Top PDF Panduan pelaksanaan Teaching Factory

Panduan pelaksanaan Teaching Factory

Panduan pelaksanaan Teaching Factory

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya secara maksimal meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai program pendidikan, menanamkan jiwa wirausaha di setiap jenjang dan tingkat pendidikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (Direktorat PSMK) berpartisipasi dengan berupaya meningkatkan kompetensi kerja dan jiwa wirausaha lulusan SMK. Direktorat Pembinaan SMK dalam Rencana Strategis 2015 -2019 memiliki visi terbentuknya insan dan ekosistem pendidikan SMK yang berkarakter berlandaskan gotong royong. Salah satu program prioritas untuk merealisasikan visi tersebut adalah dengan program pengembangan pembelajaran teaching factory. Dalam RPJMN 2015 - 2019 telah ditargetkan 200 SMK akan mengikuti program pembelajaran kewirausahaan dan teaching factory.
Baca lebih lanjut

190 Baca lebih lajut

Kesiapan Guru, Siswa, dan Sarana Prasarana Dalam Pelaksanaan Teaching Factory pada Kompetensi Keahlian Teknik Komputer Dan Jaringan Smk Di Kota Yogyakarta.

Kesiapan Guru, Siswa, dan Sarana Prasarana Dalam Pelaksanaan Teaching Factory pada Kompetensi Keahlian Teknik Komputer Dan Jaringan Smk Di Kota Yogyakarta.

Alhamdulillahirabbil’alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas anugerah, rahmat, cinta dan hidayah yang dilimpahkan sehingga tesis yang berjudul “Kesiapan Kesiapan Guru, Siswa, dan Sarana Prasarana dalam Pelaksanaan Teaching Factory pada Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMK di Kota Yogyakarta” dapat dislesaikan dengan baik.

12 Baca lebih lajut

Manajemen Teaching Factory Dalam Upaya Pengembangan Mutu Pembelajaran di SMK

Manajemen Teaching Factory Dalam Upaya Pengembangan Mutu Pembelajaran di SMK

Pengawasan manajemen workshop teaching factory di SMK Muhammadiyah 1 Prambanan dilakukan secara integritas dan terpadu oleh semua komponen sekolah. Secara formal pengawasan manajemen dilakukan oleh satuan pendidikan yang memantau pelaksanaan manajemen di sekolah. Pelaksanaan pengawasan di sekolah dilakukan oleh wakil kepala sekolah, dari enam wakil kepala sekolah mengawasi sesuai dengan bidangnya, sebagai contoh wakil kepala sekolah bagian kurikulum bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelajaran, wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Hal tersebut yang nantinya akan dilaporkan oleh enam wakil kepala sekolah kepada kepala sekolah yang nantinya akan dilakukan evaluasi terhadap program yang dilaksanakan. Sedangkan pengawasan pada worksop secara langsung dilakukan oleh ketua kompetensi keahlian teknik bisnis sepeda motor yang akan memeriksa serrta mengawal jalannya kegiatan di
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Teaching Factory Jasa Desain Produk Untuk Industri Kreatif

Teaching Factory Jasa Desain Produk Untuk Industri Kreatif

Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua kegiatan utama, yaitu pelatihan dan kegiatan pembelajaran. Pelatihan dilaksanakan untuk memberikan bekal Software CAD, yaitu PowerShape. Pelaksanaan Teaching Factory (TEF) di laksanakan dengan pendekatan action research mengikuti model Kemmis dan McTaggart . D ata yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Sebagai pedoman dalam dalam penelitian ini ditempuh dengan pengumpulan data, klasifikasi data, tabulasi data, presentasi data dan interpretasi data atau kesimpulan.

1 Baca lebih lajut

Juklak Bantuan Pengembangan Teaching Factory SMK Tahun 2018

Juklak Bantuan Pengembangan Teaching Factory SMK Tahun 2018

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11/D/BP/2017 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah di Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, perlu menetapkan Peraturan Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan PemerintahTeaching Factory Tahun 2018;

22 Baca lebih lajut

PANDUAN MICRO TEACHING

PANDUAN MICRO TEACHING

Demikianlah Buku Panduan ini disusun sebagai acuan dalam pelaksanaan micro teaching mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi ( Prodi Pendidikan Akuntansi, Tata Niaga, Administrasi Perkantoran, dan Pendidikan Ekonomi) FE - Unimed. Buku ini diharapkan dapat dipedomani oleh semua pihak sehingga tercapai tujuan dari pelaksanaan Micro Teaching tersebut.

14 Baca lebih lajut

Teaching Factory di SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Magelang

Teaching Factory di SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Magelang

Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pelaksanaan teaching factory adalah karyawan, guru/ instruktur dan siswa yang terlibat dalam kegiatan teaching factory. Teaching factory bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan jiwa kewirausahaan siswa. Oleh karena itu, teaching factory harus melibatkan siswa dalam kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan dari Lamancusa (2008: 6) bahwa siswa menginginkan pengalaman langsung dan nyata daripada mendengarkan ceramah dari seorang professor dalam sebuah buku atau tayangan presentasi. Pengalaman langsung dan nyata tersebut akan selalu diingat oleh siswa dalam waktu yang lama setelah proses pembelajaran yang dilalui.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Model pengelolaan teaching factory berbasis potensi sekolah dan wilayah/geografis

Model pengelolaan teaching factory berbasis potensi sekolah dan wilayah/geografis

Production based education, atau lebih dikenal dengan Producation Based Educationand Training (PBET), merupakan model pendidikan dan pelatihan yang menyatukan pembelajaran pada proses produksi. Peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri, mulai dari perencanaan berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk/kendali mutu produk, hingga langkah pelayanan pasca produksi. Syntak PBET ini meliputi: (1) merencanakan produk; (2) melaksanakan proses produksi; (3) mengevaluasi produk, yaitu proses kendali mutu; (4) membuat produk masal (Alptekin, Pouraghabagher, McQuaid, & Waldorf, 2001). Yang dimaksud dengan block scheduling adalah penjadwalan pembelajaran sedemikian rupa sehingga untuk suatu kompetensi akan dituntaskan terlebih dahulu dalam sekian waktu yang bersambung tanpa terputus. Konsekuensi dari sistem ini adalah, dalam setai harinya siswa hanya menerima sedikit jenis materi akan tetapi dilaksanakan dalam waktu yang lama dan kontinyu. Biasanya kondisi batasnya adalah jumlah peralatan dan tenaga pengajar sehingga jika dimatrixkan akan berbentuk blok-blok. Setiap blok mengandung unsur, siswa yang dijadwalkan, materi, alokasi waktu, dan pengajar.
Baca lebih lanjut

269 Baca lebih lajut

09 PS 2017 Bantuan Pengembangan Teaching Factory

09 PS 2017 Bantuan Pengembangan Teaching Factory

9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1340) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 173/PMK.05/2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 168/PMK.05/2015 tentang Mekanisme Pelaksanaan Anggaran Bantuan Pemerintah Pada Kementerian Negara/Lembaga (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1745);

23 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI TEACHING FACTORY DI SMKN 2 GEDANGSARI GUNUNGKIDUL

IMPLEMENTASI TEACHING FACTORY DI SMKN 2 GEDANGSARI GUNUNGKIDUL

Untuk aspek produk dan jasa, secara langsung memang belum terlihat jelas produk jasa yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran regular. Pemberian point ini masih asumsi dari tim guru produktif, sehingga bila komitmen ini bisa sejalan dengan program 3 plus 1, implementasi ini menjadi modal pokok dalam pembelajaraan teaching factory. Guru produktif secara langsung belum dapat menerapkan butir a, b, c, d, dan e didalam pembelajaran produktif dikelas. Diharapkan sekolah dan yayasan dapat mensinergikan antara pembelajaran produktif yang diampu dengan praktek teaching factory yang dikelola pihak yayasan. Hasil pelaksanaan teaching factory di SMKN 2 Gedangsari berkaitan dengan produk jasa hasil yang dicapai mendapatkan skor sebesar 68.00.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Kata kunci: Teaching factory, Kompetensi, Kewirausahaan

Kata kunci: Teaching factory, Kompetensi, Kewirausahaan

Selain untuk meningkatkan kompetensi siswa, teaching factory juga bertujuan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan siswa. Lulusan SMK perlu untuk dibekali dengan kemampuan berwirausaha karena tidak semua lulusan SMK dapat terserap oleh industry. Peningkatan jumlah lulusan yang dihasilkan dengan ketersediaan lapangan kerja masih belum berimbang. Dalam penelitian tentang pelaksanaan teaching factory di SMK RSBI DIY terlihat bahwa kegiatan teaching factory mampu meningkatkan jiwa kewirausahaan siswa. Kegiatan teaching factory dapat berkontribusi terhadap peningkatan jiwa kewirausahaan siswa jika kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kompetensi yang dipelajari. Selain itu, kegiatan yang dilakukan juga akan lebih berkontribusi positif jika melibatkan siswa mulai dari proses perencanaan, produksi, sampai dengan pemasaran.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

TEACHING FACTORY PERAKITAN MOBIL ESEMKA DI SMK NEGERI 2 SURAKARTA.

TEACHING FACTORY PERAKITAN MOBIL ESEMKA DI SMK NEGERI 2 SURAKARTA.

Responden : Ya, salah satunya itu. Esemka pun kayak semacam pabrik mobil kok segini banyaknya berapa kapasitas tow? Ada orang bilang seperti ini. Saya bilang ini media belajar merakit murid mengenai assembly line. Ibu tau assembly line? Ibu taunya kan beli selesai kan? Punya uang selesai. Tapi kalau butuh tau anak ibu yang masih kecil tau kalau buat mobil seperti ini ya? Itu adalah education. Jadi apa Indonesia kayak gini bisa, ibu masuk ke Astra Toyota sorry ibu harus melewati itu lo barikade – barikade itu lo, tidak bisa kita fair kita bukak semuanya. Karena apa education lagi. Justru kita menginfluens menginject mengtrim seseorang itu mulai dari anak kecil. Kalau sudah ke trim itu bakalnya kedepan. Umpamanya contoh kita orang tuanya kita lah, bapak tindak mriki nitih napa ? Nitih Honda no. Padahal dia gunakan Suzuki. Karena trim Honda lebih hebat. Justru itu kan metode mas, ya mbok tulung tukokna aqua mas padahal dia gunakan Cokro. Karena mindset orang sudah di buat kayak itu. Kita juga pingin hampir tiap hari kita amati Twitter SMK lah, Twitter ini buat panduan kita search engine menggunakan keyword Esemka ndegedek muncul pembicaraan pembicaraan Esemka seluruh Indonesia. Pembicaraan – pembicaraan Esemka itu apa, ternyata apa tentang mobil tentang menulis “kamu mau kema na coy? Mau ke sekolah, sekolahmu mana? ESEMKA. Konotasinya sudah lain SMK dan ESEMKA, tapi mereka lebih PD menulis ESEMKA 4 donk, itu menjadi trancenter di Twitter.
Baca lebih lanjut

187 Baca lebih lajut

Teaching factory: upaya peningkatan mutu lulusan dan strategi pendanaan di SMK

Teaching factory: upaya peningkatan mutu lulusan dan strategi pendanaan di SMK

pemeliharaan, penambahan fasilitas dan biaya-biaya operasional pendidikan lainnya; 4) untuk mengembangkan sikap mandiri dan percaya diri dalam pelaksanaan kegiatan praktik siswa maupun dalam mendapatkan kesempatan kerja; 5) untuk melatih keberanian mengambil resiko dengan perhitungan yang matang; 6) untuk mendukung pelaksanaan dan pencapaian pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan kurikulum tingkat Satuan pendidikan yang seutuhnya; 7) untuk meningkatkan kreativitas, inovasi dan sikap profesional produktif pada siswa, guru dan manajemen sekolah; 8) untuk menjalin kerja sama yang lebih baik dengan DU/DI serta masyarakat lain atas terbukanya fasilitas untuk umum dan hasil- hasil produksinya; 9) untuk meningkatkan intensitas dan frekuensi kegiatan intra, ko, dan ekstra kurikuler siswa; dan 10) untuk membangun kemampuan sekolah dalam menjalin kerja sama sinergis dengan pihak luar dan lingkungan serta masyarakat luas. Selanjutnya menurut Direktorat Pembinaan SMK (2007) menyatakan, “unit produksi merupakan suatu sarana pembelajaran dan berwirausaha bagi siswa dan guru serta memberi dukungan biaya operasional sekolah”. Sarana pembelajaran yang dimaksud adalah tempat belajar bagi guru dan siswa untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan pembentukan sikap kerja, karena dalam kegiatan unit produksi terdapat proses belajar secara langsung dalam menghadapi permasalahan kerja sesungguhnya.
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DALAM MEMPERSIAPKAN LULUSAN MEMASUKI DUNIA KERJA SISWA SMK NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012.

KONTRIBUSI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DALAM MEMPERSIAPKAN LULUSAN MEMASUKI DUNIA KERJA SISWA SMK NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012.

Minimnya waktu yang tersedia untuk melaksanakan teaching factory, mengakibatkan pelaksanaan kegiatan teaching factory yaitu perakitan kendaraan roda dua tidak berjalan secara maksimal. Sehingga membuat guru kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran sesuai yang direncanakan. Adapun usaha yang dilakukan untuk mengatasi hambatan ini adalah dengan membentuk tim ahli yang di ambil dari siswa sendiri untuk membimbing teman-temannya jika ada waktu luang, atau jika guru pembimbing tidak bisa hadir karena ada halangan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Komparasi Model Pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar

Komparasi Model Pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar

yang diterapkan kurang lebih sama, dan kedua model pembelajaran ini pada dasarnya memiliki banyak kesamaan, yaitu sama-sama berbasis proyek serta sama-sama menuntut peran aktif siswa dalam proses pembelajaran, sehingga sangat memungkinkan jika keaktifan belajar yang diperoleh juga relatif sama. Namun dalam pelaksanaan atau penerapannya, model pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning memiliki perbedaan, dimana dalam penerapan model pembelajaran Teaching Factory siswa dituntut untuk berperan sebagai penerima order atau pekerja yang akan menyelesaikan sebuah pesanan yang diberikan oleh pemberi order, sedangkan dalam model pembelajaran Project Based Learning siswa secara langsung diberikan tugas untuk membuat sebuah proyek. Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran animasi 2D dan 3D dengan menggunakan model pembelajaran Teaching Factory pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II menggunakan model pembelajaran Project Based Learning pada siswa kelas XI Multimedia SMKN 1 Janapria tahun ajaran 2019/2020, diketahui bahwa tidak ada perbedaan keaktifan belajar siswa menggunakan model pembelajaran Teaching Factory dengan Project Based Learning. Hal ini terlihat dari data keaktifan belajar siswa setelah diberikan perlakuan, untuk kelas eksperimen I nilai rata-rata keaktifan belajar sebesar 63,50 sedangkan untuk kelas eksperimen II nilai rata-rata keaktifan belajar siswa sebesar 63,37. Dari data tersebut menunjukan bahwa model
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENINGKATAN PENCAPAIAN KUALITAS LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO DENGAN MODEL TEACHING FACTORY

PENINGKATAN PENCAPAIAN KUALITAS LULUSAN D3 TEKNIK ELEKTRO DENGAN MODEL TEACHING FACTORY

Pada pelaksanaan teaching factory diperlukan beberapa elemen-elemen yang perlu dikembangkan demi tercapaianya tujuan dari pembelajaran. Kuswantoro (2014: 25) menyatakan elemen-elemen teaching factory yaitu: (1) standar kompetensi, standar kompetensi yang perlu dikembangkan dalam teaching factory adalah kompetensi- kompetensi yang dibutuhkan siswa ketika memasuki dunia industri; (2) siswa, siswa termasuk bagian dari sumber daya manusia dalam pelaksanaan teaching factory; (3) media pembelajaran, teaching factory menggunakan pekerjaan produksi sebagai media dalam proses pembelajaran; (4) penggunaan perlengkapan dan peralatan, harus memperhatikan beberapa hal yang meliputi, pemeliharaan perlengkapan dan peralatan yang optimal, pemanfaatan peralatan untuk memberikan fasilitas yang berguna dalam mengembangkan kompetensi siswa bersamaan dengan penyelesaian produksi dengan hasil yang berkualitas, penggantian perlengkapan dan peralatan ketika sudah tidak efektif digunakan dalam produksi; (5) pengajar adalah mereka memiliki kualifikasi akademik dan pengalaman di industri; (6) penilaian, teaching factory menilai kompetensi siswa melalui penyelesaian produk.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DALAM MEMPERSIAPKAN LULUSAN MEMASUKI DUNIA KERJA SISWA SMK NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012.

KONTRIBUSI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DALAM MEMPERSIAPKAN LULUSAN MEMASUKI DUNIA KERJA SISWA SMK NEGERI 5 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012.

Berdasarkan data yang ada di lapangan, kontribusi pelaksanaan teaching factory meliputi : menambah pengetahuan siswa secara langsung tentang pekerjaan- pekerjaan di DUDI, menambah kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka mereka, berkepribadian baik, minat dan kesukaan dalam menghadapi tugas yang diberikan, menambah pengalaman siswa mengenai lingkungan kerja, menambah disiplin siswa, dan menumbuhkan sikap professional dalam melaksanakan berbagai pekerjaan yang diberikan. Hal ini berarti kontribusi pelaksanaan teaching factory yang dilaksanakan di SMK N 5 Surakarta sudah sesuai dengan pendapat randall S.Schuller
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN TEACHING FACTORY SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) DI SOLO TECHNOPARK | Lestari | Jurnal Nosel 8148 17082 1 SM

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN TEACHING FACTORY SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) DI SOLO TECHNOPARK | Lestari | Jurnal Nosel 8148 17082 1 SM

Program teaching factory saat ini merupakan terobos baru bagi dunia pendiddikan di Indonesia. Menciptakan lulusan SMK yang berkompetensi dan siap kerja sesuai tuntutan dunia kerja. Maka pembelajaran berbasis dunia kerja adalah salah satu solusinya. Kegiatan pembelajaran di SMK selama ini baru sebatas praktik dengan media praktik atau laboratorium yang memproduksi barang yang tidak memiliki nilai jual. Kegiatan produksi yang bisa menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai jual dapat mengembangkan potensi SMK untuk mengolah sumber-sumber pembiayaan sekaligus merupakan sumber belajar.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

13 PS 2015 Bantuan Teaching Factory

13 PS 2015 Bantuan Teaching Factory

9. Keputusan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan selaku Kuasa Pengguna Anggaran pada Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 001/D3.1/KU/2015 tanggal 02 Januari 2015 tentang Pengangkatan Pejabat Perbendaharaan/Pengelola Keuangan pada Direktorat Pembinaan SMK, Ditjen Pendidikan Menengah, Kemdikbud tahun anggaran 2015; 10. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Satuan Kerja Direktorat Pembinaan SMK Tahun Anggaran 2015 Nomor: SP DIPA-023.12.1. 666053/2015 tanggal 14 November 2014 dan perubahannya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

EVALUASI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KOTA YOGYAKARTA.

EVALUASI PELAKSANAAN TEACHING FACTORY DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KOTA YOGYAKARTA.

Program teaching factory saat ini merupakan terobosan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Menciptakan lulusan SMK yang berkompeten dan siap kerja sesuai tuntutan dunia kerja, maka pembelajaran berbasis dunia kerja adalah salah satu solusinya. Paradigma tentang pendidikan Indonesia yang masih terpuruk juga menjadi tantangan yang besar untuk mencapai hal tersebut, dimana selama ini pendidikan di Indonesia hanya menciptakan pencari kerja dan pengguna (user), bukan pencipta lapangan kerja dan pembuat (produsen). Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut belum tepat sasaran, mulai dari ganti menteri pendidikan juga belum mampu untuk menghapus paradigma tersebut. Program-program pembelajaran dapat meningkatkan kualitas lulusan siswa SMK yang kompeten dan kurikulum yang mengacu pada dunia kerja, diharapkan mengubah pendidikan di Indonesia. Pembelajaran mempengaruhi hasil belajar, sedangkan teori pembelajaran mempengaruhi proses pembelajaran.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...