Top PDF Metoda Ekstraksi Cair-Cair Sebagai Alternatif untuk Pembersihan Lingkungan Perairan dari Limbah Cair Industri Kelapa Sawit

Metoda Ekstraksi Cair-Cair Sebagai Alternatif untuk Pembersihan Lingkungan Perairan dari Limbah Cair Industri Kelapa Sawit

Metoda Ekstraksi Cair-Cair Sebagai Alternatif untuk Pembersihan Lingkungan Perairan dari Limbah Cair Industri Kelapa Sawit

Kandungan gugus fosforil yang merupakan ikatan antara oksigen dan fosfor dalam TBF maupun TEF, berfungsi sebagai basa lewis, adalah merupakan ekstrakstan yang lebih kuat daripada ekstraktan yang mengandung gugus karbonil maupun hidroksil, sehingga dapat mengikat asam butirat dalam limbah cair dari industri kelapa sawit. Dalam hal ini hanya asam-asam karboksilat yang tidak terdesosiasi saja yang dapat diikat oleh pelarut organo fosfor seperti TBF dan TEF. Namun karena karakteristik TBF dan TEF sebagai pelarut memiliki kelemahan, antara lain memiliki kelarutan yang lebih banyak, maka keberadaan pelarut pendamping (diluen) sangat diperlukan untuk meningkatkan daya ekstraksinya. Persyaratan diluen yang baik adalah memiliki harga viskositas dan massa jenis yang rendah serta bersifat polar. Sehingga dapat mempermudah transfer asam-asam organik dari fasa air ke fasa organik, yang dapat dibuktikan dengan kenaikan koefisien partisinya. Namun, kebanyakan diluen polar banyak yang larut dalam air, maka hal ini sangat merugikan, karena proses produksinya menjadi tidak ekonomis. Sehingga penggunaan diluen dalam penelitian ini tetap menggunakan Dodekana, dengan pertimbangan diluen ini merupakan hidrokarbon alaifatik yang inert dan tidak larut dalam air.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAND APPLICATION

ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAND APPLICATION

Pengolahan secara anaerob yang dilakukan selama ini adalah secara konvensional seperti kolam anaerob. Pada umumnya kelemahan sistem kolam anaerob terletak pada waktu tinggal cairan yang lama dan pembentukan konsentrasi biomassa yang rendah, sehingga konsumsi substrat (limbah cair) oleh biomassa juga rendah. Untuk mengatasi hal itu, maka perlu dikembangkan berbagai konfigurasi bioreaktor dengan konsentrasi biomassa yang tinggi, bioreaktor tersebut adalah bioreaktor anaerob. Bioreaktor anaerob merupakan salah satu jenis reaktor yang dipergunakan untuk mengolah limbah organik cair dengan bantuan bakteri anaerob. Dengan menggunakan bioreaktor anaerob mampu mengolah limbah cair yang mengandung minyak dan lemak dan mampu mencegah terjadinya kehilangan (wash out) biomassa anaerob, kebutuhan lahan kecil dan relatif mudah pengoperasiaanya serta bermanfaat untuk pencegahan pencemaran lingkungan. Pemanfaatan limbah cair pada saat ini belum optimal, hal ini disebabkan karena keterbatasan dana dan teknologi yang digunakan. Bila dilakukan pengelolaan dengan baik maka limbah industri kelapa sawit merupakan potensi yang cukup besar dan dapat meningkatkan nilai tambah limbah itu sendiri. Limbah cair bisa dimanfaatkan kembali sebagai alternatif pupuk di lahan perkebunan, pemanfaatannya adalah dengan mengaplikasikan kembali limbah cair yang telah diolah untuk areal kebun sawit yang sering disebut dengan land application (LA). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemanfaatan limbah cair dalam bioreaktor anaerob.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Metoda Biopori terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Belum Menghasilkan

Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dengan Metoda Biopori terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Belum Menghasilkan

Limbah pengolahan kelapa sawit jika dapat diolah dengan baik akan sangat menguntungkan. Dari hasil pengolahan limbah kelapa sawit dapat diketahui kandungan unsur-unsur yang terkandung dalam cairan tersebut seperti COD, BOD dan pH bisa mencapai kondisi yang dipersyaratkan untuk dimanfaatkan. Limbah cair pabrik kelapa sawit yang semestinya merugikan bisa dimanfaatkan. Hasil pengolahan limbah kelapa sawit ini juga bisa digunakan untuk sektor perkebunan seperti pada persemaian dan untuk penyiraman tanaman di lahan terutama pada tanaman kelapa sawit itu sendiri. Limbah sebagai hasil buangan industri yang selama ini lebih banyak disorot dampak negatifnya terhadap lingkungan, ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber unsur hara bagi pertumbuhan tanaman.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN (BIOGAS) ISNA APRIANI

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF TERBARUKAN (BIOGAS) ISNA APRIANI

Timbulnya kelangkaan bahan bakar minyak yang disebabkan oleh ketidakstabilan harga minyak dunia, maka pemerintah mengajak masyarakat untuk mengatasi masalah energi ini secara bersama-sama. Hal ini telah memunculkan kesadaran bahwa selama ini bangsa Indonesia sangat tergantung pada sumber energi tak-terbarukan. Cepat atau lambat sumber energi tersebut akan habis. Salah satu solusi mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang dimiliki bangsa ini. Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan produk samping sawit sebagai sumber energi terbarukan. Kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditi yang mengalami pertumbuhan sangat pesat. Pada tahun 2005 luas perkebunan kelapa sawit sekitar 5.453.817 Ha, dengan minyak yang dihasilkan sekitar 11.861.615 ton, dan diperkirakan luas perkebunan kelapa sawit akan meningkat pada tahun 2009 seluas 7.125.331 Ha. Pertumbuhan industri kelapa sawit yang cukup pesat menghasilkan limbah cair yang sangat melimpah dan berdampak mencemari lingkungan tanah, air dan udara, dengan emisi metana yang potensial. Dengan demikian di satu sisi potensi produksi biogas yang sangat menjanjikan perlu dilakukan penelitian dan pengembangan sebagai sebagai sumber energi terbarukan dan upaya mendukung program pemerintah berkaitan keamanan pasokan energi serta teknologi bersih bagi industri.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

APLIKASI PLASMA DENGAN METODA DIELECTRIC BARRIER DISCHARGE (DBD) UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT

APLIKASI PLASMA DENGAN METODA DIELECTRIC BARRIER DISCHARGE (DBD) UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT

Dari beberapa metoda yang sudah dilakukan maka penulis akan mencoba melakukan penelitian pengolahan limbah cair sawit ini dengan teknologi plasma dengan metoda Dielectric Barrier Discharge (DBD). Teknologi plasma ini dapat digunakan untuk pengolahan limbah cair, padat dan gas (Aguierre, P., 1998). Teknologi plasma DBD mampu menurunkan warna, COD dan TSS pada limbah cair tekstil sebesar 48%, 77% dan 71% (Hadiwidodo, dkk., 2009). Teknologi plasma merupakan teknologi yang ramah lingkungan dan dapat melakukan degradasi senyawa racun (R.C, Daniel, 1996). Proses ini merupakan alternatif pengolahan untuk mengurangi lahan, memperpendek waktu pengolahan dan mengurangi bau. Penelitian ini akan memanfaatkan metoda DBD sistem batch untuk mengolah limbah cair kelapa sawit. II. TINJAUAN PUSTAKA
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAND APPLICATION MUHAMMAD NUR Jurusan Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau mnur_tifasteyahoo.com ABSTRAK - ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAN

ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAND APPLICATION MUHAMMAD NUR Jurusan Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska Riau mnur_tifasteyahoo.com ABSTRAK - ANALISIS PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK LAN

Pengolahan secara anaerob yang dilakukan selama ini adalah secara konvensional seperti kolam anaerob. Pada umumnya kelemahan sistem kolam anaerob terletak pada waktu tinggal cairan yang lama dan pembentukan konsentrasi biomassa yang rendah, sehingga konsumsi substrat (limbah cair) oleh biomassa juga rendah. Untuk mengatasi hal itu, maka perlu dikembangkan berbagai konfigurasi bioreaktor dengan konsentrasi biomassa yang tinggi, bioreaktor tersebut adalah bioreaktor anaerob. Bioreaktor anaerob merupakan salah satu jenis reaktor yang dipergunakan untuk mengolah limbah organik cair dengan bantuan bakteri anaerob. Dengan menggunakan bioreaktor anaerob mampu mengolah limbah cair yang mengandung minyak dan lemak dan mampu mencegah terjadinya kehilangan (wash out) biomassa anaerob, kebutuhan lahan kecil dan relatif mudah pengoperasiaanya serta bermanfaat untuk pencegahan pencemaran lingkungan. Pemanfaatan limbah cair pada saat ini belum optimal, hal ini disebabkan karena keterbatasan dana dan teknologi yang digunakan. Bila dilakukan pengelolaan dengan baik maka limbah industri kelapa sawit merupakan potensi yang cukup besar dan dapat meningkatkan nilai tambah limbah itu sendiri. Limbah cair bisa dimanfaatkan kembali sebagai alternatif pupuk di lahan perkebunan, pemanfaatannya adalah dengan mengaplikasikan kembali limbah cair yang telah diolah untuk areal kebun sawit yang sering disebut dengan land application (LA). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemanfaatan limbah cair dalam bioreaktor anaerob.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Isolasi Bakteri Pendegradasi Limbah Cair Industri Minyak Sawit

Isolasi Bakteri Pendegradasi Limbah Cair Industri Minyak Sawit

Limbah cair industri minyak sawit mengandung zat organik dengan kadar yang tinggi, sehingga menyebabkan pencemaran di lingkungan sekitar pabrik pengolahan kelapa sawit. Industri minyak sawit telah mengupayakan pengolahan limbah cair yang dihasilkan dengan menerapkan sistem lagoon (kolam), namun pengoperasian sistem lagoon belum optimal sehingga outlet belum memenuhi baku mutu limbah cair. Dalam limbah cair industri minyak sawit terdapat mikroorganisme yang mempunyai potensi melakukan hidrolisis terhadap lemak dan minyak. Berdasarkan masalah ini perlu dilakukan penelitian terhadap bakteri pendegradasi limbah cair industri minyak sawit, sehingga hasilnya dapat digunakan dalam teknologi pengolahan limbah cair yang berwawasan lingkungan yang dikenal dengan teknologi bioremediasi.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Potensi Mikroorganisme sebagai Biofertilizer dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Potensi Mikroorganisme sebagai Biofertilizer dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Sampel ketiga bakterinya berbentuk coccus dan bakterinya merupakan bakteri gram negatif Gambar 2, di dalam penelitian yang dilakukan oleh Refrensi [25] menemukan Isolasi bakteri dari limbah cair kelapa sawit berhasil memperoleh 15 isolat bakteri yang ditumbuhkan pada media Nutrient Agar (NA). dapat diketahui bahwa bentuk koloni dari isolat bakteri yang diperoleh yaitu, tidak beraturan (irreguler) dan bulat beraturan (circular). Tepi koloni yaitu, bergelombang (undulate), berlekuk (lobate), rata (entire), keriting (curled) dan berfilamen (filamentous). Elevasi koloni dari 15 isolat yaitu datar (flat). Warna isolat yaitu, putih krem dan kuning. Hasil pengelompokkan sifat Gram dari 15 isolat yang paling mendominasi adalah gram negatif. Bentuk sel yang paling mendominasi adalah batang, sedangkan yang lainnya berbentuk bulat. Morfologi koloni isolat bakteri yang ditemukan pada penelitian ini sesuai dengan pernyataan refrensi [26] bahwa pada umumnya bentuk koloni bakteri berbentuk
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penentuan Kadar COD dan BOD pada Limbah Cair Industri Kelapa Sawit di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penanggulangan Penuyakit

Penentuan Kadar COD dan BOD pada Limbah Cair Industri Kelapa Sawit di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penanggulangan Penuyakit

Limbah merupakan hasil buangan industriyang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi. Pada industri kelapa sawit juga dihasilkan limbah, baik limbah cair, padat maupun gas. Limbah padat industri kelapa sawit berupa tandan kosong kelapa sawit (TKSS), sementara itu Limbah gas industri kelapa sawit antara lain gas cerobong dan uap air buangan pabrik kelapa sawit. Limbah cair juga dihasilkan pada pengolahan kelapa sawit. Limbah kelapa sawit memiliki kadar bahan organik yang tinggi. Dengan tingginya kadar bahan organik pada limbah kelapa sawit tersebut akan dapat menimbulkan pencemaran bagi lingkungan. Sebuah pabrik pengolahan kelapa sawit yang mengolah 1000 ton TBS per hari menghasilkan 30 ton limbah. Dengan banyaknya jumlah limbah yang dihasilkan pabrik pengolahan kelapa sawit per harinya akan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama jika limbah tersebut dibuang ke badan air.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Pembuatan Biogas Dari Berbagai Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Pembuatan Biogas Dari Berbagai Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Volatile Solid (VS) digunakan untuk mengetahui jumlah bahan organik yang terkandung dalam bahan, yang dapat dikonversikan menjadi metana dan karbondioksida dalam proses anaerob . Cara untuk mengetahuinya adalah dengan mencari terlebih dahulu, kadar abu yang diperoleh dengan memanaskan bahan kering hingga temperatur 700 o C selama 2 jam untuk menghilangkan atau menguapkan bahan padat volatile [1 ].

5 Baca lebih lajut

BIOGAS DARI LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT SKALA PILOT PLANT

BIOGAS DARI LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT SKALA PILOT PLANT

 Penelitian ini pernah dipublikasikan dalam jurnal yang berjudul “ Pengaruh Distribusi Temperatur Umpan Masuk Static In-Line Mixer Terhadap Performance Bioreaktor Pada Pembuatan Biogas Dari Limbah Cair Kelapa Sawit Skala Pilot Plant ” di Departemen Teknik Kimia.

20 Baca lebih lajut

Perencanaan Pemanfaatan Limbah Cair Untuk Pembangkit Listrik Pabrik Kelapa Sawit

Perencanaan Pemanfaatan Limbah Cair Untuk Pembangkit Listrik Pabrik Kelapa Sawit

Limbah cair industri minyak kelapa sawit mengandung bahan organik yang sangat tinggi yaitu BOD 25.500 mg/I, dan COD 48.000 mg/I sehingga kadar bahan pencemaran akan semakin tinggi. Oleh sebab itu untuk menurunkan kandungan kadar bahan pencemaran diperlukan degradasi bahan organik. Secara umum dampak yang ditimbulkan oleh limbah cair industri kelapa sawit adalah tercemarnya badan air penerima yang umumnya sungai karena hampir setiap industri pabrik kelapa sawit berlokasi didekat sungai. Limbah cari industri kelapa sawit bila dibiarkan tanpa diolah lebih lanjut akan terbentuk ammonia, hal ini disebabkan bahan organik yang terkandung dalam limbah cair tersebut terurai dan membentuk ammonia ini akan mempengaruhi kehidupan biota air dan dapat menimbulkan bau busuk.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS ) SECARA AEROBIK

LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS ) SECARA AEROBIK

Pengolahan lanjut LCPKS biasanya dilakukan dengan menggunakan sistem lumpur aktif yang dilaksanakan pada suatu kolam terbuka. Sistem ini memerlukan oksigen terlarut cukup besar sehingga jika sistem aerasi kurang baik akan menyebabkan HRT menjadi besar. Selain itu terjadinya penyebaran bau busuk karena [3] sistem yang digunakan adalah terbuka. [21] Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan prototipe bioreaktor yang dapat digunakan untuk menggantikan sistem pengolahan di atas. Tangki Bioreaktor dibuat dari tabung plastik transparan yang dilengkapi oleh baffle dan pengaduk yang terbuat dari steinless steel. Selain itu, bioreaktor juga dilengkapi dengan motor pengaduk, sistem aerasi, dan unit penghilang bau. Prototipe yang dihasilkan memiliki tinggi 11,078 cm dan diameter 21,4 cm, volume operasional 9,2 liter, tinggi cairan dan baffle adalah 24,5 cm. Bioreaktor dilengkapi dengan dua bilah pengaduk yakni turbin piringan horizontal yang posisinya 7,13 cm dari dasar tangki dan dayung 4-pendayung 4 yang posisinya 12,84 cm di atas bilah pertama. Prototipe bioreaktor telah lolos uji kebocoran dan jika dialiri udara dengan kecepatan konstan 0,5 [14] m/s maka nilai gas holdup (ε) adalah 0,02. Penggunaan prototipe ini untuk pengolahan lanjut LCPKS menyebabkan nilai COD limbah turun dari 4.482 mg/l menjadi 3.096 mg/l setelah diproses selama 30 hari.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Asap Cair Limbah Tempurung Kelapa Sebagai  Alternatif Koagulan Lateks

Pemanfaatan Asap Cair Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Alternatif Koagulan Lateks

Kelapa merupakan tanaman palm yang sudah tidak asing untuk kita. Jika kita berjalan-jalan ke pulau Sumatera, pasti kita akan sering menjumpai pohon kelapa. Pada tahun 2004 luas areal perkebunan kelapa adalah 3.334.000 Ha (Kompas, Juni 2007). Sejak tahun 1988 Indonesia menduduki urutan pertama sebagai negara yang memiliki areal kebun kelapa terluas di Dunia. Dari seluruh luas areal perkebunan kelapa, sekitar 97,4 % dikelola oleh perkebunan rakyat. Sisanya sebanyak 2,1 % dikelola perkebunan besar swasta dan 0,5% dikelola perkebunan besar negara (Palungkun, 2001). Tanaman kelapa juga merupakan tanaman serbaguna atau tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa seperti daun, buah, batang, dan akarnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

RENCANA PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS) UNTUK LAND APPLICATION

RENCANA PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS) UNTUK LAND APPLICATION

Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LCPKS) merupakan hasil produksi dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dalam bentuk cair selain CPO dan PKO yang sering disebut dengan produk sampingan (by-product). LCPKS terlebih dahulu ditampung dalam kolam limbah yang telah disiapkan, dan akan dipergunakan untuk pemanfaatan tumbuhan di land application. Analisa dilakukan pada design kolam limbah, ukuran kolam aktual yang telah dikerjakan, dan data pengelolaan LCPKS untuk land application. Metode penelitian menggunakan metode literatur berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan pada pengelolaan limbah cair untuk land application di PKS pada umumnya, lalu data akan diolah menggunakan analisa matematika sederhana. Kemudian dilakukan perbandingan antara design kolam limbah dengan kebutuhan kolam untuk mengelola LCPKS dan kebutuhan LCPKS untuk land application. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa perencanaan kolam untuk pengolahan LCPKS di PKS 24.955,2 m 3 mampu menampung kebutuhan LCPKS untuk land application 163,8 m 3 dan kebutuhan jumlah LCPKS yang harus dialirkan untuk land application adalah 360 ton/hari.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Abstract. Kata kunci : limbah cair pabrik, tanaman kelapa sawit

Abstract. Kata kunci : limbah cair pabrik, tanaman kelapa sawit

Model jaringan yang dibangun di rawa pasang surut untuk tanaman kelapa sawit berbeda dengan model jaringan yang diperuntukkan untuk tanaman se-musim. Pada lahan transimigrasi lebih mengacu pada pembagian lahan se-hingga satu petak tersier berukuran 400 m panjang dan lebar 200 m atau terdapat 8 ha. Pada budidaya tanaman kelapa sawit beroreintasi pada jarak tanaman tanaman kelapa sawit itu sendiri se- hingga satu blok tanam mencapai 30 ha. Faktor pembatas utama pada lahan pasang surut yaitu tanah bereaksi masam,

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Biogas Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Skala Pilot

Pembuatan Biogas Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Skala Pilot

Selama pengamatan berlangsung diperoleh bahwa laju produksi biogas per mg VS terdegradasi mengalami fluktuasi dimana pada awal fermentasi gas mulai meningkat akan tetapi pada akhir masa fermentasi gas semakin lama semakin mengalami penurunan. Pada fermentasi LCPKS dengan recycle di laboratorium didapat l aju produksi biogas per mg VS terdegradasi berkisar antara 0,0001716 L/mgVS hari hingga 0,00256858 L/mgVS hari. Sedangkan Pada fermentasi LCPKS non recycle - di laboratorium didapat Laju produksi biogas per mg VS terdegradasi berkisar antara 0,0006048 L/mgVS hari hingga 0,00151038 L/mg VS hari. Sementara untuk fermentasi LCPKS dengan recycle di Pilot didapat Laju produksi biogas per mg VS terdegradasi berkisar antara 0,00070810 L/mgVS hari hingga 0,00176410 L/mgVS hari. Sehingga didapat Laju produksi biogas per mg VS terdegradasi dengan recycle baik itu pada skala laboratorium maupun pilot plant lebih tinggi dari pada l aju produksi biogas per mg VS terdegradasi non recycle - di laboratorium.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengembangan Energi Terbarukan Dari Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Pengembangan Energi Terbarukan Dari Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit

Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan industri minyak kelapa sawit terbesar, bahkan akan menjadi produsen utama dunia 2010, yang akan memiliki sumberdaya yang belum tersentuh lebih dari 50 juta ton pertahun. Inovasi pengembangan teknologi pengekstrak biogas dari produk samping pabrik minyak kelapa sawit (LCPMKS) untuk memproduksi bahan bakar terbarukan dan manfaatnya sebagai pengganti bahan bakar kendaraan (solar) dan peralatan internal pabrik mendesak untuk dilakukan. LCPMKS bersifat asam, pH 4, mengandung bahan organik tinggi dan total solid 4-5%, sehingga sangat potensial untuk produksi biogas melalui fermentasi anaerob. Perombakan bahan organik dari LCPMKS menjadi gas metan melalui beberapa tahapan reaksi oleh bakteri asetogenik dan metanogenik, yan berpotensi untuk produksi biogas. Pabrik kelapa sawit di Indonesia berjumlah 320 buah pabrik dan menghasilkan LCPMKS > 40 juta m 3 /tahun. Volume LCPMKS yang berlimpah, selain sebagai sumber pencemar yang potensial baik tanah, udara maupun lingkungan air, di satu sisi LCPMKS adalah sumber energi terbarukan, dan sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, upaya pemanfaaan teknologi anaerob untuk meningkatkan potensi LCPMKS yang berhasil guna, juga menekan terjadinya pencemaran. Pengelolaan LCPMKS di Indonesia umumnya secara konvensional menggunakan beberapa kolam terbuka. Sistem tersebut mudah dan tidak memerlukan teknologi tinggi namun kurang efisien, sehingga memerlukan lahan sangat luas, cepat mengalami pendangkalan, biaya pemeliharaan mahal, emisi gas metan, meningkatkan pencemaran udara, penyebab pemanasan global. Penelitian dilakukan di pabrik minyak kelapa sawit PT. Pinago Utama dengan kapasitas olah pabrik 60 ton TBS/jam menghasilkan LCPMKS sebanyak 700 m 3 /hari.
Baca lebih lanjut

189 Baca lebih lajut

Efektivitas Ampas Teh Sebagai Adsorben Alternatif Limbah Cair Industri Tekstil

Efektivitas Ampas Teh Sebagai Adsorben Alternatif Limbah Cair Industri Tekstil

Adsorben dapat digunakan di bidang industri pangan maupun non pangan. Beberapa kegunaan adsorben diantaranya adalah untuk memurnikan udara dan gas, memurnikan pelarut, penghilangan bau dalam pemurnian minyak nabati dan gula, penghilangan warna produk -produk alam dan larutan (Lynch 1990), serta untuk penjerap zat warna dalam pengolahan limbah industri tekstil. Berkembangnya industri tersebut diikuti dengan makin tingginya kebutuhan terhadap adsorben. Demikian pula kebutuhan terhadap arang aktif sebagai salah satu jenis adsorben juga akan terus meningkat dan belum bisa terpenuhi secara maksimum. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diupayakan
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Pembuatan Biogas Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Skala Pilot

Pembuatan Biogas Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Pada Skala Pilot

Untuk fermentasi LCPKS dengan recycle sludge di Laboratorium dan di pilot, laju dekomposisi VS lebih besar dari pada laju dekomposisi VS non-recycle di laboratorium ini terlihat jelas pada gambar 5. Dengan kata lain dengan adanya pengembalian sludge ke dalam digester dapat meningkatkan laju dekomposisi VS, sehingga dapat disimpulkan recycle sludge yang terus menerus dilakukan akan dapat meningkatkan laju dekomposisi VS.

23 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...