Top PDF PENDAHULUAN Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

PENDAHULUAN Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

PENDAHULUAN Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

Remaja pada umumnya memiliki harapan, cita-cita, dan keinginan yang ingin diraih. Harapan tersebut akan hilang apabila remaja menghadapi masalah atau cobaan yang dapat membuat hidupnya berubah dari kondisi awal kehidupan sebelumnya, seperti kecelakaan atau faktor eksternal lainnya. Kecelakaan atau faktor eksternal tersebut dapat mempengaruhi kondisi fisik yang semula sempurna, kemudian memiliki kondisi fisik yang kurang sempurna. Remaja yang sebelumnya mempunyai fisik normal akan menghadapi berbagai permasalahan yang menyangkut kondisi kecacatan tubuh yang baru diperolehnya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN PENYESUAIANDIRI PADA REMAJA DIFABEL Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN PENYESUAIANDIRI PADA REMAJA DIFABEL Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

memiliki penerimaan diri yang tinggi akan memiliki tingkat kesadaran yang tinggi pula dalam memandang dan memahami keadaan dirinya, sehingga akan menimbulkan perasaan, memiliki kepercayaan serta rasa aman di dalam diri jika seseorang dapat diterima dalam lingkungannya. Penerimaan diri memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap penyesuaian diri. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa penerimaan diri dengan segala aspek yang terkandung di dalamnya memang memberikan kontribusi untuk penyesuaian diri pada remaja difabel daksa, meskipun penyesuaian diri remaja difabel daksa tidak hanya dipengaruhi oleh variabel tersebut. Penerimaan diri memberikan kontribusi positif terhadap penyesuaian diri, yang artinya semakin tinggi penerimaan diri maka akan semakin tinggi pula penyesuaian diri, sebaliknya semakin rendah penerimaan diri maka akan semakin rendah pula penyesuaian diri. Sehingga hal tersebut mencerminkan bahwa memiliki penerimaan diri yang tinggi menjadi salah satu hal yang dapat memunculkan perilaku penyesuaian diri yang tinggi pada remaja difabel daksa. Tingginya penerimaan diri remaja difabel daksa di BBRSBD “Prof. Dr. Soeharso” Surakarta terbentuk dengan adanya berbagai kegiatan untuk meningkatkan penerimaan diri pada remaja difabel daksa, yang diantaranya adalah rehabilitasi medik, rehabilitasi sosial psikologis, rehabilitasi vokasional, dan rehabilitasi pendidikan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN PENYESUAIANDIRI PADA REMAJA DIFABEL Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DENGAN PENYESUAIANDIRI PADA REMAJA DIFABEL Hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian Diri pada remaja difabel.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan penyesuaian diri pada remaja difabel. Hipotesis yang diajukan oleh peneliti yaitu ada hubungan positif antara penerimaan diri dengan penyesuaian diri pada remaja difabel. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 32 orang. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala penerimaan diri yang berjumlah 56 aitem dan skala penyesuaian diri berjumlah 34 aitem. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar 0, 983 ; p = 0,000 (p < 0,05), sehingga hipotesis yang diajukan diterima. Artinya bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara penerimaan diri dengan penyesuaian diri. Sumbangan efektif antara penerimaan diri dengan penyesuaian diri menunjukkan bahwa koefisien determinan (r 2 ) sebesar 0, 967, sehingga variabel penerimaan diri memberikan sumbangan efektif sebesar 96,7% dalam mempengaruhi penyesuaian diri remaja difabel, sedangkan sisanya 3,3% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penerimaan diri.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

kelompok-kelompok teman sebaya sebagai suatu wadah penyesuaian. Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Dalam kelompok yang lebih besar, persoalan bertambah dengan adanya pemimpin dan kepemimpinan yang juga merupakan proses pembentukan, pemilihan dan penyesuaian pribadi serta sosial. Hal yang penting dalam pergaulan ini adalah didalamnya remaja mendapat pengaruh yang kuat dari teman sebaya sehingga remaja mengalami perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian. Lingkungan sosial mempunyai peranan besar terhadap perkembangan remaja. Lingkungan sosial sebagai bagian dari komunitas sosial memegang peranan yang strategis bagi kehidupan sosial masyarakat. Pada masa remaja lingkungan sosial yang dominan antara lain dengan teman sebaya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN   Hubungan Antara Penerimaan Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Penerimaan Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Remaja.

dengan orang lain karena kekurangan dan kelemahan dalam dirinya. Bahkan pada sebagian individu malas untuk mengadakan sosialisasi karena individu tersebut merasa punya kelebihan yang membuatnya angkuh dan merasa tidak membutuhkan orang lain. Ketidakmampuan individu untuk menerima keadaan diri dalam melakukan penyesuaian diri karena dalam diri individu tersebut menolak dan tidak menyukai dirinya. Keadaan tersebut akan membuat individu enggan untuk bergabung dan bersosialisasi dengan orang lain. Individu tersebut akan berperilaku dan bertindak sesuka hati, sesuai dengan suasana hatinya pada saat itu tidak peduli dengan tuntutan dari lingkungannya, sehingga individu tersebut dapat dikatakan memiliki interaksi sosial yang rendah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Body Image Terhadap Penerimaan Diri Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Body Image Terhadap Penerimaan Diri Pada Remaja.

Penelitian ini menggunakan subyek remaja laki-laki dan perempuan berusia 17 – 22 tahun. Penggunaan subyek remaja akhir dikarenakan pada masa ini merupakan masa yang kritis bagi pembentukan kepribadiannya, kritis disebabkan karena sikap, kebiasaan dan pola perilaku sedang dimapankan. Kemapanan tersebut merupakan warna hidup atau falsafah dalam masa dewasa. Skala yang digunakan pada variabel Penerimaan diri ini di dibuat sendiri yang mengacu berdasarkan aspek-aspek Penerimaan diri dari teori Hurlock (1978), sedangkan variabel body image menggunakan skala yang diadaptasi dan dimodifikasi dari penelitian Tresnasari (2001) berdasarkan teori Keaton, Cash dan Brown.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA   HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

Hasil penelitian, yaitu: (1) Ada hubungan positif yang sangat signifikan antara penerimaan teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada remaja wanita yang mengalami obesitas.(2) Tingkat penerimaan teman sebaya tergolong tinggi. (3) Tingkat penyesuaian sosial tergolong tinggi. (4) Sumbangan penerimaan teman sebaya terhadap penyesuaian sosial sebesar 0,239 atau 23,9%. Hal ini berarti masih terdapat 74,1% dari beberapa variabel lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial.

15 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Regulasi Emosi Pada Remaja Difabel.

PENDAHULUAN Regulasi Emosi Pada Remaja Difabel.

Mappiare (2002) mengatakan perlu diwaspadai bahwa penolakan-penolakan ini mempunyai arti yang penting bagi seorang remaja, karena secara tidak langsung penolakkan itu akan mempengaruhi pikiran, sikap, perasaan, perbuatan-perbuatan dan penyesuaian dirinya, bahkan pengaruh tersebut akan terbawa dan berbekas sampai masa dewasanya. Apabila tidak segera diatasi, maka remaja akan mudah mengalami depresi hal ini disebabkan karena regulasi emosi mereka belum tepat, yang pada akhirnya akan mempengaruhi semua harapannya.

10 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Hubungan Regulasi Emosi Dan Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Smp Negeri 9 Surakarta

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Hubungan Regulasi Emosi Dan Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Smp Negeri 9 Surakarta

akademik. Aturan sekolah berkaitan dengan kedisiplinan dan norma yang berlaku, misalnya siswa melanggar aturan penggunaan sepatu, dan membawa handphone. Kultur sosial berkaitan dengan interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan staf administrasi, dan siswa dengan kepala sekolah, misalnya ada siswa yang dikucilkan teman sekelas karena lamban bertindak, sering terlambat masuk sekolah, dan berkata jorok. Situasi akademik berkaitan dengan mata pelajaran dan tugas- tugas yang harus dikerjakan, misalnya rendahnya kemampuan bahasa jawa, dan eksak. Siswa kelas VII yang akan menjadi subyek penelitian ini, berada pada kisaran usia 14 – 16 tahun. Pada rentang usia ini siswa belum memiliki kedewasaan, sehingga mereka mengalami kesulitan penyesuaian diri dalam kehidupan sosialnya di sekolah, karena mereka belum memiliki emosi yang stabil. Oleh sebab itu persoalan regulasi emosi menjadi faktor yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

 BAB I PENDAHULUAN  Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

BAB I PENDAHULUAN Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

Salah satu masalah yang dihadapi siswa dalam memasuki lingkungan sekolah yang baru adalah penyesuaian diri, walaupun penyesuaian diri tidak terbatas pada siswa baru saja. Penyesuaian diri diperlukan remaja dalam menjalani transisi kehidupan, salah satunya adalah transisi sekolah. Transisi sekolah adalah perpindahan siswa dari sekolah yang lama ke sekolah yang baru yang lebih tinggi tingkatannya

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN  ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

Penyesuaian diri tidak terbentuk dengan sendirinya, banyak faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri diantaranya kemandirian. Kemandirian merupakan aspek kepribadian yang sangat penting bagi seseorang dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang dialaminya, dengan kemandirian memungkinkan seseorang untuk memiliki tanggung jawab pada diri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Steven & Howard (2002) kemandirian adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional. Orang yang mandiri akan mengandalkan dirinya sendiri dalam merencanakan dan membuat keputusan penting, akan tetapi mereka bisa saja meminta dan mempertimbangkan pendapat
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Self Disclosure Pada Remaja Difabel.

PENDAHULUAN Self Disclosure Pada Remaja Difabel.

Pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna, baik jasmani maupun rohani. Kondisi ini adalah kesempurnaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada setiap manusia sebagai sarana untuk menghadapi tantangan dan rintangan dalam hidupnya agar manusia bisa saling berinteraksi dan interelasi, baik secara individu maupun berkelompok untuk membangun kehidupan yang terpadu, harmonis dan dinamis, seseorang terlahir sebagai difabel atau mengalami kecelakaan yang membuat tampilan tubuh cacat dan tidak lagi ideal maka akan mengalami kemunduran kepercayaan diri. Bahkan mereka merasa fase kehidupannya telah berakhir karena selama ini kecacatan identik dengan kekurangan dan ketidakberdayaan yang mematikan potensi dirinya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TAP.COM -   HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KEMATANGAN ... - JURNAL UMK 36 149 1 PB

TAP.COM - HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KEMATANGAN ... - JURNAL UMK 36 149 1 PB

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi dua prediktor dan analisis korelasi parsial. Analisis regresi dua prediktor digunakan untuk menjawab hipotesis mayor yang diajukan, yaitu mengetahui hubungan antara konsep diri dan kematangan emosi dengan penyesuaian diri istri yang tinggal bersama keluarga suami. Analisis korelasi parsial digunakan untuk menjawab hipotesis minor. Untuk mempermudah dalam perhitungan, dipergunakan alat bantu dari seri program statistik dengan komputer yaitu SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 13.0.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN DIRI REMAJA DITINJAU DARI TIPE RELASI DENGAN ORANGTUA

PENYESUAIAN DIRI REMAJA DITINJAU DARI TIPE RELASI DENGAN ORANGTUA

Meskipun permasalahan yang sering terjadi pada diri remaja merupakan akibat dari penyesuaian diri yang kurang baik, namun ada pula remaja yang mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik, sehingga terhindar dari permasalahan tersebut dan mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Oleh karena itu, penyesuain diri pada remaja harus dilakukan sebaik mungkin agar memperoleh makna hidup serta penghargaan yang tinggi dari lingkungan sosialnya, serta dapat diterima oleh kelompok sosial tertentu yang memiliki nilai, aturan maupun budaya. Lingkungan dan kelompok sosial yang dimaksud tidak hanya dalam lingkup pergaulan dengan teman sebayanya, namun meliputi pergaulan di sekolah, masyarakat, serta keluarga. Relasi yang terbentuk antara remaja dengan suatu kelompok atau individu yang lain merupakan sebuah tanda adanya penyesuaian diri yang dilakukan remaja tersebut. Penyesuaian diri juga merupakan suatu proses menuju kematangan pribadi dan sosial remaja (Mappiare, 1982 : 19). Meskipun tugas perkembangan antara remaja awal, tengah, dan akhir memiliki perbedaan, namun pada dasarnya seluruh tugas perkembangan yang harus dilalui oleh remaja tidak terlepas dari proses penyesuaian diri.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENERIMAAN ORANGTUA DAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA TUNA RUNGU

PENERIMAAN ORANGTUA DAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA TUNA RUNGU

Lingkungan keluarga merupakan hakekat dari pembinaan kepribadian anak yang sesungguhnya bersandar pada sikap orangtua. Purnomo (1990: 104-105) menjelaskan orangtua yang memiliki anak cacat harus dapat berpikir secara positif, yaitu mengenal dan menerima kecacatan anaknya dengan tenang dan bijaksana. Penyesuaian diri dengan kecacatan anaknya tersebut harus selalu diusahakan sebab ketidaksempurnaan fisiknya (cacat) bisa menjadi berkurang atau malah menjadi semakin serius. Bila tidak ada penyesuaian diri maka akan timbul sikap tidak menerima cacat itu, sehingga mengurangi dorongan dalam penyesuaian diri mereka.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN  ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja.

Kesimpulan penelitian menyatakan ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kemandirian dengan penyesuaian diri. Artinya semakin tinggi kemandirian maka semakin tinggi penyesuaian diri. Koefisien korelasi r = 0,438; p = 0,000 (p < 0,01). Sumbangan efektif kemandirian terhadap penyesuaian diri sebesar sebesar 19,2%. Kemandirian subjek penelitian tergolong sedang ditunjukkan oleh rerata empirik (RE) = 92,026 dan rerata hipotetik (RH) = 92,5. Penyesuaian diri pada subjek penelitian tergolong sedang ditunjukkan rerata empirik (RE) = 87,831 dan rerata hipotetik (RH) = 85.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

T1 132008605 Daftar Pustaka

T1 132008605 Daftar Pustaka

Amar, Hanum Rohmatul Laily. 2009. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN Tempursari Ngawi.Universitas Islam Negeri (Uin). http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/fullchapter/04410056- hanum-rohmatul-laily-amar.ps (Diakses 02 Mei 2012, Pukul : 09.20)

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DAN DEPRESI PADA GAY DI SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedoteran

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DIRI DAN DEPRESI PADA GAY DI SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedoteran

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada Mei 2013 di Yayasan Gessang, Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Sampel tidak dapat dipilih jika hasil L- MMPI memiliki jawaban “tidak” ≥ 10 dan/atau tidak mengisi kuesioner secara lengkap. Subjek mengisi (1) Formulir biodata, (2) Kuesioner L-MMPI, (3) Kuesioner Berger’s Self -acceptance Scale untuk mengetahui skor penerimaan diri, (4) Kuesioner Beck’s Depression Inventory Scale untuk mengetahui skor depresi. Diperoleh data sebanyak 31 subjek penelitian dan dianalisis menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson melalui program SPSS 20.0 for Windows.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...