Top PDF Panduan Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik 2

Panduan Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik 2

Panduan Perlindungan Pasien Terhadap Kekerasan Fisik 2

Adalah ekspresi dari hal-hal yang dilakukan secara fisik yang mencerminkan tindakan agresi f dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang. Kekerasan fisik dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang.

8 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK YANG BERDAMPAK PSIKIS TERHADAP KEBERLANGSUNGAN PENDIDIKAN FORMAL ANAK

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK YANG BERDAMPAK PSIKIS TERHADAP KEBERLANGSUNGAN PENDIDIKAN FORMAL ANAK

2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memiliki peran yang cukup strategis melihat dari fungsi dan Tugas Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), KPAI melakukan pengumpulan data, informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan terhadap apapun. 20 KPAI harus terus aktif dalam hal sosialisasi dan advokasi tentang peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak; KPAI tidak hanya menerima pengaduan namun juga harus selalu melakukan survei di lapangan; KPAI juga harus lebih kritis dan melakukan pengkajian peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, dan kondisi pendukung lainnya baik di bidang sosial, ekonomi, budaya dan agama; KPAI harus selalu aktif dan memberikan masukan, saran dan pertimbangan kepada berbagai pihak terutama Presiden, DPR, Instansi pemerintah terkait ditingkat pusat dan daerah; Mengumpulkan Melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan tentang perlindungan anak termasuk laporan untuk Komite Hak Anak PBB (Committee on the Rights of the Child) di Geneva, Swiss; Melakukan pengawasan terhadap penyelenggara perlindungan anak di Indonesia.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN FISIK DALAM RUMAH TANGGA (Studi di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Padang)

PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KEKERASAN FISIK DALAM RUMAH TANGGA (Studi di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Padang)

lingkup rumah tangga sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).” Ayat (2) “dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).” Perlindungan korban tidak hanya ditujukan bagi tercapainya kemanfaatan (baik materil maupun spritual) bagi korban kejahatan tetapi juga bagi kemaslahatan bagi masyarakat secara luas, khususnya dalam upaya mengurangi jumlah tindak pidana serta menciptakan ketertiban masyarakat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

 PENULISAN HUKUM / SKRIPSI  PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN FISIK DAN PSIKIS.

2. Bapak Fx. Endro Susilo, S.H. LLM selaku Wakil Dekan I, Bapak. N. Budi Arianto Wijaya, S.H. M.Hum. selaku Wakil Dekan II, dan Bapak. H. Untung Setyardi, S.H. M.Hum. selaku Wakil Dekan III, terima karena sudah membantu Ary agar Ary bisa semangat bangkit kembali.

11 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Bagi Anak sebagai Korban Kekerasan Fisik Orangtua Kandung di Kecamatan Empang-tarano

Perlindungan Hukum Bagi Anak sebagai Korban Kekerasan Fisik Orangtua Kandung di Kecamatan Empang-tarano

Tahap 3 : tahap pendampingan lanjutan yaitu program kesejahteraan bagi anak pasca terjadinya kekerasan dan proses hukum. Meliputi penempatan sementara di rumah Aman (shelter) yang disediakan oleh Dinas Sosial Propinsi NTB dengan diberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan seperti pendidikan non-formal layaknya pendidikan formal yang dijalankan oleh anak sebelum terjadinya kekerasan, agar anak tidak ketinggalan dalam materi pelajaran di sekolah formal. Kemudian dalam hal psikis anak masih terganggu, di rumah Aman tadi disediakan Psikolog untuk pemulihan psikis anak, dan memberikan permainan-permainan yang menghibur anak supaya melupakan kasus yang terjadi pada anak tersebut. Tahap 4 : pengawasan terhadap anak ketika anak telah siap dikembalikan kepada orangtuanya. Meliputi pengawasan berkala sebulan 2 sampai 3 kali kerumah korban untuk sekedar melihat dan menengok kondisi fisik dan psikis anak serta memberikan pengetahuan-pengetahuan kepada orangtuanya agar tidak terjadi kasus kekerasan terhadap anak sehingga tidak terualng kejadian yang tidak diharapkan oleh korban dan masyarakat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN ATAS KEKERASAN FISIK DALAM MASA PACARAN DI KOTA YOGYAKARTA.

PENDAHULUAN IMPLEMENTASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN ATAS KEKERASAN FISIK DALAM MASA PACARAN DI KOTA YOGYAKARTA.

Menurut komnas Perempuan telah tercatat sekitar 1.299 kasus kekerasan yang menimpa perempuan Indonesia sepanjang 2010. Selain itu kekerasan oleh mantan pacar sebanyak 33 kasus 1 . Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat pula data kasus-kasus kekerasan terhadap pacar yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan masuk ke Rifka Annisa sejak 1994 hingga 2007 mencapai 703 kasus 2 . Adapun Untuk tahun 2008 saja, hingga November tercatat ada 19 kasus kekerasan dalam pacaran. Namun Jumlah kekerasan yang tidak terlaporkan jauh lebih besar. Hal ini di karenakan bahwa korban merasa iba bila pelaku kekerasan tersebut dilaporkan. Disisi lain korban enggan melaporkan karena korban masih membutuhkan pelaku sebagai pasangannya. Adapula korban yang menyatakan merasa malu dan akan membawa aib apa bila kasus kekerasan yang menimpa dibawa ke pihak yang berwajib.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Model Pelayanan Sosial Anak Korban Kekerasan Fisik di Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur

Model Pelayanan Sosial Anak Korban Kekerasan Fisik di Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur

The objectives of this study are (1) To find out the social service model of children carried out by the East Java Child Protection Institute for children from physical violence; (2) To determine the supporting and inhibiting factors of social services for children victims of physical violence at the East Java Child Protection Institute. This study uses the theoretical foundation of the Half-Way House Services service model and SWOT analysis. The service delivery model consists of problem identification, investigation, social interaction and termination that focuses on children who are victims of physical violence. In the social services of children in the East Java Child Protection Institute, namely (a) Reporting; (b) Visitation; (c) Referral; (d) Monitoring and Evaluation; and (e) Termination. Constraints experienced in the implementation of children's social services are family and community awareness about child protection and their rights, and accompanying HR in child social services. Prevention of physical violence against children can be started from the family, community, school so that the child protection system is built into a system of preventing physical violence that occurs in children.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum terhadap Anak dari Tindakan Kekerasan

Perlindungan Hukum terhadap Anak dari Tindakan Kekerasan

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah bentuk- bentuk kekerasan yang dapat dialami anak dan bagaimanakah perlindungan hukum terhadap anak dari tindakan kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dan dapat disimpulkan, bahwa: 1. Bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi terhadap anak adalah bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikis/emosional dan kekerasan seksual, antara lain berupa: dicubit, didorong, digigit, dicekik, ditendang, disiram, ditempeleng disuruh push-up, disuruh lari, mengancam, diomeli, dicaci, diludahi, digunduli, diusir dipaksa bersihkan wc, dipaksa mencabut rumput, dirayu, dicolek, dipaksa onani, oral seks, diperkosa dan lain sebagainya. 2. Perlindungan hukum terhadap anak dari tindakan kekerasan diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 22 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan KUHP melalui pasal-pasalnya yang mengatur tentang masalah persetubuhan, perbuatan cabul, menghilangkan jiwa anak dan penganiayaan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KEKERASAN PADA ANAK Bentuk, Penanggulangan, dan Perlindungan Pada Anak Korban Kekerasan

KEKERASAN PADA ANAK Bentuk, Penanggulangan, dan Perlindungan Pada Anak Korban Kekerasan

Dalam Bab IX tentang Penyelenggaraan Perlindungan ditetapkan beberapa bentuk perlidungan anak yang mencakup perlindungan agama, kesehatan, sosial, dan pendidikan. Dalam perlindungan tersebut tidak disebut- kan secara khusus tentang perlindungan bagi anak korban kekerasan. Baru dalam bagian kelima (Pasal 59-71) diatur tentang perlindungan khusus, namun sayangnya dalam ketentuan ini juga ditegaskan tentang bentuk perlidungan khusus bagi anak korban kekerasan. Dalam ketentuan ini hanya ditetapkan tentang proses dan pihak yang bertanggungjawan atas perlindungan anak korban kekerasan. Misalnya, perlindungan anak korban tindak pidana (Pasal 64 ayat 3) hanya ditentukan prosesnya, yaitu melalui: (1) upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga; (2) upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan menghindari labelisasi; (3) pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental maupun sosial; dan (4) pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

2.2.1.3 Perlindungan Terhadap Kekerasan Psikis

Kekerasan fisik pada anak bisa terjadi dan menimpa anak di mana , kapan dan tidak pandang bulu. Bahkan para pelaku utama kekerasan fisik pada anak justru mereka orang-orang terdekat pada anak. Berbagai persoalan, tekanan ekonomi adalah faktor utama terjadinya kekerasan fisik pada anak. Sehingga perlulah lembaga TK Universal Agape Kids menyusun buku bacaan serta kegiatan ringan untuk para orangtua didalam meminimalis tindak kekerasan fisik pada anak.

7 Baca lebih lajut

Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan

Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan

Pesan lebih jauh juga disampaikan oleh Komite Hak Anak (The Committee on the Rights of the Child), pada Komentar Umum No. 8 bahwa hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari penghukuman fisik (corporal punishment) dan bentuk penghukum yang kejam atau merendahkan martabat anak sebagaimana diatur dalam Pasal 19, 28 (2), dan 37, inter alia, menjadi kewajiban setiap Negara. Bahkan dalam Komentar Umum tersebut dinyatakan bahwa Negara harus segara melarang dan menghapus semua bentuk penghukuman fisik dan bentuk penghukum yang kejam atau merendahkan martabat. 3
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perlindungan Anak Korban Tindakan Kekerasan

Perlindungan Anak Korban Tindakan Kekerasan

Anak merupakan generasi penerus baik dalam sebuah keluarga maupun masyarakat dan bangsa, sehingga diperlukan perlindungan serta pembinaan pada anak dalam menjamin perkembangan mental dan fisiknya serta sosialnya. Menurur Chamidah (2009) bahwa kualitas anak dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang anak, dan dalam proses tumbuh kembang anak juga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor lingkungan (lingkungan biologis, fisik, psikologis dan sosial) dan faktor genetik/keturunan dari orang tua. Disamping itu, anak juga merupakan kelompok yang rentan mengalami tindakan kekerasan, baik kekerasan psikis, kekerasan seksual maupun kekerasan fisik. Menurut Richard J (Probosiwi & Bahransyaf, 2015) faktor-faktor penyebab kekerasan pada anak yaitu (1) Struktur keluarga, dimana keluarga tunggal/single parent lebih memungkinkan melakukan kekerasan pada anak dibandingkan keluarga utuh; (2) Stress sosial, seperti penganggurran, kondisi rumah yang buruk dan kematian salah satu anggota keluarga; (3) Isolasi sosial dan keterlibatan masyarakat bawah; (4) Pewarisan kekerasan antar generasi, seperti ketika seseorang mengalami kekerasan pada masa kecilnya, maka cenderung akan menjadi pelaku kekerasan. Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2019) mencatat data kasus pengaduan kekerasan anak yang dilaporkan di KPAI pada tahun 2015 mencapai 4.309 kasus, dan tahun 2016 meningkat menjadi 4.622 kasus, serta tahun 2017 berjumlah 4.579 kasus dan tahun 2018 berjumlah 4.885 kasus.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH.

PENUTUP PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH.

Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1989, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003, Tambaha n Lembaran Negara Nomor 4301.

6 Baca lebih lajut

Kekerasan Fisik Terhadap Anak Ditinjau Dari Aspek Perlindungan Hak–hak Anak

Kekerasan Fisik Terhadap Anak Ditinjau Dari Aspek Perlindungan Hak–hak Anak

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap anak korban tindak kekerasan fisik di Indonesia dan apa efek kekerasan pada anak serta upaya pemulihan pada korban tindak kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dan dapat disimpulkan, bahwa: 1. Menyangkut kekerasan fisik dapat dilihat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 351-355, Pasal 338-341, Pasal 229, Pasal 347, Pasal 269, Pasal 297, Pasal 330- 332 dan Pasal 301. Perlindungan hukum terhadap anak korban kekerasan dapat dilihat melalui beberapa perundang- undangan selain yang telah disebutkan di dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP), juga dapat dilihat dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dalam Pasal 59, Pasal 64, Pasal 69, Pasal 80-82. 2. Upaya yang dilakukan terhadap pemulihan pada Anak Korban Kekerasan Fisik, dapat berupa tindakan langsung yang membawa korban kepada instansi kesehatan yang terkait. Juga untuk menjaga dampak trauma si anak sebagai korban anak bias dibawa ke tempat rehabilitasi dan dilindungi secara khusus. Pemulihan yang dilakukan sering kali datang dari organisasi-organisasi masyarakat atau lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Dalam prakteknya, penanganan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat agar ikut
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK SEBAGAI KORBAN KEKERASAN FISIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH.

Derogat Legi Priori, karena peraturan perundang-undangan yang baru menyis ihkan peraturan perundang-undangan yang terdahulu, dan juga mengatur mengenai obyek yang sama yaitu tentang sistem Pendidikan Nasional. Dimana Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyisihkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain asas itu juga ditemukan asas hukum positif yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang anak Pasal 2 yang berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip- prinsip dasar Konvensi Hak-hak Anak meliputi nondiskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Kekerasan Anak Oleh Ibunya Sendiri

Perlindungan Hukum Terhadap Kekerasan Anak Oleh Ibunya Sendiri

Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya, mencakup pendidikan tata krama dan budi pekerti (pasal 60 ayat (1)). Setiap anak berhak mencari, menerima dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatuhan (ayat (2)). Setiap anak berhak beristirahat, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan dirinya (pasal 61). Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya (pasal 62). Setiap anak berhak untuk tidak dilibatkan didalam peristiwa peperangan, sengketa bersenjata, kerusuhan sosial dan peristiwa lain yang mengandung unsur kekerasan (pasal 63). Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi ekonomi dan setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya, sehingga dapat menggangu pendidikan, kesehatan fisik, moral, kehidupan sosial dan mental spiritualnya (pasal 64).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PANDUAN PELIPUTAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM

PANDUAN PELIPUTAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM

Untuk menghindari konflik kepentingan, jurnalis tidak meliput, menulis, mengedit berita/opini tentang kandidat yang memiliki hubungan persahabatan atau keluarga dengan si jurnalis.. Jur[r]

33 Baca lebih lajut

Pengaruh Edukasi Gizi Terhadap Aktifitas Fisik Pasien Dm Tipe 2

Pengaruh Edukasi Gizi Terhadap Aktifitas Fisik Pasien Dm Tipe 2

Angka Kejadian Diabetes Melitus terus mengalami peningkatan, baik di Indonesia mau- pun seluruh dunia. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti malas berolahraga, banyaknya akti- fitas sedentary,dll merupakan salah satu faktor resiko terjadinya DM tipe 2. Edukasi gizi san- gat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman terhadap pasien DM tipe 2 tentang cara hidup yang sehat. Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh edukasi gizi terhadap aktifitas fisik pa- soen DM tipe 2. Penelitian dilakukan di Puskesmas Bara-Baraya dan Puskesmas Batua Makassar terhadap 19 orang pasien DM tipe 2. Dilakukan pengukuran antropometri dan akti- fitas fisik sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi. Edukasi gizi dilakukan secara kelompok 1x di awal penelitian, kemudian dilanjutkan dengan 1x per minggu secara indivual dengan mendatangi rumah responden. Diperoleh hasil terjadi peningkatan aktifitas fisik yang ber- makna (p<0.05) dari 1575.7±910.40 met/minggu menjadi 1717.1±854.68 met/minggu. Disim- pulkan bahwa pemberian edukasi gizi meningkatkan aktifitas fisik pasien DM tipe 2
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PANDUAN IDENTIFIKASI PASIEN

PANDUAN IDENTIFIKASI PASIEN

Panduan ini dibuat untuk menjadi panduan kerja bagi semua staf dalam memberikan pelayanan yang terkait dengan identifikasi pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II. Dalam panduan ini diuraikan tentang pengertian dan tatalaksana Identifikasi Pasien di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II.

13 Baca lebih lajut

Panduan Instalasi Bukti Fisik

Panduan Instalasi Bukti Fisik

Perhatikan hasil pada Gambar 7, data yang tersaji sesuai dengan kriteria yang dimasukkan pada kolom filter Gambar. Seluruh bukti fisik pekerjaan Bibliography, nama Monalisa, item Update yang dilakukan pada rentang waktu tanggal 1-01-2017 s.d 1-11-2017 akan disajikan di dalam tabel.

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...