Top PDF Mediasi Penal Bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum

Mediasi Penal Bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum

Mediasi Penal Bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum

Berdasarkan hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Negeri Kota Bengkulu Boy Syailendra 16 mengatakan bahwa tidak ada standar operasional khusus terhadap pelaksanaan mediasi penal ditingkat Pengadilan Negeri hanya berdasarkan pada UU SPPA dan Perma No 4 tahun 2012. Menurut Hakim Boy para pihak yang datang dalam proses mediasi adalah polisi, jaksa, pelaku, orang tua pelaku, korban, pengacara, petugas pembimbing kemasyarakatan serta pengacara dari pelaku anak. sedangkan tokoh masyarakat dan petugas sosial nyaris tidak pernah ada, boy sendiri tidak mengerti mengapa ke dua pihak ini tidak pernah hadir dalam proses mediasi penal di Pengadilan Negeri Bengkulu. Hal yang dilakukan pertama kali ada memanggil para pihak yang telah disebutkan kedalam ruang sidang yang dibuat senyaman mungkin bagi anak yang berkonflik dengan hukum dengan tidak menggunakan seragam resmi pengadilan, lalu hakim boy memfasilitasi proses mediasi kepada korban dan pelaku dengan seimbang agar pihak korban tidak berprasangka hakim memihak kepada ABH. Lalu mendengarkan berbagai keterangan dari aparat penegak hukum dan petugas PK serta pengacara lalu mendengarkan keterangan dan keinginan dari pihak korban. Apabila proses mediasi berjalan lancar dan disetujui damai maka hakim segera membuat surat penetapan diversi berhasil dan ditanda tangani oleh Ketua Pengadilan Negeri Bengkulu. Hakim boy selalu mengutamakan penyelesaian kasus terhadap anak yang berkonflik dengan hukum secara mediasi untuk mendapatkan win-win solution bagi para pihak seperti kasus pencurian dengan pemberatan yang dilakukan oleh ABH dimana hakim berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan kasus dengan mediasi meskipun terdapat kesulitan yang signifikan pihak korban tidak memiliki keinginan sama sekali untuk mediasi dan mengingkan ABH di jatuhi hukuman penjara. Hakim boy selaku mediator berusaha memberikan
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PERSIDANGAN  Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam Proses Persidangan di Pengadilan Negeri: Studi Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak di Pengadilan N

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PERSIDANGAN Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam Proses Persidangan di Pengadilan Negeri: Studi Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak di Pengadilan N

Michael Last Yuliar Syamriyadi Nugroho. NIM. R 100 14 0014. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Dalam Proses Persidangan di Pengadilan Negeri: Studi Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak di Pengadilan Negeri Magetan. Tesis. Program Pasca Sarjana Magister Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2016.

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

PENDAHULUAN PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

Penulisan hukum dengan judul “ Pertimbangan Polisi Dalam Memberikan Diskresi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum ” adalah asli dan dilakukan oleh peneliti sendiri berdasarkan buku-buku, majalah ilmiah, jurnal, peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta fakta-fakta sosial yang terjadi. Sebagai perbandingan dapat dikemukakan beberapa hasil penelitian oleh beberapa peneliti terdahulu sebagai berikut :

15 Baca lebih lajut

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

Diversi merupakan wewenang dari penegak hukum yang menangani kasus tindak pidana yang dilakukan oleh anak untuk mengambil tindakan meneruskan perkara atau menghentikan perkara. Diversi sebagai usaha mengajak masyarakat untuk taat dan menegakkan hukum negara, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan rasa keadilan sebagai prioritas utama disamping pemberian kesempatan kepada pelaku untuk menempuh jalur non pidana seperti ganti rugi, kerja sosial atau pengawasan orang tuanya. Wewenang penyidikan yang dimiliki oleh Kepolisian adalah proses awal dalam suatu proses peradilan anak. Hal ini disebabkan, dapat tidaknya anak yang berkonflik dengan hukum diproses dalam peradilan anak adalah sangat bergantung dari hasil penyidikan yang dilakukan Kepolisian dengan terlebih dahulu meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan. Dalam hal terhadap anak yang berkonflik dengan hukum, pihak Kepolisian dalam pelaksanaan diskresi dapat melakukan pengalihan perkaranya sehingga anak tidak perlu berhadapan dengan penyelesaian pengadilan secara formal. Dalam Tesis ini, permasalahan yang dibahas adalah mengenai bagaimana pelaksanaan diversi pada tingkat penyidikan di Kepolisian Resort Kota (Polresta) Medan. Diversi yaitu gagasan jika dengan pertimbangan yang layak untuk menghindari stigma (cap jahat) pada anak. Diversi mempunyai pengaruh positif dan negatif bagi anak maupun pihak lain yang terlibat.Terdapat perbedaan antara Telegram Rahasia dengan peraturan perundang-undangan yakni dalam penerapan diversi terhadap anak dalam hal ancaman hukuman, penyidik anak, kesepakatan diversi serta kordinasi dengan pihak penuntut umum (kejaksaan) serta penetapan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri setempat. Pada pelaksanaan diversi di Polresta Medan, pedoman yang digunakan yakni UU No. 11 tahun 2012, Telegram Rahasia Kabareskrim POLRI TR/1124/XI/2006 dan TR/395/ DIT,VI/2008 namun belum menjadikan PP No. 65 Tahun 2015 sebagai Pedoman pelaksanaan diversi. Terdapat beberapa pelaksanaan diversi yang dilakukan Polresta yang tidak sesuai dengan aturan dalam UU No. 11 Tahun 2012. Seharusnya ada aturan yang mengatur mengenai pengawasan dalam pelaksanaan diversi.Sudah sebaiknya peraturan internal Kepolisian yang berkaitan dengan pelaksanaan diversi dan disesuaikan dengan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang di ajukan didepan yaitu bahwa diskresi yang diberikan polisi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum, khusunya anak yang melakukan tawuran, berupa pemberian pengertian dari pihak kepolisian kepada anak terhadap perbuatan yang dilakukan, dan memberikan peringatan tertulis, dan membuat ikrar tidak akan mengulangi perbuatan pidana lagi, merupakan penyelesaian dengan cara diversi berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu dengan pemberian tindakan yang telah disebutkan diatas, telah tercapai perdamaian antara korban dan anak, dan dapat diselesaikan diluar pengadilan, serta anak bisa terhindar dari perampasan kemerdekaan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah Subhanhu Wa Ta’ala atas rahmat yang diberikanNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)”.

16 Baca lebih lajut

Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Di Tingkat Penyidikan (Studi Di Polresta Medan)

Diversi Terhadap Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum Di Tingkat Penyidikan (Studi Di Polresta Medan)

2. Seiring perkembangan zaman, modus operandi kejahatan juga semakin bervariasi dan harus dianggap sebagai ancaman dan tantangan bagi penegakan hukum. Perkembangan zaman dan modernisasi membuat kejahatan tidak hanya dilakukan didalam negeri tetapi juga lintas batas (Transnasional) baik yang tidak terorganisir maupun yang terorganisir. Penerapan konsep Diversi ditakutkan akan menjadi celah bagi pelaku kejahatan yang mempergunakan anak sebagai subyek pelaku, diversi yang tidak memberi efek jera tersebut juga berpotensi akan menjadi celah bagi si anak yang berkonflik dengan hukum untuk melakukan kejahatan serupa lagi atau tindak pidana lainnya. 25
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

SKRIPSI PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

Ahkir kata semoga skripsi ini dapat membantu dalam perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan perkembangan penyelesaian perkara pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum agar kedepannya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan hukum, norma dan nilai yang berkembang dimasyarakat. Namun penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis akan menerima saran dan kritik yang bersifat membangun agar dapat menjadikan penulisan ini menuju kearah yang sempurna.

12 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

PENUTUP PERTIMBANGAN POLISI DALAM MEMBERIKAN DISKRESI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap permasalahan yang di ajukan didepan yaitu bahwa diskresi yang diberikan polisi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum, khusunya anak yang melakukan tawuran, berupa pemberian pengertian dari pihak kepolisian kepada anak terhadap perbuatan yang dilakukan, dan memberikan peringatan tertulis, dan membuat ikrar tidak akan mengulangi perbuatan pidana lagi, merupakan penyelesaian dengan cara diversi berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu dengan pemberian tindakan yang telah disebutkan diatas, telah tercapai perdamaian antara korban dan anak, dan dapat diselesaikan diluar pengadilan, serta anak bisa terhindar dari perampasan kemerdekaan. B. Saran
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

REALISASI PEMENUHAN HAK ANAK YANG DIATUR DALAM KONSTITUSI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PEMIDANAAN.

REALISASI PEMENUHAN HAK ANAK YANG DIATUR DALAM KONSTITUSI TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PEMIDANAAN.

Fenomena kenakalan anak yang semakin meningkat menimbulkan keprihatinan dan perhatian yang intensif dalam upaya penanggulangannya, upaya penanggulangan perkara anak yang berkonflik dengan hukum harus dibedakan dengan penanganan perkara pidana orang dewasa mengingat anak mempunyai mental dan pola pikir dan fisik yang berbeda dengan orang dewasa, dan supaya kepentingan serta hak-hak anak yang telah diatur dalam konstitusi itu dapat dilindungi. Penanganan anak yang melakukan kenakalan harus ditangani secara khusus dengan tetap memperhatikan hak-hak anak seperti hak mendapatkan pendididkan, kasih sayang dari orangtua serta hak untuk tumbuh dan berkembangnya anak.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KEADILAN UNTUK ANAK : PENGUATAN SISTEM HUKUM ADAT DALAM PENANGANAN ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

KEADILAN UNTUK ANAK : PENGUATAN SISTEM HUKUM ADAT DALAM PENANGANAN ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

Setelah gempa bumi dan Tsunami di Aceh, mulai masa tanggap darurat sampai tahap pengembangan terdapat beberapa perbaikan telah dibuat dalam sistem peradilan anak. Ada Qanun No. 11 tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dengan beberapa regulasi teknis dan didukung dengan Qanun No. 9 tahun 2008 tentang Hukum Adat Aceh, dan juga dalam Qanun No. 10 tahun 2008 tentang Lembaga Adat Aceh yang menyediakan payung hukum yang akan digunakan untuk anak-anak yang berkonflik dengan hukum berdasarkan kepentingan dan menghormati hak-hak dasar mereka. Oleh karena itu pelaksanaan di tingkat Gampong (administrasi pemerintah terkecil di masyarakat) dapat menyusun aturan mereka sendiri untuk mengoperasionalkan hukum provinsi dan kabupaten. Terdapat persepsi yang salah dalam menafsirkan hukum dan kondisi ini menjadi alasan untuk memperkuat regulasi teknis yang memperkenalkan prinsip hak-hak anak dengan memuat pedoman yang jelas untuk menerjemahkan semangat hukum peradilan anak dalam proses diversi dan pendekatan peradilan restoratif yang menjadi komponen utama yang harus dipertimbangkan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM

TESIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM

Tujuan penulis meneliti mengenai bagaimanakah pelaksanaan pembinaan anak yang berkonflik dengan hukum sesuai prinsip yang terdapat dalam Standard Minimum Rules for The Administration of Juveniles Justice/Beijing Rules dan The United Nations Rules for The Protection of Juvenile Deprived of Liberty/JDL, adalah untuk mendeskripsikan sejauhmana pelaksanaan dan pembinaan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum sesuai prinsip yang terdapat dalam Standard Minimum Rules for The Administration of Juveniles Justice/Beijing Rules dan The United Nations Rules for The Protection of Juvenile Deprived of Liberty/JDL dan untuk mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembinaan anak berkonflik dengan hukum.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KETIKA ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM STUDI TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI PENGADILAN NEGERI MAGETAN

KETIKA ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM STUDI TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI PENGADILAN NEGERI MAGETAN

c. Perlindungan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dalam proses persidangan di pengadilandilakukan dalam bentuk: (1) selama proses persidangan, anak diperiksa dalam suasana kekeluargaan, (2) pelaksanaan sidang dilakukan secara tertutup, (3) sidang dilakukan dengan hakim tunggal, (4) berdasarkan hasil laporan pembimbing kemasyarakatan, (5) didampingi oleh orangtua atau wali, penasihat hukum dan pembimbing kemasyarakatan, (6) penjatuhan pidana yang lebih ringan dari orang dewasa, serta (7) sanksi hukum terhadap pelaku pidana anak yang lebih hati-hati. Dalam hal ini, bagi Hakim, dapat direkomendasikan beberapa hal berikut, yaitu: (1) penguasaan terhadap teori dan praktek perlindungan hukum bagi anak yaitu dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal tersebut mengingat adanya anak pelaku tindak pidana, tidak selalu sebagai pelaku, akan tetapi juga korban pengaruh kondisi lingkungan yang buruk.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PERSIDANGAN  Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam Proses Persidangan di Pengadilan Negeri: Studi Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak di Pengadilan N

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM PROSES PERSIDANGAN Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam Proses Persidangan di Pengadilan Negeri: Studi Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak di Pengadilan N

Faktor penyebab anak melakukan tindak pidana adalah ekonomi, perceraian orang tua, lingkungan pergaulan anak dan kemajuan teknologi informasi. Pemidanaan terhadap anak pasca berlakunya Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah untuk anak yang belum berumur 12 tahun diserahkan kembali ke orang tua/wali dan diikutsertakan dalam pendidikan dan pembimbingan LPKS, sedangkan untuk anak yang berumur 12 sampai dengan 14 tahun dikembalikan ke orang tua/wali dan perawatan di LPKS. Adapun untuk anak yang berusia 15 sampai dengan 18 tahun berupa pidana pokok dan pidana tambahan. Dalam proses persidangan di pengadilan, perlindungan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dilakukan dengan cara: diperiksa dalam suasana kekeluargaan, sidang secara tertutup, sidang dengan hakim tunggal, berdasarkan hasil laporan pembimbing kemasyarakatan, didampingi orang tua/wali, penasihat hukum dan pembimbing kemasyarakatan, penjatuhan pidana yang lebih ringan dari orang dewasa serta sanksi hukum terhadap pelaku pidana anak.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

Diversi Terhadap Anak yang Berkonflik Dengan Hukum di Tingkat Penyidikan (Studi di Polresta Medan)

---, dan Widati Wulandari, Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia Hukum Perlindungan Perempuan dan Anak ed.. USAID, The A[r]

4 Baca lebih lajut

TESIS PENAHANAN ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM LINGKUP SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

TESIS PENAHANAN ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM LINGKUP SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan kekuatan, Rahmat, Taufik dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan judul PENAHANAN ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DALAM LINGKUP SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Hukum Peradilan di Universitas Airlangga ini dengan lancar.

13 Baca lebih lajut

KETIKA ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM STUDI TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI PENGADILAN NEGERI MAGETAN

KETIKA ANAK BERKONFLIK DENGAN HUKUM STUDI TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI PENGADILAN NEGERI MAGETAN

c. Perlindungan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dalam proses persidangan di pengadilandilakukan dalam bentuk: (1) selama proses persidangan, anak diperiksa dalam suasana kekeluargaan, (2) pelaksanaan sidang dilakukan secara tertutup, (3) sidang dilakukan dengan hakim tunggal, (4) berdasarkan hasil laporan pembimbing kemasyarakatan, (5) didampingi oleh orangtua atau wali, penasihat hukum dan pembimbing kemasyarakatan, (6) penjatuhan pidana yang lebih ringan dari orang dewasa, serta (7) sanksi hukum terhadap pelaku pidana anak yang lebih hati-hati. Dalam hal ini, bagi Hakim, dapat direkomendasikan beberapa hal berikut, yaitu: (1) penguasaan terhadap teori dan praktek perlindungan hukum bagi anak yaitu dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal tersebut mengingat adanya anak pelaku tindak pidana, tidak selalu sebagai pelaku, akan tetapi juga korban pengaruh kondisi lingkungan yang buruk.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

TESIS KEBIJAKAN KEJAKSAAN DALAM PENANGANAN ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM

TESIS KEBIJAKAN KEJAKSAAN DALAM PENANGANAN ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM

Bertitik tolak dari masalah kepentingan anak maka berkembang konsep keadilan restoratif dan konsep diversi yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam penanganan kasus anak. Konsep Diversi merupakan alternatif penanganan anak yang berkonflik dengan hukum agar anak tidak masuk kedalam proses peradilan sehingga akan menimbulkan stigma buruk terhadap anak. Terdapatpermasalahan dimana belum ada kebijakan dalam lingkup instansi Kejaksaan Republik Indonesia terkait konsep Diversi sehingga tidak terdapat dasar peluang jaksa untuk melakukan Diversi terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas,penelitian tesis ini difokuskan berikut ini: Bagaimanakah kebijakan kejaksaan dalam penangananterhadap anak yang berhadapan dengan hukum di Indonesia saat ini dan bagaimana implementasi diversi yang dilakukan oleh Jaksa terhadap Anak yang berkonflik dengan hukum setelah berlakunya UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan,pendekatan konseptual dan pendekatan terhadap 2 (dua) kasus diversi berdasarkan Penetapan Pengadilan Mojokerto dan Pengadilan Pamekasan. Berdasarkan analisa disimpulkan bahwa diversi dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan Anakdari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan Anak dapat kembalikedalam lingkungan sosial secara wajar. Implementasi konsep Diversi yang dilakukan oleh Jaksa terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum dapat terlaksana, karena UU SPPA telah diatur konsep Diversi terhadap Anak yang berhadapan dengan hukum. Namun demikian, sebagaimana hakim yang telah mempunyai landasan dalam menerapkan diversi berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No.14 Tahun 2014, maka diharapkan segera diterbitkan Peraturan Kejaksaan Agung yang menjadi landasan hukum bagi pihak Kejaksaan sehingga dapat mengimplementasikan Diversi secara tegas.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

EKSISTENSI HUKUM POSITIF DALAM OPTIMALISASI UPAYA DIVERSI TERHADAP PERKARA ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

EKSISTENSI HUKUM POSITIF DALAM OPTIMALISASI UPAYA DIVERSI TERHADAP PERKARA ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM.

10 Terdapat penegasan, penambahan dan perubahan ketentuan terkait diversi yang sebelumnya belum diatur dalam UU SPPA. Penegasan ketentuan terkait diversi misalnya terdapat dalam ketentuan mengenai landasan pelaksanaan diversi yang mulanya terdapat dalam Pasal 7 UU SPPA sekarang ditegaskan kembali dalam Pasal 3 PP pedoman diversi. Terdapat penambahan ketentuan pada pasal 4 PP pedoman diversi disebutkan bahwa dalam hal diversi tidak diupayakan walaupun syarat telah terpenuhi, demi kepentingan terbaik bagi anak, pembimbing kemasyarakatan dapat meminta proses diversi kepada penegak hukum. Penambahan ketentuan juga terdapat dalam pasal 6 ayat (4) PP pedoman diversi yang menyatakan kesepakatan diversi dilakukan oleh penyidik, penuntut umum, dan hakim atas rekomendasi pembimbing kemasyarakatan. Pasal 8 PP pedoman diversi juga merupakan penambahan dari ketentuan sebelumnya yang mengatur dalam hal kesepakatan Diversi dengan persetujuan korban dan tanpa persetujuan korban mensyaratkan pembayaran ganti kerugian atau pengembalian pada keadaan semula, kesepakatan diversi dilakukan dalam jangka waktu yang telah disepakati dalam diversi, namun tidak boleh melebihi 3 (tiga) bulan. Dalam hal kesepakatan diversi mewajibkan dilaksanakannya kewajiban selain bentuk diversi dengan persetujuan korban dan tanpa persetujuan korban, kesepakatan diversi dilaksanakan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan dan dapat diperpanjang paling lama 3 (tiga) bulan. Pasal 11 PP pedoman diversi juga merupakan penambahan dari ketentuan sebelumnya yang mengatur
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum - Ubharajaya Repository

BAB I PENDAHULUAN - Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum - Ubharajaya Repository

Dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa masih banyak terdapat penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak yang disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor itu misalnya dampak negatif dari perkembangan yang cepat, arus globalisasi dibidang komunikasi dan informasi, kemajuan IPTEK maupun perubahan dan gaya hidup sebagian orangtua yang telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. 3
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects