Top PDF Efek Pemberian Entrasol dan Biskuit MP-ASI terhadap Peningkatan Berat Badan dan Panjang Badan Balita Gizi Kurang

Efek Pemberian Entrasol dan Biskuit MP-ASI terhadap Peningkatan Berat Badan dan Panjang Badan Balita Gizi Kurang

Efek Pemberian Entrasol dan Biskuit MP-ASI terhadap Peningkatan Berat Badan dan Panjang Badan Balita Gizi Kurang

Seperti diketahui bahwa perbandingan zat gizi yang terdapat dalam kedua jenis PMT terdapat perbedaan dalam kandungan mineral (makro dan mikro mineral) di mana PMT ENTRASOL mengandung lebih tinggi mineral penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Sesuai dengan peranan mineral yang sangat penting dalam tubuh, maka efek yang ditimbulkan terhadap pertumbuhan balita sangat optimal dan hal ini terlihat dari pengaruhnya lebih baik terhadap berat badan dan panjang badan. Salah satu mikromineral yang memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan adalah seng (Zn), di mana peranannya bukan saja disebabkan karena efeknya pada reflikasi sel dan metabolisme asam nukleat, tetapi juga karena VHQJ EHUSHUDQ VHEDJDL PHGLDWRU GDUL DNWL¿WDV KRUPRQ pertumbuhan. Selain itu seng juga berperan sebagai mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi dan PHPSXQ\DL IXQJVL ¿VLRORJLV SDGD SHQJHFDSDQ GDQ QDIVX makan (taste bud). (Almatsier, S., 2001) Salah satu gejala yang muncul akibat defisiensi seng adalah anoreksia, di mana terjadi penurunan nafsu makan dan bila terjadi pada anak-anak pada waktu yang cukup lama maka akan terjadi terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan. Mikrominearal lain yang juga banyak peranannya dalam pertumbuhan terutama pertumbuhan tulang adalah vitamin A, di mana peranannya yang sudah diketahui adalah mempengaruhi proses UHPRGHOLQJ sel-sel tulang rawan di efifise sehingga menjamin terjadinya siklus pertumbuhan normal, maturasi/pendewasaan dan degenerasi sel-sel osteblast. Bila disertai dengan persediaan mineral kalsium yang mencukupi, maka pertumbuhan sel-sel tulang rawan akan sangat optimal dan hal ini akan menentukan pertumbuhan tulang terutama tulang panjang, sehingga pengaruh yang nyata dapat terlihat adalah pertambahan panjang badan. (Linder M.C., 1992)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI PENGARUH PEMBERIAN MP-ASI BISKUIT TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMPUNG KABUPATEN BATANG

NASKAH PUBLIKASI PENGARUH PEMBERIAN MP-ASI BISKUIT TERHADAP PENINGKATAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMPUNG KABUPATEN BATANG

Kurang Energi Protein (KEP) sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Kurang Energi Protein (KEP) sendiri dikelompokkan menjadi dua yaitu gizi kurang (bila berat badan menurut umur dibawah 2SD), dan gizi buruk (bila berat badan menurut umur dibawah 3SD) (Istiono dkk, 2009). Ada berbagai macam indikator untuk menentukan permasalahan kesehatan masyarakat ditinjau dari status gizi balita. Indikator tersebut antara lain dengan melihat prevalensi balita gizi kurang, prevalensi balita pendek, dan prevalensi balita kurus. Permasalahan Kurang Energi dan protein (KEP), indikator dan ambang batas masalah kesehatan masyarakat yaitu bila prevalensi balita gizi kurang >10%, prevalensi balita pendek >20%, dan prevalensi balita kurus >5% (Hardinsyah dan Supariasa, 2014).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi Balita Berat Badan Menurut Umur (BBU) - Pengaruh Pemberian MP-ASI Biskuit Terhadap Peningkatan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Limpung Kabupaten Batang - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi Balita Berat Badan Menurut Umur (BBU) - Pengaruh Pemberian MP-ASI Biskuit Terhadap Peningkatan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Limpung Kabupaten Batang - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Provinsi yang dikenal berpendapatan daerah tergolong tinggi, seperti Riau, DKI Jakarta dan Kalimantan Timur, ternyata memiliki prevalensi gizi buruk di atas nasional pada RISKESDAS 2007. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2009, ternyata penduduk sangat rawan pangan di Kaltim cukup tinggi (30,09%), sedangkan di Riau dan DKI Jakarta masing-masing 14,15% dan 14,63%, angka nasional adalah 14,47 %. Pada tahun 2010, Provinsi Riau tetap berada di antara provinsi dengan prevalensi gizi buruk di atas nasional, meskipun sudah terjadi penurunan sebanyak 3%. Hal ini membuktikan bahwa gizi buruk bukan hanya disebabkan oleh faktor kemiskinan (Arnelia, 2009).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR DAN USIA PEMBERIAN MP-ASI DENGAN KEJADIAN BAWAH GARIS MERAH PADA BALITA DI DESA DUKUHMULYO KECAMATAN JAKENAN

HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN LAHIR DAN USIA PEMBERIAN MP-ASI DENGAN KEJADIAN BAWAH GARIS MERAH PADA BALITA DI DESA DUKUHMULYO KECAMATAN JAKENAN

memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI. Tujuan pemberian makanan pendamping ASI, untuk menambah energi dan zat-zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi pertambahan berat badan anak. Apabila setelah usia 6 bulan, berat badan anak tidak mengalami peningkatan, menunjukkan bahwa kebutuhan energi dan zat-zat gizi bayi tidak terpenuhi. Hal ini dapat disebabkan karena asupan makanan bayi hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan kurang memenuhi syarat (Depkes RI, 2006). Pemberian MP-ASI yang terlalu dini terhadap bayi sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti pemberian makanan berupa pisang, madu, air tajin, air gula, susu formula dan makanan lain sebelum bayi berumur 4 atau 6 bulan (Azrul, 2003).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

ALAT UKUR PANJANG DAN BERAT BADAN BALITA UNTUK MENENTUKAN KATEGORI STATUS GIZI BERBASIS ARDUINO UNO

ALAT UKUR PANJANG DAN BERAT BADAN BALITA UNTUK MENENTUKAN KATEGORI STATUS GIZI BERBASIS ARDUINO UNO

Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat dilakukan agar alat lebih maksimal yaitu penggunaan sensor ultrasonik HC SR04 digantikan SRF04 yang memiliki tingkat keakurasian lebih baik, sehingga hasil pengukuran akan menjadi lebih baik. Selain itu pada saat pengujian sensor Load Cell mengalami error, hal ini disebabkan peletakan beban tidak berada tepat di atas Load Cell. Agar pembacaan berat badan lebih presisi, perlu dilakukan penambahan sensor Load Cell.

8 Baca lebih lajut

Peningkatan Berat Badan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan di Puskesmas Pekan Labuhan Tahun 2013

Peningkatan Berat Badan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan di Puskesmas Pekan Labuhan Tahun 2013

Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan obesitas. Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif (Gibney, 2008). Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama pola makan. Pola makan berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menjadikan mutu makanan ke arah tidak seimbang. Dampak masalah gizi lebih tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, diabetes mellitus (DM), hipertensi, dan penyakit hati (Supariasa, 2002). Penanggulangan masalah gizi lebih adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik. Penyeimbangan masukan energy dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol (Almatsier, 2001).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Peningkatan Berat Badan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan di Puskesmas Pekan Labuhan  Tahun 2013

Peningkatan Berat Badan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan di Puskesmas Pekan Labuhan Tahun 2013

Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan, berat badan lebih (overweight) dan obesitas. Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif (Gibney, 2008). Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama pola makan. Pola makan berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidat, rendah serat kasar, dan tinggi lemak sehingga menjadikan mutu makanan ke arah tidak seimbang. Dampak masalah gizi lebih tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, diabetes mellitus (DM), hipertensi, dan penyakit hati (Supariasa, 2002). Penanggulangan masalah gizi lebih adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik. Penyeimbangan masukan energy dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol (Almatsier, 2001).
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Pengaruh Pendampingan Mp-Asi Berdasarkan Aspek Pengetahuan Ibu Dan Praktik Pemberian  Mp-Asi Balita Gizi Kurang Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngawen Kabupaten Blora

Pengaruh Pendampingan Mp-Asi Berdasarkan Aspek Pengetahuan Ibu Dan Praktik Pemberian Mp-Asi Balita Gizi Kurang Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngawen Kabupaten Blora

Sehingga berdasarkan kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pendampingan MP-ASI Ber- dasarkan Aspek Pengetahuan Ibu Dan Praktik Pemberian MP - ASI Balita Gizi Kurang Usia 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngawen Kabupaten Blora“. Jenis intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan dilakukannya pendampingan dalam pemberian MP-ASI selama 1 bulan. Metode ini pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan skor pengetahuan ibu dan praktik pemberian MP-ASI pada balita menjadi lebih baik.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Hubungan Berat Badan, Asi Eksklusif, Mp-asi dan Asupan Energi dengan Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan di Puskesmas Lubuk Buaya

Hubungan Berat Badan, Asi Eksklusif, Mp-asi dan Asupan Energi dengan Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan di Puskesmas Lubuk Buaya

The incidence of stunting in infants is one of the global nutritional problems. When compared with the limit of "non public health problems" WHO recruited for the problem of stunting by 20%, then almost all countries in the world experience public health problems. This study aims to determine the relationship between birth weight, exclusive breastfeeding, giving complementary feeding and energy intake with the incidence of stunting in infants aged 24-59 months in the working area of the Lubuk Buaya Health Center in Padang City. The design in this study was Cross Sectional (cross-sectional data. Birth weight data, Giving Exclusive ASI and Giving MP-ASI was obtained through interviews using a questionnaire. Energy Intake data was obtained through interviews using Quantitative Food Frequency (FFQ). with a total sample of 94 toddlers aged 24 - 59 months, the following results were obtained according to Lameshow (1997): in the group of toddlers aged 24 - 59 months who experienced stunting 60% of them had low birth weight as much as 17.4% of toddlers stunting no exclusive breastfeeding, 34.6% lack of complementary breastfeeding and 36.8% lack of energy intake in the stunting under-five group, stunting in 24 - 59 months of age with birth weight had a significant relationship ( p = 0.002) The provision of exclusive breastfeeding with the incidence of stunting in infants has a non-significant relationship (p = 0.327). MP-ASI supplementation with the incidence of stunting in infants aged 24 - 59 months had a significant relationship (p = 0.001). Energy intake with the incidence of stunting in infants has a significant relationship (p = 0.005). The conclusion of birth weight, complementary feeding, and energy intake had a significant relationship with the incidence of stunting in infants aged 24 - 59 months and exclusive breastfeeding did not have an insignificant relationship with the incidence of stunting in infants aged 24 - 59 months.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Analisis Pengetahuan Ibu Tentang Kenaikan Berat Badan Balita Usia 0-24 bulan Dengan Kejadian Balita Gizi Kurang  Di Kota Kediri

Analisis Pengetahuan Ibu Tentang Kenaikan Berat Badan Balita Usia 0-24 bulan Dengan Kejadian Balita Gizi Kurang Di Kota Kediri

gizi kurang .Masa balita merupakan masa yang menentukan dalam tumbuh kembangnya yang akan menjadikan dasar terbentuknya manusia seutuhnya. Karena itu pemerintah memandang perlu untuk memberikan suatu bentuk pelayanan yang menunjang tumbuh kembang balita secara menyeluruh terutama dalam aspek mental dan sosial. Pertumbuhan dan perkembangan saling mendukung satu sama lain perkembangan seorang anak tidak dapat maksimal tanpa dukungan atau optimalnya pertumbuhan. Misalnya seorang anak yang kekurangan gizi akan mempengaruhi perkembangan mental maupun sosialnya, oleh karena itu keduanya harus mendapat perhatian baik dari pemerintah, masyarakat maupun orang tua (Supariasa, 2012).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR (BBL) DAN PEMBERIAN ASI  Hubungan Berat Badan Lahir (bbl) dan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

PUBLIKASI KARYA ILMIAH HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR (BBL) DAN PEMBERIAN ASI Hubungan Berat Badan Lahir (bbl) dan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Pneumonia Pada Balita di Puskesmas Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.

Hipotesa yang mengatakan ada hubungan berat badan lahir dengan kejadian pneumonia ternyata dapat diterima. Hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa berat badan lahir mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia (p=0,015). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa risiko balita terkena pneumonia akan meningkat jika balita memiliki riwayat berat badan lahir yang rendah. Pada bayi BBLR, pembentukan sistem imunitas di dalam tubuhnya kurang sempurna sehingga akan lebih mudah terkena penyakit infeksi terutama pneumonia dan penyakit saluran pernapasan lainnya. Semakin rendah berat badan lahir bayi, ukuran alveoli cenderung lebih kecil dan pembuluh darah yang mengelilingi stroma seluler matur
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan Riwayat Pemberian ASI dan Pola MP ASI dengan Kenaikan Berat Badan Minimal Bayi di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar.

Hubungan Riwayat Pemberian ASI dan Pola MP ASI dengan Kenaikan Berat Badan Minimal Bayi di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar.

HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI DAN POLA MP ASI DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN MINIMAL BAYI DI KECAMATAN TASIKMADU KABUPATEN KARANGANYAR TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyara[r]

1 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PEMBERIAN KABOHIDRAT DAN PROTEIN TELUR TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN PADA ANAK BALITA GIZI BURUK

PERBEDAAN PEMBERIAN KABOHIDRAT DAN PROTEIN TELUR TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN PADA ANAK BALITA GIZI BURUK

Meskipun dalam penelitian ini terdapat kenaikan berat badan pada balita yang dibe- rikan karbohidrat, tetapi hal tersebut tidak menunjukkan adanya perubahan status gizi balita. Penelitian ini hanya melihat pada ke- naikan berat badan pada balita gizi buruk. Hasil penelitian ini juga sependapat dengan hasil penelitian Iwan, S, dkk. (2003) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan be- rat badan yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian PMT-P tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan pada status gizi. Pengujian hipotesis dengan paired t test diperoleh hasil p = 0,0055 (one tailed). Di mana nilai p < 0,05. Keputusan uji diper- oleh ada pengaruh pemberian protein telur terhadap kenaikan berat badan anak balita gizi buruk di wilayah Kabupaten Peka- longan. Setiap butir telur rebus mengandung 77 kalori yang terdiri atas 64% lemak, 3% karboidrat, dan 33% adalah protein.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Riwayat Pemberian ASI dan Pola MP ASI dengan Kenaikan Berat Badan Minimal Bayi di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar RINGKASAN TESIS

Hubungan Riwayat Pemberian ASI dan Pola MP ASI dengan Kenaikan Berat Badan Minimal Bayi di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar RINGKASAN TESIS

Status gizi balita di Kabupaten Karanganyar mencapai 89,5%, artinya status gizi balita di Kabupaten Karanganyar dalam kategori baik. Namun masih banyak ditemukan bayi yang tidak naik berat badannya. Hasil studi pendahuluan di Kabupaten Karanganyar pada september 2015, menunjukan 1.287 berat bayi rendah (BBR), 191 berat bayi sangat rendah (BBSR) dan 407 atau sekitar 65% anak yang berat badan nya berada di bawah garis merah (BGM). Tasikmadu adalah salah satu Kecamatan yang memiliki angka tertinggi kasus gizi kurang. Ditemukan bayi umur 6- 12 bulan yang mengalami gizi kurang 134 bayi, tidak naik berat badan satu kali (T=157 bayi), tidak naik berat badan selama 2x berturut-turut (T2=48 bayi), atau sekitar 33% bayi mengalami masalah status gizi dilihat dari berat badan bayi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP PENINGKATKAN BERAT BADAN PADA BALITA GIZI KURANG USIA BULAN DI PUSKESMAS IMOGIRI II KABUPATEN BANTUL

PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP PENINGKATKAN BERAT BADAN PADA BALITA GIZI KURANG USIA BULAN DI PUSKESMAS IMOGIRI II KABUPATEN BANTUL

Salah satu permasalahan kesehatan yang dijumpai di masyarakat dewasa ini adalah gizi kurang. Keadaan gizi dapat dipengaruhi oleh keadaan fisiologis dan juga oleh keadaan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada saat ini, selain dampak dari krisis ekonomi yang masih terasa, juga keadaan dampak bencana nasional mempengaruhi status kesehatan pada umumnya dan status gizi khususnya. Keadaan gizi meliputi proses penyediaan dan penggunaan gizi untuk pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan aktifitas. Kurang gizi dapat terjadi dari beberapa akibat, yaitu ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorbsi dan penyakit infeksi (Anonim, 2002). Pada Kartu Menuju Sehat (KMS) dapat dilihat adanya kurva mendatar atau menurun di bawah garis titik-titik yang menandakan berat badan balita tidak sesuai dengan umurnya. Untuk itu balita gizi kurang perlu mendapatkan penaganan yang tepat agar berat badannya kembali normal sesuai dengan umurnya dan tidak menjadi lebih berat menjadi gizi buruk seperti marasmus dan kwashiorkor atau kedua-duanya yakni marasmic kwashiorkor.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI BERAT BADAN LAHIR, LAMA PEMBERIAN ASI DAN ASI EKSKLUSIF SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING BALITA DI DESA LANGENSARI KABUPATEN SEMARANG

NASKAH PUBLIKASI BERAT BADAN LAHIR, LAMA PEMBERIAN ASI DAN ASI EKSKLUSIF SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING BALITA DI DESA LANGENSARI KABUPATEN SEMARANG

Penyapihan ialah istilah yang digunakan untuk menyebut periode transisi dimana bayi masih diberi makanan cair, ASI ataupun susu formula, tetapi juga secara bertahap diperkenalkan pada makanan padat (Winarno, 1980). Istilah “ weaning ” (menyapih) berarti mengenalkan makanan padat bersama pemberian susu (ASI atau susu formula), dan bukan proses memisahkan bayi dari payudara ibunya (Suhardjo, 1989). Proses penyapihan pada anak dimulai pada waktu yang berlainan. WHO dan UNICEF merekomendasikan agar bayi diberikan ASI sampai usia dua tahun.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kesesuaian Komposisi Gizi dan Klaim Kandungan Gizi pada Produk Mp-asi Bubuk Instan dan Biskuit

Kesesuaian Komposisi Gizi dan Klaim Kandungan Gizi pada Produk Mp-asi Bubuk Instan dan Biskuit

Makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) merupakan salah satu sumber zat gizi pada anak usia 6 – 24 bulan. Namun demikian, kandungan zat gizi pada MP-ASI belum dikonfirmasi dengan standar internasional serta nasional, serta permasalahan gizi di Indonesia.Penelitian produk MP-ASI pabrikan bertujuan untuk mengkonfirmasi kesesuaian kandungan gizi dengan standar dan mengidentifikasi klaim kandungan gizi yang paling banyak muncul. Sampel penelitian ini adalah sembilan sampel MP-ASI bubuk instan dan lima sampel biskuit yang dipilih secara purposif dan mewakili merek dagang dan jenisnya. Kesesuaian kandungan gizi diukur menggunakan informasi kandungan gizi yang terdapat pada label produk dan dibandingkan dengan standar internasional dari Codex Alimentarius (CAC/GL 8-1991) serta Standar Nasional Indonesia (SNI MP-ASI 2005). Tingkat kesesuaian zat gizi pada MP-ASI bubuk instan dengan Codex Alimentarius mencapai 88 persen Sedangkan kesesuaian kandungan zat gizi pada MP-ASI biskuit dengan Codex Alimentarius hanya sekitar 31 persen. Jika dibandingkan dengan SNI baik untuk bubuk instan maupun biskuit, sebanyak 94 persen zat gizi pada MP-ASI bubuk instan dan 86 persen pada MP-ASI biskuit sudah memenuhi SNI. Klaim kandungan gizi dengan frekuensi kemunculan tertinggi berturut-turut pada MP-ASI bubuk instan dan biskuit adalah zat besi, kalsium, protein, serat pangan, dan vitamin A. Tiga dari lima zat gizi ini merupakan zat gizi yang berkaitan erat dengan masalah gizi yang ada di Indonesia yaitu Anemia, Kekurangan Energi Protein (KEP), dan Kekurangan Vitamin A (KVA). [Penel Gizi Makan 2017, 40(2):77-86]
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PRAKTIK PEMBERIAN MAKANANTAMBAHAN (PMT) DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN BALITA

HUBUNGAN ANTARA PRAKTIK PEMBERIAN MAKANANTAMBAHAN (PMT) DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN BALITA

Untuk menciptakan anak yang sehat tersebut maka diperlukan upaya gizi yang seimbang. Pemberian makanan tambahan pada anak merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan gizi anak sehingga anak dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Menurut Husaini (2001) makanan tambahan adalah makanan untuk bayi selain dari ASI ataupun susu botol, sebagai penambahan kekurangan ASI atau susu pengganti (PASI). Pemberian makanan tambahan pada bayi terutama makanan padat justru menyebabkan banyak infeksi, kenaikan berat badan, alergi pada salah satu zat gizi yang terdapat dalam makanan (Pudjiaji, 2008).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBERIAN JUS KACANG KEDELAI DAN MELON TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI DAN BERAT BADAN BAYI DI PUSKESMAS TIGARAKSA

PEMBERIAN JUS KACANG KEDELAI DAN MELON TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI DAN BERAT BADAN BAYI DI PUSKESMAS TIGARAKSA

Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi Karena mengandung kebutuhan energi dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Hasil pengamatan data di KIA Puskesmas Tigaraksa terletak di Kabupaten Tangerang masih ada bayi yang mengalami masalah dalam perkembangan dan informasi cakupan ASI eksklusif yang hanya mencapai 55,89% pada tahun 2019 (dibawah target Nasional yaitu 90%). Tujuan Penelitian untuk mengetahui apakah ada pengaruh dalam pemberian jus susu kacang kedelai dan melon terhadap peningkatan produksi asi dan berat badan bayi. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode pre eksperiment dengan rancangan The One Grup Pretest-Posttest Design sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 20 responden. Intervensi yang dilakukan adalah memberikan jus kacang kedelai dan melon sebanyak 200 ml selama 7 hari. Uji analisis menggunakan Uji T satu kelompok berpasangan. Hasil didapatkan nilai p-Value 0.00 yang artinya pemberian jus susu kacang kedelai dan melon efektif dalam meningkatkan ASI dan berat badan bayi pada ibu menyusui. Jus kacang kedelai dan melon dapat dijadikan alternative untuk menambah produksi ASI.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects