Top PDF PEMBERONTAKAN PKI DI MADIUN TAHUN 1948

PEMBERONTAKAN PKI DI MADIUN TAHUN 1948

PEMBERONTAKAN PKI DI MADIUN TAHUN 1948

Begitu juga dalam buku berjudul Gerakan 30 September Pemberontakan PKI : Latar belakang, aksi, dan pemumpasannya yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia, buku berj[r]

188 Baca lebih lajut

PERANCANGAN FILM DOKUMENTER DIBALIK PERISTIWA PEMBERONTAKAN PKI MADIUN TAHUN 1948 | Adhitya | Jurnal DKV Adiwarna 4410 8400 1 SM

PERANCANGAN FILM DOKUMENTER DIBALIK PERISTIWA PEMBERONTAKAN PKI MADIUN TAHUN 1948 | Adhitya | Jurnal DKV Adiwarna 4410 8400 1 SM

Peristiwa PKI Madiun tahun 1948 merupakan sebuah konflik kekerasan yang terjadi di Madiun, Jawa Timur antara PKI (Partai Komunis Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Peristiwa ini telah merugikan masyarakat sekitar, mereka banyak kehilangan harta dan nyawa. Namun, saat ini tidak banyak media yang mengangkat tentang peristiwa Madiun 1948 ini. Film Dokumenter ini dibuat untuk mengetahui apa yang sebenarnya melatar belakangi peristiwa pemberontakan PKI di Madiun itu terjadi, di dalam film ini ada beberapa tokoh sejarah yang pernah mengalami secara langsung peristiwa Madiun, mereka akan bercerita tentang pengalaman mereka beperang melawan komunis, dan bercerita tentang situasi Madiun saat itu, dan ditutup oleh sejahrawan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

20001115 Tindak pidana ketatanegaraan Jur A Hamzah

20001115 Tindak pidana ketatanegaraan Jur A Hamzah

Ternyata ceritera tentang riwayat aanslag atau maker itu juga terulang lagi dengan pecahnya G 30 S, yang hampir saja komunis berkuasa di Indonesia. Pengaruh trauma akan pemberontakan PKI yang sudah dua kali terjadi, yaitu Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan G 30 S tahun 1965, membawa pengaruh sehingga penyusun Rancangan KUHP baru menciptakan tambahan delik ideologi ke dalam Bab Delik terhadap Keamanan Negara dengan nama baru Tindak Pidana Terhadap Proses Kehidupan Ketatanegaraan (Bab I Buku II).

6 Baca lebih lajut

REVOLUSI PKI MADIUN TAHUN 1948.

REVOLUSI PKI MADIUN TAHUN 1948.

Þ»®¼¿-¿®µ¿² ¸¿-·´ °»²»´·¬·¿² ¼¿°¿¬ ¼·-·³°«´µ¿²æ øï÷ Ô¿¬¿® ¾»´¿µ¿²¹ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¿¼¿´¿¸ ¿µ·¾¿¬ ¾»®µ»³¾¿²¹²§¿ °¿¸¿³ µ±³«²·- §¿²¹ ³»³°»²¹¿®«¸· -·¬«¿-· °±´·¬·µ ײ¼±²»-·¿ò λµ±²-¬®«µ-· ¼¿² ο-·±²¿´·-¿-· ¼·´¿µ-¿²¿µ¿² µ¿¾·²»¬ Ø¿¬¬¿ ¶«¹¿ ³»²·³¾«´µ¿² ®»¿µ-· ¼¿®· °·¸¿µ µ±³«²·-ô -»¸·²¹¹¿ ³»²·³¾«´µ¿² µ±²º´·µ ¼· µ±¬¿ ͱ´± §¿²¹ ¾»®¼»µ¿¬¿² ¼»²¹¿² Ó¿¼·«²ò Õ±²º´·µ ¼· ͱ´± ³»²¶¿¼· °»²§»¾¿¾ °»®·-¬·©¿ Ó¿¼·«² ïçìèò øî÷ л®·-¬·©¿ ·²· ¼·³«´¿· ¼»²¹¿² °®±µ´¿³¿-· ²»¹¿®¿ ͱª·»¬ λ°«¾´·µ ײ¼±²»-·¿ò Ì»®¶¿¼· °»²½«´·µ¿² ¬±µ±¸ó¬±µ±¸ -·°·´ ³¿«°«² ³·´·¬»® ¼· °»³»®·²¬¿¸¿² ¿¬¿«°«² ¬±µ±¸ó¬±µ±¸ ³¿-§¿®¿µ¿¬ ¼¿² ¿¹¿³¿ò п¼¿ -¿¿¬ µ»µ±-±²¹¿² °·³°·²¿² ÌÒ× ¼· Ö¿©¿ Ì·³«®ô Pemerintah Hatta menuduh telah terjadi “Pemberontakan PKI” sehingga ¼·µ»®¿¸µ¿² µ»µ«¿¬¿² ¾»®-»²¶¿¬¿ ±´»¸ Ø¿¬¬¿ «²¬«µ ³»²«³°¿- °»³¾»®±²¬¿µ¿²ò л³¾»®±²¬¿µ¿² ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¸¿²§¿ -»¾»´¿- ¸¿®·ò øí÷ Ü¿³°¿µ ¼¿®· °»®·-¬·©¿ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¬»®¶¿¼· ¼¿´¿³ ¾·¼¿²¹ °±´·¬·µ ¼¿² -±-·¿´ò л®·-¬·©¿ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ³»²¹¿µ·¾¿¬µ¿² µ»µ¿½¿«¿² °±´·¬·µ ¼¿² ¬»®¾«²«¸²§¿ -»¶«³´¿¸ ¬±µ±¸ ³¿-§¿®¿µ¿¬ò
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

REVOLUSI PKI MADIUN TAHUN 1948.

REVOLUSI PKI MADIUN TAHUN 1948.

Þ»®¼¿-¿®µ¿² ¸¿-·´ °»²»´·¬·¿² ¼¿°¿¬ ¼·-·³°«´µ¿²æ øï÷ Ô¿¬¿® ¾»´¿µ¿²¹ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¿¼¿´¿¸ ¿µ·¾¿¬ ¾»®µ»³¾¿²¹²§¿ °¿¸¿³ µ±³«²·- §¿²¹ ³»³°»²¹¿®«¸· -·¬«¿-· °±´·¬·µ ײ¼±²»-·¿ò λµ±²-¬®«µ-· ¼¿² ο-·±²¿´·-¿-· ¼·´¿µ-¿²¿µ¿² µ¿¾·²»¬ Ø¿¬¬¿ ¶«¹¿ ³»²·³¾«´µ¿² ®»¿µ-· ¼¿®· °·¸¿µ µ±³«²·-ô -»¸·²¹¹¿ ³»²·³¾«´µ¿² µ±²º´·µ ¼· µ±¬¿ ͱ´± §¿²¹ ¾»®¼»µ¿¬¿² ¼»²¹¿² Ó¿¼·«²ò Õ±²º´·µ ¼· ͱ´± ³»²¶¿¼· °»²§»¾¿¾ °»®·-¬·©¿ Ó¿¼·«² ïçìèò øî÷ л®·-¬·©¿ ·²· ¼·³«´¿· ¼»²¹¿² °®±µ´¿³¿-· ²»¹¿®¿ ͱª·»¬ λ°«¾´·µ ײ¼±²»-·¿ò Ì»®¶¿¼· °»²½«´·µ¿² ¬±µ±¸ó¬±µ±¸ -·°·´ ³¿«°«² ³·´·¬»® ¼· °»³»®·²¬¿¸¿² ¿¬¿«°«² ¬±µ±¸ó¬±µ±¸ ³¿-§¿®¿µ¿¬ ¼¿² ¿¹¿³¿ò п¼¿ -¿¿¬ µ»µ±-±²¹¿² °·³°·²¿² ÌÒ× ¼· Ö¿©¿ Ì·³«®ô Pemerintah Hatta menuduh telah terjadi “Pemberontakan PKI” sehingga ¼·µ»®¿¸µ¿² µ»µ«¿¬¿² ¾»®-»²¶¿¬¿ ±´»¸ Ø¿¬¬¿ «²¬«µ ³»²«³°¿- °»³¾»®±²¬¿µ¿²ò л³¾»®±²¬¿µ¿² ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¸¿²§¿ -»¾»´¿- ¸¿®·ò øí÷ Ü¿³°¿µ ¼¿®· °»®·-¬·©¿ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ¬»®¶¿¼· ¼¿´¿³ ¾·¼¿²¹ °±´·¬·µ ¼¿² -±-·¿´ò л®·-¬·©¿ ®»ª±´«-· ÐÕ× ¼· Ó¿¼·«² ³»²¹¿µ·¾¿¬µ¿² µ»µ¿½¿«¿² °±´·¬·µ ¼¿² ¬»®¾«²«¸²§¿ -»¶«³´¿¸ ¬±µ±¸ ³¿-§¿®¿µ¿¬ò
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

DINAMIKA PKI DI INDONESIA TAHUN 1950-1965

DINAMIKA PKI DI INDONESIA TAHUN 1950-1965

Pasca peristiwa Madiun, kekuatan PKI di Indonesia mengalami kelemahan. Penumpasan pemberontakan PKI yang dilakukan oleh pemerintah, menyebabkan kekuatan PKI mengalami kelumpuhan. Namun, memasuki masa Demokrasi Liberal PKI mampu bangkit dari keterpurukan dan dalam perkembangannya mampu mempertahankan eksistensi partai selama masa Demokarasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Hal tersebut yang melatar belakangi ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian dan mengkaji masalah mengenai Dinamika PKI di Indonesia tahun 1950-1965.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PERJUANGAN KAUM KIRI DI MADIUN 1948

PERJUANGAN KAUM KIRI DI MADIUN 1948

Pamflet yang dikeluarkan Tan Malaka ternyata tidak mampu menghentikan keinginan para petinggi PKI seperti Muso, Alimin, Semaun dan para petani untuk melakukan pemberontakan dan pemogokan. Pandangan Tan Malaka ini terbukti ketika pemogokan dan pemberontakan para petani serta PKI dapat dipatahkan oleh Belanda. Pemogokan dan pemberontakan para petani serta PKI yang belum tepat waktunya harus dibayar mahal. Mahkamah Agung Hindia Belanda memerintahkan penangkapan semua orang PKI. Sebanyak 13.000 orang ditahan dan 4.500 orang dipenjarakan dan 1.380 orang dibuang ke Boven Digul. Sementara itu para petinggi-petinggi PKI seperti Alimin, Muso, Semaoen melarikan diri ke Rusia. Oleh karena itu Patai Komunis Indonesia kemudian terpaksa berkerja di bawah tanah berhubungan dengan kehilangan pemimpin- pemimpin intelektualnya. Kegiatan-kegiatannya makin lama tidak terkoordinasi secara baik. Tahun 1935 Muso kembali ke tanah air dan sempat berusaha mendirikan PKI-ilegal, akan tetapi usaha Muso untuk menghidupkan PKI seperti semula tidak berhasil. Keadaan semakin tidak menguntungkan kaum kiri ketika kedatangan Jepang ke Indonesia.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

PERANAN WANITA DESA SOCO BENDO MAGETAN DALAM MENGATASI DAMPAK PSIKOLOGI SOSIAL PASCA MADIUN AFFAIR 1948 (STUDI SEJARAH SOSIAL) | Hanif | AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA 128 229 1 SM

PERANAN WANITA DESA SOCO BENDO MAGETAN DALAM MENGATASI DAMPAK PSIKOLOGI SOSIAL PASCA MADIUN AFFAIR 1948 (STUDI SEJARAH SOSIAL) | Hanif | AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA 128 229 1 SM

Menurut Priyono Kepala Desa Soco, peristiwa tragis ditahun 1948 yang dilakukan oleh PKI di desa Soco diperoleh dari orang tua serta membaca buku. PKI dalam mencapai tujuan ternyata menghalalkan ber- bagai cara seperti perampokan, penculikan dan pembunuhan, ter- hadap tokoh-tokoh pemerintah, masyarakat, agama. Pembantaian yang dilakukan orang-orang PKI di sumur Soco merupakan perbuatan keji dan tidak mengenal peri- kemanusiaan. Dengan membayang- kan peristiwa yang terjadi di desa Soco pada tahun 1948, sebagai anak bangsa merasa takut dan ngeri oleh karena itu belajar dari pengalaman sejarah sangatlah penting, harus waspada terhadap segala kemung- kinan walaupun kita hidup di zaman kebebasan dan keterbukaan, karena PKI bahaya laten. Ia berharap peristiwa-peristiwa yang menakut- kan itu tidak terulang lagi selama- lamanya khususnya di desa Soco dan di seluruh tanah air Indonesia pada umumnya.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PKI dan proses pemilu 1955 (1)

PKI dan proses pemilu 1955 (1)

Senior (Semaun, Muso, Alimin) dengan Founding Fathers yang lebih menekankan sinergitas keberlangsungan hidup masyarakat beragama di dalam pandangan politik bernegara. Terbukti dengan adanya pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948 akibat ide Musso yang ingin mendirikan Republik Sovyet Indonesi. Namun, usaha tersebut menemui jalan buntu dan bahkan sang pemimpin pergerakan pun meninggal ditempat. Pergerakan itu ditafsirkan oleh Soekarno dan Hatta sebagai suatu bentuk pemisahan diri dari NKRI. Tetapi perlu kita liat juga sudut pandang Musso yang menginginkan Imperialisme dan Kolonialisasi Barat itu sama sekali tidak masuk kembali ke Indonesia. Sehingga, ekses pergerakan Muso ini berupa citra PKI yang buruk.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

Andi Abdul Azis asli Bugis putra orang Bugis. Andi Azis lahir tanggal 19 September 1924, di Simpangbinangal, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Pendidikan umumnya di Europe Leger School namun tidak sampai tamat. Andi Azis kemudian dibawa seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda ke negeri Belanda. Di Negeri Belanda tahun 1935 ia memasuki Leger School dan tamat tahun 1938, selanjutnya meneruskan ke Lyceum sampai tahun 1944. Sebenarnya Andi Azis sangat berhasrat untuk memasuki sekolah militer di negeri Belanda untuk menjadi menjadi seorang prajurit. Tetapi niat itu tidak terlaksana karena pecah Perang Dunia II. Kemudian Andi Azis memasuki Koninklijk Leger. Di KL, Andi Azis bertugas sebagai tim pertempuran bawah tanah melawan Tentara Pendudukan Jerman (NAZI). Dari pasukan bawah tanah kemudian Andi Azis dipindahkan kebelakang garis pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam. Karena di Eropa kedudukan sekutu semakin terjepit, maka secara diam-diam Andi Azis dengan kelompoknya menyeberang ke Inggris, daerah paling aman dari Jerman—walaupun sebelum 1944 sering mendapat kiriman bom Jerman dari udara.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

PARTAI DAN KOMUNIS DI INDONESIA

PARTAI DAN KOMUNIS DI INDONESIA

Peristiwa ini diawali dengan diproklamasikannya Negara Republik Soviet Indonesia pada tanggal 18 September 1948 di Kota Madiun oleh Muso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia dengan didukung pula oleh Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifoeddin. Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun, dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan Pemberontakan PKI Madiun. Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun,baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama). 12
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Benturan NU PKI 1948  1965

Benturan NU PKI 1948 1965

Pandangan PKI semacam itu terjadi karena PKI tidak pernah melihat apalagi mengakuai tindakannya selama belasan tahun sebelum peristiwa 1965 yang penuh teror dan kekejaman. Ketika d i s a p u o l e h p a r a m u s u h n y a m e r e k a m e r e n g e k m i n t a perlindungan, merasa tidak bersalah, merasa didlolimi. Padahal ketika PKI membuat aksi sepihak, maka pihak lain merespon sehingga terjadi pertempuran horizontal. Dalam sebuah konflik horizontal mana korban mana pelaku menjadi sangat rumit, tetapi motifnya sangat jelas, yang satu menyerang untuk mewujudkan ambisinya, pihak yang lain bertahan untuk membela negara dan agama. Motif itu yang membedakan keduanya sebab keduanya pelaku dan kedua belah pihak terdapat korban. Kenyataan ini yang dihapus oleh PKI ketika kalah perang. Maka yang dilakukan sekarang mengadu pada para juragan mereka para Belanda itu. Dalam sebuah konflik sosial memang antara aktor dan korban tidak bisa dilihat secara hitam putih sebagaimana PKI dan para pengamat melihatnya. Apalagi dalam kenyataannya juga ratusan korban dari kalangan kiai. Apalagi kalau dihitung sejak dari peristiwa Madiun hingga Peristiwa 1965 banyak sekali kalangan kiai, dan Ansor yang menjadi korban keganasa PKI. Sementara PKI menutupi kenyataan itu, sehingga merasa dirinya tidak salah hanya dijadikan sasaran kekerasan oleh NU dan TNI. Cara pandang dan berbagai klaim itulah yang hendak dijelaskan dalam buku ini.
Baca lebih lanjut

176 Baca lebih lajut

PERAN SANTRI PONDOK MODERN DARUSSAALAM GONTOR PONOROGO DALAM MENANGKAL PEMBERONTAKAN PKI (PARTAI KOMUNIS INDONESIA) 1948 M.

PERAN SANTRI PONDOK MODERN DARUSSAALAM GONTOR PONOROGO DALAM MENANGKAL PEMBERONTAKAN PKI (PARTAI KOMUNIS INDONESIA) 1948 M.

Keadaan semacam itulah yang sempat dialami oleh Kyai Imam Zarkasyi dan santri-santrinya waktu itu. Kondisi ini sempat berjalan sampai beberapa minggu. Sayangnya, kesungguhan yang ia tampakkan rupanya sempat diganngu orang juga. Diam-diam, ternyata ada salah seorang penduduk kampung yang melaporkan kegiatan tersebut kepada pemerintah Jepang, melalui sepucuk surat. Ia melaporkan ini kepada pejabat Pemerintah di Ponogoro. Untungnya, orang yang menerima surat itu adalah Patih Wibowo, seoarang pejabat yang baik. Meski ia sempat mengecek surat itu ke Gontor, namun setelah mengadakan dialog dengan Kyai Imam Zarkasyi dan Ahmad Sahal, akhirnya dapat disimpulkan bahwa isi pengaduan tersebut hanyalah hasutan belaka. Pengaduan dianggap tidak ada, dan masalah dianggap selesai. Selamatlah Pondok Gontor, dan pemimpin pondok KH.Imam Zarkasyi dan KH. Ahmad Sahal. Kalau tidak, mereka diajukan Kempeitai (Polisi Militer) Jepang yang terkenal kejam untuk Diadili.Pengawasan Jepang terhadap kegiatan pendidikan pada tahun 1943-an itu memang sangat ketat, termasuk kepada pondok-pondok pesantren.Sampai-sampai ada kyai yang dikejar-kejar atau dianiaya jika ternyata ketahuan membangkang.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Pemberontakan Pki-musso Di Madiun 18 - 30 September 1948.

Pemberontakan Pki-musso Di Madiun 18 - 30 September 1948.

agar memihak kepadanya. Akan tetapi usaha PKI tersebut gagal, sehingga keadaan bertambah meruncing. Dengan te- rang-terangan para pemuda menyatakan dirinya tetap taat ke- pada pemerintah RI. Tanpa menghiraukan bahaya yang mengancam jiwanya, para pemuda pelajar itu dengan penuh keberanian menempelkan plakat-plakat di setiap pelosok kota yang bertemakan anti Musso. Karena dianggap membahaya- kan, sekali lagi pihak pemberontak berusaha menarik simpati para pelajar dengan menyelanggarakan rapat pada tanggal 27 September 1948. dalam rapat tersebut Residen PKI Abdulmutalib memberi janji-janji muluk kepada kurang lebih 6000 pelajar yang hadir pada waktu itu. Ia menjanjikan akan membebaskan uang sekolah bagi pelajar Sekolah Rakyat dan Sekolah lanjutan Pertama. Sedangkan para murid yang putus hubungan dengan orang tuanya akan mendapat jaminan penuh serta janji-janji lainnya. Tetapi semua janji tersebut de- ngan spontan ditolak oleh para pemuda pelajar, bahwa me- reka tidak membtuhkan semua itu, bahkan mereka menuntut agar Muljadi diganti. Karena rapat tidak mencapai hasil yang diharapkan, serta melihat suasana semakin runcing, maka ra- pat kemudian dibubarkan. 148
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

DINAMIKA PKI DI INDONESIA TAHUN 1950-1965

DINAMIKA PKI DI INDONESIA TAHUN 1950-1965

Pasca peristiwa Madiun, kekuatan PKI di Indonesia mengalami kelemahan. Penumpasan pemberontakan PKI yang dilakukan oleh pemerintah, menyebabkan kekuatan PKI mengalami kelumpuhan. Namun, memasuki masa Demokrasi Liberal PKI mampu bangkit dari keterpurukan dan dalam perkembangannya mampu mempertahankan eksistensi partai selama masa Demokarasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Hal tersebut yang melatar belakangi ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian dan mengkaji masalah mengenai Dinamika PKI di Indonesia tahun 1950-1965.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Bung Hatta dalam menghadapi pemberontakan PKI [Partai Komunis Indonesia] di Madiun 18 September 1948 - USD Repository

Bung Hatta dalam menghadapi pemberontakan PKI [Partai Komunis Indonesia] di Madiun 18 September 1948 - USD Repository

Berkaitan dengan Front Nasional, Muso juga berpendapat supaya dibentuk suatu kabinet yang terdiri dari wakil-wakil Front Nasional yang paling cakap sebagai jalan untuk meneguhkan pemerintahan. 35 Dari pendapat Muso ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Kabinet Hatta harus mundur dan diganti dengan kabinet baru yang beranggotakan wakil-wakil dari Front Nasional. Untuk merealisasikan terbentuknya Front Nasional, PKI pertama kali mengajak dua partai terbesar yaitu Masyumi dan PNI untuk bergabung ke dalam front tersebut. Upaya ini ternyata sia- sia dan gagal sebagai akibat Masyumi dan PNI menolak tawaran tersebut. Secara formal Masyumi menolak pada tanggal 11 September 1948 dan PNI menolak pada tanggal 13 September 1948. Gagalnya upaya pembentukan Front Nasional ini semakin meyakinkan Muso bahwa jalur parlementer sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk memperjuangkan partainya agar dapat ambil bagian dalam pemerintahan dan dalam memperjuangkan cita-cita partainya, yaitu memegang kendali dalam memimpin revolusi rakyat Indonesia menggunakan dasar perjuangan kaum komunis. Sebagai dampaknya muncul peristiwa yang terkenal dengan sebutan Peristiwa Madiun 1948.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik konflik Internal Lainnya (1948 1965)

Bab 12 Peristiwa Tragedi Nasional dan Konflik konflik Internal Lainnya (1948 1965)

Pemberontakan Andi Azis terjadi di Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Kapten Andi Azis, bekas perwira KNIL yang baru diterima ke dalam APRIS. Latar belakang pemberontakan ini adalah sikap Andi Azis yang menolak masuknya pasukan APRIS dari TNI ke Sulawesi Selatan. Selain itu, mereka juga menginginkan untuk mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur (NIT). Sementara itu, di Makassar sendiri terjadi ketegangan karena adanya demonstrasi antara rakyat yang antifederal dengan rakyat yang setuju dengan sistem federal. Untuk mengatasi pemberontakan Andi Azis, pemerintah pusat RIS pada tanggal 6 April 1950 mengeluarkan ultimatum yang menginstruksikan agar Andi Azis dalam waktu 4 × 24 jam datang ke Jakarta
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Makalah Pendidikan Pancasila dan Kewarga (1)

Makalah Pendidikan Pancasila dan Kewarga (1)

Tanggal 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo (RM Suryo) dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Ngawi. Ketiga orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Muwardi dari golongan kiri, diculik dan dibunuh. Tuduhan langsung dilontarkan, bahwa pihak lainlah yang melakukannya. Di antara yang menjadi korban juga adalah Kol. Marhadi yang namanya sekarang diabadikan dengan Monumen yang berdiri di tengah alun-alun Kota Madiun dan nama jalan utama di Kota Madiun. Kelompok kiri menuduh sejumlah petinggi Pemerintah RI saat itu, termasuk Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta telah dipengaruhi oleh Amerika Serikat untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia, sejalan dengan doktrin Harry S. Truman, Presiden AS yang mengeluarkan gagasan Domino Theory. Truman menyatakan, bahwa apabila ada satu negara jatuh ke bawah pengaruh komunis, maka negara-negara tetangganya akan juga akan jatuh ke tangan komunis, seperti layaknya dalam permainan kartu domino. Oleh karena itu, dia sangat gigih dalam memerangi komunis di seluruh dunia.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

S SEJ 1005744 Chapter5

S SEJ 1005744 Chapter5

Situasi Politik di China sebelum tahun 1927 banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan, dimulai dari revolusi 1911 yang menjatuhkan kekuasaan dinasti Qing di China Selatan, munculnya tokoh Yuan Shih Kai yang melakukan kudeta terhadap Puyi, dan adanya periode Warlord yang membuat situasi China sebelum tahun 1927 dipenuhi dengan pemberontakan dan kudeta. Seringnya pergantian kekuasaan tersebut menyebabkan situasi politik China pada saat itu tidak stabil. Situasi tersebut semakin buruk setelah rezim Chiang Kai Sek menganggap Partai Komunis China berbahaya. Chiang Kai Sek melakukan perburuan terhadap anggota Partai Komunis China yang menyebabkan munculnya perang saudara di China pada tahun 1927.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pelajaran dari Kasus Din Minimi

Pelajaran dari Kasus Din Minimi

Pertama, belajar dari siklus kekerasan di Aceh pasca kolonial--revolusi sosial 1946, perlawanan Sayyid Ali 1948, dan pemberontakan Darul Islam 1953--faktor ketegangan internal di tubuh masyarakat Aceh ternyata me mainkan peran yang penting dalam memicu konflik ba ru. Demikian pula, kasus Din Minimi ini--dan se be - lumnya kasus bentrokan sesama eks kombatan GAM dalam pilkada 2006 dan 2012 serta pileg 2014--juga memperlihatkan kegentingan dari ketegangan inter nal di Aceh pasca MoU Helsinki 2005. Akar dan di na mi- ka ketegangan lokal ini haruslah ditangani demi meng- hindarkan potensi kekerasan baru yang lebih besar di masa depan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...