Top PDF Pemberdayaan Wanita dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Pemberdayaan Wanita dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Pemberdayaan Wanita dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Menurut stratumnya, semakin tinggi stratum semakin tinggi persentase rumah tangga pemilik lahan dan semakin tinggi pula rata-rata luas lahannya. Selanjutnya semakin tinggi akses anggota rumah tangga petani, laki-laki dan perempuan, terhadap lahan usahatani berhubungan dengan akses mereka terhadap pendidikan, kepemilikan benda berharga, kualitas rumah dan fasilitas yang digunakannya serta akses terhadap kelembagaan baik formal maupun informal di pedesaan. Dalam hal yang terakhir, terdapat segregasi gender dimana perempuan dominan dalam kelembagaan reproduktif seperti PKK, kegiatan pengajian, arisan dan kematian, sementara pria dominan pada kelembagaan yang bersifat politik dan ekonomis produktif, seperti pemerintahan desa, LKMD, LPM, dan BPD serta kelompok tani dan koperasi. Perempuan tidak pernah akses terhadap kredit, penyuluhan, pelatihan dan kelembagaan berorientasi produktif. Berdasar permasalahan yang ditemukan pada rumahtangga petani, diintroduksikan Skim Kredit Bergulir Usaha Kulawarga Mandiri (UKM) dan perguliran domba, pemberdayaan Kader PKK dan anggota rumahtangga petani dalam pengelolaan usahatani lahan kering. Hasil penelitian ini telah dapat meningkatkan akses dan kontrol keluarga petani (suami dan isteri) terhadap kredit bergulir UKM, perguliran ternak domba serta meningkatkan kinerja kelembagaan lokal yang berorientasi ekonomis produktif.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Gambaran Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi di Desa Maligas Tongah Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Gambaran Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi di Desa Maligas Tongah Kecamatan Tanah Jawa Kabupaten Simalungun

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 telah mencapai angka 237.556.363 jiwa (BPS, 2012). Jumlah penduduk dunia akan terus bertambah diperkirakan akan mencapai 9 milyar dalam rentang 8 – 10,5 milyar jiwa pada tahun 2050 (NGI, edisi januari 2011). Dengan demkian ada tambahan pangan setiap tahun untuk mencukupi pertumbuhan penduduk. Sebagaimana dalam Undang-undang No 7 tahun 1996 tentang pangan dimana, pemerintah berkewajiban memenuhi kebutuhan pangan dan menyediakan pangan dalam jumlah yang cukup, bermutu dan bergizi layak, aman dan merata serta terjangkau oleh setiap rumah tangga.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN DENGAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI DESA RAWAN PANGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN DENGAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI DESA RAWAN PANGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PROSIDING disusun berdasarkan hasil SEMINAR NASIONAL kerjasama Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UMY dengan Perhepi Komda DIY yang dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2015 di Yogyakarta. Penyelenggaraan seminar dimaksudkan untuk mengenal dan memahami berbagai situasi dalam mempersiapkan masyarakat pelaku ekonomi di Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia. Sebagai negara agraris terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi sumberdaya lokal yang berlimpah. Optimalisasi sumberdaya penting dan mendesak untuk dilakukan agar produk yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi dapat bersaing dengan negara lain.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Studi Keanekaragaman Hayati di Kampus UNS Kentingan sebagai Dasar Pengembangan Kampus Konservasi: I. Struktur dan Komposisi Vegetasi.

Studi Keanekaragaman Hayati di Kampus UNS Kentingan sebagai Dasar Pengembangan Kampus Konservasi: I. Struktur dan Komposisi Vegetasi.

Penelitian dilakukan di DAS Keduang, meliputi wilayah kecamatan : Girimarto, Jatipurno, Jatiroto, Jatisrono, Ngadirojo, Nguntoronadi, Sidoharjo, Slogohimo, dan Wonogiri. Dari masing-masing kecamatan diambil satu desa contoh yang terlewati aliran DAS Keduang. Dari masing-masing desa diambil 10 sampel rumah tangga miskin dan 10 rumah tangga tidak miskin.

1 Baca lebih lajut

ENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINGKAT KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA

ENGARUH FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINGKAT KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA

Penelitian dilaksanakan pada tahun 2005 di Desa Sumberdadi Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalak yang ditentukan secara sengaja (Purposive Methode). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, korelasional dan komparatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sampel random sederhana (Simple Random Sampling) dengan jumlah sampel sebesar 42 rumah tangga. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah: (1) analisis Tingkat Kecukupan Protein dan Energi (TKP dan TKE); (2) analisis Kecukupan Gizi dan Pangan dan (3) analisis Regresi Linear Berganda.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Miskin di Medan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Miskin di Medan

Analisis Jalur Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.. Skripsi, Institut Pertanian Bogor.[r]

1 Baca lebih lajut

5359e21b57a1a 03 wtsd freeportindonesia 2012 kontribusikamiuntukpembangunanekonomipapua

5359e21b57a1a 03 wtsd freeportindonesia 2012 kontribusikamiuntukpembangunanekonomipapua

menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir (2008- 2012) dana kemitraan kami yang disalurkan kepada LPMAK mencapai USD 266,9 juta, termasuk pada tahun 2012 LPMAK mendapatkan dana sebesar USD 39,4 juta. Penggunaan dana kemitraan tersebut dikelola oleh LPMAK melalui persetujuan dari Badan Pengurus dan Badan Musyawarah yang terdiri dari wakil-wakil pemerintah lokal, para tokoh Papua, pemimpin lokal masyarakat Amungme dan Kamoro, dan kami. Dana kemitraan yang dikelola oleh LPMAK pada tahun 2012 digunakan untuk program pengembangan masyarakat dengan komposisi sebagai berikut: program kesehatan (41%), program pendidikan (20%), program ekonomi (10%), aset (13%), administrasi program dan organisasi (9%), lembaga adat (3%), program terkait keagamaan (1%), dan program lainnya (2%). Pada tahun 2012, investasi kami mencapai lebih dari USD 24 juta (di luar pembangunan infrastruktur dan layanan lainnya yang didanai melalui dana kemitraan untuk Pengembangan Masyarakat). Investasi ini melipui dukungan kepada layanan kesehatan masyarakat dan penanganan penyakit malaria yang
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Petunjuk Pelaksanaan Adhikarya Pangan Nusantara Tahun 2013 (Sementara)

Petunjuk Pelaksanaan Adhikarya Pangan Nusantara Tahun 2013 (Sementara)

Sejak tahun 1979, Pemerintah melalui Departemen Pertanian telah memberikan apresiasi dengan menyelenggarakan lomba intensifikasi pertanian bagi kelompok tani nelayan. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi petani dan nelayan dalam meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan nelayan dalam berusaha tani tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Selain itu, Pemerintah juga telah memberikan penghargaan Tingkat Karya Bimbingan Intensifikasi kepada aparatur Satuan Pembina Bimbingan Masyarakat (Bimas) Provinsi dan Satuan Pelaksana Bimas Kabupaten/Kota yang telah berhasil meningkatkan koordinasi pelayanan intensifikasi. Kedua jenis kegiatan tersebut dinilai telah berhasil memberikan dampak yang positif, baik dalam rangka dinamisasi dan peningkatan peran serta petani dan kelompok tani, maupun aparat Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Desa dalam upaya meningkatkan kreativitas dan koordinasi.
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

METODE SKOR KONSUMSI PANGAN UNTUK MENILAI KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA

METODE SKOR KONSUMSI PANGAN UNTUK MENILAI KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA

Hasil uji korelasi Spearman menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara FCS dan MAR dengan nilai r=0,699 (p<0,01) dan ada hubungan yang signifikan antara FCS dan TKE dengan nilai r=0,420 (p<0,01). Semua tingkat kecukupan masing-masing zat gizi (NAR) berkorelasi positif secara signifikan dengan FCS. Secara kualitatif, metode FCS relatif lebih mudah dan lebih sederhana untuk pengambilan data konsumsi pangan rumah tangga. Ambang batas yang ditetapkan oleh WFP untuk mengidentifikasi rawan pangan terlalu rendah digunakan di daerah perkotaan khususnya Kota Bogor karena FCS tidak dapat mengidentifikasi rumah tangga yang rawan pangan (Se 0 persen dan Sp 100 persen). Cut- off point 89 untuk skor minimal FCS mampu mengidentifikasi rumah tangga yang rawan pangan (MAR<77%) dengan sensitivitas 82 persen dan spesifisitas 82 persen dan mampu mengidentifikasi TKE kurang dari 70 persen dengan sensitivitas 70 persen dan spesifisitas 67 persen.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Jurnal Ketahanan Pangan Rumah Tangga Rag

Jurnal Ketahanan Pangan Rumah Tangga Rag

Umur kepala rumah tangga memiliki pengaruh signifikan dan negatif terhadap ketahanan pangan rumah tangga, yang berarti meningkatnya umur kepala rumah tangga akan menurunkan ketahanan pangan rumah tangga. jika dilihat dari nilai odds ratio yang sebesar 0,989952 menunjukkan bahwa kepala rumah tangga yang lebih muda 1 tahun memiliki probabilitas 1,0101 kali lebih besar. Hal ini disebabkan karena umur kepala rumah tangga yang lebih muda dapat melakukan pekerjaan yang lebih berat dibandingkan kepala rumah tangga yang tua. Selain itu kepala rumah tangga yang tua sebagian besar sudah pensiun dari pekerjaan mereka sehingga tidak memiliki pendapatan (Bashir dkk, 2012).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PAKET UTAMA GEO113 Soal USBN SMA Geografi

PAKET UTAMA GEO113 Soal USBN SMA Geografi

4. Data angka kelahiran Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi peluang pasar di Indonesia. Tiap tahun, angka kelahiran meningkat rerata 1,49 persen dan sampai dengan akhir 2015 menunjukkan angka kelahiran bayi di Indonesia menyentuh angka 4.880.951 Jiwa. Prinsip geografi yang dapat digunakan untuk mengkaji hal tersebut adalah … .

15 Baca lebih lajut

Ketahanan Pangan Dan Gizi Bagi Keluarga Korban Gempa Dan Tsunami Di Kabupaten Pidie

Ketahanan Pangan Dan Gizi Bagi Keluarga Korban Gempa Dan Tsunami Di Kabupaten Pidie

Ketahanan Pangan Rumah Tangga sebagaimana hasil rumusan International Congres of Nutrition (ICN) yang diselenggarakan di Roma tahun 1992 mendefenisikan bahwa: “Ketahanan pangan rumah tangga (Household food security) adalah kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari”. Dalam sidang Committee on World Food Security 1995 definisi tersebut diperluas dengan menambah persyaratan “Harus diterima oleh budaya setempat (acceptable with given culture)”. Hal lain dinyatakan Hasan (1995) bahwa ketahanan pangan sampai pada tingkat rumah tangga antara lain tercermin oleh tersedianya pangan yang cukup dan merata pada setiap waktu dan terjangkau oleh masyarakat baik fisik maupun ekonomi serta tercapainya konsumsi pangan yang beraneka ragam, yang memenuhi syarat-syarat gizi yang diterima budaya setempat. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan dinyatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau.
Baca lebih lanjut

164 Baca lebih lajut

KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI (1)

KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI (1)

Variabel pengetahuan gizi ibu rumah tangga berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan pada tingkat kepercayaan sebesar 95%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi ibu dengan ketahanan pangan rumahtangga. Pengetahuan gizi terkait dengan keputusan ibu dalam memilih jenis dan jumlah pangan yang akan dikonsumsi untuk anggota rumah tangga, semakin baik pengetahuan gizi ibu maka ketahanan pangan rumah tangga dapat dicapai. Senada dengan hasil penelitian Hidayati (2011) yang menyatakan bahwa pengetahuan gizi ibu rumah tangga berpengaruh nyata terhadap tingkat ketahanan pangan rumah tangga.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN RUMAH TANGGA TANI

KETAHANAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN RUMAH TANGGA TANI

Petani adalah produsen pangan. Tentu pangan yang diproduksi tidak sebanyak yang bisa diproduksi di lahan yang subur dengan pengairan yang baik. Rata-rata petani hanya bisa menanam padi satu hingga paling banyak dua kali dalam setahun. Pada musim tanam ke dua ada yang masih ditanami padi, ada pula yang ditanami palawija. Pada musim tanam ketiga banyak yang ditanami palawija tetapi tidak sedikit yang dibiarkan kosong karena keterbatasan air. Kemandirian pangan dapat diketahui dari seberapa besar kebutuhan pangan rumah tangga tani dapat dicukupi dari produksi pangan mereka sendiri. Khusus untuk padi sebagai makanan pokok, petani daerah marginal di Kabupaten Bojonegoro sudah surplus dengan asumsi panenan mereka hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan saja, baru sisanya dijual untuk mencukupi kebutuhan lain.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Lokasi terletak di dusun Tundan, Taman Tirto, Bantul, Yogyakarta. Dengan kriteria sebagai berikut yaitu: rumah yang beratapkan genting, dengan dinding tembok, berlantai dasar(sudah bertekel), memiliki 6 ruang kamar, 1 ruang tamu dan 3 kamar mandi, serta memiliki 1 ruang untuk memasak atau dapur yang setiap harinya digunakan untuk memasak yang sudah menggunakan kompor gas.

11 Baca lebih lajut

KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

keseimbangan antara pembelian dan penjualan pangan beras. Ketersediaan pangan harus dikelola sedemikian rupa sehingga walaupun produksi pangan bersifat musiman, dan terbatas, tetapi volume pangan yang tersedia bagi rumah tangga harus cukup jumlah dan jenisnya serta stabil penyediaannya dari waktu ke waktu. Aspek distribusi pangan pada tingkat rumah tangga menyangkut aspek distribusi pangan antar rumah tangga atau di dalam rumah tangga itu sendiri. Pangan yang ada diharapkan dapat tersebar secara merata di dalam suatu rumah tangga. Hal ini berarti setiap individu di dalam rumah tangga tersebut dapat mengakses pangan dengan baik. Aspek konsumsi pangan di tingkat rumah tangga menyangkut konsumsi pangan yang diasup dengan memperhatikan asupan pangan dan gizi yang cukup dan berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...