Top PDF PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU.

PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU.

PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)SEBAGAI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU.

Sebagai sasaran PPM adalah guru-guru kimia SMA se-Kabupaten Sleman yang dipilih secara random sampling, artinya dipilih satu dari beberapa guru kimia untuk setiap SMA yang ada di Kabupaten Sleman. Kegiatan PPM dilaksanakan pada hari Sabtu berturut-turut pada tanggal 23 April, 11 Juni, dan 23 Juli 2016 masing-masing di SMA 1 Seyegan, SMA N 1 Mlati, dan SMA N 1 Kalasan, menggunakan ceramah, diskusi, dan tanya jawab tentang permasalahan yang berkaitan pengembangan soal HOT, sekaligus latihan mengubah soal biasa menjadi HOT dan tugas kelompok berupa pengembangan soal HOT dan mempresentasikannya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

PENDAHULUAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

Kompetensi merupakan kemampuan yang harus dipupuk dan dikembangkan melalui berbagai proses pembelajaran, pengalaman, menekuni pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan bahkan berani mengambil resiko untuk menghadapi tantangan (Hidayatullah, 2010). Kompetensi guru disebut juga kemampuan guru. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya (Saragih, 2008). Menurut Sagala (2009: 31), kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut: 1. kompetensi pedagogik, 2. kompetensi kepribadian, 3. kompetensi sosial dan 4. kompetensi profesional.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional Sagala (2009). Salah satu komponen kompetensi pedagogik adalah evaluasi hasil belajar. Guru diharuskan dapat menyusun instrumen evaluasi belajar dengan baik agar tujuan dari evaluasi hasil belajar siswa dapat tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam pembuatan soal HOT dan kesesuaian penulisan soal di SMP Negeri 1 Kragan Rembang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam membuat soal HOT tergolong rendah (1,1%). Kemampuan guru membuat soal HOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang adalah rendah (1,1%) sedangkan kemampuan guru membuat soal LOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang tinggi (98,9%). Persentase soal ulangan buatan guru berdasarkan kesesuaian soal dengan kaidah penulisan soal untuk soal pilihan ganda (31,7%) dan soal uraian (62,2%).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

PENDAHULUAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Peraturan Pemerintah No.74 tahun 2008 dalam Pasal 2 menyebutkan kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Sagala (2009) menambahkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah sebagai berikut: a. kompetensi pedagogik, b. kompetensi kepribadian, c. kompetensi sosial dan d. kompetensi profesional.

5 Baca lebih lajut

3. Modul Penyusunan Soal HOTS  Tahun 2017

3. Modul Penyusunan Soal HOTS Tahun 2017

Melaksanakan implementasi Kurikulum 2013, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah memprogramkan kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi Guru dari sekolah yang akan melaksanakan Kurikulum 2013. Mendukung kebijakan tersebut, Direktorat Pembinaan SMA sesuai dengan tugas dan fungsinya melakukan fasilitasi pembinaan implementasi Kurikulum 2013 melalui pengembangan naskah pendukung implementasi Kurikulum 2013 berupa modul pelatihan, pedoman, panduan, dan model- model yang telah dikembangkan pada tahun 2016 dan tahun 2017. Naskah-naskah tersebut antara lain : (1) Model-Model Pembelajaran; (2) Model Pengembangan RPP; (3) Model Peminatan dan Lintas Minat; (4) Panduan Supervisi Akademik; (5) Panduan Pengembangan Pembelajaran Aktif; (6) Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kredit Semester (SKS) Di SMA; (7) Panduan Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM); (8) Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas; (9) Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS); dan (10) Panduan Sukses E-Rapor SMA Versi 2017.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN IPA DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) DAN KESESUAIAN Kemampuan Guru Mata Pelajaran Ipa Dalam Pembuatan Soal HOT (Higher Order Thinking) Dan Kesesuaian Penulisan Soal Di Smp Negeri 1 Kragan Rembang.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional Sagala (2009). Salah satu komponen kompetensi pedagogik adalah evaluasi hasil belajar. Guru diharuskan dapat menyusun instrumen evaluasi belajar dengan baik agar tujuan dari evaluasi hasil belajar siswa dapat tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam pembuatan soal HOT dan kesesuaian penulisan soal di SMP Negeri 1 Kragan Rembang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan kemampuan guru mata pelajaran IPA dalam membuat soal HOT tergolong rendah (1,1%). Kemampuan guru membuat soal HOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang adalah rendah (1,1%) sedangkan kemampuan guru membuat soal LOT berdasarkan taksonomi Bloom di SMP Negeri 1 Kragan Rembang tinggi (98,9%). Persentase soal ulangan buatan guru berdasarkan kesesuaian soal dengan kaidah penulisan soal untuk soal pilihan ganda (31,7%) dan soal uraian (62,2%).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 pasal 3 menjelaskan bahwa guru memiliki empat kompetensi yang salah satunya kompetensi pedagogik yang meliputi keterampilan dalam mengevaluasi hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan guru Biologi dalam pembuatan soal HOT di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumenter berupa soal ulangan harian buatan guru Biologi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten. Data yang diperoleh berupa kemampuan guru Biologi dalam membuat soal HOT di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten semester gasal tahun ajaran 2014/2015, dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa kemampuan guru dalam membuat soal HOT (21,2%) yaitu soal C4 (15,2%), C5 (3,0%), C6 (3,0%) dan soal LOT (78,8%) yaitu C1 (31,1%), C2 (29,8%), C3 (17,9%), dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru Biologi dalam membuat soal HOT sangat kurang baik (21,2%).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING)  Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN BIOLOGI DALAM PEMBUATAN SOAL HOT (HIGHER ORDER THINKING) Kemampuan Guru Mata Pelajaran Biologi Dalam Pembuatan Soal Hot (Higher Order Thinking) Di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 pasal 3 menjelaskan bahwa guru memiliki empat kompetensi yang salah satunya kompetensi pedagogik yang meliputi keterampilan dalam mengevaluasi hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan guru Biologi dalam pembuatan soal HOT di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumenter berupa soal ulangan harian buatan guru Biologi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten. Data yang diperoleh berupa kemampuan guru Biologi dalam membuat soal HOT di SMA Negeri 1 Wonosari Klaten semester gasal tahun ajaran 2014/2015, dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa kemampuan guru dalam membuat soal HOT (21,2%) yaitu soal C4 (15,2%), C5 (3,0%), C6 (3,0%) dan soal LOT (78,8%) yaitu C1 (31,1%), C2 (29,8%), C3 (17,9%), dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru Biologi dalam membuat soal HOT sangat kurang baik (21,2%).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IP

PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU IP

Berdasarkan ayat di atas, bahwa manusia telah diberikan kelebihan sebagai makhluk hidup yang sempurna dengan akal budinya oleh Allah. Dengan akal budi dan pikirannya, guru dapat menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Keaktifan dan kreativitas diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran secara kontekstual dalam memanfaatkan alam sebagai alat peraga IPA, sehingga de- ngan demikian siswa semakin dekat dengan lingkungan dan de- ngan pemahaman yang nyata. Mempelajari IPA merupakan kegiatan yang ilmiah dan dapat mempertebal keimanan seseorang kepada Allah SWT memelaui wahyu kawniyyah, yaitu alam ciptaan Allah yang terhampar di sekeliling manusia dari benda paling kecil sampai benda yang besar.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA MATERI BARISAN DAN DERET BILANGAN DI SMA NEGERI 1 PURI SKRIPSI

PENGEMBANGAN SOAL HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) PADA MATERI BARISAN DAN DERET BILANGAN DI SMA NEGERI 1 PURI SKRIPSI

Tessmer meliputi self evaluation, expert review, one-to-one, small group dan field test. Untuk mengetahui kevalidan perangkat soal HOTS dilihat dari hasil analisis lembar validasi pada tahap expert review. Kepraktisan soal diketahui dari hasil analisis angket respon siswa pada tahap small group. Sedangkan efek potensial soal berdasarkan hasil analisis kemampuan berpikir tingkat tiggi siswa pada tahap field test.

17 Baca lebih lajut

Pisa.zulkardi puspendik

Pisa.zulkardi puspendik

• Level Mudah Low Order Thinking Prosedural, algoritma dan definisi • Level Sedang Middle Order Thinking Problem solving and problem posing • Level Sulit Higher Order Thinking... [r]

40 Baca lebih lajut

 J01401

J01401

Sebuah program pendidikan dan pelatihan dapat berhasil jika peserta mampu melibatkan diri dalam melakukan perubahan tugas dan perilaku yang tercermin dalam sikap mereka, disiplin dan etos kerja. Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru selain antusiasme-adalah organisasi pendidikan dan pelatihan kompetensi yang efektif (Slameto,2013). Struktur program pendidikan dan pelatihan kompetensi guru perlu dirancang secara komprehensif. Karena pendidikan dan pelatihan yang komprehensif diharapkan secara efektif meningkatkan kompetensi guru. Identifikasi informasi yang berkaitan dengan kompetensi real seorang guru harus memiliki di lapangan. Tujuan kompetensi, pendidikan dan materi pelatihan, pengalaman dikembangkan, sumber belajar, alokasi waktu untuk pendidikan dan pelatihan harus dipetakan ketika merancang pelatihan. Hal ini diperlukan untuk memperhatikan strategi yang relevan dengan karakteristik peserta. Pendidikan dan materi pelatihan harus memfasilitasi pembelajaran aktif dan menyenangkan, berdasarkan kompetensi berbasis pengalaman dan pengembangan, merancang skenario pelatihan yang efektif yang dikendalikan, dan akuntabel. Pendidikan dan pelatihan harus relevan dengan kebutuhan, untuk mendapatkan respon positif dari para peserta. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan yang terencana melalui proses penilaian penting. Pelatih harus mampu menyampaikan materi dengan baik, menyelenggarakan sesi pendampingan yang teratur, tertib dan penuh makna. Intensitas pertemuan menjadi faktor kunci keberhasilan dik-lat.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

THE INFLUENCE OF HIGHER ORDER THINKING S

THE INFLUENCE OF HIGHER ORDER THINKING S

Recently, to enhance the English skills, Indonesian schools give more attention to provide more opportunities to use English. In addition, the items in the National Examination 88% are on reading tests and only 12% are in the form of writing tests. Moreover, the trend of the last two years recently of the National Examination items types moves to higher order thinking items. These items refer to Bloom’s Taxonomy level C4, C5, and C6 referring the achievements of analyzing, evaluating and creating. The importance of developing higher order thinking skills is also related with the latest curriculum 2013 which uses Scientific Approach. This approach aims at developing students’ critical thinking which is in line with the higher order thinking skills. Thus to keep up with the trend of the new curriculum, it is
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengembangan Model Pelatihan Berkelanjutan Untuk Peningkatan Kompetensi Pedagogik Ke-PLB-an Bagi Guru Reguler di Sekolah Inklusi.

Pengembangan Model Pelatihan Berkelanjutan Untuk Peningkatan Kompetensi Pedagogik Ke-PLB-an Bagi Guru Reguler di Sekolah Inklusi.

Tias Martika, S041502016. 2017. Pengembangan Model Pelatihan Berkelanjutan Untuk Peningkatan Kompetensi Pedagogik ke-PLB-an Bagi Guru Reguler di Sekolah Inklusi. Tesis. Pembimbing I: Abdul Salim. Pembimbing II: Munawir Yusuf. Program Studi Pendidikan Luar Biasa Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Srakarta.

19 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN TES HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) PADA MATERI GETARAN HARMONIS UNTUK SMA

PENGEMBANGAN TES HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) PADA MATERI GETARAN HARMONIS UNTUK SMA

This research aims to assess the advisability of higher order thinking skill (HOTS) test of Physics for senior high school students. Specifically, this reseach was conducted to find out the characteristic of the HOTS test and to define the oppropriateprecentage of the test which is based on the students’ responses. The metode used in this research is Research and Development (R & D). The method uses the stages which was developed by Borg and Gall which have been simplified. The HOTS test is developed basd on the Taxonomy Bloom which has been revised. It consists of 10 test points that have been validated by five physics experts. The experiment was done to 104 XI students from three different schools. The result of the experiment shows that from 10 test points, all of the items are highly correlated as the construct validity with analysis factor test by using SPSS, the level of contents of validity with the mean score 0.737. The validity of the items shows that all of the test items are valid based on SPSS application. The realibility of test items is 0.7, the index of difficulty of the test starts from 0.02 until 0.55, and the level of legibility is 0.66 which mean all of the items are categorised as good test items. The students’ reponses from the questionnaires result positive with 79.6% for the mean score. Based on these characteristics, the HOTS test can be used to measure the higher order thinking skill of physics for senior high school students.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN E-LEARNING DENGAN SCHOOLOGY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN E-LEARNING DENGAN SCHOOLOGY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

belajaran berbantuan komputer pada umumnya mengikuti tiga unsur, yaitu urutan-urutan instruksional yang dapat disesuaikan, jawaban/respons pekerja- an siswa, dan umpan balik yang dapat disesuaikan. Sesuai dengan prinsip tersebut, siswa berperan aktif dalam pembelajaran karena mengguna-kan komputer secara mandiri. Kendali berada di tangan siswa, sehingga tingkat kecepatan belajar siswa dapat disesuaikan dengan tingkat penguasa- annya. Disamping itu, komputer juga dapat diprogram untuk memberikan umpan balik, memeriksa dan mem- berikan skor hasil belajar secara otomatis. Siswa dituntut untuk ber- interaksi secara langsung dengan komputer. Siswa harus menyelesaikan semua pengalaman belajarnya dengan media online e-Learning schoology . Bila siswa salah dalam menjawab pertanyaan pada soal latihan dan uji kompetensi, maka komputer akan memberikan feedback, bahwa jawaban salah dan memberikan pembahasan mengenai jawaban yang benar. Pada akhir program selalu ditampilkan skor atau nilai akhirnya.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengembangan Penilaian Untuk Mengukur Higher Order Thinking Skills Siswa Padi Materi Ekosistem dan Lingkungan.

Pengembangan Penilaian Untuk Mengukur Higher Order Thinking Skills Siswa Padi Materi Ekosistem dan Lingkungan.

Hasil Observasi SMA di Surakarta yang dipilih secara acak, yaitu di SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 6, dan SMAN 7melalui Ulangan dan Ujian seperti Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, Ujian Tengah Semester, Ujian Sekolah, Ulangan Harian, maupun dari buku paket yang guru dan siswa gunakan pada materi ekosistem dan lingkungan menunjukkan bahwa soal dan pertanyaan masih dalam ranah kognitif yang rendah (Lower Order Thinking Skills). Rerata presentase pada materi ekosistem di lima sekolah sebanyak 90,5% Lower Order Thinking Skills, pada ranah kognitif C1 (mengetahui), C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan) dan pada dimensi pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural, serta hanya 8,4 % Higher Order Thinking Skills, pada ranah C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi) dan pada dimensi pengetahuan faktual dan konseptual. Hasil rerata presentase pada materi lingkungan di 5 sekolah sebanyak 81,4% Lower Order Thinking Skills, pada ranah kognitif C1 (mengetahui), C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan) dan pada dimensi pengetahuan faktual, konseptual dan prosedural serta hanya 18,58 % Higher Order Thinking Skills, baik ranah kognitif C4 (menganalisis) pada dimensi pengetahuan faktual, konseptual dan metakognisi (Lihat tabel lampiran).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

penulisan soal berbasis hots iwan

penulisan soal berbasis hots iwan

Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile. Crocodile lived in a river in the forest. Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water.

56 Baca lebih lajut

ANALISIS PELATIHAN TERHADAP KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA: Studi Pada Guru Matematika Smp Di Kota Makassar.

ANALISIS PELATIHAN TERHADAP KOMPETENSI PEDAGOGIK DAN PROFESIONAL GURU SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA: Studi Pada Guru Matematika Smp Di Kota Makassar.

Penelitian-penelitian terdahulu yang mengkaji variabel pelatihan, kompetensi pedagogik dan profesional guru, serta prestasi belajar siswa antara lain dilakukan Laksana (2009) yang menemukan bahwa pelatihan berpengaruh secara signifikan terhadap profesionalisme guru dan penelitian Wulandari (2010) yang menemukan bahwa kompetensi pedagogik dan profesional guru berpengaruh terhadap proses dan hasil pembelajaran Matematika siswa. Penelitian-penelitian terdahulu hanya membahas hubungan antara pelatihan guru terhadap kompetensi guru atau hubungan antara kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa, oleh karena itu penelitian ini membentuk hal baru dengan melakukan penelitian secara komprehensif mengenai pengaruh pelatihan pengembangan profesionalisme guru terhadap kompetensi pedagogik dan profesional guru serta dampaknya terhadap hasil belajar siswa. Keterkaitan antara keempat variabel tersebut tentunya akan memiliki pengaruh dan kontribusi yang berbeda apabila diukur secara komprehensif dibandingkan jika hanya diukur sebatas dua atau tiga variabel saja.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...