Top PDF Negara Harus Perbaiki Daya Saing.

Analisis daya saing komoditas pulp dan kertas Indonesia di negara importir utama

Analisis daya saing komoditas pulp dan kertas Indonesia di negara importir utama

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar individu, individu dengan pemerintah, atau antar pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain (Mankiw 2006). Perdagangan internasional merupakan suatu “mesin pertumbuhan” bagi negara-negara yang terlibat didalamnya, terutama bagi negara-negara berkembang. Dengan melakukan kegiatan ekspor secara intensif, maka suatu negara akan mengalami kemajuan pesat dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, oleh karena mendapatkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara (Salvatore 1997). Krugman dan Obsfeld (2003) dalam Ramadhan (2011) menjelaskan bahwa negara-negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama; masing-masing alasan menyumbangkan keuntungan perdagangan (gains form trade) bagi mereka. Pertama, bangsa-bangsa berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. Bangsa-bangsa, sebagaimana individu- individu, dapat memperoleh keuntungan dari perbedaan-perbedaan mereka melalui suatu pengaturan di mana setiap pihak melakukan sesuatu dengan 30egative lebih baik. Kedua, negara-negara berdagang satu sama lain dengan tujuan mencapai skala ekonomis (economies of scale) dalam produksi.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Daya Saing dan Determinan Ekspor Udang Beku Indonesia di Negara Tujuan Ekspor

Daya Saing dan Determinan Ekspor Udang Beku Indonesia di Negara Tujuan Ekspor

Gambar 5 Negara tujuan ekspor udang beku Indonesia tahun 2004-2013. Data yang kosong di negara tertentu bukan berarti negara tersebut tidak mengimpor udang dari Indonesia melainkan negara tersebut tidak termasuk dalam 10 besar negara tujuan ekspor udang beku Indonesia. Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa terdapat 5 yang selalu menjadi 10 besar negara pengimpor udang beku Indonesia dalam 10 tahun terakhir, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Inggris Raya, Hongkong, dan Tiongkok. Belgia dan Perancis selama 9 tahun, Vietnam selama 7 tahun, Kanada dan Belanda selama 5 tahun, Jerman, Italia dan Singapura 4 tahun, Australia 2 Tahun dan Spanyol selama 1 tahun. Oleh karena itu, daya saing udang beku Indonesia akan diteliti di lima belas negara tersebut untuk mengidentifikasi apakah udang beku Indonesia memiliki daya saing yang kuat di semua negara tujuan tersebut.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

Estimasi Daya Saing dan Determinan Ekspor Komoditas Kertas Indonesia ke Negara OKI

Estimasi Daya Saing dan Determinan Ekspor Komoditas Kertas Indonesia ke Negara OKI

Kontribusi total ekspor dua negara OKI tersebut bisa menjadi dukungan peluang bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi pasar ekspor kertas ke negara non-tradisional yang selama ini rentan pada isu dumping dan memberi tuduhan kualitas. Isu Green Economics dengan ketat terus diusung oleh dunia internasional sebagai pencegahan kerusakan alam yang terjadi akibat aktivitas ekonomi. Hasil kesepakatan konferensi ITTO (International Tropical Timber Organization) pada tahun 1990 menetapkan bahwa tahun 2000 merupakan awal diberlakukan kebijakan Ecolabelling pada produk kayu untuk memenuhi standar kualitas dan sistem manajemen lingkungan. Semua produk kayu tropis yang diperdagangkan harus berasal dari hutan yang diproduksi secara lestari (Suratmo 2000). Kebijakan ekolabel akan berdampak pada daya saing terkait dengan perubahan biaya produksi dan akses pasar internasional terkait dengan standar kualitas serta status dampak lingkungan. Tujuan standarisasi tersebut terkadang dimanfaatkan oleh negara maju yang juga produsen kertas untuk memberi barrier pasar untuk negara berkembang yang memiliki teknologi produksi yang terbatas. Dalam hal ini Indonesia juga pernah mendapat tuduhan dumping kualitas dari beberapa negara, diantarannya dari Korea tahun 2009, Jepang tahun 2012, dan Amerika tahun 2015 (Kementrian Perindustrian). Hal tersebut merupakan tuduhan sepihak yang digunakan untuk menghambat perdagangan.
Baca lebih lanjut

67 Baca lebih lajut

Comparative Advantage and Trade Flow of Indonesian Cocoa in International Market

Comparative Advantage and Trade Flow of Indonesian Cocoa in International Market

Hasil dari pertimbangan estimasi gravity model tersebut diperkuat dengan mempertimbangkan hasil analisis daya saing yaitu apakah biji kakao Indonesia memiliki keunggulan di negara-negara tersebut. Indonesia sendiri memiliki biji kakao yang memiliki keunggulan cocok untuk blending karena titik leleh yang tinggi, berlemak, dan dapat menghasilkan kakao powder dengan mutu yang baik (Kemenperin 2011). Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk dapat meningkatkan pangsa pasarnya di pasar internasional. Berdasarkan hasil analisis daya saing (RCA), dapat diketahui bahwa nilai rata-rata RCA biji kakao Indonesia di pasar internasional sebesar 12.53 yang menunjukkan bahwa biji kakao Indonesia memiliki keunggulan komparatif atau daya saing di pasar internasional. Di setiap negara tujuan ekspor pun Indonesia memiliki nilai RCA yang lebih besar dari satu kecuali di Belanda. Seperti dilihat pada Tabel 21, negara tujuan ekspor yang memiliki rata-rata nilai RCA tertinggi sampai yang terendah dalam waktu 10 tahun terakhir (2002-2011) secara berurutan yaitu Brazil, Kanada, China, Amerika Serikat, Malaysia, Thailand, Singapura, India, Jerman, dan Belanda. Brazil, Kanada, dan China merupakan tiga negara dimana biji kakao Indonesia memiliki daya saing tertinggi karena rata-rata nilai RCA di ketiga negara tersebut merupakan yang tertinggi yaitu di atas 25, sehingga perdagangan biji kakao Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan di negara-negara tersebut. Namun demikian, berdasarkan hasil estimasi gravity model, Kanada memiliki rata-rata pertumbuhan GDP riil per kapita yang tidak besar bahkan urutan tiga terbawah yaitu 1.11 persen/tahun (Tabel 24).
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

STRATEGI MENINGKATKAN DAYA SAING UKM DAL

STRATEGI MENINGKATKAN DAYA SAING UKM DAL

Berbicara mengenai CAFTA, tidak terlepas kesepakatan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Kemudian dibentuknya AFTA tidak terlepas dari pembentukan ASEAN (Association of South East Asian Nations). Demikian juga pembentukan MEA tentu tidak terlepas dari pembentukan ASEAN dan kesepakatan AFTA. ASEAN yang dibentuk pada tahun 1967 merupakan salah satu kawasan yang paling dinamis dan berkembang paling cepat, paling tidak sampai sebelum terjadinya krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997/1998. Pada awalnya ASEAN didirikan oleh 6 (enam) anggota yang juga sebagai pemrakarsa berdirinya AFTA yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Kemudian Vietnam bergabung pada tahun 1995 dan diikuti oleh Laos, Myanmar, dan Kamboja. Meskipun demikian, karena praktis hampir semua negara anggota ASEAN membuat produk-produk yang sama, maka terjadi persaingan yang ketat antarmereka sehingga keberadaan ASEAN tidak terlalu signifikan bagi peningkatan volume perdagangan di dalam ASEAN (Tambunan, 2004). Oleh karena itu dibentuk AFTA yang disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-4 di Singapura pada tahun 1992 dengan tujuan menciptakan pasar bersama.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Peluang dan Tantangan Industri Pelayaran

Peluang dan Tantangan Industri Pelayaran

http://www.ajtpweb.org/statistics/compareasean/Water_Transport Kondisi geografis Singapura yang sangat strategis merupakan faktor utama sebagai pendukung daya saing industri pelayaran Singapura. Singapura merupakan kompetitor utama dalam perdangan jasa pelayaran di ASEAN, dengan volume arus kargo terbesar apabila dibandingkan dengan volume arus kargo di negara-negara ASEAN yang lain. Pada sektor lain, jasa kontainer Singapura menunjukkan adanya permintaan pasar yang terus meningkat pada lima tahun terakhir. Sebagai sebuah Negara yang dengan luas wilayah yang terkecil di ASEAN, Singapura telah menerapkan orientasi terhadap industry perdagangan dan juga mempromosikan dirinya sebagai Negara yang melayani jasa pelayaran di regional Asia dengan mengedepankan lokasinya yang strategis (Jose Tongzhon dan Sang-Yoon Lee, 2015). Sumbangan perekonomian di bidang maritime rata-rata mencapai 7% setiap tahunnya, hal ini yang menjadikan sektor maritime merupakan pilar perekonomian yang penting. Salah satu kebijakan pemerintah yang berperan
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

DETERMINAN PERINGKAT DAYA SAING GLOBAL: PERBANDINGAN ANTARA NEGARA MAJU DAN BEKEMBANG

DETERMINAN PERINGKAT DAYA SAING GLOBAL: PERBANDINGAN ANTARA NEGARA MAJU DAN BEKEMBANG

Selain dengan melihat pendapatan per kapita, klasifikasi negara berkembang juga dapat dilihat dari ciri-ciri pembangunan negara tersebut, yaitu: standar hidup dan produktivitas yang lebih rendah, tingkat modal manusia yang lebih rendah, tingkat ketimpangan dan kemiskinan absolut yang lebih tinggi ,tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi, fraksionalisasi sosial yang lebih besar, jumlah penduduk pedesaan yang lebih besar namun memiliki tingkat migrasi desa-kota yang lebih cepat, tingkat industrialisasi dan ekspor barang yang lebih rendah, kondisi geografis yang menghambat, pasar yang terbelakang, dampak kolonial yang tersisa dan hubungan internasional yang tidak setara
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Analisis daya saing ekspor komoditi teh indonesia di Pasar Internasional

Analisis daya saing ekspor komoditi teh indonesia di Pasar Internasional

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR4) untuk mengetahui struktur pasar dan pangsa pasar yang dimiliki oleh komoditi teh Indonesia di pasar internasional. Analisis keunggulan daya saing menggunakan analisis kuantitatif Revealed Comparative Advantage (RCA) dengan menggunakan formula Balassa. Revealed Comparative Advantage ini digunakan untuk menjelaskan kekuatan daya saing komoditi teh secara relatif terhadap produk sejenis dari negara lain yang juga menunjukkan posisi komparatif Indonesia sebagai produsen teh dibandingkan negara lainnya dalam pasar teh internasional. Sedangkan untuk melihat analisis daya saing komoditi teh dari sisi keunggulan kompetitif digunakan pendekatan Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond Theory). Teori ini digunakan untuk menganalisis faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu negara. Faktor internal mencakup faktor fisik dan manusia, sedangkan faktor eksternalnya adalah peluang yang terjadi di pasar domestik maupun internasional.
Baca lebih lanjut

246 Baca lebih lajut

DAYA SAING KAMPUNG WISATA DIPOWINATAN KOTA YOGYAKARTA

DAYA SAING KAMPUNG WISATA DIPOWINATAN KOTA YOGYAKARTA

Kondisi umum sosial, politik dan ekonomi Kota Yogyakarta dan kondisi negara Indonesia atau kondisi keamanan yang berasal dari luar wilayah kampung dianggap aman dan nyaman untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Apabila diperhatikan, kondisi kehidupan masyarakat di Kota Yogyakarta sangat rukun dan jarang terjadi konflik antar masyarakatnya. Kondisi perekonomian Kota Yogyakarta secara khusus dan Indonesia secara umum memang kurang stabil, bahkan pasca kritis moneter yang pernah melanda Negara Indonesia. Namun hal tersebut ternyata juga tidak menjadi hambatan bagi para wisatawan untuk dapat mengunjungi Indonesia dan berkunjung ke Kampung Wisata Dipowinatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Economic Complexity Indonesia Terhadap Daya Saing Negara-Negara Kategori Efficiency - Driven Economy Tahun 2014 - Ubaya Repository

Economic Complexity Indonesia Terhadap Daya Saing Negara-Negara Kategori Efficiency - Driven Economy Tahun 2014 - Ubaya Repository

Peningkatan kerjasama ekonomi menciptakaan lapangan pekerjaan baru dari hasil kerjasama ekonomi dan pembangunan yang dilakukan perusahaan-perusahaan China di Indonesia. Intinya, kepentingan Indonesia yang dibawa dalam kerjasama ACFTA sedikit mulai terpenuhi. Agar pemanfaatan kerjasama ini lebih optimal, Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing dan mulai memperbaiki sistem dan infrastrukturnya.

2 Baca lebih lajut

Perlindungan Terhadap Industri Dalam Negeri Dalam Kerangka Pasar Bebas AFTA

Perlindungan Terhadap Industri Dalam Negeri Dalam Kerangka Pasar Bebas AFTA

Perjanjian AFTA dibentuk pada waktu Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992 . Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN sebagai wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002. Permasalahan dalam penelitian ini adalah kerangka hukum perdagangan bebas AFTA. Bentuk-bentuk perlindungan hukum terhadap industri dalam negeri dalam kerangka perdagangan bebas AFTA. Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia Dalam Melindungi Industri Dalam Negeri Dalam Kerangka Perdagagan Bebas AFTA. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Strategi Meningkatkan Daya Saing Batik Melalui Culturepreneur: Refleksi Dari Batik Giriloyo Imogiri - Unika Repository

Strategi Meningkatkan Daya Saing Batik Melalui Culturepreneur: Refleksi Dari Batik Giriloyo Imogiri - Unika Repository

Daya saing pada dasarnya merupakan konsep multidimensional, yaitu dimensi institusi dan dimensi produk. Pada dimensi institusi, daya saing dapat dilihat dari tiga tingkat yang berbeda yaitu negara, industri dan perusahaan. Sedangkan dalam dimensi produk, suatu produk dikatakan berdaya saing apabila produk tersebut mempunyai atribut (terutama kualitas) yang lebih baik dibanding dengan produk lain yang harganya sama. Di samping memiliki kualitas, produk yang berdaya saing pada umumnya juga memiliki keunikan (uniqueness) dibanding produk lain yang menjadi pesaingnya (Chrouch, 2006). Dalam kedua dimensi ini, daya saing menggambarkan bagaimana kekuatan ekonomi harus menghadapi pesaing dalam perekonomian pasar global dalam hal barang, jasa, orang, kemampuan, ide yang dapat bergerak bebas lintas geografi (Murths et al, 1998). Negara dapat berdaya saing hanya jika perusahaan-perusahaan yang ada di dalamnya berdaya saing. Potter (1998) menyatakan, “it is the firms, not nations, which compete in international markets’’. Dengan menggunakan konsep Potter maka terlihat bahwa bangsa Indonesia tidak dapat memiliki daya saing yang berkesinambungan jika aspek-aspek mikro dalam perekonomian, seperti perusahaan juga tidak memiliki daya saing.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Militer masih tetap penting ketika ancam

Militer masih tetap penting ketika ancam

Militer akan selalu berelasi dengan ancaman non militer karena ancaman non militer juga berpotensi menimbulkan kekacauan dan perang. Walaupun perang yang terjadi di masa datang akan atau perang yang disebabkan ancaman militer akan berbeda. Perang akan terjadi sangat terbatas, waktu lebih singkat, dan menggunakan teknologi yang tinggi. Sebagai contoh ancaman ekonomi skala internasional yang dihadapkan negara dapat berupa mempertahankan hegemon melaui ekonomi, daya saing rendah, depedensi dengan negara lain, dan tidak siap menghadapi globalisasi. 3

4 Baca lebih lajut

Model Pendidikan Vokasi oleh Widarto UNY

Model Pendidikan Vokasi oleh Widarto UNY

Berdasarkan hal-hal di atas, yang menjadi pekerjaan besar kita adalah bagaimana menyiapkan SDM yang mempunyai daya saing secara terbuka dengan negara lain, adaptif dan antisipatif terhadap berbagai perubahan dan kondisi baru, terbuka terhadap perubahan, mampu belajar bagaimana belajar (learning how to learn), memiliki berbagai keterampilan, mudah dilatih ulang, serta memiliki dasar-dasar kemampuan luas, kuat, dan mendasar untuk berkembang di masa yang akan dating. Makalah ini ingin membahas bagaimana perencanaan pendidikan vokasi yang mampu menyiapkan kebutuhan tenaga kerja yang memiliki ciri-ciri seperti telah disebutkan di atas, yang dapat dihasilkan melalui pendidikan vokasi secara yang efektif dan efisien.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

ANALISIS PERFORMA EKSPOR DAN IMPOR INDON

ANALISIS PERFORMA EKSPOR DAN IMPOR INDON

Konsep perdagangan bebas untuk pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith pada awal abad ke-19 dengan teori keunggulan absolut (absolute comparative) yang kemudian disempurnakan oleh David Ricardo (1817) dengan model keunggulan komparatif (The Theory of Comparative Advantage). Menurut David Ricardo (Hady, 2001), perdagangan dapat dilakukan oleh negara yang tidak memiliki keunggulan absolut pada kedua komoditi yang diperdagangkan d dibyaengan melakukan spesialisasi produk yang kerugian absolutnya lebih kecil atau memiliki keunggulan komparatif, yang selanjutnya menjadi permulaan munculnya konsep RCA (Revealed Comparative Advantage). RCA adalah indeks yang mengukur kinerja ekspor suatu komoditas dari suatu negara dengan mengevaluasi peranan ekspor suatu komoditas dalam ekspor total negara tersebut. Dengan RCA, kita dapat melihat adanya perubahan keunggulan komparatif atau perubahan tingkat daya saing industri di suatu negara. Menurut Andari (2017), jika nilai RCA yang diperoleh RCA > 1 maka negara tersebut memiliki keunggulan komparatif pada suatu komoditas di pasar internasional. Sebaliknya, jika nilai RCA yang diperoleh RCA < 1, maka suatu komoditas di negara tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif. Kekuatan kompetisi produk ekspor Indonesia dibandingkan negara eksportir ASEAN terbesar dapat dilihat pada tabel RCA berikut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Daya saing produk perikanan Indonesia di beberapa negara importer utama dan dunia

Daya saing produk perikanan Indonesia di beberapa negara importer utama dan dunia

Pesaing utama ekspor ikan hias Indonesia ke dunia adalah Singapura, Spanyol dan Malaysia, walaupun Indonesia menjadi eksportir ikan hias terbesar kesatu, keenam dan kesembilan pada tahun 2001, 2005 dan 2009. Produk kedua tuna sirip kuning segar memiliki pesaing utama Filipina, Panama, Taiwan, Australia, Meksiko dan Thailand dimana negara pesaing etrsebut selama tahun 2001, 2005 dan 2009 memiliki nilai ekspor yang lebih rendah dari Indonesia keculai Taiwan pada tahun 2009. Tuna sirip kuning beku memiliki pesaing utama Taiwan, Spanyol, Korea, Panama dan Perancis dan Indonesia memiliki nilai ekspor yang memang lebih rendah dari negara tersebut dengan berada pada peringkat delapan, sembilan dan sepuluh pada tahun 2001, 2005 dan 2009. Lobster beku memiliki pesaing utama Kanada, Vietnam, Iceland dan Amerika Serikat, sedangkan lobster segar hanya Kanada dan Amerika Serikat yang utama. Ekspor produk udang beku Indonesia di pasar dunia menempati urutan kedua pada tahun 2001 dan keempat pada tahun 2005 dan 2009, pesaing utamanya adalah Thailand, Vietnam, Filipina dan India. Udang segar pesaing utamanya yaitu Belanda, Vietnam dan Cina. Produk kepiting yang cukup menjadi sorotan Indonesia dalam kurun waktu terakhir memiliki pesaing utama Kanada, Amerika Serikat, Cina dan Inggris. Siput yang di Indonesia diproduksi dalam perikanan tangkap perairan umum di dunia memiliki pesaing Cina, Macedonia, Meksiko dan Hongaria walaupun Indonesia menempati urutan kedua apda tahun 2001, ketiga pada tahun 2005 dan keempat pada tahun 2009.
Baca lebih lanjut

259 Baca lebih lajut

RENDAHNYA DAYA SAING NEGARA INDONESIA TE

RENDAHNYA DAYA SAING NEGARA INDONESIA TE

Dalam Hal meningkatkan daya saing perekonomian dan pembangunan Indonesia hal utama yang harus dilakukan dalam membangun daya saing dan kemandirian bangsa berbasis sains dan teknologi. Namun apapun yang dilakukan, gagasan upaya maupun langkah-langkah yang diuraikan di atas mutlak diperlukan agar masyarakat secara keseluruhan dapat membangun daya saing dan kemandirian bangsa berbasis sains dan teknologi bagi kesejahteraan hidupnya. Jika tidak, sangat sulit rasanya bangsa ini keluar dari ketergantungan penggunaan sains dan teknologi asing yang berimplikasi kepada kemelaratan perekonomian nasional yang permanen
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

DAYA SAING TENAGA KERJA INDONESIA DALAM

DAYA SAING TENAGA KERJA INDONESIA DALAM

Menurut Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Indonesia masih sangat kekurangan tenaga kerja terdidik. Sebagai contoh, untuk setiap satu juta penduduk, Indonesia hanya memiliki 164 insinyur. Sementara di Malaysia, jumlah insinyur mereka sudah mencapai 50 persen dari total penduduknya. Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Arief Yahya, memprediksi bahwa Indonesia akan bersaing dengan Filipina. Menurutnya, ribuan tenaga kerja asal Manila tersebut akan masuk ke Indonesia memperebutkan kesempatan kerja yang terbuka pada bidang-bidang strategis. Tenaga kerja asal Filipina memiliki kemampuan berbahasa Inggris jauh lebih bagus dari pekerja Indonesia dan mau dibayar dengan upah lebih murah Merujuk pada survei Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-50 dari 144 negara yang disurvei. Tahun ini Indonesia mengalami penurunan indeks daya saing global, dari posisi ke 46 (2011) menjadi ke 50 (2012). Peringkat terbaik Indonesia adalah pada tahun 2010 (ke 44), yang meloncat dari posisi ke 54 dari tahun sebelumnya. Jika diranking pada level ASEAN, Indonesia berada pada peringkat kelima. Indonesia masih kalah dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand. Negara tetangga Timor- Leste menempati urutan terakhir (ke 136) di ASEAN. Negara-negara ASEAN yang mengalami kenaikan indeks daya saing terbesar sejak 2008 adalah Kambodia (24 tingkat), Brunei Darussalam (11), Filipina (6), Indonesia (5) dan Singapura (3). Sedangkan Malaysia, Thailand, Vietnam dan Timor Leste mengalami penurunan peringkat daya saing selama 2008-2012. http://www.bappenas.go.id/blog/penurunan-peringkat-daya-saing-indonesiatahun- 2012/
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Daya saing komoditi perkebunan Indonesia di negara importir utama dan dunia

Daya saing komoditi perkebunan Indonesia di negara importir utama dan dunia

Perkebunan Indonesia memilki keanekaragaman jenis tumbuhan dan hasilnya, oleh sebab itu penelitian ini hanya akan membahas komoditas unggulan dalam perkebunan yang juga dilihat dari posisi nilai ekspor didunia. Komoditas tersebut adalah : kelapa, kacang mede, kopi, teh, lada, kayu manis, cengkeh, biji pala, kelapa sawit, kakao, tembakau dan karet. Komoditi unggulan tersebut juga berada dalam 10 besar dalam ekspor dunia dalam nilai, kecuali teh tahun 2001 (urutan 11) dan karet (12) tahun 2005. Untuk lebih jelas spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 3. Tahun pembahasan yang digunakan adalah tiga tahun dalam satu dekade, yaitu tahun 2001, 2005 dan 2009. Alasan pengambilan tahun tersebut karena dinilai dapat memberikan gambaran bagaimana nilai ekspor dan daya saing kita dipasar internasional dalam satu dekade. Ada beberapa komoditi kenegara tertentu yang tidak dapat diestimasi dengan menggunakan EPD karena tidak kontinyu dalam ekspor komoditi tersebut kenegara tujuannya.
Baca lebih lanjut

481 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...