamati terdiri dari peran sebagai fasilitator, komunikator dan motivator. Penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat. Perubahan perilaku yang diharapkan adalah agar masyarakat tersebut tahu, mau dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga dapat memperbaiki diri dan lingkungannya. Esensi dari penyuluhan adalah perubahan perilaku, keterampilan dan sikap masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri. Sadono (2008) juga menyimpulkan bahwa nilai penting yang dianut dalam penyuluhan adalah pemberdayaan agar terbentuk kemandirian petani. Penelitian ini menitikberatkan pada pentingnya kesadaran dan perilaku masyarakat yang benar, untuk menghindari kerusakan lahan seperti akibat terjadinya kebakaran. Adanya kesadaran dan pemahaman yang benar mengenai hal tersebut, diharapkan mampu berperilaku dan berpartisipasi dalam upaya pencegahan kebakaran lahan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS SOSIALISASI PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN PADA MASYARAKAT DI DESA SUNGAI BULUH KECAMATAN BUNUT KABUPATEN PELALAWAN RIAU

EFEKTIVITAS SOSIALISASI PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN PADA MASYARAKAT DI DESA SUNGAI BULUH KECAMATAN BUNUT KABUPATEN PELALAWAN RIAU

Pearson et al. (2011) mendefinisikan komunikasi sebagai proses menggunakan pesan untuk menghasilkan makna. Dimana komponen komunikasi meliputi: (a) Orang, yaitu mereka yang terlibat dalam proses komunikasi memiliki dua peran, baik sebagai sumber dan penerima pesan; (b) Pesan, adalah bentuk verbal dan non verbal ide, pikiran, atau perasaan bahwa satu orang (sumber) ingin berkomunikasi dengan orang lain atau sekelompok orang (penerima); (c) Saluran atau media, adalah sarana penyampaian pesan dari sumber ke penerima pesan; (d) Umpan balik, adalah respon penerima baik verbal dan nonverbal untuk pesan yang disampaikan sumber; (e) Kode, adalah susunan sistematis simbol yang digunakan untuk membuat makna dalam pikiran orang lain atau orang-orang; (f) Encoding dan decoding, komunikasi melibatkan penggunaan kode karena proses komunikasi dapat dilihat sebagai salah satu encoding dan decoding. Encoding didefinisikan sebagai proses menerjemahkan ide atau pemikiran ke kode. Decoding adalah proses untuk menempatkan berarti bahwa ide atau pemikiran; (g) Kebisingan, adalah setiap gangguan pada proses encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan pesan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Sistem Komunikasi Peringatan Dini Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau

Sistem Komunikasi Peringatan Dini Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau

ini sebagian besar membahas masalah kebijakan, sosiologi dan pemberdayaan. Penelitian Akbar et al. (2011) tentang pencegahan kebakaran gambut di Kalimantan Tengah menemukan adanya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat sekitar hutan, terutama petani ladang dan penangkap ikan. Kegiatan pencegahan yang mendapat respons masyarakat adalah semua pola penyuluhan dan penerapan teknologi yang umum dilakukan dalam pencegahan kebakaran. Penelitian Syaufina (2009) tentang penyebab Karhutla di wilayah Danau Toba menjelaskan bahwa masyarakat merupakan satu-satunya faktor penyebab, sehingga masyarakat menjadi bagian penting dalam solusi Karhutla dengan rekomendasi berbasis optimalisasi pengelolaan lahan, pembentukan Masyarakat Peduli Api, dan skema ekonomi. Sabarudi (2009) dalam penelitian pencegahan Karhutla di Danau Toba dengan pendekatan sosiologis menemukan pentingnya penyuluhan yang lebih menyentuh aspek sosiokultural masyarakat setempat, misalnya pembentukan “kepedulian tetangga” di setiap desa. Adapun Nurdin et al. (2016) menemukan peran masyarakat Peduli Api (MPA) dalam pencegahan Karhutla di Bengkalis, Riau. MPA di Bengkalis melakukan kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran secara langsung, melalui spanduk, pamflet dan pertemuan warga. Tindakan pencegahan dilakukan melalui pemadaman dini serta meningkatkan keterlibatan warga setempat, pemilik lahan dan masyarakat di luar desa.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN KEBAKARAN LAHAN GAMBUT (STUDI KASUS MASYARAKAT PEDULI API DI KECAMATAN RASAU JAYA, KABUPATEN KUBU RAYA)

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN KEBAKARAN LAHAN GAMBUT (STUDI KASUS MASYARAKAT PEDULI API DI KECAMATAN RASAU JAYA, KABUPATEN KUBU RAYA)

Kelompok masyarakat (MPA dan non MPA) yang memiliki partisipasi tinggi disebabkan karena masyarakat merasakan secara langsung maupun tidak langsung manfaat dari pencegahan kebakaran lahan. Masyarakat paham dan mengetahui fungsi pentingnya kawasan hutan dan lahan sehingga masyarakat merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan melindungi serta melestarikan keberadaan kawasan tersebut. Sejalan dengan pendapat Wibowo (2013) yang menjelaskan bahwa kelestarian hutan bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kesadaran atau peran partisipasi
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Petani terhadap Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut

Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Petani terhadap Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut

Tokoh masyarakat memiliki peranan tersendiri dalam memberikan pengaruh kepada petani di lahan gambut untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Nilai dan norma ini masih banyak dipegang teguh oleh petani di daerah-daerah perkampungan yang belum mengalami akulturasi di daerah tersebut. Dukungan tokoh masyarakat tergolong tinggi sebesar 73.33 persen yang mengatakan bahwa sangat berperan penting bagi petani. Sementara dukungan pemerintah yang memiliki peran dalam kebijakan tergolong sedang sebesar 40 persen dan tinggi sebesar 60 persen. Namun yang paling tinggi dukungannya yaitu kelompok tani yang tergolong sedang sebesar 60 persen dan tinggi sebesar 40 persen. Hal ini dapat menjelaskan bahwa keberadaaan kelompok tani sesuai dengan kebutuhan karena banyaknya permasalahan-permasalahan atau kendala- kendala dalam pertanian di lahan gambut yang dapat ditemukan solusinya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Evaluasi Pencegahan Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan di Kab. Katingan Tahun 2016

Evaluasi Pencegahan Bencana Kebakaran Lahan dan Hutan di Kab. Katingan Tahun 2016

ABSTRAK. Bencana merupakan peristiwa yang tidak diinginkan yang sering terjadi baik karena kesengajaan manusia atau dari faktor lingkungan. Kejadian bencana perlu di evaluasi untuk mengetahui efektivitas dari pada bentuk kegiatan pencegahan bencana tersebut. Misalnya mengenai bencana kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten katingan pada Tahun 2016. Jenis penelitian yang digunakan peneliti merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kasus dan teknik pengumpulan data dengan observasi langsung serta kajian dokumen atau literatur. Dari hasil penelitian menjelaskan bahwa bentuk evaluasi pencegahan bencana kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten katingan di tahun 2016 diantaranya seperti adanya penyediaan sarana dan prasarana antisipasi penanggulangan kebakaran lahan, kebun dan hutan. Seperti pembuatan sumur bor, peningkatan kualitas sumberdaya manusia yaitu dengan cara membentuk masyarakat peduli api, sosialisasi mengenai dampak yang akan ditimbulkan dari bencana kebakaran lahan, kebuh, dan hutan. Memberikan peringatan dini serta membertegas hukum bagi pelaku pembakaran lahan, kebun, dan hutan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

SKRIPSI PERAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN  Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi.

SKRIPSI PERAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi.

Peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi telah diatur dalam Pasal 41 dan Pasal 42 undang-undang nomor 31 tahun 1999 juncto undang- undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Peran serta masyarakat dalam menanggulangi tindak pidana korupsi diwujudkan dalam bentuk antara lain mencari, memperoleh, memberikan data atau informasi tentang tindak pidana korupsi dan hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi. Dan kemudian mengenai tata cara pelaksaan peran masyarakat diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dari hasil penelitian ini. Banyak cara yang dapat dilakukan masyarakat agar dapat ikut dalam memberantas tindak pidana korupsi seperti, peran serta melalui peniup peluit ( whistle blower ), melalui Justice Collaborators , melalui media, melalui kegiatan-kegiatan langsung dan melalui pendidikan anti korupsi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah jenis penelitian hukum normatif, karena meneliti norma-norma yang terkandung dalam hukum, serta mengkaji dan meneliti peraturan-peraturan mengenai peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perlu adanya upaya penguatan masyarakat dalam memahami masalah tindak pidana korupsi sehingga masyarakat bias berpartisipasi secara lebih baik dan dapat menghasilkan laporan yang berkualitas mengenai dugaan tindak pidana korupsi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERDA Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran

PERDA Nomor 5 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran

Hal lain yang perlu di perhatikan dalam Peraturan Daerah ini adalah meningkatkan peran serta masyarakat untuk ikut berpartisipasi bersama sama petugas Satuan Pemadam Kebakaran dalam penanggulangan bahaya kebakaran yang terjadi di wilayahnya karena tanpa peran serta masyarakat tersebut sulit bagi petugas Satuan Pemadam Kebakaran dapat secara optimal melaksanakan tugasnya untuk memadamkan api, mengingat sumber daya manusianya yang terbatas.

29 Baca lebih lajut

RENCANA KERJA DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA BANDUNG TAHUN 2015

RENCANA KERJA DINAS PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN KOTA BANDUNG TAHUN 2015

kedepan Kondisi Kota Bandung sebagai kota Metropolitan akan semakin padat bangunan dan gedung yang mengarah pada bangunan vertikal serta semakin padat penduduk, berdasarkan hal tersebut perlindungan kepada masyarakat, aman dari ancaman bahaya kebakaran dengan sistem pencegahan dan penanggulangan yang handal merupakan suatu yang esensial untuk di wujudkan.

27 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN BARAT NOMOR 06 TAHUN 1998 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN BARAT NOMOR 06 TAHUN 1998 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

12. Satuan tugas pemadam kebakaran hutan dan lahan disingkat SATGASDAMKARHUT adalah organisasi karyawan badan usaha yang bergerak dibidang usaha perkebunan, pertanian, pengusahaan hutan, penyiapan lahan transmigrasi, pertambangan dan lain- lain yang diangkat, ditugaskan dan diberi wewenang oleh pimpinan badan usaha yang bersangkutan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan atau lahan didalam dan disekitas areal usahanya.

24 Baca lebih lajut

LAPORAN PELAKSANAAN PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

LAPORAN PELAKSANAAN PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

4. Posko Muara Medak team melakukan patroli di dusun 10(tapak rimau) ditemukan lahan rawan terjadi kebakaran vegetasi semak belukar estimasi luasan 6 Ha di lanjutkan patroli di dusun 10 desa muara medak vegetasi semak belukar estimasi luasan 5 Ha tikor S : 01.75805, E : 104.06435 dan ditemukan kebakaran kecil di lahan masyarakat, tikor S : 01.76409, E : 104.06113 luasan terbakar 5 x 10 m. Tl ; melakukan pemadaman & api padam. 5. Posko Pulai gading team melakukan patroli di

8 Baca lebih lajut

PERAN KERJASAMA TIM DALAM PENANGGULANGAN KEBARAN HUTAN DAN LAHAN

PERAN KERJASAMA TIM DALAM PENANGGULANGAN KEBARAN HUTAN DAN LAHAN

tumbuhan mati pada kebakaran dimana sel-sel hidup sampai ke titik lethal. Jaringan-jaringan dengan isi kandungan kelembaban yang lebih tinggi dapat mati pada temperatur rendah dalam waktu singkat. Jika panas yang dihasilkan memungkinkan vegetasi hidup maka

12 Baca lebih lajut

PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN TERJADINYA kebakaran

PENANGGULANGAN DAN PENCEGAHAN TERJADINYA kebakaran

Makalah ini menyajikan tentang peran udara dalam kehidupan manusia dan dunia. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan usia bumi sudah semakin tua dan arus modernisasi, globalisasi. Sehingga dari akibat tersebut dapat mempengaruhi perubahan iklim di muka bumi. Makalah ini mempunyai tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembacanya maupun pihak yang terkait didalamnya serta dapat memberikan motivasi atau dorongan agar memiliki rasa cinta yang besar terhadap lingkungan sekitarnya.

18 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI WILAYAH KABUPATEN NUNUKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI WILAYAH KABUPATEN NUNUKAN

Menimbang ; a bahwa kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan, terganggunya tata air, musnahnya sumber plasma nutfah, berkurangnya keanekaragaman hayati, merugikan masyarakat, mengancam keselamatan manusia dan mahluk hidup lainnya ;

9 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Mengenai Self Compassion pada Petugas Pemadam Kebakaran Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung.

Studi Deskriptif Mengenai Self Compassion pada Petugas Pemadam Kebakaran Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung.

Dalam kesempatan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Komandan Pleton Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung, dijelaskan bahwa kesigapan petugas turut menjadi faktor pendukung keberhasilan proses penanggulangan kebakaran, oleh karena itu petugas pemadam kebakaran memiliki patokan waktu dalam upaya menangani kejadian kebakaran yang disebut dengan “ response tim e”, “ r esponse time” merupakan rekomendasi waktu yang dibutuhkan petugas pemadam kebakaran mulai dari menerima laporan kebakaran dan mampu untuk tiba di lokasi kejadian kebakaran dalam waktu tidak lebih dari 15 menit. Dalam pelaksanaannya petugas pemadam kebakaran sering terkendala dalam mencapai “response time” yang diharapkan, beberapa penyebabnya antara lain karena lokasi kejadian kebakaran yang jaraknya cukup jauh, kepadatan lalu-lintas, akses jalan yang sulit dilalui, ataupun karena lokasi kejadian kebakaran yang telah dipadati oleh kerumunan massa. Ketidaktepatan waktu dalam mencapai “response time” dapat menyebabkan lokasi terdampak kebakaran menjadi semakin meluas, akibatnya masyarakat yang panik menjadi marah dan seringkali meluapkan kekesalannya kepada petugas.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Ketersediaan Sarana Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Sebagai Upaya Mengurangi Kerugian Akibat Terjadinya Kebakaran Di Pt Tyfountex Indonesia.

PENDAHULUAN Analisis Ketersediaan Sarana Pencegahan Dan Penanggulangan Kebakaran Sebagai Upaya Mengurangi Kerugian Akibat Terjadinya Kebakaran Di Pt Tyfountex Indonesia.

Pembangunan industri di berbagai sektor sangat diharapkan karena sangat bermanfaat dalam kemajuan bangsa. Dalam pembangunan industri terdapat beberapa industri dengan sektor besar, sedang maupun industri dengan sektor kecil. Pembangunan industri bertujuan untuk meningkatkan tersedianya lapangan kerja, meningkatkan mutu pembangunan serta upaya mensejahterakan masyarakat. Namun yang sering terjadi adalah kurangnya upaya penerapan serta pencegahan terhadap risiko terjadinya bahaya di tempat kerja yang salah satunya adalah risiko terjadinya kecelakaan ditempat kerja. Salah satu bahaya yang dapat terjadi di tempat kerja adalah terjadinya kebakaran. Menurut Tarwaka (2012), bahaya kebakaran dapat terjadi setiap saat, kapan saja dan dimana saja, karena terdapat banyak peluang yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERAN KERJASAMA TIM DALAM PENANGGULANGAN KEBARAN HUTAN DAN LAHAN

PERAN KERJASAMA TIM DALAM PENANGGULANGAN KEBARAN HUTAN DAN LAHAN

Kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) menimbulkan dampak yang besar dari segi lingkungan, pendidikan, politik, ekonomi, kesehatan, hubungan antar negara dan citra Indonesia di mata dunia. Akibat dari Karlahut telah merusak jutaan hektar lahan dan hutan yang berdampak terhadap kerugian materil dan imateril yang sangat besar.

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects