Top PDF PAGELARAN WAYANG KAGOK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK DI YOGYAKARTA

PAGELARAN WAYANG KAGOK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK DI YOGYAKARTA

PAGELARAN WAYANG KAGOK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK DI YOGYAKARTA

Pada umumnya responden belum memahami benar apakah penis atau vagina itu. Hal itu dikarenakan pada umumnya orangtua ataupun guru lebih sering mengasosiasikannya sebagai burung atau anu pada anak-anak untuk menjawab keingintahuan anak akan organ reproduksi mereka sendiri. Sementara itu, dalam kuesioner yang kami bagikan setelah pagelaran, kami kembali menanyakan tentang organ reproduksi kepada seluruh responden. Setelah menggelar pementasan Wayang Kagok dengan judul Kenali Tubuhku , kami peroleh data responden tentang pemahamannya terhadap organ reproduksi dalam tabel berikut. Hasil yang kemudian kami peroleh kami tampilkan dalam dalam tabel 2b berikut. Tabel 2b. Pemahaman Anak Tentang Organ Reproduksi
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PAGELARAN WAYANG KAGOK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK DI YOGYAKARTA

PAGELARAN WAYANG KAGOK SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK DI YOGYAKARTA

Hasil penelitian berupa pre-test menunjukkan bahwa pada awalnya responden putri (90,9%) dan putra (95,5%) belum paham mengenai organ reproduksi mereka. Setelah pagelaran wayang kagok diselenggarakan, peneliti memberikan post-test dan terdapat pengaruh yang signifikan yaitu responden putri (90,9%) dan (57,9%) putra sudah paham. Selain itu, responden juga memberi respon jawaban yang diharapkan pada saat diberikan pertanyaan mengenai tindakan yang harus dilakukan saat mereka menghadapi ancaman kekerasan seksual, seperti berteriak minta tolong dan melaporkan kepada orangtua atau guru mereka. Penelitian ini memiliki kesimpulan bahwa Wayang Kagok ini layak dipertimbangkan sebagai alternatif baru media pendidikan seks untuk anak yang menggabungkan unsur sosial-budaya. Dari hasil penelitian ini, siswa SD Negeri PAKEL Yogyakarta sebagai responden penelitian telah memahaminya secara fisik, dan juga mengerti bagaimana bersikap menjaga organ reproduksi mereka jika ada orang lain yang bermaksud jahat terhadap mereka.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PAGELARAN WAYANG CENK BLONK SEBAGAI MEDI

PAGELARAN WAYANG CENK BLONK SEBAGAI MEDI

5. Para remaja juga diajarkan mengenai pemahaman akan upacara dan upakara yang ada yang di Bali. Hal ini dikarenakan bahwa setiap Ritual atau upacara suci yang diwariskan leluhur ini bukan hanya sebuah ritual atau prosesi belaka akan tetapi memiliki nilai dan makna yang mendalam. Salah satunya adalah, upacara Ngeraja Singa dan Ngeraja Sewala. Upacara Ngeraja Singa untuk laki-laki. Prosesi ini dilakukan saat anak laki-laki menginjak dewasa atau telah menunjukkan perubahan (gembakin), buah jakun mulai kelihatan, dan seterusnya. Sedangkan Ngeraja Sewala untuk wanita dilakukan setelah mengalami mestruasi pertama. Ritual suci yang diwariskan leluhur ini bukan hanya sebagai ritual atau prosesi belaka pada Sang Hyang Semara Ratih. Tapi disinilah peran Guru Rupaka (orang tua) untuk memberikan penjelasan penjelasan masa pubertas, pendidikan seks, mengapa terjadi perubahan organ tubuh, dan pengetahuan tentang IMS termasuk HIV dan AIDS beserta cara penularan dan pencegahan. Tak kalah pentingnya juga pendidikan budi pekerti dan karakter untuk bekal.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

PERAN LEMBAGA ANAK WAYANG INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL ANAK (Studi Deskriptif Kualitatif Di Lembaga Anak Wayang Indonesia Kota Yogyakarta).

PERAN LEMBAGA ANAK WAYANG INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL ANAK (Studi Deskriptif Kualitatif Di Lembaga Anak Wayang Indonesia Kota Yogyakarta).

Hasil penelitian menunjukan bahwa program yang berada pada lembaga Anak Wayang Indonesia (AWI) bertujuan untuk mengurangi jumlah anak yang turun ke jalan, dengan cara memfasilitasi dan memberikan ruang khusus kepada mereka agar bisa mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan-kegiatan khusus. Dalam menjalankan proses pendampingan anak terutama dalam bidang pengembangan pendidikan nonformal pada anak, lembaga Anak Wayang Indonesia berusaha untuk menjangkau kedalam berbagai aspek kehidupan anak. seperti di bidang pendidikan alternatif, pendidikan perdamaian, dan pendidikan kesehatan. Kegiatan pendampingan mencakup banyak hal mulai dari kegiatan mengenai kepribadian, berteman, menghargai lingkungan, kesenian, hingga berinteraksi dengan orang. Dalam melaksanakan kegiatan pendampingan, AWI menggunakan prinsip pendekatan pertemanan dengan media seni dan budaya. Hal tesebut bertujuan untuk memberikan rasa nyaman dan aman untuk anak-anak, sehingga mereka dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan optimal. Karena mereka menganggap bahwa proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik apabila terjadi komunikasi yang baik antara anggota atau pengurus AWI dan anak sebagai sasaran utamanya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Efektivitas pendidikan seks untuk anak u

Efektivitas pendidikan seks untuk anak u

Seperti pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kurniastuti (2005) mengenai pendidikan seks untuk anak melalui wayang kagok. Media yang peneliti kembangkan merupakan media yang berbeda, ringan, dan merupakan bacaan anak-anak.

4 Baca lebih lajut

Konggres Wayang Internas, Yogyakarta 2005

Konggres Wayang Internas, Yogyakarta 2005

Secara dramatik dalang dapat memanfaatkan tradisi pemunculan para abdi dalam adegan-adegan tertentu. Tokoh-tokoh abdi dalam wayang purwa, yakni Panakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), abdi Sabrangan (Togog, Mbilung), para emban (Limbuk dan Cangik, abdi keputren), dan Janggan-Cantrik (para abdi atau murid Pandita, Begawan, atau Resi), memiliki kedudukan yang istimewa dalam hubungannya dengan penonton wayang. Hal ini dikarenakan eksistensi mereka yang netral, longgar, atau fleksibel. Artinya, mereka memiliki kebebasan tampil dalam berbagai konteks pembicaraan, baik dalam hubungannya dengan tema cerita atau lakon, maupun berbicara tentang berbagai hal di luar konteks cerita. Hal tersebut tidak pernah mendapatkan kritik negatif, yakni dicap sebagai digresi atau penyimpangan alur. Dalam hubungannya dengan penonton, mereka bebas bicara dalam konteks sosial yang ada di lingkungan masyarakat penontonnya, baik dalam hubungannya dengan cerita atau masalah wayang, maupun tidak sama sekali. Dengan demikian sesungguhnya tokoh-tokoh tersebut dapat menjembatani jarak antara konteks cerita pewayangan dengan konteks sosial dalam masyarakat penontonnya, apapun persoalannya. Dengan demikian dunia cerita wayang juga menjadi dunia penonton.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Perilaku Komunikasi Dalang Wayang Kulit Dalam memberikan Pesan Moral Kepada Penontonnya Di Kota Bandung

Perilaku Komunikasi Dalang Wayang Kulit Dalam memberikan Pesan Moral Kepada Penontonnya Di Kota Bandung

Pada dalang wayang kulit ini meneliti motif masa lalu di temukan bahwa memang sejak kecil kecintaan akan wayang sudah timbul ini didasari karena factor orang tua dan keluarga yang sama menyukai dalang juga dan juga media pembelajran seorang dalang sejak kecil menggunakan wayang yang memang bisa karena orang tua yang mengajarkan atau Karena lingkungan sekitar dalang yang lahir di dunia pagelaran wayang ini dan juga berdasarkan pengalaman pengalaman lingkungannya. Oleh sebab itu lah seorang dalang bertekad dan bercita-cita menjadi dalang. Seperti dalang Rebi yang sejak kecil wayang merupakan alat beliua untuk mempelajari kehidupan dan kebaikan, wayang juga yang membangun dan membuat dirinya menjadi seorang yang lebih baik, factor linggungan terutamna keluarga yang selalu memberikan nilai-nilai kehidupan lewat wawyang, karena kebiasaan dan pengalam ini lah yang mendorong dirinya untuk menjadi dalang hingga saat ini.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

PERUBAHAN PAGELARAN WAYANG KULIT DI SURAKARTA

PERUBAHAN PAGELARAN WAYANG KULIT DI SURAKARTA

Sulukan adalah vokal yang dibawakan oleh dalang untuk mendukung suasana tertentu di dalam pakeliran. Sulukan menurut Poniran Sumarno (2001: 20) adalah nyanyian dalang yang terdiri dari tiga jenis suluk, yaitu patetan, sendon, dan ada-ada. Pada setiap jenis suluk mewakili suasana yang terjadi pada adegan dalam pertunjukan wayang. Untuk pathetan memberikan kesan suasana wibawa (regu), tenang, mantap, dan lega. Pathetan ini diiringi oleh instrumen: rebab, gender, barung gambang, suling, dan pada bagian-bagian tertentu disertai dengan kempul dan gong, serta kendang. Pada sendhon mempunyai kesan suasana sendu, haru, susah, tangis, cemas, dan ada satu sendhon yang bersuasana romantik yaitu sendhon Kloloran. Suluk jenis ini sekilas hampir sama dengan pathetan, akan tetapi sangat berbeda. Perbedaan ini dapat dilihat dari tempo penyuaraan, tekanan, dan instrumen yang mengiringi. Sendhon menggunakan tempo penyuaraan pendek-pendek, tekanan ringan, iringan seperti pathetan namun tanpa rebab. Sedangkan ada-ada adalah jenis suluk yang memiliki suasana tegang, greget, dan tergesa-gesa. Instrumen yang mengiringi adalah grimingan gender barung yang disertai dengan kempul, gong, kendang, dan pada bagian-bagian tertentu dimantapkan dengan rangkaian dhodhogan dan keprakan (Poniran Sumarno 2001: 20; Suyanto 2003: 64).
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

t bind 049609 chapter5

t bind 049609 chapter5

a. Simpulan dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknik pagelaran wayang beber dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif media yang dapat dimanfaatkan dalam pengajaran sastra. Media ini termasuk media yang memberikan pengalaman langsung.

2 Baca lebih lajut

PERANAN PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM MEMBINA KARAKTER KEWARGANEGARAAN MASYARAKAT : Studi Kasus di Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan, Indramayu.

PERANAN PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM MEMBINA KARAKTER KEWARGANEGARAAN MASYARAKAT : Studi Kasus di Desa Pabean Ilir Kecamatan Pasekan, Indramayu.

Karakter di masyarakat dewasa ini telah menurun tajam, dimana seseorang tidak dapat lagi membedakan perilaku yang baik dan buruk. Persoalan ini menunjukkan betapa minimnya pembinaan karakter di masyarakat. Sebagai alternatif dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) khususnya mengenai karakter kewarganegaraan, perlunya diadakan pendidikan non formal yang fungsinya sebagai pengetahuan bagi masyarakat mengenai pentingnya karakter kewarganegaraan. Dalam hal ini, media pendidikan yang banyak mengandung nilai-nilai yang berkarakter tersebut salah satunya ada pada pagelaran kesenian wayang kulit.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

MEDIA PERTUNJUKAN WAYANG UNTUK MENUMBUHKAN KARAKTER ANAK BANGSA

MEDIA PERTUNJUKAN WAYANG UNTUK MENUMBUHKAN KARAKTER ANAK BANGSA

Tidak kalah pentingnya, memperkenalkan kepada siswa kisah pewayangan yang sarat nilai-nilai luhur dan kearifan lokal menjadi salah satu alternatif cara untuk mendukung gerakan character building yang sekarang gencar digalakkan. Pementasan yang melibatkan banyak orang untuk kesuksesan suatu pentas wayang kardus, menjadi pelajaran bagi siswa agar menghargai pihak lain, tepo sliro, sopan dan memupuk rasa persaudaraan tanpa melihat derajat, ras dan agama. Mendidik siswa agar bermoral baik tidak harus mencontoh nilai-nilai dari luar. Sebab nilai-nilai yang ada di luar belum tentu cocok dengan bangsa kita, karena masing-masing bangsa memiliki budayanya sendiri. Seperti yang dikatakan Budiningsih (2008:21); Pemahaman tentang budaya sebagai bentuk-bentuk prestasi psikologis, yaitu sebagai kompleks gagasan yang bersifat abstrak, spesifik, subjektif, dan tidak teramati yang akan mewarnai kehidupan moral para remajanya, perlu dipahami oleh guru dan pendidik moral, sebagai dasar pengembangan program-program pendidikan moral yang kontekstual.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Media Pertunjukkan Wayang Untuk Menumbuhkan Karakter Anak Bangsa

Media Pertunjukkan Wayang Untuk Menumbuhkan Karakter Anak Bangsa

Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa cerita wayang memiliki nilai filosofi yang tinggi. Tetapi, di masa sekarang khususnya dikalangan apresiator muda, dalam hal ini anak-anak usia sekolah dasar, wayang tidak banyak di kenal. Jangankan mengenal ceritanya, tokoh- tokoh pewayangan juga jarang yang mereka ketahui. Padahal cerita pewayangan ini bisa kita jadikan media untuk mendidik karakter anak- anak. Cerita-cerita wayang dapat mengajarkan manusia untuk hidup selaras, harmonis, dan bahagia. Dalam wayang ditampilkan contoh- contoh perilaku baik dan jahat, namun pada akhirnya perilaku jahat akan kalah oleh kebaikan. Dengan bercerita atau mendongeng, wayang membentuk ide-ide, moralitas, dan tingkah laku dari generasi ke generasi. Di samping itu, wayang memberikan hiburan yang sehat bagii para penontonnya. Ada unsur-unsur tragedi, komedi, dan tragikomedi (Wayang Sebagai Media Komunikasi, 2011).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

teks eksposisi bahasa Jawa

teks eksposisi bahasa Jawa

Miturut penuturan lan data saking dinas pariwisata Kotamadya Dati II Surakarta, wayang wong ana utawa lair ing abad XVIII. Diciptaken menika Mangkunegara I ingkang kadosipun dipunilhami saking seni drama saking negeri kilen utawa Eropa. Wiwitan pementasan wayang wing dipungelar ing Surakarta lajeng dipungelar ing Yogyakarta. Wekdal ing sasu April 1868 yaiku Mangkunegara IV ngawontenaken acara khitan putranipun. Ingkang taun 1899, Pakubuwana X mbangun taman Sriwedari wonteng ing peresmianipun ngawontenaken pagelaran keseniang wayang wong. Kang ditonton kaliyan warga sekitar.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

177471 ID hadits hadits tentang pendidikan seks

177471 ID hadits hadits tentang pendidikan seks

Fenomena pergaulan bebas yang berujung pada seks bebas dikalangan remaja akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Jika hal ini tidak ditangani secara cepat, maka dikhawatirkan generasi penerus bangsa ini akan terancam. Tulisan ini mencoba menyajikan bagaimana Islam dengan sumber hukumnya dalam hal ini hadits membicarakan tentang pentingnya pendidikan seks. Dari hasil penelusuran, ternyata jika kita membaca dan mengurai khazanah Islam ternyata sangatlah kaya dan komprehensif. Berbagai teladan dan pedoman tentang kehidupan pun tersedia dalam Hadits termasuk di dalamnya ajaran terkait dengan bagaimana pendidikan seks untuk anak-anak dan dewasa yang sebenarnya. Karena itu, marilah kita gali kekayaan Islam itu mulai dari sekarang.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Social Stories Wayang Punakawan sebagai Media Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Social Stories Wayang Punakawan sebagai Media Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Hasil penelitian menunjukkan 11 (78,6%) subjek menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam memberikan social stories punakawan, dan 3 (21,4%) mengalami kesulitan. Subjek yaitu guru anak usia dini yang menyatakan mengalami kesulitan disebabkan tidak memiliki wayang kulit punakawan sehingga ketika hendak memberikan materi kepada anak usia dini harus meminjam terlebih dahulu kepada gugus. Kesulitan yang dialami pendidik anak usia dini ini dapat dikategorikan sebagai hambatan teknis yaitu kurangnya fasilitas penunjang dilakukannya social stories punakawan sebagai media pendidikan karakter anak usia dini.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN SEKS ANAK

PENDIDIKAN SEKS ANAK

masa eksplorasi sebagai upaya untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang besar. Dalam benak si prasekolah hanya muncul pemahaman bahwa dengan melakukan kegiatan itu ada rasa enak atau nyaman yang ditimbulkan. Namun pemahaman tersebut berbeda sekali dengan pemahaman yang ada dalam benak orangtuanya, sebab orangtua atau orang dewasa yang telah memiliki pemahaman tentang perilaku seksual menganggap itu adalah masturbasi yang menghasilkan sebuah kenikmatan dan berhubungan dengan hasrat serta fantasi seksual. Orangtua sering memandang anak-anak sebagai manusia dewasa mini.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI

Dorongan seksual di masa puber memang sangat meningkat, oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengajarkan apa itu sistem reproduksi dan bagaimana caranya bekerja. Penekanan terhadap perbedaan antara kematangan fisik dan emosional untuk hubungan seksual juga sangat penting untuk diajarkan. Beritahukan kepada anak segala macam konsekuensi yang ada dari segi biologis, psikologis, dan sosial jika mereka melakukan hubungan seksual. Orang tua selain mengajarkan keterbukaan komunikasi dengan anak terutama dalam membicarakan seksualitas, juga perlu menambahkan keuntungan menghindari aktivitas seksual terlalu dini sebelum mencapai masa dewasa.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Perancangan Pagelaran Wayang Kontemporer

Perancangan Pagelaran Wayang Kontemporer

Hingga saat ini pengetahuan mengenai sejarah serta asal-usul wayang terbagi menjadi tiga pendapat. Perbedaan pandangan tersebut berdasar kepada pemikiran Pischel, George Jacob dan W.H Rassers yang masing-masing memiliki pendapat berbeda mengenai asal-usul sejarah tradisi pertunjukan khususnya di Benua Asia.(R.M. Soedarsono, 1998: 32). Terlepas dari perbedaan tersebut wayang pada bentuk fisiknya telah mengalami banyak perubahan seiring dengan masuknya kebudayaan asing di Indonesia. H. Ulbricht dalam bukunya Wayang Purwa Shadows of The Past membagi perubahan bentuk fisik wayang berdasarkan pada dua periode waktu yaitu periode masuknya Hindu dan periode masuknya Islam.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Pendidikan Seks Untuk Anak.

Pendidikan Seks Untuk Anak.

Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak. Dengan demikian dapat diketahui dengan tegas bahwa Islam mengharamkan incest, yaitu pernikahan yang dilakukan antar saudara kandung (mahram)-nya. Siapa saja mahram tersebut, Allah SWT telah menjelaskannya dalam QS.An-Nisa’,4:22-23.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...