Top PDF METODE PENELITIAN Ekstraksi sampel

METODE PENELITIAN Ekstraksi sampel

METODE PENELITIAN Ekstraksi sampel

Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khusunya dibidang kimia dan farmasi telah mendorong para peneliti untuk menggali potensi hutan Indonesia. Upaya ini penting mengingat semakin banyak jenis-jenis tumbuhan yang punah akibat eksploitasi hutan untuk industri. Disamping itu, penelitian bermanfaat untuk mencari alternatif dalam hal pengadaan bahan baku obat, validasi tumbuhan obat tradisional dan mencari senyawa baru yang dapat dimanfaatkan sebagai obat (Efdi, 1999).

8 Baca lebih lajut

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel 23 orang adalah guru sekolah

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel 23 orang adalah guru sekolah

Penelitian Anam (2008) Studi Pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) SD Negeri Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep, pendidikan kesehatan terlaksana 92,9% yang berarti baik dan dalam penelitian Kusuma (2013) Hubungan Antara Trias UKS Dengan Pelaksanaan PHBS Pada Murid Di Sekolah Dasar Negeri Palalangan 01 Dan Palalangan 04 Gunungpati Semarang 2013, kegiatan pendidikan kesehatan dalam kategori baik (69,6%). Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya sudah terlaksana dengan baik sedangkan yang ditemukan peneliti ternyata hasilnya masih cukup. Menurut Depkes RI (2003) dalam Efendi dan Makhfudli (2009) mengatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat tumbuh kembang sesuai, selaras, seimbang, dan sehat baik fisik, mental, sosial maupun lingkungan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang diperlukan bagi peranannya saat ini maupun dimasa yang akan datang. Menurut Efendi dan Makfudli (2009) kegiatan pendidikan kesehatan dapat diberikan melalui kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

 M01033

M01033

Ekstraksi steviosida dari Stevia rebaudiana (Bert.) telah melalui beberapa tahap antara lain ekstraksi sampel, defatisasi sampel, dan kristalisasi sampel. Ekstraksi sampel dilakukan dengan menggunakan variasi empat metode yaitu metode defatisasi-berkesinambungan (A), defatisasi-maserasi (B), nondefatisasi-berkesinambungan (C), dan nondefatisasi-maserasi (D). Keempat metode ini menggunakan pelarut etanol. Hasil penelitian Moraes dan Machado (2001) menunjukkan bahwa penggunaan pelarut etanol memberikan hasil yang lebih jernih bila dibandingkan dengan menggunakan air dan metanol, dan relatif aman bagi konsumsi masyarakat. Dalam penelitian ini tahap penghilangan pengotor juga dilakukan agar tidak menghambat pembentukan kristal. Proses penjernihan larutan steviosida menggunakan kaolin karena kaolin mudah didapatkan, murah, dan sangat cepat dalam mengikat pengotor yang menghambat pembentukan kristal steviosida. Selain pengotor, lemak dalam ekstrak steviosida dapat dihilangkan dengan defatisasi sampel menggunakan pelarut dietil eter secara ekstraksi cair-cair. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa komponen-komponen non polar seperti lemak dapat terangkat dan dipisahkan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Bioplastik Selulosa Ampas Tebu dan Sekam Padi - Repositori UIN Alauddin Makassar

Karakteristik Bioplastik Selulosa Ampas Tebu dan Sekam Padi - Repositori UIN Alauddin Makassar

Produksi plastik sintetik terus mengalami peningkatan sehingga berdampak pada permasalahan lingkungan. Salah satu alternatif pengganti plastik sintetik yaitu bioplastik. Bioplastik merupakan plastik yang bahan dasarnya berasal dari alam. Bahan alam yang berpotensi sebagai bahan baku bioplastik adalah ampas tebu dan sekam padi. Keduanya merupakan limbah buangan yang masih mengandung kadar selulosa cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakterisasi dan kelayakan film bioplastik berbahan dasar selulosa. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya ekstraksi sampel selulosa ampas tebu dan sekam padi dan pembuatan bioplastik dengan metode blending,karakterisasi dilakukan dengan beberapa uji pada bioplastik diantaranya uji modulus young, uji ketahanan air, uji biodegradabel dan uji SEM.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa bioplastik yang dihasilkan memiliki nilai modulus young sebesar 0,560 Kgf/ cm 2 pada selulosa ampas tebu dan 0,322 Kgf/ cm 2 selulosa sekam padi. Pada uji penyerapan air bioplastik ampas tebu memiliki nilai penyerapan 60% sedangkan film bioplastik sekam padi 36%. Uji biodegradabel pada bioplastik ampas tebu didapatkan 28% sedangkan bioplastik sekam padi 35%. Pada uji SEM menunjukkan bahwa bioplastik yang dihasilkan dari keduanya homogenitasnya rendah namun memiliki tektur yang elastis dan kuat. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa selulosa ampas tebu dan sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan film bioplastik.
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

METODE EKSTRAKSI DAUN KUNYIT

METODE EKSTRAKSI DAUN KUNYIT

Kandungan tanin terkondensasi sampel ditentukan menurut metode Julkunen-Tinto (1985). Sebanyak 0,1 mL ekstrak dimasukkan dalam tabung reaksi yang dibungkus aluminium foil, lalu ditambahkan 3 mL larutan vanilin 4% (b/v) dalam metanol dan digojog. Segera sesudah ditambahkan 1,5 mL HCl pekat dan digojog lagi. Absorbansi dibaca pada ? 500 nm setelah campuran diinkubasi selama 20 menit pada suhu kamar. Hasilnya diplotkan terhadap kurva standar katekin yang dipersiapkan dengan cara yang sama. Kandungan tanin terkondensasi dinyatakan sebagai mg/kg ekstrak.

5 Baca lebih lajut

METODE PENELITIAN DESKRIPSI LOKASI DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL TANAH

METODE PENELITIAN DESKRIPSI LOKASI DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL TANAH

Abstrak. Areal Bukit Batu termasuk ke dalam kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil- Bukit Batu (GSK-BB) yang merupakan hutan rawa gambut dataran rendah dengan jenis flora, fauna dan mikroba tanah beranekaragam. Sebagian besar lahan telah dialih fungsi menjadi areal perkebunan, hutan tanaman industri, pertanian, perladangan dan pemukiman penduduk. Alih fungsi lahan akan berdampak terhadap penyusutan atau hilangnya vegetasi asli dan jangka panjang akan mempengaruhi aktivitas biota tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak alih fungsi lahan di areal Bukit Batu terhadap karakter fisika kimia tanah dan aktivitas biota tanah melalui pengukuran biomassa mikroba. Tanah gambut disampling dengan metode purposive sampling dari 6 lokasi yang mewakili berbagai alih fungsi lahan yaitu: hutan primer (kontrol), hutan sekunder, kebun karet umur 14 tahun, hutan karet umur 40-60 tahun, kebun sawit umur 12 tahun, dan kebun sawit umur 3 tahun. Karakter fisika-kimia tanah diukur dengan mengikuti metode standar, sedangkan biomassa mikroba dihitung menggunakan metode Chloroform Fumigation Extraction (CFE). Karakter fisika kimia tanah bervariasi dan belum menunjukkan kecendrungan adanya dampak alih fungsi lahan. Derajat keasaman tanah gambut berkisar 3,5 - 5, suhu tanah saat sampling berkisar 28,25-31,25 o C, berat kering tanah berkisar 21,20-42,86% dengan berat volume tanah berkisar 0,10-0,34 g/cm 3 . Hasil pengukuran biomassa mikroba meliputi biomassa karbon (C), fosfor (P), dan nitrogen (N) menunjukkan bahwa biomassa mikroba pada lokasi yang telah mengalami alih fungsi lahan lebih rendah dan signifikan berbeda dengan hutan primer. Tingginya biomassa mikroba di hutan primer disebabkan oleh ketersediaan bahan organik yang cukup tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan belum memberikan dampak terhadap perubahan karakter fisika kimia tanah, sebaliknya secara signifikan mempengaruhi total biomassa mikroba.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

TAPPDF.COM  PDF DOWNLOAD PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI DAN VARIASI PELARUT  JURNAL UGM 1 PB

TAPPDF.COM PDF DOWNLOAD PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI DAN VARIASI PELARUT JURNAL UGM 1 PB

ungu kering kemudian diserbuk dan diayak dengan pengayak mesh 100. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi pada suhu ruangan. Sampel sejumlah 100 gram dimasukkan ke dalam maserator, kemudian ditambahkan pelarut sampai seluruh bahan terendam. Jenis pelarut yang digunakan meliputi etanol 70%, 80%, 95% dan 96% yang masing-masing ditambahkan asam sitrat 3%b/v. Proporsi pelarut dan dan asam sitrat 3% b/v (85:15) (Kristiana dkk., 2012). Proses maserasi dilakukan selama 3 x 24 jam sambil sesekali dilakukan pengadukan atau dengan bantuan shaker. Ekstraksi diulang sebanyak 3 kali. Maserat yang dihasilkan kemudian dipekatkan dengan cara menguapkan pelarutnya menggunakan vaccum rotary evaporator dengan tekanan rendah pada suhu 70 o C hingga diperoleh ekstrak kental. Pada
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Karakteristik Crude Laminaran dari Sargassum duplicatum | Chamidah | Agritech 9545 17630 1 PB

Pengaruh Metode Ekstraksi terhadap Karakteristik Crude Laminaran dari Sargassum duplicatum | Chamidah | Agritech 9545 17630 1 PB

Jika dibandingkan dengan Sulasmi (2009) ekstraksi de ngan pelarut asam menggunakan spesies alga yang sama diperoleh yield sebesar 2.91 mg/g maka hasil penelitian yang diperoleh jauh lebih tinggi. Hal ini mungkin disebabkan ka- rena pada penelitian ini dilakukan reekstraksi terhadap residu yang dihasilkan atau dilakukan 2 kali ekstraksi, sedangkan pada Sulasmi (2009) hanya sekali ekstraksi. Selain itu sampel dipanen pada saat musim penghujan, sehingga kondisi nutrisional alga kemungkinan berada pada posisi terendah. Deville dkk. (2004) memperoleh yield laminaran sebesar 200 mg/g, untuk spesies Laminaria saccharina. Shevchenko dkk. (2007) menggunakan L. gurjanovae yang diekstraksi dingin dengan larutan HCl diperoleh yield laminaran sebesar 17,6% sedangkan yang diekstraksi panas menggunakan air diperoleh yield 8,7%. Hasil penelitian menggunakan spesies Sargassum de ngan ekstraksi asam menghasilkan yield yang jauh lebih tinggi, tetapi sebaliknya ekstraksi dengan air menghasilkan yield laminaran yang lebih rendah. Hal ini karena spesies yang digunakan memang berbeda. Craigie (1990) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi yield dan kualitas laminaran salah satunya adalah spesies alga.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Populasi dan Sampel dalam Penelitian

Populasi dan Sampel dalam Penelitian

Dalam metode penelitian, kata populasi amat populer yang dipergunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian. Oleh karenanya populasi penelitian merupakan keseluruhan ( universum ) dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya,sehingga objek-objek itu dapat menjadi sasaran sumber data penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keseluruhan unit yang memiliki ciri-ciri yang sama menurut kriteria penelitian yang sedang dilakukan, disebut populasi ( population atau universe ).
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Ekstrak Etanol Daun Salam dan Fraksinya sebagai Inhibitor Alfa- Amilase

Ekstrak Etanol Daun Salam dan Fraksinya sebagai Inhibitor Alfa- Amilase

pengadukan dilanjutkan sampai homogen. Uji Inhibisi α -Amilase (Odhav et al. 2010) Pengujian inhibisi α-amilase dilakukan terhadap ekstrak etanol, fraksi hasil ekstraksi cair-cair, dan fraksi hasil kromatografi kolom. Inhibisi α-amilase ditentukan dengan menghitung gula pereduksi yang dihasilkan pada kondisi percobaan. Inhibisi enzim dihitung sebagai penurunan jumlah maltosa yang terbentuk. Metode asam 3,5- dinitrosalisilat (DNS), metode kromogenik yang dikembangkan oleh Bernfeld pada tahun 1955, digunakan untuk memperkirakan ekivalen maltosa yang terbentuk. Pengujian dilakukan dengan menyiapkan larutan ekstrak etanol, fraksi hasil ekstraksi cair-cair, dan fraksi hasil kromatografi kolom dengan konsentrasi 0.1% (b/v dalam DMSO). Sebanyak 1 mL larutan sampel ditambahkan 1 mL larutan enzim 5U/mL, dihomogenkan, diinkubasi selama 30 menit pada suhu 37 ºC. Setelah itu, ditambahkan 1 mL larutan substrat 0.5% b/v dalam akuades, dihomogenkan, diinkubasi kembali selama 10 menit. Larutan hasil inkubasi, ditambahkan 1 mL larutan DNS 1% lalu dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 10 menit sampai terbentuk warna merah kecoklatan. Larutan tersebut didinginkan sampai suhu ruang lalu ditambahkan 10 mL akuades. Sistem reaksi
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Perbandingan metode ekstraksi daging biji picung (pangium edule Reinw.) dan uji toksisitas terhadap Artemia salina Leach

Perbandingan metode ekstraksi daging biji picung (pangium edule Reinw.) dan uji toksisitas terhadap Artemia salina Leach

Selain digunakan sebagai bumbu masak, biji picung juga dimanfaatkan sebagai obat kudis, bahan baku minyak goreng, sabun, pewarna benang, antioksidan, fungisida, antibakteri, dan insektisida (Burkill 1935). Penelitian mengenai manfaat biji picung juga telah banyak dilakukan, di antaranya hasil penelitian Indriyati (1987) yang menyatakan bahwa biji picung dapat digunakan sebagai antibakteri pembusuk pada ikan secara in vitro. Penelitian lain dilakukan oleh Saputra (2002) yang menunjukkan bahwa ekstrak air daging biji picung memberikan efek fungisida paling besar terhadap cendawan Fusarium solani.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Uji Antidiabetes Ekstrak Etil Asetat Daun Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis, Jacq.) Terhadap Mencit Jantan Chapter III V

Uji Antidiabetes Ekstrak Etil Asetat Daun Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis, Jacq.) Terhadap Mencit Jantan Chapter III V

Metode penelitian ini yang dilakukan dalam penelitian ini adalah secara eksperimentalmeliputi pengumpulan sampel, identifikasi sampel, pengolahan sampel, pembuatan pereaksi, pemeriksaan karakteristik simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia simplisia dan ekstrak, penyiapan hewan percobaan, pembuatan larutan dan suspensi, serta pengujian ekstrak etil asetat daun kelapa sawit terhadap penurunan kadar glukosa darah dengan menggunakan metode toleransi glukosa dan induksi aloksan pada mencit jantan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution ) menggunakan analisis ANAVA kemudian dilanjutkan dengan Post-Hoc Tukey.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

ANALISIS POLIMORFISME V89L GEN SRD5A2 DAN MIKRODELESI GEN AZF DAN SRY PADA PASIEN HIPOSPADIA ISOLATED - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) BAB IV METODE

ANALISIS POLIMORFISME V89L GEN SRD5A2 DAN MIKRODELESI GEN AZF DAN SRY PADA PASIEN HIPOSPADIA ISOLATED - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) BAB IV METODE

Sampel DNA didapatkan dari tim Penyesuaian Kelamin (TPK) – RSUP.Dr.Kariadi (RSDK) - FK.UNDIP. Analisis DNA polimorfisme V89L menggunakan PCR-RFLP metode PAGE dan analisis mikrodelesi gen AZF dan SRY menggunakan PCR multipleks yang telah dikerjakan di CEBIOR Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang pada proyek penelitian sebelumnya.

11 Baca lebih lajut

METODE PENELITIAN Populasi, Sampel dan Sampling

METODE PENELITIAN Populasi, Sampel dan Sampling

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan lembar observasi berupa Skala Bourbonaisuntuk mengukur intensitas nyeri saat Pre-Test dan Post-test dengan melihat respon subyek; apabila responden terlihat berkomunikasi dengan baik maka termasuk nyeri ringan, apabila responden terlihat mendesis, menyeringai, menunjukan lokasi nyeri, dapat mendiskripsikan nyeri , dan bisa mengikuti perintah dengan baik maka termasuk nyeri sedang, dan apabila responden tidak mengikuti perintah tetapi dapat merespon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat mendiskripsikanya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi, napas panjang maka termasuk nyeri berat.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

METODE PENELITIAN Lokasi dan Sampel Penelitian

METODE PENELITIAN Lokasi dan Sampel Penelitian

Analisis ketahanan pangan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan pangsa pengeluaran pangan. Indikator pangsa pengeluaran pangan digunakan oleh Jonnson dan Toole (Maxwell et al. (2000) tetapi tidak menghubungkan dengan konsumsi energi ekuivalen orang dewasa karena keterbatasan penelitian. Hal itu juga telah dibuktikan oleh ilham dan Sinaga (2004) bahwa pangsa pengeluaran pangan dapat dijadikan indikator untuk mengukur ketahanan pangan. Pangsa pengeluaran pangan adalah rasio pengeluaran untuk belanja pangan dan pengeluaran total penduduk selama sebulan. Pangsa pengeluaran pangan penduduk diperoleh dengan menggunakan data di tingkat rumah tangga kemudian dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga. Persamaan pangsa pengeluaran pangan sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Validasi metode analisis residu difenokonazol dalam buah melon (Cucumis melo L.).

Validasi metode analisis residu difenokonazol dalam buah melon (Cucumis melo L.).

menggunakan GC-ECD serta kuantifikasi standar internal menggunakan dekaklorobifenil (DCB). Performa kerja GC-ECD menunjukan presisi dari rasio area, waktu retensi <20%, ketika integritas standar menujukan RSD dari response factor dan %difference <20%. Range linearitaspada konsentrasi 0,053-0,526 ng dengan r 0,890 - 0,999, Instrumental Detection Limit (IDL) 0,01-0,07 ng/ml dan Instrumental Quantitation Limit (IQL) 1,06 ng/g . Recovery fortifikasi sampel ekstrak blank pada konsentrasi 0,158-0,684 ng sebesar 86-91 % dan tidak ada efek matrik secara signifikan. Kesalahan pada tahap ekstraksi, cleanup dan determinasi secara berturut- turut 0,133%, 8,753%, dan 8,670%. Recovery fortifikasi sampel pada 0,158-0,684ng sebesar 71-115% . LOQ sebesar 0,002  g/g dan LLMV 7,364 ng/g, oleh karena itu metode ini sesuai untuk mengawasi kadar residu difenokonazol dalam buah melon, yang memiliki Batas Maksimum Residu (BMR) sebesar 0,7 mg/kg.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

BAHAN DAN METODE Koleksi Sampel dan Ekstraksi Genomik DNA

BAHAN DAN METODE Koleksi Sampel dan Ekstraksi Genomik DNA

Infeksi whit e spot syndrome virus (WSSV) dapat menyebabkan kematian massal pada budidaya udang windu Penaeus monodon di Indonesia. Infeksi yang terjadi secara sistematis tersebut disebabkan oleh peran gen nucleocapsid viral prote in (VP-15). Upaya pengembangan gen VP-15 WSSV u ntuk menginduksi respons imun dan menetralisasi terhadap infeksi WSSV pada udang windu perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan merekombinasikan gen penyandi VP-15 WSSV sebagai vaksin dsRNA, serta menganalisis aplikasinya pada udang windu. Gen VP-15 diisolasi dari udang windu yang terinfeksi WSSV, dikloning ke dalam suatu vektor dan ditransformasikan ke sel kompeten (bakteri Escheria coli DH5  ). Plasmid diisolasi untuk mengonfirmasi insert region gen VP-15 melalui sekuensing nukleotida. Pembuatan vaksin rekombinan dilakukan secara in-vit ro menggunakan kit MEGAscript RNAi dan diaplikasikan ke udang windu melalui metode injeksi dengan dosis tunggal 0,2 µg dan kontrol (tanpa injeksi vaksin). Hewan uji yang digunakan b erukuran p an jan g 14,75± 3,17 g dan bo bo t 11,64± 0,76 cm ; se rt a d ip elih ara pada wadah bak fibe r volume 250 L dengan kepadatan 10 ekor/bak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen penyandi VP-15 telah diisolasi dari udang windu dan vaksin rekombinan telah dihasilkan secara in-vit ro . Analisis sekuens nukleotida memperlihatkan bahwa sisipan gen DNA VP-15 sebesar 253 bp dan menunjukkan kemiripan yang tinggi (99%) pada GenBank. Penggunaan vaksin rekombinan dsRNA dengan dosis 0,2 µg memperlihatkan sintasan udang windu yang dapat mencapai 40,0% dibandingkan dengan kontrol hanya 3,3% (p en in gkatan 36,7%). Gam baran h isto pat ologi pad a jaringan he pato pankreas ud an g win du p ad a perlakuan kontrol menunjukkan adanya kerusakan inti sel, akibat infeksi WSSV. Gene VP-15 berpotensi sebagai bahan vaksin rekombinan dsRNA dalam mencegah infeksi WSSV.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

METODE PENELITIAN Populasi, Sampel dan Sampling

METODE PENELITIAN Populasi, Sampel dan Sampling

Penanganan artritis reumatoid secara umum yaitu secara farmakologis dan non- farmakologis. Obat farmakologik adalah bentuk pengendalian nyeri yang paling sering digunakan. Namun dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk memberikan terapi nonfarmakologi karena mengingat bahwa terapi farmakologi itu sendiri memiliki efek samping yang cukup banyak seperti depresi pernafasan, mual dan muntah, dan konstipasi. Selain itu, obat farmakologi juga dapat menimbulkan toleransi, ketergantungan, dan

10 Baca lebih lajut

Metode Penelitian | Afid Burhanuddin populasi dan sampel

Metode Penelitian | Afid Burhanuddin populasi dan sampel

SMK=900,   SMP=400,   SD=300.   Jumlah sampel yang   harus diambil meliputi strata   pendidikan tersebut.   Untuk 3   orang lulusan S2   dan 4   orang lulusan S1   diambil semuanya sebagai sampel,   karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibanding dengan kelompok SMA,   SMA,   SMP   dan SD

12 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI ANTOSIANIN KUBIS MERAH SEBAGAI INDIKATOR PADA KEMASAN CERDAS Characterization Antosianin of Red Cabbage as a Indicator in Smart Packaging

KARAKTERISASI ANTOSIANIN KUBIS MERAH SEBAGAI INDIKATOR PADA KEMASAN CERDAS Characterization Antosianin of Red Cabbage as a Indicator in Smart Packaging

dan 1347.13 mg/l untuk lama maserasi 4 hari. Hal ini disebabkan konsentrasi pelarut etanol yang digunakan memiliki tingkat kepekatan tinggi sebesar 96% dengan karakteristik mudah menguap, sehingga jumlah etanol yang kontak terhadap sampel tidak mencakup keseluruhan dari jumlah pelarut yang digunakan. Kemudian menciptakan kondisi menuju titik jenuh di hari 3 maserasi yang memicu turunnya aktifitas ekstraksi dari pelarut. Selain itu kondisi sampel selama proses maserasi tidak sepenuhnya dalam wujud pulp setelah diblender sehingga mengurangi kontak terhadap pelarut selama proses maserasi dikarenakan luas permukaan yang relatif kecil.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...