Top PDF Pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap Pendidikan

Pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap Pendidikan

Pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap Pendidikan

Bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA PADA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS DI INDONESIA - IAIN Syekh Nurjati Cirebon

KONTRIBUSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA PADA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN IPS DI INDONESIA - IAIN Syekh Nurjati Cirebon

2. Pemikiran Ki Hajar Dewantara masih memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan pendidikan Dewasa ini, dengan membanjirnya arus-arus kebudayaan asing akibat dari adanya globalisasi dalam berbagai macam aspek kehidupan bangsa, strategi Tri-Kon nya Ki Hajar Dewantara ini masih sesuai dengan kebutuhan jaman. Asas Tri-Kon ini setidaknya dapat memberikan pendidikan karakter terhadap anak-anak didik atau generasi muda yang akan datang agar tidak kehilangan karakter sebagai sebuah bangsa. Pendidikan IPS yang diajarkan pada semua tingkatan jenjang pendidikan menjadi salah satu elemen penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter terhadap peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar para generasi muda kelak tidak kehilangan kepribadian dalam pergaulan internasional dalam era globalisasi ini. Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara sekali lagi kontribusi penting dalam dunia pendidikan kita, hal ini menjadi pelajaran agar memperhatikan asas-asas kebangsaan dan kearifan lokal dalam
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Konsep Pendidikan Dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Di Indonesia

Konsep Pendidikan Dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Di Indonesia

Dalam hal pendidikan itu bukan hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan kepada muridnya, akan tetapi lebih luas dari itu yakni mentransfer nilai. Selain dari itu pendidikan dapat diartikan sebagai kebudayaan agar selalu menggali dan memajukan potensi dan kekreatifan yang dimilikinya. 1 Berfikir menjadi suatu keutamaan bagi transformasi kehidupan seorang manusia secara internal yang berhubungan dengan refleksi diri, sedangkan eksternal menyangkut bagaimana hubungan dengan pihak luar diri. Dalam konteks tersebut, pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan awal mulanya adalah upaya berfikir guna menyiasati terwujudnya kehidupan yang bernilai bermakna, bersahaja, dan bermartabat atau disebut dengan pendidikan yang berkarakter. 2
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF HADITS NABI SAW.

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF HADITS NABI SAW.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pusat pendidikan yang utama terdapat di lingkungan keluarga, oleh sebab itu alam keluarga menuntut terjadinya pendidikan bagi anak baik pendidikan individual maupun sosial. Karena lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan sebagai permulaan bagi setiap individu untuk mengembangkan potensinya, disitulah pertama kalinya pendidikan yang diberikan oleh orangtua yang berkedudukan sebagai guru (penuntut), pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Oleh sebab itu peran orang tua sangat penting dalam memberikan pendidikan budi pekerti sejak dini. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci, secara pengetahuan belum tahu apa-apa dan belum mendapatkan bimbingan pendidikan dari segi manapun, disinilah tugas orang tua dalam lingkup keluarga untuk mengasah pola pikir anak untuk mengembangkan potensi anak. Sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan adalah adanya kebebasan dan spontanitas untuk mendapatkan kemerdekaan hidup seluas-luasnya melalui bidang pendidikan.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Maria Montessori tentang Pendidikan Anak Usia Dini

Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Maria Montessori tentang Pendidikan Anak Usia Dini

Mendalami ilmu pendidikan anak usia dini tidak dapat dilakukan apabila hanya mengkaji pemikiran satu tokoh saja. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui (1) pemikiran, (2) persamaan dan perbedaan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Maria Montessori tentang pendidikan anak usia dini. Metode yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan yang mengkomparasikan pemikiran kedua tokoh. Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan mulai januari sampai februari 2020. Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan (1) pemikiran pendidikan anak usia dini menurut Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang diberikan pada anak 0-7 tahun dengan pemberian pendidikan yang memperhatikan unsur alami anak dengan materi melatih panca indera menggunakan metode lahiriah dan batiniah dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat dengan tujuan mengembangkan cipta, rasa dan karsa pada anak. Menurut Maria Montessori pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diberikan untuk anak 0-6 tahun dilakukannya dilingkungan sekolah dengan materi keterampilan sehari-hari menggunakan metode lahiriah dan batiniah yang memberikan kebebasan anak untuk memilih aktivitas dan media yang ingin digunakan. (2) persamaan dan perbedaan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Maria Montessori tentang anak usia dini terletak dari aspek nama dan filosofi sekolah, setting lingkungan, dasar pemikiran PAUD, metode dan tugas pendidik.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA

Metode Among merupakan metode pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan dilandasi dua dasar, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. 9 Metode Among menempatkan anak didik sebagai subyek dan sebagai obyek sekaligus dalam proses pendidikan. Metode among mengandung pengertian bahwa seorang pamong/guru dalam mendidik harus memiliki rasa cinta kasih terhadap anak didiknya dengan memperhatikan bakat, minat, dan kemampuan anak didik dan menumbuhkan daya inisiatif serta kreatif anak didiknya. Pamong tidak dibenarkan bersifat otoriter terhadap anak didiknya dan bersikap Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Hasil pembahasan pendidikan yang memerdekakan adalah sebuah kesimpulan filosofis yang merupakan hasil dari refleksi kritis penulis atas pemikiran Ki Hajar Dewantara. Hasil keseluruhan refleksi kritis filosofis penulis terhadap pendidikan yang memerdekakan adalah pemaknaan lebih lanjut terhadap eksistensi manusia dalam keutuhan kodrat insani yaitu intelek, kehendak bebas serta makhluk sosial. Ketiga hal tersebut membentuknya untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia mandiri, dan mampu memaknai eksistensinya dalam kehidupan sosial. Menjadi pribadi mandiri dan memaknai kehidupan sosial menjadi penting karena manusia secara kodrati mampu berdiri sendiri tetapi di sisi lain bergantung pada orang lain. Hal ini menjadi acuan pemahaman kita untuk melihat realitas kesejarahan manusia.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pendidikan Musik dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Pendidikan Musik dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Fenomena kehidupan kesenian kita saat ini bisa jadi merupakan buah dari lemahnya pendidikan seni kita yang kurang memperhatikan seni budaya bangsa sendiri. Apa yang dipikirkan oleh Ki Hajar Dewantara, ternyata menjadi kenyataan dalam kehidupan kita saat ini. Begitu banyak jenis kesenian, khususnya musik yang digemari masyarakat di seluruh tanah air, sebenarnya merupakan peniruan atau dalam istilah Ki Hajar memola seni musik dari Barat. Contoh konkritnya yakni musik-musik populer yang meraup keuntungan milyaran rupiah. Sementara seni musik tradisi kita seperti gamelan, kecapi suling, talempong dll, hidupnya kembang kempis. Hanya sedikit kalangan yang mengapresiasinya dengan baik. Implikasi dari perilaku peniruan ini juga nampak pada wujud kebudayaan lainnya seperti cara berbusana, gaya hidup, cara berpikir dan bertindak. Kita perlu memikirkan dan menyikapi pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut dalam perbuatan nyata melalui pendidikan seni, agar kita tidak terus-menerus berada dalam situasi kebudayaan yang diombang-ambingkan oleh negara lain.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DI SMA TAMAN MADYA SE-KOTA YOGYAKARTA.

PEMAHAMAN SISWA TERHADAP PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DI SMA TAMAN MADYA SE-KOTA YOGYAKARTA.

Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, kebudayaan dan kebangsaan sangat baik dan mengandung nilai-nilai serta falsafah hidup dan kehidupan bangsa Indonesia. Ajaran Ki Hajar Dewantara tentang kemanusiaan sangat cocok untuk budaya kebangsaan Indonesia seperti dikutip pada pesan Ki Hajar Dewantara ‘Lawan Sastra Ngesti Mulya” yang artinya adalah jika manusia itu menggenggam ilmu pengetahuan yang diandaikan sebagai sastra, sebagai bangsa Indonesia, maka manusia akan mampu mencapai kemuliaan. Pembangunan pendidikan berarti membangun peradaban yang bermartabat untuk masa depan bangsa dan negara, namun dewasa ini pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara dan ajarannya yang demikian baik tidak dilaksanakan dan tidak dijadikan pedoman dengan baik oleh pemerintah dan Taman Siswa, sehingga Taman Siswa tidak berkembang.
Baca lebih lanjut

138 Baca lebih lajut

Studi Komparasi Konsep Pendidikan dalam Keluarga Menurut Zakiah Daradjat dan Ki Hajar Dewantara

Studi Komparasi Konsep Pendidikan dalam Keluarga Menurut Zakiah Daradjat dan Ki Hajar Dewantara

Implikasi pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah kendati pun banyak menekankan pada pendidikan keluarga namun gagasan dan perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Hal ini mengingat keluarga sebagai pusat pendidikan, yang berarti menuntut adanya berbagai pendidikan baik pendidikan individual maupun pendidikan sosial bagi anak dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Bukti pentingnya konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara hingga sosoknya dikenal sangat identik dengan pendidikan di Indonesia dan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai hingga saat ini oleh Departemen Pendidikan yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan). Implikasi konsep pendidikan Zakiah Daradjat khususnya di bidang pendidikan agama mempengaruhi wajah sistem pendidikan di Indonesia. Pembaharuan monumental yang sampai sekarang masih terasa pengaruhnya adalah keluarnya SKB Tiga Menteri (Menteri Agama, Mendikbud, dan Mendagri) pada tahun 1975, yaitu sewaktu jabatan Menteri Agama diduduki oleh Mukti Ali. Melalui surat keputusan tersebut Zakiah menginginkan peningkatan penghargaan terhadap status madrasah, salah satunya dengan memberikan pengetahuan umum 70 persen dan pengetahuan agama 30 persen. Aturan yang kemudian dilanjutkan dengan menjadikan madrasah sebagai pendidikan berciri khas Islam yang hingga kini memungkinkan lulusan madrasah diterima di perguruan tinggi umum. Konsep pendidikan yang dimilikinya diupayakan melalui Peningkatan mutu Pengelolan (administrasi) dan akademik madrasah-madrasah yang ada di Indonesia sehingga mulai munculah apa yang disebut sebagai Madrasah Model.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Studi Komparasi Konsep Pendidikan dalam Keluarga menurut Zakiah Daradjat dan Ki Hajar Dewantara

Studi Komparasi Konsep Pendidikan dalam Keluarga menurut Zakiah Daradjat dan Ki Hajar Dewantara

Implikasi pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah kendati pun banyak menekankan pada pendidikan keluarga namun gagasan dan perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Hal ini mengingat keluarga sebagai pusat pendidikan, yang berarti menuntut adanya berbagai pendidikan baik pendidikan individual maupun pendidikan sosial bagi anak dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Bukti pentingnya konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara hingga sosoknya dikenal sangat identik dengan pendidikan di Indonesia dan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakai hingga saat ini oleh Departemen Pendidikan yaitu tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan). Implikasi konsep pendidikan Zakiah Daradjat khususnya di bidang pendidikan agama mempengaruhi wajah sistem pendidikan di Indonesia. Pembaharuan monumental yang sampai sekarang masih terasa pengaruhnya adalah keluarnya SKB Tiga Menteri (Menteri Agama, Mendikbud, dan Mendagri) pada tahun 1975, yaitu sewaktu jabatan Menteri Agama diduduki oleh Mukti Ali. Melalui surat keputusan tersebut Zakiah menginginkan peningkatan penghargaan terhadap status madrasah, salah satunya dengan memberikan pengetahuan umum 70 persen dan pengetahuan agama 30 persen. Aturan yang kemudian dilanjutkan dengan menjadikan madrasah sebagai pendidikan berciri khas Islam yang hingga kini memungkinkan lulusan madrasah diterima di perguruan tinggi umum. Konsep pendidikan yang dimilikinya diupayakan melalui Peningkatan mutu Pengelolan (administrasi) dan akademik madrasah-madrasah yang ada di Indonesia sehingga mulai munculah apa yang disebut sebagai Madrasah Model.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA

Pemikiran anak usia dini berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Didasarkan pada pola pengasuhan yang berasal dari kata “asuh” artinya pemimpin dan pengelola. Maka pengasuh adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin dan mengelola. Dalam hal ini mengasuh anak maksudnya adalah memelihara dan mendidiknya dengan penuh pengertian. Pembelajaran pada anak dilakukan terus menerus dari zaman nenek moyang sampai sekarang masih tetep diterapkan. Contohnya pembiasaan pengucapan salam kepada orang yang lebih tua, berdoa sebelum makan dan sesudah melaksanakan kegiatan, mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantunya dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KONSEP GURU DALAM PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA DILIHAT DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM.

KONSEP GURU DALAM PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA DILIHAT DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM.

Guru merupakan komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tanpa adanya sosok guru tidak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu agar seorang guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka guru dituntut untuk menguasai kompetensi keguruan. Namun disinyalir guru-guru menghiraukan aspek- aspek tersebut. Guru hanya melakukan pengajaran tanpa menguasai kemampuan pedagogik, guru hanya menuntut profesionalisme gaji tanpa meningkatkan profesionalisme dalam mengajar, guru hanya sebatas pengajar di kelas tanpa menyadari bahwa dirinya merupakan panutan bagi para muridnya di luar kelas baik itu dari aspek penampilan, tingkah laku, sikap dan berbicara. Melihat realita tersebut, seharusnya guru memahami konsep guru ideal, salah satunya seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Hal ini dimaksudkan agar seorang guru mampu bersikap profesional dalam mengajar disertai pemahaman mengenai ilmu kependidikan dengan landasan pribadi yang mulia. Di dalam penelitian ini pemikiran Ki Hajar Dewantara akan ditinjau dari segi pandangan pendidikan Islam, dengan maksud untuk mengetahui keselarasan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan ditunjang oleh studi literatur. Selain dari itu teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research). Hasil temuan menunjukan bahwa, konsep guru yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara meliputi tugas guru sebagai among atau pembimbing, penasehat, pendidik, pengajar, pemberi motivasi, penuntun dan pemimpin, dan menjelaskan kompetensi keguruan yang harus dikuasai yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, dan terakhir pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai gaji guru. Dari hasil temuan tersebut kemudian dilakukan analisis serta pembahasan menggunakan teori pendidikan Islam dan hasilnya konsep guru dalam pandangan Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan Islam berjalan selaras karena memiliki banyak kesamaan. Meskipun Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh nasionalis, namun sebagai seorang muslim, pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak terlepas dari nilai-nilai Islam dan dari hasil pembahasan mengenai pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang guru dapat dikatakan termasuk ke dalam pemikiran pendidikan Islam.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Pemikiran Pancadarma Ki Hadjar Dewantara Perspektif Pendidikan Islam

Pemikiran Pancadarma Ki Hadjar Dewantara Perspektif Pendidikan Islam

Namun, meskipun sederhana dan tidak banyak seperti metode pengajaran Islam, kelima metode yang digagas Ki Hadjar mencakup tiga aspek domain yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Misalnya, dengan metode pengajaran secara tidak langsung terjadi proses intelektualisasi sehingga tingkat penguasaan ilmu seseorang semakin meningkat. Dengan laku pada proses selanjutnya, murid akan melakukan dan mengkontekstualisasikan pelajaran yang didapatnya. Ketidak sesuaian metode pendidikan Ki Hadjar dengan Islam adalah terletak dari tujuan akhir dari metode itu; dimana metode Ki Hadjar adalah cara (metode) mendidik guru agar anak bisa berkembang secara maksimal sesuai kodrat alamnya untuk meraih cita-cita luhur yang diinginkan. Sementara dalam metode pendidikan Islam adalah cara mendidik guru agar anak bisa berkembang secara maksimal dan berlaku baik agar kelak menjadi manusia yang bisa masuk surga.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tujuan Pembelajaran Berlandaskan Konsep Pendidikan Jiwa Merdeka Ki Hajar Dewantara

Tujuan Pembelajaran Berlandaskan Konsep Pendidikan Jiwa Merdeka Ki Hajar Dewantara

KHD ditinjau dari perspektif ini tergolong intelektual produktif dalam menghasilkan karya berupa tulisan dalam berbagai bidang keilmuan. Adapun karya-karya KHD tersebut antara lain: Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. (Yogyakarta: Pendidikan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1961), Ki Hajar Dewantara Bagian Kedua: Kebudayaan. (Yogyakarta: Pendidikan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1961), Asas- Asas dan Dasar-Dasar Tamansiswa (Yogyakarta: Pendidikan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1964), Demokrasi dan Leiderschap (Yogyakarta: Pendidikan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1964), Wanita (Yogyakarta: Pusat Pengembangan Komunitas Perempuan Nyi Hajar Dewantara, 2000)
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengasingan Ki Hajar Dewantara (1913-1917).

Pengasingan Ki Hajar Dewantara (1913-1917).

Tetep, antep, mantep 14 artinya bahwa pendidikan itu harus membentuk ketetapan pikiran dan batin, menjamin keyakinan diri dan membentuk kemantapan dalam prinsip hidup.Istilah tetep di sini dapat dimaknai dalam kerangka yang prinsipil, yakni memiliki ketetapan pikiran (untuk berkomitmen) yang selaras dengan nilai-nilai sosial.Pendidikan membentuk seseorang untuk mampu berpikir kritis dan memiliki ketetapan pikiran dalam khasanah nilai- nilai.Artinya, pikirannya tidakgampang terombang-ambingkan oleh tawaran- tawaran hidup yang tidak selaras dengan nilai-nilai. Istilah antep menunjukkan bahwa pendidikan menghantar seseorang untuk memiliki “kepercayaan diri” dan keuletan diri untuk maju terus dalam mengatasi segala tantangan kehidupan secara kstria (bersahaja). Dalam praksis kehidupan, orang yang antep adalah yang memiliki keteguhan hati ke arah kwalitas diri sebagai manusia personal dan anggota komunitas sosial. Sementara istilah mantepmenunjukkan bahwa pendidikan menghantar seseorang untuk berkanjang dalam kemajuan diri, memiliki orientasi yang jelas untuk menuju tujuan yang pasti, yakni kemerdekaan diri sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga dunia. Jadi, landasan
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

Gagasan Ki Hajar Dewantara Tentang Kesenian dan Pendidikan Musik di Tamansiswa Yogyakarta

Gagasan Ki Hajar Dewantara Tentang Kesenian dan Pendidikan Musik di Tamansiswa Yogyakarta

Dari berbagai konsepsi dan pemikiran tentang pendidikan kesenian kebangsaan, secara tidak sengaja telah mendekatkan anak kepada kebudayaan sendiri, yang berarti juga mendidik anak itu menurut kodratnya dengan keadaan alam sekitarnya. Meskipun kebudayaan sendiri belum berwujud nyata, tetapi daerah-daerah yang merupakan bagian-bagian dari negara Indonesia banyak mempunyai corak dan bahan-bahan untuk dijadikan dasar dalam mendidik anak. Dari pangkal inilah dapat memupuk perkembangan jiwa anak, dan dari pangkal ini pulalah dapat dikembangkan cita-cita pendidikan kesenian kebangsaan yang bermuara pada keanekaragaman budaya Indonesia. Demi menghindari salah tafsir, bahwa sesuatu bangsa hanya dapat kuat dan berharga dalam pergaulan dunia, jika bangsa itu mempunyai corak yang sesuai dengan kodrat dan watak pembawaanya, yang terlahir berupa kebudayaan. Artinya, bangsa Indonesia tidak menolak pemasukan dan pencampuran kebudayaan lain bangsa, tetapi justru sebaliknya, bangsa Indonesia tidak segan-segan mengoper bahan-bahan kebudayaan bangsa lain untuk memperkaya kebudayaan, dengan corak dan dasar dari budaya bangsa sendiri.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Implementasi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dalam Manajemen Pembelajaran Praktik

Implementasi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dalam Manajemen Pembelajaran Praktik

          Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia efektifitas diartikan: a) mempunyai efek, pengaruh, akibat, dan; b) memberikan hasil yang memuaskan. Efektifitas merupakan derifasi dari kata efektif yang dalam bahasa Inggris effective didefinisikan secara sederhana “coming into use” (Oxford Leaner’s Pocked Dictionary, 2003:138). Efektifitas dalam eksiklopedi Administrasi sebagai berikut “suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki (Sunarto dalam jurnal ilmiah Tut wuri handayani volume 5). Kegiatan pembelajaran menurut Dick & Carey (2005:189) yaitu: (1) memberikan moti vasi atau menarik perhatian; (2) menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa; (3) mengingatkan kompetensi prasyarat; (4) memberi stimulus (masalah, topik, konsep); (5) memberi petunjuk belajar (cara mempelajari); (6) menimbulkan penampilan siswa; (7) memberi umpan balik; (8) menilai penampilan; dan (9) penyimpulkan. Semua aspek tersebut digunakan dalam pelaksanaan startegi pembelajaran praktik yang dikembangkan dalam pengembangan model pembelajaran (R. Mursid dalam jurnal UNJ pendidikan usia dini, cakrawala pendidikan 2013). Pembelajaran praktik di LKP Fennyke berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dalam RPP. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan kaitannya implementasi konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara Dalam Manajemen Pembelajaran Praktik berjalan dengan efektif, sesuai dengan konsep kepemimpinan yang tertuang dalam trilogi kepemimpinan yaitu: Ing
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

66 BAB III GURU PROFESIONAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

66 BAB III GURU PROFESIONAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Ki Hajar Dewantara mengatakan setelah mengetahui tentang pokok isinya pengajaran budi pekerti, yaitu segala apa yang mengandung maksud memelihara keinsyafan dan kesadaran dalam hal hidup tertib damai bagi diri anak-anak dan masyarakat, maka perlulah kita tahu akan bahan-bahan yang harus atau seyogyanya dapat dijadikan sebagai isi pendidikan budi pekerti selain bahan-bahan secara spontan, ada bahan lainya yaitu:dongeng-dongeng, atau “mythen”, lakon-lakon dalam pertunjukan wayang, sejarah bangsa sendiri dan bangsa lainya, ceritera-ceritera yang terdapat dalam buku-buku ciptaan para sastrawan di seluruh dunia, kitab suci dari masing-masing keyakinan yang tidak akan habis-habis tertimba, serta adat istiadat yang menurut prinsipnya merupakan peraturan tertib damai yang tidak tertulis”.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Studi komparasi nilai pendidikan karakter prespektif Ki Hajar Dewantara dan K.H. Wahid Hasyim

Studi komparasi nilai pendidikan karakter prespektif Ki Hajar Dewantara dan K.H. Wahid Hasyim

Soewardi kecil diasuh oleh Kyai Haji Abdurrahman, seorang kyai dari Kalasan. Beliau juga pernah satu perguruan dengan tokoh-tokoh besar, yakni R.A. Kartini, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, dan K.A. Surjomentaram di bawah asuhan Mbah Sholeh Darat dari Semarang. 84 Sebagai bengsawan Jawa, Soewardi mengenyam pendidikan ELS (Europeesche Lagere School) yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantarnya atau sekolah rendah untuk anak- anak Eropa. Kemudian beliau mendapat kesempatan untuk belajar di STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen) atau biasa disebut dengan Sekolah Dokter Jawa pada tahun 1905-1910. Namun dikarenakan sakit selama 4 bulan, Soewardi tidak lulus dari sekolah ini. 85
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...