Top PDF BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - KEBIJAKAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI SECARA BERSAMA-SAMA DAN BERLANJUT (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 16/TIPIKOR/2015/PT.BDG) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - KEBIJAKAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI SECARA BERSAMA-SAMA DAN BERLANJUT (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 16/TIPIKOR/2015/PT.BDG) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - KEBIJAKAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI SECARA BERSAMA-SAMA DAN BERLANJUT (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 16/TIPIKOR/2015/PT.BDG) - Unissula Repository

Untuk mengamati bekerjanya organisasi-organisasi tersebut, maka kita sudah mulai turun dari peringkat pembicaraan hukum yang abstrak kepada peringkat yang lebih konkret. Konkret di sini dimaksudkan pembicaraan yang menyangkut proses bagaimana tujuan-tujuan hukum diwujudkan dalam konteks organisasi. Membicarakan hukum dalam konteks organisasi berarti mempermasalahkan orang, tingkah laku orang-orang, membicarakan fasilitas juga membicarakan kultur suatu organisasi. Melalui organisasi serta proses-proses yang berlangsung di dalamnya, masyarakat menerima perwujudan dari tujuan-tujuan hukum. Misalnya keadilan, kini tidak lagi merupakan konsep yang abstrak, melainkan benar-benar diberikan kepada anggota masyarakat dalam bentuk pengesahan suatu aksi tertentu. Kepastian hukum menjadi terwujud melalui keputusan-keputusan hakim yang menolak tindakan- tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh anggota-anggota masyarakat. Ketertiban dan keamanan menjadi sesuatu yang nyata melalui tindakan-tindakan polisi yang diorganisir oleh badan kepolisian 30) .
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - DISPARITAS PIDANA TERHADAP PERKARA ANAK (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Demak) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - DISPARITAS PIDANA TERHADAP PERKARA ANAK (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Demak) - Unissula Repository

melalui putusan putusannya. Bagaimanapun baiknya segala peraturan perundang-undangan yang diciptakan dalam suatu negara, dalam usaha menjamin keselamatan masyarakat menuju kesejahteraan rakyat, peraturan-peraturan tersebut tidak ada artinya, apabila tidak ada kekuasaan kehakiman yang bebas yang diwujudkan dalam bentuk peradilan yang bebas dan tidak memihak, sebagai salah satu unsur Negara hukum. Sebagai pelaksana dari kekuasaan kehakiman adalah hakim, yang mempunyai kewenangan dalam dalam peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan hal ini dilakukan oleh hakim melalui putusannya.Fungsi utama dari seorang hakim adalah memberikan putusan terhadap perkara yang diajukan kepadanya, dimana dalam perkara pidana, hal itu tidak terlepas dari sistem pembuktian negatif, yang pada prinsipnya menentukan bahwa suatu hak atau peristiwa atau kesalahan dianggap telah terbukti, disamping adanya alat-alat bukti menurut undang-undang juga ditentukan keyakinan hakim yang dilandasi dengan integritas yang baik. 13 Secara kontekstual
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DENGAN PUTUSAN REHABILITASI (Study kasus pengadilan Negeri Pati) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN YURIDIS SOSIOLOGIS TERHADAP PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMUTUS PERKARA TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DENGAN PUTUSAN REHABILITASI (Study kasus pengadilan Negeri Pati) - Unissula Repository

untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk keperluan ketersediaan narkotika tersebut disusun rencana kebutuhan tahunan narkotika.Rencana kebutuhan tahunan narkotika tersebut didata berdasarkan data pencatatan dan pelaporan rencana dan realisasi produksi tahunan yang diaudit secara komprehensif dan menjadi pedoman pengadaan, pengendalian dan pengawasan narkotika secara nasional.Peraturan lebih lanjut mengenai penyusunan rencana kebutuhan tahunan narkotika diatur dengan Peraturan Mentri. Narkotika Untuk kebutuhan dalam negeri diperoleh dari impor, produksi dalam negeri, dan/atau sumber lain dengan berpegangan pada rencana kebutuhan tahunan narkotika. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan rencana kebutuhan tahunan narkotika dan kebutuhan narkotika dalam negeri diatur dengan Peraturan Mentri. Dalam hal produksi Narkotika, Mentri memberi izin khusus untuk memproduksi Narkotika kepada Industri Farmasi khususnya yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan setelah menjalankan audit oleh Badan Pengawas obat dan makanan. Menteri menjalankan pengendalian terhadap produksi narkotika sesuai dengan rencana kebutuhan tahunan narkotika. Pengangkutan narkotika pada umumnya harus melakukan singgah di beberapa pelabuhan antarnegara.Oleh sebab itu persinggahan kapal atau transit dibutuhkan pula persyaratan tertentu. Pengertian transit narkotika menurut pasal 1 anagka 12 UU Nomor 35 Tahun 2009 dikatakan bahwa transit narkotika adalah pengangkutan narkotika dari suatu Negara Republik Indonesia yang terdapat kantor pabean dengan atau tanpa berganti sarana angkutan. 11 Bahwa tindak pidana Narkotika telah bersifat transional yang
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PROSES PEMIDANAAN TERHADAP ANAK DALAM KASUS TINDAK PIDANA PENCURIAN DI PENGADILAN NEGERI DEMAK (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Demak) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PROSES PEMIDANAAN TERHADAP ANAK DALAM KASUS TINDAK PIDANA PENCURIAN DI PENGADILAN NEGERI DEMAK (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Demak) - Unissula Repository

b. Masih hidup terlantar dan tidak mendapat kesempatan memperoleh pendidikan yang wajar, apalagi memadai; 6 Dari media-media massa dan media elektronik menunjukkan bahwa seringnya terjadi kejahatan pencurian dengan berbagai jenisnya dilatarbelakangi karena kebutuhan hidup yang tidak tercukupi. Dengan berkembangnya tindak pidana pencurian maka berkembang pula bentuk- bentuk lain dari pencurian. Dengan ini dapat diketahui betapa ketertiban, ketentraman, kenyamanan harta benda dan jiwa masyarakat secara umum menjadi terganggu, dan kecemasan menyelinap dalam hati semua orang. Latar belakang aksi ini adakalanya bermotif ekonomi, adakalanya bermotif politik, aksi kejahatan yang bertendensi kepentingan ekonomi melahirkan tindakan-tindakan perampok baik dalam rumah maupun diperjalanan. Sedangkan yang bertendensi politik, kejahatannya berbentuk perlawanan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan melakukan gerakan-gerakan kekacauan dan mengganggu ketentraman umum.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - FUNGSI SIDIK JARI PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus di Polres Tegal) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - FUNGSI SIDIK JARI PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus di Polres Tegal) - Unissula Repository

Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran secara teoritis terhadap berbagai persoalan hukum, khususnya dalam penyidikan dengan cara sidik jari pelaku kejahatan yang di atur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 7 Ayat (1) huruf F mengenai mengambil sidik jari dan memotret seseorang, sehingga dapat dipergunakan sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum khususnya hukum pidana.

11 Baca lebih lajut

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah - TINDAKAN DIVERSI TERHADAP PENYIDIKAN PERKARA TINDAK PIDANA ANAK DI KEPOLISIAN RESORT KOTA BESAR SEMARANG - Unissula Repository

Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah - TINDAKAN DIVERSI TERHADAP PENYIDIKAN PERKARA TINDAK PIDANA ANAK DI KEPOLISIAN RESORT KOTA BESAR SEMARANG - Unissula Repository

Untuk menemukan permasalahan dalam penelitian ini penulis menggunakan spesifikasi penelitian secara deskriptif, yaitu menggambarkan tentang tinjauan yuridis mengenai penanganan kasus tindak pidana anak di wilayah hukum Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Semarang. Hasil gambaran kemudian akan dianalisis dengan menggunakan teori-teori ilmu hukum, ilmu sosial, pendapat para ahli, dan aturan-aturan yang ada dalam Perundang-undangan. 3. Metode Pengumpulan Data

14 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - KEBIJAKAN HUKUM PIDANA MELALUI PROSES REHABILITASI GUNA MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi di Wilayah Hukum Kepolisian Resort Rembang) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - KEBIJAKAN HUKUM PIDANA MELALUI PROSES REHABILITASI GUNA MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi di Wilayah Hukum Kepolisian Resort Rembang) - Unissula Repository

Pada awalnya narkotika digunakan untuk kepentingan umat manusia, khususnya untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan. Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, narkoba digunakan untuk hal-hal negatif. 10 Di dunia kedokteran, narkotika banyak digunakan khususnya dalam proses pembiusan sebelum pasien dioperasi mengingat di dalam narkotika terkandung zat yang dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, serta kesadaran pasien. Oleh karena itu, agar penggunaan narkotika dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, peredarannya harus diawasi secara ketat sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - UPAYA KEPOLISIAN RESOR WONOSOBO DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN TERHADAP BARANG CURIAN KENDARAAN BERMOTOR - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - UPAYA KEPOLISIAN RESOR WONOSOBO DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN TERHADAP BARANG CURIAN KENDARAAN BERMOTOR - Unissula Repository

8 Kejahatan merupakan masalah yang cukup kompleks yang setiap waktu dihadapi oleh pihak aparat penegak hukum, kasus kejahatan yang terjadi pada zaman sekarang ini sangat beragam jenisnya. Kasus kejahatan konvensional yang menjadi gangguan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat antara lain pencurian kendaraan bermotor. Maraknya kejahatan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) belakangan ini telah kiranya dirasakan telah mencapai tingkatan yang meresahkan anggota masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor. Kondisi yang demikian jika tidak segera ditanggapi secara tegas oleh aparat penegak hukum, khususnya kepolisian sudah tentu akan berdampak terhadap keamanan di dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL OLEH ANAK (di Pengadilan Negeri Salatiga) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN SEKSUAL OLEH ANAK (di Pengadilan Negeri Salatiga) - Unissula Repository

Dalam menganalisis data yang dipeoleh baik bahan hukum primer maupun sekunder dan membahas permasalahannya yang menggunakan metode kualitatif. Analisis kualitatif ini dilakukan secara diskriptif karena penelitian ini tidak hanya bermaksud mengungkapkan atau menggambarkan data kebijakan hukum pidana sebagaimana adanya, tetapi juga bermaksud menggambarkan tentang kebijakan hukum pidana yang diharapkan dalam Undang-undang yang akan datang. Karena itu untuk pengolahan data menyatu dengan proses pengumpulan data dalam suatu siklus, artinya bahwa hubungan data yang satu dengan yang lain senantiasa dipertahankan baik pada studi kepustakaan, analisis bahan kepustakaan maupun penyusunan hasil penelitian.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI DANA BANTUAN DESA OLEH KEJAKSAAN NEGERI JEPARA (Studi Kasusdi Kejaksaan Negeri Jepara) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI DANA BANTUAN DESA OLEH KEJAKSAAN NEGERI JEPARA (Studi Kasusdi Kejaksaan Negeri Jepara) - Unissula Repository

korupsi, melihat mental yang rendah di pemerintahan serta tuntutan ekonomi menjadikan seseorang berupaya semaksimal mungkin untuk pemenuhan kebutuhannya, maka bukan tidak mungkin korupsi bisa saja terjadi. Tindak pidana korupsi terkait pengelolaan keuangan terjadi lebih banyak disebabkan karena kacaunya administrasi keuangan tersebut, karena salah tafsir terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku atau ketidakpahaman aparat terhadap aturan tersebut. Secara politis, desentralisasi merupakan langkah menuju demokratisasi. Dengan desentralisasi, pemerintah lebih dekat dengan rakyat, sehingga kehadiran pemerintah lebih dirasakan oleh rakyat dan keterlibatan rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan dan pemerintahan semakin nyata. Secara sosial, desentralisasi akan mendorong masyarakat ke arah swakelola dengan memfungsikan pranata sosial yang merupakan social capital dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Dengan pranata yang telah internalized, mekanisme penyelesaian mereka dipandang lebih efektif, efisien dan adil. Sedangkan, secara ekonomi, desentralisasi diyakini dapat mencegah eksploitasi pusat dan daerah, menumbuhkan inovasi masyarakat dan mendorong motivasi masyarakat untuk lebih produktif. Secara administratif akan mampu meningkatkan kemampuan daerah dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian, meningkatkan akuntabilitas atau pertanggungjawabanpublik 9 . Sesungguhnya inilah arah yang ingin di capai pemerintah, maka di
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERAN PENYIDIK DALAM MENANGANI TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK ( Studi di Polrestabes Semarang ) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERAN PENYIDIK DALAM MENANGANI TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK ( Studi di Polrestabes Semarang ) - Unissula Repository

Tahap wawancara dan penyidikan polisi penting untuk kasus tindak pidana yang dilakukan oleh anak. Wawancara terhadap anak tersangka pelaku tindak pidana dilakukan secara berkesinambungan antara orang tua, saksi, dan orang-orang lain yang diperlukan atau berkaitan dengan kasus tersebut. Anak yang sedang diperiksa saat wawancara dilakukan harus didampingi orang tua/wali, orang terdekat dengan anak, dan atau orang yang paling dipercaya oleh anak seperti orang tua angkat, saudara, pengasuh, pekerja sosial dan sebagainya. Bahasa yang dipergunakan polisi dalam wawancara dengan anak mudah dimengerti, baik oleh anak yang bersangkutan maupun pendampingnya, jika anak dan pendampingnya kesulitan menggunakan bahasa resmi atau bahasa Indonesia maka polisi harus menghadirkan penerjemah bahasa. Untuk menjaga perasaan anak, polisi menghindari
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PERAN JAKSA SEBAGAI PENYIDIK DALAM MENGUNGKAP KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI DI KEJAKSAAN TINGGI JAWA TENGAH) - Unissula Repository

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PERAN JAKSA SEBAGAI PENYIDIK DALAM MENGUNGKAP KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI DI KEJAKSAAN TINGGI JAWA TENGAH) - Unissula Repository

Dalam penerapan hukun yang didasarkan pada berbagai peraturan perundang-undangan hukun formal dan materiil pemberantasan tindak pidana korupsi terdapat berbagai lembaga instansi yang mengatur penegakan hukum yang menangani korupsi seperti: Polisi, Jaksa, Hakim, KPK, Tim Tas Tipikor, dan lembaga terkait seperti: BPK, BPKP, PPATK, termasuk lembaga Advokasi, LSM, lembaga control internal dan eksternal lainnya. Pada tahap penyidikan misalnya, terdapat berbagai institusi penyidik yang memiliki kewenangan untuk melakukan penyidikan terhadap tindak pidana sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing.Dengan demikian permasalahan hukum yang kemudian muncul dengan adanya pengaturan masing-masing negara penegak hokum tindak pidana korupsi tersebut adalah terjadinya berbagai kesenjangan dalam finansial kapital, tumpang tindih kewenangan dan atau perbedaan batas kewenangan yang parsial dalam penyidikan tindak pidana korupsi, karena memiliki hukum acara masing-masing disamping akibat lemahnya integritas. 13 Penegak hukum tersebut, oleh karena itu, tujuan pemberantasan tindak pidana korupsi tidak dapat dicapai secara efektif, bahkan sangat kecil dibanding dengan harapan masyarakat terhadap penegakan supremasi hukum dan keadilan di Indonesia.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERANAN ADVOKAT DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA TINDAK PIDANA KORUPSI - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - PERANAN ADVOKAT DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TERSANGKA TINDAK PIDANA KORUPSI - Unissula Repository

Sebagai pihak yang lemah tersangka atau terdakwa perlu seorang pendamping yang juga berkedudukan sebagai penegak hukum dari keadilan yaitu Advokat atau pembela maka dalam hal ini peran Advokat sangat dibutuhkan sehingga pencarian keadilan menjadi seimbang dalam kedudukan masing-masing pihak. Advokat sebagai pemberi bantuan hukum atau jasa hukum kepada masyarakat atau klien yang menghadapi masalah hukum yang keberadaanya sangat dibutuhkan saat ini semakin penting seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum masyarakat serta kompleksitasnya masalah hukum. Advokat merupakan profesi yang member bantuan hukum, saat menjalankan tugas dan fungsinya dapat berperan sebagai pendamping, pemberi advice hukum, atau menjadi kuasa hukum untuk dan atas nama klienya dalam memberikan bantuan hukum, ia dapat melakukan secara prodeo atau pun atas dasar mendapatkan honorarium atau fee dari klien.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - TINJAUAN YURIDIS MENGENAI DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PEMIDANAAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Semarang) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - TINJAUAN YURIDIS MENGENAI DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PEMIDANAAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Semarang) - Unissula Repository

Di dalam Era jaman sekarang kejahatan banyak terjadi dimana-mana semakin meningkat dan sering terjadi di dalam masyarakat dan ini merupakan hal yang harus diperhatikan, dan berbagai macam bentuk perbuatan tindak pidana muncul ke permukaan sehingga terkadang memberikan sebuah momentum bahwa setiap individu harus dapat menjaga dirinya masing- masing dari akibat-akibat yang tidak diinginkan atau kejahatan yang datang. Perkembangan kehidupan masyarakat yang begitu cepat pun sebagai hasil dan proses pelaksanaan pembangunan di segala bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, keamanan dan budaya telah membawa pula dampak negatif berupa peningkatan kualitas dan kuantitas berbagai macam kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat, contohnya yaitu adanya pencucian uang. Pecucian uang adalah tindak pidana yang modusnya yaitu menukarkan, mentransfer, menghibahkan dan membelanjakan uang dengan asal ususl harta kekayaan yang telah diubahnya menjadi milik pribadi agar hasil pencucian sulit untuk di temukan dimana uangnya berada.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAK PIDANA MAIN HAKIM SENDIRI (Studi Kasus Di Kepolisian Resor Kota Besar Semarang) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAK PIDANA MAIN HAKIM SENDIRI (Studi Kasus Di Kepolisian Resor Kota Besar Semarang) - Unissula Repository

Sebagaimana peraturan perundang-undangan, khususnya Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) belum mengatur secara khusus mengenai perbuatan main hakim sendiri. Akan tetapi, bukan berarti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak dapat diterapkan sama sekali jika terjadi perbuatan main hakim sendiri, dengan dasar hukum Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915 No 73). Dapat diartikan kondisi sosial masyarakat dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan masyarakat terhadap nilai dan norma masyarakat sekarang.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - SISTEM PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENYALAH GUNA NARKOTIKA ( STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI DEMAK) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - SISTEM PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENYALAH GUNA NARKOTIKA ( STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI DEMAK) - Unissula Repository

Kerangka teori ini diperlukan sebagai alat untuk memudahkan penelitian, sebab ia merupakan pedoman berpikir bagi peneliti. Oleh karena itu, seorang peneliti harus terlebih dahulu menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut mana ia menyoroti masalah yang dipilihnya. Menurut Kerlinger sebagaimana dikutip Singarimbun menjelaskan bahwa teori adalah serangkaian asumsi, konsep, kontruksi, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antara konsep dan kerangka teori disusun sebagai landasan berpikir untuk menunjukkan perspektif yang digunakan dalam memandang fenomena sosial yang menjadi objek penelitian. Oleh karena itu, untuk memudahkan penelitian diperlukan pedoman berpikir yaitu kerangka teori 31 .
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang - Pelaku Tindak Pidana Korupsi Yang Dapat Dibebaskan Dari Sanksi Hukuman

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang - Pelaku Tindak Pidana Korupsi Yang Dapat Dibebaskan Dari Sanksi Hukuman

Kasus tindak pidana korupsi yang ada saat ini di kota Jantho sudah di campuradukkan dengan politik, tetapi dengan ada pertimbangan hakim maka si terdakwa bebas dari tuntutan jaksa penutut umum di kota Jantho. Salah satunya contoh kasus korupsi yang dapat dibebaskan dari tindak pidana korupsi yang di lakukan oleh seorang Direktur Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Mustaqim Lhoong di kota Jantho. Dimana ia sudah dapat di bebsakan dari tuntutan hukum atau pun jaksa penuntut umum. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meninjau serta membahas lebih luas lagi mengenai masalah kasus korupsi yang dapat di bebaskan dari sanksi hukum dalam skripsi yang berjudul “PELAKU TINDAK PIDANA YANG DAPAT DI BEBASKAN DARI SANKSI HUKUM.”
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA MATI BAGI PELAKU TINDAK PIDANA TERORISME.

PENDAHULUAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA MATI BAGI PELAKU TINDAK PIDANA TERORISME.

Seorang hakim dalam menjatuhkan pidana mati bagi pelaku tindak pidana terorisme tidak saja hanya berpedoman pada undang-undang, namun hakim juga mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain karena seorang hakim diberi kebebasan untuk menentukan putusannya. Kemandirian kekuasaan kehakiman atau kebebasan hakim merupakan asas yang sifatnya universal, yang terdapat dimana saja dan kapan saja. Asas ini berarti bahwa, dalam melaksanakan peradilan, hakim itu pada dasarnya bebas, yaitu bebas dalam memeriksa dan mengadili perkara dan bebas dari campur tangan atau turun tangan kekuasaan ekstra yudisiil. 2
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PERAN POLISI DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS POLRES GROBOGAN) - Unissula Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - PERAN POLISI DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (STUDI KASUS POLRES GROBOGAN) - Unissula Repository

dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (special preventive) 2 . Kemudian, beberapa aturan mengenai perbuatan yang di larang dan tidak diperbolehkan maupun yang dilakukan menurut wujud dan sifatnya pada dasarnya adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan undang- undang hukum pidana. Salah satu perbuatan terlarang yang diatur dalam hukum pidana positif di Indonesia adalah perdagangan orang. Perdagangan orang ialah bentuk modern dari sebuah perbudakan terhadap manusia. Terlebih lagi perdagangan orang inimerupakan bentuk perlakuan penistaan harkat dan martabat manusia. Indonesia sebagai Negara hukum secara jelas menentang perilaku tersebut sebagaimana dalam pasal 28 G UUD 1945 “ Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda ……”
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KEBIJAKAN PEMBUKTIAN DAN PENUNTUTAN OLEH JAKSA PENUNTUT UMUM DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang) - Unissula Repository

KEBIJAKAN PEMBUKTIAN DAN PENUNTUTAN OLEH JAKSA PENUNTUT UMUM DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang) - Unissula Repository

Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia memiliki cita-cita yang mulia yaitu menciptakan kesejahteraan umum yang merupakan landasan utama bagi setiap pengambilan kebijakan, termasuk kebijakan legislatif untuk terus berupaya meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia. Namun demikian, cita-cita tersebut dapat terhambat oleh tindakan korupsi yang berkembang sangat cepat, bahkan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa, dan tidak hanya merugikan keuangan atau perekonomian negara, tetapi merusak perekonomian rakyat, serta menjadi ancaman bagi stabilitas Nasional dan internasional. Untuk itu diperlukan kebijakan formulasi hukum pidana khususnya mengenai formulasi tindak pidana, karena itu permasalahan difokuskan pada dua hal pokok yaitu bagaimana kebijakan formulasi tindak pidana korupsi dalam perundang-undangan yang berlaku saat ini dan yang akan datang. Tujuan penelitian adalah menganalisa kebijakan formulasi yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi saat ini serta untuk mengetahui dan menganalisa mengenai kebijakan formulasi yang harus dilakukan dalam rangka penanggulangan tindak pidana korupsi yang akan datang. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, dengan mengkonsepsikan hukum sebagai kaidah norma yang merupakan patokan prilaku manusia, dengan menekankan pada sumber data sekunder yang dikumpulkan dari sumber primer yaitu perundang- undangan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...