Top PDF Pembuatan dan Karakterisasi Sifat Fisik Gelatin dari Kulit dan Tulang Ikan Cucut

TULANG IKAN BAWAL SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN GELATIN DAN KARAKTERISIK SIFAT FISIKA KIMIANYA

TULANG IKAN BAWAL SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN GELATIN DAN KARAKTERISIK SIFAT FISIKA KIMIANYA

Conclusion: Judging from the similarity of the spectra and peak-peak which appears in spectra pomfret fish bones can be used as raw material for the manufacture of bone gelatine either fresh or fried pomfret. To test leptik organo- white color gelatin dati fried pomfret fish bones stronger, slightly fishy smell, and taste bland. Average water content of bone gelatin fresh pomfret fry 3.63 and 5.33. Average acidity of fresh pomfret fish bone gelatin 4.65 and 4.61 fried. The yield of gelatin from the bones of fresh pomfret 0.2% higher than the gelatin from the bones pomfret cooked.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SEBAGAI GELATIN DAN KARAKTERISASI SIFAT FISIKA KIMIANYA - repository perpustakaan

PEMANFAATAN TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SEBAGAI GELATIN DAN KARAKTERISASI SIFAT FISIKA KIMIANYA - repository perpustakaan

Tahapan selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan menggunakan air panas, dimana proses ini terjadi denaturasi, peningkatan hidrolisis dan kelarutan gelatin dengan temperatur ekstraksi yang digunakan antara 50-100 ºC, sedangkan pH ekstraksi dapat bervariasi untuk tiap metode (Hinterwaldner, 1977). pH ekstraksi kolagen yang dilakukan dalam suasana asam pada pH (4-5) dilakukan pada umumnya merupakan titik isoelektrik dari komponen-komponen protein non kolagen, sehingga mudah terkoagulasi dan menghilang.

9 Baca lebih lajut

Perbaikan nilai tambah limbah tulang ikan tuna, Thunnus sp. menjadi gelatin serta analisis fisika-kimia

Perbaikan nilai tambah limbah tulang ikan tuna, Thunnus sp. menjadi gelatin serta analisis fisika-kimia

Selama ini sumber utama gelatin yang banyak dimanfaatkan adalah berasal dari kulit dan tulang sapi atau babi. Penggunaan kulit dan tulang babi tidak menguntungkan bila diterapkan pada produk pangan di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia, karena babi diharamkan untuk dimakan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan gelatin dari sumber hewan lain. Salah satu yang berprospek untuk dikembangkan adalah gelatin tulang dan kulit ikan. Pembuatan gelatin dengan memanfaatan tulang ikan patin dan menggunakan tulang ikan kakap merah sudah dilakukan. Dalam proses pembuatannya, gelatin tulang ikan kakap merah dan tulang ikan patin menggunakan proses pembuatan gelatin tipe A atau perendaman dengan asam, dimana gelatin yang dihasilkan telah mendekati standar mutu gelatin yang ada pasaran. Namun penelitian mengenai pembuatan gelatin dengan pemanfaatan tulang ikan tuna belum pernah dilakukan. Oleh karena itu pemanfaaatan limbah tulang ikan tuna menjadi produk gelatin menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Baca lebih lanjut

58 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin dari Tulang Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin dari Tulang Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Gelatin merupakan suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen hewan. Kolagen terdapat pada tulang, tulang rawan, kulit, dan jaringan ikat pada hewan. Gelatin diperoleh dengan cara denaturasi panas dari kolagen. Perbedaan gelatin dan kolagen adalah kolagen memiliki struktur triple helix, sedangkan gelatin single helix. Kolagen juga tidak bersifat reversible, yaitu sifat di mana membentuk sol jika dipanaskan dan kembali menjadi gel jika didiginkan, sedangkan gelatin bersifat reversible. Gelatin lebih tahan panas jika dibandingkan dengan kolagen. Permintaan gelatin telah meningkat selama bertahun-tahun. Produksi gelatin dunia mendekati angka 326.000 ton per tahun. Sebanyak 46% gelatin yang bersumber dari kulit babi, dari kulit sapi sebesar 29,4%, dari tulang sapi sebesar 23,1%, dan dari sumber lain sebesar 1,5% (Karim dan Bhat 2009). Gelatin dibedakan menjadi 2 tipe berdasarkan proses pembuatannya. Gelatin tipe A dibuat melalui proses asam, sedangkan gelatin tipe B dibuat melalui proses basa.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

KAJIAN KARAKTERISASI GELATIN DARI TULANG KAKI AYAM DAN KULIT BABI DENGAN MENGGUNAKAN FTIR

KAJIAN KARAKTERISASI GELATIN DARI TULANG KAKI AYAM DAN KULIT BABI DENGAN MENGGUNAKAN FTIR

Gelatin (Gambar 2.1) dalam bahasa latin disebut sebagai gelatos yang berarti pembekuan. Gelatin dapat larut dalam air panas dan jika didinginkan akan membentuk gel (Gela, 2016: 24). Gelatin merupakan polipeptida larut yang berasal dari kolagen, yaitu bagian utama dari kulit, tulang, dan ligamen hewan, terutama sapi dan babi. Gelatin adalah derivat protein dari serat kolagen yang ada pada kulit, tulang, dan jaringan ikat (Miskah, dkk., 2010: 2). Secara fisik, gelatin berwujud padat (baik itu berbentuk butiran, serbuk, maupun lembaran), tembus cahaya, tidak berwarna dan tidak berasa (Nugroh dan Kurniawan, 2015: 32). Gelatin mudah larut pada suhu 71,1 ºC dan cenderung membentuk gel ada suhu 48,9 ºC. Pemanasan yang dilakukan untuk melarutkan gelatin sekurang-kurangnya 49 °C atau biasanya pada suhu 60 – 70 ºC (Miskah, dkk., 2010: 2). Sifat fisik dan kimia gelatin sangat dipengaruhi oleh jenis hewan, umur hewan, tipe kolagen, metode pembuatan, karakteristik kolagen dan proses perlakuan (temperatur, waktu dan pH) (Juliasti, dkk., 2015: 5).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Kajian Ekstraksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna (Thunnus alalunga) dan Karakteristiknya Sebagai Bahan Baku Industri Farmasi.

Kajian Ekstraksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna (Thunnus alalunga) dan Karakteristiknya Sebagai Bahan Baku Industri Farmasi.

Sumber utama lain yang sangat potensial sebagai bahan baku gelatin adalah kolagen yang berasal dari ikan. Menurut Surono et al. (1995) tulang dan kulit ikan sangat potensial sebagai sumber gelatin karena mencakup 10-20 % dari total berat tubuh ikan. Namun produk gelatin yang berbahan baku ikan umumnya memiliki masalah Fishy odor atau bau amis dan tidak sedap, yaitu berasal dari urea yang mudah terurai menjadi amonia. Fishy odor ini sangat tidak disukai konsumen dan merupakan penyebab belum dimasukkannya gelatin ikan ke dalam GRAS ( Generally Recognized as Safe). Untuk itu diperlukan metode dan teknologi pembuatan gelatin ikan yang dapat mengurangi atau meminimalisasi fishy odor, menghasilkan rendemen yang tinggi serta memiliki sifat fisik, kimia dan fungsional yang menunjang sebagai bahan baku industri baik industri pangan maupun non pangan.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Analisis Kekuatan Gel (Gel Strength) Produk Permen Jelly dari Gelatin Kulit Ikan Cucut (Chiloscyllium punctatum) dengan Penambahan Karaginan dan Rumput Laut (Euchema spinosum)

Analisis Kekuatan Gel (Gel Strength) Produk Permen Jelly dari Gelatin Kulit Ikan Cucut (Chiloscyllium punctatum) dengan Penambahan Karaginan dan Rumput Laut (Euchema spinosum)

Gelatin merupakan produk yang diperoleh dari jaringan kolagen hewan yang dapat didispersi dalam air dan menunjukkan perubahan sol-gel reversible seiring dengan perubahan suhu. Umumnya, sumber utama gelatin adalah tulang dan kulit dari babi dan sapi. Berkaitan dengan merebaknya bovine spongiform encephalopathy (BSE) dan beberapa keyakinan yang melarang konsumsi gelatin dari sapi dan babi maka perlu adanya alternatif pembuatan gelatin yang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat yaitu gelatin yang berasal dari kulit ikan cucut. Tingkat pemanfaatan dan pengembangan kulit ikan cucut di Indonesia hanya terbatas penyamakan kulit menjadi barang-barang industri kulit, seperti tas, sepatu, dompet, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, perlu upaya pengembangan produk dari kulit ikan cucut yang dapat memenuhi kebutuhan industri pangan maupun non pangan, salah satunya adalah pengembangan gelatin dan produk turunannya seperti permen jelly.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Asam dan Fosforilasi Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Gelatin Tulang Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

Pengaruh Konsentrasi Asam dan Fosforilasi Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Gelatin Tulang Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

Gelatin merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan dalam pembuatan produk makanan. Gelatin merupakan produk yang didapatkan dari hidrolisis kolagen parsial turunan dari kulit, jaringan penghubung putih, dan tulang hewan. Gelatin telah marak digunakan, dalam industri makanan berfungsi sebagai penstabil, pengental ( thickener ), pengemulsi ( emulsifier ), pembentuk jel, pengikat air, pengendap dan pembungkus makanan ( edible coating ). Sedangkan dalam industri farmasi gelatin digunakan sebagai bahan pembuat kapsul, disamping itu juga digunakan untuk bahan kosmetik dan film (Damanik, 2005).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen Nanopartikel dari Kulit Ikan Cucut Bambu (Chiloscyllium punctatum)

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen Nanopartikel dari Kulit Ikan Cucut Bambu (Chiloscyllium punctatum)

11 Ukuran partikel dari kolagen nanopartikel yang dihasilkan dapat diaplikasikan sebagai bahan baku kosmetik terutama pada kulit, sebab menurut Ganesh et al. (2012) ukuran pori-pori tubuh manusia memiliki diameter antara 200-500 nm, dengan demikian nanopartikelkolagen akan mampu terserap dan terdifusi dengan baik pada permukaan kulit apabila diaplikasikan sebagai bahan aktif kosmetik yang berfungsi sebagai anti aging. Hal tersebut juga didukung oleh Kumar et al. (2011) yang menyatakan bahwa kolagen yang terbuat dari kulit dan tulang ikan memiliki struktur molekul yang lebih kecil dibandingkan kolagen yang terbuat dari sapi atau babi sehingga lebih mudah untuk diserap. Penggunaan kolagen sebagai subtituen kulit manusia membuat kolagen menjadi pelopor pengembangan jaringan bioteknik, seperti pembuluh darah dan ligamen. Selain itu kolagen memiliki kemampuan memberikan sifat elastis pada kulit, dan dapat mengurangi keriput yang terjadi sebagai efek dari penuaan. Kolagen pada kosmetik jika digunakan pada kulit wajah akan mampu menahan air sehingga membuat kulit wajah tetap dalam kondisi lembab. Kolagen dapat mengurangi kerutan pada wajah, menghilangkan bekas jerawat dan menutup pori-pori pada kulit (Meier 2009). Dengan demikian hasil dari penelitian ini dapat memiliki nilai manfaat yang lebih dalam bidang nonpangan terutama kosmetik.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Kajian Ekstraksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna (Thunnus alalunga) dan Karakteristiknya Sebagai Bahan Baku Industri Farmasi

Kajian Ekstraksi Gelatin dari Kulit Ikan Tuna (Thunnus alalunga) dan Karakteristiknya Sebagai Bahan Baku Industri Farmasi

Sumber utama lain yang sangat potensial sebagai bahan baku gelatin adalah kolagen yang berasal dari ikan. Menurut Surono et al. (1995) tulang dan kulit ikan sangat potensial sebagai sumber gelatin karena mencakup 10-20 % dari total berat tubuh ikan. Namun produk gelatin yang berbahan baku ikan umumnya memiliki masalah Fishy odor atau bau amis dan tidak sedap, yaitu berasal dari urea yang mudah terurai menjadi amonia. Fishy odor ini sangat tidak disukai konsumen dan merupakan penyebab belum dimasukkannya gelatin ikan ke dalam GRAS ( Generally Recognized as Safe). Untuk itu diperlukan metode dan teknologi pembuatan gelatin ikan yang dapat mengurangi atau meminimalisasi fishy odor, menghasilkan rendemen yang tinggi serta memiliki sifat fisik, kimia dan fungsional yang menunjang sebagai bahan baku industri baik industri pangan maupun non pangan.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Baru Gelatin Kulit Ikan Cucut Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Cangkang Kapsul Yang Terjamin Halal

Pemanfaatan Baru Gelatin Kulit Ikan Cucut Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Cangkang Kapsul Yang Terjamin Halal

Penggunaan hasil samping dari ikan cucut yaitu kulitnya dapat menjadi solusi untuk pembuatan gelatin. Kesesuaian penggunaan gelatin kulit ikan cucut pun disesuaikan dengan negara Indonesia yang sebagian masyarakatnya beragama Islam. Selama ini penggunaan gelatin pada umumnya berasal dari tulang dan kulit hewan mamalia seperti babi dan sapi. Gelatin tulang dan kulit hewan mamalia masih diragukan kehalalannya baik dari jenisnya seperti babi atau proses penyembelihan yang tidak menyebut Asma Allah dan memotong tidak melalui urat leher (Junianto et al. 2006). Kebutuhan gelatin dalam negeri pun selama ini masih mengimpor seluruhnya. Impor gelatin sejak tahun 2000 terus meningkat dan pada tahun 2003 telah mencapai 6.233 ton dengan nilai Rp. 69.622.370.000,-. Negara pemasok gelatin ke Indonesia tiga terbesar adalah China (3.877 ton), Jepang (969 ton) dan Perancis (278 ton) (DKP dalam Junianto et al. 2006).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SEBAGAI GELATIN DAN KARAKTERISASI SIFAT FISIKA KIMIANYA

PEMANFAATAN TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SEBAGAI GELATIN DAN KARAKTERISASI SIFAT FISIKA KIMIANYA

Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan dari analisis FTIR, rendemen, organoleptis, pH dan kadar air. Analisis gugus khas gelatin TNS dan TNM mengandung gelatin dapat dibuktikan dengan adanya gugus N–H, C=O, C-H dan C-N pada uji spektrofotometri FTIR. Struktur asam amino gelatin farmasetis yang lebih dominan yaitu prolin dan hidroksiprolin sedangkan gelatin TNS dan TNM mengandung asam amino asam glutamat, lisin dan arginin yang mempengaruhi spektrumnya. Perbedaan fisik organoleptis pada bau dari sample gelatin TNS dan gelatin TNM lebih khas ikan, rasa hambar, dan warna dari sample lebih gelap dari gelatin pembanding. Rendemen yang dihasilkan dari gelatin TNS sebesar 10,21% sedangkan rendemen gelatin TNM 10,22%. pH gelatin TNS, TNM, dan gelatin farmasetis adalah 3,82; 3,82; dan 5,83. Kadar air gelatin TNS, TNM, dan gelatin farmasetis adalah 8,05; 5,49 dan 11,94. Pengaruh perbedaan tersebut dari bahan baku dan pengolahannya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin Tulang Ikan Tenggiri

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin Tulang Ikan Tenggiri

Pembuatan gelatin dapat dilakukan dengan cara ektraksi kolagen dengan air panas setelah melalui perlakuan perendaman dalam larutan asam atau basa. Masing-masing meng- hasilkan gelatin yang disebut gelatin tipe A dan gelatin tipe B Penggunaan asam lebih menguntungkan untuk produksi gelatin bila dilihat dari segi waktu perendaman yang lebih singkat dan biaya lebih murah (Poppe, 1999). Limbah tulang dan kulit ikan tenggiri dapat di produksi menjadi gelatin dengan cara perendaman dalam larutan asam klorida. Hasil penelitian Siti Miskah (2010) menunjukkan larutan perendam yang paling baik untuk produksi gelatin dari tulang dan kulit kaki ayam adalah larutan HCl 4% dengan waktu perendaman 24 jam. Asam klorida berfungsi untuk menghidrolisis kolagen dengan cara memecah ikatan intramolekular dalam mole- kul tripelhelix kolagen yang hasilnya ke- mungkinan membentuk tiga rantai alpha bebas, atau pembentukan rantai beta dan rantai gama (Poppe, 1999), serta untuk melarutkan mineral yang ada pada tulang dan kulit ikan. Tulang dan kulit ikan yang telah mengalami proses demineralisasi disebut tulang lunak (ossein) dan kulit lunak. Tulang dan kulit lunak diekstraksi dengan menggu- nakan air panas dengan suhu 80 o C agar menjadi gelatin larut air.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pembuatan dan Analisis Karakteristik Gelatin Dari Tulang Ikan Tuna (Thunnus Albacares)

Pembuatan dan Analisis Karakteristik Gelatin Dari Tulang Ikan Tuna (Thunnus Albacares)

17 Proses produksi utama gelatin dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu persiapan bahan baku, konversi kolagen menjadi gelatin dan yang terakhir perolehan gelatin dalam bentuk kering. Persiapan dilakukan dengan pencucian pada tulang ikan. Tulang dibersihkan dari sisa-sisa daging dan kotoran lain yang mengandung deposit-deposit lemak yang tinggi. Untuk memudahkan pembersihan maka sebelumnya dilakukan pemanasan pada air mendidih selama 1-2 menit. Proses penghilangan lemak dari jaringan tulang disebut degreasing, dilakukan pada suhu antara titik cair lemak dan suhu koagulasi albumin tulang yaitu antara 32 0 C – 80 0 C sehingga dihasilkan kelarutan lemak yang optimum. Konversi kolagen menjadi gelatin biasanya didasarkan pada pengaturan suhu ekstraksi, yaitu untuk mencegah kerusakan protein pada suhu tinggi. Kisaran suhu yang digunakan antara 50 0 C dan 100 0 C atau lebih rendah, pada selang pH dapat bervariasi untuk tiap metode (Hinterwaldner, 1977).
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...