Top PDF Pemurnian Pasir Silika dengan Metode Leaching Asam dan bantuan Sonikasi

Pemurnian Pasir Silika dengan Metode Leaching Asam dan bantuan Sonikasi

Pemurnian Pasir Silika dengan Metode Leaching Asam dan bantuan Sonikasi

dengan media leaching aquadest dan 99,37% dengan media leaching asam oksalat, semakin meningkat sampai waktu sonikasi 15 menit dan mulai mengalami penurunan kadar SiO 2 pada waktu sonikasi antara 25 sampai dengan 60 menit dan kembali mengalami kenaikan kadar SiO 2 pada waktu sonikasi 90 sampai dengan 120 menit. Karena pada proses sonikasi dengan bantuan leaching terjadi peristiwa microjetting yang dihasilkan dari tumbukan antar partikel padatan dan bubble kavitasi, dimana peristiwa ini mengakibatkan cracking dari partikel dan membantu media leaching untuk mengekstrak impuritis yang terdapat didalam matriks pasir silika, sehingga dihasilkan kadar SiO 2 dengan kemurnian tinggi. Kenaikan kadar SiO 2 pada produk hasil sonikasi menunjukkan hasil tidak signifikan pada waktu sonikasi setelah 10 menit. Hal ini dikarenakan efisiensi leaching akan meningkat dengan bertambahnya waktu sonikasi sampai diperoleh kesetimbangan. Waktu leaching antara 3 dan 60 menit dijelaskan dalam beberapa literatur merupakan waktu yang dapat menghasilkan pengurangan yang signifikan. Hal dikarenakan adanya degradasi dari bahan atau dekomposisi dari pelarut organik yang disebabkan oleh gelombang ultrasound. Variabel waktu sonikasi yang digunakan sampai dengan 120 menit, hal ini bertujuan untuk memperoleh kandungan SiO 2 yang setinggi-tingginya sesuai dengan kualifikasi pasir kuarsa yang dibutuhkan pada berbagai industri yaitu dengan kandungan SiO 2 diatas 99%.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pemurnian pasir silika menggunakan proses sonikasi dalam media asam oksalat

Pemurnian pasir silika menggunakan proses sonikasi dalam media asam oksalat

Silica sand can be used as raw material for several industries , one of which is a glass industry. For glass industry silica sand must have hight purify, with contents of iron (Fe) maximum 0,03% and minimum of Silika (SiO 2 ) is 99%. Therefore purification process must be performed, one of several ways is using ultrasound with assistance of waek acid. The purpose of this study is to study the effect of ultrasound on silica sand purification and find the concentration of the acid with the optimum processing time to obtain purity silica sand with a high content. The result were analyzed by Scanning Electron Microscopy (SEM), X-Ray Fluorescence (XRF) for solid, and liquid using Spectro- photometer UV-Vis. In the purification process of Rembang ‘s silica sand, XRF analysis results showed that the purity of silica sand with aquadest for 60 minutes ultrasound can increased from 94,16% to 97,97% while the lowest impurities content get form ultrasound with 1 g/L oxalic acid for 60 minutes. While the results of SEM analysis showed morphological changes of silica sand after ultrasound process with leaching media are aquadest and oxalic acid. For analysis of the results of ultrasound solution by UV-Vis spectrophotometer showed that the presence of dissolved Fe in both media media leaching with aquadest and oxalic acid.
Baca lebih lanjut

75 Baca lebih lajut

Pemurnian Silikon (Si) Hasil Reduksi Silika dari Fly Ash Batubara

Pemurnian Silikon (Si) Hasil Reduksi Silika dari Fly Ash Batubara

Beberapa metode pemurnian silikon juga yang berasal dari beberapa sampel sudah dilakukan, diantaranya adalah memurnikan silikon yang berasal dari silika fume menghasilkan kemurnian dengan kadar 99,1%. Teknik pemurniannya menggunakan tiga macam asam dalam proses leaching yaitu asam klorida, asam asetat dan asam fluorida [6]. Adjiantoro melakukan pemurnian juga pada silikon menggunakan pelarutan kimia dan menghasilkan kemurnian silikon tertinggi dengan pelarut HF. Kemurnian silikon yang dihasilkan mencapai 80,90% dan sampel yang digunakan adalah MG-Si [7]. Sitorus mengisolasi silikon dari pasir kuarsa dan dilanjutkan dengan pemurnian menggunakan leaching menghasilkan silikon dengan kemurnian 84,0 % [8]. Berdasarkan penelitian terdahulu maka dilakukan pemurnian silikon pada penelitian ini menggunakan metode leaching asam [6] dengan optimalisasi kondisi reaksi pada proses isolasi silikon dari fly ash dengan variasi komposisi silika/Mg 1:0,8 ; 1:1,5 ; 1:2 ; 1:2,5. Hasil pemurnian dikarakterisasi menggunakan XRD (x-Ray Diffraction) dengan program software Match 3.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMURNIAN PASIR SILIKA DENGAN METODE SONIKASI - ITS Repository

PEMURNIAN PASIR SILIKA DENGAN METODE SONIKASI - ITS Repository

Penelitian ini diawali dengan membuat campuran antara pasir silika dan larutan (tanpa atau dengan asam oksalat) dengan perbandingan 1:10 (w/v) didalam reaktor. Setelah itu mengkondisikan suhu water bath sesuai dengan suhu operasi, kemudian meletakkan reaktor pada water bath . Lalu melakukan proses sonikasi sesuai variabel waktu. Setelah proses sonikasi selesai, hasil sonikasi didinginkan secara cepat, kemudian memisahkan antara pasir silika dan larutan. Pasir silika hasil sonikasi dicuci dengan menggunakan aquadest sampai pH air cucian sama dengan pH aquadest (pH 5), sedangkan untuk larutan disentrifugasi selama 15 menit, lalu dipisahkan antara filtrat dan endapan hasil sentrifugasi. Sampel padatan pasir silika hasil sonikasi dianalisa dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), dan X-Ray Flouroscense (XRF ) , sedangkan untuk larutan hasil sonikasi dianalisa dengan Spektrofotometer UV-Vis.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

Pemurnian Biogas Metode Adsorpsi Menggunakan Down-Up Purifier dengan Arang Aktif dan Silika Gel sebagai Adsorben

Pemurnian Biogas Metode Adsorpsi Menggunakan Down-Up Purifier dengan Arang Aktif dan Silika Gel sebagai Adsorben

kualitas biogas melalui proses pemurnian dengan alat pemurni biogas berbentuk tabung dengan berbagai adsorben. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap kandungan metana sebelum pemurnian dan sesudah pemurnian sehingga diketahui peningkatan kualitas biogas setelah pemurnian. Selanjutnya limbah kotoran sapi difermentasi di dalam digester, kemudian biogas hasil fermentasi ini dialirkan melalui purifier biogas. Purifier metan diisi dengan variasi adsorben pada perbandingan tertentu. Katalisator yang dipakai yaitu arang aktif dan silika gel. Katalisator terebut diaktivasi terlebih dahulu agar dapat menghasilkan daya penyerapan yang maksimal. Selanjutnya dilakukan proses penyaringan biogas yang terdiri dari dua proses yaitu pertama kontrol (langsung) dengan mengambil biogas ke bagian selang keluaran gas dan proses pemurnian dengan adsorben 100% arang aktif dan 100% silika gel pada masing-masing purifier. Untuk analisis gas dilakukan 2 kali pengambilan sampel, dengan variabel Persentase CH4 dan CO2; Lama Waktu Pemurnian Gas (T); dan Kontrol/tanpa pemurnian (C). Untuk waktu yang digunakan selama proses pemurnian berlangsung untuk setiap perlakuannya, yaitu:
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

[29] Fanani. “ Kajian Pemurnian Gliserol Hasil Samping Biodiesel Jarak Pagar Menggunakan Asam Nitrat, Sulfat, Dan Fosfat .” Skripsi, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 2010.

5 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Gliserol ditambahkan asam untuk menetralkan katalis basa yang digunakan dan memecah sabun yang terbentuk menjadi asam lemak bebas dan garam [26]. Garam-garam ini memiliki kelarutan yang sangat sedikit dalam gliserol , maka garam-garam yang terbentuk ini nantinya akan mengendap di bagian dasar. Reaksi netralisasi dengan penambahan asam ini merupakan reaksi eksoterm dimana reaksi mengeluarkan panas sehingga penambahan asam harus dilakukan secara perlahan dan juga dengan pengadukan agar panas yang dihasilkan tidak terjadi secara mendadak [29].
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI PENELITIAN L.3.1 CRUDE GLISEROL Gambar L3.1 Crude Gliserol L.3.2 CRUDE GLISEROL DENGAN PENAMBAHAN HCl... L.3.3 GARAM YANG TERBENTUK SETELAH PENETRALAN Ga[r]

15 Baca lebih lajut

Analisa Pengaruh Variasi Leaching dan Penambahan Template Terhadap Pembentukan Hollow Mesoporous Silika Nanopartikel

Analisa Pengaruh Variasi Leaching dan Penambahan Template Terhadap Pembentukan Hollow Mesoporous Silika Nanopartikel

silika yang paling tinggi dihasilkan pada leaching menggunakan HNO3 sebesar 39.21 (wt%). Gugus fungsi hasil FTIR menjelaskan adanya gugus siloksan. Hasil XRD menunjukkan bahwa silika mesopori silika nanopartikel hasil proses ekstraksi mempunyai fasa amorfus. Hasil S EM pada mesopori silika nanopartikel memiliki bentuk partikel yang lebih kecil dan penyebarannya merata. Dari hasil TEM didapatkan ukuran partikel pada mesopori silika nanopartikel berkisar antara 16-80nm. Mesopori silika nanopartikel memiliki diameter pori rata-rata sebesar 12.6 nm. Penggunaan OA berhasil untuk menyeragamkan ukuran partikel.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Gliserol memiliki banyak sekali kegunaan dalam bidang industri, baik dalam bidang makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, otomotif, pulp and paper [5], sebagai solven ramah lingkungan [6] dan juga dapat dikonversi menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti biosintesis 1,3 propanadiol dari gliserol, produksi hydrogen [1], pembuatan gliserol asetat [7], acrolein [8]. Umumnya, gliserol dengan konsentrasi tinggi (di atas 99%) digunakan untuk industri makanan, obat – obatan, atau kosmetik [9] serta dapat juga dengan mudah dioksidasi, direduksi, dihalogenasikan, dieterifikasi, dan diesterifikasi untuk menjadi komoditas alternatif sebagai bahan baku proses kimia [10]. Bagaimanapun , gliserol dari hasil samping biodiesel belum cukup murni untuk digunakan dalam aplikasi berteknologi tinggi. Untuk itu diperlukan beberapa perlakuan terutama untuk menghilangkan impuritisnya [2]. Akan tetapi, pemurnian gliserol segar untuk mencapai konsentrasi tinggi memerlukan biaya operasi yang tinggi, untuk itu,
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Analisa Pengaruh Variasi Leaching Dan Penambahan Template Terhadap Pembentukan Hollow Mesoporous Silika Nanopartikel

Analisa Pengaruh Variasi Leaching Dan Penambahan Template Terhadap Pembentukan Hollow Mesoporous Silika Nanopartikel

Hasil pengujian TEM pada Gambar 2.13 (a), sampel L yang tidak dikalsinasi menunjukkan struktur lamelar (panah menunjuk daerah). Sementara itu, terdapat segmen hibrida (area yang dilingkari) dengan dua fase campuran, ditunjukkan oleh hitam dan putih. Segmen ini mungkin merupakan tampilan vertikal dari template-silica laminas. Setelah sampel dikalsinasi, struktur lamelar sepenuhnya terganggu karena pengangkatan template organik. Namun, silika laminas dengan nanopores tetap tapi terdistorsi dan melengkung terlihat pada Gambar 2.13 (b). Hasilnya menjelaskan bahwa walaupun tidak ada difraksi difraksi XRD yang diamati untuk sampel kalsinasi L, bola berongga masih memiliki luas permukaan dan volume pori-pori yang tinggi. Pada Gambar 2.13 (c) menunjukkan bahwa bola silika berongga pada sampel H memiliki cacing khas seperti struktur sebagai bahan tempel bertingkat netral tipe HMS. (Tidak banyak perbedaan yang diharapkan pada Gambar TEM dari sampel H yang tidak dikalsinasi dan dikalsinasi, walaupun setelah kalsinasi, posisi tempelan diganti oleh nanopores.
Baca lebih lanjut

133 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Penelitian ini bertujuan untuk memurnikan gliserol dengan metode asidfikasi menggunakan asam klorida, ekstraksi menggunakan kloroform dan adsorpsi dengan kabon aktif. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan diawali dengan pretreatment gliserol dengan asam klorida dengan variabel uji rasio mol ( n n ⁄ ) asam yang ditambahkan (1:1; 1:3; 1:5), dilanjutkan dengan ekstraksi dengan pelarut kloroform dengan variabel uji rasio volume ( v v ⁄ ) pelarut (1:1, 1:1,5; 1:2) dan waktu ekstraksi (20 menit, 40 menit, 60 menit). Bahan baku crude gliserol yang digunakan adalah hasil samping pabrik biodiesel dengan kadar 74,7161 % dan setelah proses pemurnian menghasilkan kadar gliserol tertinggi sebesar 90,9082%. Setelah tahapan asidifikasi dan ekstraksi kemudian dilanjutkan dengan adsorpsi dengan menggunakan karbon aktif. Bahan baku dan hasil gliserol yang sudah dimurnikan dianalisa densitas, kadar air, kadar abu dan kadar gliserol dan juga analisa komposisi menggunakan Kromatografi Gas. Hasil kemurnian terbaik didapatkan pada rasio mol ( n n ⁄ ) asidifikasi 1:1, rasio volume ( v v ⁄ ) pelarut 1:1 dan waktu ekstraksi 60 menit dengan kadar gliserol sebesar 90,9082% dengan densitas 1,2710 gr/ml , kadar air 0,2183%, kadar abu 8% dan MONG (Matter Organic non Glycerol ) 1,1357%.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Penelitian ini bertujuan untuk memurnikan gliserol dengan metode asidfikasi menggunakan asam klorida, ekstraksi menggunakan kloroform dan adsorpsi dengan kabon aktif. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia Teknik Kimia, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan diawali dengan pretreatment gliserol dengan asam klorida dengan variabel uji rasio mol ( n n ⁄ ) asam yang ditambahkan (1:1; 1:3; 1:5), dilanjutkan dengan ekstraksi dengan pelarut kloroform dengan variabel uji rasio volume ( v v ⁄ ) pelarut (1:1, 1:1,5; 1:2) dan waktu ekstraksi (20 menit, 40 menit, 60 menit). Bahan baku crude gliserol yang digunakan adalah hasil samping pabrik biodiesel dengan kadar 74,7161 % dan setelah proses pemurnian menghasilkan kadar gliserol tertinggi sebesar 90,9082%. Setelah tahapan asidifikasi dan ekstraksi kemudian dilanjutkan dengan adsorpsi dengan menggunakan karbon aktif. Bahan baku dan hasil gliserol yang sudah dimurnikan dianalisa densitas, kadar air, kadar abu dan kadar gliserol dan juga analisa komposisi menggunakan Kromatografi Gas. Hasil kemurnian terbaik didapatkan pada rasio mol ( n n ⁄ ) asidifikasi 1:1, rasio volume ( v v ⁄ ) pelarut 1:1 dan waktu ekstraksi 60 menit dengan kadar gliserol sebesar 90,9082% dengan densitas 1,2710 gr/ml , kadar air 0,2183%, kadar abu 8% dan MONG (Matter Organic non Glycerol ) 1,1357%.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Pemurnian Gliserol Dengan Metode Asidifikasi Asam Klorida dan Ekstraksi Dengan Pelarut Kloroform

Ekstraksi dengan menggunakan pelarut polar meningkatkan kandungan gliserol dibandingkan dengan tidak adanya pelarut polar. Peningkatan rasio pelarut polar : gliserol secara perlahan meningkatkan kandungan gliserol di dalam gliserol yang dimurnikan [18]. Kuantitas pelarut polar dalam jumlah yang besar mampu mengekstrak lebih banyak lagi gliserol dari garam-garam mineral dan kontaminan lainnya [14]. Walaupun kandungan gliserol dan abu dari gliserol yang dimurnikan masih dalam batas standard, penggunaan pelarut polar menyebabkan kuantitas air dan MONG masih lebih tinggi dari yang diperbolehkan [16]. Untuk meningkatkan kemurnian gliserol dan menurunkan kandungan air dan MONG, penggunaan pelarut non polar diperlukan untuk mengeliminasi asam lemak bebas [16]. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut non polar ini menyebabkan tidak adanya kehilangan dari gliserol, namun menghilangkan sisa biodiesel, asam lemak bebas, FAME, digliserida, monogliserida dan juga impuritis-impuritis minor lainnya [17].
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Pengolahan Limbah Cair Batik dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil dan Arang Ampas Tebu.

Pengolahan Limbah Cair Batik dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil dan Arang Ampas Tebu.

Industri batik di kota Solo merupakan industri yang cukup berkembang dalam menunjang perekonomian masyrakat disekitarnya. Salah satu masalah adalah hasil pencucian kain batik yang langsung di buang ke sungai akan memberikan dampak gangguan terhadap lingkungan maupun kesehatan. Untuk itu perlu adanya pengolahan air limbah hasil buangan dari pencucian kain batik tersebut.Salah satu metode yang digunakan adalah penyaringan atau filtration.

14 Baca lebih lajut

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PASIR SILIKA MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) (Studi Pada CV. BUMI SILIKA JAYA)

PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PASIR SILIKA MENGGUNAKAN METODE ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) (Studi Pada CV. BUMI SILIKA JAYA)

Salah satu bentuk usaha yang sangat diminati oleh perusahaan dan perseorangan adalah usaha yang bergerak pada bidang pertambangan sumberdaya alam. Usaha pertambangan meliputi banyak sumberdaya alam yang diantaranya seperti minyak, gas alam, batu bara, logam mulia, pasir dan masih banyak lainnya. Salah satu usaha pertambangan yang tengah diminati saat ini adalah pasir silika yang digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan batu bata ringan, semen mortar, kaca dan internit.

14 Baca lebih lajut

Pengolahan Limbah Cair Batik dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil dan Sphagnum moss di Kelurahan Laweyan dan Sondakan.

Pengolahan Limbah Cair Batik dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil dan Sphagnum moss di Kelurahan Laweyan dan Sondakan.

Industri batik di kota Solo merupakan industri yang cukup berkembang dalam menunjang perekonomian masyarakat disekitarnya. Produksi batik di kota Solo terdapat di Kelurahan Sondakan dan Laweyan, namun tidak semua proses pembuatan batik dari awal pembuatan sampai akhir pembuatan dilakukan pada pabrik / home industri tersebut. Salah satunya di daerah Pajang, Surakarta terdapat usaha unit pencucian kain batik dari Kelurahan Laweyan dan Sondakan. Dari hasil pencucian air limbah tersebut jika langsung dibuang ke sungai maka akan mengakibatkan gangguan terhadap lingkungan maupun kesehatan. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan air limbah. Salah satunya dengan metode penyaringan atau filtration.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol Dengan Metode Sonikasi

Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol Dengan Metode Sonikasi

Pada penelitian ini sebagai pelarut digunakan etanol dengan pertimbangan etanol akan mudah menguap selama proses sonikasi. Penggunaan pelarut etanol juga pernah dilakukan untuk isomerisasi eugenol menggunakan gelombang mikro dengan katalis rhodium (Hidayat et al. 2007 ). Untuk melihat pengaruh pelarut etanol ini, dilakukan analisis reaktan (eugenol) dan hasil reaksi (isoeugenol) seperti ditampilkan pada Tabel 2. Sonikasi dilakukan pada amplitudo 50% dengan waktu reaksi 20 menit.

8 Baca lebih lajut

Sintesis Silika Amorf Berbasis Pasir Ala

Sintesis Silika Amorf Berbasis Pasir Ala

Tujuan Penelitian Mendapatkan silika dengan kemurnian tinggi dari bahan Pasir Alam Bancar Mensintesis silika hasil pemurnian menjadi silika amorf dengan metode kopresipitasi... Batas[r]

14 Baca lebih lajut

Pengolahan Limbah Cair Batik Dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil Dan Arang Ampas Tebu

Pengolahan Limbah Cair Batik Dengan Metode Saringan Pasir Melalui Media Pasir Silika, Zeolite, Kerikil Dan Arang Ampas Tebu

Industri batik di kota Solo merupakan industri yang cukup berkembang dalam menunjang perekonomian masyrakat disekitarnya. Salah satu masalah adalah hasil pencucian kain batik yang langsung di buang ke sungai akan memberikan dampak gangguan terhadap lingkungan maupun kesehatan. Untuk itu perlu adanya pengolahan air limbah hasil buangan dari pencucian kain batik tersebut.Salah satu metode yang digunakan adalah penyaringan atau filtration.

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...