Top PDF Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Nelayan (Studi Sistem Bagi Hasil Perikanan di Wilayah Madura)

Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Nelayan (Studi Sistem Bagi Hasil Perikanan di Wilayah Madura)

Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Nelayan (Studi Sistem Bagi Hasil Perikanan di Wilayah Madura)

Membicarakan sumber daya kelautan dan perikanan di Indonesia, khususnya di wilayah Madura selalu berkait erat dengan nelayan (pelaku) dan sistem perikanan. Salah satu sistem upah yang dipraktekkan masyarakat nelayan adalah sistem bagi hasil perikanan. Nelayan penggarap berbagi hasil dengan nela- yan pemilik. Oleh karena keberadaan ekonomi masyarakat nelayan yang tidak banyak ber- geser pada arah peningkatan maka nelayan cenderung bukan lagi jenis pekerjaan yang menjanjikan. Tidak sedikit nelayan yang be- ralih profesi lain. Penurunan jumlah nelayan ini disebabkan oleh pencemaran kawasan perairan, liberalisasi kawasan pesisir. Tinggi- nya tingkat pencemaran di laut membuat jumlah ikan berkurang karena habitatnya mulai rusak dan tercemar. Sektor pariwisata mengusir nelayan di wilayah pariwisata sering kali menuntut ketiadaan nelayan, misalnya di Bali, Wakatobi, dan Raja Ampat. Nelayan dilarang menangkap ikan dengan alasan wila- yah pariwisata, akan mencemari, dan sebagai- nya.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat nelayan Perkotaa

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat nelayan Perkotaa

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Usaha Kaki Lima adalah bagian dari Kelompok Usaha Kecil yang bergerak di sektor informal, yang oleh istilah dalam UU. No. 9 Tahun 1995 di atas dikenal dengan istilah “Pedagang Kaki Lima”. Konsepsi sektor informal mendapat sambutan yang sangat luas secara internasional dari para pakar ekonomi pembangunan, sehingga mendorong dikembangknnya penelitian pada beberapa negara berkembang termasuk Indonesia oleh berbagai lembaga penelitian pemerintah, swasta, swadaya masyarakat dan universitas. Hal tersebut terjadi akibat adanya pergeseran arah pembangunan ekonomi yang tidak hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi makro semata, akan tetapi lebih kearah pemerataan pendapat. Swasono (1987) mengatakan bahwa adanya sektor informal bukan sekedar karena kurangnya lapangan pekerjaan, apalagi menampung lapangan kerja yang terbuang dari sektor informal akan tetapi sektor informal adalah sebagai pilar bagi keseluruhan ekonomi sektor formal yang terbukti idak efisien. Hal ini dapat menunjukan bahwa sektor informal telah banyak mensubsidi sektor formal, disamping sektor informal merupakan sektor yang efisien karena mampu menyediakan kehidupan murah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Keberdayaan masyarakat dapat diwujud- kan melalui partisipasi aktif masyarakat yang difasilitasi dengan adanya pelaku pemberdaya- an. Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah mereka yang lemah dan tidak memiliki daya, kekuatan atau kemampuan mengakses sumberdaya produktif atau masyarakat yang terpinggirkan dalam pembangunan. Tujuan akhir dari proses pemberdayaan masyarakat adalah untuk memandirikan warga masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidup keluarga dan mengoptimalkan sumberdaya yang dimi- likinya. Secara sosial, masyarakat sekitar ka- wasan hutan lindung sampai saat ini tetap teridentifikasi sebagai masyarakat marginal (terpinggirkan) dan tidak memiliki daya, ke- kuatan, dan kemampuan yang dapat diandal- kan serta tidak memiliki modal yang memadai untuk bersaing dengan masyarakat kapitalis atau masyarakat pengusaha yang secara sosial dan politik memiliki daya, kekuatan, dan ke- mampuan yang memadai. Ketidakberdayaan masyarakat secara sosial dan ekonomi menjadi salah satu ganjalan bagi masyarakat untuk ber- diri sama tinggi dan duduk sama rendah de- ngan sesama saudaranya yang telah berhasil. Kondisi inilah yang perlu dipahami dan dijadi-
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

Dalam rangka perbaikan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Halmahera Utara secara berkelanjutan, tentunya tidak hanya dilihat dari segi aspek ekonomi semata tetapi perlu memperimbangkan aspek keberlanjutan usaha perikanan lainnya, seperti sumberdaya ikan, tekonologi, sosial dan kelembagaan lokal. Dengan demikian mencari perbaikan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir diperlukan cara/metode yang mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dari berbagai aspek, baik internal maupun eksternal. Metode tersebut adalah analisis SWOT yang dapat mengkaji faktor-faktor tersebut. Faktor internal yang dimaksud merupakan faktor yang mempengaruhi secara langsung kegiatan pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sebagaimana telah uraikan pada Sub Bab 5.1. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor dari lingkungan yang turut mempengaruhi kegiatan pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo di Kabupaten Halmahera Utara yang terdiri dari peluang dan ancaman, sebagaimana telah uraikan pada Bab 4.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

PERAN DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI KABUPATEN PROBOLINGGO

PERAN DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI KABUPATEN PROBOLINGGO

Dari empat pengelompokan tersebut sudah sangat sulit menemukan dua kelompok yang pertama. Sementara kelompok ketiga walaupun di beberapa negara maju berbagai kegiatannya telah terdokumentasi dengan baik namun di beberapa negara berkembang seperti Indonesia misalnya, sulit ditemukan. Di samping pengelompokkan tersebut, terdapat beberapa terminologi yang sering digunakan untuk menggambarkan kelompok nelayan, seperti nelayan penuh untuk mereka yang menggantungkan keseluruhan hidupnya dari menangkap ikan, nelayan sambilan untuk mereka yang hanya sebagian dari hidupnya tergantung dari menangkap ikan (lainnya dari aktivitas seperti pertanian, buruh dan tukang), juragan untuk mereka yang memiliki sumberdaya ekonomi untuk usaha perikanan seperti kapal dan alat tangkap, dan anak buah kapal (ABK/pandega) untuk mereka yang mengalokasikan waktunya dan memperoleh pendapatan dari hasil pengoperasian alat tangkap ikan, seperti kapal milik juragan.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

The objectives this research were 1) to assess the implication PEMP program on the performance of technology, social, economic and institutional development of coastal communities, 2) to determine the improvement strategy of empowerment of coastal communities in research sites, 3) to provide improvement strategy for coastal communities in research sites. Research was using survey method, with research subjects were 30 samples of coastal communities in Tobelo, five samples LEPP-M3 and five samples of Marine and Fishery Department of North Halmahera Regency. Result of this research showed that, implementation PEMP program has triggered changes in social-cultural, technological, economic and institutional development of coastal communities in North Halmahera Regency. Results of internal and external evaluation showed that 1) their strengths were: enough available labor, potency age, adecuate level of education dan strongh motivation; 2) their opportunities were: potential of fish resources, employment opportunities in the field of fisheries, cooperatives LEPP-M3 and local government support; 3) their weakness were: lack of technological, lack of capital, limited market access, and limited support facilities fishing effort; dan (4) their theats were: low fish prices, high fuel prices, bed weather or season causing them doesn’t operating; dan Illegal fishing. Priority alternative repair model empowerment for coastal community in North Halmahera Regency were 1) development of capital access; 2) development of technology and scale fisheries; 3) development of market access; 4) capacity development of coastal community institutional; 5) community base management of fisheries and (6) development of support facilities fishing effort; and development of fishes processing diversification.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

Analisis pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara

Dalam rangka perbaikan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir di Kabupaten Halmahera Utara secara berkelanjutan, tentunya tidak hanya dilihat dari segi aspek ekonomi semata tetapi perlu memperimbangkan aspek keberlanjutan usaha perikanan lainnya, seperti sumberdaya ikan, tekonologi, sosial dan kelembagaan lokal. Dengan demikian mencari perbaikan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir diperlukan cara/metode yang mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dari berbagai aspek, baik internal maupun eksternal. Metode tersebut adalah analisis SWOT yang dapat mengkaji faktor-faktor tersebut. Faktor internal yang dimaksud merupakan faktor yang mempengaruhi secara langsung kegiatan pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sebagaimana telah uraikan pada Sub Bab 5.1. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor dari lingkungan yang turut mempengaruhi kegiatan pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Tobelo di Kabupaten Halmahera Utara yang terdiri dari peluang dan ancaman, sebagaimana telah uraikan pada Bab 4.
Baca lebih lanjut

245 Baca lebih lajut

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI KECAMATAN GUNUNGSITOLI IDANOI KOTA GUNUNGSITOLI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN DI KECAMATAN GUNUNGSITOLI IDANOI KOTA GUNUNGSITOLI

Berbagai permasalahan yang dihadapi para nelayan di Kecamatan Gunungsitoli Idanoi pada dasarnya bisa diatasi melalui pemberdayaan. Melalui pemberdayaan, masyarakat nelayan akan lebih kuat dan memiliki kemandirian sosial, ekonomi, dan politik untuk mencapai kesejahteraan sosial yang bersifat berkelanjutan. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Kota Gunungsitoli melakukan pemberdayaan kepada masyarakat nelayan di Kota Gunungsitoli melalui program pengembangan perikanan tangkap. Program ini merupakan satu-satunya program pemberdayaan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Gunungsitoli untuk masyarakat nelayan sejak Kota Gunungsitoli dibentuk pada tahun 2008. Dari enam kecamatan di Kota Gunungsitoli, hanya satu kecamatan yang menjadi sasaran dari pelaksanaan program ini, yaitu Kecamatan Gunungsitoli Idanoi. Program ini berupa pengadaan alat-alat tangkap ikan yang kemudian dibagikan kepada masyarakat nelayan. Adapun alat-alat tangkap ikan yang pernah dibagikan kepada masyarakat nelayan di Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, yaitujala/ jaring ikan sebanyak 50 unit, perahu motor bermesin 10 GT sebanyak 35 unit, dan cool box sebanyak 70 unit.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Model Pemberdayaan Ekonomi Dengan Filantropi Islam Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat

Model Pemberdayaan Ekonomi Dengan Filantropi Islam Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat

BAZNAS kota Makassar salah satunya. Lembaga tersebut telah melaksanakan berbagai macam program pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat miskin. Namun, Pengelolaan zakat di Kota Makassar sampai saat ini belum berjalan maksimal. Padahal, zakat bisa menjadi salah satu upaya dalam mengentaskan kemiskinan di kota metropolitan. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar mencatat dari 300 Unit Pengelolaan Zakat (UPZ) hanya sekitar Rp2 miliar zakat fitrah yang bisa disalurkan ke masyarakat miskin. Padahal jika merujuk pada besaran jumlah penduduk muslim di Kota Makassar, potensi jumlah zakat yang terkumpul tiap tahunnya bisa mencapai Rp10 miliar. 19 Pemanfaatan dana
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

MODEL PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KEMANDIRIAN UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN EKONOMI DAN KETAHANAN PANGAN (Strategi Pemberdayaan Ekonomi Pada Masyarakat Dieng Di Propinsi Jawa Tengah)

MODEL PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS KEMANDIRIAN UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN EKONOMI DAN KETAHANAN PANGAN (Strategi Pemberdayaan Ekonomi Pada Masyarakat Dieng Di Propinsi Jawa Tengah)

Sistem ketahanan pertanian dikembangkan mengingat matapencarian mayoritas masyarakat Dieng adalah dari sektor pertanian, dimana sistem ini mampu mengintegrasikan empat subsistem usaha pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Pertama, subsistem pertanian hulu yang merupakan kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti usaha di bidang pengadaan dan perdagangan sarana pertanian dan perikanan (alat olah lahan pertanian, dan lain- lain) dan sarana budidaya pertanian (benih, pupuk, pakan, obat-obatan, dll). Kedua, subsistem on- farm agriculture yang merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi untuk menghasilkan produk pertanian primer. Usaha yang masuk ke dalam subsistem ini adalah usaha pertanian produk unggulan dan budidaya produk unggulan. Ketiga, subsistem pertanian hilir yang berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, termasuk di dalamnya kegiatan pemasaran. Keempat, kegiatan ekonomi terkait yang dikenal sebagai
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Rekonstruksi Sosial Ekonomi (Studi Bumdes Sebagai Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Desa Sangiang Kabupaten Bima)

Rekonstruksi Sosial Ekonomi (Studi Bumdes Sebagai Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Desa Sangiang Kabupaten Bima)

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha Bumdes dikalangan masyarakat Masyarakat Nelayan Desa Sangiang Kabupaten Bima,Untuk mengetahui Rekonstruksi Sosial Ekonomi dalam Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Desa Sangiang Kabupaten Bima. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami lebih dalam tentang pemberdayaan masyarakat lewat bumdes dan kondisi perekonomian masyarakat nelayan. Informan ditentukan secara purposive sampling berdasarkan karakteristik informan yang telah ditetapkan yaitu pengurus BUMDes, pemerintah desa, serta masyarkat nelayan desa sangiang. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam. Teknik analisis data melalui berbagai tahapan yaitu reduksi data, panyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik dan waktu.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN TANGKAP OLEH DKP KOTA PADANG DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT NELAYAN TANGKAP OLEH DKP KOTA PADANG DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN

rumah tangga nelayan di KelurahanPasie Nan Tigo. Hal ini terlihat dari masih rendahnya tingkat pendapatan rumah tangga nelayan, sehingga berdampak kepada peningkatan segala usaha dan juga perbaikan kualitas kehidupan mereka. Keterbatasan modal usaha sehingga menyulitkan nelayan untuk meningkatkan kegitan ekonomi keluarganya. Sehubungan dengan hal itu, sebagaian besar masyarakat nelayan Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang juga masih hidup dalam perangkap kemiskinan. Secara umum, kemiskinan nelayan bersifat struktural dan merupakan residu pembangunan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Inkubator Bisnis Dalam Mengolah Hasil Laut

Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Melalui Inkubator Bisnis Dalam Mengolah Hasil Laut

Pendampingan Konsultasi dan Pendampingan Kewirausahaan Masyarakat Nelayan dan Inkubator Bisnis sebagai program tepat guna tidak hanya dapat digunakan untuk peningkatan ekonomi serta pengetahuan masyarakat Kampung Tua Teluk Mata Ikan Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, tetapi dapat dikembangkan dengan memperluas pemasaran produk untuk seluruh wilayah di Indonesia. Diharapkan kedepannya melalui program ini dapat dihasilkan produk oleh-oleh berbahan dasar gonggong yang menjadi ciri khas Kota Batam yakni “Nongsa Poenya” dan dipasarkan untuk seluruh daerah di Indonesia, tentunya dengan integrasi peran dari pihak-pihak terkait, seperti pihak masyarakat Kampung Tua Teluk Mata Ikan Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, beberapa mitra di Kota Batam dan lain sebagainya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perkembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan dan Kontribusinya terhadap Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Kota Cirebon, 1994-2011

Perkembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan dan Kontribusinya terhadap Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Kota Cirebon, 1994-2011

Sebagai kota yang diberi kewenangan untuk mengelola wilayah kelautan, Cirebon tentu memiliki pesisir yang berpotensi untuk menjadi pelabuhan. Salah satu Pelabuhan Perikanan besar yang ada di Cirebon adalah PPN Kejawanan yang terletak di Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Secara ekologis, lokasi PPN Kejawanan merupakan daerah pantai yang menjadi perpaduan dari dua muara sungai, yaitu Sungai Kesunean dan Sungai Kalijaga. PPN Kejawanan mulai dirintis pada 1976, namun pembangunannya tersendat-sendat karena kesulitan dana. Pembangunan baru intensif dilakukan pada 1994, kemudian pada Mei 1997, Pelabuhan Perikanan Kejawanan mulai dioperasikan dengan status uji coba. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1999, status Pelabuhan Perikanan Kejawanan ditingkatkan menjadi PPN. Seiring dengan peningkatan status pelabuhan yang kemudian menjadi motivasi bagi PPN Kejawanan untuk terus meningkatkan kegiatan pembangunan, baik fisik maupun nonfisik, penulis tertarik untuk menggali lebih dalam kontribusi PPN Kejawanan terhadap pemberdayaan masyarakat di Kota Cirebon pada umumnya dan nelayan di sekitar PPN Kejawanan pada khususnya. Pada prinsipnya, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan PPN Kejawanan serta pemberdayaan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kehidupan sosial masyarakat nelayan Kota Cirebon. Berdasar latar belakang tersebut, maka dirumuskan beberapa rumusan masalah. Pertama, bagaimana perkembangan PPN Kejawanana pada 1994-2011? Kedua, bagaimana kontribusi PPN Kejawanan terhadap pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat nelayan Kota Cirebon?
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Model Pemberdayaan Wilayah Pesisir dalam Menghadapi Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN

Model Pemberdayaan Wilayah Pesisir dalam Menghadapi Pasar Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN

Faktor produktivitas akan menjadi kunci bagaimana Indonesia khususnya Jawa Timur dalam menghadapi MEA. Secara logika sederhana, produktivitas adalah kunci utama dalam persaingan. Produktivitas yang tinggi diharapkan produksi lebih efisien dan dapat memberikan harga lebih kompetitif. 15 Posisi strategis yang dimiliki sebagai jalur perdagangan internasional seharusnya Indonesia berpotensi untuk dapat memainkan peranan politisnya dalam percaturan politik Internsional. Hal tersebut tentu ketika daerah-daerah di Indonesia, seperti halnya Jawa Timur dapat memainkan perannya untuk mengelola potensi yang ada di darat dan juga di laut. Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: Pertama, Bagaimana kebijakan penguatan budaya maritim Desa Pesisir oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ? Kedua, Faktor- faktor apa saja yang menjadi kendala penguatan budaya maritim Desa Pesisir di Jawa Timur dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)? B. Metode Penelitian
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Oleh Pt. Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Di Desa Tanjung Pasir Kabupaten Tangerang

Pemberdayaan Ekonomi Nelayan Oleh Pt. Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa Di Desa Tanjung Pasir Kabupaten Tangerang

pengorganisasian ini, maka fungsi lembaga pemberdayaan seperti Masyarakat Mandiri bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi keinginan dan kebutuhan komunitas sasaran. Walaupun demikian pada kondisi-kondisi tertentu lembaga pemberdayaan juga harus berperan dalam proses penyadaran, karena tidak semua pemetik manfaat program dalam komunitas sasaran memiliki tujuan yang sama dalam pembentukan kelompok. Oleh karena itu, secara langsung ataupun tidak, lembaga pemberdayaan dapat melakukan intervensi melalui kegiatan-kegiatan yang dapat menfasilitasi terbentuknya organisasi atau kelompok yang solid dalam sebuah komunitas. Kegiatan-kegiatan dalam aspek pengorganisasian minimal terdiri dari seleksi calon pemetik manfaat (komunitas sasaran), pembentukan kelompok dan pembentukan lembaga
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

MODEL PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

MODEL PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR

Jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, berupa pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek penelitian, dalam arti obyek yang dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Pendekatan tersebut dipilih karena penelitian ini berusaha untuk memperoleh gambaran tentang kegiatan usaha pembenihan ikan kerapu skala rumah tangga di Kabupaten Situbondo sebagai alternatif dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir, khususnya melalui model tiga pilar pada prinsip-prinsip good governance yaitu peran seluruh stekholder Pemerintah, swasta dan masyarakat.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects