Top PDF Peluang USAha Ekowisata Di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Peluang USAha Ekowisata Di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Peluang USAha Ekowisata Di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Cagar Alam Pulau Sempu sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata alam popular yang banyak dikunjungi orang di Kabupaten Malang. Adanya kegiatan ekowisata di Pulau Sempu menimbulkan permasalahan pengelolaan terkait dengan status kawasan sebagai Cagar Alam. Kawasan Cagar Alam tidak ditujukan untuk kegiatan wisata, melainkan hanya untuk pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi kenyataan yang dihadapi sekarang, kunjungan wisatawan ke Pulau Sempu semakin meningkat dan sudah sangat sulit dihentikan. Penelitian ini bertujuan 1) Menganalisis potensi obyek daya tarik wisata alam; 2) Mengevaluasi dampak ekowisata terhadap kawasan; 3) Merumuskan strategi kebijakan pengelolaan kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Untuk merumuskan strategi pengelolaan menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan kawasan Cagar Alam Pulau Sempu sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tujuan ekowisata dengan daya tarik obyek wisata alam berupa danau “ ”, keanekaragaman flora, fauna dan ekosistemnya. Adanya dampak negatif dari wisata alam terhadap kawasan, diperlukan pengelolaan dan perencanaan yang sesuai untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Strategi pengelolaan yang sesuai adalah a) Melakukan evaluasi fungsi kawasan dan membagi blok pengelolaan untuk meminimalkan dampak pengunjung; b) Perubahan status sebagai kawasan Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam; c) Melakukan kolaborasi pengelolaan kawasan dengan masyarakat.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengetahuan, Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu Kabupaten Malang

Pengetahuan, Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Di Kawasan Cagar Alam Pulau Sempu Kabupaten Malang

Keindahan CAPS ini mengundang banyak masyarakat yang penasaran akan panorama keeksotikan alam di dalamnya. Sebagian besar pengunjung berasal dari daerah Jawa Timur khususnya berasal dari Kota Malang sebesar 42%, Kota Surabaya sebesar 20% dan 14% responden berasal dari luar Provinsi Jawa Timur yaitu berasal dari kota Jogja, Purwokerto, dan Jakarta. Hal ini juga dikemukakan oleh Sotyadarpita et al. (2013), ditinjau dari daerah asalnya, mayoritas wisatawan merupakan wisatawan lokal yang berasal dari Malang (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) serta daerah disekitarnya (masih dalam Provinsi Jawa Timur). Sebagian besar wisatawan adalah kalangan usia muda antara 20-24 tahun, dan mayoritas tujuan kunjungan adalah rekreasi. Pengunjung di CAPS ini hanya diperbolehkan masuk kawasan untuk penelitian atau pendidikan bukan hanya sekedar berwisata (non konservasi), pengunjung harus mempunyai simaksi dari BKSDA Jawa Timur, dan ditunjukkan kepada petugas.Berikut merupakan persentase pengunjung yang memiliki Simaksi pada tahun 2012-2014 dapat dilihat pada Gambar 1.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PLACE BRANDING PULAU SEMPU - KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR SEBAGAI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM GABRIELLA JEANNY 10.13.0015

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PLACE BRANDING PULAU SEMPU - KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR SEBAGAI KAWASAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM GABRIELLA JEANNY 10.13.0015

Proyek Akhir ini disusun sebagai syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Arsitektur dan Desain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Judul yang penulis ajukan adalah “Perencanaan dan Perancangan Place Branding Pulau Sempu – Kabupaten Malang, Jawa Timur sebagai Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam.

16 Baca lebih lajut

AUTEKOLOGI DAN STUDI POPULASI Myristica teijsmannii Miq. (Myristicaceae) DI CAGAR ALAM PULAU SEMPU, JAWA TIMUR ROSNIATI APRIANI RISNA

AUTEKOLOGI DAN STUDI POPULASI Myristica teijsmannii Miq. (Myristicaceae) DI CAGAR ALAM PULAU SEMPU, JAWA TIMUR ROSNIATI APRIANI RISNA

Pengujian statistik untuk model distribusi populasi M. teijsmannii dengan menggunakan metode Generalized Linear Model (GLM) terhadap pengaruh faktor topografis memberikan ketepatan model atau deviansi sebesar 1,10 yaitu berkategori baik dengan nilai signifikan pada lereng dan arah lereng. Hasil ini menunjukkan bahwa distribusi populasi M. teijsmannii ditentukan oleh lereng dan arah lereng tetapi tidak oleh ketinggian. Kehadiran individu M. teijsmannii secara signifikan dijumpai lebih banyak pada kawasan datar dengan kemiringan 0-8%, sedangkan pada kemiringan agak curam (15-25%) dijumpai populasi yang rendah. M. teijsmannii ditemukan pada seluruh kisaran kelas ketinggian di CA Pulau Sempu, tepatnya pada 25–86 m dpl sehingga variabel ketinggian lokasi tidak memberikan perbedaan yang berarti secara statistik terhadap kehadiran individu. Jumlah individu dalam plot pengamatan cenderung semakin banyak pada arah lereng yang tidak mengarah langsung ke sebelah timur, yaitu pada utara-barat. Sebaliknya pada aspek yang langsung mengarah ke timur, jumlah individu ditemukan semakin sedikit. Jumlah individu terbanyak ditemukan pada lereng yang tidak memperoleh sinar matahari sepanjang hari. Fenomena ini mendukung dugaan bahwa spesies ini memiliki sifat semi toleran.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Keanekaragaman dan Pola Sebaran Spesies Tumbuhan Asing Invasif di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Keanekaragaman dan Pola Sebaran Spesies Tumbuhan Asing Invasif di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Menurut Tjitrosoedirdjo (2005), terdapat paling tidak 1936 spesies tumbuhan asing di Indonesia, sebagian diantaranya telah berkembang menjadi invasif dan menimbulkan dampak negatif pada beberapa ekosistem. Beberapa kasus invasi yang menimbulkan dampak negatif pada kawasan-kawasan konservasi di Indonesia adalah invasi Acacia decurrens yang menggantikan keberadaan spesies tumbuhan asli pada lahan bekas terbakar di Taman Nasional Gunung Merbabu (Purwaningsih 2010), invasi Casia tora, Austroeupatorium inulifolium, dan Lantana camara pada padang penggembalaan Sadengan di Taman Nasional Alas Purwo, serta invasi Acacia nilotica pada ekosistem savana di Taman Nasional Baluran yang mengakibatkan perubahan struktur dan komposisi spesies tumbuhan padang rumput, sehingga menekan populasi rumput sumber pakan Banteng, satwa prioritas konservasi pada kedua kawasan konservasi tersebut (Djufri 2004, Hakim et al. 2005).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Struktur Sebaran dan Tata Ruang Anggrek Epifit (Orchidaceae) di Hutan Pantai Cagar Alam Pulau Sempu Malang, Jawa Timur

Struktur Sebaran dan Tata Ruang Anggrek Epifit (Orchidaceae) di Hutan Pantai Cagar Alam Pulau Sempu Malang, Jawa Timur

I nformasi struktur dan komposisi tumbuhan pada setiap kawasan hutan alami dirasakan belum cukup untuk memberikan gambaran yang lengkap dalam suatu ekositem hutan-hutan alami tropis, karena di dalamnya masih terdapat berbagai jenis- jenis tumbuhan lainnya termasuk tumbuhan epifit (Soegianto 1994). Tumbuhan epifit memberikan kontribusi yang tinggi terhadap keseimbangan ekosistem hutan, dan umumnya hidup pada cabang atau batang pohon, bahkan pada tebing berbatu dengan berbagai keanekaragaman jenis. Selain itu fungsi tumbuhan epifit adalah habitat bagi hewan- hewan kecil dalam ekosistem hutan alami di sekitar lapisan kanopi, pengatur keseimbangan ekositem, termasuk iklim mikro (kelembaban dan temperatur). Kehadiran jenis-jenis epifit dapat dijadikan juga bioindikator terhadap kondisi suatu kawasan hutan, karena jenis-jenis tersebut mutlak dalam hidupnya memerlukan pijakan naungan tegakan pohon-pohon sebagai tempat berlindung, mengambil nutrisi, dan beregenerasi (Cardelus & Mack 2010; Yulia & Budiharta 2012a).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KAJIAN ETNOBOTANI DI BEBERAPA KAWASAN HUTAN CAGAR ALAM, JAWA TIMUR Ethnobotanical study in some nature reserve area in East Java

KAJIAN ETNOBOTANI DI BEBERAPA KAWASAN HUTAN CAGAR ALAM, JAWA TIMUR Ethnobotanical study in some nature reserve area in East Java

Kajian etnobotani untuk mengumpulkan informasi tentang pemanfaatan tumbuhan obat dilakukan di empat lokasi desa di kawasan hutan alam yang ada di Jawa Timur. Pengumpulan data dan informasi ini diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan, wawancara langsung dengan penduduk lokal serta melalui studi pustaka. Keberadaan dan potensi jenis tumbuhan obat di lokasi penelitian cukup banyak. Namun demikian masyarakat yang berada di sekitar lokasi penelitian memanfaatkan hanya sebagian jenis tumbuhan tersebut sebagai obat. Sebagian besar masyarakat hutan memperoleh pengetahuan tentang ramuan obat tradisional secara turun temurun dari generasi ke generasi. Namun hal ini tampaknya semakin menurun mengingat se- makin kecilnya jumlah orang yang mengetahui tentang pemanfaatan tumbuhan atau pohon sebagai bahan obat. Masyarakat setempat lebih menyukai obat modern (non-tradisional) yang mudah diperoleh dengan harga murah di pasar lokal ketimbang obat tradisional. Lambat laun masyarakat akan meninggalkan pengo- batan tradisional akibat kurangnya promosi serta semakin berkurangnya jenis-jenis tumbuhan obat akibat terjadinya kerusakan hutan. Makalah ini akan menggali sampai sejauh mana masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan di pulau Jawa masih memanfaatkan tumbuhan obat yang ada untuk menjaga kesehatan dan mencari kemungkinan atau peluang untuk melakukan komersialisasi terhadap beberapa jenis tumbuhan obat yang masih digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

ANALISIS PEMANFAATAN CAGAR ALAM PULAU SE

ANALISIS PEMANFAATAN CAGAR ALAM PULAU SE

Perbedaan persepsi yang dimaksud terjadi antara pengelola kawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur dengan Pemerintah Kabupaten Malang selaku pemangku wilayah administratif. Pihak pengelola kawasan menyatakan, bahwa status Pulau Sempu merupakan Cagar Alam yang pemanfaatannya hanya dapat dilakukan guna kegiatan penelitian, pendidikan, penyerapan karbon, serta pemanfaatan sumber plasma nutfah saja. Namun di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Malang beserta jajaran di bawahnya berpendapat bahwa memang benar Pulau Sempu sebagai cagar Alam, tetapi juga sebagai tempat wisata yang menjanjikan dan dapat digunakan sebagai salah satu sumber pemasukan daerah dari sektor pariwisata dan semakin menjual nama Kabupaten Malang agar semakin dikenal khalayak luas.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Keanekaragaman dan Pola Sebaran Spesies Tumbuhan Asing Invasif di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Keanekaragaman dan Pola Sebaran Spesies Tumbuhan Asing Invasif di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Keberadaan spesies tumbuhan asing selalu terjadi dalam sejarah penyebaran tumbuhan (van Steenis 2010). Meskipun aktivitas manusia merupakan agen yang paling bertanggung jawab atas terjadinya invasi spesies tumbuhan asing (Shigesada dan Kawasaki 1997; May 2007a; May 2007b), namun proses masuknya spesies tumbuhan asing invasif ke dalam Pulau Sempu belum dapat diketahui. CAPS yang terpisah dari daratan utama Pulau Jawa serta statusnya yang merupakan kawasan yang dilindungi sejak 1928, sehingga relatif terjaga dari tingkat aktivitas manusia yang tinggi, seharusnya mampu menjaga kawasan CAPS dari invasi spesies tumbuhan asing. Satu-satunya sumber invasi yang mungkin bagi CAPS adalah Pulau Jawa, namun menelusuri sejarah proses invasi hampir mustahil dilakukan (di Castri 1989). Hal tersebut terjadi karena pada awal diketahuinya kejadian invasi di dunia para ahli biologi kurang menyadari bahayanya sehingga perhatian terhadap isu ini sangat rendah (Richardson dan Py š ek 2007; Richardson dan Py š ek 2008).
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Autekologi dan studi populasi Myristica teijsmannii Miq. (Myristicaceae) di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Autekologi dan studi populasi Myristica teijsmannii Miq. (Myristicaceae) di Cagar Alam Pulau Sempu, Jawa Timur

Berdasarkan hasil analisis sifat fisika, kandungan liat pada tekstur tanah kawasan ini termasuk tinggi, dengan kandungan pasir yang sangat rendah yaitu pada kisaran ≤ 6%. Kandungan pasir yang rendah dapat menjadi salah satu sebab KTK (kapasitas tukar kation) tanah menjadi tinggi, sesuai dengan teori yang dipaparkan Hardjowigeno (1992). Tekstur tanah berdasarkan persentase kandungan pasir, liat dan debu ini setelah diidentifikasi menggunakan segitiga tekstur tanah (soil texture triangle) menunjukkan tekstur liat, liat berdebu hingga lempung berdebu. Terlihat bahwa unsur liat di kawasan penelitian ini cukup mendominasi. Berdasarkan Hardjowigeno (1992), tanah liat seperti ini mempunyai pori-pori total yaitu jumlah pori makro (pori kasar berisi udara dan air gravitasi) dan pori mikro (pori halus berisi air kapiler atau udara) yang lebih tinggi daripada tanah pasir. Hal ini dibuktikan dengan angka ruang pori total yang tinggi di lokasi penelitian pada umumnya (Tabel 12), yaitu berkisar antara 55,5 – 66,6 %vol pada topsoil dan 55,5 – 65,5%vol pada subsoil. Persentase ruang pori total yang tinggi (>50% vol) pada tanah dengan tekstur liat menunjukkan kandungan material organik yang sangat kaya (Meyer & Anderson 1954). Ruang pori ini pada sebagian besar tanah ditempati oleh gas dan air pada proporsi yang bervariasi, bergantung pada kandungan air dalam tanah. Ruang pori total inilah yang antara lain dapat menjelaskan keterkaitan adanya morfologi akar napas dan akar lutut yang diperlihatkan M. teijsmannii dengan kondisi tanah di lokasi penelitian yang teksturnya liat hingga liat berdebu. Semakin kecil partikel tanah maka semakin kecil ventilasinya karena pori-pori yang sempit pada tanah bertekstur halus terisi air kapiler (Dwidjoseputro 1992). Kondisi ini memungkinkan akar M. teijsmannii beradaptasi membentuk banyak struktur akar napas di atas permukaan tanah untuk memperoleh udara bagi respirasi akar.
Baca lebih lanjut

226 Baca lebih lajut

Jenis Kupu-kupu Pengunjung Bunga Mussaenda dan Asoka di Kawasan Cagar Alam Gunung Sibela Pulau Bacan

Jenis Kupu-kupu Pengunjung Bunga Mussaenda dan Asoka di Kawasan Cagar Alam Gunung Sibela Pulau Bacan

Abstrak : Musaenda dan Asoka merupakan salah satu tanaman hostplant dan sekaligus foodplant bagi kupu-kupu di Gunung Sibela. Hostplant adalah tumbuhan inang yang menjadi makanan larva dan foodplant adalah tumbuhan yang menjadi makanan kupu-kupu dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang mengunjungi tanaman mussaenda dan asoka di kawasan cagar alam gunung Sibela pulau Bacan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah direct sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi dataran rendah (20 mdpl) ditemukan 10 spesies kupu-kupu pengunjung tanaman mussaenda dan asoka, 5 genus, 2 famili. Kupu-kupu pengunjung tanaman mussaenda di dataran rendah yaitu: Ornithopthera croesus , Papilio ulysses, Papilio deiphobus, Papilio lorquinianus gelia , Troides hypolitus, Troides criton, Graphium milon, Graphium codrus dan Hebomoia glaucippe sulphure. Kupu-kupu pengunjung tanaman asoka di dataran rendah yaitu: Ornithopthera croesus, Papilio ulysses , Papilio fuscus lapathus dan Troides hypolitus. Pada lokasi dataran tinggi (400 mdpl) ditemukan 9 spesies kupu-kupu pengunjung tanaman mussaenda dan asoka, 5 genus, 2 famili. Kupu-kupu pengunjung tanaman mussaenda di dataran tinggi yaitu: Ornithopthera croesus, Papilio ulysses , Papilio deiphobus, Papilio lorquinianus gelia, Troides hypolitus, Troides criton , Graphium milon, dan Hebomoia glaucippe sulphurea, sedangkan kupu-kupu pengunjung tanaman asoka di dataran tinggi yaitu: Papilio ulysses , Papilio fuscus lapathus dan Troides hypolitus.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN ROTAN (Calamus sp) DI KAWASAN CAGAR ALAM PULAU RAJA KABUPATEN GORONTALO UTARA

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN ROTAN (Calamus sp) DI KAWASAN CAGAR ALAM PULAU RAJA KABUPATEN GORONTALO UTARA

Abstract: The research aimed to find out kinds of rattan in Cagar Alam park of Pulau Raja Gorontalo Utara. the method used is survey method with data retrieval technique based cruising altitude in the area of the island king. The data were collected through direct observation. It, then were analyzed through descriptive quantitatif and used diversity index formula, similar with Shannon-Wiener. The Rattan research in Cagar Alam park of Pulau Raja Gorontalo Utara, found that there were 3 kinds of rattan, Calamus javenis, Calamus zolingeri, Calamus inops. Diversity indexs value in each station indicated: 50 st highness equaled to 1,092, 100nd highness equaled to 1,056, 150nd highness equaled to 1,089, 200nd highness equaled to 1,502. Diversity index of rattan in Cagar Alam park of Pulau Raja, Gorontalo Utara, is categorized in the level of low diversity.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pantai Tersembunyi Di Pulau Sempu

Pantai Tersembunyi Di Pulau Sempu

Yaey! sudah sampai di pesisir pulau sempu. Kita berhenti cukup jauh dari daratan yang tak berair. Kita harus turun di pesisir dan rela basah-basahan, karena kita harus nyemplung di lokasi yang airnya masih cukup tinggi. Kapal tidak berani terlalu menepi, karena memang tidak bisa lagi menepi. Soalnya sudah paling dangkal bagi si Kapal.

8 Baca lebih lajut

KEINDAHAN TERSEMBUNYI PULAU SEMPU

KEINDAHAN TERSEMBUNYI PULAU SEMPU

Bagi mereka Indonesia itu cantik, eksotik, tropik, mistik. Kebanyakan mereka paling tahu Bali ya. Terutama yang sukanya hura-hura. Tapi kalau backpacker yang serius, mereka sudah jelajah ke pulau-pulau kayak Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara. Saya pernah malu ketemu back- packer dari Australia yang udah keliling Indonesia. Dia lebih tahu tentang Indonesia daripada saya. Saya tahunya paling Bromo. Hahaha..

31 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Lumut di Kawasan Cagar Alam Dungus Iwul, Jasinga, Jawa Barat

Keanekaragaman Lumut di Kawasan Cagar Alam Dungus Iwul, Jasinga, Jawa Barat

meliputi suhu, kelembaban dan pencahayaan. Lumut umumnya berkembang pada daerah pegunungan yang memiliki kelembaban tinggi, suhu rendah dan cukup sinar matahari. Kehadiran lumut di daerah dataran rendah umurnya terbatas pada tempat-tempat lembab seperti pinggir sungai dan daerah sekitar sumber air. Oleh karena itu, perubahan terhadap lingkungan mikro dari suatu tempat akan berdampak cukup besar terhadap keberadaan lumut di lingkungan sekitarnya. Kawasan cagar alam ini sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan dan didukung belum adanya data lumutnya maka pendataan terhadap lumutnya sangat diperlukan (Windadri, 2008).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Tumbuhan Berbahaya dan Beracun Kawasan Cagar Alam Bojonglarang Jayanti, Cianjur, Jawa Barat

Tumbuhan Berbahaya dan Beracun Kawasan Cagar Alam Bojonglarang Jayanti, Cianjur, Jawa Barat

Orishadipe, A.T., J.I. Okogun, and E. Mishelia. (2010). Gas Chromatography-Mass Spectrometry Analysis of the Hexane Extract of Calliandra portoricensand Its Antimicrobial Activity. African Journal of Pure and Applied Chemistry. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun. (2013). Pedoman Plestarian Dan Pengendalian Pema faatan Kawasan Lindung Raniyanti Rieska Alfiah1, Siti Khotimah1, Masnur Turnip1. Efektivitas Ekstrak Metanol Daun

9 Baca lebih lajut

Kawasan Cagar Alam Geologi dan Tata Ruan

Kawasan Cagar Alam Geologi dan Tata Ruan

Sejak beberapa tahun terakhir Geomagz telah ikut mewarnai dunia publikasi di bidang kebumian. Tentunya ini menjadi hal yang sangat positif terkait dengan sosialisasi geologi agar menjadi lebih membumi. Geologi dan segala aspeknya sebenarnya, disadari atau tidak, sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari manusia. Bahkan sebagian besar aktivitas manusia akan selalu dipengaruhi ilmu kebumian. Seperti, misalnya, kehidupan penuh harmoni antara penduduk di kawasan kars Maros dengan alam sekitarnya, di mana masyarakat sekitar memahami pentingnya konservasi air untuk kehidupan sehari- hari. Hal-hal seperti itulah yang saya amati telah direkam, didokumentasikan dan dan disebarluaskan dengan sangat baik oleh Geomagz. Foto-foto pendukung pun diambil dan ditampilkan dengan sangat artistik dan mengesankan. Kita harapkan Geomagz dapat berkembang dengan baik, mampu meliput dan menyajikan kepada pembacanya segala aspek dan peranan ilmu kebumian pada kehidupan manusia di pelosok-pelosok negeri. Banyak publikasi yang meliput keindahan sudut-sudut negeri kita, tetapi tidak banyak yang menyorotnya dan mewarnainya dengan sentuhan cerita geologi seperti yang dilakukan Geomagz. Sukses selalu untuk Geomagz.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

TAP.COM -   LUMUT (MUSCI) DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DAN SUAKA ...

TAP.COM - LUMUT (MUSCI) DI KAWASAN CAGAR ALAM KAKENAUWE DAN SUAKA ...

Pulau Buton merupakan salah satu pulau dari deretan pulau-pulau kecil di Sulawesi. Pulau ini terletak di wilayah Propinsi Sulawesi Tenggara, mempunyai tiga kawasan koservasi yaitu Suaka Margasatwa Buton Utara yang terletak di kabupaten Muna, Suaka Margasatwa Lambusango dan Cagar Alam Kakenauwe yang terletak di kabupaten Buton. Kawasan Cagar Alam Kakenauwe berdasarkan SK Menteri Pertanian tahun 1982 dilaporkan mempunyai luas area mencapai 810 hektar dan merupakan cagar alam terluas dari tiga cagar alam lainnya di propinsi Sulawesi Tenggara. Sedangkan Kawasan Suaka Margasatwa Lambusango yang dilaporkan luasnya mencapai 28.510 hektar, merupakan salah satu kawasan suaka alam terluas nomer dua dari lima suaka margasatwa yang ada di propinsi Sulawesi Tenggara (Anonim, 1999). Sampai saat ini ketersediaan data dan informasi tentang keanekaragaman jenis flora termasuk lumut dari kedua kawasan konservasi ini masih kurang. Hal ini dapat dilihat antara lain dari sedikitnya koleksi spesimen yang tersimpan di Herbarium Bogoriense serta terbatasnya pustaka yang berkaitan dengan keanekaragaman flora di kedua kawasan konservasi ini.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Kandungan Vitamin C Makroalga serta Potensinya bagi Masyarakat di Kawasan Pantai Timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Analisis Kandungan Vitamin C Makroalga serta Potensinya bagi Masyarakat di Kawasan Pantai Timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Jenis makroalga yang ditemukan di kawasan Pantai Timur Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat sebanyak delapan spesies makroalga, yang termasuk ke dalam dua kelas yaitu Chloropyceae dan Rodhopyceae. Jenis makroalga yang termasuk ke dalam kelas Chloropyceae terlihat pada Gambar 1 (C, E dan H). Halimeda macroloba (Gambar 1) memiliki ciri-ciri thallus rimbun, blade kaku dan berkapur, holdfast seperti umbi yang memanjang. Thallus alga ini berwarna hijau dan pada saat kering memiliki warna hijau kekuningan, habitatnya berada pada substrat berpasir (Tampubolon, 2013). Valoniopsis pachynema (Gambar 1E) merupakan alga hijau berserabut yang mempunyai bentuk yang kaku yang menempel pada substrat batu karang mati atau pada substrat yang keras. Thallus nya membentuk agregasi
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...