Top PDF Pemanfaatan Pati Sagu dan Tepung Biji Saga dalam Pembuatan Mi Instan

Pemanfaatan Pati Sagu dan Tepung Biji Saga dalam Pembuatan Mi Instan

Pemanfaatan Pati Sagu dan Tepung Biji Saga dalam Pembuatan Mi Instan

Sagu (Metroxylon spp.) sebagian besar tumbuh secara alami memiliki multifungsi bagi kehidupan manusia. Sagu merupakan salah satu tanaman penghasil karbohidrat yang potensial di Indonesia khususnya Riau yang dapat digunakan untuk penganekaragaman pangan. Menurut Bintoro (2008) sagu merupakan alternatif pada saat krisis pangan dan dapat digunakan bagi pengelolaan dan pengendalian pangan. Selanjutnya sagu sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman asli Indonesia. Sagu dapat digunakan sebagai bahan substitusi pangan sekaligus sebagai bahan baku untuk industri dibidang pangan seperti roti, mi, industri kerupuk, kue kering dan sirup berfruktosa tinggi. Keterbatasan mi yang terbuat dari pati sagu adalah rendahnya kandungan protein dan kalorinya rendah. Oleh karena itu perlu adanya penambahan protein dari bahan pangan lain untuk memenuhi standar
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Pati Biji Durian (Durio Zibethinus Murr.) Dan Pati Sagu (Metroxylon SP.) Dalam Pembuatan Bioplastik

Pemanfaatan Pati Biji Durian (Durio Zibethinus Murr.) Dan Pati Sagu (Metroxylon SP.) Dalam Pembuatan Bioplastik

Bioplastik adalah plastik yang dapat didegradasi oleh mikroba yang ada di dalam tanah karena adanya kandungan pati di dalamnya. Bioplastik diharapkan merupakan salah satu solusi dari masalah lingkungan yang disebabkan oleh penumpukan sampah kantong plastik belanja yang menjadi beban lingkungan. Secara komersial sudah ada bioplastik yang diproduksi dengan variasi jumlah penambahan pati singkong atau pati jagung, namun kendalanya adalah harga produk masih mahal jika dibandingkan dengan harga kantong plastik konvensional pada umumnya, karena tepung dan pati tersebut masih dibutuhkan di sektor pangan dan energi. Pada penelitian ini bioplastik dibuat dengan menggunakan pati yang diekstraksi dari biji durian yang selama ini merupakan limbah, untuk dicampur dengan biji plastik LDPE pada variasi konsentrasi pati 0% sampai 50%. Sebagai pembanding dipakai pati dari empulur sagu, sehingga karakteristik fisik seperti warna dan sifat mekanik dari bioplastik seperti kekuatan tarik, perpanjangan putus, dan kekerasan dapat dibandingkan. Uji penurunan berat bioplastik dilakukan dengan pemendaman di dalam tanah selama 8 minggu. Hasil uji Anova menunjukkan perlakuan jenis pati dan konsentrasi pati yang ditambahkan tidak beda nyata (p>0,05) terhadap kehilangan berat plastik. Analisis SEM dilakukan untuk membandingkan rongga diantara molekul pati dengan polimer plastik pada perbesaran 2500x yang menyebabkan kekuatan mekanik plastik menjadi berkurang dan rapuh ketika ditarik. Pati biji durian 10% terbukti optimal dapat digunakan sebagai substitusi polimer tanpa penambahan aditif dalam pembuatan bioplastik, dengan karakteristik mekanik yang dapat dibandingkan dengan pati sagu dan pati singkong, namun memiliki laju degradasi yang lebih rendah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KAJIAN MUTU MI INSTAN YANG TERBUAT DARI TEPUNG JAGUNG LOKAL RIAU DAN PATI SAGU. Riau. Riau

KAJIAN MUTU MI INSTAN YANG TERBUAT DARI TEPUNG JAGUNG LOKAL RIAU DAN PATI SAGU. Riau. Riau

Jagung merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia setelah beras, dibeberapa wilayah Indonesia ada juga yang menggunakan jagung sebagai bahan makanan pokok (Budiman, 2013). Tepung jagung merupakan salah satu bahan pangan yang berpotensi untuk dikembangkan, salah satunya digunakan pada pembuatan mi jagung. Jagung lokal Riau yang dibudidayakan di daerah Pelalawan memilliki kandungan pati 71,99%, lemak 6,86% dan protein 9,54% (Agustina, 2011). Dalam bentuk pati kandungan yang terdapat pada jagung umumnya berupa amilosa 25-30%, amilopektin 70-75% (Suarni dan Widowati, 2008). Sagu merupakan salah satu bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dijadikan bahan pangan alternatif tinggi kalori selain gandum dan beras. Peranan sagu dalam penelitian ini yaitu sebagai perekat dalam pembuatan mi instan. Pati sagu mengandung amilosa 27% dan amilopektin 73% (Raharjo, 2006).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Pati Biji Durian (Durio zibethinus Murr.) dan Pati Sagu (Metroxylon sp.) Dalam Pembuatan Bioplastik

Pemanfaatan Pati Biji Durian (Durio zibethinus Murr.) dan Pati Sagu (Metroxylon sp.) Dalam Pembuatan Bioplastik

Bioplastik adalah plastik yang dapat didegradasi oleh mikroba yang ada di dalam tanah karena adanya kandungan pati di dalamnya. Bioplastik diharapkan merupakan salah satu solusi dari masalah lingkungan yang disebabkan oleh penumpukan sampah kantong plastik belanja yang menjadi beban lingkungan. Secara komersial sudah ada bioplastik yang diproduksi dengan variasi jumlah penambahan pati singkong atau pati jagung, namun kendalanya adalah harga produk masih mahal jika dibandingkan dengan harga kantong plastik konvensional pada umumnya, karena tepung dan pati tersebut masih dibutuhkan di sektor pangan dan energi. Pada penelitian ini bioplastik dibuat dengan menggunakan pati yang diekstraksi dari biji durian yang selama ini merupakan limbah, untuk dicampur dengan biji plastik LDPE pada variasi konsentrasi pati 0% sampai 50%. Sebagai pembanding dipakai pati dari empulur sagu, sehingga karakteristik fisik seperti warna dan sifat mekanik dari bioplastik seperti kekuatan tarik, perpanjangan putus, dan kekerasan dapat dibandingkan. Uji penurunan berat bioplastik dilakukan dengan pemendaman di dalam tanah selama 8 minggu. Hasil uji Anova menunjukkan perlakuan jenis pati dan konsentrasi pati yang ditambahkan tidak beda nyata (p>0,05) terhadap kehilangan berat plastik. Analisis SEM dilakukan untuk membandingkan rongga diantara molekul pati dengan polimer plastik pada perbesaran 2500x yang menyebabkan kekuatan mekanik plastik menjadi berkurang dan rapuh ketika ditarik. Pati biji durian 10% terbukti optimal dapat digunakan sebagai substitusi polimer tanpa penambahan aditif dalam pembuatan bioplastik, dengan karakteristik mekanik yang dapat dibandingkan dengan pati sagu dan pati singkong, namun memiliki laju degradasi yang lebih rendah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Pati Sagu (Metroxylon sagu) dan Koro Pedang (Canavalia ensiformis) Dalam Produk Sup Krim Instan.

Pemanfaatan Pati Sagu (Metroxylon sagu) dan Koro Pedang (Canavalia ensiformis) Dalam Produk Sup Krim Instan.

Sagu dan koro pedang merupakan komoditas lokal yang potensial untuk dikembangkan menjadi produk pangan. Salah satunya adalah menjadi sup krim instan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan pati sagu dan koro pedang dalam pembuatan produk sup krim instan, mendapatkan formula terpilih, menguji daya cerna pati dan protein secara in vitro, dan melakukan karakterisasi kimia, fisik, dan organoleptik. Bahan-bahan penyusun sup krim instan adalah air kaldu ayam, susu full cream, pati sagu fakale, pati sagu pregelatinisasi (sagu lempeng ambon), tepung tempe koro pedang, garam, butter, gula, dan lada bubuk. Tahapan penelitian ini terdiri dari tahap penelitian pendahuluan (analisis profil gelatinisasi pati) dan penelitian utama (formulasi sup krim instan, analisis organoleptik, proksimat, daya cerna pati in vitro, daya cerna protein in vitro, dan fisik). Hasil analisis kimia menunjukkan sup krim instan pati sagu fakale memiliki kadar air 3.08±0.01%(bb), abu 4.15±0.01%(bb), protein 15.06±0.10%(bb), lemak 14.11±0.01%(bb), karbohidrat 63.60±0.12%(bb), daya cerna protein 16.47%, dan daya cerna pati 76.48%. Sup krim instan pati sagu pregelatinisasi memiliki kadar air 2.38±0.02%(bb), abu 4.76±0.03%(bb), protein 10.62±0.16%(bb), lemak 9.67±0.02%(bb), karbohidrat 72.57±0.17%(bb), daya cerna protein 12.23%, dan daya cerna pati 79.39%. Kedua produk sup krim instan pati sagu ini telah memenuhi SNI sup krim instan dalam hal kadar air, lemak, dan protein. Hasil pengukuran rendemen, daya rehidrasi, dan viskositas untuk sup krim instan pati sagu fakale berturut-turut adalah 20.69%, 0.87 mL/g, dan 782 cP. Sedangkan untuk sup krim instan pati sagu pregelatinisasi adalah 19.05%, 1.63 mL/g, dan 917 cP. Analisis warna untuk kedua produk menghasilkan nilai hue pada kisaran merah-kuning. Uji organoleptik rating hedonik pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan kedua produk tidak berbeda nyata dan memiliki skor penilaian pada kisaran agak suka hingga suka.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

pembuatan beras instan. Adapun perbandingan yang ditambahkan berupa tepung jagung: tepung ubi jalar: pati sagu adalah (80%: 10%: 10%); (70%: 20%: 10%); (60%: 30%: 10%); (50%: 40%: 10%); (40%: 50%: 10%); (30%: 60%: 10%); (20%: 70%: 10%); (10%: 80%: 10%). Data yang diperoleh dirata-rata dan dibuat histogram serta diuji anova yang kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan.

12 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras untuk kebutuhan makan sehari-hari sehingga image mereka mengatakan belum makan jika belum makan nasi. Dari tahun ke tahun kebutuhan akan beras meningkat, sedangkan produksi nasional beras menurun sehingga akan mengancam ketahanan pangan nasional. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan cara diversifikasi pangan produk lokal yang pemanfaatannya belum maksimal. Dengan meningkatnya aktivitas masyarakat maka menyebabkan permintaan makanan cepat saji/instan semakin meningkat sehingga perlu modifikasi beras dalam bentuk instan dari bahan lokal tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh formulasi tepung jagung, tepung ubi jalar, dan pati sagu terhadap karakteristik beras instan dan untuk mengetahui formulasi tepung jagung, tepung ubi jalar, dan pati sagu yang akan menghasilkan beras instan dengan karakteristik yang optimum.

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan karbohidrat utama yang dikonsumsi manusia di seluruh dunia. Komposisi amilosa dan amilopektin berbeda dalam pati berbagai bahan makanan. Amilopektin pada umumnya terdapat dalam jumlah lebih besar. Sebagian besar pati mengandung antara 15% dan 35% amilosa. Rantai-rantai amilosa dan amilopektin tersusun dalam bentuk semi kristal yang menyebabkan tidak larut dalam air dan memperlambat proses pencernaannya oleh amilase pankreas. Bila dipanaskan dengan air, struktur kristal rusak dan rantai polisakarida akan mengambil posisi acak. Hal ini yang menyebabkannya mengembang dan memadat (gelatinisasi). Cabang-cabang yang terletak pada bagian amilopektin yang terutama sebagai penyebab terbentuknya gel yang cukup stabil. Proses pemasakan pati dapat menyebabkan terbentuknya gel, melunakkan, dan memecah sel, sehingga mempermudah proses pencernaan. Dalam proses pencernaan semua bentuk pati dihidrolisa menjadi glukosa (Almatsier, 2004).
Baca lebih lanjut

143 Baca lebih lajut

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

KARAKTERISASI BERAS INSTAN DARI JAGUNG, UBI JALAR dan PATI SAGU

Jagung kuning mempunyai kandungan protein dan beta karoten yang cukup tinggi dibanding beras sehingga diharapkan akan memberikan nilai gizi lebih pada beras instan yang dihasilkan. Sedangkan ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang cukup besar, selain itu dengan adanya ubi jalar ini diharapkan akan dihasilkan beras instant yang mempunyai tekstur yang lunak (tidak pera). Pati sagu pada pembuatan beras instan dari bahan lokal tersebut digunakan sebagai binder dan pelapis sehingga memberikan penampakan mengkilat pada beras instan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Karakteristik Fisikokimia Dan Daya Cerna Pati Mi Kering Sagu Dengan Substitusi Tepung Kacang Hijau

Karakteristik Fisikokimia Dan Daya Cerna Pati Mi Kering Sagu Dengan Substitusi Tepung Kacang Hijau

Pati sagu mengandung amilosa 21.38%, sedangkan kacang hijau mengandung amilosa sebesar 40% (Tan et al. 2006). Dalam pembuatan mi berbahan baku pati, kandungan amilosa pati sangat mempengaruhi mi yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan, pati menggantikan peran gluten dalam menentukan tekstur mi melalui proses retrogradasi. Menurut Tan et al. (2009) retrogradasi terjadi pada saat pendinginan dimana molekul pati berikatan kembali membentuk kristal yang komplek. Menurut Mir et al. (2013) beras dengan kadar amilosa tinggi memberikan tekstur kering dan halus sedangkan beras amilosa rendah memberikan tekstur lembab, kenyal dan lengket setelah memasak. Mi berbahan dasar pati diketahui memiliki cooking loss yang rendah namun kekerasan yang tinggi (Hormdok & Noomhorn 2007). Karena memiliki kekerasan yang tinggi menyebabkan mi tersebut kurang disukai oleh konsumen. Selain itu, amilosa akan mempengaruhi daya cerna pati suatu produk. Menurut Li et al. (2011) beras dengan kandungan amilosa rendah memiliki suhu gelatinisasi lebih rendah, nilai enthalpi yang lebih rendah, dan kristalinitas yang rendah dibandingkan dengan beras yang tinggi kandungan amilosa, hal ini menunjukkan bahwa beras rendah amilosa memiliki granula pati yang lemah dan akibatnya lebih rentan terhadap pencernaan oleh α -amilase. Sehingga produk yang kandungan amilosanya rendah diperkirakan memiliki daya cerna pati yang tinggi.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Pati Termodifikasi Fisik dari Pisang dan Kentang, Tepung Jagung serta Karaginan Untuk Pembuatan Bihun Instan Berdaya Cerna Rendah

Pemanfaatan Pati Termodifikasi Fisik dari Pisang dan Kentang, Tepung Jagung serta Karaginan Untuk Pembuatan Bihun Instan Berdaya Cerna Rendah

Fitriana, A. R., Harijo, dan E. Saparanti. 2014. Pengaruh penambahan karaginan terhadap karakteristik pasta tepung garut dan kecambah kacang tunggak sebagai bahan baku bihun. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2 (4) : 41-49. Foster-Powell, .KF., S.H.A. Holt, and J.C.B. Miller. 2002. International Table of

8 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Pati Termodifikasi Fisik dari Pisang dan Kentang, Tepung Jagung serta Karaginan Untuk Pembuatan Bihun Instan Berdaya Cerna Rendah

Pemanfaatan Pati Termodifikasi Fisik dari Pisang dan Kentang, Tepung Jagung serta Karaginan Untuk Pembuatan Bihun Instan Berdaya Cerna Rendah

Lampiran 1. Daftar sidik ragam kadar air, uji DMRT efek utama pengaruh perbandingan pati pisang HMT, pati kentang HMT dan pati kentang alami terhadap kadar air bihun instan, uji DMRT efek utama pengaruh konsentrasi karaginan terhadap kadar air bihun instan

24 Baca lebih lajut

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Menurut Onwueme (1994), talas mengandung karbohidrat berkisar antara 13–29% dengan komponen utama adalah pati yang mencapai 77,9%. Namun umbi talas mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menyebabkan rasa gatal di mulut. Hal ini menyebabkan konsumsi makanan tinggi asam oksalat dalam jangka panjang dapat menyebabkan kekurangan gizi karena akan menghambat penyerapan kalsium pada tubuh. Banyak perlakuan yang dilakukan untuk mereduksi kadar kalsium oksalat pada umbi talas, agar tidak menimbulkan gatal-gatal pada saat dikonsumsi. Kristal kalsium oksalat dapat dikurangi bahkan dapat dihilangkan dengan perendaman dalam larutan garam, pengukusan, perebusan, penggorengan, pemanggangan, dan kombinasi perlakuan tersebut. Jumlah kadar oksalat yang diizinkan sehingga layak untuk dikonsumsi adalah sebesar 71 mg/100 g (Sefa-Dedeh and Agyir-Sackey, 2004).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Pengaruh Rasio Tepung Talas, Pati Talas, dan Tepung Terigu dengan Penambahan CMC terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Mi Instan

Data pengamatan kehilangan padatan akibat pemasakan % dan daftar sidik ragam kehilangan padata akibat pemasakan % mi instan Data pengamatan kehilangan padatan akibat pemasakan % mi in[r]

21 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinaceae L.) DALAM PEMBUATAN BUBUR INSTAN DENGAN PENCAMPURAN TEPUNG TEMPE.

PEMANFAATAN TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinaceae L.) DALAM PEMBUATAN BUBUR INSTAN DENGAN PENCAMPURAN TEPUNG TEMPE.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 Perlakuan dan 3 Ulangan. Data pengamatan analisa uji F pada taraf nyata 5 % dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey HSD pada taraf nyata 5 %. Perlakuan pada penelitian ini adalah formulasi yang terdiri dari tepung umbi garut (TG) + tepung tempe (TT) sebagai berikut : A= 70 gram + 30 gram, B= 65 gram + 35 gram, C= 60 gram + 40 gram, D= 55 gram + 45 gram, E= 50 gram + 50 gram. Pengamatan dilakukan terhadap bahan baku bubur instan (tepung umbi garut dan tepung tempe) dan formula (tepung bubur instan) yang dihasilkan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar serat kasar, kadar karbohidrat, energi total dan kadar amilosa. Kemudian dilakukan pengujian terhadap karakteristik organoleptik, selanjutnya dilakukan pengamatan secara fisik dengan mengamati daya serap air, lamanya proses pengentalan bubur dan viskositas bubur instan yang dihasilkan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN TEPUNG UBI KAYU DAN TEPUNG BIJI KECIPIR SEBAGAI SUBSTITUSI TERIGU DALAM PEMBUATAN COOKIES

PEMANFAATAN TEPUNG UBI KAYU DAN TEPUNG BIJI KECIPIR SEBAGAI SUBSTITUSI TERIGU DALAM PEMBUATAN COOKIES

Di Indonesia banyak terdapat jenis kacang-kacangan antara lain kedelai, koro, dan kacang hijau. Kacang-kacangan merupakan sumber utama protein nabati. Salah satu jenis kacang-kacangan yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi adalah biji kecipir. Menurut Rismunandar (1986), kandungan protein pada biji kecipir rata-rata 33,6%. Tanaman kecipir ( Psophocarous tertragonolobus ) merupakan tanaman tropis yang mudah dibudidayakan, namun di Indonesia. Tanaman ini telah dilupakan oleh banyak orang dan tidak dimanfaatkan secara maksimal (Anomim c , 2008). Tanaman ini belum diusahakan dengan sungguh-sungguh. Masyarakat umumnya menanam kecipir hanya sebagai tanaman pagar, karena itu kehidupan tanaman kecipir amat tergantung dari kemurahan alam saja. Di Indonesia, kecipir mempunyai banyak nama, sesuai dengan daerah tumbuhnya seperti yang dilaporkan oleh Sastrapradja dan Lubis (1975) dan Claydon (1978). Di Sumatra adalah burung atau kacang embing, di Sunda, Jawa Barat disebut jaat, di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut kecipir, di Bali disebut kelongkang, di Menado disebut binaro, di Ambon disebut botor atau bobto, di Banda disebut kubelet, dan di Irian Barat disebut papare atau sarisre atau kacang belimbing. Hasil panen biji tua kecipir per hektar dengan kedelai dan kacang tanah adalah sebagai berikut : kecipir hasil biji per hektar adalah 2380 kg, kedelai hasil biji per hektar 900 kg dan kacang tanah hasil biji per hektar 1000 kg (Haryoto, 1996).
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Evaluasi Pemanfaatan Daun Saga, Daun Kemuning dan Biji Saga Terhadap Performa Kambing PE

Evaluasi Pemanfaatan Daun Saga, Daun Kemuning dan Biji Saga Terhadap Performa Kambing PE

13 berukuran kecil dan struktur lemah sehingga ketika digiling bahan menjadi halus. Biji saga (P3) dilapisi cangkang yang keras sehingga bila digiling pada penggilingan yang sama menyebabkan ukurannya tidak halus. Menurut Baker dan Herrman (2002), informasi dalam pengukuran nilai media partikel size ini dapat digunakan oleh ahli gizi hewan dalam menentukan tingkat kecernaan. Clauss et al. (2008) menyatakan bahwa ukuran partikel mempengaruhi retensi partikel didalam rumen. Semakin halus ukuran partikel pakan maka akan mudah dicerna. Ukuran rata-rata partikel yang sesuai dengan kondisi rumen sapi dan domba berkisar 200 - 1200 μm (Martz dan Belyea 1996) sedangkan k acang-kacangan dan rumput memiliki parameter kinetik rumen yang berbeda (Linton dan Allen 2008; Bayat et al 2010.; Krizsan et al 2010).
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

PEMBUATAN TEPUNG PUDING INSTAN KARAGINAN

PEMBUATAN TEPUNG PUDING INSTAN KARAGINAN

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan bagian telur ayam (utuh, putih, dan kuning) terhadap mutu puding instan karaginan dan menentukan jumlah air yang harus ditambahkan untuk memperoleh puding instan karaginan terbaik. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, tahap I adalah pembuatan tepung karaginan, tahap II penentuan bagian telur ayam (utuh, putih dan kuning) masing-masing 15 %. Tahap III adalah penentuan perbandingan tepung puding instan dengan air yang harus ditambahkan (1:4, 1:5, 1:6, dan 1:7). Tepung puding instan terpilih adalah perlakuan kuning telur dengan penambahan air 1:4. Karakteristik dari produk terpilih adalah dengan nilai sensori warna 4,87 (putih susu), tekstur 4,07 (ukuran partikel kurang seragam, agak halus), bau 3,83 (bau spesifik karaginan dan sedikit bau telur), penerimaan 4 (suka), rendemen 25,28 %, kekuatan gel 171,50 g/cm 2 , suhu pembentukan gel 34,50 o C, suhu pelelehan gel 66,00 o C dan derajat putih 77,30 %. Nilai proksimat dari puding instan adalah sebagai berikut: kadar protein 0,50 %; air 78,52 %; abu 0,45 %; lemak 0,33 %; karbohidrat 20,20 % dan serat pangan 5,23 %.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects