Top PDF Model Talking Stick dan Kemampuan Berbicara

Model Talking Stick dan Kemampuan Berbicara

Model Talking Stick dan Kemampuan Berbicara

Penerapan model Talking Stick pada pertemuan pertama peneliti mengalami kesulitan dan menemukan beberapa hambatan-hambatan. Hambatan yang ditemui peneliti pada pertemuan pertama, yaitu siswa belum siap saat mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan model Talking Stick karena adanya perubahan model pembelajaran guru yang sebelumnya menggunakan model pembelajaran biasa sehingga siswa memerlukan penyesuaian terhadap model pembelajaran yang baru tersebut, sebelum siswa diberikan tongkat terlebih dahulu peneliti menjelaskan cara menggunakan tongkat tersebut, serta pada saat siswa diberikan sebuah tongkat kondisi kelas menjadi gaduh karena siswa belum siap mendapatkan tongkat ketika musik berhenti dan belum siap untuk menjawab pertanyaan mengenai materi yang sedang mereka pelajari, siswa juga masih merasa takut untuk maju menuliskan jawaban dari pertanyaan yang ada di papan tulis dan sebagian pertanyaan yang telah dibuat di papan tulis ada yang belum dibahas karena keterbatasan waktu yang tersedia.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Siswa Kelas XI Sman 1 Tarik

Penerapan Model Pembelajaran Talking Stick untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Jerman Siswa Kelas XI Sman 1 Tarik

Pembelajaran bahasa terdiri atas 4 keterampilan berbahasa, yaitu, keterampilan membaca (Lesenverstehen), menulis (Schreiben), keterampilan menyimak (Hörenverstehen), dan keterampilan berbicara (Sprechen). Dari 4 keterampilan tersebut, keterampilan berbicara (Sprechen) dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang sangat penting dalam belajar bahasa Jerman. Namun seringkali siswa mengalami kesulitan dalam berbicara karena kurangnya latihan berbicara. Sikap pasif para siswa merupakan kendala utama dalam pembelajran keterampilan berbicara. Selain itu siswa cenderung lebih memilih poin lain dari pada harus berbicara. Banyak siswa yang malu dan enggan untuk berbicara karena kurangnya kosakata yang dimilliki dan takut untuk berbicara baik dengan teman sebangku ataupun di depan umum. Umumnya juga siswa cenderung malu-malu dan tidak berani berbicara bahasa Jerman karena ada rasa takut dalam melafalkan bahasa Jerman yang dirasa sulit untuk dilafalkan. Sementara Guru yang mendominasi pada pembelajaran keterampilan berbicara, menimbulkan sikap bosan siswa pada saat pembelajaran bebicara. Hal tersebut mnuntut guru untuk lebih bervariasi dan inovartif dalam pembelajran berbicara. Salah satunya dengan penggunaan metode dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Maka dari itu peneliti mencoba menggunakan pembelajaran Kooperatif model Talking Stick untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Jerman siswa kelas XI lintas minat SMA Negeri 1 Tarik, dalam kemampuan berbicara, jam pelajaran bahasa Jerman yang diterima hanya 2x45 menit dalam satu minggu dan peneliti menemukan kekurangan siswa dalam keterampilan berbicara pada saat melakukan pemantauan di kelas saat guru mata pelajaran melaksanakan kegiatan berbicara bahasa Jerman sebelum melaksanakan penelitian. Peneliti memantau keaktifan siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Jerman, dan kemampuan komukasi siswa dengan teman sebangku atau siswa sejawat dalam bahasa Jerman.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII 6 SMP NEGERI 4 DENPASAR TAHUN AJARAN 2015/2016

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII 6 SMP NEGERI 4 DENPASAR TAHUN AJARAN 2015/2016

Pelaksanaan pembelajaran siklus III dilaksanakan dalam satu kali pertemuan (3 x 40 menit), pada hari Jumat, 11 Maret 2016. Pada siklus III tahap pelaksanaannya tidak berbeda jauh dengan siklus II, hanya berbeda pada topik. Pelaksanaan siklus III merupakan pengulangan dari siklus II yang ditambah dengan perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus III. Berdasarkan hasil tes pada siklus III dapat diketahui bahwa nilai rata-rata berupa tes kemampuan berbicara siswa kelas VIII 6 SMP Negeri 4 Denpasar adalah sebesar 8,56dengan kategori baik atau rentang skor 71-78.Hasil yang diperoleh pada siklus III sudah memenuhi ketuntasan yang diharapkan sebesar 8,00 dengan kategori baik.Nilai rata-rata pada siklus III menunjukkan peningkatan sebesar 0,81dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus II, peningkatan sebesar 1,14 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada siklus I , dan peningkatan sebesar 1,36 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada prasiklus.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Berbicara Dengan Menggunakan Metode Talking Stick Pada Siswa Kelas VIII 6 SMP Negeri 4 Denpasar Tahun Ajaran 2015/2016

Peningkatan Kemampuan Berbicara Dengan Menggunakan Metode Talking Stick Pada Siswa Kelas VIII 6 SMP Negeri 4 Denpasar Tahun Ajaran 2015/2016

Setiap orang mampu berbicara secara alamiah, namun tidak semua orang mampu berbicara secara terampil dan teratur sehingga kegiatan berbicara menimbulkan kegugupan dan gagasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur. Hal ini juga menimbulkan penggunaaan bahasa yang tidak teratur.Pembelajaran keterampilan berbicara sangat perlu dan penting diajarkan pada setiap jenjang pendidikan, baik tingkat SD maupun sampai ke jenjang yang lebih tinggi, karena adanya pembelajaran tersebut siswa mampu untuk berkomunikasi dengan baik. Dengan demikian, mereka mampu menguasai perkembangan kosa kata dan berani untuk menyampaikan ide atau gagasan secara lisan, baik dalam situasi formal maupun nonformal yang dibimbing oleh guru terkait materi yang diberikan. Pembelajaran bahasa memegang andil besar dalam membina kemampuan berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran bahasa yang efektif dan efisien.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM BERNYANYI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK PADA SISWASEKOLAH DASAR

MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI DALAM BERNYANYI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK PADA SISWASEKOLAH DASAR

bosan, serta dapat mengingat materi yang diajarkan dengan baik. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk indikasi peningkatan kepercayaan diri. Bukti meningkatnya kepercayaan diri siswa terhadap pembelajaran bernyanyi adalah dengan wawancara unstructure melalui tanya jawab kepada para siswa diakhir pembelajaran pada siklus I dan dijawab oleh seorang siswa yang bernama Otto Cornelis Silalahi yang mengatakan bahwa pembelajaran tidak mengasyikkan, siswa tersebut memilih bermain bola dibandingkan pembelajaran dengan metode talking stick. Kemudian peneliti kembali bertanya mengenai pendapatnya setelah ketiga siklus dilaksanakan. Siswa tersebut mengatakan bahwa telah berlatih di rumah dan sangat bersemangat ingin menampilkan hasil latihannya di sekolah. Peneliti juga mewawancarai siswa lainnya yaitu Keysha, Romana Mariska Meydianti dan Susanti. Romana mengatakan bahwa pada saat berkelompok, siswa tersebut lebih mengikuti teman sekelompoknya, sehingga jika temannya tersebut diam, ia juga ikut diam. Tetapi saat menjalani pembelajaran dengan model talking stick, siswa tersebut menjadi lebih bersemangat dan senang dalam mengikuti pembelajaran. Demikian pula Keysha dan Susanti. Keduanya merasa senang selama mengikuti pembelajaran, meskipun di prasiklus mereka kurang percaya diri dan hanya mengikuti teman sekelompok saja. Di siklus I dan II keduanya dapat belajar sambil bermain sehingga bersemangat mengikuti pembelajaran dan di siklus III terlihat Keysha, Romana Mariska Meydianti dan Susanti mengalami perkembangan dalam kepercayaan diri dan juga secara penilaian. Dari beberapa siswa perempuan yang telah peneliti wawancara, peneliti juga bertanya kepada ketiga siswa laki-laki lainnya salah satu dari ketiga siswa itu adalah Lungki siswa yang memiliki kebutuhan khusus, berbicara kepada lungki memang harus memiliki kesabaran yang tinggi karena lungki masih kurang fokus dalam menyimak pertanyaan, tetapi apa yang ditanyakan peneliti dapat ia jawab dengan benar dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian. Setelah itu peneliti bertanya kepada siswa yang bernama Jessen Lim dan Nathanael Amandus Nelvin, mereka merasa memiliki kendala atau kesulitan saat bernyanyi dengan meodel pembelajaran talking stick ini kata jessen ketika ditanya peneliti, apakah ada kesulitan ketika bernyanyi saat melakukan pembelajaran metode talking stick ini “saya tidak bisa berekspresi bu, sulit untuk bergaya sambil bernyanyi, nanti lupa lagunya” jawab jessen dengan polosnya. Begitu pula dengan nelvin ketika ditanya apakah ada kendala ketika bernyanyi dengan menggunakan model talking stick ini, “ saya merasa malu bu, ketika saya bernyanyi dilihatkan teman-teman semua” tutur nelvin dengan jujur kepada peneliti.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII 6 SMP NEGERI 4 DENPASAR TAHUN AJARAN 2015/2016

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TALKING STICK PADA SISWA KELAS VIII 6 SMP NEGERI 4 DENPASAR TAHUN AJARAN 2015/2016

Pelaksanaan pembelajaran siklus III dilaksanakan dalam satu kali pertemuan (3 x 40 menit), pada hari Jumat, 11 Maret 2016. Pada siklus III tahap pelaksanaannya tidak berbeda jauh dengan siklus II, hanya berbeda pada topik. Pelaksanaan siklus III merupakan pengulangan dari siklus II yang ditambah dengan perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus III. Berdasarkan hasil tes pada siklus III dapat diketahui bahwa nilai rata-rata berupa tes kemampuan berbicara siswa kelas VIII 6 SMP Negeri 4 Denpasar adalah sebesar 8,56dengan kategori baik atau rentang skor 71-78.Hasil yang diperoleh pada siklus III sudah memenuhi ketuntasan yang diharapkan sebesar 8,00 dengan kategori baik.Nilai rata-rata pada siklus III menunjukkan peningkatan sebesar 0,81dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus II, peningkatan sebesar 1,14 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada siklus I , dan peningkatan sebesar 1,36 dibandingkan dengan nilai rata-rata pada prasiklus.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA MELALUI METODE TALKING STICK.

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA MELALUI METODE TALKING STICK.

Berdasarkan hasil pengamatan di kelas III SDN I Gombang Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten, kegiatan belajar mengajar PKn di kelas III materi keanekaragaman budaya Indonesia, penerapan model, metode, strategi, dan media pembelajarannya masih kurang sesuai, sehingga menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang di- harapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung, guru cenderung masih menggunakan metode konvensional, seperti ceramah, mencatat, dan penugasan. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi pasif. Selain itu, guru juga kurang kreatif dalam menyam- paikan materi. Terlihat ketika pembelajaran berlangsung guru belum mengunakan media pembelajaran dan hanya menggunakan bahan ajar sebagai sumber belajar. Aktivitas kelom- pok pun tidak ada, sehingga interaksi siswa satu dengan yang lain kurang. Hal-hal ter- sebut yang akhirnya mengakibatkan siswa cepat jenuh dan bosan selama pembelajaran dan akhirnya kemampuan mengidentifikasi
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

A. Penerapan Model Kooperatif Tipe Talking Stick di MIN 4 Tulungagung - MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TONGKAT BERBICARA (TALKING STICK) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AL-QUR’AN HADITS DI MIN 4 TULUNGAGUNG - Institutional Repository of IAIN Tulun

A. Penerapan Model Kooperatif Tipe Talking Stick di MIN 4 Tulungagung - MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TONGKAT BERBICARA (TALKING STICK) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AL-QUR’AN HADITS DI MIN 4 TULUNGAGUNG - Institutional Repository of IAIN Tulun

Pendapat bapak Munir bahwa model kooperatif tipe talking stick itu cocok diterapkan bilamana materi sesuai dan kegiatan seperti ini akan memberikan para peserta didik untuk membentuk sinergi yang menguntungkan

9 Baca lebih lajut

DESAIN SISTEM INSTRUKSIONAL PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE TALKING CHIPS. Oleh : Robiatul Munajah, M.

DESAIN SISTEM INSTRUKSIONAL PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE TALKING CHIPS. Oleh : Robiatul Munajah, M.

Indikator pencapaian kompetensi (IPK) dalam model pembelajaran kooperatif tipe Talking Chips merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. IPK dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam mengembangkan IPK perlu mempertimbangkan: (a) tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD; (b) karakteristik mata pelajaran, siswa, dan sekolah; (c) potensi dan kebutuhan siswa, masyarakat, dan lingkungan/daerah. Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu: indikator pencapaian kompetensi yang terdapat dalam RPP, dan indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang dikenal sebagai indikator soal.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MENYAMPAIKAN TANGGAPAN MELALUI MODEL TALKING STICK BERBANTUAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS III SDN TUGUREJO 03 SEMARANG

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MENYAMPAIKAN TANGGAPAN MELALUI MODEL TALKING STICK BERBANTUAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS III SDN TUGUREJO 03 SEMARANG

b. Aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui penerapan model Talking Stick berbantuan media gambar dari siklus I sampai siklus III meningkat. Siklus I memperoleh skor 17,98 dengan kriteria baik, kemudian siklus II memperoleh skor 20,58 dengan kriteria sangat baik dan siklus III memperoleh skor 22,01 dengan kriteria sangat baik. Hasil penelitian telah mencapai indikator keberhasilan yaitu aktivitas siswa meningkat sekurang-kurangnya skor lebih besar sama dengan 13. Melalui pembelajaran ini siswa belajar lebih bermakna dengan menemukan sendiri pengetahuannya melalui kegiatan pengamatan gambar. Siswa menjadi aktif dalam pembelajaran, menganalisis gambar, terbiasa mengeluarkan pendapat atau tanggapan, mengkaitkan pengalaman belajar dengan kegidupan sehari-hari untuk memperoleh pengetahuan baru, berdiskusi kelompok untuk memecahkan masalah, bermain Talking Stick dan berbicara didepan kelas.
Baca lebih lanjut

236 Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA MELALUI METODE TALKING STICK

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGIDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA MELALUI METODE TALKING STICK

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN I Gombang Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 26 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi, yaitu triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Analisis data menggunakan model analisis interaktif, yang terdiri dari tiga komponen, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TALKING STICK DALAM PEMBELAJARAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TALKING STICK DALAM PEMBELAJARAN KELIPATAN PERSEKUTUAN TERKECIL

klasikal menjelaskan materi tentang KPK, dengan tahap pembelajaran pertama konsep kelipatan, kedua konsep kelipatan persekutuan dan ketiga konsep kelipatan persekutuan terkecil.Guru : Anak – anak , sebutkan dua bilangan antara 1-10 yang akan kita cari kelipatannya?’’. Siswa: ‘’2 dan 3’’. Kemudian siswa diminta untuk menempelkan gambar buah stroberi untuk setiap kelipatan 2 dan gambar buah anggur untuk setiap kelipatan 3. Siswa sangat antusias dan hampir semua siswa mendapat kesempatan untuk menempelkan buah pada setiap kelipatan bilangan tersebut. kemudian satu siswa diminta menyebutkan kelipatan 2 adalah 2,4,6,8,12,14,16,18,20,…dan kelipatan 3 adalah 3,6,9,12,15,18,.. emudian siswa diminta mengamati dikolom bilangan yang memuat buah stroberi dan anggur bilangan tersebut merupakan kelipatan 2 dan 3 yaitu 6,12,18,.. Terakhir siswa diminta menentukan bilangan kelipatan persekutuan yang paling kecil. Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dari 2 dan 3 adalah 6. Semua siswa asyik dalam pembelajaran untuk papan KPK kelipatan setiap bilangan boleh saja kita variasikan bisa saja persegi atau segitiga, disini kami menggunakan gambar buah biar lebih menarik. Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok setiap kelompok anggotanya 4-5 orang. Setiap kelompok dipilih berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan akademiknya. Setiap kelompok mendapatkan tugas yang berbeda- beda. Kemudian dibagikan LKS siswa berdiskusi membahas LKS tersebut,dalam LKS tersebut siswa diminta menempelkan potongan kertas untuk setiap bilangan yang akan dicari kelipatannya dengan warna yang berbeda, kemudian siswa diminta menentukan kelipatan persekutuan dan kelipatan persekutuan terkecil dari dua
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Model Talking Stick Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas III

Pengaruh Model Talking Stick Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas III

menjawab. Sedangkan pada kelas kontrol menggunakan metode kovensional, tanya jawab, penugasan dan penggunaan media gambar serta slide showpower point. Dalam kegiatan pmbelajaran peneliti tidak banyak menghadapi kendala. Semua mengikuti pembelajaran dengan tertib dan tenang pada saat peneliti menjelaskan materi, namun masih ada beberapa siswa yang masih sibuk sendiri dengan aktivitas bersama teman sebangkunya, seperti berbicara, berbisik- bisik, menjahili teman, bahkan jalan-jalan di kelas pada saat pembelajaran berlangsung dikelas.

9 Baca lebih lajut

Peningkatan Berpikir Kritis melalui Aktivitas Model Think Pair Share dan Talking Stick

Peningkatan Berpikir Kritis melalui Aktivitas Model Think Pair Share dan Talking Stick

siswa terhadap kemampuan berpikir kritis ada mata pelajaran sejarah di kelas XI 60$ 0D¶DULI 3DGDQJ Ratu. Kegiatan belajar mengajar merupakan unsur utama dalam jalannya pembelajaran disekolah. Dengan adanya kegiatan belajar mengajar maka siswa diharapkan dapat berubah kearah yang lebih positif baik dari segi tingkah laku maupun pengetahuannya. Winkel (2007: 56) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA.

Komunikasi adalah proses penyamapaian ide atau gagasan yang dimiliki kepada orang atau sekitar guna menyampaikan informasi agar mendapat respon dari penerima dan memberikan umpan balik terhadap pemberi informasi. Jadi komunikasi dalam penerapan model pembelajaran talking stick pada pembelajaran IPS adalah komunikasi dalam hal ini merupakan proses siswa untuk menyampaikan ide atau gagasannya dengan cara: (a) membaca; (b) menjawab; (c) menulis; dan (d) mendengarkan kepada penerima untuk mendapaykan timbal balik atau respon dari penerima.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PPKN PADA SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TALKING STICK

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PPKN PADA SISWA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TALKING STICK

Pemahaman merupakan suatu kemampuan seseorang dalam hal menerjemaahkan, menafsirkan, atau menyatakan sesuatu dengan cara atau bahasa sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.Guru harus bisa merancang pembelajaran yang menarik, sehingga materi yang disampaikan dapat diterima oleh peserta didik. banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sulitnya pemahaman yang dialami oleh siswa salah satunya adalah kurangmya kosentrasi pada saat pembelajaran berlangsung dan kurangnya motivasi siswa untuk giat belajar. Karena perbedaan latar belakang siswa berbeda-beda.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

261 KEEFEKTIFAN MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV

261 KEEFEKTIFAN MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV

belajar tersebut terjadi n model pembelajaran king Stick. Menurut ,pembelajaran kooperatif ebih luas meliputi semua termasuk bentuk-bentuk an diarahkan oleh guru. n model pembelajaran latih kemampuan siswa osial. Salah satu model tif yang digunakan dalam h model iTalking Stick. ngatakan bahwa metode nya menggunakan iringan rgulir dari satu siswa ke menentukan siswa yang n di dalam tongkat njadi lebih semangat, roses belajar mengajar an. Oleh karena itu, yang berlangsung ketika pembelajaran Talking dan ketertarikan siswa kat. Siswa menunjukkan alu siap untuk maju ke kan soal yang diberikan pun demikian, model memiliki kelemahan yang es pembelajaran yang han tersebut meliputi: gaduh, lagu yang dipilih n agar semua siswa dapat nya tidak terlalu panjang, lokasi waktu yang lebih elasan yang dipaparkan di hasil belajar siswa pada atika meningkat sebanyak unakan model pembelajaran h menggunakan model s hasil belajar matematika ripada sebelumya. Selain ang tuntas belajar juga na itu, dapat disimpulkan jaran Talking Stick efektif matematika siswa kelas ngsumber 01 Kabupaten
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

PENGARUH MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

ImasKurniasih (2016: 30) bahwa kelebihan model talking stickmenguji kesiapan siswa dalam penguasaan materi pelajaran, melatih membaca dan memahami dengan cepat materi yang telah disampaikan, agar lebih giat belajar karena siswa tidak pernah tau tongkat akan sampai pada gilirannya. Secara umum, pembelajaran dengan menggunakan model talking stick berlangsung dengan baik dan siswa mengikuti pembelajaran dengan sangat antusias. Dalam pembelajaran ini siswa diminta untuk membaca materi yang telah disediakan oleh guru. Setelah siswa selesai membaca materinya maka siswa diminta untuk menutup buku. Tongkat berkeliling dari siswa satu kesiswa lainnya, pada saat tongkatnya bekeliling diiringi dengan lagu- lagu kebangsaan, siswa yang mendapatkan tongkat tersebut wajib memjawab pertanyaan dari guru, banyak siswa yang menjawab pertanyaan dengan benardan besemangat pada saat menjawab. Sedangkan pada kelas kontrol menggunakan metode kovensional, tanya jawab, penugasan dan penggunaan media gambar serta slideshowpower point. Dalam kegiatan pmbelajaran peneliti tidak banyak menghadapi kendala. Semua mengikuti pembelajaran dengan tertib dan tenang pada saat peneliti menjelaskan materi, namun masih ada beberapa siswa yang masih sibuk sendiri dengan aktivitas bersama teman sebangkunya, seperti berbicara, berbisik- bisik, menjahili teman, bahkan jalan-jalan di kelas pada saat pembelajaran berlangsung dikelas.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

PENGARUH MODEL TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III

menjawab. Sedangkan pada kelas kontrol menggunakan metode kovensional, tanya jawab, penugasan dan penggunaan media gambar serta slide showpower point. Dalam kegiatan pmbelajaran peneliti tidak banyak menghadapi kendala. Semua mengikuti pembelajaran dengan tertib dan tenang pada saat peneliti menjelaskan materi, namun masih ada beberapa siswa yang masih sibuk sendiri dengan aktivitas bersama teman sebangkunya, seperti berbicara, berbisik- bisik, menjahili teman, bahkan jalan-jalan di kelas pada saat pembelajaran berlangsung dikelas.

9 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI MAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI MAN

Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya. Menurut Joyce dan Weil (d alam Rusman, 2014) berpendapat bahwa, “Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum dan pembelajaran jangka panjang, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau di luar k elas”. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects