Top PDF Pencahayaan Dan Warna Untuk Penderita Low Vision Lanjut Usia Di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur

Pencahayaan Dan Warna Untuk Penderita Low Vision Lanjut Usia Di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur

Pencahayaan Dan Warna Untuk Penderita Low Vision Lanjut Usia Di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur

Penelitian ini mengujikan sebuah model pencahayaan dan komposisi warna untuk menunjang aktivitas para penyandang low vision. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kuantitatif. Penelitian inimenggunakan sample para penyandang low vision lanjut usia sebanyak 12 orang yang berada di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur. Model pencahayaan menggunakan modifikasi setting sumber cahaya dari lampu flourescent dan LED yang terpasang secara overhead dan spotlight. Komposisi warna yang diujikan meliputi 6 warna (hitam, putih, merah, kuning, hijau, dan biru) yang ditempatkan pada obyek dan background.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WE

HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DENGAN KUALITAS TIDUR PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WE

ini terjadi karena faktor usia mempengaruhi kualitas tidur pada lansia. Lansia yang tinggal di BPSTW Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta lebih banyak yang berusia 60 tahun ke atas. Menurut Nugroho (2009) secara umum batas lanjut usia di Indonesia yaitu usia 60 tahun ke atas. Keluhan mengenai kesulitan tidur meningkatnya umur, lebih dari 50% lansia yang berusia 65 tahun atau lebih melaporkan mempunyai masalah dengan tidur. Episode tidur REM cenderung memendek dan terdapat penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4 atau tidur yang nyenyak. Kecenderungan untuk tidur siang tampaknya semakin meningkat seiring bertambahnya usia karena sering terjaga di malam hari (Hoofman, 2003 dalam Potter & Perry, 2009). Penelitian ini didukung oleh Melancon, Lorrain & Dionne (2014) yang menyatakan seiring bertambahnya usia, priode tidur berkurang. Terjadi perubahan pada pola dan kualitas tidur pada lansia sehingga lansia lebih sering muda terbangun di malam hari.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN TINGKAT RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN TINGKAT RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI BALAI

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN TINGKAT RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN TINGKAT RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI BALAI

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Barnedh (2006) pada lansia di puskesmas Tebet bahwa lansia dengan aktivitas rendah atau jarang berolahraga berisiko 7,63 kali menderita gangguan keseimbangan dibandingkan lansia dengan aktivitas tinggi. Oleh sebab itu, lansia perlu diberikan latihan gerak rutin dalam beraktivitas seperti berjalan dan penggunaan alat bantu jalan yang bertujuan untuk penguatan otot-otot ekstremitas bawah dan meningkatkan keseimbangan tubuh sehingga tidak terjadi risiko jatuh.

11 Baca lebih lajut

PENGARUH TERAPI MASSAGE PUNGGUNG TERHADAP KUALITAS TIDUR LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Terapi Massage Punggung terhadap Kualitas Tidur Lansia Di Balai Pelayanan Sosial

PENGARUH TERAPI MASSAGE PUNGGUNG TERHADAP KUALITAS TIDUR LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Terapi Massage Punggung terhadap Kualitas Tidur Lansia Di Balai Pelayanan Sosial

sedangkan sisanya berusia 75-90 tahun sebanyak 2 lansia (18,20%). Stanley and Beare (2007) menyatakan bahwa pada lanjut usia terjadi penuaan pada sistem saraf pusat (SSP) dan adanya pengurangan aliran darah sel saraf serebral dan metabolisme yang tidak diketahui. Penurunan tersebut menyebabkan kecepatan konduksi saraf refleks yang lebih lambat, dan respon yang tertunda untuk berbagai stimulus yang dialami, maka terdapat pengurangan sensasi kinetik. Dengan adanya perubahan fisiologis dalam sistem persarafan yang terjadi selama proses penuaan, maka siklus tidur dan bangun mungkin berubah. Hal ini didukung oleh penelitian Saputri (2009) menyatakan bahwa pertambahan usia akan menimbulkan perubahan- perubahan pada fungsi fisiologis terutama penurunan dalam jumlah waktu tidur yang diperlukan dan kenyenyakan tidur. Selain itu banyak lansia yang mengeluhkan tidur mereka kurang dalam, menderita banyak gangguan dan kehilangan kesegaran dari pada waktu mereka masih muda.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PERAN PEKERJA SOSIAL DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA(PSTW) YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR DALAMMENINGKATKAN KESEJAHTERAAN LANJUT USIA.

PERAN PEKERJA SOSIAL DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA(PSTW) YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR DALAMMENINGKATKAN KESEJAHTERAAN LANJUT USIA.

Selain itu usaha pemerintah untuk mensejahterakan lansia adalah dengan adanya Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 28 Huruf H menetapkan “setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat’. Dalam hal ini lansia yang terlantar harus mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah. Undang-undang No. 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial pasal 9 ayat 1 point (a) berbunyi “Menjamin fakir miskin, anak yatim piatu terlantar, lansia terlantar, penyandang cacat fisik, cacat mental, eks penderita penyakit kronis yang mengalami masalah ketidakmampuan sosial-ekonomi agar kebetuhun dasarnya terpenuhi” serta Undang-undang N0. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia menetapkan pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan dan perlindungan sosial bagi lanjut usia agar mereka dapat mewujudkan dan menikmati taraf hidup yang wajar.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

DETERMINAN BIOPSIKOSOSIAL KUALITAS HIDUP LANJUT USIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA - UNS Institutional Repository

DETERMINAN BIOPSIKOSOSIAL KUALITAS HIDUP LANJUT USIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA - UNS Institutional Repository

Latar belakang : Proses penuaan merupakan proses alami yang multidimensi dengan berbagai masalah pada determinan biologis, determinan psikologis, dan determinan sosial, oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia untuk memperpanjang umur harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan faktor biologis, psikologis, dan sosial kualitas hidup lanjut usia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta. Subjek dan Metode : Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta, yaitu di Unit Abiyoso dan di Unit Budi Luhur pada bulan April 2017 dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 100 lanjut usia yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling dan simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah status kesehatan, tingkat kemandirian, fungsi intelektual, status depresi, dan aktivitas sosial, sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas hidup lanjut usia. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dan hasil penelitian dianalisis menggunakan regresi logistik ganda.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PEMBINAAN LANJUT USIA MELALUI DAY CARE SERVICE DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR.

PEMBINAAN LANJUT USIA MELALUI DAY CARE SERVICE DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR.

Hari ini peneliti datang ke Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur untuk mengikuti kegiatan day care service. Peneliti datang lebih awal dengan maksud mampu melaksanakan wawancara dengan lanjut usia sebelum mengikuti kegiaatan. Pagi itu peneliti menemui Mbah AG yang sudah datang dan sedang menunggu di ruang tamu, peneliti langsung menanyakan ketertarikan beliau dalam mengikuti day care service, kegiatan pada setiap pertemuan dan manfaat yang dirasakan. Hasil wawancara dengan Mbah AG menunjukkan bahwa beliau tertarik mengikuti kegiatan day care service untuk mengisi waktu luang juga karena banyak pembelajaranya jadi belajar kembali, selain itu Mbah AG juga mengungkapkan bahwa pembinaan dilaksanakan setiap hari Selasa dan Sabtu. Peneliti mengakhiri wawancara karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB proses pembinaan akan segera dimulai.
Baca lebih lanjut

195 Baca lebih lajut

Hubungan Frekuensi Berkemih dengan Kejadian Insomnia pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

Hubungan Frekuensi Berkemih dengan Kejadian Insomnia pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

Abstrak : Diketahuinya hubungan frekuensi berkemih dengan kejadian insomnia pada lansia. Metode penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Metode sampel menggunakan sampling jenuh dengan jumlah responden 38 responden. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner dan analisa data menggunakan rumus korelasi Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukan bahwa frekuensi berkemih 65,9% lansia mengalami frekuensi berkemih dan lansia dengan kejadian insomnia sebesar 52,7%. Berdasarkan uji statistik dengan tehnik Kendall Tau untuk menguji hipotesis ada tidaknya hubungan antara variabel frekuensi berkemih dengan kejadian insomnia didapatkan nilai taraf signifikan 0,000 (p<0,05). Frekuensi berkemih pada malam hari sangat mempengaruhi kejadian insomnia pada lansia. Untuk Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul agar lebih memperhatikan lansia dengan insomnia, dan memperhatikan faktor penyebab, sehingga dapat menekan agar tidak banyak lansia yang mengalami insomnia.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN STATUS RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Frekuensi Senam Lansia dengan Status Risiko Jatuh pada Usia Lanjut di Panti Sosial Tres

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM LANSIA DENGAN STATUS RISIKO JATUH PADA USIA LANJUT DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Frekuensi Senam Lansia dengan Status Risiko Jatuh pada Usia Lanjut di Panti Sosial Tres

Frekuensi senam adalah banyaknya unit latihan per minggu untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak, yang berarti meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan jatuh pada usia lanjut yaitu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring / terduduk dilantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka. Frekuensi senam lansia mempunyai hubungan yang signifikan dengan status risiko jatuh pada lansia, artinya frekuensi senam usia lanjut akan mempengaruhi status mobilitas lansia. Lansia yang frekuensi senamnya teratur akan semakin jauh kemungkinan untuk mengalami kejadian jatuh, begitu sebaliknya lansia yang frekuensi senamnya tidak teratur, kemungkinan mengalami kejadian jatuh berulang, Semakin seseorang merasa kesulitan dalam melakukan gerakan (kesulitan mobilitas), semakin berat risikonya untuk mengalami jatuh.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TINGKAT RESILIENSI USIA LANJUT DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA ABIYOSO, PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA.

TINGKAT RESILIENSI USIA LANJUT DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA ABIYOSO, PAKEM, SLEMAN, YOGYAKARTA.

Selanjutnya pada aspek pengendalian impuls ( impulse control ) usia lanjut di PSTW Abiyoso yang berada pada kategori sangat baik sejumlah 5 orang (12.8%), kategori baik sejumlah 19 orang (48.7%), kategori cukup baik sejumlah 15 orang (38.5%) dan tidak terdapat usia lanjut yang berada pada kategori kurang baik. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengendalian impuls usia lanjut di PSTW Abiyoso mayoritas berada pada kategori baik yang berarti usia lanjut di PSTW Abiyoso memiliki kemampuan yang baik dalam mengontrol keinginan diri yang negatif demi mencapai hasil yang lebih baik. Orang-orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam pengendalian impuls juga memiliki kemampuan yang baik dalam meregulasi emosi, sehingga orang-orang yang memiliki kemampuan pengendalian impuls yang baik tidak akan dengan mudah menerima pikiran dan keinginan pertama yang muncul dalam diri, mereka akan memikirkan dampak kedepannya dan tidak akan terburu-buru untuk menuruti keinginannya tersebut (Reivich & Shatte 2002:39). Usia lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso memiliki kemampuan yang baik dalam memilih pekerjaan mana yang lebih penting dan lebih bermanfaat untuk dikerjakan, dapat mengutamakan tugas agar tidak terbengkalai, serta cukup bisa memusatkan pikiran pada hal yang menurut mereka penting.
Baca lebih lanjut

126 Baca lebih lajut

PREVENSI BURNOUT PADA PEKERJA SOSIAL LANSIA

(Studi Kasus Pekerja Sosial Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso)

PREVENSI BURNOUT PADA PEKERJA SOSIAL LANSIA (Studi Kasus Pekerja Sosial Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso)

Dari hasil observasi awal bahwasanya pekerja sosial lansia di Balai Pelayanan Sosial Sosial Tresna Werdha cenderung tidak mengalami kelelahan emosional atau burnout. Menurut hasil wawancara dan observasi bahwasanya pekerja sosial selama bekerja di balai tidak pernah merasakan frustasi terhadap klien. Selain itu pekerja sosial selalu melayani klien dalam kondisi apapun. Artinya saat klien butuh atau bahkan klien meninggal dunia sewaktu-waktu maka pekerja sosial segera mengurus hal tersebut. Pekerja sosial selalu melayani dalam keadaan tidak marah meskipun dengan kondisi lansia yang menyebalkan.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Penyebab Depresi Pada Usia Lanjut Di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula

Penyebab Depresi Pada Usia Lanjut Di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula

Peningkatan jumlah penduduk usia lanjut menyebabkan perlunya perhatian dengan harapan usia lanjut tidak hanya berumur panjang, tetapi juga dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia. Salah satu gangguan kesehatan yang dapat muncul pada usia lanjut adalah depresi. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor yang berhubungan dengan depresi pada usia lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula Kendari Tahun 2015. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh usia lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Minaula Kendari sebanyak 90 orang dengan besar sampel sebanyak 41 orang, pemilihan sampel secara purposive sampling. Uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara stressor lingkungan (p=0,045), tipe kepribadian (p=0,019), dan dukungan keluarga (p=0,047) dengan depresi usia lanjut. Hasil analisis Multivariat bahwa variabel independen yang paling dominan berhubungan dengan depresi pada usia lanjut yaitu variabel tipe kepribadian dengan nilai kemaknaan Exp(B) = 2,726. Kesimpulan penelitian adalah adanya hubungan antara stressor lingkungan, tipe kepribadian dan dukungan keluarga dengan depresi pada usia lanjut. Saran untuk Panti Sosial Tresna Werdha agar mengadakan pelatihan ringan misalnya memberikan pelatihan penilaian kepribadian, peningkatan mekanisme koping pada usia lanjut, dan menyediakan layanan konseling invidu dan konseling kelompok bagi sesama usia lanjut.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pencahayaan Dan Warna Ruang Untuk Penyandang Low Vision Usia Sekolah Di SLB-A Dan MTSLB-A Yaketunis Yogyakarta

Pencahayaan Dan Warna Ruang Untuk Penyandang Low Vision Usia Sekolah Di SLB-A Dan MTSLB-A Yaketunis Yogyakarta

Yogyakarta dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai kota pelajar. Namun, tidak semua dari pelajar di Yogyakarta memiliki kondisi fisik yang sempurna. Banyaknya pelajar penyandang disabilitas di Yogyakarta, sehngga cukup sulit bagi seorang penyandang tunanetra dan low vision untuk dapat belajar dengan baik terutama pada saat membaca atau mengenali benda-benda di sekitarnya. Misalnya, mencari buku di perpustakaan, membaca pesan singkat melalui ponsel, berjalan di tempat umum, bahkan membaca atau melihat petunjuk jalan.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENGARUH RENDAM AIR HANGAT PADA KAKI TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Rendam Air Hangat pada Kaki Terhadap Insomnia pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit

PENGARUH RENDAM AIR HANGAT PADA KAKI TERHADAP INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR NASKAH PUBLIKASI - Pengaruh Rendam Air Hangat pada Kaki Terhadap Insomnia pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit

Menurut Amir (2007) dalam Khotimah (2012) menyatakan bahwa masyarakat awan belum terlalu mengenal gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan. Pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal karena tidak tidur itu tidak benar. Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung atau tidak langsung misal kecelakaan akibat gangguan tidur. Oleh karena itu perlu diberikan suatu metode untuk menanggulangi hal tersebut agar masyarakat mampu mengatasi masalah tersebut tidak hanya dengan farmakologis namun juga non farmakologis. Merendam kaki merupakan salah satu teknik relaksasi untuk mengurangi efek insomnia. Menurut Hegner (2004) rendam air hangat pada kaki merupakan teknik stimulasi tidur yang dilakukan dengan cara merendam kaki pada air hangat bersuhu 37°C-39ºC. Hal ini sesuai berdasarkan fisiologi bahwa pada daerah kaki terdapat syaraf-syaraf kulit yaitu flexusvenosus dari rangkaian syaraf ini stimulasi diteruskan ke kornus posterior kemudian dilanjutkan ke medulla spinalis, ke radiks dorsalis, selanjutnya ke ventro basal thalamus dan masuk ke batang otak yang tepatnya didaerah raafe bagian bawah pons dan medulla disinilah terjadi efek sofarifik (ingin tidur). Menurut penelitian Khotimah (2012) rendam air hangat pada kaki meningkatkan kualitas tidur lansia, dan hasilnya menunjukkan rendam air hangat pada kaki efektif digunakan meningkatkan kualitas tidur.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

UPAYA PENINGKATAN PELAYANAN SOSIAL BAGI LANSIA MELALUI HOME CARE SERVICE DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA (PSTW) YOGYAKARTA UNIT BUDHI LUHUR.

UPAYA PENINGKATAN PELAYANAN SOSIAL BAGI LANSIA MELALUI HOME CARE SERVICE DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA (PSTW) YOGYAKARTA UNIT BUDHI LUHUR.

Pada hari ini, Senin tanggal 16 April 2012 adalah pengamatan pertama peneliti dalam pelaksanaan penelitian. Adapun pengamatan yang peneliti lakukan adalah mengamati pelaksanaan kegiatan Home Care Service dan mengamati situasi serta kondisi dari lansia yang mendapatkan pelayanan home care. Selain itu peneliti juga mengambil gambar sebagai dokumentasi. Peneliti melakukan pengamatan ini bersama dengan tim pelaksana home care service, yang terdiri dari pekerja sosial, perawat, dokter, dan psikolog. Rohaniawan tidak ikut dalam tim karena beliau tidak mempunyai waktu sehingga beliau berangkat sendiri dalam memberikan pelayanan sosial spiritual/kerohanian. Terlebih dahulu peneliti berkenalan dengan anggota tim dan menjelaskan maksud dan tujuan peneliti. Kemudian peneliti berangkat ke lokasi bersama tim home care service menggunakan mobil ambulance milik PSTW Yogyakarta Unit Budhi Luhur.
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI LANJUT USIA DI BALAI PERLINDUNGAN SOSIAL TRESNA WERDHA CIPARAY

HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI LANJUT USIA DI BALAI PERLINDUNGAN SOSIAL TRESNA WERDHA CIPARAY

Penelitian lain dilakukan oleh Nilsapril di Sasana Tresna Werdha Budi Mulia, Jelambar Jakarta Barat. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata asupan energi 1577 Kkal (± 275) atau < 80% AKG; asupan protein 45,4 g (± 8,43) atau < 80% AKG, hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa status gizi lansia kurang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dan protein dengan status gizi pada lansia (Nilsapril, 2008). Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Nilsapril yaitu banyaknya sampel penelitian, tempat penelitian serta variabel yang diteliti. Variabel yang diteliti oleh Nilsapril yaitu konsumsi energi, protein, serat dan status gizi. Bayaknya sampel yang digunakan oleh peneliti yaitu 60 sampel yang bertempat di Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay, serta variabel yang diteliti yaitu konsumsi energi, protein, dan status gizi serta variabel antara yaitu aktivitas fisik lansia.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Latihan Range of Motion Berpengaruh Terhadap Mobilitas Fisik pada Lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Unit Abiyoso Yogyakarta

Latihan Range of Motion Berpengaruh Terhadap Mobilitas Fisik pada Lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Unit Abiyoso Yogyakarta

Peningkatan usia harapan hidup (UHH) menyebabkan pertambahan populasi lansia. Populasi lansia tertinggi di Indonesia berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan persentase sebesar 13,05%. Seiring dengan peningkatan UHH, lansia mengalami perubahan normal maupun patologis yang berkaitan dengan proses penuaan dalam berbagai sistem. Perubahan normal terlihat pada sistem muskuloskeletal berupa penurunan otot secara keseluruhan pada usia 80 tahun (30%-50%). Perubahan patologis seperti rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan osteoporosis. Perubahan tersebut menyebabkan lansia rentan mengalami hambatan dalam mobilitas fisik yang dapat diatasi dengan memberikan intervensi berupa latihan range of motion (ROM). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh latihan ROM terhadap mobilitas fisik pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Unit Abiyoso Yogyakarta. Penelitian kualitatif dengan pendekatan action research. Penelitian dilakukan di BPSTW Unit Abiyoso Yogyakarta dengan jumlah sampel 5 partisipan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan purposive sampling. Hasil penelitian mobilitas fisik lansia terdiri dari lima tema yaitu rentang gerak, kekuatan otot, kenyamanan, postur tubuh dan gerakan. Latihan ROM memberi perubahan pada rentang gerak, kenyamanan dan gerakan tetapi kekuatan otot dan postur tubuh tidak ada perubahan. Perubahan rentang gerak berupa peningkatan derajat rentang gerak yang banyak terlihat pada area leher dan kekakuan sendi yang berkurang. Kenyamanan mengalami perubahan berupa perasaan senang, nyeri yang berkurang, tetapi masalah sesak nafas tidak berkurang. Perubahan gerakan yang berbeda-beda pada setiap lansia yang terlihat pada cara dan kemampuan berjalan yang lebih cepat dari sebelumnya, kemampuan motorik halus meningkatkan kenyamanan, dan pengalaman gemetar yang berkurang. Kesimpulan ada pengaruh sebagian latihan ROM terhadap mobilitas fisik lansia meliputi peningkatan rentang gerak, kenyamanan dan cara berjalan, sedangkan postur tubuh dan kekuatan otot pada lansia tidak mengalami perubahan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Teknik Relaksasi Progresif terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

Pengaruh Pemberian Teknik Relaksasi Progresif terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul - DIGILIB UNISAYOGYA

Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang mematikan. Ia dijuluki sebagai silent killer, karena penderita sering tidak merasakan adanya gejala dan baru mengetahui ketika memeriksakan darah atau sesudah kondisinya parah seperti timbulnya kerusakan organ (Martuti, 2009). Departemen Kesehatan RI (2003, dalam Wahdah 2011) lima penyakit utama yang banyak di derita lansia di Indonesia adalah anemia dengan presentase 50%, penyakit kardiovaskuler dan hipertensi sebesar 29,5%, infeksi saluran pernapasan sebesar 12,2%, penyakit kangker memiliki presentase 12,2%, dan TBC memiliki presentase sebesar 11,5%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa hipertensi merupakan penyakit terbanyak kedua yang di alami oleh lansia. Jumlah kasus terbanyak hipertensi essensial terdapat pada kelompok usia dewasa. Pada golongan 45 tahun sampai dengan umur 64 tahun dengan kasus sebanyak 2.848 (19,57%) kasus dan 1.400 (17,65%) kasus pada golongan umur 65 tahun ke atas.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

View of PENGARUH TERAPI TERTAWA TERHADAP STRES PADA LANJUT USIA DI BALAI PERLINDUNGAN SOSIAL TRESNA WERDHA CIPARAY BANDUNG

View of PENGARUH TERAPI TERTAWA TERHADAP STRES PADA LANJUT USIA DI BALAI PERLINDUNGAN SOSIAL TRESNA WERDHA CIPARAY BANDUNG

The changes for elderly in can affect elderly perspective so that it will give rise to a source of stressor. according to foundation art living ( FAL ) therapy that used to lower stress in pharmacological with the use of drugs while anti a depressant non pharmacological one of them is using laughter therapy. Laughter therapy can be lowered stressor, when laughter someone will issue or the trigger the release of an endorphin hormones and dopamine in the brain, hormone that makes people happy and body be relaxed. In addition, laugh is also reducing the production of cortisol hormone that causes stress and depression or a feeling of weariness. The purpose of researchers to identify the influence of scoffed at the stress on elderly at Balai Perlindungan Sosial Tresna Werdha Ciparay. Research method used is using quantitative design with pre experimental design that this design no group control with chance approach one group pretest-posttest.The sample used as many as 31 provisions sample of respondents use sampling techniques consecutive.Instrument used is measuring instrument stress kessler the level of psychological distress and perceived scale stress scale which is joint question of kessler and sheldon that has been modified. Statistical test using t- Dependent with α = 0,05. From the test results obtained t-Dependent average data mean before that 51,94 with severe stress category and after amounting to 36,32 by mild stress category. There are flat-r at mean of 15,613 with p Value = 0,0001 α (<0,05). So that there is influence therapy scoffed at the stress. It is recommended to the nursing at Werdha to implement this laughter therapy as a complementary therapy handlers stress disorder in the elderly.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGARUH SENAM OTAK (BRAIN GYM) TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - PENGARUH SENAM OTAK (BRAIN GYM) TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA DI BALAI PE

PENGARUH SENAM OTAK (BRAIN GYM) TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA DI BALAI PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT BUDI LUHUR KASONGAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI - PENGARUH SENAM OTAK (BRAIN GYM) TERHADAP KEJADIAN DEMENSIA PADA LANSIA DI BALAI PE

Latar Belakang: Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir yang dapat menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan sehari-hari. Diperlukan terapi untuk mengantisipasi demensia menjadi semakin buruk. Senam otak adalah gerakan tubuh sederhana yang digunakan untuk jalan keluar bagi bagian-bagian otak yang terhambat agar dapat berfungsi maksimal. Tujuan: Diketahui pengaruh senam otak (brain gym) terhadap kejadian demensia pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul. Metode: Penelitian ini menggunakan metode pre-experiment dengan rancangan one group pretest posttest. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 Mei 2016 sampai dengan 2 Juni 2016 di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta. Populasi sebanyak 28 orang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Uji normalitas data menggunakan shapirow wilk. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil: Hasil uji statistik dengan paired t-test yaitu p value untuk kejadian demensia pre dan post sebesar p (0,000) < 0,05. Kesimpulan: Ada pengaruh senam otak (brain gym) terhadap kejadian demensia pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul. Saran: Diharapkan lansia mau menggunakan senam otak (brain gym) untuk interpretasi pencegahan dan memperlambat kejadian demensianya.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects