Top PDF PENDAHULUAN PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

PENDAHULUAN PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

PENDAHULUAN PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

sosial dan wahana komunikasi yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Dalam menyampaikan informasinya pers terkadang membesar-besarkan berita dengan istilah-istilah dan kiasan-kiasan yang tidak umum untuk menarik perhatian masyarakat. Informasi yang disampaikan oleh penyampai (pers dan media massa) kepada penerima (masyarakat), dapat ditanggapi berbeda-beda sesuai dengan daya tanggap masing-masing individu. Seseorang dapat merasa dicemarkan nama baiknya karena melihat istilah-istilah yang digunakan oleh penyampai, sedangkan penyampai tidak bermaksud untuk mencemarkan nama baik seseorang dengan istilah-istilah yang digunakannya, hanya untuk menarik perhatian masyarakat. Orang yang merasa dicemarkan nama baiknya mengajukan gugatan ke pengadilan, dan gugatan tersebut diterima, maka pembuat berita harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

PENULISAN HUKUM/SKRIPSI PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK Disusun Oleh: BERTHA DWI ARINI NPM : 07 05 09704 Program Studi : Ilmu Hukum Progra[r]

14 Baca lebih lajut

PENUTUP PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

PENUTUP PERTANGGUNGJAWABAN PERS TERHADAP PEMBERITAAN YANG MENCEMARKAN NAMA BAIK.

1. Bentuk pertanggungjawaban pers harus secara tegas meletakkan posisi individu pembuat berita ataukah Pemimpin Redaksi yang dikenai sanksi, agar terciptanya keadilan. Bagi aparat penegak hukum dalam pertanggungjawaban hukum mengenai pemberitaan yang mencemarkan nama baik yang dilakukan oleh pers di media masa dapat menerapkan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers sebagai perluasan dari pertanggungjawaban hukum yang diatur dalam KUHP.

4 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN WARTAWAN ATAS ADUAN PENCEMARAN NAMA BAIK (STUDI KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK YANG DIMUAT DALAM HARIAN RADAR JOGJA EDISI 27 MEI 2002)

ANALISIS YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN WARTAWAN ATAS ADUAN PENCEMARAN NAMA BAIK (STUDI KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK YANG DIMUAT DALAM HARIAN RADAR JOGJA EDISI 27 MEI 2002)

Pers adalah salah satu media komunikasi yang efektif, baik untuk penyebarluasan pemberitaan, penyebarluasan ilmu pengetahuan, sosial ekonomi, politik, budaya dan teknologi di berbagai lapisan masyarakat. Melalui pers aspirasi rakyat dapat tertuang meskipun harus melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan, rakyat dapat mengikuti dan mengetahui segala kegiatan pembangunan karena pers, sebab pers merupakan sarana pengemban dan penerangan dalam menyampaikan dan menyebarluaskan suatu informasi keseluruh pelosok tanah air. Hampir 16 tahun kebebasan pers berlangsung dengan beragambentuk dan manifestasinya.Kebebasan pers adalah refleksi dari jaminan kebebasan berpendapatdengan lisan dan tulisan, dan dalam perkembangannya juga melalui mediatelevisi dan radio, sebagai media yang dapat menyampaikan pesan kepadapublik.Menyangkut publik itulah maka ucapan, pernyataan, yangkemudian dituliskan atau disiarkan, memiliki dampak yang luar biasa. Dampak itu pula, maka dalam sejarah pers dan penyiaran yang terjadi di Indonesia,pernah terjadi pengekangan (istilah orde baru adalah pengendalian) terhadap kebebasanpers untuk menjamin kepentingan publik. Dengan kata lain, sebenarnyakebebasan itu harus disertai dengan tanggungjawab sosial (social responsibility) agar tidak melanggar hak-hak orang lain.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PENYELESAIAN PERKARA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI PERS.

PENDAHULUAN PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PENYELESAIAN PERKARA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI PERS.

Masalah kemerdekaan pers di tanah air, baik di era orde baru maupun di era reformasi sebenarnya bukan lagi merupakan suatu persoalan, karena di dalam konstitusi maupun peraturan perundang-undangan sudah sepenuhnya memberikan legalitas atas eksistensi pers bebas berkenaan dengan tugas-tugas jurnalistiknya. Jika ditilik lebih jauh, sebagian besar sengketa pemberitaan pers yang berujung ke pengadilan senantiasa berhubungan dengan kepentingan publik. Bagi pers, itu pilihan yang sulit dihindarkan. Dengan demikian, pemberitaan yang mengundang kontrol sosial semacam itu merupakan amanat yang harus diemban pers, seperti ditegaskan dalam pasal 3 UU Pers (UU No. 40 Tahun 1999), yakni pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA SOSIAL.

PENDAHULUAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA SOSIAL.

1) Pers mengalami berbagai hambatan dalam pertanggungjawaban hukum baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hambatan internal ialah yang bersal dari dalam diri pers itu sendiri yaitu, minimnya kesadaran dalam diri pers tentang tanggungjawab yang harus dipikul atas kesalahan yang telah dilakukannya, kurang profesionalisme pers dalam menjalankan profesinya sehingga tidak berpedoman pada kode etik jurnalistik. Sedangkan hambatan eksternal antara lain pemerintah belum sepenuhnya mendukung perkembangan pers, aparat penegak hukum dan kalangan pers yang belum memiliki kesepahaman dalam memandang Undang-Undang Pers, adanya dualisme pertanggungjawaban hukum pers.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah - Pemaknaan Kode Etik Jurnalistik Tentang Hak Jawab Dan Hak Koreksi Dalam Perspektif Fenomenologi Di Harian Tribun Medan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah - Pemaknaan Kode Etik Jurnalistik Tentang Hak Jawab Dan Hak Koreksi Dalam Perspektif Fenomenologi Di Harian Tribun Medan

Lebih dari itu, pers harus selalu setia menjaga profesinya dengan tetap menjalankan tiga kewajiban utamanya. Pertama, wajib memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Artinya, dalam menyiarkan informasi, tidak boleh menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses pengadilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut. Kedua, pers wajib melayani hak jawab. Ketiga, pers wajib melayani hak koreksi. Selain itu, pers harus jujur melakukan kewajiban koreksi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  KEBERPIHAKAN PERS DALAM PEMBERITAAN MENGENAI PERNYATAAN PAUS BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM DI REPUBLIKA DAN KOMPAS.

PENDAHULUAN KEBERPIHAKAN PERS DALAM PEMBERITAAN MENGENAI PERNYATAAN PAUS BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM DI REPUBLIKA DAN KOMPAS.

Media tidak mungkin menyajikan seluruh fakta sosial pada sebuah berita pada halaman yang dibatasi. Untuk itu, proses seleksi akan fakta pasti dilakukan oleh pihak media, bahkan pelaku wacana pun turut diseleksi untuk menjadikan sebuah berita yang layak muat bagi suatu media. Maka, wajar bila keobjektivitasan berita patut dipertanyakan pada suatu pemberitaan. Keobjektivitasan pemberitaan ini nantinya bisa dipakai untuk melihat keberpihakan media. Objektivitas sendiri yaitu mengacu pada bagaimana sebuah berita mampu dipisahkan antara opini dan fakta serta bagaimana sebuah berita mampu ada pada posisi netral sehingga nantinya berita tidak terkesan memihak kepada salah satu pihak (Rahayu, 2006:132-134).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Nama nama yang baik untuk anak awalan hu

Nama nama yang baik untuk anak awalan hu

RABIHAH : Yang beruntung. RADA'AH : Menyusun. RADAH : Menghabiskan. RAFI : Yang tinggi, mulia. RAFID : Penolong. RAFIF : Berakhlak baik. RAFI'I : Tinggi derajatnya. RAFIQ : Teman, yang halus. RAFIQA : Istri; teman. RAHIMA : Rahmad Allah. RA'ID : Perintis.

22 Baca lebih lajut

Pedoman Akademik PPA 2012

Pedoman Akademik PPA 2012

Evaluasi Mahasiswa peserta PKL, PPL, atau KKN yang perbuatannya merugikan/ mencemarkan nama baik Unnes, Pemerintah Daerah dan/atau lembaga mitra akan ditarik/ditunda dari kegiatan PK[r]

31 Baca lebih lajut

124416 MQFM 2009 08 Focus Of The Week 16 Agustus 2009

124416 MQFM 2009 08 Focus Of The Week 16 Agustus 2009

Sahabat MQ/ keberhasilan Densus 88 dalam penyergapan teroris yang diduga Noordin M Top di Temanggung Jum’ at pean lalu/ ternyata tidak sertamerta membanggakan bagi publik// Pasalnya sejumlah masyarakat yang ditemui Reporter MQFM/ mereka justu mengaku meragukan profesionalitas Densus 88 Mabes Polri dalam penyergapan tersebut// Salah satu mahasiswa UGM – Aman- menilai/ terkesan hanya bekerja ekstra/ pasca terjadinya pengeboman// Selain itu pihaknya juga ragu/ jika teroris yang tertembak di Temanggung adalah Noordin M Top// Mengingat terdapat sejumlah kejanggalan/ sebagaimana pemberitaan di sejumlah media masa// Lebih lanjut/ Reporter MQFM -Tria Haidar- melaporkan/ mahasiswa lainnya – Rendi- yang juga aktifis HTI mengatakan/ penyergapan satu orang yang melibatkan banyak personil Densus 88 dalam waktu yang relatif lama/ juga menimbulkan kecurigaan// Bahkan pihaknya menduga/ ada skenario politis untuk mendramatisir penyergapan tesebut/// Tria
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Contoh Surat lengkap Admiistrasi Sekolah

Contoh Surat lengkap Admiistrasi Sekolah

Tindakan/Mengancam Memfitnah/Provokator Tindakan Asusila Menipu sehingga merugikan orang lain Memaksakan kehendak/memeras berakibat merugikan orang lain Mencemarkan nama baik sekolah[r]

8 Baca lebih lajut

PERANAN DEWAN PERS DALAM PENYELESAIAN KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK DI MEDIA MASSA ELEKTRONIK DIHUBUNGKAN DENGAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT.

PERANAN DEWAN PERS DALAM PENYELESAIAN KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK DI MEDIA MASSA ELEKTRONIK DIHUBUNGKAN DENGAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT.

Dalam perkembangan media informasi terkini, Media Massa menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat saat ini. Namun tidak jarang isi dari Media Massa, khususnya Media Massa Elektronik menyinggung martabat seseorang atau kelompok. Kasus pencemaran nama baik adalah kasus yang paling sering terjadi terkait hal tersebut. penelitian ini dilakukan untuk menganalisa peranan Dewan Pers dalam menangani kasus pencemaran nama baik di media massa. Penulis mengidentifikasikan masalah dalam tulisan sebagai berikut: Bagaimana peranan Dewan Pers dalam proses penyelesaian kasus pencemaran nama baik di Media Massa Elektronik dari sudut pandang KUHP, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dan Bagaimana upaya Dewan Pers dalam menyelesaikan kasus pencemaran nama baik di media massa Elektronik terhadap proses hukum sesuai hukum positif di Indonesia. Adapun penulis menggunakan metode penelitian dengan spesifikasi Deskriptif Analitis melalui pendekatan Yuridis Normatif. Penulis mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data langsung dilapangan, sedangkan data sekunder diperoleh melalui berbagai sumber seperti buku, jurnal, dokumen, majalah, surat kabar, dan sumber yang berasal dari media elektronik.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Wiratraman H.P. 2014. Hukum dan Kebebasa

Wiratraman H.P. 2014. Hukum dan Kebebasa

Liberalisme di level internasional, yang pula disokong politik etis di awal abad 20, menandai sejumlah perubahan situasi politik di Hindia Belanda, termasuk sedikit terbukanya ruang kebebasan ekspresi dan pers, sekalipun masih dalam suasana serba terbatas dan penuh kebijakan represif. Patut mencatat sejumlah tokoh pers di masa itu, seperti salah satunya Tirto Adhi Soerjo yang mendirikan Soenda Berita (1903) dan Medan Prijaji (1907). Situasi ini memicu amandemen Drukpersreglement di tahun 1906, yang menghapus sistem pre- sensorship. Pada perkembangannya, pers bumiputera dan pers Cina lahir dan bisa mengekspresikan tak sebatas iklan, namun pula berita politik, hukum, sosial, ekonomi dan budaya. Sekalipun demikian, tak berarti tekanan terhadap pers tidak ada. Pemidanaan terhadap Tirto Adhi Soerjo terjadi pada tahun 1909, usai dipublikasikannya Medan Prijaji No. 24, 30 Juni 1908 yang berjudul “Betapa Satoe Pertolongan Diartikan”.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pencemaran Nama Baik dan Kudeta dalam Ti

Pencemaran Nama Baik dan Kudeta dalam Ti

Mengikuti  kegeraman  Ibas  atas  pemberitaan  dirinya,  pada  dasarnya  suatu  hal  yang  lumrah  sebagai  manusia.  Namun,  menilik  latar  belakang  yang  menjadikan  Ibas  tidak  saja  geram  tetapi  juga  mengambil  langkah‐langkah  hukum,  maka  Negara  yang  di  dalamnya  berpenduduk  90  persen  muslim,  selayaknya  turut  mengkaji dari sudat pandang agama. Dugaan dalam agama, adakalanya dilarang  dan adakalanya diwajibkan. Berpraduga dalam hal muamalah dalam kondisi dan  situasi  tertentu  hukumnya  wajib,  diantaranya  berdasarkan  pada  agama  yang  menuntut umat untuk ikhtiat. 
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI TEKNOLOGI I

PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI TEKNOLOGI I

Penghinaan menurut Pasal 310 ayat (1) dan (2) di atas dapat dikecualikan (tidak dapat dihukum) apabila tuduhan atau penghinaan itu dilakukan untuk membela kepentingan umum atau terpaksa untuk membela diri. Patut atau tidaknya pembelaan kepentingan umum dan pembelaan diri yang diajukan oleh tersangka terletak pada pertimbangan hakim. Untuk kejahatan memfitnah menurut Pasal 311 KUHP, tidak perlu dilakukan di muka umum, telah cukup bila dapat dibuktikan bahwa ada maksud untuk menyiarkan tuduhan tersebut. Apabila penghinaan itu berupa suatu pengaduan yang berisi fitnah yang dituukan kepada pembesar / pejabat yang berwajib, maka dapat dikenakan pidana Pasal 317 KUHP. “Ancaman pencemaran nama baik mengintai, merujuk pendapat Muladi, bahwa yang dapat melaporkan pencemaran nama baik” 16 , seperti tercantum dalam Pasal 310 dan 311 KUHP adalah:
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENCEMARAN NAMA BAIK DALAM PERSPEKTIF UN

PENCEMARAN NAMA BAIK DALAM PERSPEKTIF UN

Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bentuk perbuatan yang dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana pencemaran nama baik menurut hukum pidana di Indonesia menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana adalah se- bagai berikut adalah 1)pencemaran secara lisan, dilakukan dengan cara langsung/ dengan ucapan menyerang kehormatan atau nama baik seseorang sehingga orang tersebut merasa malu. (Pasal 310 ayat (1) KUHP), 2)pencemaran secara tertulis, me- nyerang kehormatan atau nama baik ses- eorang yang dilakukan dengan cara tulisan dan atau gambar yang disiarkan, dipertun- jukan dan ditempel di muka umum. (Pasal 310 ayat (2) KUHP), 3) fitnah merupakan perbuatan yang mengandung semua unsur subjektif dan objektif dari pencemaran se- cara lisan Pasal 310 ayat (1) dan pencema- ran tertulis Pasal 310 ayat (2). (Pasal 311 KUHP ), 4) penghinaan ringan (Pasal 315 KUHP).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

20007 REPORT defamation IN

20007 REPORT defamation IN

Pemberian sanksi hukum pidana atas kegiatan tertentu berarti Negara jelas punya kepentingan untuk mengontrol kegiatan tersebut serta mencanangkan cap sosial tertentu atas kegiatan itu. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, mahkamah peradilan internasional menekankan pada sejumlah pemerintah tentang pentingnya memberlakukan pembatasan atas pemberian sanksi pidana yang dapat berakibat pada pembatasan penegakan hak-hak dasar. Di banyak negara, pada dasarnya atau secara khusus perlindungan reputasi seseorang dilihat kepentingan pribadi. Pengalaman pun membuktikan bahwa untuk mendapatkan perlindungan yang memadai atas reputas, tak perlu menggunakan sanksi pidana atas pernyataan yang mencemarkan nama baik.
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...