Top PDF PENDAHULUAN Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

merupakan individu-individu yang mempunyai kedudukan yang sama. Kelompok teman sebaya membawa dampak yang sangat besar, seperti halnya dalam hal penampilan, kegiatan sosial, berperilaku dan sebagainya. Proses sosialisasi melalui media teman sebaya dapat berpengaruh terhadap individu baik secara positif atau negatif.

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa kedewasaan. Namun pada dasarnya masa remaja adalah masa dimana seseorang dituntut untuk memilih sikap atau dapat juga dikatakan belajar merubah sikap kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa, dimana pada masa ini si individu dapat menentukan sendiri kearah mana ia akan memulai berjalan dalam kehidupannya. Faktor yang mempengaruhi konsep diri, diantaranya adalah teman sebaya (peer group). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri, serta mengetahui tingkat penerimaan kelompok teman sebaya dan konsep diri siswa SMP Negeri 17 Surakarta dan sumbangan efektif penerimaan kelompok teman sebaya terhadap konsep diri. Dengan hipotesis : ada hubungan positif antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri pada siswa SMP Negeri 17 Surakarta
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA  Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA Hubungan Antara Penerimaan Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Pada Remaja.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi masa kedewasaan. Namun pada dasarnya masa remaja adalah masa dimana seseorang dituntut untuk memilih sikap atau dapat juga dikatakan belajar merubah sikap kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa, dimana pada masa ini si individu dapat menentukan sendiri kearah mana ia akan memulai berjalan dalam kehidupannya. Faktor yang mempengaruhi konsep diri, diantaranya adalah teman sebaya (peer group). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri, serta mengetahui tingkat penerimaan kelompok teman sebaya dan konsep diri siswa SMP Negeri 17 Surakarta dan sumbangan efektif penerimaan kelompok teman sebaya terhadap konsep diri. Dengan hipotesis : ada hubungan positif antara penerimaan kelompok teman sebaya dengan konsep diri pada siswa SMP Negeri 17 Surakarta
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

Peran kelompok teman sebaya memiliki arti bagi perkembangan remaja, dimana pusat perhatian anak mulai beralih dari keluarga ke kelompok teman sebaya. Menurut Hurlock (2001) kelompok teman sebaya merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi. Kelompok sebaya dalam hal ini teman sekolah, sangat besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi selama masa remaja. Kelompok teman sebaya tidak hanya berfungsi sebagai sumber pelindung perasaan, tetapi juga membuat acuan perilaku sosial yang dapat diterima dan mengharapkan agar anggota- anggota kelompoknya dapat menyesuaikan diri dengan acuan-acuan tersebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

Menurut Syah (2005) tingkat laku kedisiplinan khususnya terhadap tata tertib sekolah dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan kelompok teman sebaya. Faktor dari teman sebaya misalnya sikap dari lingkungan masyarakat yang kurang mendukung munculnya kedisiplinan, intensitas pergaulan dengan teman sebaya yang membawa pengaruh negatif akan menjadikan anak kurang memiliki rasa tanggung jawab. Ditambahkan oleh Santrock (2008) perilaku dalam lingkungan remaja dapat muncul ketika individu atau remaja meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun dibayangkan oleh remaja. Sebagai contoh apabila seseorang dari kelompoknya senang dengan acara konser musik, ia tentu akan terpengaruh pula untuk ikut dalam acara tersebut. Bila teman-temannya suka nongkrong di kafe, individu akan menjadi suka nongkrongdi kafe pula. Seseorang atau remaja dalam pergaulan yang telah merasa cocok dengan teman sebayanya didalam kelompoknya, cenderung untuk mengikuti gaya teman atau kelompok tersebut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA REMAJA WANITA YANG MENGALAMI OBESITAS.

yang disebabkan terjadinya penumpukan lemak di tubuh. Obesitas merupakan pembahasan yang sensitif bagi remaja. Remaja yang mengalami kelebihan berat badan mungkin memperhatikan perubahan fisiknya tersebut. Di samping resiko kesehatan jangka panjang seperti peningkatan tekanan darah dan diabetes, masalah sosial dan emosional sebagai akibat kelebihan berat badan dapat menyebabkan remaja putus asa. Belum lagi jika usaha menurunkan berat badan tidak memberikan hasil terbaik. Remaja perlu diingatkan bahwa tidak ada gambaran tubuh yang sempurna yang dapat dicapai. Berat yang sesuai untuk seseorang belum tentu tepat untuk orang lain. Remaja harus didorong untuk mencapai berat badan yang sehat.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

kesenangan. Variabel perilaku merokok memiliki Rerata Empirik (RE) sebesar 67,40 dan rerata hipotetik (RH) sebesar 87,5 yang berarti subjek pada penelitian ini memiliki perilaku merokok yang tergolong rendah. Kondisi ini dapat diinterpretasikan bahwa perilaku merokok pada remaja atau siswa tersebut tergolong rendah. Perilaku merokok yang rendah tersebut dimungkinkan karena adanya penerimaan tanpa syarat terhadap lingkungan teman sebaya. Biasanya remaja ditandai dengan emosi yang masih labil sehingga demi diterimanya seorang individu dalam suatu kelompok ia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh kelompok teman sebayanya. Komalasari dan Helmi (2006) mengungkapkan bahwa remaja merokok lebih merupakan upaya-upaya untuk dapat diterima dilingkungannya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal.

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal.

Selain itu, melalui hasil perhitungan ditemukan pula rata-rata subjek dalam penelitian ini memiliki kecenderungan konformitas yang relatif tinggi (131,95 > 105). Hal ini didukung dengan pernyataan Hurlock (1990) bahwa pengaruh teman sebaya mencapai masa puncaknya pada usia 12-13 tahun. Oleh karena itu, sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh teman sebaya daripada keluarga. Baron dan Byrne (2004) menyatakan bahwa konformitas remaja adalah sebuah perilaku yang menjadi bentuk penyesuaian diri remaja. Konformitas muncul dalam interaksi remaja dengan kelompoknya. Kelompok teman sebaya menjadi media bagi remaja untuk menguji dirinya sendiri dan orang lain. Pada saat berada dalam kelompok teman sebaya, remaja juga mulai membentuk dan memperbaiki konsep dirinya. Teman-teman sebaya yang berada dalam satu kelompok cenderung dapat mempengaruhi citra diri remaja. Remaja mampu menilai diri secara positif karena mereka cenderung ikut serta dalam kelompok tersebut dan memperoleh penerimaan dari kelompok.
Baca lebih lanjut

194 Baca lebih lajut

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository

Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository

Selain itu, melalui hasil perhitungan ditemukan pula rata-rata subjek dalam penelitian ini memiliki kecenderungan konformitas yang relatif tinggi (131,95 > 105). Hal ini didukung dengan pernyataan Hurlock (1990) bahwa pengaruh teman sebaya mencapai masa puncaknya pada usia 12-13 tahun. Oleh karena itu, sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh teman sebaya daripada keluarga. Baron dan Byrne (2004) menyatakan bahwa konformitas remaja adalah sebuah perilaku yang menjadi bentuk penyesuaian diri remaja. Konformitas muncul dalam interaksi remaja dengan kelompoknya. Kelompok teman sebaya menjadi media bagi remaja untuk menguji dirinya sendiri dan orang lain. Pada saat berada dalam kelompok teman sebaya, remaja juga mulai membentuk dan memperbaiki konsep dirinya. Teman-teman sebaya yang berada dalam satu kelompok cenderung dapat mempengaruhi citra diri remaja. Remaja mampu menilai diri secara positif karena mereka cenderung ikut serta dalam kelompok tersebut dan memperoleh penerimaan dari kelompok.
Baca lebih lanjut

192 Baca lebih lajut

 PENDAHULUAN  Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dengan Perilaku Pacaran Pada Remaja.

Hasil penelitian Seotjiningsih (dalam El-Hakim, 2014) menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku pacaran adalah hubungan tekanan negatif teman sebaya.Salah satu aspek paling kritis dalam masa remaja adalah menyangkut pergaulan, baik pergaulan dengan sesama jenis maupun pergaulan dengan lawan jenis. Jika tidak berhati-hati, pergaulan sangat berpotensi menyeret masa remaja terjerumus kedalam pergaulan yang tidak baik. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya. Kawan-kawan sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama. Kawan sebaya memiliki peran yang penting dalam kehidupan remaja. Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima oleh kawan sebaya atau kelompoknya. Mereka merasa senang bila diterima dan sebaliknya merasa tertekan dan cemas apabila dikeluarkan atau diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok kawan sebaya adalah sebagai sumber informasi dunia diluar keluarga (El-Hakim, 2014).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

PENDAHULUAN Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

Tren global menunjukkan penurunan prevalensi merokok, akan tetapi Indonesia justru mengalami kenaikan selama periode 1980 hingga 2012. Jumlah pria perokok di Indonesia tercatat sebagai yang kedua tertinggi di dunia sebesar 57 persen setelah Timor-Leste sebesar 61,1 persen (Fajry, 2014). Data dari Riskesdas (2013) menunjukkan bahwa perilaku merokok penduduk 15 tahun ke atas masih belum terjadi penurunan dari 2007 ke 2013, cenderung meningkat dari 34,2 persen tahun 2007 menjadi 36,3 persen tahun 2013. 64,9 persen laki-laki dan 2,1 persen perempuan masih menghisap rokok tahun 2013. Ditemukan 1,4 persen perokok umur 10-14 tahun, 9,9 persen perokok pada kelompok tidak bekerja. Dibandingkan dengan penelitian Global Adults Tobacco Survey (GATS) pada penduduk kelompok umur ≥15 tahun, proporsi perokok laki -laki 67,0 persen dan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN    Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Penyesuaian Sosial Pada Anak Kost.

PENDAHULUAN Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Penyesuaian Sosial Pada Anak Kost.

Pada penelitian variabel yang digunakan sebagai prediktor (variabel bebas) yaitu penerimaan teman sebaya. Teman sebaya terdiri dari anggota -anggota tertentu dari teman-teman yang memiliki usia relatif sama dan sebagai tempat bergantung. Penerimaan teman sebaya menimbulkan interaksi antara individu satu dengan individu lain atau hubungan individu dengan kelompok terjadi saling mempengaruhi satu sama lain dalam pikiran, perasaan, sikap dan perilaku. Individu yang tergabung dalam kelompok harus menyesuaikan diri dengan norma- norma yang berlaku dalam kelompoknya. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan diketahui beberapa indikator perilaku yang menunjukkan dinamika penerimaan teman sebaya pada mahasiswa psikologi, antara lain: membentuk komunitas kelompok atau grup untuk melakukan aktivitas berdasarka n motif yang sama, adanya keterbukaan yang tinggi antara anggota kelompok, saling bekerja sama dalam berbagai kegiatan dan adanya toleransi yang tinggi untuk saling menghargai, membantu dan menghormati antara individu satu dengan individu lain.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA REMAJA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN PEMBELIAN IMPULSIF PADA REMAJA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Minat pribadi timbul karena remaja menyadari bahwa penerimaan sosial terutama peer groupnya sangat dipengaruhi oleh keseluruhan yang dinampakkan remaja. Kemampuan yang dimiliki remaja dapat meningkatkan atau menurunkan pandangan teman-teman sebaya terhadap dirinya. Sesuatu yang bersifat pribadi seperti tampang, bentuk tubuh, pakaian atau perhiasan, dan sebagainya, sangat diminati karena erat berkaitan dengan keberhasilannya dalam pergaulan. Remaja menjadi sangat memperhatikan penampilan dan menghabiskan banyak uang dan waktu serta usaha yang sungguh-sungguh untuk membuat penampilannya menjadi lebih baik (Ibrahim, 2002 hal. 11).
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DANKONSEP DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DANKONSEP DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya dan Konsep Diri dengan Perilaku Konsumtif Pada Remaja Putri.

Kecenderungan remaja untuk berperilaku konsumtif diduga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu yang dimiliki oleh remaja yaitu tingkat kebutuhan untuk penyesuaian dengan kelompok teman sebaya dan konsep diri yang dimiliki. Mereka ingin kehadirannya diakui sebagai bagian dari komunitas remaja secara umum dan secara khusus sebagai bagian dari kelompok teman sebaya mereka, demi mendapatkan pengakuan tersebut remaja sering kali bersedia melakukan berbagai upaya meskipun hal itu sesuatu yang tidak diperlukan atau tidak berguna bagi mereka bila ditinjau dari kaca mata orang tua atau orang dewasa lainnya. Keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari keterkaitan dengan orang tua membuat remaja mencari dukungan sosial melalui teman sebaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah ada hubungan antara interaksi teman sebaya dan konsep diri dengan perilaku konsumtif pada remaja putri?
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI  Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

HUBUNGAN KONSEP DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PROKRASTINASI Hubungan Konsep Diri Dan Interaksi Teman Sebaya Dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa.

Menurut Papalia dan Feldman (2014) seseorang menda- patkan keuntungan dari interaksi teman sebaya, yaitu dapat mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan dalam hubungan sosial dan intimasi serta mampu memupuk rasa saling memiliki antar teman sebaya. Selain itu interaksi teman sebaya dapat menjadi motivasi untuk mencapai serta memperoleh identitas. Hasil penelitian Chairunnisa (2010) menyebutkan bahwa penerimaan teman sebaya mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa sebesar 24.4%. Semakin tinggi penerimaan kelompok teman sebaya maka semakin tinggi pula prestasi akademik mahasiswa.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri RemajaHubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri RemajaHubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

Yang terakhir, proses pembentukan konsep diri remaja apabila dipandang dari sudut pan- dang kecerdasan emosional remaja adalah keti- ka seorang remaja mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Goleman (2012) me- nyebutkan bahwa kemampuan dalam membina hubungan baik dengan orang lain ini merupakan sebuah keterampilan yang berguna untuk me- nunjang eksistensi pribadi, popularitas, kepe- mimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Seba- gai dasar dari terjalinnya sebuah hubungan yang baik dengan orang lain adalah kemampuan dan keterampilan dalam menjalin komunikasi. Ma- sih menurut Goleman (2012), orang-orang da- pat menjadi popular dalam lingkungannya dan akan menjadi teman yang menyenangkan ketika mereka mampu untuk berkomunikasi dengan baik. Salovey (2002) bahkan mengemukakan pendapatnya bahwa sejauh mana kepribadian siswa berkembang dapat dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA  DAN KONSEP DIRI DENGAN  KEDISIPLINAN SISWA   Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DAN KONSEP DIRI DENGAN KEDISIPLINAN SISWA Hubungan Antara Interaksi Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan Kedisiplinan Siswa.

Soekanto (2002),mengatakan interaksi merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut antar individu, kelompok maupun individu dengan kelompok manusia. Menurut Santrock (2008) teman sebaya adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Selanjutnya Johnson (Sarwono, 2005) kelompok teman sebaya yaitu kumpulan dua individu atau lebih juga berinteraksi tatap muka, yang masing-masing tahu dan menyadari keanggotaannya didalam kelompok dan

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL  PADA ANAK KOST  Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Penyesuaian Sosial Pada Anak Kost.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA ANAK KOST Hubungan Antara Penerimaan Teman Sebaya Dengan Penyesuaian Sosial Pada Anak Kost.

Penyesuaian sosial merupakan hal yang penting bagi individu, bila individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan mengalami potensi terjadinya banyak konflik dan fokus yang dihadapi bukan hanya masalah akademik, tetapi juga masalah lain diluar akademik, misalnya kecewa akibat penolakan atau pengabaian, pengunduran diri (withdrawl) maupun agresif. Banyak faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial pada anak kost, diantaranya penerimaan teman sebaya . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) Hubungan antara penerimaan teman sebaya dengan penyesuaian sosial; 2) Tingkat penerimaan teman sebaya; 3) Tingkat penyesuaian sosial mahasiswa. Hipotesis yang diajukan: Ada hubungan positif antara penerimaan teman sebaya dengan penyesuaian sosial.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA  Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Hubungan antara interaksi teman sebaya dengan Perilaku merokok pada remaja.

Perilaku merokok saat ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, akan tetapi para remaja juga banyak yang melakukan kegiatan yang merusak tubuh tersebut. Bagi sebagian remaja merokok dapat menjadikan individu lebih tenang ketika menghadapi suatu masalah, merasa percaya diri, dianggap sebagai orang dewasa, serta sebagai simbol kejantanan. Perilaku merokok pada remaja cenderung dilatarbelakangi oleh interaksi teman sebaya. Remaja selalu berusaha untuk menyamai dengan teman sebayanya dan menerima semua pengaruh dari teman sebaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja, untuk mengetahui tingkat interaksi teman sebaya, untuk mengetahui tingkat perilaku merokok pada remaja, dan untuk mengetahui peran interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja. Hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan positif antara interaksi teman sebaya dengan perilaku merokok pada remaja.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Penyalahgunaan Alkohol - AMINATUS SYARIFAH BAB II

BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Penyalahgunaan Alkohol - AMINATUS SYARIFAH BAB II

Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009), remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode berpikir konkret; mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi. Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi, seperti kemungkinan kuliah dan bekerja; memikirkan bagaimana segala sesuatu mungkin dapat berubah di masa depan, seperti hubungan dengan orang tua, dan akibat dari tindakan mereka, misalnya dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan. Misalnya, mereka dapat mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana perjalanan wisata. Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai-nilai dalam perilaku yang lebih dapat dianalisis. c. Perkembangan Moral
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...