Top PDF Membangun budaya literasi informasi bagi masyarakat kampus

Membangun budaya literasi informasi bagi masyarakat kampus

Membangun budaya literasi informasi bagi masyarakat kampus

Dari paparan di atas, jelas bahwa menggiatkan budaya literasi dirasa penting di lingkungan kampus. Mempublikasikan tulisan kepada khalayak tentu saja bukan hanya tugas seorang akademisi, seperti dosen,tetapi juga harus dimulai dari kalangan mahasiswa sehingga kemajuan bangsa dapat mengalami percepatan. Penguasaan menulis juga harus diiringi dengan kegiatan membaca yang kontinu serta penguasaan bahasa asing yang mumpuni, khususnya Bahasa Inggris. Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat maka mahasiswa juga berkewajiban menularkan kesadaran membaca itu kepada masyarakat sekitar. Bagaimanapun, masyarakat Indonesia secara umum belum memiliki kesadaran tinggi dalam membaca. Karena globalisasi telah menciptakan ruang aktualisasi yang luas, dunia akan memandang sebuah bangsa dari karya yang dihasilkannya. Robert A.Day mengatakan: “Scientist are measured primarily not by their dexterity in laboratory manipulations, not by their innate knowledge of their board or narrow scientific subjects, and certainly not by their wit or charm; they are measured,and become known (or remained unknown) by their publications.”
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Gerakan Literasi Masyarakat dalam Perkembangannya Gerakan Indonesia Membaca Upaya Menumbuhkan Budaya Baca untuk Semua Kampung Literasi Ciptakan Masyarakat Pembelajar Literasi Keluarga Bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter

Gerakan Literasi Masyarakat dalam Perkembangannya Gerakan Indonesia Membaca Upaya Menumbuhkan Budaya Baca untuk Semua Kampung Literasi Ciptakan Masyarakat Pembelajar Literasi Keluarga Bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter

Selama ini literasi sering ‘diterjemahkan’ hanya keaksaraan. Padahal keaksaraan atau program pemberantasan buta huruf, hanya sebagian kecil dari literasi, yaitu bagian dari literasi baca tulis. Sementara kelima literasi lainnya, hampir di semua sektor tidak pernah disentuh. Untuk itu, di Kampung Literasi dikembangkan program enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi keuangan, literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Pentingnya literasi dikenalkan kepada masyarakat salah satunya agar masyarakat dapat lebih bijak dalam memanfaatkan informasi yang dimiliki serta mandiri dalam memilah memilih data dan informasi yang bermanfaat. Pada literasi keuangan misalnya, masih banyak orang yang belum paham hingga
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

MEMBANGUN MASYARAKAT INFORMASI BERBASIS KELOMPOK

MEMBANGUN MASYARAKAT INFORMASI BERBASIS KELOMPOK

Beberapa anggota KIM telah memanfaatkan internet dalam memberi nilai tambah bagi kehidupan mereka, tidak hanya sosial budaya, tetapi juga secara ekonomi. Anggota KIMsering ikut bergabung dalam berbagai kegiatan pameran, terutama pameran industri. Salah satu yang telah berhasil adalah industri batik dengan menggunakan pewarna asli yang berasal dari tumbu- han langsung, tidak menggunakan zat kimia. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan tidak hanya KIM seb- agai kelompok, namun juga individu yang bersangku- tan dapat meningkat kehidupan ekonominya. Dan yang paling penting dapat menekan angka pencemaran lim- bah akibat penggunaan pewarna kimiawi yang selama ini digunakan dalamproses pewarnaan batik. Seperti diketahui beberapa desa sudah banyak yang tercemar limbah batik, sehingga airnya tidak layak untuk dikon- sumsi. Adanya inovasi dalam penggunaan pewarna asli ini menunjukkan bahwa KIM juga ikut terlibat dalam penataan lingkungan yang sehat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika masyarakat mendukung eksistensi KIM ditengah kehidupan mereka. Aktivitas KIM telah dirasakan manfaatnya baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat sekitar. Dukungan ter- hadap KIM Kraton Kidul semakin besar, ini pula kemu- dian mendorong Pemkot untuk terus mendukung akti- vitas KIM di masyarakat. Bahkan KIM Kraton Kidul sering diberi kesempatan untuk ikut serta dalam berb- agai kegiatan yang bertaraf nasional.Tentu saja ini ti- dak terlepas dari kerjasama berbagai pihak yang terkait dengan kegiatan KIM. Sehingga tidaklah mengherank- an jika eksistensi KIM semakin dipercaya sebagai lem- baga yang mandiri yang mampu membawa masyarakat untuk mandiri, kreatif dan inovatif.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Membangun Budaya Literasi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menghadapi Era MEA

Membangun Budaya Literasi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menghadapi Era MEA

15 memang menjadi solusi cepat kegamangan tadi, apalagi dua dari anggota ASEAN merupakan bagian dari negara-negara persemakmuran (Commonwealth). Namun sejauh mana keefektifannya? Demikian banyak pertanyaan terkait bahasa dalam konteks ini. Untuk bangsa Indonesia hal ini menjadi tantangan yang besar karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang paling banyak penuturnya. Apakah Bahasa Indonesia sudah siap menjadi bahasa ASEAN? Apakah cukup hanya berbasis sebagai penutur terbesar? Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia di tanah air sudah dipersiapkan sebagai bahasa kawasan? Hal ini merupakan bentuk problematika era MEA. Ada hal yang positif berkenaan MEA seperti yang di ungkapkan oleh [10] yang menyampaikan bahwa hal positif yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia adalah, kemungkinan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ASEAN karena banyak masyarakat pengguna bahasa Indonesia yang serumpun dengan bahasa Melayu yang juga digunakan 3 negara lain, yaitu Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Peran Pendidikan Sains Dalam Membangun Literasi Yang Berorientasi Budaya Bangsa Indonesia

Peran Pendidikan Sains Dalam Membangun Literasi Yang Berorientasi Budaya Bangsa Indonesia

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah komunitas ASEAN di bidang Ekonomi. Pilar-pilar MEA harus didukung dengan tenaga kerja ahli dalam berbagai bidang. SDM merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi yaitu menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global.Sains (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang menuntut siswa mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah.Literasi bukan hanya membaca dan menulis tetapi tentang bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat. Pembelajaran sains salah satu berkontribusi dalam menumbuhkan literasi diberbagai bidang yang berorientasi nilai-nilai budaya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

membangun karakter bangsa melalui literasi digital

membangun karakter bangsa melalui literasi digital

Literasi digital membuat masyarakat dapat mengakses, memilah dan memahami berbagai jenis informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup seperti kesehatan dan pengasuhan anak, keluarga. Selain itu mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berpolitik dengan menyampaikan aspirasinya di kanal-kanal tertentu. Melalui media digital, masyarakat dapat menyuarakan perspektif dan opininya demi keadilan tanpa merugikan pihak lain. Tujuan ekonomi juga dapat dicapai melalui literasi digital melalui pemahaman mengenai transaksi online.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Membangun Budaya Literasi Bagi Anak Autis Memakai Media Kliping Bergambar

Membangun Budaya Literasi Bagi Anak Autis Memakai Media Kliping Bergambar

Astuti, Puji. 2014. Mengenal Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus Menuju Layanan Belajar – Sebagai Pengetahuan Dasar Bagi Orangtua, Masyarakat, Pemerhati dan Guru Reguler Pada Sekolah Penyelenggara Inklusif. Jakarta : PKLK Dikdas

13 Baca lebih lajut

Literasi informasi dan media di era pasca kebenaran: membangun daya kritis publik melalui institusi perpustakaan

Literasi informasi dan media di era pasca kebenaran: membangun daya kritis publik melalui institusi perpustakaan

membawa beberapa akibat, antara lain: peredaran industri berita yang hanya mengedepankan judul sensasional untuk menarik pengunjung atau disebut‘clickbait’, mendorong terjadinya filter bubble atau kondisi di mana algoritma mesin pencari dan media sosial cenderung menampilkan informasi yang sesuai dengan selera/pandangan pribadi pengguna, dan menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat akibat berita yang simpang siur. Menghadapi fenomena ini, perpustakaan harus turut berperan dalam melatih daya kritis pemustaka. Salah satu yang menjadi tugas pustakawan adalah menguasai kemampuan berpikir kritis dan mengevaluasi informasi yang beredar dengan alat yang ada, serta mengajarkannya pada pemustaka. Materi-materi tersebut dapat disampaikan dalam pendidikan literasi informasi yang selama ini telah dilakukan oleh banyak perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Model literasi budaya masyarakat Tatar Karang di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya

Model literasi budaya masyarakat Tatar Karang di Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya

Strategi pengembangan budaya Sunda perlu penegasan, khususnya mengenai konsep pelestarian budaya. Pelestarian budaya dilakukan sebagai usaha untuk memper- tahankan eksistensi budaya dihadapan para generasi muda sebagai penerus tatanan nilai- nilai luhur budaya. Proses pelestarian budaya bisa dilakukan dengan transfer pengetahuan dari para tokoh budaya atau budayawan kepada para generasi penerus. Proses transfer kebudayaan dapat dilakukan melalui model konversi pengetahuan yakni proses sosialisasi, proses eksternalisasi, proses kombinasi, dan proses internalisasi (Nonaka, 1998). Melalui model konversi pengetahuan ini diharapkan masyarakat yang memiliki pengetahuan bersifat tacit dapat mengembangkan pengetahuannya menjadi pengetahuan explicit. Dengan demikian diharapkan budaya terus berkembang sejalan dengan kehidupan masyarakat pemilik kebudayaan baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Apabila proses transfer pengetahuan budaya dapat dilakukan secara berkelanjutan maka akan terbangun masyarakat yang melek pengetahuan budaya bahkan bisa membangun masyarakat yang melek informasi budaya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Literasi Jurnalisme Kelompok Informasi Masyarakat Kabupaten Bandung

Literasi Jurnalisme Kelompok Informasi Masyarakat Kabupaten Bandung

Jika dibandingkan dengan KIM Kabupaten Pangandaran, seperti bisa dirujuk dari hasil penelitian Yalia (Yalia, 2015) , KIM Kabupataen Bandung sudah cukup berkembangan, baik dari sisi kelembagaan, networking, ataupun pembinaan dan pengembangannya. Hal serupa, seperti yang diteliti Yalia tersebut, KIM Kabupaten Bandung, telah menggunakan TIK untuk melakukan distribusi/ publikasi informasi daerahnya masing-masing, khususnya media sosial dan media KIM yang difasilitasi oleh pemerintah daerah. Bahkan, berdasarkan perkembangan yang terjadi di dalam grup WAG, anggota KIM Kabupaten Bandung sudah diarahkan dan dibina untuk selalu melakukan literasi informasi sebelum berita disebarkan kepada yang lain. Literasi informasi merupakan kemampuan dalam memahami beragam kebutuhan informasi, termasuk di dalamnya mencari, serta menentukan informasi, membangun serta menyusun informasi secara etis untuk disajikan kepada orang lain (Nurohman, 2014). Hal ini merupakan bagian dari pengembangan keterampilan anggota KIM Kabupaten Bandung.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Membangun Literasi Budaya Lokal Kepada Generasi Z Melalui Tradisi Weh-Wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Membangun Literasi Budaya Lokal Kepada Generasi Z Melalui Tradisi Weh-Wehan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Sumber data primer generasi Z masyarakat yakni ketua karang taruna, pelajar/mahasiswa, dengan dilengkapi data sekunder generasi Y yang merupakan Ketua IPNU Kabupaten Kendal. Menggunakan teknik snowball sampling merupakan teknik pengambilan sumber data yang diawal jumlahnya sedikit belum memenuhi data yang lengkap, maka harus mencari orang lain sebagai sumber data 22 . Dengan cara peneliti memilih informan tertentu sesuai pertimbangan yang akan memberikan data yang diperlukan, selanjutnya berdasar data yang diperoleh dari sampel sebelumnya peneliti menetapkan sampel lain untuk memberikan data yang lengkap. Analisis dari setiap hasil akan disamakan untuk mencari informasi terbaru dan disertai bukti pendukung seperti gambar.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Gerak Literasi Komunitas Tanah Ombak, Membangun Habitus Baru Dalam Masyarakat Marjinal  Kota Padang

Gerak Literasi Komunitas Tanah Ombak, Membangun Habitus Baru Dalam Masyarakat Marjinal Kota Padang

Tulisan ini akan membahas tentang aktivitas Komunitas Tanah Ombak, sebuah komunitas budaya yang menjadi penggerak literasi di lingkungan masyarakat Purus, wilayah pinggir pantai yang merupakan kawasan hunian masyarakat marjinal kota Padang. Aktivitas kelompok ini diangkat sebagai bahan kajian karena beberapa hal. Pertama, ruang sosial yang menjadi target gerakan merupakan wilayah marjinal yang dihuni masyarakat pinggiran yang selama ini tidak mendapat peluang dalam mengakses pendidikan, kesempatan kerja dan perbaikan ekonomi. Lingkungan ini mendapat stigma negatif sebagai wilayah yang menjadi ‘pembibitan’ pelaku kejahatan, karena ketimpangan ekonomi yang membelit kehidupan mereka. Komunitas ini memfokuskan diri kepada anak-anak dan remaja di lingkungan itu, yang selama ini selalu luput dari perhatian, baik perhatian pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga sosial yang ada. Kedua, aktivitas literasi yang bervariasi. Komunitas Tanah Ombak tak hanya sekedar mengenalkan bacaan, tetapi menyajikannya dalam beragam kegiatan seni, yang memungkinkan anak-anak Tanah Ombak mampu mengembangkan bakat seni dan berprestasi di bidang yang diminati. Ketiga, beragam kegiatan seni itu dipanggungkan dalam acara reguler yang digelar dalam lingkungan mereka sendiri. Pertunjukan mereka tidak hanya menjadi tontonan masyarakat sekitar, akan tetapi mendapat perhatian dari lingkungan luar, yang memungkinkan anak-anak Tanah Ombak mampu membangun rasa percaya diri, merasa mendapat apresiasi dari orang-orang yang tak terbayangkan akan mengunjungi pemukiman mereka. Dengan membingkaikan dalam proposisi teoretis Bourdieu, tentang habitus dan ruang sosial, kajian ini akan berusaha mengungkapkan bagaimana sebuah gerakan sosial akan dapat membangun habitus baru di lingkungan marjinal.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Konsep Literasi Informasi dan Media dalam Pengarusutamaan Berita Desa oleh Gerakan Desa Membangun (GDM).

Konsep Literasi Informasi dan Media dalam Pengarusutamaan Berita Desa oleh Gerakan Desa Membangun (GDM).

Kondisi ketersediaan media dan akses informasi dan kondisi pemerintahan di Desa Melung setelah menjadi anggota GDM lebih menunjang, sedangkan di Desa Cibiru Wetan tidak ada bedanya karena sama-sama dinilai baik. Sedangkan kondisi kemampuan literasi informasi dan media masyarakat Desa Melung mengalami peningkatan setelah adanya GDM walau belum signifikan dibanding perkembangan Desa Cibiru Wetan yang cenderung stagnan.

2 Baca lebih lajut

Membangun Literasi Matematika berbasis Budaya Lokal: Studi Pemikiran dan Praktik Guru Matematika SMP.

Membangun Literasi Matematika berbasis Budaya Lokal: Studi Pemikiran dan Praktik Guru Matematika SMP.

H.J. Wibowo, Emiliana Sadilah, & Ani Rostiyati. (1991). Sistem pengetahuan tradisional masyarakat Jawa: Studi tentang simbolisme dan pengetahuan flora fauna. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan, Depdikbud.

13 Baca lebih lajut

Membangun Literasi Masyarakat Melalui Taman Bacaan Masyarakat: Eksplorasi Pengalaman Community Engagement Program  di Cot Lamme – Aceh Besar

Membangun Literasi Masyarakat Melalui Taman Bacaan Masyarakat: Eksplorasi Pengalaman Community Engagement Program di Cot Lamme – Aceh Besar

TABACA Cot Lamme tentang manajemen pengelolaan taman bacaan sebagai bagian dari perpustakaan di desa. Tujuan lainnya juga untuk membangun kesepahaman dan komitmen bersama dalam membangun komunitas membaca melalui TABACA dan kesinambungannya di masa yang akan datang. Pelaksanaan pelatihan ini telah dilakukan dengan berbagai langkah. Pertama, presentasi dan orientasi umum tentang konsep-konsep terkait dengan taman bacaan masyarakat, perpustakaan, sistem tata kelola taman bacaan dan strategi peningkatan minat baca di masyarakat desa. Kedua, demontrasi visual yang bertujuan untuk memahami aspek-aspek penting dari katalogisasi buku di sebuah perpustakaan. Ketiga, latihan- latihan sederhana pengolahan buku, mulai dari tahapan klasifikasi-katalogisasi buku sampai tahan pelabelan buku sebelum diletakkan di rak. Keempat, diskusi interaktif antara pembicara, fasilitator dengan peserta pelatihan dari setiap topik atau informasi yang dipresentasikan sebagai bagian dari pertisipasi, interaksi dan umpan balik
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Budaya Masyarakat Dalam Membangun Rumah Vernakular Di Pesisir Pantai

Budaya Masyarakat Dalam Membangun Rumah Vernakular Di Pesisir Pantai

Kajian penelitian ini menggunakan pendekatan studi mikro dengan kasus di Padang, Sumatra Barat. Langkah-langkah observasi meliputi: (1) persiapan tim: penyusunan tim riset arsitektur. Pembagian tugas dan rancangan aktivitas dibuat dalam suatu jadwal pelaksanaan riset; (2) kajian referensi rumah vernakular Indonesia: kajian referensi dilakukan sebagai landasan riset empiris yang dilakukan; (3) survei awal: dilakukan oleh dua surveyor arsitektur untuk survei operasional pendahuluan, yang bertujuan memasukan proses perizinan dan menghubungi perguruan tinggi setempat dalam upaya pencarian informasi awal; (4) observasi lapangan: dilakukan oleh seluruh peserta riset arsitektur dalam upaya pencarian data keberadaan rumah- rumah vernakular, dengan langkah awalnya mencari informasi pada jurusan arsitektur salah satu perguruan tinggi setempat. Selanjutnya menuju lokasi-lokasi yang diarahkan, yang didapat dari informasi awal; (5) wawancara: proses wawancara dilakukan terhadap penduduk setempat, dimana rumah vernakular yang didapat menjadi objek riset arsitektur; (6) pengukuran: dilakukan secara manual dengan menggunakan alat pengukur manual dan dilakukan terhadap objek riset arsitektur yang telah ditetapkan; (7) dokumentasi berupa foto dan sketsa: untuk mendukung pencarian data yang lebih lengkap, dilakukan proses dokumentasi dengan foto kamera digital dan juga melakukan sketsa untuk detail-detail arsitektural dan detail-detail struktur yang unik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR MAHASISWA MELALUI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

MEMBANGUN BUDAYA BELAJAR MAHASISWA MELALUI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

dan perbuatan mendidiknya dilakukan tanpa refleksi yang arif, berlangsung serampangan asal berbuat saja, dan tidak disadari benar, maka tenaga pengajar yang melakukan perbuatan demikian adalah orang lalai, tipis moralnya, dan bisa berbahaya secara sosial. Karena itu konsepsi pendidikan yang ditentukan oleh akal budi manusia itu sifatnya juga harus etis, tanpa pertanggungjawaban etis ini perbuatan tersebut akan membuahkan kesewenangwenangan terhadap anak- didiknya. Peran seorang pengajar selain mentransformasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada anak didik juga bertugas melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi tenaga pengajar pada perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 20 Pasal 39 ayat 2.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LITERASI DIGITAL DAN LITERASI MEDIA PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA LITERASI DIGITAL DAN LITERASI MEDIA PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA

Banyak literatur menjelaskan bahwa literasi media senantiasa dikaitkan dengan pendidikan bermedia. Permasalahannya mengapa bermedia perlu dilakukan sebuah literasi?, hal ini karena masyarakat kita bersifat heterogin, jika dilihat dari etnisitas, agama, insfrastruktur, pendidikan, pengetahuan, latar belakang profesi, geografis dan berbagai factor lainnya. Varian kesenjangan dan perbedaan berbagai factor tersebutberdampak pada kemampuan konsumen media dalam mengakses informasi. Keanekaragaman indicator itu juga yang mengakibatkan perbedaan cara pandang masyarakat dalam memahami setiap content media (Potter,2001:5). Pemahaman terhadap literasi media, tersebut merupakan salah satu konsep untuk membangun pengetahuan konsumen terhadap tekanan isu-isu media. Literasi media juga memberikan penekanan kepada setiap individu konsumen media di masyarakat melakukan control terhadap content media yang dimungkinkan dapat mempengaruhi budaya konsumen (Potter,2001:7). Literasi media di- definisikan Devito (2008:4), sebagai kemampuan untuk memahami, menganalisis, mengakses dan memproduksi pesan komunikasi massa. Literasi media merupakan bentuk pemberdayaan (empowerment) agar konsumen bisa menggunakan media lebih cerdas, sehat dan aman.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BUDAYA LITERASI MASYARAKAT MADANI DAN GL (1)

BUDAYA LITERASI MASYARAKAT MADANI DAN GL (1)

Dalam jarak, ruang, dan waktu yang dekat, sempit, dan singkat ini kita (masyarakat) tidak perlu berpanjang-panjang bicara tentang apa itu (istilah) global, globalisasi, dan/atau globalisme. Rujukan tentang itu telah tersedia (puluhan bahkan mungkin ratusan) dan bertebaran di mana-mana (pusat-pusat penelitian, kampus-kampus, perpustakaan-perpustakaan, ruang-ruang seminar, dll.). Memperdebatkan hal (istilah) itu hanyalah menghabiskan energi dan hasil yang diperoleh hanya (pula) berupa sebuah “keadaan tertentu” sebagai wujud nyata dampak dari globalisasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam konteks ini, kita pahami dengan cara sederhana saja, bahwa global adalah “secara umum atau keseluruhan”, globalisasi adalah “proses menyeluruh”, dan globalisme adalah sebuah “paham yang menganggap bahwa keseluruhan menjadi hal yang (harus) diperhitungkan”.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

SASTRA ANAK UNTUK MEMBANGUN BUDAYA LITERASI

SASTRA ANAK UNTUK MEMBANGUN BUDAYA LITERASI

221 Sudah menjadi berita biasa jika Indonesia ma- sih menempati peringkat bawah dalam kemampuan literasi. Bisa dilihat survey dari PISA menunjukkan bahwa peringkat siswa Indonesia berada posisi 64 dari 65 negara. Indonesia hanya lebih baik dari negara Peru yang menempati posisi paling buncit dalam survei ini. Indonesia mendapatkan nilai 375 untuk matematika,untuk membaca Indonesia mendapatkan nilai 396 dan ilmiah siswa Indonesia dapat nilai 382. Posisi Indonesia berada pada dasar jurang dalam survei ini. Didapat pula hasil survey dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pada 2012 indeks minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang saja yang punya minat baca. Jika minat baca masyarakat masih rendah dan belum bertumbuh, maka sulit diharapkan budaya menulis akan berkembang.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...