Top PDF Pemanfaatan Limbah Hasil Perikanan: Lem Ikan Berbahan Baku Sisik Ikan yang Berbeda

Pemanfaatan Limbah Hasil Perikanan: Lem Ikan Berbahan Baku Sisik Ikan yang Berbeda

Pemanfaatan Limbah Hasil Perikanan: Lem Ikan Berbahan Baku Sisik Ikan yang Berbeda

Inovasi pengolahan sisik ikan berupa lem ikan masih sangat jarang, padahal limbah sisik sangat melimpah, terutama ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat seperti ikan Kakap Putih, Bandeng, dan Nila. Perbedaan jenis sisik dan habitat ikan memungkinkan dapat menghasilkan karakteristik dan kualitas lem ikan. Pada penelitian Nagai et al. (2004), kolagen terdapat pada sisik ikan sardin dalam bobot kering sebesar 50.9 %, red sea bream 37.5 %, dan Japanese sea bass 41.0 %. Menurut Rohmah et al. (2015), mutu lem ikan dari tiga jenis tulang ikan yang berbeda dipengaruhi oleh kadar protein jenis ikan dan juga habitat ikan tersebut berasal. Setiap jenis ikan akan menghasilkan lem ikan dengan daya rekat yang berbeda. Kolagen tersebut berpotensi lebih untuk dikembangkan menjadi produk non-pangan, salah satunya itu lem ikan (fish glue). Kolagen merupakan bagian dari protein serat atau protein fibrosa yang memiliki beberapa rantai polipeptida yang dihubungkan oleh berbagai ikatan silang membentuk triple helix. Kolagen dapat mengembang karena daya ikat pada struktur molekulnya melemah saat diberikan perlakuan pH di bawah 4 atau dinaikkan sampai pH 10. Lem ikan dapat di aplikasikan pada industri kertas dan kayu. Lem ikan merupakan bahan perekat yang berasal dari hasil ekstraksi dan hidrolisis kolagen yang banyak terdapat pada sisik, tulang dan kulit ikan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Penerapan Teknologi Recovery Enzyme Pada Pengolahan Hasil Perikanan Skala Industri Untuk Pengembangan Aneka Produk Perikanan Berbahan Baku Ikan

Penerapan Teknologi Recovery Enzyme Pada Pengolahan Hasil Perikanan Skala Industri Untuk Pengembangan Aneka Produk Perikanan Berbahan Baku Ikan

Industri perikanan masa depan dapat lebih berkembang dengan memanfaatkan semua potensi yang ada. Pemanfaatan yang dilakukan bukan hanya sekedar mengolah bagian utama dari bahan baku, tetapi juga memanfaatkan hasil samping atau limbah yang banyak dihasilkan pada saat pengolahan. Limbah hasil perairan merupakan bagian ikan yang terbuang, tercecer, atau sisa olahan yang belum dimanfaatkan secara ekonomis. Salah satu limbah dari hasil pengolahan yang kurang dimanfaatkan yaitu jeroan. Jeroan adalah bagian-bagian dalam tubuh ikan yang terdiri dari rongga perut yang telah disiangi, kandung kemih, ginjal, perut besar, usus buntu, empedu, dan usus halus. Hasil perikanan Indonesia sekitar 25 - 30% merupakan jeroan ikan yang tidak termanfaatkan atau terbuang menjadi limbah. Bagian–bagian dalam isi perut tubuh ikan telah banyak dikenal sebagai sumber potensial enzim-enzim yang berbeda.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Karakteristik Kekian Berbahan Baku Surimi Ikan Kurisi (Nemipterus Nematophorus) Dengan Penambahan Daging Ikan Yang Berbeda

Karakteristik Kekian Berbahan Baku Surimi Ikan Kurisi (Nemipterus Nematophorus) Dengan Penambahan Daging Ikan Yang Berbeda

18 masyarakat yang semakin sadar akan manfaat ikan bagi kesehatan jika dikonsumsi. Namun tidak demikian dengan optimalisasi pemanfaatan ikan dalam bentuk olahan siap santap karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan metode pengolahan yang kurang variatif. Produk olahan tentunya tidak terbatas pada bentuk yang masih berupa ikan yang disandingkan dengan nasi, tetapi juga produk olahan berbasis ikan yang nilai gizinya cukup tinggi. Salah satu penyebab rendahnya tingkat konsumsi ikan Indonesia karena alasan tingkat kepraktisan ketika mengonsumsi ikan (Widiarti, 2010). Melihat hal tersebut, peningkatan ketersediaan produk olahan berbasis ikan yang beragam menjadi kebutuhan yang diutamakan. Usaha untuk membangkitkan kembali aspek perikanan merupakan suatu keharusan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat beberapa terobosan baru seperti diversifikasi produk pengolahan hasil perikanan. Penganekaragaman atau diversifikasi pangan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan konsumsi ikan masyarakat (Agustini et al., 2003).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

 Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan patin

Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan patin

Tahap selanjutnya adalah persiapan bahan baku yang terdiri atas kegiatan pemilihan dan pemisahan (sortasi) dan kegiatan pengerasan kulit ikan (perendaman dalam larutan kapur sirih). Kulit dipilih yang masih segar dan bersih. Pengerasan kulit ikan dilakukan dengan tujuan agar kerupuk kulit ikan yang dihasilkan nantinya memiliki tekstur yang kaku (kering renyah) setelah digoreng dan tidak mudah menjadi lembek. Pengerasan dilakukan dengan merendam kulit ikan dalam larutan kapur sirih jernih selama 1-2 jam. Selanjutnya kulit ikan yang sudah menjadi kaku dicuci dan dibilas beberapa kali, hingga bau kapur yang menempel pada kulit tersebut benar-benar hilang. Kemudian kulit ikan tersebut ditiriskan. Setelah ditiriskan, kulit ikan tersebut diatur di atas widik atau lengser aluminium dan kemudian dijemur hingga kering. Pada saat penjemuran, setelah setengah kering, dilakukan pembalikan kulit ikan sehingga pengeringan dapat terjadi secara merata. Apabila tidak langsung diproses lanjut, sebaiknya kulit ikan yang sudah kering tersebut disimpan dalam keadaan dikemas dalam kantong plastik dan ditutup rapat.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH IKAN MENJADI PUPUK ORGANIK.

PEMANFAATAN LIMBAH IKAN MENJADI PUPUK ORGANIK.

Limbah ikan setiap harinya semakin bertambah karena tidak adanya pengolahan dari limbah ikan tersebut. Adanya limbah ikan berupa jenis – jenis ikan yang rusak fisiknya, tidak bernilai ekonomis, sisa – sisa olahan ikan, dan ikan dengan tingkat kesegaran yang sudah tidak layak digunakan sebagai bahan pangan bagi manusia. Limbah ikan tersebut menimbulkan masalah karena penanganan selama yang selama ini di biarkan membusuk, di tumpuk yang semuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga dilakukan penanggulangan dari limbah tersebut.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM PADA PROSES PERENDAMAN TULANG IKAN GABUS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN LEM

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM PADA PROSES PERENDAMAN TULANG IKAN GABUS SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN LEM

yang terbuat dari ekstraksi kulit maupun tulang ikan yang mengandung kolagen, yang dapat dihidrolisis dalam air panas dan asam encer untuk membentuk lem ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi pelarut pada saat perendaman terhadap kualitas lem dari tulang ikan gabus. Metode yang digunakan dalam pembuatan lem tulang ikan gabus dalam penelitian ini adalah tahap persiapan bahan, tahap perendaman larutan asam dan larutan kapur, ekstraksi, dan pemekatan. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan dua variabel bebas yaitu jenis pelarut (CH 3 COOH dan H 3 PO 4 ) dan
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

 Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan lemuru

Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan lemuru

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan ikan pelagis kecil yang berlemak. Tanda-tanda umum yang bisa dilihat pada lemuru tersebut adalah memiliki tubuh memanjang dengan warna kuning keemasan pada garis badannya. Badannya langsing dengan warna biru kehijau-hijauan pada bagian punggung dan keperak- perakan pada bagian bawahnya. Memiliki panjang kepala yang lebih pendek (26- 29%) dari panjang baku. Makanan utamanya adalah plakton. Untuk itu, ikan ini dilengkapi dengan tapis insang (gill raker) untuk menapis atau menyaring plankton makanannya, yang berjumlah (51-153)+(77-188). Memiliki jari-jari lunak sirip punggung D 13-21 dan jari-jari lunak sirip anal A 12-23. Sardinella lemuru ini mempunyai jari-jari sirip perut yang berbeda dengan species Clupeidae lainnya dari Samudra Hindia bagian Timur dan Samudra Pasifik bagian barat. Sirip ekor bercagak, sirip-siripnya tembus cahaya dan moncongnya agak kehitaman (Dwiponggo, 1982).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

 Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan tenggiri

Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan tenggiri

Kemasan dari bahan plastik bersifat fleksibel karena mempunyai ketahanan terhadap sifat asam, basa, lemak, minyak atau pelarut organik dan memiliki daya tembus yang cukup baik terhadap nitrogen, oksigen, belerang, dioksida serta uap air. Penembusan gas dan uap air sangat dekat hubungannya dengan sifat cepat busuk bahan pangan dari produk perikanan yang dipengaruhi oleh keberadaan mikroorganisme. Kadar air yang diperbolehkan adalah ketika produk-produk yang dikemas berada pada kondisi masih layak jual sesudah suatu waktu peralihan. Hal ini ditentukan pada saat cuaca baik. Pengemasan yang baik dapat mencegah penularan bahan pangan oleh organisme-organisme yang berbahaya bagi kesehatan. Bahan pangemas juga harus memenuhi standar yang telah ditentukan bagi kesehatan dan keamanan konsumen bahan pangan. Sebagai contoh pengemasan olahan ikan tengiri bisa dilakukan dengan dua cara yaitu pengemasan biasa dan pengemasan vaccum. Pada pengemasan biasa produk diletakana diatas kertas roti dan karton, kemudian
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH IKAN MENJADI PUPUK ORGANIK.

PEMANFAATAN LIMBAH IKAN MENJADI PUPUK ORGANIK.

Kekayaan ikan dikawasan Indonesia yang berlimpah serta usaha untuk meningkatkan hasil tangkapnya yang terus menerus dilaksanakan, ternyata pada setiap musim terdapat antara 25- 30% hasil tangkapan ikan laut yang akhirnya harus menjadi ikan sisa atau ikan buangan yang disebabkan karena berbagai hal, antara lain :

6 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Ikan Tongkol Dihidrol (3)

Pemanfaatan Limbah Ikan Tongkol Dihidrol (3)

menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah ikan tongkol dihidrolisis enzim bromelin dan pollard fermentasi dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P>0,05), sehingga tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Menurut Mahfudz, dkk., (2010) bahwa besar kecilnya konsumsi pakan erat kaitannya dengan konsumsi energi. Puyuh akan mengkonsumsi pakan sampai kebutuhan energinya terpenuhi. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Suprijatna, dkk., (2005) disitasi oleh Suprapto, dkk., (2012) bahwa pada hakekatnya ternak unggas mengkonsumsi pakan guna memenuhi kebutuhan energi. Apabila kebutuhan energi terpenuhi, unggas akan menghentikan konsumsi pakannya. Sebaliknya, konsumsi pakan meningkat bila kebutuhan energi belum terpenuhi. Ditambahkan hasil penelitian Suprijatna, dkk., (2009) bahwa konsumsi energi yang tidak berbeda maka diperoleh konsumsi pakan yang tidak berbeda pula. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan konsumsi energi berkisar antara 60,76-62,14 kkal/ekor/hari. Menurut Widjastuti dan Kartasudjana (2006) konsumsi energi sebesar 50,55 kkal/ekor/hari telah cukup untuk memenuhi hidup pokok, pertumbuhan dan produksi telur.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Pengaruh Lama Perendaman Terhadap Absorpsi Tetrasiklin Pada Adsorben Limbah Sisik Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy)

Pengaruh Lama Perendaman Terhadap Absorpsi Tetrasiklin Pada Adsorben Limbah Sisik Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy)

Dari hasil studi kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001, periodontitis merupakan penyakit infeksi rongga mulut dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Penanganan periodontitis harus dilakukan dengan tepat dan sesuai indikasi untuk mengatasinya. Salah satu prosedur dalam perawatan periodontitis yang dikenal adalah kuretase, yaitu proses pembuangan jaringan granulasi dan epitel penghubungnya pada daerah kantung/poket periodontal yang terinfeksi. Jaringan granulasi tersebut mengandung koloni bakteri yang menghambat penyembuhan walaupun sudah dilakukan scaling dan root planning, sehingga diperlukan tambahan terapi antimikroba untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan efektivitas perawatan periodontitis. 8.9 Salah satu antimikroba yang sering digunakan dalam perawatan periodontitis adalah tetrasiklin. Tetrasiklin mampu berkonsentrasi dalam jaringan periodontal dan menghambat pertumbuhan bakteri Actinobacillus
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH TULANG IKAN UNTUK PEM

PEMANFAATAN LIMBAH TULANG IKAN UNTUK PEM

PEMANFAATAN LIMBAH TULANG IKAN UNTUK PEMBUATAN BISKUIT ANAK-ANAK CALSICUIT Disusun oleh : Chiara Nadya Tanudjaja F34140115 Joanna Alexandra F34140106... LATAR BELAKANG • Sebagian be[r]

3 Baca lebih lajut

 Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan nila

Modul Pengolahan Hasil Perikanan () ikan nila

Gutting dilakukan segera setelah ikan ditangakap, dengan tujuan untuk membuang bakteri yang terdapat dalam alat pencernaan agar dapat meminimumkan terjadinya risiko kontaminasi daging ikan oleh bakteri pencernaan. Ikan tanpa jeroan ini untuk wilayah subtropis/dingin (UK) yang disimpan dengan es dapat diterima konsumennya. Namun untuk daerah tropis yang lebih rentan dengan kontaminan bakteri yang berasal dari jeron. Bakteri ini akan sangat mudah berkembang biak karena suhu udara dan kelembaban yang tinggi sesuai untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Masyarakatnya tidak terbiasa membeli ikan yang tidak utuh.. Pola pikir ini perlu diluruskan demi mendapatkan mutu ikan yang baik.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Proses Produksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin (Pangasius pangasius) di Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP) Jakarta Timur

Proses Produksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin (Pangasius pangasius) di Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP) Jakarta Timur

pisau, baskom, panci kukus, timbangan, alat pressing, labu pemisah, erlenmeyer, corong, kemasan minyak ikan. Semua peralatan yang akan digunakan dicuci terlebih dahulu. Pencucian cukup menggunakan air bersih mengalir tanpa penambahan cairan pembersih. Menurut Marriott and Gravani (2006), air merupakan pembersih yang paling sering digunakan untuk membersihkan media debu, tanah, dan puing-puing kecil.

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Ampas Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Pakan Untuk Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Lele

Pemanfaatan Limbah Ampas Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Pakan Untuk Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Lele

Pakan merupakan unsur penting dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan organisme. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umurnya. Persentase jumlah pakan yang dibutuhkan semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan. Rata – rata jumlah pakan harian yang dibutuhkan oleh seekor ikan adalah sekitar 3% - 5% dari berat total badannya (biomassa). Larva membutuhkan pakan yang kandungan proteinnya lebih tinggi dibandingkan ikan dewasa berukuran besar. Pakan yang di makan ikan, pertama-tama diguanakan untuk memelihara dan mengganti organ yang rusak, setelah itu barulah kelebihan pakan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH PEREBUSAN IKAN TERI (Stolephorus spp.) SEBAGAI PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

PEMANFAATAN LIMBAH PEREBUSAN IKAN TERI (Stolephorus spp.) SEBAGAI PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Ikan nila (Oreochromis niloticus) banyak dibudidayakan di Indonesia dan memiliki nilai ekonomis penting. Salah satu faktor penting dalam budidaya ikan nila adalah pakan yang merupakan bagian terbesar dari biaya operasional. Tingginya harga pakan komersial karena mahalnya tepung ikan menjadi kendala bagi para pembudidaya. Untuk mengatasinya dicari alternatif bahan baku lokal, salah satunya adalah tepung limbah perebusan ikan teri yang potensinya besar di Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pakan dengan bahan baku lmbah perebusan ikan teri, serta untuk mengamati aplikasinya sebagai pakan ika nila. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan A (tepung ikan 80% dan tepung limbah ikan teri 20%), B (tepung ikan 60% dan tepung limbah ikan teri 40%), C (tepung ikan 40% dan tepung limbah 60%), D (tepung ikan 20% dan tepung limbah ikan teri 80%). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan, retensi protein, feed convertion ratio (FCR), dan survival rate (SR). Perlakuan C merupakan perlakuan terbaik dengan pertumbuhan dan retensi protein tinggi, sedangkan nilai FCR rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah perebusan ikan teri mampu menggantikan tepung ikan sebagai bahan baku pakan ikan nila.
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

Pengaruh Penambahan Koji Dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas (Ph, Tvbn, Kadar Garam Dan Rendemen) Kecap Ikan Berbahan Baku Ikan Rucah

Pengaruh Penambahan Koji Dan Lama Fermentasi Terhadap Kualitas (Ph, Tvbn, Kadar Garam Dan Rendemen) Kecap Ikan Berbahan Baku Ikan Rucah

Kecap ikan merupakan bahan makanan hasil proses fermentasi yang umumnya dibuat dari ikan rucah dengan kadar garam tinggi. Kendala pada pembuatan kecap ikan umumnya membutuhkan waktu yang lama dan rasa produknya sangat asin. Proses fermentasi pembuatan kecap ikan dapat dipersingkat dengan penambahan koji. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penambahan koji (20%, 25%, dan 30%) dan lama fermentasi (10, 20 dan 30 hari) terhadap kualitas (pH, TVBN, kadar garam, dan rendemen) dan sensori kecap ikan. Ikan rucah yang digunakan terdiri dari ikan petek, teri, layur dan salem. Bahan baku diperoleh dari tempat pelelangan ikan didaerah semarang, sedangkan bahan lainnya diperoleh dari pasar lokal didaerah semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial 3x3. Penambahan konsentrasi koji 20%, 25% dan 30% memiliki pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap penurunan pH, penurunan nilai kadar garam, dan kenaikan rendemen, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kenaikan TVBN. Lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap penurunan nilai pH, nilai kadar garam (NaCl), kenaikan TVBN, dan kenaikan nilai rendemen. Interaksi antara penambahan konsentrasi koji dan lama waktu fermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap penurunan nilai kadar garam, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap penurunan nilai pH, kenaikan nilai TVBN dan kenaikan nilai rendemen. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar TVBN dan pH produk masih memenuhi standar kecap ikan. Kecap ikan dengan penambahan koji 25% pada hari ke-30 lebih disukai oleh panelis.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Toksisitas Limbah Cair Industri Batik Terhadap Morfologi Sisik Ikan Nila Gift (Oreochomis Nilotocus)

Toksisitas Limbah Cair Industri Batik Terhadap Morfologi Sisik Ikan Nila Gift (Oreochomis Nilotocus)

Sampel limbah cair industri batik yang dianalisis menunjukkanterdapat kandungan kromium (Cr) yang melebihi kadar maksimum yaitu sebesar 7,0 mg/L. Jika nilai tersebut dikonversikan, maka kadar kromium yang terdapat pada konsentrasi limbah 0,73% sebagai hasil LC-50 96 jam adalah sebesar 10,429 %. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kuykendall, et al. (2005) dimana nilai LC-50 96 jam kromium terhadap invertebrata akuatik berada pada rentang 0,66± 64%.Kandungan Cr berasal dari zat warna yang digunakan pada proses pewarnaan. Kandungan kromium yang tinggi pada limbah cair batik dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada ikan. Senyawa kimia ini dapat masuk dengan 3 cara yakni melalui insang, mulut, dan kulit (Hadiyati, 2004). Sedangkan hasil pengukuran pH sebesar 6,9 menunjukkan pH limbah cair batik masih berada pada kisaran normal.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Kandungan Kimia Dari Sisik Beberapa Jenis Ikan Laut

Kandungan Kimia Dari Sisik Beberapa Jenis Ikan Laut

Kadar abu merupakan parameter yang menggambarkan kandungan mineral dalam suatu bahan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar abu pada sisik ikan salem memiliki kadar paling tinggi yaitu sebesar 44,88%, selanjutnya disusul berturut-turut oleh sisik ikan sahamia sebesar 43,80%, sisik ikan kakap merah sebesar 43,54%, sisik ikan kakatua 36,28%, dan yang terendah adalah sisik ikan napoleon dengan kadar abu sebesar 29,88%. Hasil ini menggambarkan bahwa kadar abu dari sampel tergolong cukup tinggi. Umumnya kadar abu dari sisik ikan laut tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar, maka dari itu untuk memperoleh kolagen dari sisik ikan air laut diperlukan proses demineralisasi yang lebih intens supaya diperoleh kadar abu hasil yang sesuai standar. Komponen mineral juga merupakan indikator kerasnya bahan, semakin tinggi mineral yang dikandungnya semakin keras tekstur dari bahan tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects