Top PDF MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN WINGEOM.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN WINGEOM.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN WINGEOM.

Kreativitas siswa akan tumbuh apabila dilatih melakukan eksplorasi, inkuiri, penemuan dan memecahkan masalah (Ruseffendi 2006, 239). Komputer dengan berbagai software yang banyak tersedia saat ini merupakan media yang dapat membantu memudahkan siswa bereksplorasi, dan melatih siswa menemukan berbagai jawaban dalam menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan teknologi tersebut. Hal ini didukung pula pendapat Alagic dan Palenz (2004) bahwa sebagai sebuah alat kognitif, dynamics geometry software memungkinkan pengguna membuat konstruksi yang cepat dan akurat
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

t mtk 0907608 chapter5

t mtk 0907608 chapter5

1. Untuk guru bidang studi matematika, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika berbantuan WinGeom dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematik siswa, sehingga dapat menjadi alternatif pendekatan pembelajaran matematika. Guru sebagai fasilitator disarankan untuk selalu mendorong siswa untuk mencoba hal yang baru berkaitan dengan penggunaan software pada saat pembelajaran dan mengantisipasi kendala-kendala yang
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PENDEKATAN PROBLEM POSING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DAN SELF ESTEEM SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS.

PENDEKATAN PROBLEM POSING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DAN SELF ESTEEM SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS.

Menurut NCTM (1989) peserta didik harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal mereka sendiri, yang merupakan kegiatan utama dalam pembelajaran matematika. Kemudian dalam NCTM (1991) disarankan pentingnya bagi guru-guru untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengajukan soal-soal (problem posing). Siswa seharusnya diberi kesempatan untuk merumuskan soal-soal dari situasi yang diberikan dan membuat soal-soal baru dengan cara memodifikasi kondisi-kondisi dari soal-soal yang diberikan. Membentuk soal atau membuat pertanyaan merupakan bagian yang penting dalam pengalaman matematis siswa dan perlu ditekankan dalam pembelajaran matematika (Freudenthal dan Polya, dalam Silver, 1997).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

t mtk  1006955 table of content

t mtk 1006955 table of content

Teti Roheti, 2012 Pendekatan Problem Posing Pada Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Dan Self Esteem Siswa Sekolah Menengah Atas Universit[r]

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERBANTUAN MEDIA PEMBELAJARAN POHON MATEMATIKA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERBANTUAN MEDIA PEMBELAJARAN POHON MATEMATIKA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Proses pembelajaran yang dilakukan seringkali menggunakan media pembelajaran untuk melakukan proses transfer informasi atau pesan bahkan digunakan membentuk pemahaman konsep peserta didik. Menurut Arsyad (2004: 3) menyebutkan bahwa media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, perantara atau pengantar, serta media dalam bahasa Arab adalah perantara (wasaail) atau pengatar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Menurut Santyasa (2007: 2) mendefinisikan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pesan yang disampaikan melalui media dalam bentuk isi atau materi pengajaran harus dapat diterima oleh penerima pesan (peserta didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka.
Baca lebih lanjut

237 Baca lebih lajut

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus  Repositori Universitas Muria Kudus

Welcome to Repositori Universitas Muria Kudus Repositori Universitas Muria Kudus

Hutajulu, Masta. 2014. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Metakognitif Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Atas . Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi. Vol.2, Hal.88-91. ISSN:2338-8315.

4 Baca lebih lajut

Euis Istianah  Kritis & Kreatif   (MEAs)

Euis Istianah Kritis & Kreatif (MEAs)

Kemampuan berpikir siswa, baik berpikir kritis maupun berpikir kreatif merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki agar dapat memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam dunia yang senantiasa berubah. Pembelajaran matematika dengan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) merupakan suatu alternatif pendekatan yang berupaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik siswa agar terus terlatih dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematik antara siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pembelajaran biasa baik ditinjau secara keseluruhan maupun ditinjau secara kelompok siswa (kelompok atas dan kelompok bawah). Selain itu diungkap pula sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs. Desain penelitian ini adalah pre-test post-test control group design. Penelitian ini dilakukan di SMA pada level menengah. Data penelitian dikumpulkan melalui tes dan angket. Analisis data dilakukan terhadap rerata gain ternormalisasi antara kedua kelompok sampel dengan menggunakan kesamaan dua rerata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa yang belajar dengan pendekatan MEAs lebih baik secara signifikan daripada siswa yang belajar dengan pembelajaran biasa, dan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik siswa yang belajar dengan pembelajaran biasa secara signifikan lebih baik daripada siswa yang belajar dengan pendekatan MEAs. Selanjutnya peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa baik kelompok atas maupun kelompok bawah yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs lebih baik secara signifikan daripada siswa kelompok atas dan kelompok bawah yang mendapatkan pembelajaran biasa, dan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematik siswa baik kelompok atas maupun kelompok bawah yang belajar dengan pembelajaran biasa lebih baik secara signifikan daripada siswa kelompok atas dan kelompok bawah yang belajar dengan pendekatan MEAs. Selanjutnya analisis data angket sikap siswa memperlihatkan bahwa siswa menunjukan sikap positif terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan MEAs.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

kd Tasik 1004524 Chapter1

kd Tasik 1004524 Chapter1

Pendekatan pemecahan masalah (Problem Solving Approach) dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menjawab tuntutan pembelajaran matematika dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Pehkonen (dalam Siswono, T.Y.E. & Novitasari, W., 2009, hlm. 2) yang berpendapat bahwa ‘cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif adalah dengan pendekatan pemecahan masalah’. Siswa yang belajar menggunakan pendekatan pemecahan masalah akan mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya. Hal tersebut dikarenakan pendekatan pemecahan masalah memusatkan pada keterampilan siswa berpikir secara divergen. Pendekatan pemecahan masalah lebih mengarahkan siswa untuk memahami masalah, menemukan berbagai gagasan atau strategi dalam menyelesaikan masalah, menerapkan berbagai gagasan atau strategi penyelesaian masalah, dan memeriksanya kembali. Hal tersebut sejalan dengan komponen berpikir kreatif yaitu adanya kelancaran, keluwesan, keaslian dan elaborasi. Sehingga kemampuan berpikir kreatif siswa dapat meningkat melalui penggunaan pendekatan pemecahan masalah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

T KIM 1201418 Bibilography

T KIM 1201418 Bibilography

Siswono, Y.E. T. (2004). Identifikasi Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika. Berpandu dengan Model Wallas dan Creative Problem Solving (CPS) .Jurusan Matematika FMIPA Unesa. Steven, T., & Arizpe, O. (2006). Mathematical self-efficacy of Middle School

6 Baca lebih lajut

T MTK 1007254 Bibliography

T MTK 1007254 Bibliography

Sumarmo, U. (2010). Berpikir dan Disposisi Matematis: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik . [Online]. in http://www.docstoc.com/docs/ 62326333/Pembelajaran-Matematika. [5 Maret 2012]. Paper published in Sumarmo, U. (2013) and Suryadi, D. Turmudi, Nurlaelah, E . (Editors).. Kumpulan Makalah Berpikir dan Disposisi Matematis serta Pembelajarannya. Mathematics Deparment of Faculty Mathematics and Science Education UPI. Bandung

5 Baca lebih lajut

D MTK 0908490 Bibliography

D MTK 0908490 Bibliography

Ibrahim. (2011). Peningkatan Kemampuan Komunikasi, Penalaran, dan Pemecahan Masalah Matematis serta Kecerdasan Emosional melalui Pembelajaran Berbasis-Masalah pada Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi Doktor pada SPs UPI Bandung: tidak diterbitkan.

11 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN PROGRAM FLASH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP.

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBANTUAN PROGRAM FLASH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP.

Memasuki abad ke-21 sekarang ini pendidikan Indonesia mengalami pergeseran paradigma dari behavioristik ke konstruktivistik . Menyikapi perubahan ini, guru bukan hanya sekedar mengajar (transfer of knowledge) melainkan harus menjadi manajer belajar. Hal ini mengandung arti, setiap guru diharapkan mampu mengintergrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran, menciptakan kondisi belajar yang menantang kreativitas dan aktivitas siswa, memotivasi siswa, menggunakan multimedia, multimetode, dan berbagai sumber belajar agar mencapaui tujuan pembelajaran yang diharapkan, (Rusman, 2013:35). Pendapat ini menegaskan bahwa guru memiliki tugas dan tanggung jawab secara optimal mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik yang ditandai dengan tingginya keaktifan siswa. Keaktifan siswa yang dimaksud adalah keterlibatan siswa dalam melaksanakan aktifitas mulai dari pembahasan konsep, proses penemuan solusi hingga penarikan kesimpulan atas konsep yang dipelajari. Dengan tingginya keaktifan siswa maka dalam pembelajaran akan terjadi komunikasi multi arah sehingga proses pembelajaran tidak didominasi oleh guru melainkan guru hanya sebagai fasilitator.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

t ipa 0808070 chapter1

t ipa 0808070 chapter1

Indonesia sebagai negara yang berkembang, terus berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, produktif serta sehat jasmani dan rohani. Sesuai dengan tujuan pendidikannasionaltersebutdanselarasdengantuntutanzamanmakapeningkatank ualitas pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KAJIAN FILOSOFI KURIKULUM PENDIDIKAN UMUM.

KAJIAN FILOSOFI KURIKULUM PENDIDIKAN UMUM.

4. Mengingat hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua katagori sekolah sedang dan rendah kemampuan penalaran siswa pada kelompok permanen lebih baik daripada kemampuan siswa pada kelompok tidak permanen, hal ini disebabkan kebiasaan yang cenderung memilih teman belajar yang tetap lebih diminati siswa. Keadaan ini bertolak belakang dengan tantangan kehidupan di era global yang menuntut semua orang untuk bersikap dinamis seperti dapat hidup dan bergaul dengan siapa saja, oleh karenanya kultur belajar di kelas harus banyak berubah, diantaranya melalui penggunaan setting belajar kelompok dengan pasangan yang berubah-ubah hendaknya lebih banyak dilakukan.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

t mtk 1005027 bibliography

t mtk 1005027 bibliography

Arifah, T. (2010). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Strategi Rotation Trio Exchange. (PTK Di Kelas VII Semester Genap MTs Muhammadiyah Blimbing Tahun Ajaran 2009/2010).Tersedia[online]

5 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Pengembangan Model Pengelolaan Komunikasi Di Sekolah Alam (Studi Kasus pada Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Sungai Dahan Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo-Provinsi Jambi).

DAFTAR PUSTAKA Pengembangan Model Pengelolaan Komunikasi Di Sekolah Alam (Studi Kasus pada Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Sungai Dahan Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo-Provinsi Jambi).

Pengembangan Pembelajaran dengan Mathematical Discourse dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama... Kadis, Hartono, Ahmad Sopyan.[r]

4 Baca lebih lajut

s mat 1009508 bibliography

s mat 1009508 bibliography

Nasution, S.L. (2010). Pembelajaran Metamatika Melalui Pendekatan Keterampilan Metakognitif dengan Model Advance Organizer untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung: Tidak diterbitkan

7 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI KELAS X-IA SMA ASY-SYAFI’IYAH INTERNASIONAL MEDAN.

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DI KELAS X-IA SMA ASY-SYAFI’IYAH INTERNASIONAL MEDAN.

perangkat fakta-fakta yang harus dihapal, kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan serta proses pembelajaran yang belum optimal. Selama ini, kebanyakan guru menggunakan metode yang tidak bervariasi, bersifat monoton dan hanya berpusat pada guru. Dalam proses pembelajaran umumnya guru asyik sendiri menjelaskan apa-apa yang telah dipersiapkannya. Demikian juga siswa asyik sendiri menjadi penerima informasi yang baik. Akibatnya siswa hanya mencontoh apa yang dikerjakan guru, tanpa makna dan pengertian sehingga dalam menyelesaikan soal siswa beranggapan cukup dikerjakan seperti apa yang dicontohkan. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan alternatif lain. Akan tetapi seharusnya guru memberi penyelesaian masalah yang dapat meningkatkan kemampuan matematika (Doing Match).
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

t mtk 0907608 bibliography

t mtk 0907608 bibliography

Hendriana, H. (2009). Pembelajaran dengan Pendekatan Metaphorical Thinking untuk meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematik, Komunikasi Matematik dan Kepercayaan DIri Siswa Sekolah Menengah Pertama. Disertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: Tidak Diterbitkan. Jiang, Z. (2008). Explorations and Reasoning in the Dynamic Geometry

5 Baca lebih lajut

t mtk 0907715 bibliography

t mtk 0907715 bibliography

Krismiati, A. (2009). Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Berpikir Kreatif Geometri Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Program Cabri Geometry II. Tesis SPs UPI. Bandung: Tidak dipublikasikan.

5 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...