Top PDF PEMBESARAN IKAN BAUNG {Hemibagrus nemurus) YANG DIBERI PAKAN BERBEDA DIKOLAM TANAH

PEMBESARAN IKAN BAUNG {Hemibagrus nemurus) YANG DIBERI PAKAN BERBEDA DIKOLAM TANAH

PEMBESARAN IKAN BAUNG {Hemibagrus nemurus) YANG DIBERI PAKAN BERBEDA DIKOLAM TANAH

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tipe pakan tenggelam dengan kadar protein pakan 31% memberikan laju pertumbuhan yang tidak berbeda dengan penggunaan pakan tipe terapung. , Millamena et al. (2002) menyatakan bahwa protein merupakan zat yang sangat penting karena ikan membutuhkan protein dalam jumlah yang besar. Hasil penelitian Suhenda et al. (2009) menunjukkan bahwa pakan dengan kadar protein sebesar 31% memberikan laju pertumbuhan lebih baik dibandingkan 27%, karena mampu menyediakan energi untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan baru. Hasil penelitian Pongmaneerat et at. (1993) menunjukkan bahwa penggunaan pakan dengan kadar protein yang berbeda dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan mas.Pakan kadar protein 32% memberikan laju pertumbuhan terbaik dibandingkan dengan pakan yang memiliki kandungan protein yang lebih rendah. Laju pertumbuhan pada penelitian ini lebih baik (2,35%) jika dibandingkan dengan hasil penelitian Hardjamulia dan Suhenda (2000) mengenai pembesaran ikan baung pada keramba jaring apung di Waduk Cirata yang diberi pakan buatan dengan kadar protein antara 29-30%, laju pertumbuhannya hanya sebesar 1,29%. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Suhenda et al. (2009), ikan baung yang diberi pakan dengan kandungan protein 31 % yang dipelihara dalam keramba jaring apung di Sungai Musi menghasilkan laju
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI Moina sp. DENGAN DOSIS YANG BERBEDA DALAM Feeding Regime TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN ALAMI Moina sp. DENGAN DOSIS YANG BERBEDA DALAM Feeding Regime TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)

Analisis data terhadap feeding regime larva ikan baung dibagi menjadi 2 fase untuk kemudahan analisis yaitu pada D3-D15 dan D15-D28. Pada fase D3-D15 data yang diambil yaitu Tingkat konsumsi pakan (TKP) alami, Panjang mutlak (Pm), Laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan Survival Rate (SR). Pada D15- D28 data yang dianalisis meliputi total konsumsi pakan (TKP) buatan, Panjang mutlak (Pm), Laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan relatif (RGR) dan kelulushidupan (SR) yang didapatkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan 99% untuk melihat pengaruh perlakuan. Apabila dalam analisis ragam diperoleh berpengaruh nyata (P<0,05) atau berpengaruh sangat nyata (P<0,01), maka dilakukan uji wilayah ganda duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Data dibagi menjadi 2 fase agar dapat membandingkan dan mengkaitkan performa pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan baung ketika diberi pakan alami dan saat diberi pakan buatan. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan nilai kelayakan kualitas air untuk mendukung pertumbuhan ikan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

EFEK PEMUASAAN DAN PERTUMBUHAN KOMPENSASI PADA BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)

EFEK PEMUASAAN DAN PERTUMBUHAN KOMPENSASI PADA BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu ikan perairan umum yang bernilai ekonomi cukup baik. Berdasarkan informasi potensi tersebut, budidaya ikan baung perlu terus dikembangkan. Permasalahan yang sering muncul pada usaha budidaya ikan baung yakni biaya pakan buatan (pellet). Biaya untuk pakan buatan sangat mahal, sehingga dalam kegiatan budidaya ikan baung harus diperhatikan teknik pemberian pakannya. Metode untuk menurunkan biaya pakan adalah dengan cara pemberian pakan yang efektif. Salah satunya adalah dengan cara pemuasaan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek dari pemuasaan dan pertumbuhan kompensasi serta sintasan pada benih ikan baung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (A: 1 hari puasa 1 hari diberi pakan, B: 2 hari puasa 1 hari diberi pakan, dan C: kontrol (tiap hari diberi pakan)) dan 3 kali ulangan. Parameter yang dianalisis adalah pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan harian dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan benih ikan baung kontrol memiliki pertumbuhan panjang mutlak tertinggi (1,17 ± 0,35 cm). Untuk pertumbuhan bobot mutlak ikan baung tertinggi didapatkan pada perlakuan B. Laju pertumbuhan harian tertinggi diperoleh pada perlakuan B (0,95 ± 0,34%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Hasil pengujian menunjukkan perlakuan kontrol memiliki kelangsungan hidup yang berbeda nyata dengan perlakuan lain, dengan nilai 91,11 ± 3,05%. Benih ikan baung tidak dapat mencapai pertumbuhan kompensasi meskipun telah dipuasakan dalam waktu yang sangat singkat (1-2 hari). Pemuasaan juga berakibat pada semakin rendahnya tingkat kelangsungan hidup benih ikan baung akibat kanibalisme.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) HASIL DOMESTIKASI PADA LOKASI DENGAN KETINGGIAN BERBEDA

PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) HASIL DOMESTIKASI PADA LOKASI DENGAN KETINGGIAN BERBEDA

Ikan diberi makan dengan pakan komersial (30% protein) sebanyak 5% biomassa per hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari selama 180 hari masa pemeliharaan. Kualitas air yang diamati meliputi suhu, oksigen terlarut, dan pH. Parameter yang diukur yaitu pertambahan panjang, pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, rata-rata pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, rasio konversi pakan, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih ikan baung yang dipelihara pada ketinggian < 200 m dpl menunjukkan pertambahan bobot dan biomassa yang lebih baik (30,93 ± 2,29 g dan 7,44 ± 0,79 kg) dibandingkan jika dipelihara pada ketinggian 200-400 m dpl (22,32 ± 1,26 g dan 5,97 ± 0,65 kg) (P<0,05). Rasio konversi pakan pada ikan baung yang dipelihara pada dataran rendah lebih rendah (2,37) dibandingkan jika dipelihara pada dataran sedang (2,68). Suhu air pada ketinggian < 200 m dpl lebih tinggi dibandingkan pada ketinggian 200-400 m dpl (P<0,05). Benih ikan baung tumbuh lebih optimal jika dipelihara di daerah dataran rendah, karena pada daerah tersebut memiliki suhu lebih tinggi yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DALAM KERAMBA JARING APUNG YANG DIBERI PAKAN BUATAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA [Growth of green catfish (Hemibagrus nemurus) fry in floating net cage feed by artificial food with different protein conten

PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DALAM KERAMBA JARING APUNG YANG DIBERI PAKAN BUATAN DENGAN KADAR PROTEIN BERBEDA [Growth of green catfish (Hemibagrus nemurus) fry in floating net cage feed by artificial food with different protein conten

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) ada- lah salah satu komoditas ikan di perairan umum daratan yang mempunyai prospek untuk dibudi- dayakan baik di kolam maupun di keramba ja- ring apung. Ikan ini dapat cepat menyesuaikan diri terhadap pakan buatan (Hardjamulia & Su- henda, 2000). Beberapa penelitian mengenai ikan baung telah dilakukan, antara lain Samuel et al. (1995) yang meneliti aspek biologi di alam, dan Hardjamulia & Suhenda (2000) yang mengeva- luasi sifat reproduksi dan sifat gelondongan em- pat strain ikan baung (Hemibagrus nemurus) di karamba jaring apung. Muflikhah & Aida, (1996) meneliti pengaruh pakan berbeda terhadap per- tumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan hasil tangkapan dari alam.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

REPRODUKSI IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DENGAN PERLAKUAN DOSIS HORMON GnRH-a BERBEDA

REPRODUKSI IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DENGAN PERLAKUAN DOSIS HORMON GnRH-a BERBEDA

beton berukuran 8 m x 10 m, dengan kedalaman air kolam 1 m. Ikan secara teratur diberi makan berupa pakan komersial (kadar protein 30% protein) sebanyak 2% dari bobot badan. Ikan baung yang digunakan merupakan populasi Cirata generasi kedua hasil domestikasi (Subagja et al., 2015). Pemilihan induk betina untuk pemijahan ditentukan berdasarkan tingkat kematangan gonad yang sudah mencapai matang akhir (TKG IV), di mana diameter telur sudah mencapai kisaran 1,4-1,6 mm; bobot rataan induk betina yang dipergunakan adalah 465,0 ± 71,8 g. Induk jantan dipilih berdasarkan kriteria panjang papilla geni- talia, ikan yang dipergunakan bila panjang papilla sudah melewati pangkal sirip anal, dan ujung papilla genita- lia berwarna kemerahan (Subagja et al., 2015). Bobot induk jantan yang digunakan mencapai rataan 426,3 ± 46,8 g.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kadar Kromium yang Berbeda dalam Pakan Terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Baung ( Hemibagrus nemurus Blkr)

Pengaruh Pemberian Kadar Kromium yang Berbeda dalam Pakan Terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Baung ( Hemibagrus nemurus Blkr)

Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan baung dengan bobot rata- rata 7,0 ± 0,2 g yang berasal dari Badan Riset Balai Budidaya Air Tawar, Sempur, Bogor. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Sebelum penelitian, ikan diadaptasikan terlebih dahulu terhadap kondisi laboratorium selama 1 minggu dan diberi pakan buatan dengan kadar protein 35%, frekuensi 3 kali sehari secara at satiation. Setelah masa adaptasi selesai, ikan dipuasakan selama 24 jam, kemudian ikan ditimbang dan dimasukkan ke dalam akuarium berukuran 50x40x35 cm yang diisi air setinggi 30 cm dengan kepadatan 20 ekor per akuarium. Ikan diberi pakan 3 kali sehari yaitu pukul 8 pagi, 1 siang, 6 sore secara at satiation selama 60 hari. Pakan yang diberikan pada ikan uji selama penelitian dicatat jumlahnya, hal ini berguna untuk menentukan nilai konversi pakan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Ikan Baung (Mystus nemurus)

Ikan Baung (Mystus nemurus)

Kebiasaan makan merupakan tingkat kesukaan makan ikan terhadap jenis makanan tertentu. Faktor yang mempengaruhi terhadap kebiasan makan ikan antara lain habitat hidupnya, musim, ukuran dan umur ikan (Lagler, 1956). Tidak hanya itu perubahan suatu lingkungan perairan yang menyebabkan perubahan ketersediaan makanan di alam juga dapat merubah tingkah dan kebiasaan makan ikan (Effendi, 1997).Allen (2000) menyebutkan variasi kebiasaan makan pada satu jenis ikan dapat dipengaruhi juga oleh perbedaan habitat kolom air.

2 Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN IKAN RUCAH BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DALAM SANGKAR

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN IKAN RUCAH BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DALAM SANGKAR

Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan tambahan ikan rucah terhadap pertumbuhan dan ke- langsungan hidup ikan baung (Mystus nemurus) dalam sangkar telah dilakukan penelitian di sungai Lempuing Sumatera Selatan. Percobaan menggunakan 9 buah sangkar ukuran 1 m x 1 m x 1 m dengan metoda Ran- cangan Acak Lengkap. Perlakuan yang diuji adalah pemberian pakan tambahan ikan rucah dengan 3 perlaku- an dan 3 ulangan yaitu: pemberian pakan 4% dalam seminggu (A); pemberian pakan 8% dalam seminggu (B); dan pemberian pakan 12% dalam seminggu (C). Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (p < 0.05) terhadap pertumbuhan, namun tidak berbeda nyata (p > 0.05) terhadap kelangsungan hidup ikan baung. Laju pertumbuhan harian tiap perlakuan masing-masing adalah 0.97% (A), 1.23% (B) dan 1.41% (C), sedangkan konversi pakan adalah 4.78 untuk perlakuan A, 4.27 untuk perlakuan B dan 4.26 untuk perlakuan C.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus)

PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN BAUNG (Mystus nemurus)

The aims of this experiment were to find the effect of different doses of probiotics (raja siam) in a commercial feed on green catfish (Mystus nemurus) that is grown in freshwater pond. This experiment was conducted at the hatchery of Faculty of Aqriculture, Riau Islamic University, Pekanbaru. Twelve floating nets each size of 1x1x1.2 (m) were stocked with 10 individual of green catfish (Mystus nemurus). A completely randomized design with four treatments and three replications were used in this experiment. Four doses of probiotibs, i.e., 2 ml/kg (P1), 4 ml/kg (P2), 6 ml/kg (P3), and 0.0 ml/kg (P4) were used as treatment. The results showed that the best grouth of absolute body weight of green catfish was obtained in P1 treatment (34.67 gr), followed by P3 (32.67 gr), P2 (32.33 gr), and P0 (31.00 gr). The growth of absolute length for P1, P3, P2, and P0 treatment were 6.13 cm, 5.6 cm, 5.73 cm, and 5.33 cm, respectively, while the best daily growth rate was found at P1 treatment (1.62 , followed by P2 (1.52%), P3 (1.52), and P0 (1.50). Statistical analyses showed that there was not significant differences (P>0.05) across treatments. Fish feed conversion at the treatment P1, P2, P4, and P3 was 2.15; 2.26; 2.26 and 2.27, respectively. The average of survival rate was 100% and it was not significantly different (P>0.05).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DIBERI CACING SUTRA (Tubifex tubifex) YANG DIPERKAYA DENGAN PROBIOTIK DAN HABBATUSSAUDA (Nigella sativa)

KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DIBERI CACING SUTRA (Tubifex tubifex) YANG DIPERKAYA DENGAN PROBIOTIK DAN HABBATUSSAUDA (Nigella sativa)

Besarnya peran habbatussauda dalam meningkatkan pencernaan, karena di dalam habbatussauda terdapat berbagai vitamin dan mineral. Habbatussauda mengandung lebih dari 100 macam zat aktif yang memiliki aneka vitamin: A, B1, B2, B6, C, E, dan mineral: calcium, iron, sodium, magnesium, salenium, potasium, zinc, carotene, dan niiacin (Anonim, 2010). Sebaliknya pemberian habbatussauda dengan dosis yang terlalu tinggi pada P3, juga kurang efektif untuk pertumbuhan larva ikan baung (baik pertumbuhan berat maupun

12 Baca lebih lajut

Optimalisasi Substitusi Tepung Azolla (Azolla Microphylla) Terfermentasi pada Pakan untuk Memacu Pertumbuhan Benih Ikan Baung (Hemibagrus Nemurus)

Optimalisasi Substitusi Tepung Azolla (Azolla Microphylla) Terfermentasi pada Pakan untuk Memacu Pertumbuhan Benih Ikan Baung (Hemibagrus Nemurus)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung azolla serta mengetahui komposisi substitusi yang tepat antara tepung kedelai dengan tepung azolla dalam pakan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan baung. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang diulang tiga kali, dengan lima taraf perlakuan; Perbandingan substitusi tepung kedelai dengan tepung azolla P0 = 100% : 0%; P1 = 90% : 10%; P2 = 85% : 15%; P3 = 80% : 20% dan P4 = 75% : 25% Variabel utama yang diamati adalah kecernaan pakan, efisiensi pakan, retensi protein dan laju pertumbuhan spesifik ikan baung (Hemibagrus nemurus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung kedelai dan tepung azolla tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan baung. Perlakuan P2 substitusi tepung kedelai dengan tepung azolla (85% : 15%) memberikan hasil yang terbaik dengan nilai kecernaan 64,16%, efisiensi pakan 42,35%, retensi protein 38,19% dan laju pertumbuhan spesifik 3,16%.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kebutuhan Asam Lemak N-6 Dan N-3 Dalam Pakan Terhadap Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr.)

Kebutuhan Asam Lemak N-6 Dan N-3 Dalam Pakan Terhadap Penampilan Reproduksi Induk Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr.)

Derajat penetasan telur sangat dipengaruhi oleh kandungan asam lemak linoleat dan linolenat dalam pakan yang diberikan pada induk. Pada perlakuan B kandungan asam lemak n-6 (1,56%) dan asam lemak n-3 (0,78%) menghasilkan derajat penetasan telur tertinggi. Rendahnya kandungan asam lemak linolenat dalam pakan mempengaruhi komposisi asam lemak esensial pakan terutama kandungan asam lemak DHA (22:6n:3). Sebagaimana telah diketahui dengan jelas bahwa ikan-ikan air tawar mampu mengkonversi asam lemak 18:3n-3 menjadi asam lemak 22:6n-3 tetapi tingkat konversinya juga sangat dipengaruhi oleh kandungan asam lemak linolenat pakan seperti yang ditunjukan pada perlakuan D, dimana pada perlakuan tersebut mangandung asam lemak linolenat dan DHA tertinggi (1,82% dan 1,02%) dalam pakan dibandingkan dengan perlakuan lain namun menghasilkan kandungan asam lemak DHA (22:6n-3) dalam telur paling rendah. Takauchi (1996), menyatakan bahwa konversi asam lemak linolenat (18:3n-3) menjadi asam lemak DHA (22:6n-3) dihambat oleh taraf tertentu dari kandungan asam lemak linolenat (18:3n-3) pakan. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini kandungan asam lemak n-3 (linolenat) dalam pakan dapat dikonversi secara maksimal sehingga kadar asam lemak n-3 dan DHA pada pakan tidak perlu tinggi. Derajat penetasan yang dihasilkan oleh induk yang memperoleh pakan rendah akan asam lemak n-6 dan n-3 perlakuan A menghasilkan derajat penetasan rendah namun pada perlakuan D yang mengandung asam lemak n-6 dan n-3 paling tinggi menghasilkan derajat penetasan yang paling rendah (38%) dan abnormalitas larva paling
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Evaluasi Mutu Sensoris dan Kimia Ikan Asap yang Dibuat dari Ikan Baung (Mystus Nemurus) yang Diberi Makan Diet Berbeda

Evaluasi Mutu Sensoris dan Kimia Ikan Asap yang Dibuat dari Ikan Baung (Mystus Nemurus) yang Diberi Makan Diet Berbeda

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi mutu ikan asap yang dibuat dari bahan baku dengan komposisi kimia berbeda. Dua kelompok ikan asap masing-masing dibuat dari ikan baung yang mengandung protein tinggi-lemak rendah (protein 16.13 %, lemak 10.69 %, A) dan protein rendah-lemak tinggi (protein 14.75 %, lemak 12.42 %, B) yang merupakan hasil panen dari uji pakan sebelumnya. Kedua kelompok ikan tersebut masing-masing dibelah dan difillet kemudian diasap dalam rumah asap selama 4 jam. Ikan asap diamati terhadap
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA  PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) JANTAN  DENGAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) BETINA

EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) JANTAN DENGAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) BETINA

Penelitian dilaksanakan di kolam percobaan Ciparanje dan Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, mulai dari bulan Desember 2016 hingga Februari 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan embriogenesis dan karakteristik perkembangan larva persilangan ikan patin siam jantan dengan ikan baung betina. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu eksperimetal dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan hibridisasi. Derajat pembuahan pada ikan patin siam, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 92,57%, 91,47% dan 46,20%. Proses embriogenesis sampai dengan penetasan larva pada ikan patin siam lebih cepat dibandingkan dengan ikan hibrid dan juga ikan baung yaitu dengan waktu berturut turut yaitu 19 jam 40 menit, 21 jam 10 menit, dan 23 jam 30 menit. Derajat penetasan telur pada ikan patin, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 86,12%, 80,93% dan 56,16%. Derajat kelulushidupan ikan patin siam, ikan hibrid, dan juga ikan baung masing-masing 76,30%, 24,69% dan 51,61%. Karakteristik morfologi larva hibrid meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh, bentuk sirip ekor dan sirip adipose cenderung intermediate yang merupakan perpaduan dari kedua indukan, sedangkan bentuk sirip anal, sirip dada, sirip punggung lebih mengarah kepada ikan baung. Abnormalitas pada larva ikan hibrid terjadi pada bagian tubuh dengan persentase larva yang abnormal sebesar 34,75%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

STRUKTUR HATI BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.) AKIBAT TERPAPAR KONSENTRASI SUBLETHAL MERKURI (Hg)

STRUKTUR HATI BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Blkr.) AKIBAT TERPAPAR KONSENTRASI SUBLETHAL MERKURI (Hg)

uji tersebut. Mortalitas benih ikan baung selama 96 jam jelas disebabkan oleh toksikan logam berat merkuri yang masuk ke dalam tubuh ikan tersebut. Hal ini terlihat dari daya tahan tubuh ikan yang semakin menurun yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan tingkah laku yang tidak menentu, dan juga mempengaruhi fungsi organ ikan misalnya hati. Nirmala et al. (2012) menyatakan bahwa logam berat merkuri akan mengganggu kerja hati dan menurunkan fungsi hati karena proses metabolisme yang terjadi pada organ hati menjadi terhambat
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) KETURUNAN G-1, G-2, DAN G-3

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) KETURUNAN G-1, G-2, DAN G-3

Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) has been successfully domesticated by the Research Institute for Freshwater Aquaculture and Fisheries Extension, Bogor. The results of the domestication of Cirata population have better fecundity and growth, this population has been developed for up to three generations (G1, G2 and G3) however, there is limited information regarding the comparison between the ovarian development of different generations of the fish]. This study’s aim was to measure the growth and observe the ovarian development of the first (G-1), second (G-2), and third generations (G-3). The parameters measured and observed included the measurements of length, weight, specific growth rate, morphology and gonad weight, oocyte diameter, and somatic gonad index (IGS). The sampling was carried out every two months by collecting ten fish samples of each generation. Gonad tissues were histologically prepared and stained asetocarmine solution as the coloring agent. The observations used a microscope with a magnification of 4 x 10. The results of the study showed that at the age of 222 days, the male and female gonads were physically still in the form of fine threads. However, secondary characteristics in male fish such as papillae have begun to appear though not very clear. At the age of 283 days, oocytes’ sizes ranged between 0.025-0.05 mm. At the age of 345 days, the eggs were starting to be visible with the oocyte sizes of G-1, G-2, and G-3 ranged between 0.59 ± 0.24,
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects