Top PDF PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN  PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Dalam rangka menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk mengungkap tindak pidana, perlu diciptakan iklim yang kondusif dengan cara memberikan perlindungan hukum dan keamanan kepada setiap orang yang mengetahui atau menemukan suatu hal yang dapat membantu mengungkap tindak pidana yang telah terjadi dan melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum. Pelapor yang demikian itu harus diberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai atas laporannya, sehingga ia tidak merasa terancam atau terintimidasi baik hak maupun jiwanya. Dengan jaminan perlindungan hukum dan keamanan tersebut, diharapkan tercipta suatu keadaan yang memungkinkan masyarakat tidak lagi merasa takut untuk melaporkan suatu tindak pidana yang diketahuinya kepada penegak hukum karena khawatir atau takut jiwanya terancam oleh pihak tertentu. Permasalahan tersebut dapat ditemukan dalam contoh kasus yang masih segar dalam ingatan kita, yakni kasus Endin Wahyudi yang melaporkan perbuatan pidana yang diduga dilakukan oleh beberapa orang Hakim, tentang kasusu penyuapan Hakim Agung, kemudian hakim tersebut melakukan serangan balik. Sang Hakim bebas dari hukuman, saat memutus perkaranya anehnya pelapor dijadikan terdakwa dan dijatuhi hukuman. 5
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PENUTUP  PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENUTUP PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

1. Pelaksanaan proses perlindungan terhadap saksi pelapor dalam peradilan tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-undang N0. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban sebagaimana yang telah diubah menjadi Undang-undang No. 31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban, mekanisme prosesnya belum diatur secara detail dan lengkap didalam prakteknya belum dapat dilakukan secara maksimal. Hasil penilitian menjelaskan bahwa Proses Perlindungan Saksi Pelapor dalam Tindak Pidana Korupsi dilakukan dengan cara nama atau identitas Saksi Pelapor disamarkan atau dirahasiakan dengan tujuan agar memberikan perlindungan dan rasa aman kepada saksi pelapor berserta keluarganya dan harta bendanya. Proses tersebut justru belum bisa memberikan perlindungan secara maksimal kepada Saksi Pelapor.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI PELAPOR TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI PELAPOR TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA.

Hampir tidak adanya perlindungan terhadap kepentingan saksi pelapor, menyebabkan masyarakat takut untuk menjadi saksi sehingga mengakibatkan banyak kasus yang tidak terungkap dan terselesaikan. Adapun faktor lain yang menyebabkan ketakutan orang dalam melaporkan dugaan adanya tindak pidana yang terjadi dikarenakan bentuk interogasi yang dilakukan oleh oknum aparat yang berwenang tidak sesuai dengan prosedur pemeriksaan sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan suasana yang tidak nyaman. Tidak jarang terjadi seorang saksi pelapor malah dituduh mempunyai keterlibatan atau bahkan menjadi tersangka sebagai akibat dari keterangan yang disampaikannya. Hal demikian sering terjadi terutama dalam kasus-kasus berat seperti halnya korupsi yang melibatkan orang-orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan, sehingga tidak jarang para koruptor tidak lepas dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dan kemudian memberikan balasan terhadap individu yang dianggap telah merugikan dirinya, baik itu berupa ancaman yang ditujukan kepada saksi pelapor ataupun melakukan kekerasan terhadap saksi pelapor yang telah melaporkan dirinya terhadap dugaan tindak pidana korupsi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENDAHULUAN PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Indonesia salah satu dari negara berkembang yang perlu melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pembangunan bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur baik spiritual maupun material yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mencapai tujuan, maka bangsa Indonesia perlu melakukan pembangunan di segala bidang hukum, meliputi : penertiban badan-badan penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenangnya masing-masing, meningkatkan kemampuan dan kewibawaan aparat penegak hukum ke arah tegaknya hukum, ketertiban dan kepastian hukum.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Komisi pemberantasan korupsi atau selanjutnya di sebut ( KPK ) sebagai institusi independen yang sangat diharapakan sebagai trigger mechanism atau sebagai lembaga pemicu dan pemberdaya atas skeptisme public atau lembaga pemicu terhadap lemahnya institusi penegak hukum dalam sistem ketatanegaraan yang baru. KPK memiliki sarana dan prasarana hukum dengan tingkat kewenangan sangat luar biasa atau extra ordinary power yang tidak dimiliki oleh institusi lain. karena itu, menjadi wajar apabila masyarakat memiliki harapan yang lebih searah dengan kewenangan yang luar biasa yang dimiliki KPK tersebut. Dengan extra ordinary power yang dimiliki KPK, diharapkan pula, segala bentuk, cara dan aplikasi korupsi dapat dijadikan suatu bagian tatanan pemberantasan korupsi. 2
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR  PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PELAPOR DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI)” dengan lancar, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

14 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENERAPAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KHUSUSNYA KASUS KORUPSI.

PENDAHULUAN PENERAPAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KHUSUSNYA KASUS KORUPSI.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, hanya mengatur perlindungan terhadap tersangka atau terdakwa, tidak mengatur tentang keberadaan saksi. Pada tanggal 13 Juni 2006, dikeluarkan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Terhadap Saksi dan Korban. Keberadaan Undang-Undang Perlindungan Terhadap Saksi dan Korban ini, diharapkan akan menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam mengungkap kejahatan yang selama sering tidak terungkap. 2

9 Baca lebih lajut

PENUTUP PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENUTUP PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

a. Kurangnya biaya / materi yang menjadi hambatan kemudian adalah masalah biaya. Semua bentuk perlindungan yang diperlukan pada saksi memerlukan dana ekstra yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Tidak mungkin dana dikeluarkan oleh saksi sendiri untuk meminta perlindungan atas dirinya.

8 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

Hukum pidana di Indonesia mengatur tentang kajian saksi berkaitan dengan pembuktian perkara pidana atau hukum pembuktian. Ini berarti cakupan kajiannya terbatas, yakni bagaimana memberikan perlindungan kepada orang yang berhak memberikan kesaksian dalam perkara pidana dari ancaman, intimidasi atau pembalasan yang menyebabkan saksi tidak dapat memberikan kesaksian secara bebas dan benar. Perlindungan saksi akan memberikan jaminan untuk memberikan kesaksian-kesaksian yang benar sebagai wujud dari penegakan hukum dan keadilan, khususnya perlindungan terhadap saksi pelapor. Keberadaan saksi dalam proses pengadilan merupakan alat vital karena putusan pengadilan yang berkualitas tidak lepas dari pertimbangan hukum tentang saksi secara kuantitas dan kualitas baik dalam tahap penyidikan maupun dalam tahap penuntutan selama masa proses peradilan berlangsung. Dalam hal perlindungan saksi korupsi, saksi mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan yang meliputi perlindungan atas keamanan pribadi dan keluarganya dari ancaman fisik atau psikologis, yang berkenaan dengan kesaksian yang akan atau telah diberikan dalam suatu perkara pidana, bantuan hukum, informasi mengenai putusan pengadilan, biaya yang timbul untuk hadir di pengadilan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk dan praktek perlindungan hukum yang diberikan kepada saksi dalam proses peradilan pidana korupsi di Kejaksaan Negeri Bandar Lampung dan Pengadilan Negeri Tanjung Karang, dan faktor-faktor penghambat yang dihadapi oleh aparat di Kejaksaan Negeri Bandar Lampung dan Pengadilan Negeri Tanjung Karang dalam memberikan perlindungan hukum terhadap saksi dalam proses peradilan pidana kasus korupsi.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

implementasi UNCAC pada khususnya, sehingga menghasilkan strategi pemberantasan korupsi yang lebih komprehensif yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi seluruhnya. 112 Strategi Nasional tersebut ditujukan untuk melanjutkan, mengkonsolidasi dan menyempurnakan berbagai upaya dan kebijakan pemberantasan korupsi agar mempunyai dampak yang konkrit bagi peningkatan kesejahteraan, keberlangsungan pembangunan berkelanjutan dan konsolidasi demokrasi. Strategi dimaksud harus dirumuskan melalui pelibatan aktif dari berbagai pemangku kepentingan, seperti masyarakat sipil dan kalangan dunia usaha, selain peran aktif dari pemerintahan. Berkenaan dengan itu, komitmen politik yang lebih kuat, strategi yang lebih sistematis dan komprehensif serta perumusan kebijakan yang lebih fokus dan konsolidatif untuk mendorong dan meningkatkan percepatan pemberantasan korupsi seyogianya harus senantiasa dilakukan oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya. 113
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Com; Sri Mulyati Chalil, “ Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Dalam Tindak Pidana Korupsi di hubungkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban”, [r]

4 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Sehubungan dengan perlindungan saksi, menurut ketentuan Pasal 15 huruf a UU KPK yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 27 Desember 2002, sebenarnya mewajibkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan perlindungan terhadap saksi yang menyampaikan laporannya atau memberikan keterangan dalam kasus-kasus korupsi. Akan tetapi ketentuan perundang-undangan yang berlaku saat ini tidak merinci secara tegas dan jelas dengan mekanisme yang bagaimana perlindungan saksi yang dimaksudkan, karena perundang-undangan yang Dalam Penjelasan Pasal 159 ayat (2) KUHAP dijelaskan bahwa menjadi saksi adalah salah satu kewajiban setiap orang. Orang yang menjadi saksi setelah dipanggil ke suatu sidang pengadilan untuk memberikan keterangan tetapi dengan menolak kewajiban itu ia dapat dikenakan pidana berdasarkan ketentuan undang- undang yang berlaku. Berdasarkan ketentuan Pasal 159 (2) KUHAP tersebut, apabila seseorang yang tidak bersedia menjadi saksi akan mendapatkan ancaman pidana dari negara, dimana menurut semestinya tiap orang yang menjadi saksi hendaknya secara sukarela mau memenuhi kewajiban hukumnya tersebut.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

Perlindungan Hukum menurut UU No 13 tahun 2006 Tentang perlindungan Saksi dan korban. Beberapa tahun ini telah dirasakan perlunya sistem perlindungan terhadap saksi. Masalah ini terutama dilatar belakangi kesulitan yang dialami penegak Hukum dalam menentukan dan mencari penjelasan tentang tindak pidana yang terjadi karena tidak dapat menghadiri saksi disebabkan adanya ancaman, baik fisik maupu fisikis dari pihak tertentu. Selain itu juga didasari pemikiran bahwa selama ini tidak disediakan hak-hak untuk saksi sebagaimana tersangka atau terdakwa diberikan hak-hak tersendiri. Didalam praktekpun ada masalah mengenai pihak mana yang bertanggung jawab atas keselamatan saksi. UU No 13 tahun 2006 Pasal 28 Bab IV Tentang Syarat dan Tata Cara Perlindungan dan Bantuan. Pasal 28 Menyebutkan perjanjian Perlindungan LPSK terhadap saksi dan / atau korban tindak pidana sebagai mana dimaksud dalam Pasal V Ayat (2) diberikan dengan pertimbangan Syarat sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM PROSES PERADILAN PIDANA KASUS KORUPSI

Hukum pidana di Indonesia mengatur tentang kajian saksi berkaitan dengan pembuktian perkara pidana atau hukum pembuktian. Ini berarti cakupan kajiannya terbatas, yakni bagaimana memberikan perlindungan kepada orang yang berhak memberikan kesaksian dalam perkara pidana dari ancaman, intimidasi atau pembalasan yang menyebabkan saksi tidak dapat memberikan kesaksian secara bebas dan benar. Perlindungan saksi akan memberikan jaminan untuk memberikan kesaksian-kesaksian yang benar sebagai wujud dari penegakan hukum dan keadilan, khususnya perlindungan terhadap saksi pelapor. Keberadaan saksi dalam proses pengadilan merupakan alat vital karena putusan pengadilan yang berkualitas tidak lepas dari pertimbangan hukum tentang saksi secara kuantitas dan kualitas baik dalam tahap penyidikan maupun dalam tahap penuntutan selama masa proses peradilan berlangsung. Dalam hal perlindungan saksi korupsi, saksi mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan yang meliputi perlindungan atas keamanan pribadi dan keluarganya dari ancaman fisik atau psikologis, yang berkenaan dengan kesaksian yang akan atau telah diberikan dalam suatu perkara pidana, bantuan hukum, informasi mengenai putusan pengadilan, biaya yang timbul untuk hadir di pengadilan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk dan praktek perlindungan hukum yang diberikan kepada saksi dalam proses peradilan pidana korupsi di Kejaksaan Negeri Bandar Lampung dan Pengadilan Negeri Tanjung Karang, dan faktor-faktor penghambat yang dihadapi oleh aparat di Kejaksaan Negeri Bandar Lampung dan Pengadilan Negeri Tanjung Karang dalam memberikan perlindungan hukum terhadap saksi dalam proses peradilan pidana kasus korupsi.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

EKSISTENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) TERHADAP SAKSI PELAPOR (WHISTLEBLOWER) PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

EKSISTENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) TERHADAP SAKSI PELAPOR (WHISTLEBLOWER) PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

Surat edaran tersebut menegaskan bahwa Mahkamah Agung meminta kepada para Hakim agar jika menemukan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai Whistleblower dan Justice Collaborators dapat memberikan perlakukan khusus antara lain dengan memberikan keringanan pidana dan/atau bentuk perlindungan lainnya. Dengan adanya SEMA tersebut, maka langkah LPSK terbantu dalam mewujudkan harapan baru bagi masyarakat, khususnya mereka yang menjadi whistleblower. LPSK dapat memperhatikan kepentingan whistlebloweruntuk mendapatkan perlindungan, keadilan dan pemulihan hak-haknya. Selain itu LPSK juga dapat rmeningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengungkap tindak pidana dengan menciptakan suasana yang kondusif agar setiap orang yang mengetahui terjadinya tindak pidana atau menjadi korban tindak pidana memiliki kemauan dan keberanian untuk melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum 6 .
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAPOR TINDAK PIDANA (WHISTLEBLOWER) DAN SAKSI PELAKU YANG BEKERJA SAMA (JUSTICE COLLABORATOR) DALAM PERKARA KORUPSI

ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAPOR TINDAK PIDANA (WHISTLEBLOWER) DAN SAKSI PELAKU YANG BEKERJA SAMA (JUSTICE COLLABORATOR) DALAM PERKARA KORUPSI

Menurut Bagir Manan sebagaimana dikutip Heni Siswanto, ada berbagai syarat yang harus dipenuhi untuk penegakan hukum yang adil atau berkeadilan, pertama, aturan hukum yang akan ditegakkan benar dan adil yang dibuat dengan cara-cara yang benar dan materi muatannya sesuai dengan kesadaran hukum dan memberi sebesar-besarnya manfaat bagi kepentingan orang perorangan dan masyarakat banyak pada umumnya. Kedua, pelaku penegakan hukum yang dapat disebut sebagai kunci utama penegakan hukum yang adil dan berkeadilan. Di tangan penegak hukum, aturan hukum yang bersifat abstrak menjadi konkrit. Secara sosiologis, inilah hukum yang sebenarnya, terutama bagi pencari keadilan. Ketiga, lingkungan sosial sebagai tempat hukum berlaku. Hukum, baik dalam pembentukan maupun penegakannya, sangat dipengaruhi oleh kenyataan-kenyataan sosial, ekonomi, politik maupun budaya, meskipun dalam situasi tertentu, diakui hukum dapat berperan sebagai sarana pembaharuan, tetapi dalam banyak hal hukum adalah cermin masyarakat. 8
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI  PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI PERLINDUNGAN HUKUM SAKSI A CHARGE DALAM PROSES PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Penulisan Hukum/Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, bukan merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain. Jika Penulisan Hukum/Skripsi ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik dan/ atau sanksi hukum yang berlaku.

12 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI DAN PELAPOR DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI DAN PELAPOR DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Kasus tindak pidana pencucian uang yang pernah terjadi di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung yaitu pada Februari 2015 Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung menangkap tersangka bandar besar narkoba Hartoni alias Toni Sapujagat. Tersangka dikenakan Pasal 114 Ayat (2) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang, polisi menyita tujuh mobil mewah dari rumah Toni.terdiri dari Lexus, Suzuki Swift, Honda Jazz, Mistubishi Strada., dua mobil Toyota Fortuner dan Toyota Avanza. Selain itu dua rumah mewah milik Heriyanto di Tegineneng yang diperkirakan seharga Rp 400 juta dan rumah di daerah Rajabasa seharga Rp 800 juta, puluhan STNK dan sertifikat tanah juga disita polisi. Penyidik melayangkan surat panggilan untuk 13 saksi termasuk istri dan anak-anak Toni Sapujagat. Namun dari 13 saksi yang telah dilayangkan surat panggilan hanya 3 saksi saja yang hadir. 5
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN BAGI SAKSI PELAPOR TINDAK PIDANA PORNOGRAFI.

PERLINDUNGAN BAGI SAKSI PELAPOR TINDAK PIDANA PORNOGRAFI.

Seperti yang diungkapkan oleh Muchamad Iksan, bahwa dalam penegakan hukum pidana Indonesia pembuktiannya menganut sistem negatif wettelijke (Pasal 183 KUHAP) yang harus didasarkan pada sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah (dari lima alat bukti sah menurut Pasal 184 KUHAP) dan adanya keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa. Salah satu alat bukti yang sah dalam proses peradilan pidana adalah keterangan saksi dan/atau korban yang mendengar, melihat, atau mengalami sendiri terjadinya suatu tindak pidana dalam upaya mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana. 19 Kasus-kasus yang tidak terungkap dan tidak
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor Tindak Pidana Korupsi Dikaitkan Dengan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

Peraturan tentang perlindungan saksi, pelapor dan korban tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan. Di bidang tindak pidana korupsi perlindungan terhadap saksi dan pelapor diatur pada Pasal 41 ayat (2) e UU PTPK 1999 dan Pasal 15 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 tentang Tata Cara Perlindungan Khusus Terhadap Pelapor dan Saksi. Peraturan ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 17 Tahun 2005 yang berlaku sejak 30 Desember 2005. Saksi, pelapor dan korban memerlukan perlindungan hukum ini, dimana diberikan oleh negara untuk mengatasi kemungkinan ancaman yang membahayakan diri, jiwa dan harta bendanya termasuk keluarganya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...