Top PDF Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang melalui Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang melalui Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang melalui Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Faktor-faktor di luar peraturan perundang-undangan misalnya adanya pandangan masyarakat tentang perempuan yang menganggap bahwa bila ada kejahatan yang terjadi pada dirinya, maka hal itu merupakan kesalahannya sendiri. Selain itu ada juga pandangan masyarakat yang enggan terlibat dengan masalah orang lain terutama yang berhubungan dengan polisi karena akan merugikan diri sendiri, alasan lainnya ada kecendrungan paradigma pemerintah yang memandang tenaga kerja sebagai komoditi penghasil devisa negara, kemudian adanya faktor-faktor sosial yang berkembang di masyarakat, misalnya masih adanya diskriminasi terhadap perempuan. Ada juga kelemahan yang datang dari aparat penegak hukum yang disebabkan ketidaktahuan mereka tentang masalah trafficking (perdagangan orang). 10 Menghadapi kondisi ini, maka diperlukan kebijakan yang lebih dapat mengatur secara komprehensif mengenai pencegahan, penanganan, penanggulangan, dan penegakan hukum atas tindak pidana perdagangan orang.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Penanggulangan Kejahatan Trafficking Melalui Undang-Undang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Penanggulangan Kejahatan Trafficking Melalui Undang-Undang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Pada umumnya kegiatan pencucian uang dapat dilakukan dengan melalui tahapan penempatan (placement), transfer (layering), dan menggunakan harta kekayaan (integration). Prinsip penelusuran dana hasil kejahatan guna mendapatkan pelaku tindak pidana asal diharapkan dapat menjadi senjata yang ampuh dalam memberantas kejahatan trafficking. Selama ini banyak kasus kejahatan trafficking yang tidak dapat dibuktikan dan pelakunya tidak dapat dijangkau oleh hukum, Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang tidak dapat dengan maksimal mengakomodir segala bentuk kejahatan trafficking. Berdasarkan pemikiran bahwa biasanya pelaku kejahatan pasti akan selalu berusaha untuk menyembunyikan, menyamarkan asal-usul harta kekayaannya melalui upaya pemanfaatan layanan penyedia jasa keuangan guna menghindari upaya pelacakan oleh aparat penegak hukum atau yang sekarang dikenal dengan pencucian uang (money laundering). Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, yang merupakan undang-undang terbaru sebagai pengganti Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 dan kemudian diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, mengatur dalam pasalnya bahwa perdagangan orang merupakan salah satu predicate crime dalam tindak pidana pencucian uang. Rumusan masalah dalam penelitian ini yakni : Pertama, bagaimana bentuk kejahatan trafficking dalam sistem peraturan perundang-undangan Indonesia. Kedua, bagaimana implementasi Undang-Undang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai sarana untuk menanggulangi kejahatan trafficking. Ketiga, bagaimana hambatan-hambatan dalam implementasi Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai sarana untuk menanggulangi kejahatan trafficking.
Baca lebih lanjut

130 Baca lebih lajut

.UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DARI HASIL KEJAHATAN NARKOTIKA MELALUI UNDANG-UNDANG NO. 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG.

.UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DARI HASIL KEJAHATAN NARKOTIKA MELALUI UNDANG-UNDANG NO. 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NO. 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG.

Perkembangan peredaran narkotika khususnya obat bius di beberapa negara bahkan telah mencapai titik nadir. Gerard Wyrsch pada 1990 mengungkapkan bahwa pencucian uang yang berasal dari bisnis narkotika di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 100 sampai dengan 300 milyar dollar pertahunnya. Sedangkan di Eropa berkisar antara 300 sampai 500 milyar dollar pertahunnya, suatu angka yang fantastis. FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering) dalam annual report tahun 1995-1996 memperkirakan bahwa dari 600 milyar sampai satu trilyun dollar uang yang dicuci pertahunnya, sebagian besar berasal dari bisnis haram perdagangan gelap narkotika. Perkiraan jumlah di atas setiap tahun mengalami peningkatan sehingga dikenal istilah narco dollar , sekaligus menunjukkan bahwa persoalan
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Perdagangan orang atau istilah Human Trafficking merupakan sebuah kejahatan yang sangat sulit diberantas dan merupakan bentuk perbudakan modern dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Kejahatan ini terus menerus berkembang secara nasional maupun internasional. Permasalahan tersebut sudah sangat memprihatinkan dan menjadi permasalahan besar sehingga pemerintah Indonesia melahirkan suatu kebijakan yang lebih baik dalam upaya memberikan perlindungan terhadap korban Tindak Pidana Perdagangan agar hak-haknya dilindungi. Salah satu hak yang diberikan oleh Undang- Undang No 21 Tahun 2007 adalah pemulihan hak atas korban dalam bentuk Restitusi yaitu pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum yang tetap atas kerugian materiil dan atau immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

restitusi dalam tuntutannya, korban umumnya tidak paham bahwa hak-haknya atas restitusi ada diatur dalam Undang-Undang No 21 tahun 2007. Masalah lainnya adalah hakim masih mendasarkan pada aturan lama yang berlaku yaitu ketentuan yang ada dalam KUHAP. Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang tidak menyebutkan atau menentukan jumlah atau besaran restitusi yang dapat diajukan atau dimintakan korban ke pengadilan , selain itu sulitnya mengukur kerugian immaterial bagi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Penegakan Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang dari Hasil Kejahatan Korupsi Berdasarkan Undang – Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Studi di Kalimantan Barat)

Penegakan Hukum Tindak Pidana Pencucian Uang dari Hasil Kejahatan Korupsi Berdasarkan Undang – Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Studi di Kalimantan Barat)

Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manager dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktifitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. 22 Menurut A.F. Stoner managemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya. Suatu organisasi memperoleh tenaga kerja, melatih mereka, dan kemudian memberikan pengupahan yang layak dan adil, tugas manajemen sumber daya manusia belum selesai, karena dalam kenyataan, tidak selalu seseorang yang telah digaji cukup akan merasa puas dengan pekerjaannya. Banyak faktor (di samping gaji) yang menyebabkan orang merasa puas atau tidak puas bekerja pada suatu organisasi. Sama halnya dengan kondisi yang dihadapi pada organisasi Polri, dimana para anggota tidak akan cukup puas dengan hanya diberi gaji, karena ada hal-hal lain yang dibutuhkan selain daripada kecukupan materiil.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Penerapan Undang-Undang  No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang  (TPPU) Terhadap Penegakan Hukum Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Terhadap Tindak Pidana Kehutanan (Illegal Logging)

Penerapan Undang-Undang No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Terhadap Penegakan Hukum Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Terhadap Tindak Pidana Kehutanan (Illegal Logging)

berkembang dan bukan hanya yang berasal dari kejahatan obat bius saja tetapi juga berbagai kejahatan termasuk kejahatan terorganisasi (organized crimes). Dalam kaitannya bahawa pencucian uang haram merupakan tindak pidana dibidang ekonomi (economic crimes), yang pada intinya memberikan gambaran terdapat hubungan langsung bahwa gejala kriminalitis merupakan suatu kelanjutan dari kegiatan dan pertumbuhan ekonomi. Transaksi money laundering yang memanfaatkan bank dan jasa keuangan lainnya untuk mendanai eksploitasi sumber daya hutan dilakukan dengan fase-fase: Pertama, fase “placement”
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DARI HASIL KEJAHATAN NARKOTIKA MELALUI UNDANG- UNDANG NO

UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DARI HASIL KEJAHATAN NARKOTIKA MELALUI UNDANG- UNDANG NO

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan sosiologis normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder dan data primer. Data sekunder berarti data yang didapat dari bahan-bahan pustaka 10 . Sedang data primer di dapat melalui penelitian pada instansi terkait. Penulis menggunakan metode pendekatan sosiologis normatif karena permasalahan yang diteliti berkisar pada perundang- undangan dan berkaitan dengan penerapan perundang-undangan tersebut dalam upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pencegahan tindak pidana narkotika.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kejahatan Pencucian Uang (Money Laundering) (Tinjauan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang)

Kejahatan Pencucian Uang (Money Laundering) (Tinjauan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang)

dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003, telah menunjukkan arah positif. Namun, hasilnya belum optimal. Kenudian disusun Undang- Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang . Tujuan penelitian ini untuk membahas seberapa jauh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dapat diberlakukan secara efektif. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif, eksploratif, dan analitis. Dapat disimpulkan antara lain bahwa: (1) adanya tindak pidana sebagaimana yang telah ditetapkan secara limitatif di dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 terhadap dugaan adanya tindak pidana pencucian uang, tidak perlu dibuktikan terlebih dahulu, cukup jika ada dugaan bahwa uang tersebut berasal dari tindak pidana korupsi misalnya, dengan catatan jika terdapat dua alat bukti sebagai bukti permulaan; (2) tindak pidana pencucian uang secara kriminologis dikualifikasi sebagai kejahatan kerah putih (White Collar Crime), maka penggunaan metode pembuktian terbalik menjadi sangat relevan, hanya saja di dalam pelaksanaannya masih tergantung pada kemauan hakim. Disarankan agar semua unsur penegak hukum dalam sistem peradilan pidana dalam menghadapi kasus-kasus semacam ini, selain perlu integritas dan dedikasi kuat, juga harus memiliki keahlian yang khusus dan memadai dibantu oleh ahli di bidang sistem keuangan atau perbankan. Kata kunci: pencucian uang, metode pembuktian terbalik,
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

RANCANGAN UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME DALAM   Rancangan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Dalam Perspektif HAM.

RANCANGAN UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME DALAM Rancangan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Dalam Perspektif HAM.

Mengenai penanggulangan tindak pidana terorisme yang diatur dalam RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Pasal 43A Ayat (1) yang pada inti pokoknya menyatakan bahwa penyidik atau penuntut umum dapat melakukan pencegahan terhadap setiap orang tertentu yang diduga akan melakukan tindak pidana terorisme untuk dibawa atau ditempatkan pada tempat tertentu yang menjadi wilayah hukum penyidik atau penuntut umum dalam waktu paling lama 6 bulan. Dengan adanya ketentuan tersebut akan melanggar hak asasi manusia berupa hak atas kebebasan dan keamanan pribadi serta tidak seorangpun dapat ditangkap atau ditahan secara sewenang-wenang. 20
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI RESTITUSI TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG.

IMPLEMENTASI RESTITUSI TERHADAP KORBAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah kasus tindak pidana perdagangan orang tertinggi, namun penanganannya masih kurang optimal. Salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya perhatian terhadap korban. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang mengatur mengenai hak korban untuk mendapatkan restitusi. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa sejak tahun 2007 hingga saat ini, kasus tindak pidana perdagangan orang yang korbannya mendapatkan restitusi baru ada satu korban, padahal jumlah korban tindak pidana perdagangan orang di Indonesia lebih dari 3600 orang. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor yang menghambat implementasi restitusi terhadap korban tindak pidana perdagangan orang di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah implementasi restitusi terhadap korban tindak pidana perdagangan orang di Indonesia beserta faktor-faktor penghambatnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

masyarakat, bangsa dan negara, terjadi karena adanya berbagai faktor pendorong, yaitu faktor kemiskinan, tingkat pendidikan rendah, terjebak pola hidup serba instan dan konsumtif dan juga tradisi kawin di usia dini bahkan bisa juga dalam kondisi konflik bersenjata, dan bencana alam sampai ke persoalan lemahnya penegakan hukum. Gejalanya bukan lagi hanya merupakan fenomena sosial biasa yang diakibatkan oleh faktor kemiskinan dan ketertinggalan di bidang pendidikan semata, tapi sudah menjadi fenomena pelanggaran hukum dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia sebagai akibat dari adanya praktek tindak kejahatan yang dilakukan baik secara perorangan maupun jejaring sindikat dengan maksud mengeksploitasi korban demi keuntungan pelaku dan jaringannya. 6
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Pelaksanaan Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

Tanggung jawab pelaku terhadap kerugian atau penderitaan yang dialami oleh korban (sebagai akibat perbuatannya) ini, untuk beberapa perbuatan pidana yang terjadi dalam masyarakat, seringkali penyelesaiannya dilakukan atas dasar perdamaian antara kedua belah pihak. Cara penyelesaian seperti ini merupakan suatu realitas yang hidup di kalangan anggota masyarakat tertentu di Indonesia yang mendasarkan penyelesaian pada hukum adat. Mahmud Mulyadi menyatakan bahwa istilah ganti kerugian juga terdapat dalam kearifan lokal yang ada di masing-masing wilayah di Indonesia, bahwa faktor dominan untuk terjadinya kejahatan kekerasan dipengaruhi oleh watak masyarakat , contohnya apa yang ada di dalam Kitab Hukum Simbur Cahaya di Palembang dimana terdapat banyak delik adat yang dapat ditarik nilai-nilainya dalam proses legislasi untuk dijadikan upaya penanggulangan kejahatan kekerasan. Delik kesusilaan diatur dalam pada Bab I tentang Adat Bujang Gadis dan Kawin menyatakan bahwa seorang laki-laki memegang seorang gadis atau janda dapat dikenakan sanksi adat dengan denda maksimal 12 ringgit dan tekap malu maksimal 8 ringgit. 86
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Ditinjau Dari Sistem Pembuktian

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Ditinjau Dari Sistem Pembuktian

Penyidik. Akan tetapi, sangat didasari cara penerapan demikian, bisa menimbulkan “kekurangpastian” dalam praktek hukum sekaligus membawa kesulitan bagi Praperadilan untuk menilai tentang ada atau tidak permulaan bukti yang cukup. Yang paling rasional dan realitas, apabila perkataan “permulaan” dibuang, sehingga kalimat itu berbunyi : “diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup”. Jika seperti itu rumusan pengertian yang dirumuskan dalam pasal itu hampir sama dengan pengertian yang terdapat dalam hukum acara Amerika, yang menegaskan bahwa untuk melakukan tindakan penangkapan atau penahaan, harus didasarkan atas affidavit and testimony yakni haus didasarkan pada adanya bukti atau kesaksian. Jika Pasal 17 ini dijadikan pedoman oleh penyidik dengan sungguh-sungguh, dapat diharapkan suasana penegakkan hukum yang lebih objektif. Tangan-tangan penyidik tidak akan seringan itu melakukan penagkapan. Sebab jika ditelaah bukti permulaan yang cukup, pengertiannya hampir serupa dengan apa yang dirumuskan dalam Pasal 183 KUHAP, yakni harus berdasar prinsip “batas minimal pembuktian” yang terdiri sekurang-kurangnya dua alat bukti bisa terdiri dari dua orang Saksi atau Saksi ditambah dengan satu alat bukti lain. Dengan pembatasan yang lebih ketat dari pada yang dulu diatur dalam HIR, suasana penyidikan tidak lagi main tangkap dahulu, baru nanti dipikirkan pembuktian. Metode menurut KUHAP harus dibalik, lakukan penyidikan yang cermat dengan teknik dan taktis investivigasi yang mampu mengumpulkan bukti. Setelah cukup bukti, baru dilakukan pemeriksaan ataupun penangkapan dan penahanan. 81
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Peranan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (Ppatk) Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Modus Private Banking Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Peranan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (Ppatk) Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Modus Private Banking Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Permasalahan tindak pidana pencucian uang dengan modus private banking sejatinya sudah menjadi masalah yang begitu besar karena uang adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia hingga menjadi suatu pekerjaan nasional dalam pencegahan dan pemberantasannya. Sebab keberadaan uang menjadi tolak ukur kemajuan serta perkembangan perekonomian suatu negara. Indonesia sebagaimana berkembang dalam sektor ekonomi dan perbankan adalah salah satu alasan para pelaku untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dengan modus private banking. Hal ini dapat dilihat terindikasinya tindak pidana pencucian uang dengan modus private banking di kota-kota besar di Indonesia yang menjadi pusat perekonomian seperti, Jakarta sebagai
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING) DAN STRATEGI PEMBERANTASAN

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING) DAN STRATEGI PEMBERANTASAN

Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang mencantumkan ancaman pidana minimal khusus, namun tidak memuat aturan/pedoman penerapan pidananya secara khusus. Hal ini akan menimbulkan masalah jika ditinjau dari segi sistem pemidanaan, yaitu jumlah ancaman pidana (minimal maupun maksimal) hanya merupakan salah satu sub- sistem yang tidak dapat begitu saja diterapkan di dalam perumusan delik. Agar undang- undang ini dapat diterapkan, harus disertai dengan subsistem mengenai aturan pemidanaan/pedoman penerapannya terlebih dahulu. Oleh karena itu formulasi yang akan datang harus disertai dengan pedoman penerapan. Pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi penetapan subyek hukum korporasi sebagai pelaku tindak pidana pencucian masih mengandung beberapa kelemahan. Di samping itu ancaman pidnana denda untuk korporasi yang maksimumnya diperberat sepertiga tidak disertai dengan ketentuan khusus untuk pelaksanaan pidana denda yang tidak dibayar oleh korporasi.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

apabila JPU yang membuktikan dakwaan, alat bukti akan dihilangkan atau dirusakkan oleh terdakwa. Caranya dengan melalui penetapan hakim atau permintaan dari pihak jaksa kepada hakim untuk melaksanakan metode tersebut. Di pasal 78 mekanismenya adalah hakim yang memerintahkan terdakwa untuk membuktikan bahwa harta kekayaan yang terkait dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan mengajukan alat bukti yang cukup. Penerapan pembuktian terbalik ini tidak bisa diterapkan dalam kasus korupsi murni, melainkan pada kasus korupsi yang memiliki unsur pidana pencucian uang. Jadi ini terkait dengan masalah tindak pidana pencucian uang, Kalau semata-mata hanya masalah korupsi, tidak bisa diterapkan metode pembuktian terbalik, kita baru bisa menerapkan pembuktian terbalik apabila dakwaan nya adalah pencucian uang.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Perampasan Aset Hasil Tindak Pidana Perbankan Dalam Rangka Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Perampasan Aset Hasil Tindak Pidana Perbankan Dalam Rangka Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Langkah hukum penyelesaian pengembalian aset tindak pidana pencucian uang, berikutnya adalah melalui peradilan in absentia.In absentia adalah istilah dalam bahasa Latin yang secara harfiah berarti "dengan ketidakhadiran". Dalam istilah hukum, peradilan in absentia adalah sebagai upaya mengadili seseorang dan menghukumnya tanpa dihadiri oleh terdakwa tersebut. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana Indonesia, hal ini tidak diatur secara jelas, kecuali di dalam Pasal 196 dan 214 yang mengandung pengaturan terbatas mengenai peradilan in absentia. Peradilan ini harus memenuhi beberapa unsur, antara lain: karena terdakwa tinggal atau pergi ke luar negeri; adanya usaha pembangkangan dari terdakwa (misalnya melarikan diri); atau terdakwa tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang jelas walaupun telah dipanggil secara sah (Pasal 38 UU RI No 31 Tahun 1999).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Asset Recovery Dalam Tindak Pidana Korupsi Melalui Instrumen Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang

Asset Recovery Dalam Tindak Pidana Korupsi Melalui Instrumen Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang

jauh hingga kepada aktor intelektualnya, sehingga dirasakan lebih adil; (2) memiliki prioritas untuk mengejar hasil kejahatan, bukan pelakunya sehingga dapat dilakukan dengan “diam-diam”, lebih mudah, dan risiko lebih kecil karena tidak berhadapan langsung dengan pelakunya yang kerap memiliki potensi melakukan perlawanan; (3) hasil kejahatan dibawa ke depan proses hukum dan disita untuk negara karena pelakunya tidak berhak menikmati harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak sah, maka dengan disitanya hasil tindak pidana akan membuat motivasi orang melakukan tindak pidana menjadi berkurang; (4) adanya pengecualian ketentuan rahasia bank dan/atau kerahasiaan lainnya sejak pelaporan transaksi keuangan oleh pihak pelapor sampai kepada pemeriksaan selanjutnya oleh penegak hukum; dan (5) harta kekayaan atau uang merupakan tulang punggung organisasi kejahatan, maka dengan mengejar dan menyita harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan akan memperlemah mereka sehingga tidak membahayakan kepentingan umum. (Lihat Yunus Husein, Negeri Sang Pencuci Uang, (Jakarta: Pustaka Juanda Tiga Lima, 2008), hlm. 66-67).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects