Top PDF PEMBUATAN SABUN CAIR DARI MINYAK JELANTA

PEMBUATAN SABUN CAIR DARI MINYAK JELANTA

PEMBUATAN SABUN CAIR DARI MINYAK JELANTA

Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng) berbentuk trigliserida. Jika terhidrolisis, trigliserida akan berubah menjadi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak bebas. Semakin besar trigliserida yang terurai semakin banyak asam lemak bebas yang dihasilkan. Apabila asam lemak bebas ini mengalami proses oksidasi lebih lanjut, akan terjadi proses rancidity (asam lemak bebas terurai menjadi senyawa keton dan aldehid) yang menghasilkan bau tengik (Ketaren,1986).

6 Baca lebih lajut

PENYULUHAN DAN PELATIHAN PEMANFAATAN LIMBAH MINYAK GORENG (MINYAK JELANTAH) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SABUN CAIR.

PENYULUHAN DAN PELATIHAN PEMANFAATAN LIMBAH MINYAK GORENG (MINYAK JELANTAH) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SABUN CAIR.

Penyuluhan ini dihadiri ± 40 orang, dimana ini melebihi target yang diinginkan, namun demikian terlihat begitu antusiasnya masyarakat mengikuti penyuluhan dan pelatihan ini. Kegiatan ini berlangsung kurang lebih 4 jam, banyak pertanyaan dan keingintahuan masyarakat yang lebih tentang pelatihan dan penyuluhan ini. Dari hasil kegiatan ini terlihat masyarakat setempat belum mengetahui sama sekali bahaya menggunakan minyak jelantah, cara kehidupan yang turun temurun dan pemikiran yang salah serta informasi yang kurang menghambat pengetahuan masyarakat akan informasi. Pada pelatihan proses pembuatan sabun cair dari minyak jelantah, para peserta berusaha mengikuti setiap bagian dari tahap$ tahap proses pembuatan sabun cair, sebagian bahan dasar yang digunakan dalam proses pembuatan sabun cair ini kami menginformasikan nama dagang (nama umum dipasaran) dari bahan –bahan dan dimana bisa membelinya. Bahan yang murah dan mudah dibeli serta cara pembuatan yang sederhana menambah daya minat peserta untuk mencobakan sendiri. Apalagi bahan dasarnya yaitu minyak bekas yang merupakan hasil dari penggorengan mereka sendiri, walaupun kami tidak menyebutkan pemilik minyak bekas tersebut. Pada akhir kegiatan ini, sebagian masyarakat meminta kami untuk datang kembali dengan membawa informasi yang lain dan member pelatihan serta penyuluhan yang berkaitan dengan kehidupan mereka selama ini seperti halnya penyuluhan dan pelatihan yang kami adakan ini. Adapun proses pelaksanaan kegiatan ini dapat dilihat dari gambar pada lampiran.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH DALAM PEMBUATAN SABUN CAIR TRANSPARAN MELALUI PROSES SAPONIFIKASI KOH DENGAN PENAMBAHAN ESSENCE KULIT JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA)

PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH DALAM PEMBUATAN SABUN CAIR TRANSPARAN MELALUI PROSES SAPONIFIKASI KOH DENGAN PENAMBAHAN ESSENCE KULIT JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir dengan judul “ Pemanfaatan Minyak Jelantah Dalam Pembuatan Sabun Cair Transparan Melalui Proses Saponifikasi KOH Dengan Penambahan Essene Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)” tepat pada waktunya. Laporan Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III pada Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang.

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Jelantah Minyak jelantah dapat digunakan dalam pembuatan sabun karena merupakan - PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH DALAM PEMBUATAN SABUN CAIR TRANSPARAN MELALUI PROSES SAPONIFIKASI KOH DENGAN PENAMBAHAN ESSENCE KULIT JERUK NI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Jelantah Minyak jelantah dapat digunakan dalam pembuatan sabun karena merupakan - PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH DALAM PEMBUATAN SABUN CAIR TRANSPARAN MELALUI PROSES SAPONIFIKASI KOH DENGAN PENAMBAHAN ESSENCE KULIT JERUK NI

Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak dan minyak yang sebagian besar terdiri atas asam oktadekonat dan asam heksadekonat, berupa zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur putih atau kuning pucat, mirip lemak lilin, tidak larut dalam air, larut dalam 1 bagian etanol (95%), dalam 2 bagian klorofrm dan dalam 3 bagian eter, suhu lebur tidak kurang dari 54oC, bilangan iodium tidak lebih dari 4. Asam stearat digunakan sebagai pengemulsi, dengan konsentrasi 1-20%, surfaktan, mengeraskan sabun dan menstabilkan busa (Anonim,1995. Wode A., P.J Weller,1994, Hambali,E.,Ani S.,Mira R, 2005 ).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA

bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu bentuk pemanfaatan minyak goreng bekas agar dapat bermanfaat dari berbagai macam aspek ialah dengan mengubahnya secara proses kimia menjadi sabun. Hal ini dapat dilakukan karena minyak jelantah juga merupakan minyak nabati, turunan dari CPO (crude palm oil) dan mengandung trigliserida yang cukup untuk dikonversi menjadi sabun melalui reaksi saponifikasi. Sebelum digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan sabun, minyak goreng bekas ini harus dimurnikan terlebih dahulu. Pemurnian dilakukan dengan 3 tahap yaitu; despicing, netralisasi, dan bleaching.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMBUATAN SABUN CUCI PIRING CAIR DARI MINYAK GORENG BEKAS (JELANTAH).

PEMBUATAN SABUN CUCI PIRING CAIR DARI MINYAK GORENG BEKAS (JELANTAH).

Sebelum diolah menjadi sabun, minyak goreng bekas dimurnikan terlebih dahulu. Pemurnian terdiri dari tiga tahap, yaitu penghilangan kotoran (despicing), netralisasi dan pemucatan (bleaching). Penghilangan kotoran (despicing) dilakukan dengan memanaskan minyak jelantah dan aquades pada temperatur 110 °C dengan perbandingan volume 1:1. Pemanasan dilakukan hingga volume aquades berkurang menjadi setengah dari volume awal. Netralisasi dilakukan dengan menambahkan KOH 15 gram/100ml ke dalam minyak hasil despicing hingga minyak netral. Proses bleaching dilakukan dengan cara memanaskan minyak hasil netralisasi hingga temperature 70 °C kemudian menambahkan sari mengkudu ke dalam minyak hasil dengan perbandingan volume 1:2 volume minyak hasil netralisasi. Minyak goreng hasil pemurnian tersebut digunakan untuk pembuatan sabun cair melalui proses penyabunan dan dilakukan dengan tiga variasi konsentrasi KOH yaitu KOH (g/100 mL larutan): 20, 30, 40. Sabun hasil saponifikasi kemudian diencerkan dengan aquades dengan perbandingan aquades 2:1 b/b sabun hasil saponifikasi. Setelah proses pengenceran dilakukan penambahan zat adiktif berupa texapon sebanyak 10% b/b sabun hasil saponifikasi, gliserin sebanyak 10% b/b sabun hasil saponifikasi dan parfum sebanyak 0,5% v/b sabun hasil pengenceran.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Selain alkali seperti kalium dan natrium untuk menghasilkan sabun natural, harus menggunakan minyak. Salah satu jenis minyak yang digunakan adalah minyak kelapa yang berasal dari buah kelapa. Tanaman kelapa merupakan komoditi ekspor dan dapat tumbuh disepanjang pesisir pantai khususnya, dan dataran tinggi serta lereng gunung pada umumnya. Indonesia memiliki panjang garis pantai seluas 95.181 kilometer persegi yang sebagian besar ditanami pohon kelapa. Areal tanaman kelapa Indonesia adalah 3,88 juta hektar dengan prduksi 3,2 juta ton kopra pertahun [12]. Kopra merupakan buah kelapa yang menjadi bahan baku minyak. Sabun dari minyak kelapa memiliki kelebihan seperti; memiliki aroma manis berbau unik, anti-jamur serta sifat anti-bakteri. Selain itu sabun yang berasal dari minyak kelapa mamiliki busa yang banyak sepeti yang telah dijelaskan diatas dan berfungsi sebagai emollient alami. Manfaat emollient untuk mengurangi kehilangan cairan pada permukaan kulit (yang menyebabkan kulit kering), melembutkan dan menghaluskan [6].
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PROSES PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK KELAP

PROSES PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK KELAP

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan.

3 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa” berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Departemen Teknik, Kimia Universtas Sumatera Utara. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik.

9 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

DENGAN MINYAK KELAPA SKRIPSI Oleh AULIA BISMAR PADUANA 120405037 DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA APRIL 2017.[r]

1 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Tulisan ini merupakan skripsi dengan judul “Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat ( Theobroma cacao L. ) dengan Minyak Kelapa” berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di Departemen Teknik, Kimia Universtas Sumatera Utara. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik.

7 Baca lebih lajut

PEMBUATAN SABUN PADAT DAN SABUN CAIR DARI MINYAK JARAK

PEMBUATAN SABUN PADAT DAN SABUN CAIR DARI MINYAK JARAK

Grafik 4.2. menunjukkan hubungan variasi konsentrasi NaOH terhadap hasil sabun pada kondisi temperatur 70 o C dan lama waktu reaksi 5 menit. Pada grafik 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah pada sabun cair juga mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya konsentrasi NaOH (2,5 M – 4 M). Hal ini dapat dilihat pada kecepatan mixing sama yaitu 250 rpm untuk konsentrasi 2,5 M sampai 4 M mengalami peningkatan begitu juga pada keepatan mixing 300 rpm, 350 rpm dan 400 rpm. Pada kecepatan mixing 250 rpm utnuk konsentrasi 2,5 M, 3 M, 3,5 M, 4 M sabun yang dihasilkan sebesar 25,0151 gram, 29,163 gram, 30,9573 gram dan 32,262 gram. Hasil sabun cair yang dihasilkan lebih besar dibanding sabun padat. Hal ini dikarenakan pada sabun cair memiliki kadar air lebih tinggi dibanding sabun padat. Begitu juga pada kecepatan mixing 400 rpm sabun yang dihasilkan juga mengalami peningkatan yaitu 30,7592 gram, 32,0521 gram, 33,9065 gram dan 35,844 gram untuk konsentrasi 2,5 M, 3 M, 3,5 M dan 4 M.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Bilangan penyabunan adalah banyaknya alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah minyak. Semakin tinggi bilangan penyabunan menunjukkan semakin tinggi pula kadar asam lemak bebas dalam minyak sehingga alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan minyak tersebut juga akan semakin banyak [55].

8 Baca lebih lajut

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN DARI MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL)

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN DARI MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL)

Sabun adalah pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara basa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani (Dewan Standarisasi Nasional, 1994). Sabun mandi merupakan sabun natrium yang umumnya ditambahkan zat pewangi dan digunakan untuk membersihkan tubuh manusia dan tidak membahayakan kesehatan. Sabun mandi terdiri atas berbagai bentuk seperti berbentuk padat (batang), cair, dan gel. Sabun mandi batang terdiri dari cold-made, opaque, sabun transparan, dan sabun kertas. Sabun mandi cold-made mempunyai kemampuan berbusa dengan baik di dalam air yang mengandung garam (air sadah). Sabun opaque adalah jenis sabun mandi biasa, berbentuk batang dan tidak transparan. Sabun transparan atau disebut juga sabun gliserin mempunyai penampakan yang lebih menarik karena transparansinya (Jungerman dkk, 1979).
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Cair Industri Mie Instant Untuk Proses Pembuatan Sabun Mandi Cair

Pemanfaatan Limbah Cair Industri Mie Instant Untuk Proses Pembuatan Sabun Mandi Cair

Dalam proses produksinya terdapat tahap penggorengan, pada tahap inilah mie yang sudah dicetak digoreng, untuk mengurangi kadar air dan untuk membunuh bakteri dan membuat mieinstant tersebut menjadi tahan lama. Pada tahap ini media yang digunakan untuk menggoreng mie adalah minyak goreng. Minyak goreng yang dipakai adalah minyak yang berasal dari kelapa sawit (palmitat) dengan atom C adalah 16. Minyak ini sebagian kecil akan jatuh ke lantai dan mengalir ke saluran pembuangan. Setiap harinya petugas melakukan sanitasi terhadap ceceran-ceceran minyak dan membuangnya juga ke saluran pembuangan. Hal ini terus dilakukan karena pembersihan terhadap lantai adalah sanitasi yang rutin dilakukan.Keseluruhan ampas mie (mie hancur patah dan mie hancur halus), minyak kotoran-kotoran dan air akan mengalir di dalam saluran pembuanganyang pada akhirnya akan bermuara ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

Pembuatan Sabun Cair Menggunakan Alkali Dari Kulit Coklat (Theobroma cacao L.) dengan Minyak Kelapa

berkurang dan sabun mengental. Penurunan viskositas akibat peningkatan rasio air/sabun dikarenakan viskositas dipengaruhi oleh kadar air dalam sabun tersebut [51]. Jika viskositas sabun meningkat dengan turunya rasio air/sabun, berarti densitas sabun akan meningkat dengan semakin sedikit kandungan air didalam sabun. Adanya kandungan natrium pada alkali juga dapat menyebabkan mengerasnya sabun yang didapat karena natrium merupakan bahan pembuatan sabun padat.

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

[19] El- wathan, Lalu Shafwan Hadi . “Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Inti Buah Ketapang (Terminalia Cattapa Linn) dengan Metode Saponifikasi. Program Study Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Penetahuan Alam, Universita Mataram, Mtaram. 2001.

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Minyak Goreng Jelantah Pada Pembuatan  Sabun Cuci Piring Cair

Pemanfaatan Minyak Goreng Jelantah Pada Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair

Minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, terutama di dalam rumah tangga. Bahaya konsumsi minyak goreng bekas menyebabkan berbagai penyakit maka dilakukan upaya untuk memanfaatkannya agar tidak terbuang dan mencemari lingkungan dengan mengolahnya kembali baik sebagai media penggorengan ataupun sebagai bahan baku pembuatan sabun cuci piring cair. Sampel yang digunakan adalah minyak goreng bekas menggoreng tahu dan tempe setelah pemakaian 1–4 kali penggorengan dari rumah tangga peneliti sendiri. Pemanfaatan minyak goreng bekas ini dilakukan dengan proses pemurnian yang terdiri dari tiga tahap yaitu proses penghilangan bumbu (despicing) kemudian minyak goreng bekas disaring, kemudian penetralisasian dengan mereaksikan minyak goreng hasil despicing dengan KOH 15% dan pemucatan dengan menggunakan karbon aktif 240 mesh sebanyak 7,5% dari berat minyak goreng bekas yang digunakan. Minyak goreng hasil pemurnian tersebut digunakan untuk pembuatan sabun cuci piring cair melalui proses penyabunan yang dilakukan dengan dua variabel yaitu konsentrasi KOH (%) : 10, 20, 30, 40, 50 dan temperatur proses ( 0 C) : 25, 35, 45, 55. Minyak goreng bekas dan minyak goreng hasil pemurnian dianalisa kadar asam lemak bebas (FFA), analisa bilangan iodin (IV), analisa warna dengan Lovibond Model E, dan analisa kadar air nya. Proses penyabunan dilakukan dengan metode OACS Cd 3b-76-200, Bahan yang digunakan adalah minyak goreng hasil pemurnian, KOH (%) : 10, 20,30, 40, 50, parfum non alkohol aroma apel sebanyak 1 ml, pewarna makanan apple green extra nomor 2093 (kadar warna 14%) sebanyak 1 ml, pewarna alami (pandan, sirih, kunyit) sebanyak 10 ml. Dari hasil penelitian, diperoleh hasil optimum pada minyak goreng bekas pemakaian 1 kali dengan menggunakan karbon aktif 240 mesh sebanyak 7,5%. Untuk analisa minyak goreng hasil pemurnian diperoleh kadar FFA = 0,27 %, IV = 46,47 meq, warna terdiri dari 3 pengamatan yaitu kuning = 39; merah = 4,3; biru = 0, kadar air = 0,35, telah memenuhi SNI 3741-1995 (standar mutu minyak goreng) yaitu untuk kadar FFA = max 0,3%, IV = 45-51 meq, kadar air = 0,3%. Analisa bilangan penyabunan dengan menggunakan KOH 30% dan temperatur operasi 45 – 55 0 C diperoleh bilangan peyabunan yang sesuai dengan syarat mutu sabun cuci piring cair SNI 06-3532-1994 yaitu bilangan penyabunan = 196–206.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...