Top PDF Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Cerita Rakyat Siswa Kelas V SDN 16 Air Saleh Kabupaten Banyuasin melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Cerita Rakyat Siswa Kelas V SDN 16 Air Saleh Kabupaten Banyuasin melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Cerita Rakyat Siswa Kelas V SDN 16 Air Saleh Kabupaten Banyuasin melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sebatas mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Ada tujuh komponen pembelajaran kontekstual yang dirangkum dari pendapat Trianto (2013:111–118) adalah sebagai berikut; komponen konstruktivisme (Constructivism) dimana siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus meng-konstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Komponen Pemodelan (Modeling), pemodelan dapat berupa demonstrasi atau memberikan contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Guru memberikan contoh bukan untuk ditiru persis, tetapi menjadi acuan dalam
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

JURNAL PENERAPAN METODE BERCERITA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT PADA SISWA KELAS V SDN PANYINGKIRAN 3 KABUPATEN SUMEDANG

JURNAL PENERAPAN METODE BERCERITA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT PADA SISWA KELAS V SDN PANYINGKIRAN 3 KABUPATEN SUMEDANG

Pembelajaran menyimak cerita rakyat bagi siswa kelas V SD Negeri Panyingkiran 3 Kabupaten Sumedang masih merupakan hal yang sulit. Hal ini terlihat dari angka ketuntasan siswa dalam mengidentifikasi unsur-unsur cerita rakyat yaitu sulit menuliskan tokoh-tokoh cerita, watak tokoh-tokoh cerita, tema, amanat, latar, dan alur cerita dengan tepat. Penelitian ini dilandasi teori pembelajaran dengan menerapkan metode bercerita. Metode bercerita adalah cara yang di tempuh secara sistematis dan terencana dalam mendongeng, berkisah, atau menuturkan suatu kejadian kepada orang lain guna mencapai tujuan maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggart yang meliputi empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan refleksi yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan.. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa, pedoman wawancara, pedoman penilaian hasil belajar siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan sebanyak tiga siklus, Hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Dari data awal diketahui bahwa 9 orang (37,50%) siswa yang tuntas mengidentifikasi unsur-unsur cerita rakyat, dengan nilai rata-rata 53,80. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, 12 orang (50%) siswa dinyatakan tuntas dengan nilai rata-rata 64,04. Pada siklus II meningkat menjadi 16 orang (66,67%) siswa dengan nilai rata-rata 76,58, dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 24 orang (100%) siswa dengan nilai rata-rata 87,50.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE BERCERITA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT PADA SISWA KELAS V SDN PANYINGKIRAN 3 KABUPATEN SUMEDANG | Omih | Mimbar Pendidikan Dasar 7893 15691 1 SM

PENERAPAN METODE BERCERITA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT PADA SISWA KELAS V SDN PANYINGKIRAN 3 KABUPATEN SUMEDANG | Omih | Mimbar Pendidikan Dasar 7893 15691 1 SM

Pembelajaran menyimak cerita rakyat bagi siswa kelas V SD Negeri Panyingkiran 3 Kabupaten Sumedang masih merupakan hal yang sulit. Hal ini terlihat dari angka ketuntasan siswa dalam mengidentifikasi unsur-unsur cerita rakyat yaitu sulit menuliskan tokoh-tokoh cerita, watak tokoh-tokoh cerita, tema, amanat, latar, dan alur cerita dengan tepat. Penelitian ini dilandasi teori pembelajaran dengan menerapkan metode bercerita. Metode bercerita adalah cara yang di tempuh secara sistematis dan terencana dalam mendongeng, berkisah, atau menuturkan suatu kejadian kepada orang lain guna mencapai tujuan maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini mengacu pada model Kemmis dan Mc. Taggart yang meliputi empat langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan refleksi yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan.. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa lembar observasi kinerja guru dan aktivitas siswa, pedoman wawancara, pedoman penilaian hasil belajar siswa, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan sebanyak tiga siklus, Hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Dari data awal diketahui bahwa 9 orang (37,50%) siswa yang tuntas mengidentifikasi unsur-unsur cerita rakyat, dengan nilai rata-rata 53,80. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, 12 orang (50%) siswa dinyatakan tuntas dengan nilai rata-rata 64,04. Pada siklus II meningkat menjadi 16 orang (66,67%) siswa dengan nilai rata-rata 76,58, dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 24 orang (100%) siswa dengan nilai rata-rata 87,50.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN LINGKUNGAN PADA SISWA KELAS V SDN INPRES CIKAHURIPAN.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI PENDEKATAN LINGKUNGAN PADA SISWA KELAS V SDN INPRES CIKAHURIPAN.

Dalam proses pembelajaran terjadi proses interaksi antara guru dengan murid. Suasana yang dimunculkan sebaiknya menyenangkan, sehat, berdaya dan berhasil guna. Hal ini ditandai dengan adanya keterlibatan secara positif dan aktif baik dari guru maupun dari siswa. Proses keterlibatan ini sangat bergantung pada guru dalam membuat perencanaan, pengelolaan, dan penyampaiannya. Dengan kata lain, guru sastra yang sekaligus merangkap menjadi guru bahasa harus mampu mengembangkan seni mengajarkan sastra secara tepat dan bervariasi, sehingga kegiatan pembelajaran tidak membosankan dan monoton. Sebaiknya, pembelajaran memberikan kesenangan, kegairahan, minat, serta kebahagiaan pada siswa. Hal ini akan memberikan dukungan bagi penumbuhan sikap cipta, rasa dan karsa siswa terhadap sastra.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK CERITA RAKYAT SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN PADA TAHUN AJARAN 20102011

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK CERITA RAKYAT SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN PADA TAHUN AJARAN 20102011

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena cinta dan penyertaanNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Efektivitas Penggunaan Media Audiovisual dalam Pembelajaran Menyimak Cerita Rakyat Siswa Kelas V SD Kanisius Sengkan pada Tahun Ajaran 2010/2011 ini dengan baik. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendididkan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

148 Baca lebih lajut

ENINGKATAN HASIL BELAJAR PENJUMLAHAN PECAHAN YANG PENYEBUTNYA TIDAK SAMA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SDN PULO 02 KABUPATEN LUMAJANG

ENINGKATAN HASIL BELAJAR PENJUMLAHAN PECAHAN YANG PENYEBUTNYA TIDAK SAMA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SDN PULO 02 KABUPATEN LUMAJANG

Juniharto, Akli. 2012. Peningkatan Hasil Belajar Penjumlahan Pecahan yang Penyebutnya Tidak Sama dengan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual pada Siswa Kelas V SDN Pulo 02 Kabupaten Lumajang. Tugas Akhir, Program PJJ S1 PGSD FKIP Universitas Jember. Pembimbing : Dra. Titik Sugiarti, M.Pd

9 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA MENGGUNAKAN MEDIA WAYANG KARTUN BINATANG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI CIDADAP 01 TAHUN PELAJARAN 2013 2014

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA MENGGUNAKAN MEDIA WAYANG KARTUN BINATANG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI CIDADAP 01 TAHUN PELAJARAN 2013 2014

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menyimak cerita dengan menggunakan media wayang kartun binatang pada siswa kelas V SD Negeri Cidadap 01. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus,masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, observasi dan refleksi. Media yang digunakan adalah media wayang kartun binatang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu melalui teknik tes dan teknik non tes yang terdiri dari observasi dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis data secara kualitatif dan kuantitatif dengan mencari rerata. Hasil penelitian diperoleh dari data kuantitatif berupa data hasil pembelajaran siswa dan data kualitatif dari hasil obervasi terhadap guru dan siswa. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan peningkatan kemampuan menyimak cerita sebesar 13,43 kondisi awal 69,13 meningkat menjadi 82,59. Peningkatan keterampilan menyimak siklus II sebesar 20,3 kondisi awal 69,13 menjadi 89,43. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media wayang kartun binatang dapat meningkatkan kemampuan menyimak cerita pada siswa kelas V SD Negeri Cidadap 01 Kecamatan Karangpucung Kabupaten Cilacap.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII di Kabupaten Bandung Barat

Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas VIII di Kabupaten Bandung Barat

Adapun tujuan dalam pembelajaran matematika adalah suatu proses interaksi timbal balik guru dan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pembelajaran matematika tertera pada peraturan pemerintah Nomor 22 tahun 2006 yang menjelaskan bahwa mata pelajaran matematika memiliki tujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan pemahaman konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; 2) Menggunakan penalaran pada pola dansifat. Melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan suatu ide dan pernyataan matematika; 3) Memecahkan masalah, yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menjelaskan solusi yang diperoleh; 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lainuntuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam keseharian, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta ulet danpercaya diri dalam pemecahan masalah. Menurut Akbar, Hamid, Bernard, Sugandi (2018) pemecahan masalah matematika merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran matematika karena dapat mempermudah siswa dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan siswa pada hari ini dan pada hari yang akan datang. Fauzan (2002) berpendapat bahwa siswa di Indonesia kurang memiliki dalam sikap kritis dalam menyelesaikan suatu masalah matematika. Mereka hanya menerapkan aturan dalam penyelesaian yang telah diajarkan tanpa memahami konsep di dalamnya. Penyebab masalah tersebut adalah karena siswa lebih senang menyelesaikan masalah dengan cara singkat atau cara praktis dengan penjelasan yang biasanya diajarkan lembaga bimbingan belajar di luar sekolah tanpa memperhatikan konteks masalah yang diberikan dan tanpa mengkaji konsep matematis yang berlaku dalam masalah tersebut. Menurut Fitraini & Fitri (2018) Tidak berkembangnya kemampuan pemecahan masalah bukan sepenuhnya kesalahan dari siswa, tetapi kesalahan juga terdapat dari guru yang cenderung menerapkan pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MINAT DAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU I YOGYAKARTA

PENINGKATAN MINAT DAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL SISWA KELAS V SD KANISIUS KOTABARU I YOGYAKARTA

Meskipun keterampilan menyimak sangat penting namun pada pelaksanaannya kurang mendapat perhatian, sekolah lebih mengutamakan pada keterampilan bahasa lainnya. Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas V bahasa Indonesia SD Kanisius Kotabaru I pada Rabu, 6 November pukul 08.15 WIB. Hasil wawancara dengan guru kelas yaitu siswa kelas V mengalami kesulitan dalam penguasaan aspek menyimak cerita, dalam proses pembelajaran biasanya siswa hanya mendengarkan cerita dari guru dan belum memanfaatkan media pembelajaran sehingga siswa kurang berminat pada kegiatan pembelajaran. Slameto (2010:57), menyebutkan minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Suatu minat dapat dilihat dari partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memberikan perhatian lebih pada aktivitas tersebut secara konsisten dengan rasa senang. Oleh karena itu, jika minat terhadap kegiatan menyimak tinggi maka diharapkan hasil belajar menyimak akan lebih baik.
Baca lebih lanjut

247 Baca lebih lajut

Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Terkait dengan kondisi di atas, diperlukan suatu langkah nyata agar mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemilihan pendekatan dan model pembelajaran yang tepat sehingga proses pembelajaran matematika dapat bermakna bagi siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Pendekatan pembelajaran kontekstual menurut Depdiknas (2003) adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga. Johnson (Rauf, 2004: 10) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan sebuah pendekatan pembelajaran bermakna yang menghadirkan konteks ke dalam proses
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Siswa Menyimak Cerita Rakyat Melalui Metode Tanya Jawab di Kelas V SDN Watutinonggo | Nurzuldianta | Jurnal Kreatif Tadulako Online 3433 10734 1 PB

Peningkatan Kemampuan Siswa Menyimak Cerita Rakyat Melalui Metode Tanya Jawab di Kelas V SDN Watutinonggo | Nurzuldianta | Jurnal Kreatif Tadulako Online 3433 10734 1 PB

Berdasarkan tabel 7 di atas, dapat diinformasikan bahwa hasil perolehan siswa pada pertemuan 2 yaitu jumlah skor 29 dengan skor maksimal 32 sehingga prosentase diperoleh 90,63 kriteria sangat baik. hasil observasi siswa tersebut diperoleh bahwa skor rata-rata yang diperoleh siswa siklus pertemuan 1 dan 2 yaitu 27,5 jika dipersentasekan nilai rata-rata observasi aktivitas siswa siklus II yaitu 85,94% dengan kriteria sangat baik. Peningkatan kemampuan ini dikarenakan siswa siap mengikuti kegiatan belajar mengajar, memperhatikan penjelasan guru, berani menanyakan hal- hal yang kurang dipahami, siswa berani mengemukakan pendapat, dan siswa dapat menyimpulkan pembelajaran tentang menyimak cerita rakyat dengan bahasa yang ringkas, jelas dan mudah dipahami. Dengan dipenuhinya segala aspek penilaian siswa, maka pembelajaran nampak aktif dan siswa termotivasi belajar.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Kontekstual Meningkatkan Kemampuan Menulis Laporan Pesera Didik Kelas V Sdn 2 Pancor

Model Pembelajaran Kontekstual Meningkatkan Kemampuan Menulis Laporan Pesera Didik Kelas V Sdn 2 Pancor

Salah satu dari keempat kemampuan berbahasa peseeta didik di sekolah dasar adalah kemampuan menulis disamping kemampuan membaca, berbicara dan mendengarkan. Salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan peserta didik dalam menulis dalam hal ini dikhususkan pada kemampuan menulis laporan adalah strategi pembelajaran yang belum mengena pada peserta didik. Langkah yang ditempuh penulis dalam mengatasi permasalahan ini adalah dengan penggunaan metode pembelajaran kontekstual. Penelitian ini mengangkat dua pokok permasalahan yakni: (1) Bagaimana kemampuan siswa dalam menulis laporan pengamatan sebelum menggunakan model pembelajaran kontekstual dalam materi menulis laporan pengamatan pada peserta didik kelas 6 SDN 2 Pancor dan (2) Apakah ada peningkatan kemampuan siswa setelah menggunakan model pembelajaran kontekstual dalam materi menulis laporan pengamatan pada siswa kelas 6 SDN 2 Pancor. Guna menjawab pertanyaan ini, maka dilakukanlah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas yang telah ditempuh, didesain berdasarkan model dan metode pembelajaran sesuai dengan yang telah dipersiapkan. Selama dua siklus, menempuh empat tahapan berikut: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Setelah melakukan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan, terbukti kemampuan menulis laporan pengamatan pada peserta didik kelas V SDN 2 Pancor, meningkat pada setiap siklusnya. Hasil penelitian menunjukkan Pada pra siklus sampai siklus pertama kenaikan dari 56,27 menjadi 73,6 kemudian pada siklus kedua rata-rata nilai kelas menjadi 85,4. Pada siklus pertama siswa dominan melakukan kesalahan penulisan ejaan, huruf kapital, dan kata depan. Siklus kedua, hanya ditemukan satu kelompok menggunakan kata tidak baku. Kualiatas setelah diadakan penelitian ini terlihat dalam penulisan tanda baca, huruf kapital, preposisi dan sistematika laporan pengamatan. siklus kedua siswa sudah dapat merinci lokasi pengamatan di ruang-ruang sekitar sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kontekstual dalam upaya peningkatan kemampuan menulis Laporan siswa kelas VI SDN 2 Pancor Kecamatan Selong 2018/2019
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI CERITA RAKYAT DENGAN STRATEGI COOPERATIVE LEARNING (PTK pada Siswa Kelas V SD Negeri Jatisobo 02 Polokarto Sukoharjo)

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI CERITA RAKYAT DENGAN STRATEGI COOPERATIVE LEARNING (PTK pada Siswa Kelas V SD Negeri Jatisobo 02 Polokarto Sukoharjo)

Metode cooperative learning sudah membuktikan efektivitas dalam meningkatkan motivasi belajar dan pengakuan diri, atribut langsung untuk sukses atau gagal, pengembangan perasaan ke arah positif terhadap teman sekelas, dan capaian terus meningkat pada tes pengertian, pemikiran, dan pemecahan masalah. Pola belajar kelompok dengan cara kerja sama antara siswa, selain dapat mendorong tumbuhnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan motivasi serta keterlibatan siswa, juga merupakan nilai sosial bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan. Apabila individu ini bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, saling ketergantungan secara timbal balik akan lebih bermakna dan lebih termotivasi untuk bekerja sama, yang kadang-kadang harus menolong anggota secara khusus. Hal tersebut menumbuhkan rasa kekamian dan mencegah kea kuan atau dalam istilah agama disebut sikap “ ananiah” . Sikap keakuan dapat dididik dengan melatih siswa untuk bekerja sama dengan baik sesuai dengan prinsip model cooperative learning.
Baca lebih lanjut

195 Baca lebih lajut

DAMPAK PENERAPAN METODE KONTEKSTUAL TERHADAP PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK SISWA KELAS V SD N  Dampak Penerapan Metode Kontekstual Terhadap Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas V SDN Karangmalang II Masaran Sragen Tahun ajaran 2010/2011.

DAMPAK PENERAPAN METODE KONTEKSTUAL TERHADAP PEMBELAJARAN MENULIS CERITA PENDEK SISWA KELAS V SD N Dampak Penerapan Metode Kontekstual Terhadap Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas V SDN Karangmalang II Masaran Sragen Tahun ajaran 2010/2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan menulis cerita pendek bagi siswa kelas V . Jenis penelitian ini adalah Kualitatif, Subyek penelitian adalah Guru dan siswa kelas V SD N Karangmalang II yang berjumlah 14 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis cerita pendek dengan menggunakan metode kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari ,melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidpan sehari-hari.peserta didik akan merasakan pentingnya belajar dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa saja yang dipelajarinya. Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik , dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai .guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama melalui Pendekatan Kontekstual Berbasis Cerita Rakyat Musi Rawas Siswa Kelas VIII SMP Negeri Pedang

Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama melalui Pendekatan Kontekstual Berbasis Cerita Rakyat Musi Rawas Siswa Kelas VIII SMP Negeri Pedang

Berdasarkan observasi awal peneliti menurut pendapat dari beberapa siswa salah satunya bernama Kesya Afifah yang mengatakan pembelajaran menulis naskah drama sangat membingungkan karena ia tidak tahu bagaimana cara memulainya dan mengambarkan serta mengembangkan ide cerita dan faktor lainnya. Hal ini adalah kekurangan guru dalam menyajikan materi serta teknis mengajar menulis naskah drama yang tidak bervariasi. Guru hanya memberikan penugasan dalam menulis drama tanpa ada usaha untuk membantu siswa dalam memunculkan ide atau gagasan yang ada dalam pikiran siswa serta upaya lain yang kurang mendukung. Tidak adanya alat bantu berupa benda yang diperlihatkan untuk memotivasi kreativitas siswa dalam menuangkan ide atau gagasan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI SISWA KELAS V MELALUI TEKNIK CERITA BERANTAI: PTK di Kelas V SDN UjungtebuKec. Curug Kota Serang.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI SISWA KELAS V MELALUI TEKNIK CERITA BERANTAI: PTK di Kelas V SDN UjungtebuKec. Curug Kota Serang.

Pada kegiatan ini guru melaksanakan tindakan sesuai pada tahap perencanaan siklus. Diawali dengan kegiatan pendahuluan (mengecek kehadiran siswa, mengkondisikan keadaan kelas, dan memotivasi siswa sebelum belajar). Kemudian melakukan apersepsi dengan bertanya jawab bersama siswa tentang pengalaman menarik yang siswa alami sebelum berangkat ke sekolah, dan meminta beberapa siswa untuk menceritakannya di depan kelas. Kemudian siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing terdiri dari 3-5 siswa dalam setiap kelompoknya dan diberi LKS yang berisi tugas unjuk kerja atau melakukan cerita berantai secara berkelompok.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA RAKYAT DI KELAS V SEKOLAH DASAR

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA AUDIO TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK CERITA RAKYAT DI KELAS V SEKOLAH DASAR

Menyimak merupakan suatu proses kegiatan yang diawali dengan mendengarkan cerita, memahami dan menangkap isi cerita sehingga siswa dapat mencatat hal-hal penting dalam cerita. Cerita tersebut dipahami untuk dianalisis, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Menurut Henry Guntur Tarigan (2008 : 31) menyatakan, “Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. Sejalan dengan hal itu Menurut Farida Ariani Slamet (2009 : 5) mengemukan, “Menyimak adalah proses menangkap bunyi bahasa yang direncanakan dengan penuh perhatian, dipahami, diinterpretasi, diapresiasi, dievaluasi, ditanggapi, dan ditindak lanjuti”. Sedangkan menurut Yeti Mulyati (2007 : 2.4) menyatakan, “Proses menyimak merupakan proses interaktif yeng mengubah bahasa lisan menjadi makna dalam pikiran, dengan demikian menyimak tidak sekedar mendengarkan, mendengar merupakan komponen integral dalam menyimak, kegiatan berfikir atau menangkap makna dari apa yang didengar merupakan bagian dari proses menyimak”. Jadi dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah proses kegiatan mendengarkan lambang- lambang lisan dengan sengaja dan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi, interpretasi, reaksi, dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi, menangkap isi, dan merespon makna yang terkandung didalamnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Penggunaan Media Audio terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Rakyat di Kelas V Sekolah Dasar

Pengaruh Penggunaan Media Audio terhadap Keterampilan Menyimak Cerita Rakyat di Kelas V Sekolah Dasar

Menyimak merupakan suatu proses kegiatan yang diawali dengan mendengarkan cerita, memahami dan menangkap isi cerita sehingga siswa dapat mencatat hal-hal penting dalam cerita. Cerita tersebut dipahami untuk dianalisis, sehingga siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Menurut Henry Guntur Tarigan (2008 : 31) menyatakan, “Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan”. Sejalan dengan hal itu Menurut Farida Ariani Slamet (2009 : 5) mengemukan, “Menyimak adalah proses menangkap bunyi bahasa yang direncanakan dengan penuh perhatian, dipahami, diinterpretasi, diapresiasi, dievaluasi, ditanggapi, dan ditindak lanjuti”. Sedangkan menurut Yeti Mulyati (2007 : 2.4) menyatakan, “Proses menyimak merupakan proses interaktif yeng mengubah bahasa lisan menjadi makna dalam pikiran, dengan demikian menyimak tidak sekedar mendengarkan, mendengar merupakan komponen integral dalam menyimak, kegiatan berfikir atau menangkap makna dari apa yang didengar merupakan bagian dari proses menyimak”. Jadi dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah proses kegiatan mendengarkan lambang- lambang lisan dengan sengaja dan penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi, interpretasi, reaksi, dan evaluasi untuk memperoleh pesan, informasi, menangkap isi, dan merespon makna yang terkandung didalamnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects