Top PDF Optimalisasi Peran Wakaf dalam Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Optimalisasi Peran Wakaf dalam Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Optimalisasi Peran Wakaf dalam Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Untuk memenuhi kebutuhan kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) produktif, lembaga pengelola wakaf uang dapat melakukan pemberdayaan dengan mem- berikan bantuan modal investasi maupun mo- dal kerja pada anggota pada khususnya yang sebagian besar merupakan anggota kelom- pok produktif. Peran lembaga nazhir wakaf lainnya dalam pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) antara lain memberikan pelatihan, konsultasi usaha, pe- ningkatan keterampilan, maupun peningkatan kualitas produk. Untuk mengurangi beban pe- merintah dan rakyat, model wakaf uang sa- ngat tepat dalam bentuk melancarkan keter- sumbatan fungsi financial intermediary. Ter- jadinya arus lancar (cash flow) penyaluran dana ke seluruh anggota masyarakat terma- suk kelompok usaha UMKM. Melalui wa- kaf uang akan terjadi proses distribusi man- faat bagi masyarakat secara lebih luas (Roza- linda, 2013).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Implementasi Perencanaan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Melalui Klinik Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur

Implementasi Perencanaan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Melalui Klinik Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur

Strategi pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan hal yang sangat penting dengan berbagai isu strategis dan tantangan ke depan yang lebih kompleks, di antaranya adalah implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Salah satu upaya dan strategi yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberdayakan UMKM adalah dengan merencanakan suatu kegiatan pemberdayaan UMKM melalui klinik UMKM Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi perencanaan tersebut serta untuk menganalisis strategi pemberdayaan UMKM melalui Klinik UMKM ke depannya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif, menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman serta menggunakan analisis data SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi perencanaan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Melalui Klinik Usaha Mikro Kecil dan Menengah Jawa Timur telah memenuhi target yang tertera di Renstra dan Renja. Namun terdapat beberapa kegiatan yang tidak tepat sasaran. Berdasarkan Analisis SWOT, strategi pengembangan kegiatan ini ke depannya adalah dengan menggunakan kekuatan internal sekaligus memanfaatkan peluang yang ada.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DI KOTA TANGERANG

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DI KOTA TANGERANG

Fokus penelitian ini adalah Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Tangerang. Masalah yang diidentifikasi oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Belum adanya Lembaga Keuangan Mikro yang disediakan oleh Pemerintah Kota Tangerang dalam mengatasi permodalan, Pemberdayaan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Tangerang belum berjalan dengan optimal, Sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Tangerang belum efektif karena masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki sertifikat halal, Fasilitas yang disediakan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Tangerang belum memadai. Penelitian ini menggunakan teori Van Meter dan Van Horn dalam Implementasi yaitu : Ukuran dan tujuan kebijakan, Sumber-sumber kebijakan, Karakterikstik Agen Pelaksana, Sikap/Kecenderungan Agen Pelaksana, Komunikasi Antar Organisasi, Lingkungan sosial ekonomi dan politik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Tangerang sudah baik, namun masih perlu pembenahan dalam berbagai aspek. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: tidak adanya Lembaga Keuangan Mikro di Kota Tangerang, tidak adanya sentra oleh-oleh Kota Tangerang sebagai wadah promosi, kurangnya sumber daya manusia yang ada di Dinas Perindustrian Perdagangan dam Koperasi, belum adanya database UMKM di Kota Tangerang.
Baca lebih lanjut

235 Baca lebih lajut

Efektivitas Kebijakan Pemberdayaan USAha Mikro Kecil dan Menengah (suatu Studi di Kecamatan Kawangkoan Utara)

Efektivitas Kebijakan Pemberdayaan USAha Mikro Kecil dan Menengah (suatu Studi di Kecamatan Kawangkoan Utara)

Tidak sampai disitu, responsivitas sangatlah membutuhkan unsur ketepatannya demi mengoptimalkan setiap kebijakan yang ada. Dalam penelitian ini berbicara mengenai bagaimana respon atau tindakan dari pemerintah kecamatan Kawangkoan Utara serta para pelaku usaha kecil dan menengah dalam rangka mengimlementasikan pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah. Kebijakan pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah dapat dikatakan efektif ketika diantara pemerintah kecamatan dengan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) saling memberikan daya tanggap yang baik terhadap kebijakan pemberdayaan tersebut, dan pemerintah kecamatan juga diharuskan dapat memberikan respon yang tepat sasaran untuk memenuhi tuntutan dari para pelaku usaha mikro kecil dan menengah yang mana para para pelaku usaha yang layak.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah di Night Market Ngarsopuro oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Surakarta.

Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah di Night Market Ngarsopuro oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Surakarta.

Melihat permasalahan tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “ Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah di Night Market Ngarsopuro oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Surakarta “

9 Baca lebih lajut

Strategi Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Melalui Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

Strategi Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Melalui Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Indonesia

Kondisi tersebut memberikan indikasi bahwa Peranan perbankan syariah dalam pengembangan sektor riil (dalam hal ini UMKM) menunjukkan porsinya. Walaupun demikian, konsep dan praktik yang dijalankan oleh perbankan syariah khususnya keuangan mikro syariah masih jauh dari yang ideal untuk mencapai hasil optimal dalam mengakomodasi kebutuhan pengentasan kemiskinan dan pengembangan ekonomi. Pada tahun 2008 pemerintah telah meluncurkan program pembiayaan baru bagi UMKM dan koperasi, yaitu kredit usaha rakyat (KUR). Dana yang disediakan sebesar 14,5 triliun disalurkan melalui enam bank pelaksana, yaitu BRI, BNI, BTN, Bukopin, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Mandiri. Pagu kredit yang diberikan mulai Rp 5 juta hingga Rp 500 juta dengan bunga maksimal 16 persen per tahun. Dalam pelaksanaanya, banyak yang menilai bahwa penyaluran KUR belum berjalan efektif karena banyak terjadi penyimpangan (anomali) di lapangan. Selain tidak tepat sasaran, juga tidak merata ke seluruh daerah di Indonesia. Belum lagi adanya bank pelaksana yang masih mematok bunga di atas 16 persen serta mensyaratkan jaminan tambahan, padahal KUR telah dijaminkan pemerintah melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha sebesar Rp 1,45 triliun.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah Berbasis Komoditas Unggulan Di Kabupaten Lebak

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah Berbasis Komoditas Unggulan Di Kabupaten Lebak

Abstrak: Pengembangan ekonomi lokal bukan merupakan hal yang baru, namun demikian konsep pengembangan ekonomi lokal dan teknik impelementasinya terus berkembang. Secara umum pengembangan ekonomi regional atau lokal pada dasarnya adalah usaha untuk penguatan daya saing ekonomi lokal untuk pengembangan ekonomi daerah dan akumulasi kegiatan tersebut akan berpengaruh besar pada pengembangan daya saing ekonomi nasional dan penguatan daya saing ekonomi nasional. Peranan UMKM dalam perekonomian nasional sangat penting dan strategis. Hal ini didukung oleh beberapa data indikator ekonomi makro UMKM yang cukup dominan dalam perekonomian Indonesia. UMKM merupakan segmen terbesar pelaku ekonomi nasional. Perkembangan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah juga menjadi bagian penting dari pengembangan ekonomi Kabupaten Lebak. Pengembangan dan pemberdayaan UMKM memerlukan suatu kajian yang komprehensif agar bisa memberikan informasi dan rekomendasi kebijakan yang tepat bagi para stakeholder dalam mengembangkan UMKM. Salah satu fokus penelitian yang penting untuk dilakukan berkaitan dengan pengembangan UMKM adalah penelitian tentang pengembangan komoditas unggulan UMKM. Penelitian ini bermaksud mengkaji KPJU unggulan di Kabupaten Lebak dengan menggunakan analisis deskriptif, FGD (Focus Discusion Group) dan SWOT. Dari hasil analisis dihasilkan bahwa masalah utama yang dihadapi oleh pelaku UMKM adalah masalah permodalan, belum adanya payung hukum yang menjelaskan mengenai komoditas unggulan di Kabupaten Lebak, dan perlu ada kebijakan pendampingan dari pemerintah daerah kepada pelaku UMKM.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peran Stakeholders dalam Proses Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Alas Kaki Unggulan melalui Program Pembiayaan Usaha Syariah (PUSYAR) di Kota Mojokerto

Peran Stakeholders dalam Proses Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Alas Kaki Unggulan melalui Program Pembiayaan Usaha Syariah (PUSYAR) di Kota Mojokerto

Manfaat akademis dari penelitian ini adalah, diharapkan dapat menjawab rumusan masalah yaitu untuk mengetahui proses pemberdayaan dan peran stakeholders proses pemberdayaan UMKM alas kaki unggulan di Kota Mojokerto melalui Program PUSYAR. Penelitian ini juga merupakan pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan gambaran, wawasan, maupun pengetahuan tentang peran stakeholders dalam proses pemberdayaan UMKM. Kajian mengenai peran stakeholders biasanya hanya terdapat dalam organisasi privat, berkaitan dengan manajemen proyek namun penelitian ini menambah kajian baru yakni pembahasan mengenai peran stakeholders pada sektor publik. Sedangkan manfaat praktis adalah melalui temuan yang didapat selama penelitian, diharapkan dapat memberikan usulan, kritik dan saran yang bermanfaat bagi para stakeholders yang terlibat dalam program community empowerment untuk lebih memperhatikan dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi secara maksimal.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Oleh : Putriana Abstract - Strategi Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Oleh : Putriana Abstract - Strategi Penanggulangan Kemiskinan Melalui Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Pemberdayaan UMKM juga diarahkan untuk mendukung penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan ekspor, antara lain, melalui peningkatan kepastian berusaha dan kepastian hukum, pengembangan sistem insentif untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis teknologi atau berorientasi ekspor, serta peningkatan akses dan perluasan pasar ekspor bagi produk-produk UMKM. Dalam rangka itu, UMKM perlu diberi kemudahan dalam formalisasi dan perizinan usaha, antara lain, dengan mengembangkan pola pelayanan satu atap untuk memperlancar proses dan mengurangi biaya perizinan. Di samping itu, budaya usaha dan kewirausahaan dikembangkan, terutama di kalangan angkatan kerja muda, melalui pelatihan, pembimbingan konsultasi dan penyuluhan, serta kemitraan usaha. Adapun langkah langkah yang perlu dilakukan adalah (1) Penciptaan iklim usaha yang lebih sehat untuk membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya, menjamin kepastian usaha, dan mendorong terbentuknya efisiensi ekonomi; (2) Pengembangan dan peningkatan kapasitas institusi pendukung usaha UMKM agar mampu meningkatkan akses kepada sumber daya produktif dalam rangka pemanfaatan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya, terutama sumber daya lokal yang tersedia; (3)
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Evaluasi Implementasi Kebijakan Pemberdayaan USAha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kabupaten Kudus

Evaluasi Implementasi Kebijakan Pemberdayaan USAha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kabupaten Kudus

Sampel yang didapat adalah 68 pelaku UMKM di Kabupaten Kudus dengan teknik random sampling secara proporsional per kecamatan, untuk mempermudah dalam penelitian dan mendapat tanggapan yang tepat oleh masyarakat, sampel untuk masyarakat umum tersebut diambil masyarakat yang berada disekitar kegiatan UMKM atau masyarakat terdekat. Setelah ditentukan sampel yang mewakili populasi dari masyarakat ini, kemudian dalam penelitian ini, informan dan responden yang diteliti dipilih dengan metode purposive sampling. Purposive sampling dikutip dalam (Muhammad Idrus:2009:96) adalah teknik sampling yang dogunakan oleh peneliti jika memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya. Hal ini ditujukan kepada pelaku utama yang paling bertanggung jawab terhadap kebijakan pemberdayaan UMKM di Kabupaten Kudus.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai Salah Satu Upaya Penanggulangan Kemiskinan

Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai Salah Satu Upaya Penanggulangan Kemiskinan

Mengingat peran strategis UMKM dan masih terbatasnya kemampuan UMKM untuk berkembang, maka saat ini pengembangan usaha kecil merupakan salah satu strategi yang diambil Pemerintah dalam rangka pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka pengembangan usaha kecil ini diperlukan informasi yang lengkap, mudah dan cepat dapat di "akses", terutama informasi potensi suatu sektor usaha ekonomi atau komoditas untuk dikembangkan pada suatu wilayah (Kecamatan) tertentu, faktor- faktor yang mempengaruhi pengembangannya, serta prospek pengembangan program kemitraan terpadu untuk sektor usaha atau komoditas tersebut. Dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 23 tahun 1999, Bank Indonesia (BI) tidak lagi secara langsung memberikan bantuan kredit kepada Usaha Kecil, namun tetap mengambil kebijakan untuk membantu dan mendorong pengembangan usaha kecil melalui Bantuan Teknis dan Penyediaan Informasi melalui Sistem Informasi Pengembangan Usaha Kecil (SIPUK), dimana salah satu subsistem dari SIPUK adalah Sistem Informasi Bisnis (SIB) yang menyajikan antara lain informasi tentang potensi dan identifikasi peluang investasi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kabupaten Sidoarjo

Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Kabupaten Sidoarjo

Berdasarkan hasil pengumpulan data di lapangan yang telah disajikan , dianalisis dan diinterpretasikan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberdayaan UMKM yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro telah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo telah berhasil menjalankan Pemberdayaan UMKM hal tersebut dapat dibuktikan oleh kenyataan bahwa mayoritas UMKM di Kabupaten Sidoarjo sudah maksimal dalam pemberdayaan. Pemberdayaan dapat berhasil dilakukan dengan kerjasama tiga elemen pemberdayaan yang pertama pihak pemerintah yaitu Dinas Koperasi dan UMKM Sidoarjo dibantu oleh Klinik Koperasi dan UMKM Sidoarjo, kedua BUMN yaitu PT Telkom Indonesia Sidoarjo dan ketiga Pihak Swasta yaitu PT Bank BCA Sidoarjo.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Peran Pemerintah Kota Cimahi Dalam Program Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm).

Peran Pemerintah Kota Cimahi Dalam Program Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm).

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus terus ditingkatkan ( up grade ) dan aktif agar dapat maju dan bersaing dengan perusahaan besar. Jika tidak, UMKM di Indonesia yang merupakan jantung perekonomian Indonesia tidak akan bisa maju dan berkembang. Satu hal yang perlu diingat dalam pengembangan UMKM adalah bahwa langkah ini tidak semata-mata merupakan langkah yang harus diambil oleh Pemerintah dan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pihak UMKM sendiri sebagai pihak yang dikembangkan, dapat mengayunkan langkah bersama-sama dengan Pemerintah. Selain Pemerintah dan UMKM, peran dari sektor Perbankan juga sangat penting terkait dengan segala hal mengenai pendanaan, terutama dari sisi pemberian pinjaman atau penetapan kebijakan perbankan. Lebih jauh lagi, terkait dengan ketersediaan dana atau modal, peran dari para investor baik itu dari dalam maupun luar negeri, tidak dapat pula kita kesampingkan.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

PERAN DINAS KOPERASI DAN UKM DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA SAMARINDA

PERAN DINAS KOPERASI DAN UKM DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA SAMARINDA

Fasilitas dukungan yang diberikan oleh perbankan melalui mekanisme pemberian kredit dengan bunga yang rendah akan sangat membantu pelaku UKM dalam meningkatkan skala usaha menjadi lebih besar dari sebelumnya. Selain itu dengan dukungan tersebut membuat pangsa pasar produk UKM akan semakin terbuka dan kemampuan UKM untuk melaksanakan ekspansi pasar juga menjadi terbuka, serta mendorong terjadinya efisensi kegiatan produksi bagi UKM sehingga kapasitas produksi baik dari kualitas dan kuantitas menjadi lebih baik oleh karena adanya penambahan modal untuk kegiatan produksi dari pemberian kredit dari perbankan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB II KONSEP EFEKTIVITAS DAN KERJA SAMA DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

BAB II KONSEP EFEKTIVITAS DAN KERJA SAMA DALAM PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

Untuk mendukung penguatan Usaha Kecil dilakukan melalui program-program kemitraan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Adapun yang dimaksud dengan kemitraan dijelaskan dalam ketentuan umum Pasal 1.” Kemitraan adalah kerja sama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau Usaha Besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan”.

24 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Lembaga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pembiayaan Lembaga Keuangan Syari’ah

Pemberdayaan Lembaga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pembiayaan Lembaga Keuangan Syari’ah

akhir tahun 2006 Badan pusat statistik menginformasikan bahwa 48,528 juta (99,99%) unit usaha yang ada di Indonesia adalah mereka yang tergolong dalam usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pengembangan UMKM, juga telah tumbuh pesat di Jabar. Jumlah UMKM mencapai 7,4 juta unit, yang telah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 12,4 juta orang. Peran lembaga perbankan juga sangat besar dalam membantu pengembangan UMKM. Pada kurun waktu tersebut, jumlah kredit yang telah berhasil disalurkan kepada UMKM sebesar Rp.46,53 triliun (jabarprov.go.id, 20-10 -2008). Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa menggerakan ekonomi rakyat adalah identik dengan memberdayakan UMKM. Sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang dalam RPJM maka idealnya sasaran dan prioritas kesejahteraan diusahakan melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kesadaran ini kemudian diwujudkan dalam bentuk penetapan UU NO 20 tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil dan menengah sebagai penyempurnaan dari UU sebelumnya yaitu UU No. 9 tahun 1995 yang hanya mengatur usaha kecil.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH "Tinjauan Manajemen Pemasaran"

PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH "Tinjauan Manajemen Pemasaran"

Salah satu masalah yang dihadapi oleh masyarakat lemah adalah dalam hal akses untuk memperoleh modal' Dalam pasar uang, masyarakat perdesaan baik yang petani, buruh, pe[r]

103 Baca lebih lajut

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

Dalam rangka penciptaan iklim usaha untuk membuka kesempatan berusaha seluas-luasnya dan menjamin kepastian usaha disertai dengan peningkatan efisiensi ekonomi, langkah pokok yang dilakukan antara lain adalah menyempurnakan peraturan perundang- undangan untuk membangun landasan legalitas usaha yang kuat bagi UMKM dan koperasi serta menyederhanakan birokrasi dan perizinan. Sehubungan dengan itu, sebagai kelanjutan dari telah tersusunnya naskah rancangan undang-undang (RUU) tentang Pemberdayaan Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah yang merupakan penyempurnaan dari undang-undang (UU) No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil telah dilaksanakan pembahasan substansi materi lintas instansi terkait secara intensif. Substansi yang menjadi pokok bahasan berkaitan dengan penetapan kriteria usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah dan pengaturan pembiayaan dan penjaminan, kemitraan, perlindungan, koordinasi pemberdayaan dan pengembangan UMKM. Selanjutnya, dalam rangka pengembangan lembaga keuangan mikro (LKM) dan khususnya LKM non bank dan non koperasi, saat ini sedang disusun rancangan Peraturan Presiden tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Keuangan Mikro Indonesia, dengan melibatkan seluruh pihak-pihak yang terkait.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH UMKM D

PERAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH UMKM D

penelitian terdahulunya itu Oleh: Supriyanto (Staf Pengajar FISE Universitas Negeri Yogyakarta) Penanggulangan kemiskinan dengan cara mengembangkan UMKM memiliki potensi yang cukup baik, karena ternyata sektor UMKM memiliki kontribusi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu menyerap lebih dari 99,45% tenaga kerja dan sumbangan terhadap PDB sekitar 30%. Upaya untuk memajukan dan mengembangkan sektor UMKM akan dapat menyerap lebih banyak lagi tenaga kerja yang ada dan tentu saja akan dapat meningkatkan kesejahteraan para pekerja yang terlibat di dalamnya sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Dan pada akhirnya akan dapat digunakan untuk pengentasan kemiskinan. Program Aksi Pengentasan Kemiskinan melalui pemberdayaan UMKM yang telah dicanangkan Presiden Yudhoyono pada tanggal 26 Pebruari 2005, terdapat empat jenis kegiatan pokok yang akan dilakukan yaitu, (1) penumbuhan iklim usaha yang kondusif, (2) pengembangan sistem pendukung usaha, (3) pengembangan wirausaha dan keunggulan kompetitif, serta (4) pemberdayaan usaha skala mikro. 8
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects