Top PDF Metode Pengukuran Terumbu Karang melalui

Metode Pengukuran Terumbu Karang melalui

Metode Pengukuran Terumbu Karang melalui

Metode ini digunakan untuk pengamatan seluruh kondisi terumbu karang di suatu area yang luas. Metode Manta Tow ini juga suatu teknik pengamatan terumbu karang dengan cara pengamat di belakang perahu kecil bermesin dengan menggunakan tali sebagai penghubung antara perahu dengan pengamat

4 Baca lebih lajut

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

Jumlah dan jenis spesies terumbu karang yang didapat dari kajian teori sudah banyak yang mengalami kerusakan baik kerusakan yang diakibatkan oleh manusia seperti pengambilan karang sebagai bahan bangunan, menangkap ikan dengan cara di bom dan menggunakan racun. Maupun kerusakan yang diakibatkan oleh alam seperti terjadinya tsunami, dan gempa bumi. Dengan terjadinya kerusakan terumbu karang tersebut maka akan mengancam kelangsungan kehidupan hewan laut seperti ikan kerapu, ikan nemo (clown fish).

2 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

dalam (Susana, 2005), memberikan batasan nilai pH yang ideal bagi kehidupan biota laut yaitu berkisar antara 6,5 – 8,5. Alaert & Santika (1987), menyatakan bahwa kekeruhan perairan berasal dari partikel-partikel run-off, aliran sungai, buangan industri dan rumah tangga. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produsen. Hasil pengukuran kekeruhan diperairan Selat Lembeh berkisar antara 0,12 – 1,51 ntu (Lampiran 4). Stasiun Tandurusa dan Papusungan dicirikan oleh parameter kekeruhan, hal tersebut diduga bahwa pada lokasi tersebut telah terjadi masukan zat-zat/bahan-bahan yang dapat menurunkan kualitas perairan. Namun demikian kadar kekeruhan tersebut masih di bawah baku mutu yang ditetapkan oleh Kepmen KLH/51/2004 yakni 5 ntu. Menurut Monoarfa (2002), BOD adalah jumlah oksigen yang digunakan untuk mendegrdasi bahan organik secara biokimia, juga dapat diartikan sebagai ukuran bahan yang dapat dioksidasi melalui proses biokimia. Oleh karena itu, tujuan pemeriksaan BOD adalah untuk menentukan pencemaran air akibat limbah domestik atau limbah industri. Kandungan BOD 5 memperlihatkan nilai yang cukup bervariasi selama
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Penginderaan jauh merupakan akuisisi data sebuah objek oleh sebuah alat seperti Satelit Landsat yang secara fisik tidak melakukan kontak dengan objek tersebut. Citra yang dihasilkan dari penginderaan jauh merupakan citra multispektral. Teknologi Penginderaan Jauh dengan segala kelebihannya merupakan solusi paling efektif karena dapat memberikan data secara akurat dengan penyajian data yang cukup detail dan akses data yang direkam secara periodic.Penginderaan jauh merupakan suatu metode untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, areal ataupun fenomena geografis melalui analisis data yang diperoleh dari sensor. Citra merupakan masukan data atau hasil observasi dalam proses penginderaan jauh.Sedangkan istem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap objek, aerah atay gejala yang dan dikaji. Terumbu Karang adalah ekosistem bawah air yang sangat beragam yang sering kali disebut “hutan hujan laut.” Dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi biota laut sebagai sumber makanan dan tempat memijah. Terumbu karang terdiri dari dua kata, yakni terumbu dan karang. Istilah terumbu dan karang memiliki makna yang berlainan. Istilah karang merujuk pada sekumpulan binatang. Sedangkan terumbu merupakan struktur kalsium karbonat (CaCO 3 ) yang dihasilkan oleh karang. Dalam bahasa Inggris disebut coral reef.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan (Artificial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,Provinsi DKI Jakarta

Analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan (Artificial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,Provinsi DKI Jakarta

Terumbu karang adalah bangunan ribuan hewan yang menjadi tempat hidup berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang yang sehat dengan luas 1 km 2 dapat menghasilkan 20 ton ikan. Terumbu karang Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar perikanan laut di dunia yang menyediakan sekitar 3,6 juta ton dari produksi perikanan laut secara keseluruhan. Persediaan karang dan ikan karang Indonesia yang melimpah terancam oleh praktek penangkapan ikan yang merusak seperti penangkapan ikan dengan menggunakan racun sianida dan bahan peledak. Terumbu karang memiliki fungsi ekosistem yang penting, yang menyediakan barang dan jasa bagi ratusan juta penduduk khususnya di negara-negara berkembang. Terumbu karang yang kondisinya menurun akan kehilangan nilai karena menjadi tidak produktif. Di Kepulauan Seribu (perairan bagian Utara Jakarta), sekitar 90-95% terumbu karang hingga kedalaman 25 m mengalami kematian. Ada beragam upaya mengatasi penurunan atau kelangkaan stok sumberdaya ikan. Beberapa diantaranya dengan menggunakan rumpon dan terumbu buatan. Upaya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi terumbu karang Kepulauan Seribu adalah dengan rehabilitasi melalui penenggelaman terumbu buatan (artificial reefs).
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

dalam (Susana, 2005), memberikan batasan nilai pH yang ideal bagi kehidupan biota laut yaitu berkisar antara 6,5 – 8,5. Alaert & Santika (1987), menyatakan bahwa kekeruhan perairan berasal dari partikel-partikel run-off, aliran sungai, buangan industri dan rumah tangga. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produsen. Hasil pengukuran kekeruhan diperairan Selat Lembeh berkisar antara 0,12 – 1,51 ntu (Lampiran 4). Stasiun Tandurusa dan Papusungan dicirikan oleh parameter kekeruhan, hal tersebut diduga bahwa pada lokasi tersebut telah terjadi masukan zat-zat/bahan-bahan yang dapat menurunkan kualitas perairan. Namun demikian kadar kekeruhan tersebut masih di bawah baku mutu yang ditetapkan oleh Kepmen KLH/51/2004 yakni 5 ntu. Menurut Monoarfa (2002), BOD adalah jumlah oksigen yang digunakan untuk mendegrdasi bahan organik secara biokimia, juga dapat diartikan sebagai ukuran bahan yang dapat dioksidasi melalui proses biokimia. Oleh karena itu, tujuan pemeriksaan BOD adalah untuk menentukan pencemaran air akibat limbah domestik atau limbah industri. Kandungan BOD 5 memperlihatkan nilai yang cukup bervariasi selama
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah

Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah

Kekhasan ikan karang pada umumnya di tunjukkan oleh corak dan jenis warna yang beraneka ragam. Sehingga sangat membantu dalam pengenalan maupun identifikasi kelompok ikan dari famili Chaetodontidae. Pada prinsipnya, ikan karang dikatogorikan sebagai ikan perairan dangkal. Sebagaimana bisa kita lihat dari anatomi kelompok ikan karang ini terdiri dari 9 komponen utama, yakni: 1) dorsal fin (sirip punggung), 2) pectoral fin (sirip dada), 3) ventral fin (sirip bawah), 4) anal fin (sirip bawah belakang), 5) caudal fin (sirip ekor), 6) operculum (gill cover/ penutup ingsang), 6) lateral line (garis sisi), 7) gasblader (hydrostatic organ), dan 9) gill (insang). Sirip punggung dapat terbagi atas dua bagian, yakni: sirip keras (hard spins) dan sirip lunak (soft spins). Selain corak warna, salah satu penciri yang khas adalah bentuk sirip ekor (Irawati, 2006).
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

PEMUTIHAN KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

PEMUTIHAN KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

Sejalan dengan turunnya tutupan karang dan rekrutmen karang akibat pemutihan karang, kelimpahan dan biomassa ikan terumbu juga mengalami penurunan di TWP Gili Matra. Hilangnya terumbu karang paling berdampak terhadap ikan yang tergantung pada terumbu karang untuk hidup/tinggal dan banyak yang menghadapi resiko kepunahan akibat meningkatnya frekuensi bleaching [46]. Turunnya kelimpahan ikan terumbu secara signifikan diikuti turunnya biomassa namun tidak signifikan dimana ikan dari kelompok planktivora dan omnivore yang paling banyak mengalami penurunan kelimpahannya.Kedua tipe pemakan tersebut mayoritas diisi oleh ikan famili Pomacentridae dan Anthinae-sub famili Serranidae dimana kedua kelompok ikan tersebut berukuran kecil (<10 cm) berasosiasi
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PEMUTIHAN KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL TAHUN 2016 TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG: STUDI KASUS DI TWP GILI MATRA (GILI AIR, GILI MENO DAN GILI TRAWANGAN) PROVINSI NTB

PEMUTIHAN KARANG AKIBAT PEMANASAN GLOBAL TAHUN 2016 TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG: STUDI KASUS DI TWP GILI MATRA (GILI AIR, GILI MENO DAN GILI TRAWANGAN) PROVINSI NTB

melibatkan banyak species karang yang cenderung menggambarkan stress lingkungan yang ekstrim [3]. Pemutihan karang masal bisa dikorelasikan dengan gangguan spesifik seperti temperatur air yang ektrem tinggi atau rendah, radiasi matahari, sedimentasi, masukan air tawar, kontaminasi / toksik dan penyakit [3]-[6]. Faktor peningkatan suhu air laut seringkali diasosiasikan dengan pemanasan global dimana karang termasuk fauna dengan toleransi suhu yang rendah dikarenakan peningkatan suhu sebesar 1 0 C – 1,5 0 C diatas rata-rata diketahui sudah dapat memicu terjadinya pemutihan karang [2], [7]- [9]. Meskipun batas toleransi karang terhadap suhu bervariasi antar species atau antar daerah pada species yang sama, tetapi hewan karang dan organisme terumbu karang hidup dengan suhu yang dekat batas atas toleransinya [10].
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Makalah Reef Zooplankton Heidi Retnoningtyas

Makalah Reef Zooplankton Heidi Retnoningtyas

Pada  perairan  terumbu  karang,  tidak  semua  zooplankton  merupakan  plankton  sejati.  Penelitian  Alldredge  and  King    menunjukkan  komposisi  zooplankton  di  terumbu  karang  didominasi  oleh  kelompok  larva  krustasea,  yang  berarti  bahwa  meski  larva  yang  ditemukan  tersebut sedang dalam fase planktonik, larva tersebut tidak akan selamanya menjadi plankton. Saat  mencapai  usia  dewasa,  larva  akan  hidup  sebagai  organisme  bentik  menetap  di  dasar  perairan   ataupun nekton  berenang bebas di kolom air . Jenis zooplankton seperti ini digolongkan sebagai  meroplankton , yang disebut juga sebagai plankton sementara  Romimohtarto dan Juwana,  .  Plankton dari golongan ini menjalani kehidupan sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur  hidupnya,  yakni  pada  tahap  telur  dan  larva  Nontji,  .  Kelompok  lain  diluar  meroplankton  adalah  holoplankton , yaitu kelompok plankton  yang seluruh hidupnya  dijalani sebagai plankton.  Nontji    menyebutkan  kelompok‐kelompok  plankton  yang  merupakan  holoplankton  diantaranya  kopepoda,  amfipod,  salpa,  dan  kaetognata,  sedangkan  dari  golongan  meroplankton  meliputi karang, larva ikan, larva udang, larva kepiting, dan larva moluska.  
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province

Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province

Ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90–95 %. Suharsono (1998) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2- 3°C diatas suhu normal. Suhu optimum pertumbuhan karang di daerah tropis adalah 25 - 30°C, suhu ekstrim akan mempengaruhi binatang karang dalam proses metabolisme, reproduksi dan pengapuran. Kenaikan suhu diatas 3 - 5°C diatas ambang batas menyebabkan menurunnya kemampauan karang untuk hidup dan tumbuh.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Perlindungan Dan Pengelolaan Terumbu Karang Terhadap Lungkungan Hidup Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

Perlindungan Dan Pengelolaan Terumbu Karang Terhadap Lungkungan Hidup Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

Terumbu yang sehat lebih mungkin untuk bertahan hidup dari efek negatif perubahan iklim, seperti pemutihan karang (coral bleaching) yang disebabkan oleh kenaikan suhu air laut atau tingkat pertumbuhan karang berkurang karena keasaman laut meningkat. Menanggulangi ancaman lokal di awal akan memberi kesempatan bagi terumbu karang untuk tumbuh, sampai masyarakat global dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. 26 Laporan The Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle menginformasikan kegiatan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), sebuah kemitraan multilateral yang dibentuk pada tahun 2009 oleh enam negara Segitiga Karang untuk mempromosikan penangkapan ikan yang berkelanjutan, meningkatkan pengelolaan MPA, memperkuat adaptasi perubahan iklim, dan melindungi spesies yang terancam di wilayah tersebut.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Komposisi Umum Zooplankton Terumbu

Komposisi Umum Zooplankton Terumbu

Gambar 4. Proporsi setiap taksa yang berasal dari substrat berbeda (Kobervig, 2009) Terkait dengan preferensi zooplankton terhadap substrat, Kobervig tidak menemukan hasil yang signifikan. Pengecualian hanya pada kopepod yang lebih banyak muncul dari sampel karang bercabang dibandingkan karang halus. Hal ini tidak mengejutkan karena kopepod memiliki mobilitas yang lebih tinggi sehingga kemungkinan untuk memilih substrat juga lebih besar. Selain itu, karang bercabang menyediakan lebih banyak tempat untuk berlindung dibandingkan karang halus, sehingga tidak heran bila kopepod lebih menyenangi substrat karang bercabang. Penelitian lain yang dilakukan Alldredge and King (1977) menyimpulkan bahwa terdapat preferensi zooplankton terhadap substrat, dimana Ostracod dan Nematoda lebih menyukai pasir, sedangkan Kopepod dan taksa lainnya lebih memilih substrat karang. Karang, terutama karang bercabang, membentuk proyeksi tiga dimensi sehingga menyediakan lebih banyak tempat terlindung bagi zooplankton. Seperti telah disinggung sebelumnya, zooplankton, khususnya zooplankton demersal yang banyak menghuni terumbu karang merupakan plankton yang lebih aktif di malam hari. Pada hari terang atau siang hari, mereka mencari substrat yang aman sebagai tempat bersembunyi, karang bercabang > pecahan karang = pasir > karang halus
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

kepmen terumbu karang

kepmen terumbu karang

Konstruksi di daratan dan sepanjang pantai, penambangan atau pertanian di daerah aliran sungai ataupun penebangan hutan tropis menyebabkan tanah mengalami erosi dan terbawa melalui aliran sungai ke laut dan terumbu karang. Kotoran-kotoran, lumpur ataupun pasir-pasir ini dapat membuat air menjadi kotor dan tidak jernih lagi sehingga karang tidak dapat bertahan hidup karena kurangnya cahaya.

11 Baca lebih lajut

Visualisasi Terumbu karang dan desain transplantasi terumbu

Visualisasi Terumbu karang dan desain transplantasi terumbu

Terumbu karang di Pangandaran dapat di temukan pada kawasan cagar alam laut di pantai timur dan barat Pananjung, memilki panjang 1,5 km dan lebar 50 m (Anonymous, 2006), dengan tipe terumbu karang berupa karang tepi (fringing reef). Jenis karang batu yang ditemukan di pantai barat di dominasi oleh jenis acropora dan monticora.

23 Baca lebih lajut

Makalah dan terumbu dan karang

Makalah dan terumbu dan karang

sama terhadap kerusakan lingkungan. Banyak deklarasi-deklarasi yang disepakati oleh banyak negara dalam upaya menyelamatkan lingkungan. Begitu pula dengan menyelamatkan terumbu karang. Telah banyak kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui oleh banyak negara untuk bekerja sama dalam menjaga lingkungan. Yang paling terakhir dilakukannya World Ocean Conference (WOC) atau disebut juga Manado Ocean Declare pada tanggal 11-15 Mei 2009 di Manado. Deklarasi ini disepakati oleh 61 negara, termasuk negara- negara Coral Triangle Initiative Summit yang merupakan kawasan yang kaya akan terumbu karang. Dalam deklarasi ini disepakati komitmen bersama mengenai penyelamatan lingkungan laut dari ancaman global warming dan komitmen program penyelamatan lingkungan laut secara berkelanjutan di tiap negara. Kampanye lingkungan hidup seperti ini sangat baik bagi upaya penyelamatan lingkungan. Apalagi dilakukan secara global yang menjaring banyak pihak sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih cepat dan lebih baik lagi.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGUMUMAN TERUMBU KARANG

PENGUMUMAN TERUMBU KARANG

Nama paket pekerjaan : Pembibitan, Penanaman dan Pemeliharaan Terumbu Karang di Kabupaten Karangasem, Buleleng dan Jembrana dalam rangka Pelaksanaan Pencegahan Kerusakan Lingkungan Laut pada Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali

1 Baca lebih lajut

MAKALAH dan TERUMBU dan KARANG

MAKALAH dan TERUMBU dan KARANG

Bahan pencemar lain yang dikenal berpengaruh terhadap kehidupan terumbu karang adalah tailing. Limbah tailing berasal dari batu-batuan dalam tanah yang telah dihancurkan hingga menyerupai bubur kental. Proses itu dikenal dengan sebutan proses penggerusan. Batuan yang mengandung mineral seperti emas, perak, tembaga dan lainnya, diangkut dari lokasi galian menuju tempat pengolahan yang disebut processing plant. Di tempat itu proses penggerusan dilakukan. Setelah bebatuan hancur menyerupai bubur biasanya dimasukkan bahan kimia tertentu seperti sianida atau merkuri, agar mineral yang dicari mudah terpisah. Mineral yang berhasil diperoleh
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Economic Analysis of Benefit Value of Coral Reef Ecosystem in Ternate Island North Maluku Province

Economic Analysis of Benefit Value of Coral Reef Ecosystem in Ternate Island North Maluku Province

Berdasarkan hasil survey pemanfaatan ekosistem terumbu karang di Pulau Ternate hanya memanfaatkan ikan karang. Ekstraksi terhadap terumbu karang langsung tidak terjadi seperti pengambilan karang baik untuk bahan bangunan maupun untuk aquariun laut. Industri ikan hias di Ternate tidak berkembang seperti di daerah lainnya padahal keanekaragaman ikan hiasnya cukup tinggi. Umumnya nelayan Ternate hanya mengambil ikan konsumsi yang laku di pasar lokal. Selama masa survey tidak ditemukan nelayan yang menggunakan bahan peledak dan bius. Menurut Keterangan nelayan di Pulau Ternate hanya sewaktu-waktu melakukan penangkapan ikan dengan bahan peledak jika telah dirasakan bahwa hasil tangkapan menurun. Selain itu Kebiasaaan melakukan peledakan juga tidak oleh semua nelayan. Kebanyakan oleh nelayan pendatang dari daerah Sangir Talaut dan Buton yang tidak berdomisili di Ternate. Mereka datang menangkap ikan kemudian melakukan peledakan dan pergi. Bahkan pernah nelayan Filipina memasuki perairan Ternate dan melakukan peledakan .
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Fungsi Terumbu Karang

Fungsi Terumbu Karang

This page was exported from - Karya Tulis Ilmiah Export date: Sun Sep 3 2:08:09 2017 / +0000 GMT Fungsi Terumbu Karang LINK DOWNLOAD [28.48 KB] Ekosistem terumbu karang mempunyai nil[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...