Top PDF PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

Jumlah dan jenis spesies terumbu karang yang didapat dari kajian teori sudah banyak yang mengalami kerusakan baik kerusakan yang diakibatkan oleh manusia seperti pengambilan karang sebagai bahan bangunan, menangkap ikan dengan cara di bom dan menggunakan racun. Maupun kerusakan yang diakibatkan oleh alam seperti terjadinya tsunami, dan gempa bumi. Dengan terjadinya kerusakan terumbu karang tersebut maka akan mengancam kelangsungan kehidupan hewan laut seperti ikan kerapu, ikan nemo (clown fish).

2 Baca lebih lajut

Pengelolaan Transplantasi Karang Hias Di Sekitar Ekosistem Terumbu Karang Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Pengelolaan Transplantasi Karang Hias Di Sekitar Ekosistem Terumbu Karang Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta

Pada umumnya ikan karang bersifat teritorial, namun karena ikan karang merupakan organisme yang mobile, keberadaannya pada suatu habitat sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika lingkungan sesuai, ikan karang akan berdatang- an, namun jika lingkungan berubah dan tidak sesuai baginya, maka ikan-ikan ini akan mencari tempat yang lebih sesuai. Hal ini merupakan kemungkinan akan adanya perubahan variasi spesies ikan yang muncul di daerah transplantasi (Dhahiyat et al 2003) karena tinggi rendahnya persentase tutupan karang hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kehadiran ikan (Bell & Galzin 1984). Kelimpahan ikan karang di kelima substasiun di Kelurahan Pulau Panggang dapat dilihat pada Gambar 8. Berdasarkan grafik yang ditampilkan, dapat terlihat bahwa kelimpahan ikan karang relatif sama di seluruh substasiun, hanya saja pada substasiun Pramuka Selatan 1 ditemukan kelimpahan yang lebih sedikit dibandingkan dengan keempat substasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh minimnya tutupan karang hidup di substasiun tersebut (23% tutupan karang hidup). Tutupan karang pada substasiun ini merupakan yang paling rendah dibandingkan dengan keempat substasiun lainnya.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL DAERAH DI SDN 1 GILI INDAH LOMBOK UTARA

PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL DAERAH DI SDN 1 GILI INDAH LOMBOK UTARA

Upaya pengenalan ekosistem terumbu karang bagi siswa Sekolah Dasar di Gili Matra perlu dilakukan melalui penyusunan perangkat pembelajaran IPA SD yang berbasis keunggulan lokal daerah. Keindahan bawah laut berupa ikan dan terumbu karang merupakan kekayaan daerah Gili Matra, sehingga keunggulan ini perlu dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal di Sekolah Dasar Gili Matra dan disusun dalam perangkat pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Gili Matra. Solusi ini dianggap sebagai langkah yang bagus dalam upaya pelestarian ekosistem terumbu karang di kawasan Gili Matra sebagaimana yang dijabarkan oleh Sukri (2011), bahwa penyusunan perangkat pembelajaran dalam upaya mengangkat keunggulan lokal daerah pada matapelajaran di Sekolah Dasar diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa terkait biodiversitas terumbu karang, dan meningkatkan kesadaran pentingnya keberadaan ekosistem terumbu karang dan pengelolaanya, yang pada akhirnya akan menciptakan konservasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan. Tulisan ini menjabarkan penyusunan perangkat pembelajaran berbasis keunggulan lokal daerah di SDN 1 Gili Indah Dusun Gili Air yang merupakan bagian dari Taman Wisata Perairan Gili Matra.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pelestarian Terumbu Karang untuk Pembang

Pelestarian Terumbu Karang untuk Pembang

Beberapa bentuk eksploitasi yang tidak bertanggung jawab tersebut merupakan satu dari sekian faktor yang harus ditangani secara bersama. Dalam pengelolaan terumbu karang ini, tidak dapat dilihat dari satu kepentingan saja, tetapi harus mempertimbangkan terutama kepentingan dari penduduk atau masyarakat dimana ekosistem terumbu karang tersebut berada. Pengelolaan terumbu karang merupakan upaya yang dilakukan untuk mengatur terumbu karang melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan atau pengawasan, evaluasi dan penegakan hukum (DKP-COREMAP, 2004). Jadi dalam hal ini melibatkan hampir seluruh komponen masyarakat dari tingkat bawah (grass root) hingga pemangku pengambil kebijakan tertinggi serta seluruh pihak terkait lain. Apabila tidak ada upaya dari segenap pihak untuk menghentikan mengatur ekosistim ini maka dikhawatrikan akan meningkatkan laju degradasi terumbu karang.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

6. Jurnal Maspari Jeppry

6. Jurnal Maspari Jeppry

Pulau Pramuka terletak dalam zona pemukiman yang menjadi pusat pemerintahan, pemukiman dan wisata. Banyaknya aktifitas yang terjadi di Pulau Pramuka dapat memberikan tekanan bahkan ancaman kerusakan terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian tentang analisis perubahan luasan terumbu karang dengan menggunakan data penginderaan jauh di perairan Pulau Pramuka Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu dilaksanakan pada bulan September 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luasan terumbu karang periode tahun 2001 - tahun 2011, kondisi ekosistem terumbu karang serta kondisi parameter perairan di Pulau Pramuka. Metode yang dilakukan adalah pengolahan data citra dan survei lapangan. Pengolahan data citra dilakukan dengan menggunakan transformasi algoritma Lyzenga. Pengambilan data terumbu karang dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat di kedalaman 3 meter dan 7 meter di lima stasiun penelitian serta didokumentasikan menggunakan kamera bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan luasan terumbu karang di Pulau Pramuka. Luasan terumbu karang hidup tahun 2001 sebesar 28,105 ha berkurang menjadi 17,190 ha pada tahun 2011 sedangkan luasan terumbu karang mati pada tahun 2001 sebesar 16,001 ha bertambah menjadi 18,630 ha pada tahun 2011. Persentase rata – rata tutupan terumbu karang hidup di Pulau Pramuka berada pada katergori sedang yaitu 26,6 %, persentase tutupan terumbu karang pada kedalam 3 meter berada pada kategori buruk yaitu 21,3 %, sedangkan pada kedalaman 7 meter berada pada kategori sedang yaitu 31,8 %. Hasil pengamatan parameter perairan seperti suhu, salinitas, kecerahan, kecepatan arus dan pH mendukung pertumbuhan terumbu karang.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

STUDI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU

STUDI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PULAU

Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi genus karang dilakukan dengan menggunakan Coral Finder Tool. pada halaman pertama Coral Finder Tool dilihat pada kolom key group untuk melihat bentuk pertumbuhan karang yang akan diidentifikasi (apakah karang tersebut memiliki bentuk pertumbuhan branching, massive, dll). Selanjutnya menentukan bentuk dan mengukur besar koralit pada karang tersebut menggunakan kaca pembesar dan penggaris untuk alat ukur. Setelah itu, akan langsung diarahkan pada halaman utama (look alike) yang menggambarkan bentuk koloni dan koralit karang serta satu kolom characters yang menjelaskan tentang karakteristk atau cirri khusus dari genus karang. Kemudian bandingkan karang yang sedang diamati dengan gambar karang pada kolom colony, corallites dan close up, kemudian mengkonfirmasi cirri-ciri karang tersebut dengan karakteristik kunci yaitu deskripsi dalam teks tebal pada kolom characters, langkah selanjutnya melihat gambar karang yang terdapat pada kolom scaled (skala) untuk menyesuaikan bentuk koralit karang dalam skala atau ukuran yang sebenarnya. Setelah karakteristik karang yang diamati dengan contoh karang pada Coral Finder sesuai, kemudian dicatat nama genus karang yang telah diamati sesuai dengan keterangan nama genus yang terdapat di atas gambar karang pada Coral Finder.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Indeks Kerentanan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Tumpahan Minyak. Studi Kasus Ekosistem Terumbu Karang Di Kepulauan Seribu

Indeks Kerentanan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap Tumpahan Minyak. Studi Kasus Ekosistem Terumbu Karang Di Kepulauan Seribu

Salah satu metode untuk menentukan pengelolaan yang efektif bagi sumberdaya pesisir dan lautan adalah analisis kerentanan. Tumpahan minyak merupakan salah satu ancaman bagi terumbu karang, kejadiannya tidak dapat diprediksi dan berdampak sangat merusak. Kepulauan Seribu berpotensi terdampak akibat tumpahan minyak. Kejadian tumpahan minyak di wilayah ini bersumber dari kecelakaan kapal yang keluar masuk Pelabuhan Tanjung Priok dan jalur ALKI I, dan kecelakaan pada operasi eksplorasi-eksploitasi minyak bumi. Setidaknya telah tercatat kejadian tumpahan minyak memasuki kawasan Kepulauan Seribu sejak 2003, 2004, 2006, 2007 dan 2008. Penelitian ini bertujuan merumuskan parameter dalam menentukan indeks kerentanan ekosistem terumbu karang terhadap tumpahan minyak dan menghitung indeks kerentanan di Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan teori kerentanan, dimana kerentanan merupakan fungsi dari keterpaparan (exposure/E), kepekaan (sensitivity/S), dan kapasitas adaptif (adaptive capacity/AC). Tahapan penelitian ini yaitu: 1) tahap studi pustaka untuk menyusun parameter; 2) tahap survei pakar untuk menentukan signifikansi masing-masing parameter; 3) tahap survei lapang untuk mengumpulkan data-data per parameter; dan 4) tahap analisis data. Parameter dalam kategori exposure antara lain: tipe pasang surut, tunggang pasang, tinggi gelombang, tipe substrat dan kedalaman habitat. Parameter dalam kategori sensitivity yaitu: tipe pertumbuhan terumbu karang, kelandaian, status perlindungan, persentase tutupan, kerapatan, spesies dilindungi, dan kelimpahan ikan. Parameter dalam kategori adaptive capacity yaitu: perangkat pengananan tumpahan minyak, kelembagaan konservasi, respon masyarakat dan ketergantungan ekonomi. Stasiun penelitian adalah Pulau Pramuka, Panggang, Harapan, Kelapa, Belanda
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

STUDI EKOLOGI REPRODUKSI KARANG CABANG Acrapara aspera UNTUK MENGATASI KONDISI KRITIS EKOSISTEM TERUMBU KARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) 669 KI FPIK 2004 a

STUDI EKOLOGI REPRODUKSI KARANG CABANG Acrapara aspera UNTUK MENGATASI KONDISI KRITIS EKOSISTEM TERUMBU KARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) 669 KI FPIK 2004 a

I ndonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki posisi strategis di wilayah I ndo- Pasifik merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia dan pusat distribusi karang. Bahkan negara kita memiliki keanekaragaman tertinggi akan genus Acropora (Scleractinia), yaitu tercatat 91 spesies (Wallace et al ., 2001). Karang cabang Acropora merupakan karang yang sangat penting di I ndonesia mengingat penggunaannya pada beberapa kegiatan restorasi ekosistem terumbu karang seperti transplantasi karang. Tingginya kemampuan regenerasi menjadi pilihan untuk transplantasi karang jenis ini, meskipun usaha rehabilitasi melalui transplantasi pada jenis ini beresiko terhadap menurunnya variasi genetik. Perbanyakan koloni melalui cara transplantasi di satu sisi mempunyai manfaat dalam perbanyakan koloni karang, tetapi di sisi lain akan memperbanyak clone koloni (kesamaan genetis) dalam populasi karang yang berpotensi pada rendahnya survival koloni. Seiring dengan menurunnya mutu lingkungan dan rentannya koloni Acropora, terutama di wilayah terumbu karang pelindung pantai utara Jawa, koloni Acropora terancam hilang dari ekosistem bahkan nyaris punah (Munasik, unpublished data ).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Economic Analysis of Benefit Value of Coral Reef Ecosystem in Ternate Island North Maluku Province

Economic Analysis of Benefit Value of Coral Reef Ecosystem in Ternate Island North Maluku Province

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus (case study ). Tujuan studi kasus untuk memberikan gambaran tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus, tipe pendekatan dan penelaahannya terhadap satu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif (Faisal 2001). Dalam hal ini metode studi kasus digunakan untuk mengkaji lebih dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan penggunaan teknik survey dalam pengambilan responden, akan memungkinkan model yang digunakan dapat diadoposi untuk penelitian di daerah lainnya. Penelitian di lakukan pada aktivitas ekonomi yang berbasis sumberdaya alam yaitu usaha penangkapan ikan Satuan kasusnya adalah areal ekosistem terumbu karang yang secara administratif terletak di Kotamadya Ternate. Penentuan lokasi yang menjadi satuan kasus tersebut dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan jalur distribusi terumbu karang di Indonesia Bagian Timur dan merupakan jalur keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia yang melintasi jalur Minahasa, Sangihe Talaut sampai ke Filipina. Berdasarkan pengamatan serta data statistik Pulau Ternate usaha penangk apan ikan merupakan aktivitas ekonomi berbasis sumberdaya alam yang cukup dominan.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan (Artificial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,Provinsi DKI Jakarta

Analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan (Artificial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,Provinsi DKI Jakarta

Terumbu karang adalah bangunan ribuan hewan yang menjadi tempat hidup berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang yang sehat dengan luas 1 km 2 dapat menghasilkan 20 ton ikan. Terumbu karang Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar perikanan laut di dunia yang menyediakan sekitar 3,6 juta ton dari produksi perikanan laut secara keseluruhan. Persediaan karang dan ikan karang Indonesia yang melimpah terancam oleh praktek penangkapan ikan yang merusak seperti penangkapan ikan dengan menggunakan racun sianida dan bahan peledak. Terumbu karang memiliki fungsi ekosistem yang penting, yang menyediakan barang dan jasa bagi ratusan juta penduduk khususnya di negara-negara berkembang. Terumbu karang yang kondisinya menurun akan kehilangan nilai karena menjadi tidak produktif. Di Kepulauan Seribu (perairan bagian Utara Jakarta), sekitar 90-95% terumbu karang hingga kedalaman 25 m mengalami kematian. Ada beragam upaya mengatasi penurunan atau kelangkaan stok sumberdaya ikan. Beberapa diantaranya dengan menggunakan rumpon dan terumbu buatan. Upaya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi terumbu karang Kepulauan Seribu adalah dengan rehabilitasi melalui penenggelaman terumbu buatan (artificial reefs).
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

Terumbu karang pada umunya terbatas pada suhu perairan antara 18-36 0 C, nilai optimal antara 26-28 0 C. Hal ini selanjutnya akan diekspresikan dalam pola distribusi dan keragaman terumbu karang secara latitudinal (Hubbard, 1990). Sensitivitas terumbu karang terhadap suhu dibuktikan dengan dampak yang ditimbulkan oleh perubahan suhu akibat pemanasan global yang melanda perairan Indonesia pada tahun 1998, yaitu terjadinya pemutihan karang yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Suharsono (1999) telah mencatat bahwa selama peristiwa pemutihan karang tersebut, suhu rata-rata permukaan air sekitar gugusan Pulau Pari Kepulauan Seribu adalah 2-3 0 C di atas suhu normal. Menurut Kinsman (2004) bahwa dia mendapatkan Acropora pada perairan dengan kisaran suhu musiman 16 - 40 0 C dan kisaran suhu harian paling rendah 10 0 C di pantai Trucial. Perkembangan mengenai pengaruh suhu terhadap binatang karang, lebih lanjut dilaporkan bahwa suhu yang mematikan binatang karang bukan suhu yang ekstrim, namun lebih karena perbedaan perubahan suhu secara mendadak dari suhu alami. Menurut Neudecker (2001) perubahan suhu secara mendadak sekitar suhu 4 - 6 0 C di bawah atau di atas ambient level dapat mengurangi pertumbuhan karang bahkan mematikannya.
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang sangat produktif, namun sangat rentan terhadap perubahan-perubahan atau pengaruh eksternal. Wilayah pesisir Selat Lembeh memiliki 5 (lima) buah sungai utama (DAS), yaitu Sungai Girian, Sagerat, Tanjung Merah, Tewaan dan Rinondoran (Lampiran 10), hal ini dapat menjadi sumber pembuangan limbah. Karena itu pengelolaan terumbu karang harus didasarkan atas pemahaman perspektif holistik dan berbasis ekologis. Clark (1996) mengelaborasi kaidah ekologis ini menjadi acuan bagi pengelolaan wilayah pesisir sebagai berikut: (1) integritas ekosistem: bahwa setiap ekosistem pesisir harus dikelola sejalan dengan keterkaitan bagian-bagian serta sebagai satu kesatuan yang utuh, (2) DAS: bahwa pengelolaan DAS sedapat mungkin mempertahankan pola alaminya, karena DAS adalah faktor kunci dalam pengelolaan air sebagai komponen utama keterkaitan elemen-elemen ekosistem, dan (3) penyangga DAS: perlu dibangun penyangga DAS berupa vegetasi sepanjang DAS tersebut sejalan dengan meningkatnya pembangunan. Tata guna lahan yang dicirikan oleh penutupan lahan menjadi hal yang sangat penting untuk mempertahankan fungsi hidrorologi DAS. Keberadaan DAS tersebut dapat mempengaruhi sifat fisika-kimia perairan, khususnya pola sebaran salinitas perairan Selat Lembeh Kota Bitung. Salinitas menggambarkan konsentrasi dari total ion yang terdapat dalam suatu perairan dengan ion-ion utama penyusunnya adalah natrium, kalium, magnesium, khlorida, sulfat dan bikarbonat (Millero dan Sohn, 1992). Salinitas akan bervariasi secara vertikal dan horizontal tergantung masukan air tawar, air hujan dan penguapan (evaporasi). Salinitas mempunyai peranan penting dalam kehidupan organisme laut dan kelarutan gas-gas di dalam air laut.
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Produk Hukum • Info Hukum 62 kepmen kp 2014

Produk Hukum • Info Hukum 62 kepmen kp 2014

Dari sekitar 32 pulau besar-kecil di Padaido, hanya terumbu karang di sekitar Pulau Dauwi, Pulau Runi dan Pulau Pasi yang paling tenggara masih dalam kondisi baik. Atraksi yang ada antara lain atraksi tarian yospan (yosin pancar), atraksi kuskus dan ketan kenari yang sedang memakan kelapa. Di depan pulau Dauwi terdapat pulau Samakur yang dapat mempertontonkan atraksi pergantian burung pada jam 6 sore dimana pergantian antara burung siang dan burung kelelawar. Di tempat tersebut juga berlangsung tradisi yang disebut Mor. Sesuai dengan kesepakatan masyarakat setempat, dua kali dalam setahun pada bulan Mei-Juni dan November-Desember, sebuah kapal akan dipilih untuk memanen ikan di lokasi itu menggunakan pukat. Sebagian ikan yang terjaring akan diberikan kepada masyarakat miskin, termasuk para janda dan keluarganya yang tidak mampu melaut dan memiliki perahu serta peralatan untuk menangkap ikan. Sebagai salah satu taman laut di Padaido, daerah terumbu karang di sekitar Pulau Nusi, Yeri, Dauwi dan habitat burung di Pulau Samakur menjadi obyek wisata yang paling diminati wisatawan asing. terutama dari Jepang, Amerika Serikat, dan Belanda serta jumlah penduduk Kabupaten Biak Numfor dan sekitarnya yang begitu besar merupakan potensi pasar yang sangat luar biasa di masa mendatang, sebagai salah satu sumber dari wisatawan nusantara, yang merupakan segmen pasar potensial yang tentunya memerlukan perhatian yang memadai. 3. Potensi Ekonomi
Baca lebih lanjut

137 Baca lebih lajut

Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah

Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah

Keberadaan makroalga di rataan terumbu merupakan sediaan bahan makanan, obat-obatan bagi manusia juga sebagai ladang pakan bagi biota herbivor. Makroalga yang dapat dikonsumsi banyak diperoleh dari marga Caulerpa, Gracilaria, Gelidiella, Eucheuma, dan Gelidium. Kehadiran, pertumbu han sampai perkembangbiakan makroalga lebih banyak dijumpai pada substrat yang stabil dan keras, sehingga tidak mudah terkikis oleh arus dan ombak (Kadi, 2006).

12 Baca lebih lajut

Kampanye Pelestarian Terumbu Karang Kepulauan Seribu.

Kampanye Pelestarian Terumbu Karang Kepulauan Seribu.

Terumbu karang di Indonesia mampu mendukung kehidupan jutaan penduduk, khususnya dalam sektor perikanan dan pariwisata. Dari 1 km 2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun. Ikan laut menyediakan 60% dari protein hewani yang dikonsumsi penduduk Indonesia. Sebagian besar dari terumbu karang di Indonesia merupakan tipe terumbu karang tepi (fringing reefs), berdekatan dengan garis pantai dan mudah diakses oleh penduduk.

13 Baca lebih lajut

Bab 05 – Makhluk Hidup dan Lingkungannya – 2 Hubungan Makhluk Hidup dengan Lingkungannya

Bab 05 – Makhluk Hidup dan Lingkungannya – 2 Hubungan Makhluk Hidup dengan Lingkungannya

Di bawah ini yang termasuk ekosistem alam adalah ..... Terumbu karang di laut sangat ber-manfaat karena ....[r]

1 Baca lebih lajut

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM TERUMBU KARANG

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Kepulauan Kapoposang dikenal sebagai Taman Wisata Alam Laut dengan luas sebesar 50.000 hektar dan memiliki panjang batas 103 km. Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang kaya akan sumberdaya hayati laut khususnya terumbu karang. Total luas reef flat adalah sebesar 1.156 Ha, dengan kondisi terumbu karang yang relatif masih baik, di dalamnya hidup dan berkembang biak berbagai jenis ikan maupun sumberdaya perikanan lainnya berupa molusca dan echinodermata. Kawasan ini menjanjikan pemandangan pesona bawah air yang tidak ada duanya di Kepulauan Spermonde.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perlindungan Terumbu Karang dan Dampakny

Perlindungan Terumbu Karang dan Dampakny

Namun, karena kepuasan manusia yang tanpa batas tersebut, disertai berbagai usaha untuk memenuhinya, pada akhirnya juga berakibat pada penghancuran pemenuhan kebutuhan itu sendiri. Dalam artian, jika ekosistem terumbu karang rusak akibat eksploitasi yang dilakukan, maka berakibat pula pada rusaknya habitat ikan laut dan makhluk hidup lainnya yang bergantung pada terumbu karang. Ikan dan makhluk hidup lain semakin sulit untuk melangsungkan hidupnya. Populasi ikan menurun yang kemudian berakibat pada mata pencaharian nelayan. Jika beberapa hal tersebut terjadi maka akan berakibat pula terhadap ketahanan pangan terutama masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai. Kemiskinan mulai ‘menggerogoti’ kehidupan para nelayan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province

Correlation between the condition coral reef and the abundance of herbivory fishes in southern coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara Province

Berdasarkan hasil penelitian pada kawasan B menunjukkan tutupan karang lunak/soft coral yang tertinggi bila dibandingkan pada kawasan A dan kawasan C. Jenis soft coral yang dominan yaitu: Xenia dan Sinularia. Gangguan yang cukup besar terhadap ekosistem terumbu karang dapat menyebabkan terjadinya pergeseran keseimbangan/phase shift dimana ekosistem yang awalnya didominasi karang keras berubah menjadi dominasi soft coral atau makrolaga (Done 1992a). Menurut Fox et al. 2003 berdasarkan hasil pengamatan di Taman Nasional Komodo, setelah ekosistem terumbu karang pada areal tersebut mengalami kerusakan akibat pemboman maka, tutupan soft coral mendominasi areal tersebut sekitar 95 -100% terutama dari jenis Xenia, Sarcophyton, Nepthea dan Clavularia. Soft Coral tidak hanya mendominasi seluruh areal sebagai penjajah yang sukses, dengan fekunditas yang tinggi serta beberapa cara perluasan juga merupakan pesaing karang keras (Benayahu & Loya 1985). Soft coral juga menghalangi rekruitmen larva karang Scleractinia dengan mengeluarkan zat allelopathy (Maida et al. 1995). Karang lunak Xenia puertogalerae dilaporkan mengurangi jumlah rekruitmen karang di sekitarnya (Atrigenio & Alino 1996).
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...