Top PDF Pajajaran dan Siliwangi dalam Lirik Tembang Sunda

Pajajaran dan Siliwangi dalam Lirik Tembang Sunda

Pajajaran dan Siliwangi dalam Lirik Tembang Sunda

lirik’ merepresentasikan konsep ‘sastra’. Kedua konsep ini sering didikotomiskan secara diametral. Sejarah menggambarkan realitas, sementara sastra mengekspre- sikan imajinasi. Dari dua konsep di atas muncul beberapa masalah yang saling berkait, baik yang bersifat teoretis maupun substantif. Permasalahan yang bersifat teoretis adalah: apa hubungan sejarah dan sastra? Dapatkah sastra jadi sumber se- jarah? Dapatkah sejarah jadi ‘bahan baku’ karya sastra? Apakah sastra mencermin- kan atau menggambarkan realitas? Per- masalahan yang bersifat substantif adalah: mengapa ‘Pajajaran’ dan ‘Siliwangi’ lebih banyak mendapat perhatian sastrawan dan seniman untuk dijadikan ‘bahan ba- ku’ kreativitasnya daripada objek dan peristiwa sejarah yang lainya? Mengapa aspek emosional masyarakat Tatar Sunda memusat pada dua objek sejarah itu dan tidak ke yang lainnya?
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pajajaran Dan Siliwangi Dalam Lirik Tembang Sunda Tinjauan Tentang Hubungan Sejarah Dan Sastra.

Pajajaran Dan Siliwangi Dalam Lirik Tembang Sunda Tinjauan Tentang Hubungan Sejarah Dan Sastra.

sejarah. Pengetahuan mereka tentang Pajajaran dan Siliwangi mungkin diperolehnya dari bacaan-bacaan mereka terhadap naskah berupa babad, carita, wawacan atau ceritera-cerireta rakyat yang berkembang secara turun- temurun di Tanah Pasundan. Mengenai bukti yang jadi sandaran keberadaan nama dan peristiwa sejarah itu memang tidak mungkin disebutkan dalam lirik lagu. Karena lirik lagu sifatnya simbolik, padat, hemat kata, juga menyesuaikan dengan tuntutan ketat nada lagu. Mereka menganggap cukup dengan menyebut Laut Kidul, Gunung Gede, Gunung Prangrango, Dayeuh Bogor, Batutulis, Ciliwung, Gunung Galunggung, Gunung Sumedang, Gunung Gumuruh, bukit, ngarai, dan sungai jadi saksi bisu dan saksi abadi akan keberadaan Pajajaran dan Siliwangi.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Perancangan Komik Prabu Siliwangi Sebagai Raja Pajajaran

Perancangan Komik Prabu Siliwangi Sebagai Raja Pajajaran

20 responden remaja Sunda di wilayah JL. Ir. H. Juanda, Bandung, diperoleh keterangan bahwa nama Prabu Siliwangi bukanlah nama yang asing di telinga mereka, namun kebanyakan dari responden mengenal Prabu Siliwangi hanya sebatas nama tanpa mengenal sejarah dan prestasi beliau dalam memajukan kerajaan pajajaran, sebagian lainnya mengenal tokoh Prabu Siliwangi sebagai tokoh legenda yang memiliki kekuatan sakti. Jadi perlu adanya media informasi untuk remaja seputar pengetahuan tentang Prabu Siliwangi.

80 Baca lebih lajut

Kujang, Pajajaran, Dan Prabu Siliwangi.

Kujang, Pajajaran, Dan Prabu Siliwangi.

Yang sudah jelas dari persoalan ini adalah Prabu Siliwangi itu bukan nama sejati tapi nama alias/julukan/gelar. Poin yang menarik ketika membicarakan Prabu Siliwangi adalah menyoal tokoh ini identik dengan raja yang mana? Mengenai hal ini setidaknya muncul dua pendapat. Pertama, tokoh Prabu Siliwangi itu banyak. Undang A. Darsa (2011: 32) berpendapat bahwa dari 32 raja Kerajaan Sunda ada empat yang mendapat gelar Prabu Siliwangi. Mereka adalah raja yang saat memerintah Kerajaan Sunda ditandai dengan geopolitik yang guncang yang terjadi pada abad ke-15 dan 16, yaitu saat Barat masuk, saat Majapahit runtuh, dan saat masyarakat agraris mulai berkenalan dengan ekonomi dagang. Sayang, Undang A. Darsa tidak menyebutkan keempat raja itu siapa saja namanya. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu tujuh, bahkan sampai dua belas orang. Tampaknya ada anggapan bahwa Siliwangi itu gelar resmi raja sehingga setiap raja Pajajaran disebut Siliwangi (Danasas- mita, 2003: 142)
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Eksistensi Kerajaan Pajajaran Dan Prabu Siliwangi.

Eksistensi Kerajaan Pajajaran Dan Prabu Siliwangi.

Sesungguhnya, persoalan-persoalan seputar Pajajaran dan Siliwangi ini sudah hampir “tamat” dikaji oleh para peneliti terdahulu, baik peneliti asing maupun dalam negeri. Sekedar menyebut beberapa saja, mereka adalah: ten Dam (1957), Friederich (1853), Hageman (1867), Holle (1967; 1969) Noorduyn (1959; 1962), Pleyte (1911; 1914; 1915), Poerbatjaraka (1921), Sutaarga (1965), Atja (1968; 1970; 1972), Saleh Danasasmita (1975; 1983; 2003; 2006; 2006). Di antara peneliti-peneliti itu Saleh Danasasmita yang paling kemudian. Keluasan penguasaannya terhadap sumber-sumber tradisional dan kekritisannya yang sangat tajam, Saleh Danasasmita mendekonstruksi pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para peneliti seniornya. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis lebih banyak mendasarkan pemahaman pada pendapat-pendapat Saleh Danasasmita, termasuk kutipan-kutipan sumber-sumber tradisionalnya.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran

Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran

Dalam lagu Dangdanggula Degung , ornamen yang digunakan terdiri atas gabungan dua Dongkari, tiga Dongkari, em- pat Dongkari, dan enam Dongkari. Setiap Dongkari diberi lambang tersendiri. Un- tuk mengetahui pada bagian mana Dong­ kari -Dongkari tersebut digunakan, maka Rumpaka (lirik lagu) lagu tersebut ditulis dan ‘dipotong’-potong berdasarkan suku kata yang diletakkan pada garis kotak-ko- tak. Sementara itu, pengidentifikasian ornamen dapat dilihat pada setiap kotak yang berisi dua atau lebih lambang Dong­ kari dengan diberi warna. Untuk kebu- tuhan analisis ini (supaya lebih mudah), penulis menggunakan istilah sendiri da- lam mengidentifikasi jenis-jenis ornamen. Ornamen yang terdiri atas gabungan dua Dongkari disebut OR 2, sedangkan or- namen yang terdiri atas gabungan tiga Dongkari disebut OR 3. Demikian sete- rusnya hingga OR 6. OR 6 yaitu jenis or- namen yang terdiri atas enam Dongkari. Ornamen (OR 2) diberi warna hijau; OR 3 diberi warna kuning; OR 4 diberi warna abu muda; dan OR 6 diberi warna merah. Untuk lebih jelasnya, lihat penempatan ornamen pada lagu Dangdanggula Degung berikut ini.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Fenomena Gender dalam Dongkari Lagu-Lagu Tembang Sunda Cianjuran

Fenomena Gender dalam Dongkari Lagu-Lagu Tembang Sunda Cianjuran

Fenomena gender dalam ornamen/ dongkari lagu-lagu Tembang sunda cianjuran ditunjukkan dengan adanya ornamen/dong- kari yang bersifat maskulin dan feminin. Or- namen/dongkari yang bersifat maskulin le- bih umum digunakan oleh penembang pria, sedangkan ornamen/dongkari yang bersifat feminin lebih umum digunakan oleh pe- nembang wanita. Kendatipun demikian, hal tersebut bersifat relatif karena terikat oleh adanya fenomena cross-gender, dalam arti bahwa ornamen/dongkari yang bersifat maskulin bisa juga dibawakan oleh penem- bang wanita, demikian pula sebaliknya.

14 Baca lebih lajut

Tembang Sunda Cianjuran Gaya Imas Permas Kamus

Tembang Sunda Cianjuran Gaya Imas Permas Kamus

karya lokal genius masyarakat Sunda yang memiliki nilai yang adiluhung. Penelitian ini berfokus membahas jejak karir dan vokal gaya Imas Permas Kamus yang merupakan salah satu juru mamaos fenomenal serta sukses dalam menggeluti Tembang Sunda Cianjuran. Setiap juru mamaos yang sudah profesional seperti Imas Permas, tentunya memiliki gaya vokal yang khas, bahkan dipakai oleh para juru mamaos lainnya. Sejak kecil hingga sekarang Imas Permas sangat kukuh dan konsisten menggeluti dunia Tembang Sunda Cianjuran. Imas Permas sering mengikuti ajang kompetisi Tembang Sunda Cianjuran sejak beliau kanak-kanak hingga dewasa dan memperoleh kejuaraan-kejuaraan yang dapat menjadikan beliau juru mamaos profesional dalam Tembang Sunda
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

ANALISIS DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU TEMBANG KENANGAN CIPTAAN KOES PLUS  ANALISIS DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU TEMBANG KENANGAN CIPTAAN KOES PLUS.

ANALISIS DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU TEMBANG KENANGAN CIPTAAN KOES PLUS ANALISIS DIKSI DAN GAYA BAHASA DALAM LIRIK LAGU TEMBANG KENANGAN CIPTAAN KOES PLUS.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Objek dalam penelitian ini yaitu pemakaian diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu tembang kenangan ciptaan Koes Plus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik simak dan teknik catat. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif meliputi reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

13 Baca lebih lajut

TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN: Studi tentang Pembawaan Vokal Tembang Sunda Cianjuran Gaya Bojongherangan - repository UPI S PM 1103923 Title

TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN: Studi tentang Pembawaan Vokal Tembang Sunda Cianjuran Gaya Bojongherangan - repository UPI S PM 1103923 Title

TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN STUDI TENTANG PEMBAWAAN VOKAL TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Mempero[r]

3 Baca lebih lajut

Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran

Analisis Ornamen pada Lagu Dangdanggula Degung dalam Tembang Sunda Cianjuran

pengetahuan terhadap para senimannya, tetapi juga untuk acuan para guru atau dosen ketika mereka mengajarkan ma- teri Tembang Sunda Cianjuran (khususnya dari ranah kognitifnya). Hingga saat ini, untuk membedakan antara lagu-lagu Pa­ pantunan, Jejemplangan, Dedegungan, dan Rarancagan hanya sebatas pada bentuk Pirigan (iringan) kacapi indung, muncul- nya nada dominan, dan pemakaian nada Kempyung(1-4 atau 2-5) sebagaimana telah diidentifikasi oleh Apung S. Wiraatma- dja (1997). Sementara perbedaan dari sisi wujud lagunya itu sendiri belum pernah dibahas, hanya sebatas pada pewacanaan saja.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

RUMPAKA TEMBANG SUNDA CIANJURAN (Ulikan Struktural Dinamik jeung Étnopédagogik).

RUMPAKA TEMBANG SUNDA CIANJURAN (Ulikan Struktural Dinamik jeung Étnopédagogik).

Rumpaka tembang Sunda Cianjuran bisa disawang salaku kajian seni jeung kajian sastra (puisi). Rumpaka tembang Sunda Cianjuran dina ieu panalungtikan rék dikaji ku ulikan struktural dinamik. Kajian struktur tangtuna bakal ngaguar rumpaka maké péso analisis struktur puisi anu ngawengku hakékat (téma, rasa, nada, jeung amanat) sarta métode anu ngawengku (guru gatra, guru wilangan, guru lagu, jeung imaji). Tina analisis struktur ieu nimbulkeun interprétasi eusi. Pikeun nganalisis ajén étnopédagogik dina rumpaka tembang Sunda Cianjuran ngaliwatan prosés analisis dumasar kana ajén inajén budaya Sunda anu ngawengku (1) Prilaku Nyunda Tri-silas; (2); Catur Jatidiri Insan; (3) Panca Rawayan (Gapura Panca Waluya); jeung (4) Moral Kamanusan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Fenomena Gender dalam Dongkari Lagu-Lagu Tembang Sunda Cianjuran

Fenomena Gender dalam Dongkari Lagu-Lagu Tembang Sunda Cianjuran

Fenomena gender dalam ornamen/ dongkari lagu-lagu Tembang sunda cianjuran ditunjukkan dengan adanya ornamen/dong- kari yang bersifat maskulin dan feminin. Or- namen/dongkari yang bersifat maskulin le- bih umum digunakan oleh penembang pria, sedangkan ornamen/dongkari yang bersifat feminin lebih umum digunakan oleh pe- nembang wanita. Kendatipun demikian, hal tersebut bersifat relatif karena terikat oleh adanya fenomena cross-gender, dalam arti bahwa ornamen/dongkari yang bersifat maskulin bisa juga dibawakan oleh penem- bang wanita, demikian pula sebaliknya.

14 Baca lebih lajut

TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN: Studi tentang Pembawaan Vokal Tembang Sunda Cianjuran Gaya Bojongherangan.

TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA BOJONGHERANGAN: Studi tentang Pembawaan Vokal Tembang Sunda Cianjuran Gaya Bojongherangan.

Dokumentasi adalah cara untuk mengumpulkan data dengan tujuan hasil dari pengamatan kita dapat diulas kembali. Pendokumentasian bisa berupa tulisan untuk catatan-catatan danrekaman audio untuk menganalisi. Dengan adanya pendokumentasian rekaman visual sebuah argumen akan lebih kuat karena kita bisa menunjukan secara langsung. Dalam penelitian ini, peneliti juga merekam secara audio lagu-lagu Cianjuran gaya Bojongherangan yang akan diperbandingkan. Hal tersebut dilakukan untuk membantu dalam langkah analisis pembawaan vokal tembang Sunda Cianjuran gaya Bojongherangan.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

KREATIVITAS IWAN MULYANA PADA SULING TEMBANG SUNDA CIANJURAN

KREATIVITAS IWAN MULYANA PADA SULING TEMBANG SUNDA CIANJURAN

Saini Kosim dalam tulisan “Pelik-Pelik Kebudayaan Sunda” (1999), menekankan aspek yang perlu dipupuk agar suatu genre kesenian bertahan dari generasi ke generasi. Aspek tersebut adalah kreativitas (Kosim, 1992:12). Keberadaan seni sebagai produk budaya menjadi ‘diam di tempat’ apabila kreativitas hilang. Lambat laun teras ataupun tidak, capat atau lambat, kesenian tersebut menjadi terasing dalam wilayah lokus kebudayaannya sendiri, kalah bersaing dengan kesenian lain, lambat laun punah karena ditinggalkan oleh pendukung dan pelakunya.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 3162 documents...