Top PDF Menelisik rasa keadilan pidana pada narapidana wanita

Menelisik rasa keadilan pidana pada narapidana wanita

Menelisik rasa keadilan pidana pada narapidana wanita

Abstrak. Dalam kajian psikologi keadilan dikaji secara subyektif. Dalam kajian tersebut keadilan tidak selalu berdiri sendiri, keadilan selalu harus berada dalam konteks tertentu. Terkait dalam keadilan dalam bidang hukum pidana, keadilan akan merambah pada pihak pelaku atau narapidana, korban dan masyarakat, yang menurut self interest model, mempunyai bentuk dan tuntutan yang berbeda untuk kepentingan diri sendiri, sehingga bias-bias rasa keadilan antar pihak tersebut sangat mungkin mengalami kesenjangan. Pada penelitian ini memfokuskan pada rasa keadilan pada narapidana. Status narapidana merupakan status hukum, yang merupakan hasil dari proses hukum dari mulai kepolisian sampai pengadilan dan sampai pada Lembaga Pemasyarakatan. Dalam proses dari terdakwa dan kemudian menjadi narapidana tentu terlibat secara emosi dan kognisi terkait dengan perlakuan (prosedural), kelayakan antara tindakan dan hukumannya (retributif) serta keyakinan dia tentang kemanfaatan dari pidana yang diterima (restoratif). Untuk itu menarik kiranya untuk menelusuri rasa keadilan pada narapidana, baik keadilan prosedural, keadilan retributif maupun keadilan restoratif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis. Penelitian ini melibatkan 4 orang narapidana wanita dari LP Wanita Klas II A Malang sebagai informan utamanya. Hasilnya menunjukkan bahwa dari ke 4 orang, 3 orang diantaranya merasa bahwa pidana yang diterimanya tidak tepat dan terlalu berat. Selain itu narapidana umumnya merasakan ketidakadilan pada prosedur, terutama yang dilakukan baik di pengadilan, meskipun demikian mereka merasa mendapatkan banyak perubahan dari kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Pengembangan Ide Individualisasi Pidana dalam Pembinaan Narapidana Wanita (Studi Pembinaan Narapidana Wanita Kelas II A Tanjung Gusta Medan)

Pengembangan Ide Individualisasi Pidana dalam Pembinaan Narapidana Wanita (Studi Pembinaan Narapidana Wanita Kelas II A Tanjung Gusta Medan)

Dalam teori The Intimidation Version of Deterrence, juga menekankan kepada special deterrence untuk mengintimidasi mereka yang tergoda melakukan kejahatan maupun untuk orang itu sendiri, maka kesengsaraan lebih besar daripada kenikmatan yang diperoleh dari kejahatan itu. Dalam hal ini penulis menyetujui tindakan tersebut, karena tindakan ini mungkin lebih efektif untuk mencegah berbuat kejahatan lebih lanjut. Karena pada saat ini banyak pelaku kejahatan beranggapan bahwa kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan lebih baik daripada di luar lembaga pemasyarakatan. Di dalam lembaga pemasyarakatan lebih banyak binanya daripada derita yang diterimanya. Untuk menahan godaan agar ia tidak melakukan kejahatan tersebut, maka kepadanya harus diberikan pidana yang besar dan berat. Untuk sebagian orang deterrence ini tidak ampuh, bagi mereka yang tidak ada rasa takut terhadap risiko yang akan diterima apabila ia melakukan kejahatan, bagi pelaku ini memang diperlukan tindakan tegas dalam pemberian hukuman yang berat.
Baca lebih lanjut

376 Baca lebih lajut

DAMPAK PSIKOLOGIS BAGI NARAPIDANA WANITA YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wanita Malang)

DAMPAK PSIKOLOGIS BAGI NARAPIDANA WANITA YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Wanita Malang)

Konsekuensi bagi wanita yang melakukan tindak pidana pembunuhan adalah melaksanakan pidananya di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Kehidupan yang dijalani seorang narapidana selama di Lembaga Pemasyarakatan membuat dirinya menghadapi berbagai masalah psikologis antara lain kehilangan kepribadian diri akibat peraturan dan tata cara hidup di Lembaga Pemasyarakatan, narapidana selalau dalam pengawasan petugas, hilang kemerdekaan misalnya kemerdekaan berpendapat dan melakukan hobby, kebebasan untuk berkomunikasi dengan siapapun dibatasi, narapidana kehilangan akan pelayanan yang berarti harus mampu mengurus dirinya sendiri, kehilangan kasih sayang keluarga, kehilangan harga dirinya, kehilangan akan rasa percaya dirinya dan terampas kreatifitasnya. Dalam mengatasi dampak psikolgis tersebut diperlukan upaya penanggulangan berupa pembinaan dari Lembaga Pemasyarakatan. Pembinaan tersebut berupa pembinaan keterampilan dan pembinaan kepribadian.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pengembangan Ide Individualisasi  Pemidanaan Dalam Pembinaan  Narapidana Wanita

Pengembangan Ide Individualisasi Pemidanaan Dalam Pembinaan Narapidana Wanita

Pada zaman kemerdekaan tercetuslah gagasan pemasyarakatan yang dikemukakan oleh Sahardjo dalam pidato penerimaan gelar honoris causa dalam ilmu hukum dari Universitas Indonesia tanggal 5 Juli 1963. Dalam pidatonya itu beliau memberikan rumusan dari tujuan pidana penjara sebagai berikut: “Di samping menimbulkan rasa derita pada terpidana karena hilangnya kemerdekaan bergerak, membimbing terpidana agar bertobat, mendidik supaya ia menjadi seorang anggota masyarakat sosialis Indonesia yang berguna, dengan perkataan lain, tujuan pidana penjara adalah pemasyarakatan, yang mengandung makna bahwa tidak hanya masyarakat yang diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana, melainkan juga orang-orang yang telah tersesat, diayomi oleh
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

LEMBAGA EKSAMINASI DALAM PERSPEKTIF PERADILAN PIDANA INDONESIA (Upaya Pengujian Terhadap Putusan Hakimyang Jauh Dari Rasa Keadilan Masyarakat).

LEMBAGA EKSAMINASI DALAM PERSPEKTIF PERADILAN PIDANA INDONESIA (Upaya Pengujian Terhadap Putusan Hakimyang Jauh Dari Rasa Keadilan Masyarakat).

Dalam konteks Hukum Pidana, termuat cita-cita peradilan pidana “due process of law” yakni proses hukum yang adil dan layak, pemahaman terhadap proses hukum yang adil dan layak mengandung pula sikap batin yang menghormati hak-hak warga masyarakat. Penjelasan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Lembaga Pemasyarakatan memberikan arahan bahwa tujuan pemidanaan adalah upaya untuk menyadarkan narapidana dan anak pidana untuk menyesali perbuatannya, dan mengembalikannya menjadi warga masyarakat yang baik, taat kepada hukum, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sosial dan keagamaan, sehingga tercapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan damai.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Makna keadilan pidana pada narapidana Lapas Wanita Klas II A Malang

Makna keadilan pidana pada narapidana Lapas Wanita Klas II A Malang

Keadilan sosial juga memiliki dimensi objektif dan subjektif (Faturochman, 2002 ; 21). Hasil penelitian Faturochman (2001 ; 84) menunjukkan bahwa proses penilaian keadilan dapat dikaji berdasarkan prinsip-prinsip psikologi kognitif. Faturochman dan Djamaludin Ancok (2001 ; 41-60) menunjukkan bahwa suatu prosedur yang tepat akan berpengaruh pada penilaian seseorang tentang keadilan prosedural. Psikologi memfokuskan diri pada ranah bagaimana seseorang menjabarkan rasa keadilan, bagaimana seseorang berpendapat dengan melalui pikirannya tentang keadilan (Skitka&Crosby, 2003). Sehingga “apa yang dikatakan adil” adalah berasal dari keterkaitan antara sisi objektif dengan sisi persepsi subjektif tentang keadilan. Dengan kata lain individu menilai suatu keputusan itu adil atau tidak adil, merupakan proses psikologis ditingkat individu (Nuqul, 2008 ; 44) .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERSPEKTIF KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP NARAPIDANA YANG MELARIKAN DIRI PADA SAAT MENJALANI PIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

PERSPEKTIF KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP NARAPIDANA YANG MELARIKAN DIRI PADA SAAT MENJALANI PIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

melarikan diri sebagai kejahatan, perbuatan tersebut dapat meresahkan dan mengabaikan rasa keadilan bagi masyarakat, dimana Lembaga Pemasyarakatan seharusnya tempat mereka menjalani pidananya sampai dengan selesai, namun belum habis masa pidana yang dijalaninya mereka melarikan diri. Akibat perbuatan mereka dapat menimbulkan keresahan dalam masyarakat dan dapat menghambat daripada tujuan sistem peradilan pidana. Oleh karenanya mengingat perbuatan melarikan diri dianggap memenuhi unsur-unsur kriminalisasi, maka perbuatan tersebut dapat dikriminalisasikan. Dengan demikian narapidana yang melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan bisa memberikan efek jera serta dijadikan contoh bagi narapidana yang lain bahwa perbuatan melarikan diri dari Lapas bukan sebagai pelanggaran biasa, namun sebagai perbuatan yang dapat dikenakan sanksi pidana.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KEADILAN RESTORATIF BAGI KORBAN DARI SUATU TINDAK PIDANA DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

KEADILAN RESTORATIF BAGI KORBAN DARI SUATU TINDAK PIDANA DALAM PROSES PERADILAN PIDANA.

mendapatkan atau berusaha mendapatkan keuntungan dari kejahatannya, sebagai pihak yang mengalami penderitaan, korban justru sering dilupakan oleh aparat penegak hukum, khususnya polisi, jaksa dan hakim. Fokus perhatian dan energi aparat penegak hukum hampir selalu terkonsentrasi pada pelaku. Meskipun demikian apabila hal ini dianggap suatu kesalahan, maka kesalahan tersebut tidak seluruhnya dapat ditimpakan kepada aparat penegak hukum karena aparat penegak hukum dalam proses peradilan pidana menerapkan aturan hukum pidana yang selama ini menjadi acuan yang dipegang yaitu Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selebihnya hak korban dari suatu tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP hanya ada dalam hal untuk menuntut adanya penghentian penyidikan, dan penghentian penuntutan melalui lembaga praperadilan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

PENGARUH LOGOTHERAPY TERHADAP KEPUTUSASAAN PADA NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN WANITA KELAS IIA BANDUNG

PENGARUH LOGOTHERAPY TERHADAP KEPUTUSASAAN PADA NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN WANITA KELAS IIA BANDUNG

Variabel independent dalam penelitian ini adalah intervensi logotherapy yang diberikan pada narapidana wanita. Intervensi logotherapy terdiri dari 4 (empat) sesi yaitu. Sesi 1 mengidentifikasi perubahan dan masalah yang terjadi pada pasien dan mengembangkan kesadaran terhadap nilai- nilai yang dimiliki dengan mengidentifikasi respon-respon yang timbul terhadap pertanyaan yang diajukan. Sesi 2: Menstimulasi imajinasi kreatif, yaitu terapis mengembangkan pertanyaan ke arah harapan dan makna hidup yang didambakan peserta. Sesi 3 terapis membantu peserta mengurangi ketidakyakinan akan kelemahan diri yang dirasakan dengan cara memberikan reinforcement positif atas kemampuan peserta untuk menemukan dan mempelajari makna hidup dari setiap tindakan yang dilakukan. Sesi 4 yaitu mengevaluasi pencapaian makna hidup setelah seluruh sesi dilakukan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Hukum Pidana Islam: Perspektif Keadilan

Hukum Pidana Islam: Perspektif Keadilan

Hukum Islam telah menjadi wacana yang saat ini selalu hangat dibicarakan. Bahkan di beberapa daerah telah diberlakukan hukum Islam yang mengatur masalah-masalah tertentu melalui peraturan daerah. Pengertian hukum pada dasarnya adalah apa-apa yang difirmankan Allah Ta’ala yang berhubungan dengan perbuatan orang yang dibebani hukum ( mukallaf ) dan dituntut pelaksanaannya. Itulah yang dinamai dengan syara’ atau jalan yang harus ditempuh. Dengan pengertian itu, maka hukum syara’ adalah hukum yang dijalani atau dipatuhi oleh mereka yang dibebani hukum yakni orang mukalaf. Jika tidak dilaksanakan, si mukallaf tersebut mempunyai konsekuensi hukum tertentu. (Hakim, 2010: 35). Adapun, Hukum Pidana Islam sering disebut dalam fiqh dengan istilah Jinayah atau Jarimah . Jinayah merupakan bentuk verbal noun (masdar) dari kata jana. Secara etimologi jana berarti berbuat dosa atau salah. Jarimah menurut arti bahasa adalah melakukan perbuatan-perbuatan atau hal-hal yang dipandang tidak baik, dibenci oleh manusia karena bertentangan dengan keadilan, kebenaran dan jalan yang lurus (Agama), sedangkan pengertian jarimah secara istilah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ yang diancam dengan hukuman had atau ta’zir (Muslich, 2006: 9).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PERSEPSI TERHADAP PERILAKU TINDAK KRIMINAL DITINJAU DARI KEPRIBADIAN THE BIG FIVE & STATUS HUKUM WANITA NARAPIDANA & WANITA NON NARAPIDANA - Unissula Repository

PERSEPSI TERHADAP PERILAKU TINDAK KRIMINAL DITINJAU DARI KEPRIBADIAN THE BIG FIVE & STATUS HUKUM WANITA NARAPIDANA & WANITA NON NARAPIDANA - Unissula Repository

14. Sahabat-sahabat SD, SMP, SMA di Kendari (Linda, Alya, Melsa, Puput, Nitami, Tia, Via, Ade, Rahma, July, Mina, Iin), Darta, Firman, Irwan, pak Imam, pak Kadiyo, bu Intan di Biro Psikologi Polda Jateng, bu Dewi di Lapas Wanita Semarang. Terimakasih untuk kalian semua yang selalu mendoakan, memberi semangat dari jauh, dan membantu peneliti dalam proses penelitian. 15. Berbagai pihak yang telah membantu memberikan dukungan serta doa kepada

9 Baca lebih lajut

Potret Wanita Dalam Cerpen Rasa karya Pu

Potret Wanita Dalam Cerpen Rasa karya Pu

Dari sinopsis tersebut dapat dilihat bagaimana wanita dalam cerpen tersebut menjadi tema utama. Melalui pendekatan feminisme dapat dilihat bagaimana sebenarnya wanita dalam pikiran penulis dan sejauh mana Ia memahaminya. Berdasarkan latar belakang tersebut maka makalah ini berjudul “Potret Wanita Dalam Cerpen “Rasa” Karya Putu Wijaya”.

4 Baca lebih lajut

Hak Remisi Narapidana Tindak Pidana Korupsi

Hak Remisi Narapidana Tindak Pidana Korupsi

Mengenai pidana tambahan perampasan barang yang dalam Pasal 19 ayat (1) dimungkinkan merampas barang milik pihak ketiga yang tidak beriktikad baik dan sistem ini tidak dikenal dalam KUHP Dalam hukum pidana umum dilarang merampas barang milik orang lain, walaupun tidak secara tegas disyaratkan diperoleh dengan iktikad buruk sebagai- mana dalam hukum pidana korupsi. Apabila telah dirampas barang hak pihak ketiga, yang bersangkutan merasa memperolehnya dengan iktikad baik dan merasa dirugikan karenanya, maka pihak ketiga ini dapat mengajukan surat keberatan dalam waktu paling lambat dua bulan setelah putusan pengadilan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum kepada pengadilan yang bersangkutan (pengadilan negeri). Walaupun diajukan keberatan oleh pihak ketiga, namun keberatan itu tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan. Apabila penetapan pengadilan tidak memuaskan pihak ketiga, maka dia dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PEMENUHAN HAK NARAPIDANA WANITA YANG MELAHIRKAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

PEMENUHAN HAK NARAPIDANA WANITA YANG MELAHIRKAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan perlindungan hukum serta pemenuhan hak bagi narapidana wanita yang melahirkan di Cabang Rutan Lhoknga belum dilaksanakan secara maksimal sebagaimana diamanahkan oleh UU No. 12 Tahun 1995. Hal tersebut ditandai dengan masih kurangnya asupan makanan yang sehat bagi narapidana wanita yang melahirkan, serta kurang rutinnya petugas medis memeriksa kesehatan narapidana wanita dan anaknya. Selain itu kurang maksimalnya perlindungan hukum bagi narapidana wanita yang melahirkan adalah tidak adanya aturan hukum yang khusus mengatur tentang perlindungan dan pemenuhan hak bagi narapidana wanita yang melahirkan, serta anaknya di Lapas/Rutan. Adapun bentuk usaha yang dilakukan oleh pihak lapas/rutan dalam perlindungan maupun pemenuhan hak yaitu melakukan pemantauan kesehatan narapidana wanita yang melahirkan juga anaknya, serta mengontrol asupan makanan yang cukup sesuai dengan kebutuhan narapidana tersebut. Kendala internal mencakupi pemenuhan gizi dan makanan bagi bayi yang lahir di rutan yang sudah tentu berbeda dengan gizi narapidana pada umumnya. Adapun kendala eksternal mencakupi prihal fasilitas yang
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Hak-Hak Narapidana Menurut Hukum  Pidana Positif Dan Hukum Pidana Islam

Hak-Hak Narapidana Menurut Hukum Pidana Positif Dan Hukum Pidana Islam

Oleh karena itu, maka para narapidana diberikan hak-hak mereka di dalam lapas. Dalam hukum pidana positifberdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 Pasal 14 Tentang Pemasyarakatan, bahwa narapadina memiliki hak-hak yang wajib diberikan kepada mereka, yaitu mereka diberikan waktu untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran dan keyakinan mereka, mendapatkan perawatan baik baik itu rohani maupun jasmani, mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang layak, mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak, mereka diberikan waktu untuk menyampaikan keluhan, mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang, mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang mereka lakukan, mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi), mendapatkan kesempatan berasimilasi cuti mengunjungi keluarga, mendapatkan pembebasan bersyarat, mendapatkan cuti menjelang bebas, mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Stres dan Koping Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Stres dan Koping Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Seseorang yang berbuat kejahatan akan menerima pembinaan di dalam lapas, dimana ia akan dibina untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masyarakat. Selama menjalani pembinaan di lapas, narapida mengalami banyak kehilangan, seperti kehilangan kebebasan, kehilangan pekerjaan, terpisah dari keluarga dan lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui hal-hal tersebut menjadi stresor bagi narapidana yang dapat mengakibatkan narapidana mengalami stres dan dibutuhkan koping yang baik/adaptif untuk mengatasi stresor yang mereka hadapi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti stres dan koping narapidana wanita di lapas klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan dengan menggunakan desain deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan accidental sampling dengan jumlah 78 orang. Data demografi disajikan dalam bentuk distribusi dan frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narapidana wanita di lapas Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan memiliki stres dalam ketegori sedang sebanyak 43 orang (55,1%) dan sebanyak 62 orang (79,5%) responden menggunakan koping yang berfokus pada emosi. Dari hasil penelitian ini diharapkan pihak lembaga pemasyarakatan lebih memperhatikan kebutuhan para narapidana dengan mengadakan penyuluhan dalam mengatasi stres dan mengadakan sesi konseling sehingga narapidana dapat mengutarakan apa yang menjadi permasalahan mereka selama berada di lembaga pemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

133 Baca lebih lajut

Stres dan Koping Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Stres dan Koping Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Seseorang yang berbuat kejahatan akan menerima pembinaan di dalam lapas, dimana ia akan dibina untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masyarakat. Selama menjalani pembinaan di lapas, narapida mengalami banyak kehilangan, seperti kehilangan kebebasan, kehilangan pekerjaan, terpisah dari keluarga dan lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui hal-hal tersebut menjadi stresor bagi narapidana yang dapat mengakibatkan narapidana mengalami stres dan dibutuhkan koping yang baik/adaptif untuk mengatasi stresor yang mereka hadapi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti stres dan koping narapidana wanita di lapas klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan dengan menggunakan desain deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan accidental sampling dengan jumlah 78 orang. Data demografi disajikan dalam bentuk distribusi dan frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narapidana wanita di lapas Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan memiliki stres dalam ketegori sedang sebanyak 43 orang (55,1%) dan sebanyak 62 orang (79,5%) responden menggunakan koping yang berfokus pada emosi. Dari hasil penelitian ini diharapkan pihak lembaga pemasyarakatan lebih memperhatikan kebutuhan para narapidana dengan mengadakan penyuluhan dalam mengatasi stres dan mengadakan sesi konseling sehingga narapidana dapat mengutarakan apa yang menjadi permasalahan mereka selama berada di lembaga pemasyarakatan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Gambaran Perawatan Diri Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Gambaran Perawatan Diri Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Praktek personal hygiene narapidana penderita penyakit kulit yang buruk ditunjukkan pada item frekuensi mandi, pemakaian sabun saat mandi, penggunaan alat makan secara bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu, mengganti pakaian, dan meminjam/ meminjamkan pakaian dan handuk kepada orang lain. Berdasarkan hasil wawancara terhadap ketiga orang narapidana, diketahui bahwa seorang narapidana mandi satu kali sehari, banyak atau sedikit air yang ada tidak mempengaruhinya dalam berperilaku mandi. Narapidana tersebut beranggapan bahwa jika mandi dua atau tiga kali dalam sehari maka badannya akan menjadi lemah dan tidak kuat dalam bekerja. Dua orang narapidana lainnya mengatakan bahwa mereka mandi satu kali dalam sehari karena air bersih yang terbatas dan harus mengantri untuk mengambil air. Tidak hanya masalah mandi, narapidana juga sering meminjam atau meminjamkan pakaian dan handuk kepada orang lain. Sudah menjadi hal yang wajar bila sesama teman sekamar pinjam-meminjam pakaian dan handuk di latar belakangi oleh rasa setia kawan karena tidak enak menolak permintaan teman sekamar. Alasan lain juga karena persediaan baju yang minim, sehingga lebih mudah meminjam baju teman sekamar. Narapidana juga mengatakan bahwa di dalam kamarnya hanya terdapat satu buah handuk saja. Handuk tersebutlah yang mereka gunakan beramai-ramai setiap harinya (Astriyanti dkk, 2010).
Baca lebih lanjut

128 Baca lebih lajut

ANALISIS DEFENSE MECHANISM PADA NARAPIDANA WANITA PELAKU TINDAK KEKERASAN

ANALISIS DEFENSE MECHANISM PADA NARAPIDANA WANITA PELAKU TINDAK KEKERASAN

Hal tersebut bertolak belakang dengan citra seorang wanita yang pada dasarnya memiliki atribut sebagai sosok yang dekat dengan kelembutan dan membutuhkan perlindungan ditambah dengan peran wanita sebagai seorang pendidik yang dalam sifatnya terdapat kasih sayang terhadap lingkungan sekitar, memberikan rasa aman, dan mengayomi. Hal tersebut tidak berlaku terhadap para narapidana wanita, maka persoalan yang terjadi adalah bagaimana bisa seorang wanita melakukan tindakan kekerasan yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Gambaran Perawatan Diri Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Gambaran Perawatan Diri Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan

Narapidana sangat rentan terhadap serangan berbagai macam penyakit karena kehidupan di dalam lapas jauh dari kelayakan khususnya narapidana wanita yang mempunyai kebutuhan pelayanan kesehatan khusus karena kerentanan dan kelemahan mereka, sehingga untuk dapat mempertahankan kesehatannya narapidana perlu melakukan perawatan diri.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perawatan diri narapidana wanita di Lapas Klas IIA Wanita Tanjung Gusta Medan dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2015 yang melibatkan 78 orang narapidana wanita dengan metode pengambilan sampel accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas narapidana wanita yaitu sebanyak 76 orang (97,4%) memiliki perawatan diri yang baik dan perawatan diri cukup baik sebanyak 2 orang (2,6%). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa narapidana memiliki personal hygiene yang baik sebanyak 76 orang (97,4%), aktivitas toileting yang baik sebanyak 74 orang (94,9%), aktivitas berhias yang baik sebanyak 52 orang (66,7%), dan makan yang baik sebanyak 71 orang (91%). Dengan perawatan diri yang baik narapidana wanita tetap dalam kondisi kesehatan yang baik meskipun dengan berbagai kondisi dan masalah yang ada di lapas. Saran untuk lembaga pemasyarakatan agar semakin meningkatkan penyediaan fasilitas perawatan diri yang ada di lapas dan diberikan secara merata kepada narapidana.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects