Top PDF Morfometri, Morfologi Serta Abnormalitas Spermatozoa Owa Jawa (Hylobates moloch) Asal Ejakulat | Astuti | Jurnal Sain Veteriner 486 277 1 PB

Morfologi dan Morfometri Spermatozoa Kucing Domestik (Felis catus)

Morfologi dan Morfometri Spermatozoa Kucing Domestik (Felis catus)

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai morfologi dan morfometri spermatozoa kucing domestik (Felis catus). Lima ekor kucing yang telah dewasa kelamin dikoleksi semennya menggunakan elektroejakulator. Semen dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Sampel semen diwarnai menggunakan pewarnaan carbofuchsin (William’s stain). Morfologi dievaluasi dari 200 sel untuk setiap sampel dengan tiga kali pengulangan. Morfometri spermatozoa dihitung menggunakan perangkat lunak ImageJ. Variabel yang diukur pada bagian kepala spermatozoa adalah panjang, lebar dan luas sedangkan untuk bagian ekor adalah panjang midpiece dan ekor bagian utama dari 50 sel untuk setiap sampel dengan tiga kali pengulangan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa abnormalitas primer dan sekunder pada kucing domestik masing-masing adalah 15.00 ± 3.11% dan 7.97 ± 1.97%. Headless dan dag defect adalah abnormalitas yang paling banyak ditemukan pada semua sampel. Panjang, lebar dan luas daerah kepala spermatozoa berturut-turut adalah 5.13 ± 0.20 µm, 3.01 ± 0.31 µm dan 11.96 ± 1.68 µm. Panjang midpiece dan ekor bagian utama adalah 7.62 ± 0.22 µm dan 38.72 ± 0.29 µm. Panjang total spermatozoa adalah 51.47 ± 0.56 µm.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Morfologi Spermatozoa Manusia setelah Simpan Beku dengan Medium TES-Tris Yolk Citrat (TES-TYC) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Morfologi Spermatozoa Manusia setelah Simpan Beku dengan Medium TES-Tris Yolk Citrat (TES-TYC) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Wetzels,1996). Kristal es intrasellular ini saat penghangatan kembali (thawing) akan beragregasi dan dapat menyebabkan kerusakan sel yang berakibat kematian sel (Mazur,1977). Kematian sel dapat diketahui dengan pengujian vitalitas spermatozoa (Girraud et. al., 2000). Upaya untuk mempertahankan agar spermatozoa tidak mengalami kerusakan selama simpan beku, adalah dengan cara menambah semen dengan medium tertentu sebelum dilakukan simpan beku. Medium simpan beku spermatozoa umumnya mengandung buffer dan cryoprotectant. Medium TES-Tris yolk citrat (TESTYC) merupakan medium yang sering digunakan pada simpan beku spermatozoa. Medium tersebut merupakan medium yang dapat mempertahankan motilitas
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

1 KUALITAS DAN PROPORSI SPERMATOZOA X DAN Y SAPI Limousin SETELAH PROSES SEXING MENGGUNAKAN GRADIEN DENSITAS ALBUMIN PUTIH TELUR

1 KUALITAS DAN PROPORSI SPERMATOZOA X DAN Y SAPI Limousin SETELAH PROSES SEXING MENGGUNAKAN GRADIEN DENSITAS ALBUMIN PUTIH TELUR

nantinya. Teknik pemisahan kromosom sel spermatozoa X dan Y ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan bahan, percobaan yang sering dilakukan antaralain dengan menggunakan metode gradien densitas albumin putih telur, sentrifugasi gradien densitas percoll, filtrasi dengan metode sephadex kolom, manipulasi hormonal, antigen H-Y, isoelektric focusing, elektroforesis dan pemisahan perbedaan muatan deoxyribo nucleic acid (DNA) (Hafez, 2008; de Jonge, Flaherty, Barness, Swann and Mathew, 1997).

11 Baca lebih lajut

Cholesterol Levels In Bligon Goats During Estrous Cycle | Kartikasari | Jurnal Sain Veteriner 6549 11248 1 PB

Cholesterol Levels In Bligon Goats During Estrous Cycle | Kartikasari | Jurnal Sain Veteriner 6549 11248 1 PB

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status kadar kolesterol selama siklus estrus pada kambing Bligon. Pada penelitian ini digunakan kambing bligon (Capra hircus) sebanyak 4 ekor, berumur 2-3 tahun, berat badan 27-45 kg, berjenis kelamin betina, secara klinis sehat, tidak bunting, dan memiliki siklus estrus normal. Pengambilan sampel darah sebanyak 5 ml dilakukan pada hari ke 1 (estrus), 3-4 (luteal awal), 10-16 (luteal akhir), dan 17-20 (fase proestrus) dari vena jugularis dengan menggunakan spuit dan ditampung pada tabung berisi lithium heparin. Plasma dipisahkan dengan cara sentrifugasi, dimasukkan ke dalam Ependorf ukuran 1,5 ml dan disimpan pada temperatur -20° C sampai analisis dilakukan. Kadar kolesterol diukur dengan metoda spektrofotometrik. Perbedaan kadar kolesterol selama siklus estrus dianalisis dengan menggunakan metode General Linear Model Repeated Measure. Perbedaan dinyatakan signifikan jika P < 0,05. Rerata kadar kolestrol pada kambing bligon pada penelitian ini berkisar antara 52,20 ± 11,11 - 64,50 ± 18,46 mg/dl. Hasil analisis data dengan Repeated Measure menunjukkan bahwa konsentrasi kolesterol antar fase selama siklus estrus tidak berbeda nyata (P>0,05). Namun demikian, terlihat adanya kecenderungan kadar kolesterol yang lebih rendah pada fase luteal awal ( 52,20 mg/dl) dan fase luteal akhir (53,19 mg/dl) jika dibandingkan dengan kadar kolesterol pada fase folikuler (65,50 mg/dl) saat estrus dan (59,22 mg/dl) saat proestrus. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan, bahwa kadar kolesterol dalam plasma tidak mengalami perubahan yang nyata selama siklus estrus.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Comparation Protection Level of Newcastle Disease in Broiler | Wibowo | Jurnal Sain Veteriner 2625 7414 1 PB

Comparation Protection Level of Newcastle Disease in Broiler | Wibowo | Jurnal Sain Veteriner 2625 7414 1 PB

Propagasi virus dalam penelitian ini menggunakan telur berembrio. Virus yang telah berhasil didapat dari sampel di inokulasikan pada telur TAB ayam kampung yang berusia 11 hari. Telur diteropong untuk menentukan titik inokulasi dan kelayakan telur. Peneropongan telur paling baik dilakukan diruang gelap dengan menatap telur berembrio di depan lampu teropong yang diatur diafragmanya sehingga embrio terlihat dengan jelas. Telur berembrio diberi tanda pada bagian kantung udara dan letak kepala embrio dengan digunakan pensil. Telur disterilisasi dengan menggunakan etanol 70%, dan ditunggu sampai kering. Telur dilubangi pada bagian yang sebelumnya telah ditandai. Inokulasi virus dilakukan dengan menggunakan spet 1 ml. tuberkulin sebanyak 0,2 ml p a d a s e t i a p t e l u r p a d a b a g i a n k a n t u n g
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...