Top PDF PEMERIKSAAN LABORATORIUM DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut yang mempunyai karakteristik demam, sakit kepala dan ketidaknyamanan abdomen berlangsung lebih kurang 3 minggu yang juga disertai pembesaran limpa dan erupsi kulit Demam tifoid (termasuk para-tifoid) disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, Salmonella paratyphi B dan Salmonella paratyphi C.

19 Baca lebih lajut

KARYA TULIS AKHIR PEMERIKSAAN LABORATORIUM DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DEMAM TIFOID. Oleh : ELLYSA KUSUMA WARDHANI FAKULTAS KEDOKTERAN

KARYA TULIS AKHIR PEMERIKSAAN LABORATORIUM DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS DEMAM TIFOID. Oleh : ELLYSA KUSUMA WARDHANI FAKULTAS KEDOKTERAN

Rangkuman : Terdapat berbagai pemeriksaan yang lebih baru daripada Tubex, namun penggunaan di klinis masih sangat jarang. Hal ini berkaitan dengan faktor imunopatogenesitas pasien, biaya pemeriksaan yang cukup tinggi, ataupun peralatan yang kurang tersedia. Keunggulan tes Tubex adalah mendeteksi secara dini infeksi akut akibat Salmonella typhi, karena antibodi IgM muncul pada hari ke 3 terjadinya demam. Tes Tubex mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kuman Salmonella (>95%) dan hanya dibutuhkan sampel darah sedikit serta hasil dapat diperoleh lebih cepat. Sehingga pemeriksaan Tubex dengan prosedur yang tidak rumit dan biayanya terjangkau, dapat mulai dipakai secara luas di Indonesia untuk menegakkan diagnosis demam tifoid secara dini.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

referat demam tifoid

referat demam tifoid

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan paratyphi. Kuman bersama makanan atau minuman masuk ke tubuh melalui saluran cerna. Walaupun gejala demam tifoid bervariasi, secara garis besar gejala yang muncul adalah demam > 7 hari, gangguan saluran cerna, dan gangguan kesadaran. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi biakan kuman dari spesimen penderita (darah, sumsum tulang, urin, feses, cairan duodenum, dan rose spot), uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen Salmonella typhi dan menentukan adanya antigen spesifik dari kuman, serta pemeriksaan dengan melacak DNA kuman. Antibiotik kloramfenikol yang digunakan sebagai obat pilihan pada kasus demam tifoid sekarang mulai resisten. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjaga higien pribadi, imunisasi, dan vaksinasi aktif sehingga dapat menekan angka insidensi demam tifoid.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PEMERIKSAAN IMMUNOGLOBULIN M ANTI SALMONELLA DALAM DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

PEMERIKSAAN IMMUNOGLOBULIN M ANTI SALMONELLA DALAM DIAGNOSIS DEMAM TIFOID

Penegakan diagnosis demam tifoid harus dilakukan dengan cepat dan akurat agar penanganannya menjadi lebih efektif. 5 Diagnosis pasti demam tifoid ditegakkan bila ditemukan bakteri Salmonella typhi dalam biakan darah, urin, feses, atau sumsum tulang. Masalahnya pemeriksaan kultur memerlukan tenaga yang banyak dan waktu yang lama. 6 Uji serologis sekarang rutin dan luas digunakan dalam mendiagnosis demam tifoid sejak diperkenalkannya uji widal pada tahun 1896. Uji widal masih menjadi uji serologis rutin di berbagai daerah endemik, namun uji ini memiliki banyak kelemahan seperti rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). 1,5,6 Akhir-akhir ini sudah banyak ditemukan uji-uji serologis baru yang lebih cepat dan akurat dalam mendiagnosis demam tifoid. Pemeriksaan IgM anti Salmonella (tes TUBEX ® ) merupakan salah satu dari uji serologis tersebut yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal dan dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, lebih akurat, mudah dan sederhana. 1,6,7
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Uji Validitas Pemeriksaan Widal Terhadap Kultur Salmonella Species Sebagai Penunjang Diagnosis Demam Tifoid.

Uji Validitas Pemeriksaan Widal Terhadap Kultur Salmonella Species Sebagai Penunjang Diagnosis Demam Tifoid.

Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella sp. Demam tifoid merupakan masalah yang serius di negara berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang nomor 6 tahun 1962 tentang wabah (Djoko W., 2006). Jumlah insidensinya di dunia diperkirakan sekitar 16 juta kasus per tahun, 600 ribu diantaranya menyebabkan kematian (M. Sabir, dkk., 2003). Di Indonesia tercatat jumlah insidensi tifoid adalah 357-810 / 100 ribu populasi per tahun dengan angka kematiannya (Case Fatality Rate) mencapai 0.6-2% (Albert M. V., dkk.,2003). Surveilans Departeman Kesehatan Republik Indonesia melaporkan rata-rata insidensi penyakit ini meningkat dari 9.2 di tahun 1990 sampai 15.4 di tahun 1994 per 10.000 penduduk (Djoko W., 2006). Diperkirakan jumlah total kematian karena demam tifoid di Indonesia adalah sangat bervariasi yaitu antara 6.480-50.160 per tahun (Albert M. V., dkk.,2003).
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

PEMERIKSAAN MIKROSKOP DAN TES DIAGNOSTIK CEPAT DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS MALARIA

PEMERIKSAAN MIKROSKOP DAN TES DIAGNOSTIK CEPAT DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS MALARIA

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan parasit plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 3,3 miliar orang berisiko terinfeksi malaria pada tahun 2006 dan hampir 1 juta orang meninggal karena penyakit ini. Diagnosis malaria berdasarkan klinis saja tidak spesifik sehingga kurang dipercaya dan sebaiknya didukung oleh hasil tes laboratorium. Pemeriksaan mikroskop hapusan darah dan tes diagnosis cepat paling sering digunakan untuk menegakkan diagnosis malaria. Kedua pemeriksaan ini memberikan harapan besar untuk diagnosis yang akurat tetapi tetap memiliki keterbatasan masing-masing.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

DIAGNOSIS DEMAM THYPOID DENGAN PEMERIKSAAN WIDAL ABSTRAK

DIAGNOSIS DEMAM THYPOID DENGAN PEMERIKSAAN WIDAL ABSTRAK

Umum Pusat Sanglah ABSTRAK Demam typhoid merupakan penyakit infeksi sistemik disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serotype typhi, yang merupakan anggota family Enterobacteriaciae. Seseorang menderita demam typhoid akan membawa bakteri di dalam aliran darah dan sistem pencernaannya sehingga dapat menularkan infeksi secara langsung kepada orang lain melalui air atau makanan yang sudah terkontaminasi. Pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam typhoid adalah dengan metode konvensional, yaitu kultur kuman dan uji serologi Widal serta metode non- konvensional, yaitu Polimerase Chain Reaction (PCR), Enzyme Immunoassay Dot (EID) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Diagnosis definitif demam typhoid adalah dengan isolasi Salmonella enterica serotype typhi dari darah, urin atau cairan tubuh lainnya. Hal ini sering tidak mungkin dilakukan di negara berkembang karena fasilitas bakteriologik yang tidak memadai pada banyak rumah sakit kecil, sedangkan demam typhoid merupakan penyakit endemis di negara tersebut. Dengan keadaan seperti ini, diagnosis harus ditegakkan dengan menghubungkan gejala klinis yang sesuai dengan demam typhoid dan adanya titer antibodi yang meningkat secara bermakna dalam darah terhadap antigen O atau antigen H Salmonella enterica serotype typhi (tes Widal).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

1 PEMERIKSAAN WIDAL SLIDE UNTUK DIAGNOSA DEMAM TIFOID

1 PEMERIKSAAN WIDAL SLIDE UNTUK DIAGNOSA DEMAM TIFOID

ini mempunyai gejala klinik antara lain : sakit kepala, demam, anorexia, mual, muntah, diare hingga gangguan kesadaran. Berdasarkan gejala klinik di atas kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosa tersebut. Pemeriksaan laboratorium yaitu dengan Widal Slide Test dengan menggunakan prinsip aglutinasi antigen dan antibodi dalam serum tersangka demam tifoid. Hasil positif bila terjadi aglutinasi antara antibodi dan serum dengan suspensi bakteri yang telah dimatikan sebagai antigen.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Rekomendasi IDAI mengenai Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Demam Tifoid

Rekomendasi IDAI mengenai Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Demam Tifoid

selama ini banyak digunakan dalam diagnosis demam tifoid, telah terbukti mempunyai sensitifitas dan spesifisitas rendah, sehingga tidak lagi direkomendasikan. Pemeriksaan kultur darah/ urin/ feses merupakan baku emas diagnosis tifoid, akan tetapi memerlukan tenaga ahli, waktu dan biaya cukup besar. Saat ini, berbagai pemeriksaan serologis demam tifoid terus berkembang sebagai alternatif diagnosis. Pemeriksaan dapat dilakukan secara ELISA, rapid test, hemaglutinasi atau PCR menggunakan spesimen darah, urin atau saliva. Masing-masing tes memiliki sensitivitas/ spesifisitas berbeda dalam mendiagnosis demam tifoid, sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu rekomendasi pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis demam tifoid pada anak.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Rekomendasi IDAI Mengenai Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Demam Tifoid

Rekomendasi IDAI Mengenai Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Demam Tifoid

selama ini banyak digunakan dalam diagnosis demam tifoid, telah terbukti mempunyai sensitifitas dan spesifisitas rendah, sehingga tidak lagi direkomendasikan. Pemeriksaan kultur darah/ urin/ feses merupakan baku emas diagnosis tifoid, akan tetapi memerlukan tenaga ahli, waktu dan biaya cukup besar. Saat ini, berbagai pemeriksaan serologis demam tifoid terus berkembang sebagai alternatif diagnosis. Pemeriksaan dapat dilakukan secara ELISA, rapid test, hemaglutinasi atau PCR menggunakan spesimen darah, urin atau saliva. Masing-masing tes memiliki sensitivitas/ spesifisitas berbeda dalam mendiagnosis demam tifoid, sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu rekomendasi pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan dalam menegakkan diagnosis demam tifoid pada anak.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Akurasi pemeriksaan interleukin-6 urin terhadap pemeriksaan kultur urin dalam menegakkan diagnosis pielonefritis pada neonatus

Akurasi pemeriksaan interleukin-6 urin terhadap pemeriksaan kultur urin dalam menegakkan diagnosis pielonefritis pada neonatus

Pielonefritis akan mengaktifkan respon lokal dan sistemik. Serum IL-6, urin lebih tinggi pada pasien dengan demam pielonefritis dibandingkan dengan bakteriuria asimptomatik. Interleukin-6 merupakan mediator awal proses inflamasi. Interleukin-6 merupakan pirogen endogen yang mengaktivasi fase akut, terutama CRP dan faktor maturasi untuk limfosit mukosa. Interleukin-6 disintesis oleh bermacam-macam sel termasuk makrofag, fibroblast, sel endotelial dan sel epitel tubulus renalis.

63 Baca lebih lajut

DEMAM TIFOID

DEMAM TIFOID

Malaria, hepatitis, bacterial enteritis, demam dengue, infeski rickettsia (tifus), leptospirosis, amebic liver disease, infeksi HIV akut, abses abdomen, toksoplasmosis, appendisitis, TBC, dan plu. c Anda harus curiga bahwa pasien menderita penyakit ini jika pasien mengalami demam dan sebelumnya bepergian ke daerah endemik atau tinggal didaerah endemik. Setelah itu lakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik untuk mencari gejala-gejala yang telah disebutkan diatas. ntuk mendukung hasil anamnesa dan peneriksaan fisik, dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium, seperti tes widal dan uji fungsi liver dan enzim otot, serta PTT/aPTT. Pada penderita demam tifoid, hasil tes widalnya akan positif (tes ini memeriksa adanya antigen O dan H dalam darah pasien), uji fungsi liver dan enzim ototnya akan meningkat sedang, serta PTT/aPTTnya kana meningkat sedikit. Tetapi tes ini tidak definitive. Diagnosa
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Peran Pemeriksaan Laboratorium dalam Penegakan Diagnosis  Penyakit Kusta

Peran Pemeriksaan Laboratorium dalam Penegakan Diagnosis Penyakit Kusta

Kusta adalah salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, terutama di Indonesia sebagai negara dengan prevalensi tertinggi ketiga di dunia. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dengan gejala dan tanda klinis yang menyerupai penyakit kulit lainnya, sehingga sering disebut sebagai the great imitator. Diagnosis penyakit kusta umumnya sudah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu dengan gejala dan tanda klinis yang meragukan misalnya pada kasus kusta awal, diperlukan pemeriksaan laboratorium seperti mikroskopis, histopatologis, serologis, dan molekular untuk membantu menegakkan diagnosis.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN PEMERIKSAAN UJI TUBEX TF DENGAN UJI WIDAL DALAM MENDIAGNOSIS DEMAM TIFOID

PERBANDINGAN PEMERIKSAAN UJI TUBEX TF DENGAN UJI WIDAL DALAM MENDIAGNOSIS DEMAM TIFOID

Diagnosis pasti demam tifoid ditegakkan berdasarkan hasil biakan empedu ( kultur Gaal ). Saat ini masih merupakan standar baku diagnosis, namun pada kenyataan sehari-hari sering memberikan hasil negatif. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain pemakaian antibiotik sebelum pengambilan spesimen, waktu pengambilan sampel serta transportasi yang lama sehingga sensitivitas pemeriksaan juga menurun. Biakan empedu dari darah dapat mendeteksi sampai 70% kasus demam tifoid pada minggu pertama sakit tanpa pemakaian antibiotik sebelumnya. 4 Biakan dari aspirasi sumsum tulang lebih sensitif, dapat mendeteksi hampir 80-95% kasus tifoid, bahkan pada mereka yang sudah mendapat terapi antibiotik sebelumnya. 4,5 Namun cara ini jarang dilakukan karena bersifat invasif. Biakan dari urin maupun feses menyokong diagnosis klinik, namun hasil positif jarang ditemukan dan memerlukan pemeriksaan yang berulang-ulang. 1,4,6
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

referat-demam-tifoid

referat-demam-tifoid

Pengamatan selama 6 tahun (1987-1992) di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr.Soetomo Surabaya terhadap 434 anak berumur 1-12 tahun dengan diagnosis demam tifoid atas dasar ditemukannya S.typhi dalam darah dan 85% telah mendapatkan terapi antibiotika sebelum masuk rumah sakit serta tanpa memperhitungkan dimensi waktu sakit penderita, didapatkan keluhan dan gejala klinis pada penderita sebagai berikut : panas (100%), anoreksia (88%), nyeri perut (49%), muntah (46%), obstipasi (43%) dan diare (31%). Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran delirium (16%), somnolen (5%) dan sopor (1%) serta lidah kotor (54%), meteorismus (66%), hepatomegali (67%) dan splenomegali (7%). 10 Hal ini sesuai dengan penelitian di RS Karantina Jakarta dengan diare (39,47%), sembelit (15,79%), sakit kepala (76,32%), nyeri perut (60,5%), muntah (26,32%), mual (42,11%), gangguan kesadaran (34,21%), apatis (31,58%) dan delirium (2,63%). 9 Sedangkan tanda klinis yang lebih jarang dijumpai adalah disorientasi, bradikardi relatif, ronki, sangat toksik, kaku kuduk, penurunan pendengaran, stupor dan kelainan neurologis fokal. 6
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

DEMAM TIFOID-Lapsus

DEMAM TIFOID-Lapsus

Biakan darah, pemeriksaan darah rutin, dan tes serologis Widal dilakukan guna menegakkan diagnosis demam tifoid, pemeriksaan serologis IgM untuk mendeteksi kemungkinan adanya infeksi campak, tes tourniquet untuk melihat adanya manifestasi perdarahan pada penderita demam berdarah dengue. Biakan liquor serebrospinal diharapkan dapat mengetahui ada tidaknya infeksi pada selaput meningeal. Tes Mantoux digunakan untuk membuktikan ada atau tidaknya infeksi tuberkulose. Pemeriksaan darah rutin dan hapusan darah tepi berfungsi untuk mendeteksi adanya kemungkinan terinfeksi malaria.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

demam tifoid pada anak

demam tifoid pada anak

Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes TUBEX® ini, beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal.4 Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%.15 Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%.9 Tes ini dapat menjadi pemeriksaan yang ideal, dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat, mudah dan sederhana, terutama di negara berkembang.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ABSTRAK. Kata Kunci : Demam Tifoid, Pemeriksaan Widal, Metode Slide, Metode Tabung

ABSTRAK. Kata Kunci : Demam Tifoid, Pemeriksaan Widal, Metode Slide, Metode Tabung

44 PENDAHULUAN Demam tifoid merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting disebagian besar negara berkembang di dunia. Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang Nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Penyakit ini mudah menular dan menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menahun yang dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Anak-anak sangat rentan terkena demam tifoid. Walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Di hampir semua daerah endemik, insiden demam tifoid banyak terjadi pada anak usia 3 - 9 tahun (Irianto, 2014). Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di Negara berkembang meliputi keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium, diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain. Tes laboratorium merupakan sarana yang sangat berarti dalam mendiagnosis penyakit ini (Zulkarnain, 2004).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Perbandingan Hasil Pemeriksaan Widal Tabung Negatif dengan Pemeriksaan Polimerase Chain Reaction (PCR) dalam Menegakan Diagnosa Demam Tifoid

Perbandingan Hasil Pemeriksaan Widal Tabung Negatif dengan Pemeriksaan Polimerase Chain Reaction (PCR) dalam Menegakan Diagnosa Demam Tifoid

1 Mahasiswa Magister Imunologi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga Abstract: Comparison of Negative-Tube Widal Examination between Polimerase Chain Reaction (PCR) Examination to Enforcing Tifoid Fever Diagnose. Typhoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella typhi. This disease can be found in many developing countries. Typhoid fever can be diagnosed clinically and through laboratory tests. The laboratory tests often applied are serological examinations including the Widal test. Another method is PCR (Polymerase Chain Reaction), which is also believed to provide a high diagnostic value to identify Salmonella typhi bacteria. This study aimed to compare the negative-tube examination results between the Widal test and the PCR test in establishing the diagnosis of typhoid fever. This research study is descriptive. Based on the results of the examination on 20 samples of the negative tubes using Salmonella typhi Widal test and PCR test, 12 samples proved positive and 8 samples were negative from Salmonella typhi infection. There were differences in the percentage between negative-tube Widal test and PCR test results. It indicated that the PCR method had a higher sensitivity and specificity compared to the Widal test. The PCR was used only limitedly in research. Thus, it is expected that in the future, PCR can be useful as one of the routine diagnostic tools for typhoid fever. Keywords: Typhoid fever, PCR test, widal test
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Tujuan 1. Melakukan diagnosis dan diagnosis banding demam tifoid beserta komplikasinya

Tujuan 1. Melakukan diagnosis dan diagnosis banding demam tifoid beserta komplikasinya

Masa inkubasi berkisar demam tifoid berkisar antara 7–14 hari, namun dapat mencapai 3–30 hari. Manifestasi klinis tergantung usia, makin tua umur anak makin berat mendekati gejala demam tifoid dewasa. Pada usia sekolah dan remaja awitan perlahan-lahan (insidious), mula-mula demam remiten disertai malaise, mialgia, nyeri kepala, dan nyeri abdomen lokalisasinya tidak dapat ditentukan, buang air besar mula-mula dapat diare namun selanjutnya konstipasi. Suhu meningkat secara bertahap setiap hari dan akan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama (step ladder temperature chart), selanjutnya demam akan bertahan tinggi. Pada saat demam tinggi seringkali disertai delirium. Apabila sakit melanjut pasien dapat mengalami disorientasi, letargi, bahkan stupor. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan bradikardi relatif, hepatosplenomegali, abdomen kembung disertai nyeri difus, rose spot (50% kasus) dijumpai pada hari ke 7–10. Bila tidak ada penyulit, penyembuhan terjadi setelah 2–4 minggu secara bertahap. Pada balita penyakit ini lebih jarang terjadi, biasanya lebih ringan daripada anak besar dan sulit dibedakan dengan infeksi virus. Seringkali diserti diare sehingga sering didiagnosis sebagai gastroenteritis.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...